Wednesday, July 23, 2014

Nestapa Buruh Migran

Tulisan ini dimuat di koran harian Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat (Sabtu Kliwon, 5 Juli 2014). Saya menyadari bahwa nasib buruh migran sebagian besar baik. Jika menyoroti nestapa yang ditanggung, saya hanya ingin mengingatkan bahwa pendapat ini adalah ingatan yang perlu dicermati oleh semua pihak.

Bayangkan! Ramalan tulisan ini menjadi kenyataan. Kapal tongkang karam yang mengorbankan dua pekerja berulang. Betapa pun operasi secara terus-menerus oleh pihak berwenang, pekerja bisa lolos dari razia. Tentu mengurai silang-sengkarut tidak semudah membalik telapak tangan, namun membincangkannya secara terbuka, kita bisa mengelak korban bertumbangan.

Di minggu terakhir ini, kita berdoa agar tak ada lagi tragedi. Tuhan, berikan keselamatan pada mereka yang ingin pulang, berbagi kebahagiaan bersama keluarga! Jangan renggut mereka karena nasib keluarganya berada di tangannya! Amin. 

Sunday, June 29, 2014

Puasa Pertama

Semalam saya hanya bersahur dengan segenggam nasi dan sepotong ayam goreng. Merasa sudah berpengalaman sejak kecil, saya tak risau akan merasa terlalu lapar, nyatanya saya melalui sehari puasa dengan perut melilit. Mungkin, betul kata Nabi, bahwa Sahur itu 'sunnah' diakhirkan. Mungkin, rasa senang menonton kemenangan Selecao Brasil melawan Chile membuat rasa lapar tak mendera.

Sebelumnya, kami menunaikan shalat Tarawih di surau perumahan bersama tetangga. Encik Majid, asal Thailand, yang kebetulan seorang penghapal al-Qur'an (hafiz) memimpin sembahyang malam. Sementara, azan Isya dilantunkan oleh Nazwan, mahasiswa UUM asal Iraq. Kami bersepakat untuk menunaikannya 8 rakaat dan 3 witr. Tak hanya membawakan surat al-Baqarah, jiran kami tersebut membacanya dengan suara yang indah.

Tentu, hari pertama puasa begitu menyenangkan karena Pakcik Malik bersama keluarga yang berasal dari Kelantan dan menantu, dr. Adi, mengunjungi kami, untuk menjenguk bayi yang baru dilahirkan, Mutanabbi Makhzumi. Mereka adalah keluarga kami yang bisa berbagi cerita. Cikgu Malik, banyak orang menyebutnya demikian, karena beliau dan isteri adalah mantan guru, acapkali berbicara dengan Nabbiyya dalam bahasa Inggeris. Meskipun terbata-bata dan seringkali mencampur aduk bahasa Melayu dan Inggeris, Nabbiyya justeru bisa menghangatkan kebersamaan karena ia tak pernah menyembunyikan pikirannya yang sering mendatangkan tawa. Bayangkan! Ia dengan lugas menyebut temannya yang tak disuka dan disuka tanpa basa-basi.

Menjelang Maghrib, saya sendirian pergi ke Pasar Ramadhan Tanah Merah tak jauh dari Masjid al-Muttaqin. Di sini, begitu banyak orang membeli makanan dan kue untuk berbuka. Saya pun membeli makanan ta'jil berupa sari pati kedelai (dadih), sate, dan kue tradisional. Menariknya, penjual sate meletakkan spanduk yang turut menyertakan alamat Facebooknya. Anda berminat? Sila berhubung melalui media sosial. Selamat bersantap menu! Setelah tubuh tegap, jiwa perlu jaga agar tak terlelap. 

Friday, April 18, 2014

Politik Buruh Migran

Jarum jam menunjuk angka 11. Sebelumnya, saya, isteri dan Nabbiyya memilih duduk di kursi putih yang sediakan oleh panitia pemilu Kantor Konsulat RI Pulau Pinang. Ibu Biyya memilih mencoblos langsung, sementara saya mencoba turut serta dalam pesta demokrasi kali ini melalui surat pos.

Lihatlah! Pelancong Indonesia ke Pulau Mutiara ini saling berfoto ria sebelum menunaikan pencoblosan. Demikian pula buruh migran perempuan tidak melewatkan mengabadikan peristwa lima tahu sekali dengan bergambar bersama. Mereka jelas mengambil sudut yang disuka, seperti latar nama konsulat atau baliho pemilu 2014.

Tak lama kemudian, ada seorang ibu dari Madura. Ia bersama si kecil dan suami jauh-jauh datang dari Air Hitam untuk mengikuti perhelatan demokrasi terbesar ketiga di dunia. Dengan hanya berbekal paspor, keduanya menitip amanah pada calon wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jakarta II. Semoga, harapan mereka tak terburai oleh kenyataan bahwa tak jarang kepercayaan keduanya tak sempat didengar. Mari berhitung! Berapa kali wakil rakyat terpilih pada pemilu 2009 datang ke Pulau Pinang? Nihil. 

Tuesday, March 04, 2014

Gus Dur

Setiap individu mempunyai sikap yang tak sama terhadap Gus Dur, guru bangsa. Ia terkait dengan pengetahuan dan pengalaman dalam mendekati mantan ketua umum Nahdlatul Ulama ini.

Mengetahui boleh jadi hanya sebatas dari bacaan di media atau penglihatan di televisi. Sementara mengalami adalah memerhatikan dari dekat sosok GD dalam pelbagai peristiwa, seperti pengajian, ceramah politik dan seminar.

Begitu banyak tanda yang kita peroleh. Hanya saja, prasangka acapali mencegah kita untuk menjangkau makna. Ada begitu ramai orang berebut-rebut untuk dekat dengan Gus Dur, dulu, sekarang dan mungkin pada masa yang datang untuk kepentingan yang bermacam-macam. Meskipun demikian pengalaman sederhana yang bisa mengungkai kerumitan ini, yaitu menikmati Syiir Tanpa Waton yang didendangkan oleh kakek Parikesit ini. Di sini, saya sendiri rindu suara, rindu rupa. 

Wednesday, February 26, 2014

Hidup Tulen

Saya menemukan hidup tulen itu pada tiga prinsip Diogenes, filsuf Yunani, yaitu 1. Tidak mewah 2. Kecukupan diri dan 3. Rasa nyaman. Tentang kesederhanaan ini, Martin Heidegger juga menjalaninya. Penulis Being and Time ini memilih berumah di tepi hutan dan memotong kayu bakar dengan tangannya. Malah, ia juga menimba air dari sumur untuk keperluan sehari-hari.

Apakah kita akan melakukan hal serupa hari ini? Mungkin tak senaif itu, tetapi kita tentu tidak akan menguras isi bumi dengan semena-mena dan menikmati kesenangan tanpa batasan. Untuk itu, seperti diungkapkan oleh Socrates, hidup perlu diperiksa agar ia berharga. Tak hanya itu, guru Plato ini juga memandang penting merawat jiwa karena ia adalah watak dan kepribadian kita. Malah ia adalah sumber pikiran, keputusan dan nilai-nilai kita. Jiwa itu bukan bayangan hantu. Ia nyata dalam tindakan.

Seperti tubuh, jiwa itu bisa sehat atau sakit. Kebodohan adalah penyakit jiwa yang paling mematikan. Untuk itu, menjalankan hidup otentik, seperti diurai dalam opini di Sinar Harian (25/2/14) ini mendesak untuk dilakukan, apa pun taruhannya. 

Wednesday, February 19, 2014

Pesona Pewarta Gaek

A Kadir Jasin, wartawan kawakan, memberikan ceramah di kampus dalam rangka memperingati 30 tahun UUM. Meskipun mantan pemimpin redaksi Berita Harian ini berbicara di 'Fakultas Ekonomi', namun tajuk perbincangan Ekonomi dan Politik tentu akan menyeret rekan-rekan dari fakultas lain.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persuratkabaran, lelaki yang lahir di Kedah ini memiliki segudang informasi tentang banyak isu. Namun, jauh lebih penting dari sekadar melahap maklumat, peserta menikmati kelakar, tafsiran dan tentu sikapnya terhadap petinggi negeri. Angka-angka dalam grafis yang disodorkan terkait jumlah penduduk (1911-1957) dan pendapatan rumah tangga (isi rumah) antara etnik (1957-1970) menjadi pijakan awal untuk memahami isu yang disampaikan.

Alamak! Dalam sebuah sesi tanya-jawab, salah seorang peserta minta maaf karena mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait politik praktis. Tentu, ini bisa dipahami karena Pak Kadir adalah penulis blog The Scribe yang acapkali mengurai gejolak politik dan mendapat perhatian khalayak ramai. Ternyata, di dalam ruangan berhawa dingin, politik itu bukan hanya "hingar-bingar", tetapi juga perenungan, atau kontemplasi dalam bahasa Aristoteles. Dengan jawaban lugas, peserta tahu bahwa sosok yang begitu banyak mengenal orang penting di seantero negeri telah mengambil posisi, sesuatu yang wajar apabila ide itu akhirnya mesti menjelma tindakan

Wednesday, January 01, 2014

Hari Pertama Tahun 2014


Semalam kami tidur lebih awal, dua jam sebelum detik tahun baru 2014. Si kecil mesti masuk sekolah untuk hari pertama setelah liburan panjang. Menjelang tengah malam, saya sempat terjaga karena suara mercon memekakkan telinga. Tak lama, saya terlelap lagi. Sebelum Subuh saya pun terbangun. Lalu, dengan bergegas saya menyegarkan muka, memasak air, dan menyapu lantai.15 menit kemudian, azan berkumandang melalui suara Hasib, tetangga sebelah rumah. Dengan baju koko dan sarung, saya pun beranjak menuju surau untuk bersembahyang jamaah. Encik Mansor memimpin ibadah kami.

Di Kedah, hari pertama tahun baru Masehi bukan hari libur. Setiap orang pergi ke tempat masing-masing untuk bekerja. Kami pun berangkat ke kampus ketika matahari masih bersinar lembut. Di kampus, saya pun membuka kembali buku Rolf Dobelli, The Art of Thinking Clearly. Meskipun saya pernah membacanya dan malah mengulasnya di rubrik buku Jawa Pos (23/6/13), namun menyimaknya kembali saya mendapatkan percikan tanda dan makna baru di sana-sini. Misalnya, di halaman 199 wartawan ini mengungkap bahwai suka atau tidak suka, kita adalah boneka emosi kita sendiri. Kita membuat keputusan yang rumit dengan merujuk pada perasaan, bukan pikiran. Oleh karena itu, mungkin kita tak lagi bertanya "Apa yang saya pikirkan tentang sesuatu?", tetapi "Bagaimana saya merasakan sesuatu?". Jadi, tersenyumlah! Masa depan tergantung pada langkah kecil ini.

Menjelang pukul 12, saya pun berjalan ke kantin Kuning Hijau untuk menikmati makan siang seraya menikmati lagu Ebiet G Ade melalui pemutar MP3. Setelah menua, saya begitu menikmati lagu-lagu ini karena temponya lambat dan diksinya kuat. Sepertinya, saya tak perlu bergegas, sehingga alam begitu nyata hadir dalam setiap langkah. Sinar mentari, nyanyian burung, tingkah manusia dan irama berebutan untuk hadir dalam tubuh dan jiwa ini. Seusai makan, saya mengayunkan kaki ke Perpustakaan Sultanah Bahiyah untuk mencari huruf-huruf yang tertera di banyak sudut. Kadang ragu menyergap, adakah ide-ide yang bertimbun itu bisa mengubah keadaan manusia? Tentu, ide itu akan mengubah apabila penekur mewujudkannya menjadi tindakan.