Sunday, December 10, 2017

Mewarnai Kehidupan

Satu hari sebelum lomba ini digelar, kami menerima tawaran dari seorang mahasiswi yang meminta Biyya mengikuti pertandingan mewarnai. Ketika itu, kami sedang makan malam di kantin kampus.

Kegiatan di atas adalah sebagian dari karnaval kewirausahaan mahasiswa BPME 2013. Dengan mantap, pelajar tersebut menjelaskan program di atas. Saya dan Ibunya tak terburu-buru menerima, mengingat Biyya pernah kecewa karena tidak mendapat juara pada acara serupa.

Padahal, dalam rekam jejaknya, ia pernah mendapat tempat dan gagal untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Beruntung, Al-Isbah, kawannya dari Pakistan menghibur dan kami membawanya ke toko buku Popular untuk mengobati kekesalannya. Untuk kali ini, kami bersikap datar. Pada pagi hari, ia bangun dan segera bersiap untuk ke ajang lomba. Di sana, ia bertemu dengan teman adik kelas di UUM IS, yang berasal dari Timur Tengah. Tidak lama kemudian, banyak teman dari satu sekolah yang turut meramaikan program tersebut, seperti Dave asal Filipina. Malah, Zumi sempat bermain mobil-mobilan dengan Raja, anak Pak Donny. Akhirnya, kegiatan ini menjadi pertemuan banyak orang. 

Sebelum berangkat, kami mengingatkan bahwa ini sekadar hiburan dan bersenang-senang. Sayapun bergembira karena ia bisa berbagi cerita dengan temannya. Tak hanya itu, kakak Zumi ini mengikutinya dengan tenang dan tak tergesa-gesa, seperti pengalaman lomba yang ketiga dulu. Seeloknya, murid tahun keempat ini menikmati proses pewarnaan dan tak memburu kemenangan semata-mata. Pada gilirannya, ia bisa belajar setiap mata pelajaran dengan keriangan, meskipun pernah menulis membenci matematika. Menariknya, semua peserta mendapatkan hadiah. Apapun, lomba ini bukan saja mewarnai kertas, tetapi juga kehidupan. 

Sunday, November 26, 2017

Alat Belajar

Fahmi adalah salah seorang teman Nabbiyya, yang berasal dari Bangladesh. Ia sedang menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas, sebagaimana teman-teman lainnya yang juga memanfaatkan teknologi untuk belajar menyusun skrip. Dengan berkelompok, mereka akan berbagi dan bekerja sama untuk memahami mata pelajaran.

Jika sejak awal terbiasa mengerjakan banyak pekerjaan secara berkumpulan, maka mereka akan mudah melakukannya bersama teman sekerja nanti. Tentu, teknologi yang kadang menjadi ancaman bagi anak-anak bisa digunakan untuk alat pembelajaran. Maklum, teknologi telah menjadi hantu yang acapkali mengalihperhatian untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Dengan demikian, tidak hanya di kelas, mereka akan menjadikan teknologi sebagai alat untuk meneroka pengetahuan di luar, bukan sekadar permainan.

Selain menekuni kemahiran, mereka juga belajar nilai-nilai murni, seperti menghormati, menghargai, dan menolong orang lain. Setiap kali saya menjemput Nabbiyya di UUM IS, ia dan kawan-kawannya dengan riang menyeru kedatangan saya, sehingga Biyya segera bergegas turun ke bawah. Tak hanya itu, kedekatan mereka yang tulus dan bersahaja juga turut menyemangati kami, para orang tua, untuk juga saling menyapa dan bertukar cerita. Jika anak-anak itu bisa mengenal para ayah kawannya, maka para orang tua berusaha untuk tahu siapa mereka. Ini baru keseimbangan!





Monday, August 21, 2017

Sekolah Anak

Pihak sekolah mengundang orang tua wali untuk menghadiri pertemuan dengan guru kelas empat. Acara ini dilaksanakan di ujung Minggu pertama sebelum kami mengikuti ceramah kepala sekolah, Dr Norman, di dewan serbaguna. Ehm, sepertinya saya harus duduk di sini untuk belajar bagaimana mengurus pendidikan anak.

Miss Joane menjelaskan banyak hal terkait dengan proses pembelajaran dan pengajaran. Selain itu, cikgu yang berasal dari Filipina ini mempersilahkan orang tua untuk mengajukan pertanyaan dan usulan. Sebuah pertemuan yang bermanfaat!

Dengan pemaparan silabus selama satu semester, anak tak hanya belajar di sekolah tetapi juga di rumah. Ibu guru yang menyelesaikan S1 Pendidikan dalam jurusan Matematika di Australia tersebut meminta ayah atau ibu untuk menemani anaknya membaca buku yang menjadi bahan pelajaran bahasa Inggeris setidak-tidaknya 15 menit, sehingga dalam satu Minggu murid bisa menyelesaikan tugas membuat laporan isi bukur, terkait watak, alur dan konflik. Terima kasih UUM IS!

Tentu, saya tertarik dengan Kajian Sosial, yang bagian 1 berjudul Kebudayaan dan Identitas. Di sini, murid diminta untuk mengungkapkan dirinya sebagai individu yang unik dalam hubungannya dengan keluarga dan komunitas. Setelah mengenal dirinya, murid diharapkan bisa mengidentifikasi keanekaragaman struktur sosial tempat mereka hidup, belajar, bekerja dan bermain bersama. Sejauh ini, dalam praktiknya, murid di UUM IS telah melakukannya mengingat murid yang belajar di sini belajar dari pelbagai latar belakang. Akhirnya, perbedaan itu dipahami sebagai kekayaan, bukan kekangan.

Namun demikian, pendidikan Islam penting bagi orang tua murid mengingat anak-anak mereka tidak bisa mengikuti kelas KAFA (Madrasah Diniyah) seperti rekan-rekannya yang belajar di sekolan negeri. Oleh karena itu, mereka menanyakan apa yang akan dilakukan oleh gurunya, Abd Rahman, asal Aljazair, untuk memastikan buah hatinya bisa menjalankan kewajiban agama dengan baik. Ya, sejatinya tujuan pendidikan adalah menjadikan mereka menjadi orang yang berwatak baik.


Monday, August 07, 2017

Konser dan Tahlil

Catatan pendek ini dimuat di koran Pikiran Rakyat. Dengan penamaan wisata, rubrik ini hendak melihat kata sebagai arena untuk mendatangkan kesenangan. Perjalanan ke tempat yang menggembirakan tentu menjadi impian setiap orang.

Demikian pula, bahasa adalah tempat orang yang hendak menemukan keseronokan. Betapapun abstrak, kata adalah wujud dari kenyataan yang hendak digambarkan oleh penikmat yang hendak dicicipi. Ia bisa menyembunyikan dan menampakkan pada waktu bersamaan.

Kata pada akhirnya adalah alat seperti jaring yang hendak menangkap ikan (makna). Kegagalan memahami alat penangkap bisa jadi akan menyebabkan binatang yang dipancing tak sesuai harapan. Kalau hendak mengail ikan di sungai mungkin kita tak perlu jaring, bukan?

Wednesday, July 12, 2017

Memahami Arus Mudik

Teman baik saya, Rafiuddin Dikdik Soaedy, menyertakan gambar ini dalam sebuah komentar terhadap status Facebook saya: Everyone seeks not what is tradisional but what is good (Aristotle, "Politics", 1998: 1269a 3-4). | Ketika tak mudik (tradisi) sebenyak 10 kali Idulfitri, kami merawat mimpi bersama (baik). Setelah cukup ongkos pulang, kami pun terbang ke kampung halaman. | Tak ada yang hilang dalam hidup, sebab kita bisa menggeser batas. Selamat lebaran, semoga meraih kesontasaan.

Saya suka komentar Mas Rafiuddin, mudik itu sunnatullah. Kembali ke kampung halaman adalah hukum alam, karena hubungan kemanusiaan terjaga dengan saling menyangga antara anggota keluarga. Ikatan-ikatan inilah yang menyebabkan manusia mengingat akar dan merasakan kembali tanah, udara, dan air tempat kelahiran. Namun, memeriksa hasrat untuk pertemuan juga perlu dilakukan. Ada kehendak yang jauh lebih besar dari sekadar silaturahim yang acapkali disandera oleh hasrat lain, seperti prilaku konsumtif, gaya hidup urban, dan narsisisme.

Namun, tetap saja mudik mendatangkan keriangan dan kegembiraan. Sayyid Umar, kawan baik, bercerita tentang mesin ATM yang kehabisan uang karena pemudik dari pelbagai sudut kampung menarik duit di anjungan tunai mandiri kecamatan. Warung makanan ramai dengan pengunjung yang bermobil dengan plat nomor dari banyak daerah, seperti Bali, Jakarta, dan Jawa Tengah, bahkan Kalimantan. Hanya saja, pandangan IDEAS (2016) layak ditimbang, bahwa biaya arus mudik dan balik sebanyak Rp 142 Triliun tidak efektif untuk menggerakan ekonomi secara produktif. Tapi, Herman, kawan saya yang suka berjamaah di Masjid Langgundhi menyela, bahwa nilai tradisi tak bisa ditukar dengan uang. 

Wednesday, June 21, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [23]

Kami tak memaksa dua anak ini untuk membaca, tetapi menciptakan dunianya dengan pilihan yang memungkinkan akrab dengan bacaan. Justeru, sekolah Biyya yang menyebabkan muridk UUM IS ini menggemari buku. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam setiap minggu, yaitu mencatat karakter, konflik, dan pengarang buku yang diberikan oleh guru.

Sementara, Zumi belum bisa fokus menikmati karena ia melihat buku sebagai mainan. Menariknya, toko ini menyediakan rak untuk buku untuk anak. Salah satu buku yang berisi cerita berupa mobil-mobilan menarik perhatiannya. Hanya saja, alih-alih mendaras, si adik membunyikan mulutnya seperti suara mobil ketika menjalankan buku di lantai.

Berbeda dengan mainan, ia belum memaksa untuk dibelikan, sementara sang kakak selalu bertanya adakah buku ini mahal? Saya tidak mengecilkan hatinya dengan menjawab, jika senang, ia bisa memilikinya. Namun kalau harganya mahal, kita perlu menyimpan uang untuk membelinya nanti.


Sunday, June 18, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [22]


Kami telah merencanakan untuk pergi ke mal Aman Central untuk terakhir kali di bulan Ramadan. Sesampai di sana, ibu Biyya segera menuju ke Ayam Penyet untuk memesan meja dan makanan. Alamak! Satu jam sebelum berbuka, meja telah tertulis telah dipesan. Lalu, kami pun memutuskan tempat lain dengan menyisir warung makan di sekitarnya. Ternyata, Kenny Rogers, McD, KFC, Jhonny's, dll telah dipesan. Itulah mengapa kami tidak memboikot waralaba asing, karena dalam keadaan darurat mereka bisa menjadi tempat berlindung dari kelaparan.

Lalu, kami pun bergegas ke lantai 4, tempat medan selera, sebutan food court bagi warga Semenanjung. Ternyata, ada meja kosong di kedai steak yang bertema perahu. Setelah duduk, kami memeriksa menu. Aduhai! Satu porsi seharga RM 18. Setelah berpikir keras, kami pun beranjak. Aha, ternyata medan selera di lantai 3. Alhamdulillah, banyak gerai makanan lokal di sana. Untungnya, ada deretan meja kosong yang menyisakan kursi. Ternyata pada deretan ini, Pak Fauzan dan kawan-kawan telah memesannya dengan meletakkan tiga piring berisi nasi dan lauk.Akhirnya mereka yang tampak dalam gambar berdatangan seraya berbinar melihat kami juga ada situ. Dua orang ibu yang berada di depan isteri Pak Fauzan adalah mahasiswa S3. Tentu saja, Syafin menarik perhatian kami.

Ibu Biyya memesan 3 nasi ayam yang berharga RM 6 seporsi dan saya berdiri antri membeli minuman. Mas Aim, panggilan untuk Ibrahim, sempat menawarkan diri untuk membelikan minuman, tapi saya mencegahnya dan mengucapkan terima kasih. Riuh-rendah pun bersahutan. Kegembiran ini disempurnakan dengan foto bersama yang diambil oleh salah seorang lelaki remaja yang juga sedang menunggu azan magrib. Berkah ini tak hanya berhenti di sini. Dengan menimbang pembatalan makan di warung steak, saya telah menyelamatkan sekian ringgit dan menggunakannya untuk mendapatkan buku How Trump Thinks oleh Peter Oborne dan Tom Roberts di toko Populer yang terletak di lantai dua. Zumi dibelikan sebuah tas agar ia bisa menggeretnya di bandara nanti ketika mudik sehingga tak mengganggu kakaknya yang jauh-jauh jari dibelikan tas berwarna ungu. Hasrat itu banyak, tetapi pemenuhan harus dipilih (tunneling) agar tak menghabiskan bandwidth kita sehingga kelangkaan menyandera.

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Gambar ini diambil oleh isteri ketika saya tertidur. Sebelumnya, saya bangun lebih awal, jam 12-an. Biasanya kami bangun jam 4 untuk bersahur. Tak pelak, selama menunggu imsak, saya melakukan banyak hal, seperti mendengar radio daring, membaca buku, mencuci piring, dan menyapu lantai.

Setelah berjamaah Subuh di masjid, saya segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus sambil menunggu Biyya bersedia ke sekolah. Di tengah menanti, saya membaca Existensialism oleh Thomas R Flynn (2006). Pada halaman 2, ada dua bentuk filsafat: ilmiah dan moral. Yang pertama lebih bersifat kognitif dan teoretis, sementara kedua pembentukan-diri dan praktis. Model terakhir ini memerlukan disiplin diri tertentu, seperangkat praktik atas diri seperti perhatian pada diet, kontrol perkataan, dan meditasi secara teratur. Socrates mengamalkannya dengan cara hidup terentu, alih-alih mencapai kejelasan hujah tertentu seperti dilakukan oleh Aristoteles.

Karena kantuk menyerang, saya menyandarkan kepala pada tembok dengan tetap memegang buku. Tak lama kemudian saya terbangun sebab Biyya memanggil untuk segera pergi ke UUM IS. Meskipun terlelap sebentar, saya mendapatkan rehat yang nikmat. Isteri saya sempat berujar pada saya sebelum bertolak bahwa ia mempunyai kejutan. Aha, gambar ini memang ingatan!




Ramadan di Bukit Kachi [20]

Sambil menunggu ibunya, kedua anak ini bermain di area ini. Sebelumnya kami mampir ke pasar malam untuk berbelanja tempe dan sayuran. Di sini, kami membeli lampin dan susu yang tidak ditemukan di pasar.

Saya lihat mengapa anak-anak menyukai pasaraya atau mal? Karena di sana mereka bisa bermain dan bergerak secara lebih leluasa. Si kakak membeli kartu SNAP untuk bermain dengan kami nanti, sementara si adik tak meminta dibelikan mainan seperti biasanya. Kami sengaja memberikan kesempatan untuk berada di sini agak lama, baru setelah puas ia diajak keluar secara bergegas. Berhasil!

Hanya saja, setelah sampai di kasir Zumi menyebut egg dengan intonasi yang khas, telur yang berisi mainan dan coklat (Tolly joy). Ia akan memastikan barang ini dibayar lebih dahulu, khawatir dikembalikan ke tempat semula. Sejatinya kami berpikir keras bagaimana mereka tak selalu meminta sesuatu sehingga berlatih untuk tidak ingin memiliki apa yang dilihat. 

Thursday, June 15, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [19]

Tiga anak ini memilih duduk di depan kami karena kursi masih kosong. Setelah duduk, saya bertanya pada anak yang sebelah kanan, sudah jilid Iqra berapa? Jawabnya lugas, 5. Mereka tak henti-henti bersenda gurau sambil menunggu azan Magrib.

Sebelumnya saya telah mencatat beberapa poin penting dari sambutan rektor, pro-canselor, dan da'i. Orang nomor satu di kampus menyampaikan tentang prestasi yang telah dicapai oleh universiti, pembangunan asrama untuk anak yatim yang akan dihuni oleh 8 anak dengan pembiayaan sekolah dan kebutuhan sehari-hari.Tidak hanya itu, mereka akan mendapatkan kursus tambahan seusai sekolah. Tambahan lagi, penggalangan dana abadi (wakaf, endowment) akan digalakkan untuk membantu mahasiswa yang memerlukan. Sementara, pro-canselor mengingatkan bahwa puasa semestinya mempunyai nilai tambah, bukan sekadar menahan diri dari lapar dan harus. Pesan ceramah agama yang saya catat adalah hadits Nabi tentang dua nikmat yang acapkali dilupakan, yaitu kesehatan (al-shihhah) dan waktu luang (al-faragh).

Begitu banyak warga universitas dan tamu undangan memenuhi tenda. Kebetulan saya juga berjumpa dengan Adha, mahasiswa bisnis internasional, yang datang bersama dengan dua temannya. Lelaki ini seringkali mengumandangkan azan di Masjid Asy-Syafi'i Bukit Kachi, tempat ibadah yang dekat dengan rumah. Selain mereka bertiga, ada seorang mahasiswa S3 asal Pakistan yang turut mengambil tempat di meja kami. Saya pun bercerita bahwa ada dua sarjana negara asalnya yang terkenal di Indonesia, yaitu Fazlur Rahman dan Abul A'la al-Maududi. Ia pun bersemangat berkisah tentang tokoh terakhir yang merupakan pendiri Jamaat al-Islami. Ketika azan tiba, semua mengambil kurma sebagai pembuka, dan saya makan kue puteri ayu. Bukankah kita sunnah berbuka dengan yang manis? 

Wednesday, June 14, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [18]

Puasa tahun ini merupakan tantangan tersendiri bagi Biyya. Betapapun bersarapan sebelum pergi ke sekolah, namun ia mesti menahan diri untuk tidak makan tengah hari seperti pada hari biasa di sekolah. Apalagi, pada minggu kedua kakak Zumi harus mengikuti ujian.

Mata pelajaran yang sering membuatnya mengerutkan kepala adalah matematika. Tak pelak, si ibu turun tangan untuk membantu memahami ilmu pasti ini. Tak hanya itu, biyya juga mengambil kelas tambahan seusai kelas pada gurunya. Namun, untuk ilmu sosial, ia relatif bisa memahami dengan baik. Seperti tampak pada gambar, kakak Zumi sedang membaca kembali bahan-bahan yang harus dipahami sebelum ujian.

Kami selalu menghiburnya bahwa belajar memerlukan kesabaran. Meskipun tak sepenuhnya mendapatkan nilai bagus untuk matematika, tapi ia bisa menjawab sebagian soalan. Semoga pengalaman belajar ini ditulis oleh Biyya dalam buku hariannya.