Wednesday, October 20, 2021


 Apa yang ada di atas meja adalah sebagian dari kisah hidup. Kita tak mungkin membentangkan semuanya. Malah, algoritma tak sempat mencatat segalanya tatkala status ini diunggah ke media sosial.


Buku dengan pelbagai mitos dan logos, kotak pensil dari bekas kaleng, cenderamata dari kampus, foto keluarga yang bersandar pada penyangga, dan mainan Zumi yang dibeli di Jogja.

Masing-masing memiliki situasi yang berbeda, tetapi bisa berada di tempat yang sama. Kanan, kiri, dan tengah itu soal posisi. Ketiganya hadir dalam aksi. Dalam keadaan diam, ketiganya mungkin tidak ada apa-apanya. Kita saja yang iseng menempelkan tanda.

Apa yang tidak hadir? Radio, kipas, dan lampu. Padahal, ketiganya yang bikin saya betah berlama-lama di sini. Anda pun juga punya tafsir tersendiri pada gambar ini, bukan? 

Libur


Saya mengajak Zumi ke kantor ekspedisi JNE untuk mengirim paket buku. Dari sini, ia bisa belajar wirausaha sejak kecil. Teman-temannya juga begitu. Kami sering memesan makanan dari jiran yang diantar oleh anak-anak yang berumur seusia murid SD Namira ini.

Perwakilan ekspedisi di atas bertempat di kedai sederhana. Pegawainya tamatan Aliyah, setara SMA. Dengan hanya bermodal perangkat komputer dan jaringan, perusahaan berjalan dengan prima. Kami sempat bercakap-cakap.

Tatkala bercakap dengan Zain, saya membelajarkan si bungsu untuk tidak menemui orang asing, tetapi orang belum dikenal. Dari percakapan, orang tak lagi melihat orang lain sebagai "pekerja" saja, tetapi juga manusia.


Tuesday, October 12, 2021

Matré


Tanpa mengabaikan tulisan lain dari kolom yang sama, saya sangat menyukai cetusan yang dimuat dalam Majalah Tempo keluaran 16 Februari 2020. Kata Matré merupakan kata padanan dari materi, yang berasal dari kata meterial (benda) dan materialistik (sifat). 

Secara bendawi, material diserap seperti makna asal, yakni bahan yang akan dipakai untuk membuat barang lain dan bahan mentah untuk bangunan, seperti pasir, kayu, dan semen. Namun, dalam pengucapan huruf e sering hilang, sehingga kita sering mendengar sebutan matrial. 

Persoalannya, adakah sifat matré itu musuh agama? Di sini, kontradiksi sering muncul karena hampir seluruh ibadah manusia, dari salat, puasa, dan haji, ditunaikan untuk mendapatkan pahala. Dengan modal inilah, orang yang beragama meyakini surga sebagai balasan yang setimpal dari kebajikan yang telah dilakukan. Lagi-lagi, ganjaran itu berupa kesenangan yang dulu dianggap maksiat dan dihujat. Tak hanya itu, gambaran firdaus begitu memukau dengan gambaran kesenangan duniawi, seperti ranjang emas, payung emas, sungai susu, dan bidadari. 

Untuk lebih jauh, silakan baca pandangan tentang isu ini di majalah. Selain itu, ada hal yang menyenangkan dari edisi kali ini, yakni sampul dan isi kusut karena ia sering dibaca oleh Nabbiya. Maklum, laporan utamanya tentang jejaring hitam bawang putih. 


Saturday, October 09, 2021

Candi Jabung


Kemarin, Biyya dan Zumi mengunjungi Candi Jabung. Di sini, keduanya tampak riang, berjalan ke sana ke mari. Biyya memotret banyak sudut dan Zumi merekam sekitar. Suasana sore begitu mengujakan. Rasa hangat menjalar ke seluruh jiwa melihat dua anak ini tampak akrab dan saling bicara. Maklum, di rumah, masing-masing sering asyik dengan dunianya. 

Setelah puas menikmati suasana, Biyya memunguti sampah, Ia lalu meletakkan di tong yang tersedia di banyak sudut. Zumi pun mengikutiya. Setelah selesai, penyuka Harry Potter ini berujar, "I already contribute to my country". 

Seperti ditulis di papan tak jauh dari candi, bangunan ini beraliran Budha Mahayana. Pararaton menyebutkan bahwa candi ini merupakan pendharmaan Raden Sumana. Ia dibangun pada tahun 1276 Saka (1354 M). Pada tahun ini, siapakah kakek Anda? 

Hayam Wuruk pernah mengunjungi bangunan suci ini. Kini, tak jauh dari tempat bersejarah tersebut, sebuah masjid berdiri. Kita pun tidak pasti, apakah yang terakhir akan mengalami nasib yang sama dengan pertama, tidak banyak roang yang "beribadah" dalam sehari-hari. 

Tuesday, October 05, 2021

Lapak Buku


Ini adalah salah satu buku yang digelar oleh Vespa Literasi, kelompok pembaca buku, di teras Gedung B kampus. Mereka menyediakan bacaan buku kritis untuk para mahasiswa. Tentu, tidak semua berminat, karena kaum terpelajar memiliki kesukaan dan kecenderungan berbeda. 

Tetapi, apa mereka tidak tergerak untuk membaca anggitan Eko yang berjudul Bergeraklah Mahasiswa! Selain itu, beberapa karya Pramodya Ananta Toer juga disediakan untuk menarik mereka pada karya-karya bermutu. 

Saran dari salah seorang dosen mungkin juga perlu ditimbang bahwa pelapak tidak sedang bermonolog di hadapan khalayak, tetapi juga memahami apa keinginan warga terhadap dunia literasi. 

Bagaimanapun, jalan menuju pencerahan terbuka melalui banyak bacaan. Kalaupun, kita tidak berada dalam satu kubu, kita bisa bercermin adakah mereka berbeda dengan keinginan kita untuk mewujudkan kehidupan bersama yang adil, sejahtera, dan bermakna?   

Monday, September 27, 2021

Hijau

Sepulang dari sekolah, kami mampir ke toko bunga ini. Si ibu menitip kompos dan pot plastik. Nabbiyya sangat senang. Kakak Zumi ini berkeliling dan memfoto banyak sudut. Dulu, kami membeli pohon Kemboja di sini. Kini, pokok, sebutan Malaysia untuk pohon, telah berbunga. Untuk pertama kalinya, Biyya menyiramnya setelah melihat kembang berwarna kuning muncul dari ranting. 

Setelah sampai di rumah, penyuka novel Wonder R J Palacio tersebut berucap bahwa nanti bila ia punya rumah sendiri, ia akan menanami halaman dengan banyak pohon. 

Impiannya untuk membuat kompos adalah juga keinginan yang sering dibicarakan. Jelas, pengaruh  bacaannya, Merusak Bumi dari Meja Makan oleh M Faizi menuntunnya untuk peduli dengan lingkungannya. Kami juga sering melihatnya sering mematikan lampu di rumah bila kami lupa. 

Sunday, September 12, 2021

Bermain Bayangan


 Semalam lampu padam menjelang magrib. Dalam sebuah kiriman di grup WA, ada seorang warga yang terkena setrum aliran listrik. Sambil menikmati hujan gerimis, kami bercengkerama di pintu. Maklum, hari mulai gelap. 

Setelah menyalakan lampu telepon, Biyya dan Zumi bermain bayangan tangan berupa pelbagai binatang, dari Dinosaurus, jerapah, hingga gajah. Betapa menyenangkan kami melihat keduanya bermain bersama. Maklum, banyak selera dua anak ini berbeda.

Lalu, kami pindah ke kamar dan melanjutkan untuk memanfaatkan gelap dan cahaya untuk bermain. Setelah lampu hidup, kami pun berjamaah bersama, sementara Zumi ikut bersembahyang seraya tetap bermain gim. Mungkin, nanti si bungsu akan belajar bahwa kadang ia harus diam untuk fokus dalam hidup.    

  Apa yang ada di atas meja adalah sebagian dari kisah hidup. Kita tak mungkin membentangkan semuanya. Malah, algoritma tak sempat mencatat ...