Posts

Berbagi Izutsu dengan Mahasiswa

Image
Sehari sebelum acara kuliah umum digelar, saya minta Ke Lesap untuk menjemput mengingat tanggal 2 November Parebaan hujan deras. Dalam hitungan detik, luluasan UIN Sunan Kalijaga tersebut memberitahu bahwa Pak Anwar akan menjemput saya ke rumah.

Di pagi hari H, Pak Anwar menelepon bahwa alumnus Al Azhar ini berada di depan Toko Hajjah Hamidah. Saya pun bergegas mengingat acara akan dimulai jam 9. Perjalanan dari Ganding ke Pangantenan sangat mengasyikkan. Kami berdua bicara banyak isu, seperti pengalaman belajar dan kegiatan di kampus. Sesampai di kampus STIU, banyak teman menyambut. Sebagian besar lulusan universitas yang berada di Kuala Lumpur. Pak Dimyati menyelesaikan S2 di Malaysi dan S3 di Turki. Ia pun bercerita tentang polemik pembaruan Islam di koran Republika, yang dipantik dari opini Fahmy.

Tak lama kemudian, kami menuju ke lokasi. Setelah acara sambutan dan kuliah, sesi tanya jawab sangat mengujakan. Salah seorang peserta menegaskan bahwa Alqur'an sakral dan universal…

Kapal Baterai

Image
Dulu, saya juga bermain kapal-kapalan  yang digerakkan dengan tekanan minyak yang dibakar, bukan baterai. Kini, anak-anak tinggal membeli dan menekan tombol hidup agar mainan ini berjalan mengitari ember.

Apa lacur, tak perlu waktu lama, layar yang terbuat dari kertas basah dan koyak. Tak hanya itu, kapal ini ditekan ke dasar sehingga badannya kemasukan air. Baterai lepas dan mogok.

Dengan obeng saya membukanya dan memasangnya kembali. Tapi, si kecil tak lagi tertarik bermain, malah pindah ke truk yang bisa dimuati pasir. Kata kunci yang sering didengar adalah saya bosan. Eh, si kecil ini sudah menjadi eksistensialis? Hehe

Batik

Image
Selamat hari batik!

Saya mengambil kain ini di pagi hari bersama Zumi. Kemarin, Pak Situ, si penjahit, tak ada di rumah. Untuk ketiga kalinya, saya meminta lelaki penjual tape Bondowoso tersebut menjahit kain bermotif burung Cenderaasih yang merupakan hadiah dari kawan baik, Ismail S Wekke.

Selain itu, saya menunjukkan buku I Ngurah Suryawan, Jiwa yang Patah: Rakyat Papua, Sejarah Sunyi, dan Antropologi Reflektif, agar perayaan ini bukan sekadar soal baju, tetapi masalah pengetahuan, kemanusiaan dan kebangsaan.

Lebih jauh, simbol itu bukan sekadar tanda, tetapi juga makna. Kain itu seeloknya diproduksi oleh kita sendiri, sehingga produk massa itu bermanfaat untuk banyak orang. Pada gilirannya, kita akan memenuhai kebutuhan-kebutuhan sendiri.

Merawat Pengetahuan

Image
Dalam sebuah pertemuan santri dengan para kiai, almarhum KH A Warits Ilyas menegaskan bahwa hubungan kiai-santri secara spiritual dan intelektual akan senantiasa terjaga dalam naungan ahlussunnah waljamaah.

Secara spiritual, santri tentu menautkan pada sumber dan mengalirkannnya di rumah, tempat kerja, dan bahkan di warung kopi, berupa pengajian. Di pintu masuk, kita bisa merenung perkataan "cinta kopi adalah sebagian dari iman".

Jalan tasawuf saya adalah jejak Kiai Ahmad Basyir yang menekankan salat berjamaah, membaca Alqur'an, dan salat malam. Betapaun sulit, santri tentu akan berusaha menjalaninya. Tentu, kebiasaah almarhum yang saya lakukan hingga sekarang adalah menyapu halaman dengan sapu lidi. Sejati.

Secara intelektual, kami membahas buku, termasuk Buku Yang Rapuh. Dulu, saya membahas buku Tuhan, Manusia, dan Alam di Kancakona Kopi Sumenep bersama Ra Miming, allahummaghfirlah. Di Kancakona Kopi Jember, saya tidak hanya berbagi cerita karya, tetapi juga mengenang…

Pulang

Image
Ketika pergi, kami menaik dan pulang kami menikmati jalan menurun.

Musim kemarau membuat sebagian pohon meranggas. Tapi, keindahan yang lain hadir: kegersangan dalam keseronokan. Mengapa? Sudut pandang digeser, yakni jalan mulus dan pemandangan langit biru.

Demikian juga hidup. Kita hanya perlu menghadirkan alam sebagai rumah besar, dan kediaman adalah tempat tinggal yang kecil. Jika yang besar hancur, yang kecil lebur.

Dari Jember ke Paiton, kami melalui Bondowoso yang menyuguhkan banyak penglihatan. Di arak-arak, kita bisa berdiri melihat alam bebas dan merasakan betapa kita memiliki semua, yang seringkali ditinggalkan sebab kita ingin sesuatu yang lain, yang anehnya hanya ada dalam keinginan.

Pijat

Image
Untuk ketiga kalinya, saya duduk di kursi ini. F mengurut kaki dan jemari. Tak hanya telapak, jari-jari terasa sakit. Sepertinya ada pasir di situ. Saya pun bertanya pada lelaki berusia 24 tahun ini tentang titik pusat  sakit kepala. Segera ayah yang sedang menunggu kelahiran anak pertama tersebut menyebut ujung jemari.

Sambil menikmati angin siang, saya mendengar pandangannya tentang banyak hal, seperti politik dan pendidikan. Di kampungnya, Pakuniaran, Partai Nasdem menguasai lumbung suara karena faktor Pak Hasan. Ia menyelesaikan SMAnya dan memilih bekerja setelah lulus.

Setelah setengah jam kemudian, saya pun beranjak dari kursi dan merogoh dompet untuk mengambil duit sebesar Rp 20 ribu. Si ibu telah membeli kebutuhan dapur dan si kecil masih asyik dengan sepeda beroda tiga di arena permainan. Pikiran ini nyaman ketika tubuh ringan.  Demikian juga sebaliknya berlaku. Tak mudah menjaga keseimbangan.

Pantai

Image
Zumi dan teman-temannya Taman Pendidikan Alqur'an berwisata ke pantai Duta. Mereka naik odong-odong. Sang ibu mendampingi si bungsu. Maklum, murid TK Anaprasa ini belum bisa membawa dirinya.

Kami berdua berangkat duluan. Sesampai di pintu gerbang, saya membayar karcis masuk dan parkir sebesar Rp 15 ribu. Lalu, Biyya bergegas ke tepi pantai, mencari cangkang kerang. Si sulung tampak gembira menikmati air, pasir, dan pemandangan.

Setelah itu, kami menyusuri jalan setapak berkayu untuk menikmati "hutan mangrove". Angin berhembus lembut. Matahari sore hangat. Tak perlu waktu lama kami mengelilingi kawasan peranginan ini. Tak hanya itu, kami juga melihat pembibitan pohon cemara. Di sini, Biyya juga belajar tentang pelestarian lingkungan. Lalu, kami berdua berjamaah asar di surau yang bersih itu. Menjelang tahun baru, warga kampung bertadabbur agar kesadaran terhadap alam tidak kabur.