Posts

Showing posts from January, 2008

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Banyak koran memuat refleksi terhadap tahun baru hijriyah 1429, baik secara historis, filosofis mauhupun religius. Tentu saja, ini membantu kita untuk turut serta memberikan tafsir terhadap tahun baru kali ini. Paling tidak, saya telah membaca uraian Said Aqil Siradj (Republika), Mustafa Bisri dan Azyumardi Azra (Jawa Pos).

Intinya, kita harus berusaha meneladani hijrah Nabi pada 622 M dari Mekkah ke Madinah, sebagai penanda permulaan tahun Islam. Keinginan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik disertai tindakan konkrit. Tanpa keyakinan, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi karena ia meninggalkan kehidupan yang telah dijalani, diakrabi dan bahkan tanah kelahirannya. Masa depan yang masih 'temaram' di tanah yang masih asing tidak menyurutkan langkah Nabi memulai hidup baru.

Bagi saya, hidup baru adalah melanjutkan apa yang telah dilakoni sebelumnya dengan penuh kesungguhan dan kedalaman. Selamat tahun baru, kawan!

Memelihara Warisan, Menangguk Pesan

Kontroversi hilangnya lima arca batu koleksi Radya Pustaka menyeruak ke permukaan. Boleh jadi ini karena melibatkan orang ternama atau memang ada keinginan agar kekayaan bangsa itu tidak dijarah oleh rakyatnya sendiri. Malangnya lagi, jika khazanah kekayaan nusantara dibawa ke luar negeri yang akan makin menjauhkan masyarakat dengan budayanya sendiri. Tentu, kita berharap pihak berwenang akan mampu menyelesaikan masalah ini dan berupaya untuk terus mencegah kemungkinan komersialisasi benda-benda bersejarah pada masa yang akan datang. Meskipun, usaha ini seperti menegakkan benang basah karena hampir terjadi di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu, peran serta masyarakat untuk turut menjaga peninggalan bersejarah sangat penting. Boleh dikatakan warisan berupa patung mungkin bisa diganti yang palsu untuk mengelabui dan tidak akan dipersoalkan jika tidak ada orang yang menggugatnya. Lalu bagaimana dengan nasib manuskrip yang masih sepenuhnya belum dikoleksi oleh perpustakaan dan mus…

Makin Erat dengan Perbedaan

Untuk ketiga kalinya saya mengikuti musyawarah anggota PPI USM dengan pelbagai peran. Tentu, banyak warna yang menyemburat di arena ini. Boleh dikatakan, jalannya sidang tidak sealot tingkat se-Malaysia. Meskipun tidak bisa dikatakan kurang greget, sidang ini tetap memberikan ruang bagi munculnya gagasan untuk menjadi kebersamaan ini punya arti, betapapun sederhananya.

Perbedaan kadang muncul, tetapi itu bisa makin menambah erat karena dari sini kita saling mengerti. Bukankah di sini kita bisa lebih jernih mendengarkan apa yang dinginkan orang lain melalui ide dan ucapannya? Belajar mendengar dan akhirnya mempertimbangkan keinginan orang lain akan membuat kita tidak selalu memikirkan diri sendiri dan mencari titik temu sehingga kita bisa berbuat lebih banyak untuk kebaikan bersama?

Seperti biasa, peserta yang hadir tidak membludak. Kita bisa menghitung dengan mudah. Tetapi, tentu mereka mewakili banyak kepala dan keinginan. Pasti, pengalaman ini akan membekas, yang dengan sendirinya men…

Dari Rutin ke Batin

Saya mencoba mengulang kembali apa yang dilakukan dulu di pondok selalu shalat berjamaah. Tentu, saya bertanya, ada apakah gerangan? Apakah hanya sekadar 'lari' dari rutinitas diam di kamar sambil membaca dan menelusuri dunia maya agar kepala tidak berdenyut karena penat? Atau penuh harap akan mendapat berkah yang lebih banyak ketimbang shalat sendiri?

Apapun alasannya, saya hanya ingin menikmati bertemu orang-orang yang di dahinya tampak cahaya. Saya melihat beberapa di antara mereka yang kerapkali hadir ke surau asrama tampak jernih dan bening. Tak jarang mereka tersenyum ramah. Mungkingkah karena ini rumah Tuhan yang membuat suasana akrab ini hadir?

Sementara, saya juga ingin berbuat sesuatu yang sederhana yang memungkinkan sebuah kegiatan bersama tidak mati. Meskipun suara tidak semerdu muazin ternama, saya kadang melantunkan azan. Malah, saya sangat bersemangat melaungkan iqamah, pertanda shalat akan dimulai. Dalam pandangan saya, ini adalah peran kecil, yang mungkin tidak …

Membaca Ulang Buku yang Pernah Dipinjam

Image
Akhirnya, saya meminjam kembali buku The History of The Qur'anic Text yang ditulis oleh Prof M. M. Al-A'zami. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipuji oleh banyak orang karena berhasil menjadi pandangan perlawanan terhadap kajian orientalis terhadap al-Qur'an. Selain itu, ia tentu saja akan membantu saya nanti ketika akan menghadapi ujian promosi. Lebih-lebih lagi, saya juga menemukan buku Adnin Armas bertajuk Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur'an yang diterbitkan oleh Gema Insani Pers. Karya ini juga disanjung karena mampu menjawab tudingan orientalis terhadap ketidaksucian al-Qur'an.

Biarlah mereka bertarung ide tentang al-Qur'an, sementara kata Nasr Abu Zayd bahwa praktik agama itu sendiri tidak serumit teori yang diperdebatkan. Tidak berarti saya meremehkan, tetapi mencoba mencocokkan apakah kerumitan itu tidak bisa disederhanakan menjadi kata-kata yang menyentuh jiwa. Ya, pesan al-Qur'an harus juga mampu diwujudkan dalam bahas…

Tahun Baru dan Bacaan Lama

Satu hari menjelang pergantian tahun, saya berniat untuk membuat perubahan dalam banyak hal. Tampaknya, bukan hal baru, sebab sebelumnya selalu begitu. Komitmen yang kemarin pun raib bersama waktu.

Meskipun, saya bisa melacak kembali apa yang pernah diniatkan untuk melangkah lebih meyakinkan di hari-hari mendatang, tetapi alat ukurnya tidak ada. Ya, kita selalu memasang harap di depan dan kemudian lupa apa yang harus dikerjakan hari ini. Tiba-tiba, asyik dengan rutinitas, yang menyebalkan. Sekarang, saya harus membuat penanda bagaimana menilai tahun ini agar lebih produktif dalam menulis dan mewujudkan gagasan yang berselerak di benak pada ranah konkrit.

Kemarin, sengaja saya agak lebih lama mencari buku bacaan untuk malam tahun baru. Paling tidak ada lima buku ada di tangan untuk dipinjam. Salah satunya yang membetot perhatian adalah sebuah novel Student Hidjo yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, yang berlatar belakang gerakan nasionalisme tahun 1918. Betapa sederhananya realitas …