Sunday, January 25, 2015

Memuji Nabi di Pasaraya

Di sudut sebuah pasaraya, sebuah grup kasidah Shabahul Islam bershalawat. Mereka menyanyikan pujian diiringi suara rebana. Melalui dendangan ini, Nabi hadir dalam keriangan.

Lagipula, bukankah dulu Nabi pedagang dan acap masuk ke pasar? Hanya, apakah makna pasar dulu dengan sekarang sama?

Jelas, pasar itu boleh, namun tidak penumpukan kekayaan pada segelintir orang. Ini makna pujian terhadap Nabi. 

Sunday, January 04, 2015

Dunia Anak

Seperti anak seusianya, imajinasi mengatasi kenyataan. Sebuah payung dengan mudah dimanfaatkan sebagai mikrofon untuk bernyanyi. Dari gayanya, Nabbiyya tentu sedang menjerit, yang tak ada dalam lagu Dangdut yang mendayu-dayu, genre yang tak disukainya. Seraya tertawa, anak ini menyebut ibunya suka lagu dangdut, meskipun emaknya tak menggemarinya. Ayah suka Rhoma, tambahnya, tanpa menghilangkan senyum olok-olok. Ia sendiri memilih lagu soundtrack Frozen, film kedua yang ditonton di bioskop setelah Bola Kampung.

Namun, sekali waktu ia kadang mendehem mengikuti irama lagu Rhoma Irama yang saya putar. Aha! Lagu memang bahasa yang paling mudah hinggap di kepala anak-anak, sehingga bahan-bahan pelajaran di sekolahnya, Smart Reader Kid, digubah menjadi dendangan. Malah, mbak Zumi ini bisa menyebut huruf abjad dalam bentuk nyanyian. Sekali waktu, anak yang lahir pada tahun 2009 ini bernyanyi dengan lirik sesukanya, yang menggambarkan kisah campur-aduk, mencomot cerita dari banyak peristiwa. Uh, betapa kaya khayalannya.

Oh ya, coretan di tembok itu adalah hasil contengannya. Namun, sekarang tulisannya tak lagi menghiasi dinding, tapi kertas kosong. Sejauh ini, ia menulis pelbagai huruf yang tak terbaca, mengggambar rumah dan orang, dan tentu saja mewarnai. Menjangkau dunianya sejatinya adalah cermin dunia orang tuanya. Tak hanya itu, belakangan ini, anak kelahiran Pulau Pinang tersebut mengasyiki WhatsApp sebelum tidur. Ibunya pun mengingatinya bahwa pesan yang dikirim hanya untuk ayah, yang berada tak jauh dari sisinya. Betapa jarak itu relatif. Menariknya, ia tahu kenisbian itu bukan dari Albert Enstein. 

Monday, December 29, 2014

Empati

Mereka adalah pelajar yang sedang mengambil mata kuliah Projek Khidmat Komuniti (Proyek Pelayanan Komunitas). Selain belajar pelbagai teori di kelas, mereka harus turun ke lapangan. Ternyata, ada jarak, meskipun siapa pun tak bisa mengabaikan yang pertama.

Atas permintaan dosennya, saya menemani mereka untuk membantu sebuah pusat autisme di Kampung Tradisi, tak jauh dari kampus. Di sana mereka berbagi tugas, sebagian membersihkan lingkungan, memasak dan menemani anak-anak yang mengalami autis, baik aktif maupun pasif.

Luar biasa, mereka menemani anak-anak super-aktif dengan pelbagai kegiatan, seperti nyanyian, aneka permainan dan makan siang bersama. Menarik, betapa anak-anak itu begitu tertib dan mengikuti kegiatan dengan riang. Hanya saja ekspresi keriangan pelbagai, baik gerakan maupun ekspresi wajah. Oh ya, Syafiq, salah satu dari mereka membawakan lagu Sandiwara Cinta, Republik, dengan begitu bersemangat. Uh, dada ini hampir runtuh melihat seorang remaja bersongkok hitam yang menyanyi dengan segenap jiwa dalam keterbatasan tubuhnya. Ada getaran lain yang merangsek, menggedor jantung.

Sunday, December 14, 2014

Menikmati Sore

Kebiasaan hari-hari terakhir ini adalah duduk di warung makan Yasmeen kampus seraya menyesap kopi dan sekali-kali membuka buku. Kalau pun bacaan tak menarik perhatian, setidak-setidaknya segelas kopi membuat mata ini menyala.

Mentari hangat. Angin menerpa daun. Lalu-lalang orang. Semua bertukar tempat di kepala. Sekali waktu saya bertemu dengan bekas mahasiswa atau pelajar yang sedang mengambil mata kuliah Sains Pemikiran dan Etika (SGDN1043).

Meskipun telah lama saya memebeli buku ini, namun saya belum membacanya hingga ke halaman terakhir. Buku tipis ini adalah pengantar yang lengkap. Lalu, haruskah kita membuka tiga buku besar Kant untuk memahami isi kepalanya? Setiap orang memiliki pilihan. Filsuf bukan hanya karyanya, tetapi juga kisahnya. Membaca sejaranya, kita bisa membayangkan pikiran-pikirannya, bukan? 

Thursday, November 27, 2014

Menyiapkan Pulang

Bersama Mas Faizi, kandidat Doktor Ekonomi Syariah Universiti Utara Malaysia, saya mencoba mereka cerita.Sebab, hidup itu hanya kisah yang dirungkai untuk menjelaskan kerumitan.

Apa makna Pulang? Novel ini bercerita tentang kehendak untuk kembali ke tanah air yang tak sesederhana membeli tiket dan naik angkutan untuk merasai kampung halaman.

Karya ini lebih dari sekadar nostalgia masa lalu, tetapi ingin menemukan jawaban, mengapa kita mesti pulang. Berbeda dengan Toha Muchtar tentang kepulangan sang tokoh untuk menyembunyikan, Leila S Chudori ingin membongkar hakikat kerinduan pada jati diri. Aha! Lintang membantu ayahnya untuk mewakilinya membaui kembali tempat suami Vivienne Deveraux tersebut menebus mimpinya di dunia nyata. 

Monday, November 17, 2014

Menyatukan Langkah

Apa yang ada di benak kita tentang gambar ini? Ada orang yang menyatakan gagasan. Seorang mahasiswa yang menjadi panitia dengan sigap berdiri. Seorang perempuan berjilbab sedang menulis.

Setiap orang asyik dengan dunianya. Namun, keasyikan itu bertambah yahud apabila kita menyemainya bersama untuk satu tujuan. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Tentu, ada perbedaan dalam melihat, namun dalam berpikir lateral Edward de Bono, kita tak lagi terperangkap dalam pandangan betul atau salah, tetapi bagaimana sebanyak mungkin menjana ide. Dari gagasan inilah, kita merancang tindakan. Sebab, kata peribahasa Arab, ilmu (gagasan) tanpa amal (gagasan) seperti pohon tanpa buah. Dari perbincangan inilah, kita bisa turun ke masyarakat untuk mendengarkan apa keinginan mereka, sehingga huruf-huruf yang kita baca bergerak di alam nyata, bukan di kertas saja. 

Sunday, October 26, 2014

Ruh itu Di mana?

Ketika pihak AKEPT (Akademi Kepimpinan Pengajian Tinggi) Kementerian Pendidikan Malaysia dan Universitas Jember Indonesia memulakan kegiatan tahunan dari sini, Masjid Agung Jember, saya pun bertanya di hati, apakah ruh pendidikan itu ada di sini?

Ya, ini rumah Tuhan. Bila kita mengetuk pintu dengan hati, maka lahirlah sejati. Hamzah Fansuri, penyair dan pengamal sufi, pun berujar, ke Mekkah terlalu payah |
Padahal Tuhan ada di rumah (hati). Jadi, hati-hati! Jangan berhenti mencari! Tapi, ya hati-hati! Ada banyak onak dan duri! Akhirnya, pengalaman rohani itu tak tepermanai.

Adakah anak-anak Sekolah Dasar yang menghabiskan siang dengan berzikir secara berjamaah adalah tanda bahwa ruh itu bisa dipupuk? Semoga. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Setidak-tidaknya, mereka masuk ke dalam ruang tak memanjakan tubuh, tetapi menyuburkan jiwa. Dari sini, mereka belajar bahwa hidup itu bukan hanya tawa, canda dan berbelanja. Ada keheningan yang perlu hadir agar kebeningan itu nyata.