Sunday, December 14, 2014

Menikmati Sore

Kebiasaan hari-hari terakhir ini adalah duduk di warung makan Yasmeen kampus seraya menyesap kopi dan sekali-kali membuka buku. Kalau pun bacaan tak menarik perhatian, setidak-setidaknya segelas kopi membuat mata ini menyala.

Mentari hangat. Angin menerpa daun. Lalu-lalang orang. Semua bertukar tempat di kepala. Sekali waktu saya bertemu dengan bekas mahasiswa atau pelajar yang sedang mengambil mata kuliah Sains Pemikiran dan Etika (SGDN1043).

Meskipun telah lama saya memebeli buku ini, namun saya belum membacanya hingga ke halaman terakhir. Buku tipis ini adalah pengantar yang lengkap. Lalu, haruskah kita membuka tiga buku besar Kant untuk memahami isi kepalanya? Setiap orang memiliki pilihan. Filsuf bukan hanya karyanya, tetapi juga kisahnya. Membaca sejaranya, kita bisa membayangkan pikiran-pikirannya, bukan? 

Thursday, November 27, 2014

Menyiapkan Pulang

Bersama Mas Faizi, kandidat Doktor Ekonomi Syariah Universiti Utara Malaysia, saya mencoba mereka cerita.Sebab, hidup itu hanya kisah yang dirungkai untuk menjelaskan kerumitan.

Apa makna Pulang? Novel ini bercerita tentang kehendak untuk kembali ke tanah air yang tak sesederhana membeli tiket dan naik angkutan untuk merasai kampung halaman.

Karya ini lebih dari sekadar nostalgia masa lalu, tetapi ingin menemukan jawaban, mengapa kita mesti pulang. Berbeda dengan Toha Muchtar tentang kepulangan sang tokoh untuk menyembunyikan, Leila S Chudori ingin membongkar hakikat kerinduan pada jati diri. Aha! Lintang membantu ayahnya untuk mewakilinya membaui kembali tempat suami Vivienne Deveraux tersebut menebus mimpinya di dunia nyata. 

Monday, November 17, 2014

Menyatukan Langkah

Apa yang ada di benak kita tentang gambar ini? Ada orang yang menyatakan gagasan. Seorang mahasiswa yang menjadi panitia dengan sigap berdiri. Seorang perempuan berjilbab sedang menulis.

Setiap orang asyik dengan dunianya. Namun, keasyikan itu bertambah yahud apabila kita menyemainya bersama untuk satu tujuan. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Tentu, ada perbedaan dalam melihat, namun dalam berpikir lateral Edward de Bono, kita tak lagi terperangkap dalam pandangan betul atau salah, tetapi bagaimana sebanyak mungkin menjana ide. Dari gagasan inilah, kita merancang tindakan. Sebab, kata peribahasa Arab, ilmu (gagasan) tanpa amal (gagasan) seperti pohon tanpa buah. Dari perbincangan inilah, kita bisa turun ke masyarakat untuk mendengarkan apa keinginan mereka, sehingga huruf-huruf yang kita baca bergerak di alam nyata, bukan di kertas saja. 

Sunday, October 26, 2014

Ruh itu Di mana?

Ketika pihak AKEPT (Akademi Kepimpinan Pengajian Tinggi) Kementerian Pendidikan Malaysia dan Universitas Jember Indonesia memulakan kegiatan tahunan dari sini, Masjid Agung Jember, saya pun bertanya di hati, apakah ruh pendidikan itu ada di sini?

Ya, ini rumah Tuhan. Bila kita mengetuk pintu dengan hati, maka lahirlah sejati. Hamzah Fansuri, penyair dan pengamal sufi, pun berujar, ke Mekkah terlalu payah |
Padahal Tuhan ada di rumah (hati). Jadi, hati-hati! Jangan berhenti mencari! Tapi, ya hati-hati! Ada banyak onak dan duri! Akhirnya, pengalaman rohani itu tak tepermanai.

Adakah anak-anak Sekolah Dasar yang menghabiskan siang dengan berzikir secara berjamaah adalah tanda bahwa ruh itu bisa dipupuk? Semoga. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Setidak-tidaknya, mereka masuk ke dalam ruang tak memanjakan tubuh, tetapi menyuburkan jiwa. Dari sini, mereka belajar bahwa hidup itu bukan hanya tawa, canda dan berbelanja. Ada keheningan yang perlu hadir agar kebeningan itu nyata.

Monday, October 13, 2014

Hasil Tes dan Eksistensialisme

Apa makna kesehatan? Menunggu hasil tes tentu menempatkan kita pada kecemasan (angst). Di sini, kita menemukan tubuh dan sekaligus diri sendiri. Kebebasan dan kecemasan tiba-tiba datang silih berganti. Bebas untuk makan dan berleha-leha atau cemas penyakit yang ditimbulkan oleh kealpaan.

Menunggu hasil tentu pekerjaan yang membosankan (boredom). Tapi, hari ini kita bisa menyiasatinya dengan membaca, berselancar di media sosial atau menikmati lagu melalui telepon genggam. Tapi benarkah jemu raib hanya karena kita tunduk pada hiburan? Lagipula kebebasan apa yang hendak dirayakan? Padahal dalam E Warterberg, Existensialism, "That much-vaunted freedom we posses is actually a source of much of trouble and pain" (2008: 37).

Aha! Kita hanya perlu diam. Dengan bernafas perlahan, kita akan menemukan ruang di mana peristiwa, orang dan lain-lain yang hadir di hadapan kita adalah bagian dari kehidupan kita. Empati perlu hadir agar diri tak tersepit sunyi tak terperi. Hanya perasaan ini yang bisa memakmurkan kesentosaan sebab empati itu adakah kepenuhan (abundance) karena kita berbagi ruang dan waktu dengan khalayak. Benar apa yang dinubuatkan oleh Epicurus (341–270 BC), "Not what we have, but what we enjoy, constitutes our abundance." 

Tuesday, September 23, 2014

Salik


Pejalan itu sama dengan filsuf, sendirian, untuk menemukan kebenaran. Kalau berkerumunan, siapa pun akan menjadi bagian dari gerombolan.

Ya, hidup ini adalah sebuah perjalanan. Mahasiswa yang sedang menekuri aspal itu sedang berusaha sedaya upaya untuk meraihnya, setelah melewati tanda-tanda yang berlatar kuning itu.

Hati-hati! Selain tanda menurun, ada tanda seru [!]. Jangan lupa, akhirnya penemu akan mengabarkan pada khalayak. Kalau hidup di menara, siapa pun akan menanggung kesunyian. 

Tuesday, September 09, 2014

Jalan Pintas

Kita acapkali menginjak kehidupan (misalnya, rumput) untuk meraih kehidupan yang lain, jalan pendek ke warung makan. Jalan pintas akan merusak jalan hidup kita.

Apa susahnya sedikit memutar, agar kaki ini tak malas dan larangan tidak menginjak rumput itu dipatuhi. Kalau hal sederhana kita tak tunduk, bagaimana hal besar kita bisa taati.

Maka hidup-hidupilah hidup! Tidak saja kita bisa menghargai kerja orang lain, tetapi juga menyelamatkan anggaran yang dikeluarkan untuk menghijaukan ruang. Masih ingat ketika taman di banyak kota diinjak-injak massa politik dan hiburan? Betapa naif! Mereka membela nilai, tetapi menerabas aturan. Mereka berhibur, tetapi merusak pemandangan kota. Dengan mengelak dari jalan pintas, sejatinya kita telah pantas menjadi manusia yang terbatas.