Monday, January 11, 2016

Rumah Eksistensi Kita

Meskipun saya pura-pura membaca, namun anak ini coba melakukan hal serupa. Dari pengalaman ini, saya tahu bahwa anak-anak bertindak dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Tak hanya itu, Zumi juga selalu meniru apa yang dilakukan oleh kakaknya, Nabbiyya, seperti menyusun Shopkins, mainan yang penting untuk mengenal karakter.

Tak hanya itu, ketika saya menyapu halaman rumah, ia pun mengambil sapu dan menggerakkannya untuk membersihkan sampah dari permukaan tanah.

Rumah adalah tempat kita untuk menyemai nilai-nilai. Meskipun kita tahu bahwa jalanan dan segala turunannnya adalah salah satu penyumbang warna generasi baru. Belum lagi, kedua anak ini telah menelusuri permainan di gawai, yang piawai bikin terbuai. Sepertinya, kedua orang tuanya harus membatasi diri menghidupkan alat pintar tersebut, biar tidak sial. 

Sunday, December 13, 2015

Belajar Bahasa Inggeris

Sejak sehari sebelumnya, Biyya begitu teruja untuk berfoto dengan pelakon pujaannya, Jibam. Acara televisi #OhMyEnglish adalah salah satu program TV kabel yang disukai, selain beberapa film kartun, seperti Sofia, Hagemaru, Doraemon, Upin-Ipin, dll.

Meskipun harus menunggu selama hampir dua jam, lulusan Smart Reader Kids ini bersemangat untuk menunjukkan dua jari: kemenangan. Ia hampir berputus-asa untuk bisa bergambar setelah kepenatan menunggu sejak jam 3, dimana acara tersebut di sebuah pasaraya ini dimulai jam 5 hingga 7 malam.

Dari serial populer ini, kakak Zumi ini bisa belajar bahasa Inggeris dengan riang. Ia juga belajar pelbagai watak dalam seri program, seperti SYS, Zack, Anusha, Puteri, dan lain-lain. Memilih Jibam tentu bukan pilihan asal-asalan. Ia punya alasan. Sebagaimana ia juga memilih tokoh tertentu dalam filem terakhir yang ditontonnya dalam Inside Out, yaitu Joy dan Sadness

Sunday, November 22, 2015

Menyuburkan Literasi

Kami berempat singgah sejenak di kedai buku. Setelah mengikuti lomba mewarna yang digelar oleh sebuah perusahaan Tupperware, Nabbiyya tampak masygul. Maklum, untuk pengalaman ketiga, kakak Zumi ini tak mendapat nomor. Alisbah, temannya asal Pakistan, menghiburnya. Hingga kini, keduanya acapkali berbagi dan bermain dalam banyak kesempatan.

Kami pun mafhum. Nabbiyya harus menerima kenyataan. Lalu, kami mengajaknya ke toko ini untuk membeli apa saja yang dia mau. Tentu saja, buku yang bisa dijangkau oleh isi kantong. Setelah mendapatkan bahan bacaan yang disenangi, kami pun mengajaknya makan siang. Dalam keadaan apapun, kami bersama. Mungkin, inilah pelajaran yang ia bisa reguk dalam hidupnya.

Pengalaman kalah dan menang dalam hidup adalah cara kita merawat akal budi dan pekerti. Setidak-tidaknya, ia tahu bahwa dalam keadaan apapun kami menerimanya dengan rela dan sikap yang sama orang tua pada umumnya: bangga terhadap anak-anaknya. Bukankah kita yang dewasa pernah juga melewati kekecewaan karena tak sempat naik panggung? 

Monday, October 26, 2015

Hari Raya dan Mudik

Hari raya dan mudik seperti dua sisi mata uang, yang saling mengisi. Tapi, kami memisahkannya, tidak pulang kampung pada Idul Fitri tahun ini.

Namun demikian, seusai bershalat di masjid Muttaqim, kami merayakannya dengan mengunjungi handai-taulan, seperti melawat ke rumah tetangga dan menghadiri rumah terbuka.Seperti terpampang dalam gambar sebelah, ibu dan anak ini menikmati hidangan undangan sesepuh kami di negeri jiran.

Lalu, kalau mudik di luar hari raya, adakah ia tidak sesusah pada perayaan setelah puasa? Sudut pandang kadang menghadirkan nuansa makna. Namun, kepulangan kami ke kampung halaman, Madura dan Yogyakarta, tetap bermakna meskipun di televisi tak ada laporan arus mudik dan balik. Malah, dalam waktu dua bulan Oktober dan November, kami mudik dua kali, sebuah pengalaman yang tak pernah dilakukan sebelum ini. Hanya yang sempat menggelayut di benak, di mana kampung halaman dua anak kami yang lahir dan Kedah dan Pulau Pinang? Jati-diri bisa dilihat dari sudut klasik, modern dan pasca-modern, sehingga identitas tidak ditekuk secara kaku, bukan? 

Monday, September 28, 2015

Idul Adha di Kubang Pasu

Pada hari raya Idul Adha 1436 H, saya menunaikan sembahyang sunnah di sini. Setiap kali melewati jalan raya di depannya, saya selalu membatin untuk bisa melaksanakan shalat di masjid Lama ini. Biasanya, kami sekeluarga pergi ke Masjid Muttaqin Tanah Merah, tak jauh dari rumah.

Di bandingkan masjid-masjid lain dari sekitar Kedah, Masjid tersebut tampak berbeda. Warna coklat dan bentuk yang kuno tiba-tiba menyergap kesadaran saya. Betul, masjid  ini adalah salah satu di antara tempat ibadah yang telah lama berdiri di negeri Darulaman. Tentu saja, pelantang yang berada di atap menjadikannya tak jauh berbeda dengan masjid kampung saya, Langgundi. Saya pun tak pasti, apakah merek pengeras suara itu TOA, jenama yang biasa di mana-mana.

Sebelum shalat ditunaikan, sang imam dan sekaligus khatib menerangkan tata cara sembahyang, seperti niat dan takbir yang diselingi bacaan tasbih, tahmid dan takbir. Tak perlu waktu lama, sekitar jam 8.30 shalat dimulai. Kemudian, khutbah disampaikan hanya dalam hitungan menit, ringkas dan bernas. Betul-betul sang khatib mengikuti ajaran Nabi, khotbah tidak disampaikan berjela-jela. Akhirnya, seusai ibadah, para jamaah diminta untuk makan di warung makan Kashmir, yang berada di belakang Masjid. Oh ya, saya sempat bersirobok dengan tiga ekor sapi yang menunggu untuk dikorbankan. Suasananya benar-benar menyenangkan, tambahan lagi cuaca cerah. Sinar matahari membelai bumi dengan lembut, sehingga pikiran tak berserabut. Masihkah ada kemelut?

Monday, September 07, 2015

Dunia Anak

Ketika saya memintanya untuk menulis judul buku ini, Existensialism, anak dalam gambar sebelah malah menggambar keranjang dan orang. Dengan membiasakan menulis kata, saya membayangkan ia akan belajar untuk bisa menulis lema dalam bahasa Inggeris. Namun, lain dipinta, lain dibuat.

Tak hanya itu, buku cerita Ladybird, hadiah dari sebuah susu formula, pun hanya dibaca beberapa halaman. Saya tak bisa memaksanya untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. Lagipula, ia masih belum sepenuhnya bisa menulis dan membaca, sehingga memaksanya melakukan demikian merupakan sebuah siksaan.

Anak-anak seusianya tentu melihat dunia dalam gambarannya. Untuk mengajaknya belajar, seperti membaca dan menulis, justeru kita, orang tua, yang lebih sering memberikan contoh. Misalnya, selain menonton film televisi, saya pun acap membuka buku, meskipun kadang malas mendarasnya.



Thursday, August 27, 2015

Filsafat (Tak) Mudah

Dulu, buku filsafat berada di rak tersendiri. Beberapa hari yang lalu, saya mendapati buku filsafat di bawah AGAMA. Jelas, ini terkait dengan pemanfaatan ruang, bukan bidang. Menariknya, filsafat yang dikenal sebagai pengetahuan rumit bisa disampaikan dengan cerita kartun, dalam The Cartoon Introduction to Philosophy, seperti terpampang dalam gambar.

Malah, pemikiran Immanuel Kant yang susah dipahami tak lagi menjadi momok. Robert Wicks menulis sebuah pengantar (introduction) yang didahului kata lengkap (complete) dengan janji memahami Kant lebih cepat, menguasai subjek selangkah demi selangkap dan akhirnya menguji pengetahuan pembaca untuk membantu yang bersangkutan berhasil. Selain itu, di halaman pertama buku ini ditulis bahwa filsuf itu adalah orang yang berdarah dan bertulang, makan , minum, menawa, merenung dan secara perlahan menua. Tiba-tiba, saya berandai bahwa kita hanya perlu menjadi manusia untuk berpikir.

Saya pun membeli buku kecil berjudul The 15-Minute Philosopher yang ditulis oleh Anney Rooney (2014) dengan kata promosi ide-ide untuk menyelamatkan hidup Anda. Di antara begitu banyak kata kunci, saya terpegun dengan kata Jepang tsundoku, yang berarti membiarkan buku tak terbaca setelah membelinya. Lema ini tak dijumpai dalam bahasa Inggeris dan Indonesia. Aha, saya kadang melakukannya. Lalu, kalau hanya dibaca sebagian atau melompat-lompat?