Sunday, October 26, 2014

Ruh itu Di mana?

Ketika pihak AKEPT (Akademi Kepimpinan Pengajian Tinggi) Kementerian Pendidikan Malaysia dan Universitas Jember Indonesia memulakan kegiatan tahunan dari sini, Masjid Agung Jember, saya pun bertanya di hati, apakah ruh pendidikan itu ada di sini?

Ya, ini rumah Tuhan. Bila kita mengetuk pintu dengan hati, maka lahirlah sejati. Hamzah Fansuri, penyair dan pengamal sufi, pun berujar, ke Mekkah terlalu payah |
Padahal Tuhan ada di rumah (hati). Jadi, hati-hati! Jangan berhenti mencari! Tapi, ya hati-hati! Ada banyak onak dan duri! Akhirnya, pengalaman rohani itu tak tepermanai.

Adakah anak-anak Sekolah Dasar yang menghabiskan siang dengan berzikir secara berjamaah adalah tanda bahwa ruh itu bisa dipupuk? Semoga. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Setidak-tidaknya, mereka masuk ke dalam ruang tak memanjakan tubuh, tetapi menyuburkan jiwa. Dari sini, mereka belajar bahwa hidup itu bukan hanya tawa, canda dan berbelanja. Ada keheningan yang perlu hadir agar kebeningan itu nyata.

Monday, October 13, 2014

Hasil Tes dan Eksistensialisme

Apa makna kesehatan? Menunggu hasil tes tentu menempatkan kita pada kecemasan (angst). Di sini, kita menemukan tubuh dan sekaligus diri sendiri. Kebebasan dan kecemasan tiba-tiba datang silih berganti. Bebas untuk makan dan berleha-leha atau cemas penyakit yang ditimbulkan oleh kealpaan.

Menunggu hasil tentu pekerjaan yang membosankan (boredom). Tapi, hari ini kita bisa menyiasatinya dengan membaca, berselancar di media sosial atau menikmati lagu melalui telepon genggam. Tapi benarkah jemu raib hanya karena kita tunduk pada hiburan? Lagipula kebebasan apa yang hendak dirayakan? Padahal dalam E Warterberg, Existensialism, "That much-vaunted freedom we posses is actually a source of much of trouble and pain" (2008: 37).

Aha! Kita hanya perlu diam. Dengan bernafas perlahan, kita akan menemukan ruang di mana peristiwa, orang dan lain-lain yang hadir di hadapan kita adalah bagian dari kehidupan kita. Empati perlu hadir agar diri tak tersepit sunyi tak terperi. Hanya perasaan ini yang bisa memakmurkan kesentosaan sebab empati itu adakah kepenuhan (abundance) karena kita berbagi ruang dan waktu dengan khalayak. Benar apa yang dinubuatkan oleh Epicurus (341–270 BC), "Not what we have, but what we enjoy, constitutes our abundance." 

Tuesday, September 23, 2014

Salik


Pejalan itu sama dengan filsuf, sendirian, untuk menemukan kebenaran. Kalau berkerumunan, siapa pun akan menjadi bagian dari gerombolan.

Ya, hidup ini adalah sebuah perjalanan. Mahasiswa yang sedang menekuri aspal itu sedang berusaha sedaya upaya untuk meraihnya, setelah melewati tanda-tanda yang berlatar kuning itu.

Hati-hati! Selain tanda menurun, ada tanda seru [!]. Jangan lupa, akhirnya penemu akan mengabarkan pada khalayak. Kalau hidup di menara, siapa pun akan menanggung kesunyian. 

Tuesday, September 09, 2014

Jalan Pintas

Kita acapkali menginjak kehidupan (misalnya, rumput) untuk meraih kehidupan yang lain, jalan pendek ke warung makan. Jalan pintas akan merusak jalan hidup kita.

Apa susahnya sedikit memutar, agar kaki ini tak malas dan larangan tidak menginjak rumput itu dipatuhi. Kalau hal sederhana kita tak tunduk, bagaimana hal besar kita bisa taati.

Maka hidup-hidupilah hidup! Tidak saja kita bisa menghargai kerja orang lain, tetapi juga menyelamatkan anggaran yang dikeluarkan untuk menghijaukan ruang. Masih ingat ketika taman di banyak kota diinjak-injak massa politik dan hiburan? Betapa naif! Mereka membela nilai, tetapi menerabas aturan. Mereka berhibur, tetapi merusak pemandangan kota. Dengan mengelak dari jalan pintas, sejatinya kita telah pantas menjadi manusia yang terbatas. 

Friday, September 05, 2014

TKI dan Kemandirian

Pulang di luar waktu arus utama, seperti mudik sebelum Lebaran, adalah pilihan. Memang, kepulangan ini tak seseronok di hari-hari menjelang Idul Fitri. Ketika banyak kaki perantau beranjak ke kampung halaman, kami memilih berada di negeri jiran.

Namun, makna mudik di mana-mana sama: membuhul ikatan dengan keluarga asal. Ceritanya sama saja. Setiap orang akan mengungkapkan kerinduan dan mencoba mengais memori masa kecil yang tergerus oleh kemajuan pembangunan kampung halaman. Tanda-tanda berupa bangunan, jalan, sawah dan sungai telah banyak berubah.

Lalu, apa yang menjadi salah satu pengalaman mengetuk pikiran? Seperangkat mainan memasak. Puteri saya selalu menagih mainan ini sejak di Sumenep. Meskipun di sana, ia telah mendapatkannya, namun Neneknya membelikannya di pasar Sleman. Saya menyangka buatan Cina, seperti biasa. Namun, cooking set, kata yang sering keluar dari bibir si sulung, dibuat di Indonesia (Made in Indonesia). Mudik kali ini berarti karena kita bisa membuat barang sendiri. Kalau peluang pekerjaan di tanah air tersedia, buruh migran akan berkurang. Bukan begitu?

Saturday, August 16, 2014

Kematian

Saya menyukai film Mrs Doubtfire yang dibintangi oleh Robin Williams. Betapa peran nenek yang dibawakan pelakon luar biasa ini menggugah banyak hal dalam kehidupan kita hari ini, seperti hubungan keluarga, kehangatan antara orang tua-anak, serta konflik yang ada di dalamnya.

Tentu, kita terhenyak ketika mendengar kematian pemain Good Will Hunting dan Dead Poets Society di ujung sabuk. Kegetiran hidup menyebabkan ia terperangkap persoalan eksistensial, kecemasan (angst). Arak dan dadah (narkoba) menjerat hidupnya. Ia tak menutupi sisi gelap, malah dengan tegar menyatakan ingin keluar. Betapa pun ia mempunyai hubungan sosial yang baik dengan banyak orang, termasuk tetanggannya, namun secara pribadi, ia tak bisa melawan kutukan "kebebasan" seperti diungkap oleh Jean Paul Sartre. Namun, kita tak ingin menghakimi hidupnya, tetapi ingin mengerti mengapa ia mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Betapa pun Albert Camus dalam Plague mengatakan bahwa adalah memalukan hidup bahagia dengan diri sendiri, karena kesepian itu akan mudah menyergap, maka kegundahan Robin tentu bersumber dari tempat lain. Bagaimanapun, pemeran Theodore Roosevelt dalam film Night in The Museum dikenal sebagai dermawan, yang menunjukkan betapa kehadiran orang lain dalam hidupnya bukan neraka (L'enfer c'est les autres). Dengan penuh harap, saya menunggu pesan terakhir almarhum yang sampai saat ini belum diumumkan ke khalayak. Apa pun, kematian itu adalah penanda bagi yang mereka yang masih hidup, bahwa bernapas itu tidak cukup, sebab hidup itu bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi juga kejiwaan. Sebagaimana akhir dalam tulisan di Koran Tempo ini, Robin sedang menaiki tangga eksistensialisme Kierkegaard, dari estetik, etik dan akhirnya religius (iman). 

Sunday, August 10, 2014

Politik (Tidak) Matang

Pemilihan presiden telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengumumkan pemenang calon pasangan nomor 2, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Sebelumnya, kedua calon dan pendukungnya bertempik-sorai menyatakan diri mereka sebagai pilihan terbaik. Akhirnya, rakyat menentukan siapa yang layak.

Namun, permainan tidak sampai di sini. Gugatan pasangan nomor 1 di Mahkamah Konstitusi menyeret kita lagi pada drama menegangkan. Kalaupun pemilihan di beberapa Tempat Pemungutan Suara akan diulang, namun selisih suara yang cukup banyak, sekitar 8 jutaan, mungkin tak akan mengubah keadaan. Tetapi, sistem politik kita memungkinkan ini semua. Betapa bawelnya demokrasi! Kita memang terbelah. Hanya saja, para petinggi lebih norak dan menyebalkan. Semestinya, Rhoma Irama mengingatkan kawannya, Prabowo Subianto, dengan nomor lagu yang saya suka, "Pesta Pasti Berakhir". Segala sesuatunya pasti harus disudahi, termasuk perburuan kekuasaan.

Ah, seandainya dua pemain yang ada di sampul majalah Tempo (Juli 2014) segera bertukar kaos, mungkin hiruk-pikuk dan kebisingan tidak berlarut-larut. Sayangnya, perebutan kekuasaan tidak sesederhana perburuan kemenangan dalam pertandingan sepak bola, yang memungkinkan wasit meniup peluit panjang sebagai tanda akhir permainan. Jelas, gugatan itu itu mengandaikan perpanjangan waktu. Seorang pengamat memberikan peluang 50-50 pada keduanya, sehingga ketegangan makin memuncak tak karuan. Malah, aroma kekerasan sempat meruap di tengah proses persidangan. Mungkin hanya sesumbar, tetapi ia bisa membakar. Jelas, proses ini menghabiskan biaya mahal. Semoga hasilnya nanti setimpal.