Monday, March 30, 2009

Rumah Masa Depan




Inilah rumah masa depan itu. Namanya Anjung Budi. Sebagai rumah alumni, ia diniatkan sebagai tempat untuk beragam kegiatan. Pemilihan nama lokal diharapkan mengukuhkan bahasa sebagai identitas, bukan nama berbau asing, seperti Eureka, nama sebuah gedung di depan masjid Kampus, Jelas Prof Madya Talhah Idrus dalam sambutannya sebagai ketua Perhubungan Alumni. Menurut dosen arsitektur tersebut, bangunan tersebut berdiri berkat bantuan dari banyak pihak, baik gagasan maupun bahan. Malah, tambahnya, orang nomor satu kampus, Prof Dzulkifli turut memberi perhatian pada pembangunannya sejak awal.

Ia tidak hadir begitu saja. Ada banyak perbedaan dalam mewujudkannya, seperti jenis pohon yang akan ditanam, desain, dan pernak pernik yang lain. Namun, semua itu tidak menghalangi untuk menggapai mimpi bersama, rumah bagi para alumni. Dengan menghadirkan aksesoris kayu berwarna coklat, nuansa tradisional menyeruak. Selain ruman induk, bangunan ini juga mempunyai halaman belakang yang bisa digunakan untuk ruang pertemuan. Malah, acara peresmian pada tanggal 25 Maret kemarin diselenggarakan di sini. Dari tempat duduk, kami bisa melepaskan pandangan ke laut yang diiringi rumput, kolam renang dan pepohonan. Angin semilir berhembus karena ia berada di ruang terbuka.

Satu hal yang ditekankan oleh Prof Talhah bahwa konsep bangunan itu mengacu pada kelestarian lingkungan (sustainable development), sebuah ide yang sedang dikembangkan secara menyeluruh di kampus yang berjuluk kampus dalam taman ini. Hampir seluruh kegiatan di kampus diikhtiarkan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang memberi perhatian yang dalam terhadap ramah lingkungan. Tentu, kesadaran ini pelan tapi pasti akan menjadi arus utama sehingga dengan sendirinya seluruh gerak gerik warga yang ada di dalamnya mencerminkan keyakinan bahwa alam ini perlu dirawat agar tidak musnah.

Penegasan sebagai tempat kegiatan yang tidak terbatas pada program alumni tentu menjadikan tempat ini favorit karena letaknya paling strategis dan dari sana kita bisa menikmati pemandangan. Acara peresmian yang dihadiri banyak orang itu terkesan santai dengan suguhan makanan lokal. Band musik mahasiswa tahun 70-an Tabula Rasa menjadikan suasana semarak. Tentu, ia semacam nostalgi bagi pegawai dan dosen yang hadir pada waktu itu. Saya sendiri mungkin tak bisa segera menyantelkan kenangan karena saya berada di dunia lain, namun suasana akrab tentu mengenyahkan perasaan asing.

Tuesday, March 24, 2009

Pulang Ke Jogja

Kepulangan ke rumah kedua mengingatkan kembali bau tanah yang telah lama tak direguk setelah hujan. Rasa kangen terobati ketika untuk pertama kalinya pesawat tiket murah Air Asia mendarat di lapangan terbang Adi Sucipto. Sebelumnya, saya duduk satu deretan kursi dengan seorang bule Amerika yang sedang melakukan travelling. Namun, saya harus menahan rasa tak nyaman karena semua penumpang harus berdesakan di depan pintu kedatangan (arrival gate), karena kami hanya disambut tiga konter imigrasi dan ruang yang tak luas. Mungkin kalau pada waktu itu hujan turun, penumpang yang antri beberapa sentimeter di belakang akan lari bertempiaran karena sebagian berada di luar pintu masuk yang tak dinaungi atap. Untungnya, hujan tak tumpah.

Herannya lagi, tempat sempit itu tak menjulangkan langit-langit, sehingga lengkap sudah kesesakan raga dan mungkin batin penumpang. Namun, saya melihat wajah-wajah TKI tidak menunjukkan warna muram. Meskipun demikian, saya ragu apakah para turis, hanya segelintir bule dan puluhan dari negeri jiran, Malaysia, akan merasa nyaman dengan keadaan seperti itu. Salah seorang dari empat turis Malaysia berkebangsaan Tionghoa sempat menanyakan pada saya transportasi ke kota, Malioboro. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk membantu mereka dan tambahan lagi, si bule dari California itu ingin bergabung untuk berkongsi ongkos. Tentu, keadaan seperti ini perlu mendapatkan perhatian pihak berwenang karena pintu kedatangan adalah wajah pertama yang akan dinikmati para pelancong. Jika dibiarkan, mereka tentu telah merasa tak nyaman pertama kali menginjakkan kakinya di bumi nusantara.

Saya sendiri keluar dari areal bandara untuk membeli kartu perdana telepon agar bisa menghubungi keluarga. Tak lama kemudian, saya menyewa angkutan ke rumah dengan membayar Rp 30 ribuan. Sang supir bercerita bahwa dari pagi hingga menjelang malam, ia baru mendapatkan satu penumpang dan mengeluhkan keadaan yang tak membantunya untuk mengongkosi hidup. Malah, iseng-iseng, saya menanyakan hiruk pikuk kampanye, yang dianggapnya tak lebih dari hiburan. Hanya perlu 10 menit, saya telah sampai di halaman rumah.

Setelah hampir dua tahun, saya menginjak tanah dan membaui dedaunan yang beragam. Angin terasa lebih segar, karena di sebelah rumah terbentang sawah dan di bawahnya sungai mengalir, meski airnya tak deras. Mungkin, di hulu, hutan telah gundul. Dengan merebahkan tubuh di ranjang, saya merasakan malam itu menyenangkan karena katak bernyanyi riang. Malah, dengan penuh harap, keesokan harinya saya akan bangun dengan bahagia sebab ayam akan menyapa dengan kokoknya, selalu begitu. Saya juga heran mengapa pagi, bagi saya, adalah celotehan ayam, tidak yang lain. Tentu, azan subuh yang saling bersahutan memecah kesunyian dan mengajak orang yang terlelap untuk segera beranjak.

Thursday, March 05, 2009

Mengarusutamakan Ekonomi Syariah

[ Jawa Pos, Kamis, 05 Maret 2009 ]

Pertemuan The 5th World Islamic Economic Forum digelar di Jakarta pada 1-4 Maret 2009 (hari ini). Forum bertajuk Food and Energy Security & Stemming the Tide of the Global Financial Crisis itu seyogyanya menjadi momentum untuk mengurai benang kusut ekonomi umat di percaturan dunia internasional.

Meskipun demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa penegasan identitas 'primordial' ini tidak menampik yang lain. Bagaimanapun, sebagaimana ditegaskan dalam forum pertama, hubungan ini juga mengandaikan dengan dunia luar.

Berbeda dengan Forum Ekonomi Dunia (FED) dan tandingannya, Forum Sosial Dunia (FSD) yang lebih gegap gempita dan meriah karena melibatkan kuasa besar, kapitalisme dan sosialisme, Forum Ekonomi Islam (FEI) tidak menimbulkan hiruk pikuk.

Namun, ia harus tetap percaya diri untuk menawarkan alternatif, tanpa merasa eksklusif. Ekonomi syariah yang telah menjadi pilihan perbankan yang sebelumnya mempraktikkan model konvensional belum menjadi pemain utama.

Namun, sistem syariah selanjutnya harus mampu mandiri untuk mewujudkan apa yang diyakini sebagai sistem yang lebih mengedepankan keadilan dan kejujuran.

Keengganan masyarakat terlibat dalam transaksi berbagi untung rugi (musyarakah), misalnya, disebabkan kebanyakan mereka tidak jujur dalam berbagi risiko. Keadaan seperti ini akan menyuburkan kebohongan dan menghalangi terciptanya masyarakat yang berkeadaban.

Bagaimanapun, masyarakat yang tepercaya (trust society) merupakan syarat mutlak -conditio qua non- bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan yang besar. Georg Simmel dan Francis Fukuyama memandang penting unsur kepercayaan ini dalam pengembangan kemajuan masyarakat lebih luas.

Isu-Isu Strategis

Meskipun forum di atas diilhami forum bisnis Organisasi Konferensi Islam (OKI), ia tidak hanya membatasi diri pada isu-isu sempit berkaitan dengan ekonomi. Forum ini telah melihat persoalan yang lebih besar berkaitan dengan keterbelakangan umat Islam secara keseluruhan, meski ekonomi tetap dianggap sebagai masalah utama. Ada keinginan untuk memutus mata rantai kemiskinan secara serentak.

Sejalan dengan keterpurukan ekonomi umat, forum ini juga menangani isu perempuan dan pendidikan. Topik The Emerging Potential of Muslim Women in the 21st Century pada masa itu tentu menegaskan pembaruan yang selama ini melibatkan peran perempuan terpinggirkan.

Juga topik lain, Optimizing Intellectual and Human Capital: Competing Successfully in the Global Knowledge Economy, mengandaikan pentingnya pendidikan di negara-negara muslim yang masih tertinggal.

Ini ironi yang memedihkan karena pembelajaran itu bagian dari ajaran agama dan peradaban Islam mewariskan khazanah yang sangat bernilai berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada forum keempat (Kuwait, 2008), negara-negara Islam diharapkan menjadi pemain sejati perkembangan global dengan memfokuskan pada dunia muslim sebagai pasar yang sedang berkembang.

Selain itu, persoalan peran energi di dalam sebuah dunia yang sedang berubah, peran penanaman model dalam mengurangi kemiskinan, peran swasta dan pendidikan turut mendapatkan perhatian.

Toh, meskipun persoalan ketersediaan energi dan kecukupan makanan menjadi tema utama pada FEI Ke-5 di Jakarta, tema-tema besar sebelumnya tetap menjadi agenda penting untuk diselesaikan, mengingat belum tuntasnya rencana tersebut hingga kini. Evaluasi terhadap gagasan sebelumnya perlu diungkapkan untuk menemukan kesinambungannya dengan tema baru.

Koherensi Ide dan Tindakan

Festival Ekonomi Syariah yang dijadikan pemicu di dalam negeri tentu makin menggairahkan tindakan pengentasan kemiskinan yang memanfaatkan zakat, infak, dan sadaqah untuk menggerakan sektor riil.

Keterlibatan universitas negeri umum dan institusi swasta, selain Universitas Islam Negeri (UIN) dan IAIN (Institut Agama Islam Negeri), dalam pengembangan ekonomi syariah tentu memantik kehendak yang lebih besar, yaitu kesejahteraan umat. Sebab, sejatinya ekonomi syariah bisa dijadikan instrumen perwujudan nilai-nilai progresif Islam.

Jika dulu saya hanya belajar fiqh muamalah di pesantren, seperti dalam Taqrib dan Fathul Qarib, yang menjelaskan musyarakah dan mudarabah sebagai praktik 'ekonomi' Islam di atas kertas, sekarang saya telah menemukan bentuknya. Adalah aneh jika gagasan itu hanya dibaca dan dikaji hingga kumal, tanpa tahu kewujudannya.

Celakanya, penolakan terhadap ekonomi syariah justru tidak jarang datang dari kalangan sarjana muslim. Mungkin penyangkalan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk keraguan mereka bahwa sistem ekonomi syariah yang dikembangkan tak ubahnya sistem lain atas nama agama.

Oleh sebab itu, ekonomi syariah harus dilihat sebagai alternatif di tengah ambruknya sistem ekonomi yang lain. Betapapun model terakhir yang acap mengalami jatuh bangun itu akan memperbaiki dirinya. Ini tidak akan bisa menggertak ekonomi syariah untuk diam, malah terus berpacu melayani umat.

Pandangan dunia yang diembannya tentu perlu diwujudkan dalam ranah konkret di tengah keengganan masyarakat muslim sendiri memanfaatkannya. Pendek kata, pekerjaan rumah itu belum selesai dan ini merupakan pemacu untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

*.Ahmad Sahidah , kandidat doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia