Posts

Persahabatan

Image
The highest form of friendship is friendship of virtue. This type of friendship is based on a person wishing the best for their friends regardless of utility or pleasure. ~ Aristotle, 384-322 SM

Kata-kata di atas (bisa) diwakili oleh gambar ini. Seorang karib mengirim sebuah gambar ke pesan Whatsapp. Kopi dan rokok itu bukan tujuan. Ia membaca buku-buku rohani dan mengikuti kegiataan spiritual keagamaan. Setelah di puncak, benda-benda itu tanggal. Katanya, saya mesti turun lagi untuk hidup. Lagi-lagi, ia bolak-balik antara bumi dan langit.

Mengingat tak berhasrat mengalami tragedi Sisyphyus, mengulang-ulang hal yang sama, ia menyesap kopi dalam suasana yang berbeda-beda. Seperti Heraklitos, ia merasa bahwa sesapan itu tidak sama, seperti ketika ia berdiri di sungai seraya menikmati aliran air yang berbeda.

Lagipula, dengan cangkir buatan China ia telah menyatukan waktu dalam satu regukan, masa lalu, kini, dan masa depan. Cawan itu adalah penanda kampung halamannya, yang sekarang dini…

Kenangan

Image
Biyya meminta merayakan ulang tahunnya dengan mahasiswa. Kami pun senang karena hubungan pegawai asrama dan pelajar terjalin akrab.

Untuk kedua kalinya, dua hari yang lalu Biyya bilang bahwa kalau tidak bisa sekolah di UK, kakak Zumi mau melanjutkan pelajarannya ke UUM.

Mungkin rumah pegawai ini asrama belum berubah. Tapi, kawasan ini diharapkan kekal dengan sungai, pohon, dan keranya.

Menunggu Angkutan Sekoiah

Image
Saya dan Zumi mengantar kakak ke pinggir jalan untuk menunggu angkutan sekolah. Setiap jam 6 pagi, kami bertolak dari rumah dan duduk di depan Gudang Sampoerna.

Biyya membaca Deathly Hallows JK Rowling. Buku ini adalah hadiah dari gurunya di UUM IS, Miss Galilee, asal Filipina. Sementara Zumi akan menggambar rumah, dinosaurus, pohon, dan mobil.

Saya membaca Freud untuk memahami keselip lidah. Maklum, Benjamin Netanyahu menyebut Israel adalah negara nuklir.  Kebiasaan ini berjalan setiap hari. Sekali waktu, saya melemparkan pandangan ke jalan, yang dialiri oleh pelbagai jenis kendaraan. Betapa para supir itu telah bekerja, sementara sebagian yang lain mungkin masih lelap. Setelah Pak Wardi datang, kami pun berdiri dan kakak masuk mobil. Saya dan Zumi melambaikan tangan.

Pondok

Image
Kami sering mengajak Biyya ke pondok agar si sulung ini terbiasa merasakan aroma dan suasana institusi pendidikan berkonsep asrama. Kini, kakak sepupunya, yang dulu belajar di Al-Amin, sedang menyelesaikan S1 Sumberdaya Manusia di Universitas Negeri Surabaya.

Setelah SD, kami sedang mencari pondok yang sesuai dengan minat murid Sekolah Dasar Namira ini. Dengan mempersiapkan sejak awal, kami berharap kakak Zumi ini turut menyesuaikan dengan keadaan sekolah yang menempatkan siswa di asrama.

Apapun, pendidikan itu dimulai dari kemampuan memahami kata, sebab bahasalah yang memungkinkan penuntut ilmu menyingkap dunia. Pondok tidak lagi menghabiskan waktu mempelajari ilmu alat (nahwu) yang bertele-tele. Perlahan tapi pasti, penggunaan bahasa mengandaikan praktik, bukan hanya teoretik. Santri didorong untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris sehari-hari, baik di penginapan maupun ruang kelas.

Berbagi Izutsu dengan Mahasiswa

Image
Sehari sebelum acara kuliah umum digelar, saya minta Ke Lesap untuk menjemput mengingat tanggal 2 November Parebaan hujan deras. Dalam hitungan detik, luluasan UIN Sunan Kalijaga tersebut memberitahu bahwa Pak Anwar akan menjemput saya ke rumah.

Di pagi hari H, Pak Anwar menelepon bahwa alumnus Al Azhar ini berada di depan Toko Hajjah Hamidah. Saya pun bergegas mengingat acara akan dimulai jam 9. Perjalanan dari Ganding ke Pangantenan sangat mengasyikkan. Kami berdua bicara banyak isu, seperti pengalaman belajar dan kegiatan di kampus. Sesampai di kampus STIU, banyak teman menyambut. Sebagian besar lulusan universitas yang berada di Kuala Lumpur. Pak Dimyati menyelesaikan S2 di Malaysi dan S3 di Turki. Ia pun bercerita tentang polemik pembaruan Islam di koran Republika, yang dipantik dari opini Fahmy.

Tak lama kemudian, kami menuju ke lokasi. Setelah acara sambutan dan kuliah, sesi tanya jawab sangat mengujakan. Salah seorang peserta menegaskan bahwa Alqur'an sakral dan universal…

Kapal Baterai

Image
Dulu, saya juga bermain kapal-kapalan  yang digerakkan dengan tekanan minyak yang dibakar, bukan baterai. Kini, anak-anak tinggal membeli dan menekan tombol hidup agar mainan ini berjalan mengitari ember.

Apa lacur, tak perlu waktu lama, layar yang terbuat dari kertas basah dan koyak. Tak hanya itu, kapal ini ditekan ke dasar sehingga badannya kemasukan air. Baterai lepas dan mogok.

Dengan obeng saya membukanya dan memasangnya kembali. Tapi, si kecil tak lagi tertarik bermain, malah pindah ke truk yang bisa dimuati pasir. Kata kunci yang sering didengar adalah saya bosan. Eh, si kecil ini sudah menjadi eksistensialis? Hehe

Batik

Image
Selamat hari batik!

Saya mengambil kain ini di pagi hari bersama Zumi. Kemarin, Pak Situ, si penjahit, tak ada di rumah. Untuk ketiga kalinya, saya meminta lelaki penjual tape Bondowoso tersebut menjahit kain bermotif burung Cenderaasih yang merupakan hadiah dari kawan baik, Ismail S Wekke.

Selain itu, saya menunjukkan buku I Ngurah Suryawan, Jiwa yang Patah: Rakyat Papua, Sejarah Sunyi, dan Antropologi Reflektif, agar perayaan ini bukan sekadar soal baju, tetapi masalah pengetahuan, kemanusiaan dan kebangsaan.

Lebih jauh, simbol itu bukan sekadar tanda, tetapi juga makna. Kain itu seeloknya diproduksi oleh kita sendiri, sehingga produk massa itu bermanfaat untuk banyak orang. Pada gilirannya, kita akan memenuhai kebutuhan-kebutuhan sendiri.