Thursday, August 27, 2015

Filsafat (Tak) Mudah

Dulu, buku filsafat berada di rak tersendiri. Beberapa hari yang lalu, saya mendapati buku filsafat di bawah AGAMA. Jelas, ini terkait dengan pemanfaatan ruang, bukan bidang. Menariknya, filsafat yang dikenal sebagai pengetahuan rumit bisa disampaikan dengan cerita kartun, dalam The Cartoon Introduction to Philosophy, seperti terpampang dalam gambar.

Malah, pemikiran Immanuel Kant yang susah dipahami tak lagi menjadi momok. Robert Wicks menulis sebuah pengantar (introduction) yang didahului kata lengkap (complete) dengan janji memahami Kant lebih cepat, menguasai subjek selangkah demi selangkap dan akhirnya menguji pengetahuan pembaca untuk membantu yang bersangkutan berhasil.Selain itu, di halaman pertama buku ini ditulis bahwa filsuf itu adalah orang yang berdarah dan bertulang, makan , minum, menawa, merenung dan secara perlahan menua. Tiba-tiba, saya berandai bahwa kita hanya perlu menjadi manusia untuk berpikir.

Saya pun membeli buku kecil berjudul The 15-Minute Philosopher yang ditulis oleh Anney Rooney (2014) dengan kata promosi ide-ide untuk menyelamatkan hidup Anda. Di antara begitu banyak kata kunci, saya terpegun dengan kata Jepang tsundoku, yang berarti membiarkan buku tak terbaca setelah membelinya. Lema ini tak dijumpai dalam bahasa Inggeris dan Indonesia. Aha, saya kadang melakukannya. Lalu, kalau hanya dibaca sebagian atau melompat-lompat? 

Wednesday, July 15, 2015

Berbagi Kue Kegembiraan

Ketika kita membeli kue hari raya dari penjual ini, sejatinya kita berbagi dengan pembuatnya yang bermodal kecil. Berbeda dengan kue sejenis yang dibuat industri besar, pengeluar rumahan mungkin tak mendapatkan untung besar. Tapi, mereka bisa mendapatkan hasil yang bisa menghidupi keperluan keluarga sehari-hari.

Hari raya keagamaan bukan saja tentang perayaan, tetapi juga keberpihakan pada pengusaha kecil. Dengan demikian, kue ekonomi tidak hanya  menumpuk pada pemodal besar.Pada gilirannya, apa pun yang terkait dengan Idul Fitri mengandaikan pilihan terhadap barang-barang yang dibuat oleh tangan sendiri dan tidak diproduksi oleh perusahaan multi-nasional. Kita juga memeriksa keperluan hari raya, seperti songkok, sarung, sandal, dan lain-lain untuk memastikan bahwa uang itu akan dinikmati oleh lebih banyak orang, bukan mengerucut pada segelintir orang.

Hari Kemenangan bukan semata-mata wujud dari keberhasilan menjalankan ibadah puasa, tetapi sejauh mana kegiatan keagamaan bisa merangsang kegiatan ekonomi yang tidak hanya halal, tetapi juga baik. Kata terakhir ini tentu membayangkan penggunaan barang yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H! Mohon Maaf Lahir dan Batin! 

Sunday, July 05, 2015

Mobilitas Mahasiswa

Setelah menempuh kuliah satu semester, para mahasiswa Universitas Syiah Kuala Aceh akhirnya meninggalkan Pusat Pengajian Pendidikan dan Bahasa Modern Universitas Utara Malaysia.

Meskipun hanya menghabiskan 6 bulan belajar di Sintok, mereka berhak menyandang sebagai lulusan UUM. Tentu bukan sekadar pada nama, tetapi juga kenangan, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk menyemangati kehendak menyelesaikan kuliah di tempat asal.

Di UUM, mereka tidak hanya menjalin hubungan dengan mahasiswa asal Malaysia, tetapi juga mahasiswa dari banyak negara yang melakukan program serupa. Malah, Ito, salah seorang mahasiswa asal Jepang, sempat membantu mereka memanggul tas ke bus yang akan membawa mahasiswa asal Tanah Rencong ini ke Kuala Lumpur. 

Wednesday, May 06, 2015

Nasi Pecel dan Kawan

Kadang sebungkus nasi pecel menyimpan banyak cerita. Ia bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga menyenangkan. Ia menjadi mahal karena dinikmati bersama seorang kawan, Mashuri Arow dan Ahmad Fauzi. Setelah sekian puluh tahun tak bertemu, kami akhirnya bersua karena sebuah peristiwa.

Bayangkan, dengan menghitung ongkos angkutan dan harga nasi pecel, bukankah sarapan pagi itu begitu istimewa? Letak warungnya tak jauh dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang. Dengan hanya merogoh 5000-an, kami bisa merasakakan nasi pecel dan segelas teh panas. Hanya saja, betapapun lezat, menu ini hanya mengisi sedikit waktu kita. Selanjutnya, kami berbagi cerita.

Nah, di sinilah keriangan berlangsung lebih lama. Jadi, mengapa kita menghabiskan waktu untuk memenuhi keinginan tubuh: sepincuk makanan? Kalau hubungan pertemanan tak perlu dibeli, sejatinya kita bisa meraup kegembiraan tak terperi.


Thursday, April 09, 2015

Memilih Kopi Lain

Setiap kali  membeli makanan di Pakcik Lan, saya acapkali memerhatikan kopi ini. Saya memang tak memeriksa siapa pemiliknya, apatah lagi seberapa besar perusahaan ini. Hanya saja, apa kaitannya dengan pondok pesantren dan kyai (Tok Guru)? Boleh jadi, produk ini dihasilkan oleh institusi pendidikan tersebut.

Ia hadir di tengah dominasi kopi yang dimiliki oleh perusahaan multi-nasional, seperti Nestle. Meskipun tak pernah beriklan di media televisi atau surat kabar arus-utama, kopi Mahkota ini bisa bersaing dan memenuhi gelegak orang ramai untuk meneguk secawan kopi. Lalu, adakah ada perasaan yang berbeda pada peminumnya? Saya pun belum bertanya. Mungkin, mereka tak hanya mereguk aroma kopi, tapi juga merasa mendapat pahala.

Aha! Ternyata kopi ini tak hanya mengandung biji kopi, tetapi juga pelbagai jenis racikan lain, seperti sari kurma, za'faran, buah tin, delima, dan kismis, yang menambah pesona khasiat apabila meminumnya. Inilah waktunya kita mengurangi ketergantungan pada kopi yang dibuat oleh perusahaan besar agar uang tidak menumpuk pada segelintir orang. 

Tuesday, March 03, 2015

Kebahagiaan dalam Buku Tipis

Dengan hanya membaca judul buku tipis ini, kita mungkin tak perlu membuka lembaran demi lembaran untuk mengetahui bagaimana meraih bahagia. Kita hanya perlu menemukan kesenangan dan makna dari kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu, kata by Design seakan-akan mau menegaskan bahwa kebahagiaan itu bisa didapat dengan usaha secara sengaja, bukan tiba-tiba datang hanya karena diinginkan.

Komentar singkat Jenni Russell, Sunday Times, akan membuat pelihat penasaran: 'Few book change one's life; in 48 hours this has improved mine'. Betapa menjanjikan! Belum lagi, Daniel Kahneman, peraih Nobel dan penulis Thinking Fast and Slow, menanggapi dengan dua kata, bold and original, yang mengandaikan bahwa dalam uraiannya kita akan menikmati ide-ide bernas dan asli. Padahal, gagasan yang dimaksud bisa dirujuk pada Aristoteles.

Berbeda dengan karya tebal Darrin M McMachon, Happiness: A History, yang mengurai kebahagiaan secara teoritik, dari Herodotus hingga Freud, Paul Dolan tak banyak mengumbar pikiran-pikiran besar pemikir, malah  menyodorkan daftar-daftar sehari-hari yang terkait langsung dengan kegiatan dan peristiwa kita, seperti uang, pengalaman, anak, kawan, tidur, dll. Dengan skala 1-10 dari daftar tersebut, pembaca ditantang untuk menjawab tingkat kesulitan, sehingga siapa pun bisa menengok diri dan selanjutnya mengatasi kesukaran yang dihadapi. Akhirnya, kebahagiaan itu adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara kesenangan dan makna hidup.

Sunday, January 25, 2015

Memuji Nabi di Pasaraya

Di sudut sebuah pasaraya, sebuah grup kasidah Shabahul Islam bershalawat. Mereka menyanyikan pujian diiringi suara rebana. Melalui dendangan ini, Nabi hadir dalam keriangan.

Lagipula, bukankah dulu Nabi pedagang dan acap masuk ke pasar? Hanya, apakah makna pasar dulu dengan sekarang sama?

Jelas, pasar itu bukan barang haram, namun tidak penumpukan kekayaan pada segelintir orang. Bayangkan! Dulu, saya menikmati jajanan yang dibuat sendiri oleh pedagang kecil dengan bungkus daun pisang dan jati. Sekarang, makanan ringan dibuat oleh pabrik dengan bungkus plastik. Pedagang kecil itu hanya menjadi pengecer. Dari kenyataan ini, pujian terhadap Nabi tidak hanya berhenti pada menyanyi, tetapi bagaimana pemerataan kekayaan negeri bukan mimpi.