Friday, April 18, 2014

Politik Buruh Migran

Jarum jam menunjuk angka 11. Sebelumnya, saya, isteri dan Nabbiyya memilih duduk di kursi putih yang sediakan oleh panitia pemilu Kantor Konsulat RI Pulau Pinang. Ibu Biyya memilih mencoblos langsung, sementara saya mencoba turut serta dalam pesta demokrasi kali ini melalui surat pos.

Lihatlah! Pelancong Indonesia ke Pulau Mutiara ini saling berfoto ria sebelum menunaikan pencoblosan. Demikian pula buruh migran perempuan tidak melewatkan mengabadikan peristwa lima tahu sekali dengan bergambar bersama. Mereka jelas mengambil sudut yang disuka, seperti latar nama konsulat atau baliho pemilu 2014.

Tak lama kemudian, ada seorang ibu dari Madura. Ia bersama si kecil dan suami jauh-jauh datang dari Air Hitam untuk mengikuti perhelatan demokrasi terbesar ketiga di dunia. Dengan hanya berbekal paspor, keduanya menitip amanah pada calon wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jakarta II. Semoga, harapan mereka tak terburai oleh kenyataan bahwa tak jarang kepercayaan keduanya tak sempat didengar. Mari berhitung! Berapa kali wakil rakyat terpilih pada pemilu 2009 datang ke Pulau Pinang? Nihil. 

Tuesday, March 04, 2014

Gus Dur

Setiap individu mempunyai sikap yang tak sama terhadap Gus Dur, guru bangsa. Ia terkait dengan pengetahuan dan pengalaman dalam mendekati mantan ketua umum Nahdlatul Ulama ini.

Mengetahui boleh jadi hanya sebatas dari bacaan di media atau penglihatan di televisi. Sementara mengalami adalah memerhatikan dari dekat sosok GD dalam pelbagai peristiwa, seperti pengajian, ceramah politik dan seminar.

Begitu banyak tanda yang kita peroleh. Hanya saja, prasangka acapali mencegah kita untuk menjangkau makna. Ada begitu ramai orang berebut-rebut untuk dekat dengan Gus Dur, dulu, sekarang dan mungkin pada masa yang datang untuk kepentingan yang bermacam-macam. Meskipun demikian pengalaman sederhana yang bisa mengungkai kerumitan ini, yaitu menikmati Syiir Tanpa Waton yang didendangkan oleh kakek Parikesit ini. Di sini, saya sendiri rindu suara, rindu rupa. 

Wednesday, February 26, 2014

Hidup Tulen

Saya menemukan hidup tulen itu pada tiga prinsip Diogenes, filsuf Yunani, yaitu 1. Tidak mewah 2. Kecukupan diri dan 3. Rasa nyaman. Tentang kesederhanaan ini, Martin Heidegger juga menjalaninya. Penulis Being and Time ini memilih berumah di tepi hutan dan memotong kayu bakar dengan tangannya. Malah, ia juga menimba air dari sumur untuk keperluan sehari-hari.

Apakah kita akan melakukan hal serupa hari ini? Mungkin tak senaif itu, tetapi kita tentu tidak akan menguras isi bumi dengan semena-mena dan menikmati kesenangan tanpa batasan. Untuk itu, seperti diungkapkan oleh Socrates, hidup perlu diperiksa agar ia berharga. Tak hanya itu, guru Plato ini juga memandang penting merawat jiwa karena ia adalah watak dan kepribadian kita. Malah ia adalah sumber pikiran, keputusan dan nilai-nilai kita. Jiwa itu bukan bayangan hantu. Ia nyata dalam tindakan.

Seperti tubuh, jiwa itu bisa sehat atau sakit. Kebodohan adalah penyakit jiwa yang paling mematikan. Untuk itu, menjalankan hidup otentik, seperti diurai dalam opini di Sinar Harian (25/2/14) ini mendesak untuk dilakukan, apa pun taruhannya. 

Wednesday, February 19, 2014

Pesona Pewarta Gaek

A Kadir Jasin, wartawan kawakan, memberikan ceramah di kampus dalam rangka memperingati 30 tahun UUM. Meskipun mantan pemimpin redaksi Berita Harian ini berbicara di 'Fakultas Ekonomi', namun tajuk perbincangan Ekonomi dan Politik tentu akan menyeret rekan-rekan dari fakultas lain.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persuratkabaran, lelaki yang lahir di Kedah ini memiliki segudang informasi tentang banyak isu. Namun, jauh lebih penting dari sekadar melahap maklumat, peserta menikmati kelakar, tafsiran dan tentu sikapnya terhadap petinggi negeri. Angka-angka dalam grafis yang disodorkan terkait jumlah penduduk (1911-1957) dan pendapatan rumah tangga (isi rumah) antara etnik (1957-1970) menjadi pijakan awal untuk memahami isu yang disampaikan.

Alamak! Dalam sebuah sesi tanya-jawab, salah seorang peserta minta maaf karena mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait politik praktis. Tentu, ini bisa dipahami karena Pak Kadir adalah penulis blog The Scribe yang acapkali mengurai gejolak politik dan mendapat perhatian khalayak ramai. Ternyata, di dalam ruangan berhawa dingin, politik itu bukan hanya "hingar-bingar", tetapi juga perenungan, atau kontemplasi dalam bahasa Aristoteles. Dengan jawaban lugas, peserta tahu bahwa sosok yang begitu banyak mengenal orang penting di seantero negeri telah mengambil posisi, sesuatu yang wajar apabila ide itu akhirnya mesti menjelma tindakan

Wednesday, January 01, 2014

Hari Pertama Tahun 2014


Semalam kami tidur lebih awal, dua jam sebelum detik tahun baru 2014. Si kecil mesti masuk sekolah untuk hari pertama setelah liburan panjang. Menjelang tengah malam, saya sempat terjaga karena suara mercon memekakkan telinga. Tak lama, saya terlelap lagi. Sebelum Subuh saya pun terbangun. Lalu, dengan bergegas saya menyegarkan muka, memasak air, dan menyapu lantai.15 menit kemudian, azan berkumandang melalui suara Hasib, tetangga sebelah rumah. Dengan baju koko dan sarung, saya pun beranjak menuju surau untuk bersembahyang jamaah. Encik Mansor memimpin ibadah kami.

Di Kedah, hari pertama tahun baru Masehi bukan hari libur. Setiap orang pergi ke tempat masing-masing untuk bekerja. Kami pun berangkat ke kampus ketika matahari masih bersinar lembut. Di kampus, saya pun membuka kembali buku Rolf Dobelli, The Art of Thinking Clearly. Meskipun saya pernah membacanya dan malah mengulasnya di rubrik buku Jawa Pos (23/6/13), namun menyimaknya kembali saya mendapatkan percikan tanda dan makna baru di sana-sini. Misalnya, di halaman 199 wartawan ini mengungkap bahwai suka atau tidak suka, kita adalah boneka emosi kita sendiri. Kita membuat keputusan yang rumit dengan merujuk pada perasaan, bukan pikiran. Oleh karena itu, mungkin kita tak lagi bertanya "Apa yang saya pikirkan tentang sesuatu?", tetapi "Bagaimana saya merasakan sesuatu?". Jadi, tersenyumlah! Masa depan tergantung pada langkah kecil ini.

Menjelang pukul 12, saya pun berjalan ke kantin Kuning Hijau untuk menikmati makan siang seraya menikmati lagu Ebiet G Ade melalui pemutar MP3. Setelah menua, saya begitu menikmati lagu-lagu ini karena temponya lambat dan diksinya kuat. Sepertinya, saya tak perlu bergegas, sehingga alam begitu nyata hadir dalam setiap langkah. Sinar mentari, nyanyian burung, tingkah manusia dan irama berebutan untuk hadir dalam tubuh dan jiwa ini. Seusai makan, saya mengayunkan kaki ke Perpustakaan Sultanah Bahiyah untuk mencari huruf-huruf yang tertera di banyak sudut. Kadang ragu menyergap, adakah ide-ide yang bertimbun itu bisa mengubah keadaan manusia? Tentu, ide itu akan mengubah apabila penekur mewujudkannya menjadi tindakan. 

Wednesday, December 25, 2013

Pasar Tradisional

Semalam kami telah membicarakan untuk berlibur ke pasar Jitra. Dalam satu Minggu ini, kami telah mengunjunginya sebanyak dua kali. Pada awalnya, si kecil tidak begitu suka, karena berbeda dengan pasaraya, di sini ia tidak bisa bermain bowling dan aneka permainan yang lain. Lucunya, meskipun tanpa coin, ia bergerak ke sana ke mari merasai beranekaragam hiburan.

Perlahan tapi pasti, ia pun menikmati suasana pasar. Seperti terlihat pada gambar sebelah kiri, Nabbiyya juga menyentuh buah jeruk, sebagaimana ibunya yang sedang memilih satu persatu buah kesukaannya. Namun, di lapak sayur-mayur harga sawi RM 5/Kg, jauh lebih mahal daripada Pasaraya Yawata, RM 3,5. Namun, si ibu tetap membelinya. Mengapa ini bisa terjadi?

Di sana, kami tidak hanya membeli sayur, tetapi juga tempe pada seorang kakak langganan kami dan tulang sapi pada pakcik yang baik hati. Kami kemudian berlalu setelah puas mengelilingi pasar. Sayangnya, tak jauh dari pasar ini, pasaraya TESCO akan dibangun. Papan nama telah dipancang dan pembangunan sedang berjalan. Kami menunggu cemas, adakah pasar ini akan berwajah muram?


Saturday, December 14, 2013

Minyak Goreng dan Racun

Di sela menunggu isteri menebus obat di apotik rumah sakit KMC, saya membaca sekilas berita utama koran Kosmo! Alamak, minyak goreng yang dipakai hingga lebih dari tiga kali akan menjadi racun pada tubuh manusia. Tentu, ini bukan kabar baru. Namun, pemaparan isu ini penting, agar tak menjadikan hidup kita genting.

Menurut saya, sepatutnya penggunaan minyak dibatasi untuk dua kali saja, atau maksimal tiga kali, agar racun itu tidak meresap pada tubuh anggota keluarga. Hanya saja, apakah ibu rumah tangga rela membuang minyak bekas? Mengingat Indonesia dan Malaysia sebagai pengeluar terbesar dunia minyak goreng, tentu warganya tak perlu merogoh kantong hingga dalam untuk hanya mendapatkan seliter minyak.

Lalu, mengapa kabar ini penting? Karena ia terkait dengan kesehatan manusia. Apatah lagi, tujuan Syariah itu hakikatnya menjaga tubuh manusia agar tidak sakit. Semestinya fiqh terkait makanan perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Agama sepatutnya hadir dalam keseharian manusia yang paling nyata. Dalam politik, ia hanya dijadikan alat oleh segelintir untuk berkuasa.