Posts

Ramadan di Bukit Kachi [23]

Image
Kami tak memaksa dua anak ini untuk membaca, tetapi menciptakan dunianya dengan pilihan yang memungkinkan akrab dengan bacaan. Justeru, sekolah Biyya yang menyebabkan muridk UUM IS ini menggemari buku. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam setiap minggu, yaitu mencatat karakter, konflik, dan pengarang buku yang diberikan oleh guru.

Sementara, Zumi belum bisa fokus menikmati karena ia melihat buku sebagai mainan. Menariknya, toko ini menyediakan rak untuk buku untuk anak. Salah satu buku yang berisi cerita berupa mobil-mobilan menarik perhatiannya. Hanya saja, alih-alih mendaras, si adik membunyikan mulutnya seperti suara mobil ketika menjalankan buku di lantai.

Berbeda dengan mainan, ia belum memaksa untuk dibelikan, sementara sang kakak selalu bertanya adakah buku ini mahal? Saya tidak mengecilkan hatinya dengan menjawab, jika senang, ia bisa memilikinya. Namun kalau harganya mahal, kita perlu menyimpan uang untuk membelinya nanti.


Ramadan di Bukit Kachi [22]

Image
Kami telah merencanakan untuk pergi ke mal Aman Central untuk terakhir kali di bulan Ramadan. Sesampai di sana, ibu Biyya segera menuju ke Ayam Penyet untuk memesan meja dan makanan. Alamak! Satu jam sebelum berbuka, meja telah tertulis telah dipesan. Lalu, kami pun memutuskan tempat lain dengan menyisir warung makan di sekitarnya. Ternyata, Kenny Rogers, McD, KFC, Jhonny's, dll telah dipesan. Itulah mengapa kami tidak memboikot waralaba asing, karena dalam keadaan darurat mereka bisa menjadi tempat berlindung dari kelaparan.

Lalu, kami pun bergegas ke lantai 4, tempat medan selera, sebutan food court bagi warga Semenanjung. Ternyata, ada meja kosong di kedai steak yang bertema perahu. Setelah duduk, kami memeriksa menu. Aduhai! Satu porsi seharga RM 18. Setelah berpikir keras, kami pun beranjak. Aha, ternyata medan selera di lantai 3. Alhamdulillah, banyak gerai makanan lokal di sana. Untungnya, ada deretan meja kosong yang menyisakan kursi. Ternyata pada deretan ini, Pak Fauzan…

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Image
Gambar ini diambil oleh isteri ketika saya tertidur. Sebelumnya, saya bangun lebih awal, jam 12-an. Biasanya kami bangun jam 4 untuk bersahur. Tak pelak, selama menunggu imsak, saya melakukan banyak hal, seperti mendengar radio daring, membaca buku, mencuci piring, dan menyapu lantai.

Setelah berjamaah Subuh di masjid, saya segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus sambil menunggu Biyya bersedia ke sekolah. Di tengah menanti, saya membaca Existensialism oleh Thomas R Flynn (2006). Pada halaman 2, ada dua bentuk filsafat: ilmiah dan moral. Yang pertama lebih besifat kognitif dan teoretis, dan kedua pembentukan-diri dan praktis. Model terakhir ini memerlukan disiplin diri tertentu, seperangkat praktik atas diri seperti perhatian pada diet, kontrol perkataan, dan meditasi reguler. Socrates mengamalkannya dengan cara hidup terentu, alih-alih mencapai kejelasan hujah tertentu seperti dilakukan oleh Aristoteles.

Karena kantuk menyerang, saya menyandarkan kepala pada tembok denga…

Ramadan di Bukit Kachi [20]

Image
Sambil menunggu ibunya, kedua anak ini bermain di area ini. Sebelumnya kami mampir ke pasar malam untuk berbelanja tempe dan sayuran. Di sini, kami membeli lampin dan susu yang tidak ditemukan di pasar.

Saya lihat mengapa anak-anak menyukai pasaraya atau mal? Karena di sana mereka bisa bermain dan bergerak secara lebih leluasa. Si kakak membeli kartu SNAP untuk bermain dengan kami nanti, sementara si adik tak meminta dibelikan mainan seperti biasanya. Kami sengaja memberikan kesempatan untuk berada di sini agak lama, baru setelah puas ia diajak keluar secara bergegas. Berhasil!

Hanya saja, setelah sampai di kasir Zumi menyebut egg dengan intonasi yang khas, telur yang berisi mainan dan coklat (Tolly joy). Ia akan memastikan barang ini dibayar lebih dahulu, khawatir dikembalikan ke tempat semula. Sejatinya kami berpikir keras bagaimana mereka tak selalu meminta sesuatu sehingga berlatih untuk tidak ingin memiliki apa yang dilihat.

Ramadan di Bukit Kachi [19]

Image
Tiga anak ini memilih duduk di depan kami karena kursi masih kosong. Setelah duduk, saya bertanya pada anak yang sebelah kanan, sudah jilid Iqra berapa? Jawabnya lugas, 5. Mereka tak henti-henti bersenda gurau sambil menunggu azan Magrib.

Sebelumnya saya telah mencatat beberapa poin penting dari sambutan rektor, pro-canselor, dan da'i. Orang nomor satu di kampus menyampaikan tentang prestasi yang telah dicapai oleh universiti, pembangunan asrama untuk anak yatim yang akan dihuni oleh 8 anak dengan pembiayaan sekolah dan kebutuhan sehari-hari.Tidak hanya itu, mereka akan mendapatkan kursus tambahan seusai sekolah. Tambahan lagi, penggalangan dana abadi (wakaf, endowment) akan digalakkan untuk membantu mahasiswa yang memerlukan. Sementara, pro-canselor mengingatkan bahwa puasa semestinya mempunyai nilai tambah, bukan sekadar menahan diri dari lapar dan harus. Pesan ceramah agama yang saya catat adalah hadits Nabi tentang dua nikmat yang acapkali dilupakan, yaitu kesehatan (al-shihh…

Ramadan di Bukit Kachi [18]

Image
Puasa tahun ini merupakan tantangan tersendiri bagi Biyya. Betapapun bersarapan sebelum pergi ke sekolah, namun ia mesti menahan diri untuk tidak makan tengah hari seperti pada hari biasa di sekolah. Apalagi, pada minggu kedua kakak Zumi harus mengikuti ujian.

Mata pelajaran yang sering membuatnya mengerutkan kepala adalah matematika. Tak pelak, si ibu turun tangan untuk membantu memahami ilmu pasti ini. Tak hanya itu, biyya juga mengambil kelas tambahan seusai kelas pada gurunya. Namun, untuk ilmu sosial, ia relatif bisa memahami dengan baik. Seperti tampak pada gambar, kakak Zumi sedang membaca kembali bahan-bahan yang harus dipahami sebelum ujian.

Kami selalu menghiburnya bahwa belajar memerlukan kesabaran. Meskipun tak sepenuhnya mendapatkan nilai bagus untuk matematika, tapi ia bisa menjawab sebagian soalan. Semoga pengalaman belajar ini ditulis oleh Biyya dalam buku hariannya.

Ramadan di Bukit Kachi [17]

Image
Hingga hari ke-17, saya belum merasakan dadih (susu kedelai) yang dicampur dengan gula aren. Untuk ketiga kalinya saya mencarinya di setiap tenda penjual minuman. Di sela berjalan, saya sempat mengambil gambar seperti tampak di gambar sebelah, sate Jawa. Di sini, saya bertemu dengan Zul, mahasiswa UUM.

Hanya beberapa menit lagi, waktu berbuka akan tiba. Pengunjung bazar tak lagi ramai. Sebagian penjual mengemas jualan. Warung makan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu detik-detik azan Magrib.

Seperti biasa, Zumi harus dibelikan mainan agar bisa duduk tenang. Berbeda dengan hari kemarin, si kecil tak lahap. Malah, ia meremas-remas nasi dan telur yang telah disediakan oleh pelayan warung. Beruntung, ia selalu minta untuk mencuci tangan yang berminyak. Kebiasaan akan membentuk karakter anak. Lalu, anak berusia tiga tahun ini bermain mobil-mobilan seraya memonyongkan mulut meniru bunyi mesin. Berbeda dengan kakaknya yang menikmati makannya karena lapar. Si sulung kadang tampak …