Monday, July 18, 2016

Bukit Kachi

Saya tak pernah bosan menikmati kehijauan lapangan sepak bola ini. Ia telah menjadi sebagian nadi kenyamanan keseharian. Dari balkon rumah asrama, saya acap melemparkan pandangan ke segala penjuru, seperti bukit, pohon, bangunan, dan akhirnya berlabuh ke lapangan rumput ini.

Si bungsu, Zumi, acap penasaran dengan keriangan para pemain bola di waktu sore. Di musim liburan ini, belum ada keriuhan orang bermain si kulit bundar. Namun pekerja yang memastikan lapangan ini terawat selalu menjaganya dengan setia. Ya, hanya seorang yang melakukannya. Dengan mesin pemotong rumput, ia memangkas rumput agar tak tumbuh liar.

Ketika matahari masih sepenggalah, sinarnya yang hangat dan sisa tetesan hujan semalam betul-betul menyenangkan (pleasure). Agar kebahagian sempurna, seperti kata Paul Dolan dalam Happiness by Design, seseorang harus memberikan makna pada semua ini (purpose), misalnya dengan memanfaatkannya setiap individu mendapatkan kawan untuk berbagi, tidak menyia-nyiakan fasilitas, dan mensyukuri tempat bermain. 

Wednesday, March 23, 2016

Pesta Buku

Siapapun suka pergi ke pesta. Di sini, seseorang boleh berseronok. Tapi, adakah buku boleh memberikan keseronokan? John Stuart Mill (1806-1873) membezakan keseronokan kepada dua, iaitu aktiviti yang mempunyai nilai rendah kerana hanya melibatkan keseronokan sensual (Seperti, makan, minum, seks dan sebagainya) dan yang mempunyai nilai tinggi (Misalnya, pengetahuan, kebudayaan, dan keintelektualan).

Dengan merujuk kepada idea ahli falsafah Inggeris itu, kegemaran membaca buku adalah keseronokan tinggi yang mesti dicapai oleh seseorang. Untuk itu, pelajar berpeluang untuk memupuk minat membaca dengan sentiasa mengunjungi majlis yang merancakkan dunia pengetahuan, seperti pesta buku yang dianjurkan oleh penerbit Universiti Utara Malaysia (UUM) bekerja sama dengan beberapa institusi yang prihatin terhadap pengembangan keilmuan.

Agar boleh menarik orang ramai berkunjung, penganjur tidak hanya menyediakan tapak pameran buku, tetapi juga beberapa aktiviti untuk menarik orang ramai, terutama kalangan remaja, mengunjungi pesta buku, seperti pertandingan mengeja, puisi, mewarna, dan bengkel penulisan kreatif. Sebagai wujud sokongan terhadap kegiatan seumpama ini, saya membeli tiga buah buku, iaitu Anticonformity (Benz Ali), Falsafah Akhlak (Mohd Nasir Omar) dan Tuhan, Manusia, dan Alam dalam al-Qur'an: Pandangan Toshihiko Izutsu (Ahmad Sahidah). Inilah masanya untuk menukarkan boucar buku yang mahasiswa miliki dengan karya-karya yang mengilhamkan.






Monday, January 11, 2016

Rumah Eksistensi Kita

Meskipun saya pura-pura membaca, namun anak ini coba melakukan hal serupa. Dari pengalaman ini, saya tahu bahwa anak-anak bertindak dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Tak hanya itu, Zumi juga selalu meniru apa yang dilakukan oleh kakaknya, Nabbiyya, seperti menyusun Shopkins, mainan yang penting untuk mengenal karakter.

Tak hanya itu, ketika saya menyapu halaman rumah, ia pun mengambil sapu dan menggerakkannya untuk membersihkan sampah dari permukaan tanah.

Rumah adalah tempat kita untuk menyemai nilai-nilai. Meskipun kita tahu bahwa jalanan dan segala turunannnya adalah salah satu penyumbang warna generasi baru. Belum lagi, kedua anak ini telah menelusuri permainan di gawai, yang piawai bikin terbuai. Sepertinya, kedua orang tuanya harus membatasi diri menghidupkan alat pintar tersebut, biar tidak sial. 

Sunday, December 13, 2015

Belajar Bahasa Inggeris

Sejak sehari sebelumnya, Biyya begitu teruja untuk berfoto dengan pelakon pujaannya, Jibam. Acara televisi #OhMyEnglish adalah salah satu program TV kabel yang disukai, selain beberapa film kartun, seperti Sofia, Hagemaru, Doraemon, Upin-Ipin, dll.

Meskipun harus menunggu selama hampir dua jam, lulusan Smart Reader Kids ini bersemangat untuk menunjukkan dua jari: kemenangan. Ia hampir berputus-asa untuk bisa bergambar setelah kepenatan menunggu sejak jam 3, dimana acara tersebut di sebuah pasaraya ini dimulai jam 5 hingga 7 malam.

Dari serial populer ini, kakak Zumi ini bisa belajar bahasa Inggeris dengan riang. Ia juga belajar pelbagai watak dalam seri program, seperti SYS, Zack, Anusha, Puteri, dan lain-lain. Memilih Jibam tentu bukan pilihan asal-asalan. Ia punya alasan. Sebagaimana ia juga memilih tokoh tertentu dalam filem terakhir yang ditontonnya dalam Inside Out, yaitu Joy dan Sadness

Sunday, November 22, 2015

Menyuburkan Literasi

Kami berempat singgah sejenak di kedai buku. Setelah mengikuti lomba mewarna yang digelar oleh sebuah perusahaan Tupperware, Nabbiyya tampak masygul. Maklum, untuk pengalaman ketiga, kakak Zumi ini tak mendapat nomor. Alisbah, temannya asal Pakistan, menghiburnya. Hingga kini, keduanya acapkali berbagi dan bermain dalam banyak kesempatan.

Kami pun mafhum. Nabbiyya harus menerima kenyataan. Lalu, kami mengajaknya ke toko ini untuk membeli apa saja yang dia mau. Tentu saja, buku yang bisa dijangkau oleh isi kantong. Setelah mendapatkan bahan bacaan yang disenangi, kami pun mengajaknya makan siang. Dalam keadaan apapun, kami bersama. Mungkin, inilah pelajaran yang ia bisa reguk dalam hidupnya.

Pengalaman kalah dan menang dalam hidup adalah cara kita merawat akal budi dan pekerti. Setidak-tidaknya, ia tahu bahwa dalam keadaan apapun kami menerimanya dengan rela dan sikap yang sama orang tua pada umumnya: bangga terhadap anak-anaknya. Bukankah kita yang dewasa pernah juga melewati kekecewaan karena tak sempat naik panggung? 

Monday, October 26, 2015

Hari Raya dan Mudik

Hari raya dan mudik seperti dua sisi mata uang, yang saling mengisi. Tapi, kami memisahkannya, tidak pulang kampung pada Idul Fitri tahun ini.

Namun demikian, seusai bershalat di masjid Muttaqim, kami merayakannya dengan mengunjungi handai-taulan, seperti melawat ke rumah tetangga dan menghadiri rumah terbuka.Seperti terpampang dalam gambar sebelah, ibu dan anak ini menikmati hidangan undangan sesepuh kami di negeri jiran.

Lalu, kalau mudik di luar hari raya, adakah ia tidak sesusah pada perayaan setelah puasa? Sudut pandang kadang menghadirkan nuansa makna. Namun, kepulangan kami ke kampung halaman, Madura dan Yogyakarta, tetap bermakna meskipun di televisi tak ada laporan arus mudik dan balik. Malah, dalam waktu dua bulan Oktober dan November, kami mudik dua kali, sebuah pengalaman yang tak pernah dilakukan sebelum ini. Hanya yang sempat menggelayut di benak, di mana kampung halaman dua anak kami yang lahir dan Kedah dan Pulau Pinang? Jati-diri bisa dilihat dari sudut klasik, modern dan pasca-modern, sehingga identitas tidak ditekuk secara kaku, bukan? 

Monday, September 28, 2015

Idul Adha di Kubang Pasu

Pada hari raya Idul Adha 1436 H, saya menunaikan sembahyang sunnah di sini. Setiap kali melewati jalan raya di depannya, saya selalu membatin untuk bisa melaksanakan shalat di masjid Lama ini. Biasanya, kami sekeluarga pergi ke Masjid Muttaqin Tanah Merah, tak jauh dari rumah.

Di bandingkan masjid-masjid lain dari sekitar Kedah, Masjid tersebut tampak berbeda. Warna coklat dan bentuk yang kuno tiba-tiba menyergap kesadaran saya. Betul, masjid  ini adalah salah satu di antara tempat ibadah yang telah lama berdiri di negeri Darulaman. Tentu saja, pelantang yang berada di atap menjadikannya tak jauh berbeda dengan masjid kampung saya, Langgundi. Saya pun tak pasti, apakah merek pengeras suara itu TOA, jenama yang biasa di mana-mana.

Sebelum shalat ditunaikan, sang imam dan sekaligus khatib menerangkan tata cara sembahyang, seperti niat dan takbir yang diselingi bacaan tasbih, tahmid dan takbir. Tak perlu waktu lama, sekitar jam 8.30 shalat dimulai. Kemudian, khutbah disampaikan hanya dalam hitungan menit, ringkas dan bernas. Betul-betul sang khatib mengikuti ajaran Nabi, khotbah tidak disampaikan berjela-jela. Akhirnya, seusai ibadah, para jamaah diminta untuk makan di warung makan Kashmir, yang berada di belakang Masjid. Oh ya, saya sempat bersirobok dengan tiga ekor sapi yang menunggu untuk dikorbankan. Suasananya benar-benar menyenangkan, tambahan lagi cuaca cerah. Sinar matahari membelai bumi dengan lembut, sehingga pikiran tak berserabut. Masihkah ada kemelut?