Thursday, January 10, 2008

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Banyak koran memuat refleksi terhadap tahun baru hijriyah 1429, baik secara historis, filosofis mauhupun religius. Tentu saja, ini membantu kita untuk turut serta memberikan tafsir terhadap tahun baru kali ini. Paling tidak, saya telah membaca uraian Said Aqil Siradj (Republika), Mustafa Bisri dan Azyumardi Azra (Jawa Pos).

Intinya, kita harus berusaha meneladani hijrah Nabi pada 622 M dari Mekkah ke Madinah, sebagai penanda permulaan tahun Islam. Keinginan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik disertai tindakan konkrit. Tanpa keyakinan, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi karena ia meninggalkan kehidupan yang telah dijalani, diakrabi dan bahkan tanah kelahirannya. Masa depan yang masih 'temaram' di tanah yang masih asing tidak menyurutkan langkah Nabi memulai hidup baru.

Bagi saya, hidup baru adalah melanjutkan apa yang telah dilakoni sebelumnya dengan penuh kesungguhan dan kedalaman. Selamat tahun baru, kawan!

Memelihara Warisan, Menangguk Pesan

Kontroversi hilangnya lima arca batu koleksi Radya Pustaka menyeruak ke permukaan. Boleh jadi ini karena melibatkan orang ternama atau memang ada keinginan agar kekayaan bangsa itu tidak dijarah oleh rakyatnya sendiri. Malangnya lagi, jika khazanah kekayaan nusantara dibawa ke luar negeri yang akan makin menjauhkan masyarakat dengan budayanya sendiri.

Tentu, kita berharap pihak berwenang akan mampu menyelesaikan masalah ini dan berupaya untuk terus mencegah kemungkinan komersialisasi benda-benda bersejarah pada masa yang akan datang. Meskipun, usaha ini seperti menegakkan benang basah karena hampir terjadi di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu, peran serta masyarakat untuk turut menjaga peninggalan bersejarah sangat penting.

Boleh dikatakan warisan berupa patung mungkin bisa diganti yang palsu untuk mengelabui dan tidak akan dipersoalkan jika tidak ada orang yang menggugatnya. Lalu bagaimana dengan nasib manuskrip yang masih sepenuhnya belum dikoleksi oleh perpustakaan dan museum kita? Tidakkah ia akan hilang dan akhirnya kita harus mengemis kepada orang lain untuk membacanya?

Kita boleh iri dengan negeri Jiran yang mempunyai departemen khusus untuk menangani warisan di bawah naungan departemen Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia yang dipimpin oleh Dr Rais Yatim, yang kebetulan masih berdarah Minangkabau. Selain itu, perpustakaan dan para sarjananya dengan giat memburu naskah-naskah Melayu kuno.

Tragedi Kehilangan atau Penemuan

Laporan Kompas dalam halaman Humaniora (12/12/2007) bertajuk “Malaysia Terus Incar Naskah-naskah Melayu“ menghentak kesadaran kita karena dibubuhi subjudul “Praktik "Pencurian" Produk Ekspresi Budaya Harus Dibendung“. Tentunya, ini akan menambah daftar panjang dosa-dosa negeri jiran terhadap saudara serumpunnya.

Tetapi, kita tidak serta merta melihat persoalan di atas hitam putih dan mengesampingkan tafsir lain. Bagaimanapun, kalau kita membaca sejarah kesusasteraan dan keislaman Malaysia, kita akan menemukan banyak rekam jejak yang mengacu pada sejarah Nusantara, yang secara kebetulan sekarang berada dalam wilayah Indonesia. Selain itu, banyak para sarjana dan elit berkuasa di sana adalah keturunan imigran Indonesia yang berpindah ke Tanah Semenanjung pada abad ke-19.

Dalam buku Rais Yatim, Jelebak Jelebu Corat-Coret Orang Kampung (2004), secara terang benderang menceritakan bagaimana budaya Minangkabau sangat kuat berbekas di negeri bagian Negeri Sembilan Malaysia hingga sekarang. Bahkan, beliau secara lugas masih menyatakan bangga sebagai pewaris kebudayaan ranah Minang. Lalu, apakah eksistensi kebudayaan Minangkabau yang berada di seberang absah? Dan mereka berhak untuk menegaskannya bagian dari Malaysia?

Menyelamatkan Warisan Kita

Makin derasnya pengaruh luar terhadap kehidupan berbangsa tentu menuntut kita untuk kembali ke masa lalu. Karena di sini kita akan menemukan jati diri dan asal muasal sehingga tak mudah goyah dan terombang-ambing oleh serbuan kolonialisme identitas baru.

Pengalaman saya pribadi mengadakan penelitian terhadap naskah lama yang dianggap karya kesarjanaan Islam paling awal di Nusantara menunjukkan bahwa kita telah banyak kehilangan kekayaan sendiri. Manuskrip Bahr al-Lahut yang ditulis pada abad ke-12 M didapatkan dari Perpustakaan Negara Malaysia. Sementara 7 versi lainnya didapatkan dari Perpustakaan Universitas Leiden dan harus membayar 72,40 Euro. Sebuah harga yang sangat mahal.

Sebagai pewaris dari kekayaan Nusantara, seharusnya kita mempunyai tanggungjawab untuk merawatnya agar tidak punah atau raib dijarah tangan-tangah jahil. Paling tidak, jika kita tidak mendapatkan naskah aslinya, museum dan perpustakaan nasional di Indonesia mendapatkan turunannya. Apalagi Konvensi Wina 1983 tentang Suksesi Negara mewajibkan pengalihan arsip dari penguasa lama ke penguasa baru.

Namun, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana memahami warisan dan belajar kearifan darinya. Dari naskah Bahr al-Lahut di atas yang saya teliti menunjukkan bahwa corak Islam pertama yang dibawa ke Nusantara dipengaruhi oleh ajaran Syi’ah. Lebih dari itu, penulisnya telah mengakrabi pemikiran falsafah Yunani. Tentu hal ini bisa dipahami karena menurut sejarawan tersohor Philip K Hitti, sejak masa pra-Islam, Islam dan pasca Islam saling berbagi tradisi budaya dengan Barat dan Yunani-Romawi. Lalu, masihkah kita menghabiskan banyak waktu dan energi mencari ajaran murni yang steril dari pengaruh yang lain?

Mungkin, pernyataan awal yang memantik rasa ingin tahu pembaca adalah penegasan Abdullah Arif, sang penulis, bahwa dengan membaca karya di atas seseorang akan mengecapi kebahagiaan. Pendakwah ini hanya memberikan tiga kewajiban, yakni shalat, puasa dan tafakur yang akan membuat seseorang bahagia dan ini lebih baik dari seribu tahun ibadah. Yang terakhir tentu saja mengandaikan penguasaan pengetahuan.

Dari pengalaman ini, paling tidak ada tiga pesan utama yang bisa diperoleh, yaitu pertama corak Islam yang datang ke Nusantara sangat beragam, sesuai dengan pendakwah yang menyampaikannya. Kedua, pengetahuan sangat penting dalam menjalani hidup dan ketiga keterbukaan tafsir terhadap ajaran agama yang memungkinkan keterlibatan subjektivitas manusia.

Kesadaran sejarah masa lalu akhirnya menjadi sangat berharga untuk mengenal kembali jati diri di tengah kuatnya arus masuknya ideologi transnasional. Dengan menengok warisan masa lalu yang telah lama diterima dan menjadi bagian alam sadar bangsa ini, maka kita telah memelihara kepribadian kita sendiri. Semoga.

Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Saturday, January 05, 2008

Makin Erat dengan Perbedaan

Untuk ketiga kalinya saya mengikuti musyawarah anggota PPI USM dengan pelbagai peran. Tentu, banyak warna yang menyemburat di arena ini. Boleh dikatakan, jalannya sidang tidak sealot tingkat se-Malaysia. Meskipun tidak bisa dikatakan kurang greget, sidang ini tetap memberikan ruang bagi munculnya gagasan untuk menjadi kebersamaan ini punya arti, betapapun sederhananya.

Perbedaan kadang muncul, tetapi itu bisa makin menambah erat karena dari sini kita saling mengerti. Bukankah di sini kita bisa lebih jernih mendengarkan apa yang dinginkan orang lain melalui ide dan ucapannya? Belajar mendengar dan akhirnya mempertimbangkan keinginan orang lain akan membuat kita tidak selalu memikirkan diri sendiri dan mencari titik temu sehingga kita bisa berbuat lebih banyak untuk kebaikan bersama?

Seperti biasa, peserta yang hadir tidak membludak. Kita bisa menghitung dengan mudah. Tetapi, tentu mereka mewakili banyak kepala dan keinginan. Pasti, pengalaman ini akan membekas, yang dengan sendirinya menjadi catatan hidup kelak. Pertemuan semacam ini membelajarkan bagaimana kita belajar mempertahankan 'tradisi' dan organisasi, yang secara tidak langsung merawat akar kita di negeri orang.

Ya, semoga Persatuan Pelajar Indonesia menjadi batu ujian dan sekaligus rumah kita yang apa pun keadaannya kita semua harus menanggungnya. Amin.

Thursday, January 03, 2008

Dari Rutin ke Batin

Saya mencoba mengulang kembali apa yang dilakukan dulu di pondok selalu shalat berjamaah. Tentu, saya bertanya, ada apakah gerangan? Apakah hanya sekadar 'lari' dari rutinitas diam di kamar sambil membaca dan menelusuri dunia maya agar kepala tidak berdenyut karena penat? Atau penuh harap akan mendapat berkah yang lebih banyak ketimbang shalat sendiri?

Apapun alasannya, saya hanya ingin menikmati bertemu orang-orang yang di dahinya tampak cahaya. Saya melihat beberapa di antara mereka yang kerapkali hadir ke surau asrama tampak jernih dan bening. Tak jarang mereka tersenyum ramah. Mungkingkah karena ini rumah Tuhan yang membuat suasana akrab ini hadir?

Sementara, saya juga ingin berbuat sesuatu yang sederhana yang memungkinkan sebuah kegiatan bersama tidak mati. Meskipun suara tidak semerdu muazin ternama, saya kadang melantunkan azan. Malah, saya sangat bersemangat melaungkan iqamah, pertanda shalat akan dimulai. Dalam pandangan saya, ini adalah peran kecil, yang mungkin tidak akan melahirkan perubahan apapun, tak lebih dari rutinitas. Bahkan, meskipun saya tidak hadir, mereka tetap bersembahyang. Surau itu tidak akan roboh. Lalu, apa gunanya kehadiran saya?

Demikian juga, gagasan-gagasan saya yang ditulis di media, apakah ia akan mengubah keadaan? Toh, meskipun saya menulis, keadaan juga tidak serta merta bertambah baik. Lalu, dari mana sebenarnya perubahan itu lahir? Pertanyaan ini sering menggelayuti benak. Tidakkah lebih baik diam? Dunia tidak akan kiamat, hanya karena saya diam atau bersuara.

Mungkin, besok saya akan menemukannya jawabannya. Sekarang, jarum jam menunjuk angka 12, mata ini harus terpejam agak esok bisa bangun lebih awal.

Wednesday, January 02, 2008

Membaca Ulang Buku yang Pernah Dipinjam


Akhirnya, saya meminjam kembali buku The History of The Qur'anic Text yang ditulis oleh Prof M. M. Al-A'zami. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipuji oleh banyak orang karena berhasil menjadi pandangan perlawanan terhadap kajian orientalis terhadap al-Qur'an. Selain itu, ia tentu saja akan membantu saya nanti ketika akan menghadapi ujian promosi. Lebih-lebih lagi, saya juga menemukan buku Adnin Armas bertajuk Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur'an yang diterbitkan oleh Gema Insani Pers. Karya ini juga disanjung karena mampu menjawab tudingan orientalis terhadap ketidaksucian al-Qur'an.

Biarlah mereka bertarung ide tentang al-Qur'an, sementara kata Nasr Abu Zayd bahwa praktik agama itu sendiri tidak serumit teori yang diperdebatkan. Tidak berarti saya meremehkan, tetapi mencoba mencocokkan apakah kerumitan itu tidak bisa disederhanakan menjadi kata-kata yang menyentuh jiwa. Ya, pesan al-Qur'an harus juga mampu diwujudkan dalam bahasa-bahasa yang bisa mengantarkan pembacanya lebih dekat dengan persoalan hidupnya. Mungkin, sastera adalah jawaban yang tepat bagaimana ayat suci itu menemukan bentuknya dalam daya ucap setiap orang yang sedang gundah karena pegangannya lemah.

Oleh karena itu, saya berusaha untuk juga selalu membawa pulang karya sastera, baik dalam bentuk novel maupun cerpen. Boleh dikatakan, hampir semua karya sastera yang menjadi koleksi perpustakaan telah saya pinjam. Mungkin, karya lama tidak menarik perhatian karena kertasnya udah menguning dan baunya apek. Ya, dengan musik lembut saya menekuri dunia cerita agar pemikiran yang njlimet itu menemukan bentuknya yang mudah dicerna. Bukankah membaca novel The Age of Reasonnya Jean Paul Sartre lebih melenakan dibandingkan dengan membacanya bukunya yang sarat dengan telaah sistematik tentang eksistensi?

Bukan berarti menggampang masalah dan mengambil jalan pintas meraih makna, tetapi harus ada upaya untuk menyerasikan antara dunia ide dan praksis. Jika demikian, ini akan selalu mengingatkan saya pada sosok guru filsafat saya, Romo Haryatmoko di UIN Yogyakarta, yang selalu menyisipkan contoh keseharian dari teori filsafat yang diajarkannya. Dengan demikian, ilmu ini terasa dekat dan tidak lagi mengawang-awang.

Betapapun saya menganggap hidup mesti mengalir, terkadang ada ngarai yang menghadang laju perahu kita. Seperti hari ini, saya begitu terkejut bahwa saya tidak bisa menemui Profesor yang telah sekian bulan tidak bertemu karena beliau menjadi profesor tamu di Fakultas Sastera dan Seni Universitas Brunei Darussalam. Padahal, niat ini telah bulat dan segera mengajukan kepastian tentang ujian disertasi saya. Ada sepersekian detik, saya merasakan kaki lunglai, tetapi kebaikan teman saya membantu melupakan sejenak dan bersama-sama keluar makan siang. Saya juga mengirim pesan pendek (sms) ke isteri bahwa pertemuan dengan pembimbing ditunda hingga ke tanggal 14 Januari 2008. Dia menguatkan saya agar sabar menanti hari tiba.

Hikmahnya, saya ingin segera menyelesaikan pembacaan terhadap manuskrip Bahr al-Lahut yang diterima dari Perpustakaan Universitas Leiden, atas kebaikan keraninya Silvia Vermetten. Dalam waktu dua mingguan, saya bisa menyelesaikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab mengenai otentisitas, asal usul, materi dari kitab yang ditulis pada abad ke-7M ini. Apakah Abdullah Arif (Arifin) adalah nama dari sang pengarang atau gelar yang disandangnya? Tentu, ini memerlukan kejelian dan ketelatenan.


Tuesday, January 01, 2008

Tahun Baru dan Bacaan Lama

Satu hari menjelang pergantian tahun, saya berniat untuk membuat perubahan dalam banyak hal. Tampaknya, bukan hal baru, sebab sebelumnya selalu begitu. Komitmen yang kemarin pun raib bersama waktu.

Meskipun, saya bisa melacak kembali apa yang pernah diniatkan untuk melangkah lebih meyakinkan di hari-hari mendatang, tetapi alat ukurnya tidak ada. Ya, kita selalu memasang harap di depan dan kemudian lupa apa yang harus dikerjakan hari ini. Tiba-tiba, asyik dengan rutinitas, yang menyebalkan. Sekarang, saya harus membuat penanda bagaimana menilai tahun ini agar lebih produktif dalam menulis dan mewujudkan gagasan yang berselerak di benak pada ranah konkrit.

Kemarin, sengaja saya agak lebih lama mencari buku bacaan untuk malam tahun baru. Paling tidak ada lima buku ada di tangan untuk dipinjam. Salah satunya yang membetot perhatian adalah sebuah novel Student Hidjo yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, yang berlatar belakang gerakan nasionalisme tahun 1918. Betapa sederhananya realitas yang digambarkan pada masa itu oleh sang pengarang, namun justerus dilukiskan secara bertele-tele. Meskipun, saya melihat ada nada protes terhadap Belanda yang diselipkan di antara alur, dialog dan watak sang tokoh. Sepertinya, saya diajak untuk bersabar menyerap isi cerita. Tak perlu tergesa-gesa menohok lawan, yang mungkin saja bisa menikam diri sendiri.

Buku lain yang cukup membuat merinding adalah Penggal Kepalamu dan Persembahkan pada Sang Murshid oleh Maya Safira Muchtar. Sebuah pengakuan jujur tentang hitam putih sang penulis tentang masa lalu, kekinian dan harapannya di masa yang akan datang. Namun, bahasanya yang acapkali dirembesi metafora dan puitik justeru memberikan nuansa. Bagaimana sang tokoh yang menceritakan perjalanan panjangnya akhirnya bersimpuh di hadapan sang Guru (Anand Krisna) dan mengantarkannya ke hadirat Tuhan.

Di tengah jutaan huruf yang diterakan di buku, tentunya saya harus mencari kata kunci yang bisa dipegang erat untuk menjalani hidup selanjutnya. Paling tidak, saya menemukannya pada kesungguhan, disiplin, dan keyakinan sebagai kata yang harus mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Dalam hal apa saja, ketiganya akan memerantarai kita menuju keinginan, meskipun tidak dengan sendirinya menjamin terwujudnya hasrat. Namun, bekasnya akan terasa lebih dalam dan menghunjam.

Lalu, bagaimana dengan pesan yang tidak ditoreh dalam kertas? Bukankah pada bebukitan yang tampak kukuh kita bisa menyerap pesan Tuhan? Pada burung berwarna hitam yang acapkali hingga di bibir tembok depan jendela dengan nyanyiannya yang jernih setiap pagi dan menjelang malam? Di tengah ragu, saya coba untuk menerakan makna, bahwa hidup itu harus mengalir dan mengikuti alurnya. Jika melawan arus, saya akan tergerus.

Pekerjaan di atas boleh dikatakan disangga oleh otak, jiwa dan hati kita. Apakah cukup? Tidak. Badan atau tubuh kita yang menyangga jiwa juga harus sejahtera. Tidak hanya makan, tetapi juga sukan. Makanya, saya mencoba untuk menambah putaran jogging saya di stadium agar tubuh ini makin kuat mengusung 'gelegak' batin. Sakit kepala yang kerap mendera memang mulai berkurang. Bahkan, kemarin saya tidak lagi menelan panadol ketika pening hinggap.

Membuka diri pada orang lain juga cara paling ampuh untuk tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Jika berada di lift, saya tak jarang menyapa dan berkenalan dengan orang lain yang sama-sama ingin ke surau. Sudah tak terhitung nama yang dikantongi. Sebagian ada yang lupa, namun tidak akan menghilangkan peristiwa kami pernah bertegur sapa. Tak banyak kata, tetapi itu lebih dari cukup membuka percakapan, yang mungkin di lain hari akan lebih panjang dan berkesan.

Seperti biasa, di kamar, selalu saja saya ditemani oleh lagu-lagu lembut. Rasanya, suara sang penyanyi mewakili kehendak hati untuk melihat dunia yang romantik, sahdu dan tentram. Tak ada hingar bingar kekerasan dan pengrusakan. Meskipun, kadang saya juga mendengarkan lagu keras, seperti Bat Countrynya Avenged Sevenfold, untuk menaikkan adrenalin agar jemari ini masih mau menari. Tidak lebih.