Posts

Showing posts from September, 2006

Jelang Ramadhan dan Hari Pertama

2 Hari sebelumnya:

Kami main bola dengan teman-teman Arab-Libya. Sebuah upaya untuk lebih dekat mengenal mereka di mana Peradaban Gemilang pernah lahir. Kemenangan meyakinkan 4-2 untuk pelajar Indonesia menumbuhkan semangat untuk meningkatkan performa permainan ke depan.

Tentu, teman-teman penyuka bola lebih tahu bagaimana memoles strategi agar pada masa yang akan datang lebih menggigit. Kemenangan itu memang perlu dirayakan, tetapi proses menuju raihan ini juga perlu dipertimbangkan. Ia lahir dari kekompakan, kebersamaan dan disiplin. Lebih-lebih, jika teman-teman mau mengusung semua ini pada kehidupan keseharian. Kekompakan akan mengatasi keterasingan, kebersamaan akan menghilangkan kesepian dan disiplin membuat hidup tertanggungkan.

Seragam merah-putih tidak hanya sekedar jersi (bahasa Malaysia), ia adalah penanda akan kebanggaan sebagai anak bangsa. Pertandingan persahabatan ini secara tersirat sekaligus memperkenalkan Indonesia pada pelajar Asing (Arab). Bukankan, mereka juga sangat…

Ketulusan seorang Kawan

Terima kasih Mas Teuku Andika,

Jika saya berbagi di sini tentang banyak hal, hakikatnya saya ingin menghadirkan sesuatu yang 'alpa', termasuk ketika saya mengulas Heart dan Wicker Park.

Mas Teuku telah membantu saya memunculkan 'perspektif baru' tentang film Barat yang saya bandingkan dengan Heart. Lho, emang Heart film Indonesia? Dari judulnya saja ia adalah bentuk ketidakpercayaan diri untuk menyebutnya Hati?

Mungkin, tafsir saya akan bertambah 'kaya' apabila digabungkan dengan horizon teman lain, seperti Mas Ridho, Romi, Rafika, Aris H, sebagai mahasiswa yang bergelut dengan perfilman dalam pengertian praktik dan teoretik.

Lebih-lebih, bagi teman-teman yang pernah nonton seperti Vega, Wanna, Pak Allwar, Dian, Doni, tentu akan mengungkap sisi yang berbeda dari film yang dibiayai oleh Drs. Chand Parwez.

Apalagi, saya juga baca ulasan film ini di http://www.sinema-indonesia.com/ oleh Ferry Siregar, sepertinya Heart diperlekehkan (Bahasa Malaysia). Terus terang, saya…

Mungkinkah Belajar Islam dari Jepang?

Sebuah Cerita:

Di sela-sela saya menulis disertasi, kadangkala disergap jenuh. Agar, saya masih berada pada jalur utama (penyelesaian disertasi berjudul Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam di dalam Al-Qur'an: Satu Kajian terhadap Analisis Semantik Toshihiko Izutsu melalui Pendekatan Hermeneutik), adalah perlu untuk menulis artikel, rencana (Bahasa Malaysia= opini) atau tulisan ringan berkaitan dengan kajian yang satu tulis.

Artikel saya yang dimuat dalam Republika [Indonesia] hari ini (22 September 2006) adalah hasil pengembangan nalar dari bahan bacaan saya untuk menyelesaikan disertasi, yang sekarang telah memasuki bab keempat dan kelima.

Kadang lucu juga, sebab saya membahas banyak hal dalam disertasi, tidak hanya berhubung kait dengan pemikir (Izutsu, Gadamer, Ullmann, Leisi, Ricoeur, Khalid al-Akk, Al-Suyuti, Nasr Abu Zayd, Fazlur Rahman dan lain-lain) tetapi juga tempat (Jepang, Jerman, Timur Tengah dan Eropa dan lain-lain). Sementara saya belum pernah bertemu dengan para pemikir …

Heart dan Wicker Park

Melodrama Heart akan membuat siapapun sesunggukan, meskipun kedalamannya masing-masing berbeda. Saya yang 'dewasa' (Maaf, menyebutnya tua, saya tak tega pada diri sendiri) cukup menikmati alur cerita. Siapa yang tidak akan terbetot oleh suasana puncak Pangalengan yang sejauh mata memandang adalah kehijauan?

Karakterisasi tokoh cukup bagus. Rachel, Farel, dan Luna telah menunjukkan perwatakan yang khas. Farel adalah anak muda yang menyenangkan karena 'peduli', terbuka dan terus terang. Rachel adalah wajah lain dari orang yang setia, tapi tidak tahu bagaimana agar orang lain mengerti. Luna tak lebih dari orang yang dirundung nestapa karena sedang menunggu detik ajal tiba. Lalu, cinta telah merubah semua!

Dibandingkan dengan film bercorak sama, Wicker Park yang dibintangi oleh Josh Hartnett (sebagai Matthew) dan Rose Byrne (sebagai Alex), saya lebih menyukai film ini. Heart terlalu menguras emosi yang tidak perlu. Berkali-kali kita disuguhi adegan 'airmata'. Di Film…

واما بنعمة ربك فحدث

Jelang Ramadan, saya telah menyiapkan diri dengan menghitung jejak. Jejak Ramadan masa kecil, remaja hingga dewasa. Di masa kecil, bulan suci ini adalah berkah karena puasa justeru memberi banyak waktu bermain, sore adalah waktu penantian yang mendebarkan dan malam adalah semarak dengan tadarus dan tarawih yang meramaikan masjid tua di kampung. Sepertinya, kehidupan menyala, tak redup.

Tapi, sekarang, mungkinkah kita mengulang masa kecil hadir kembali? Mungkin ya, tapi dengan cara yang berbeda. Bermain tidak lagi perang-perangan, gobak-sodor atau yang lain, tetapi permainan yang dianggap dewasa. Saya tidak pasti tentang hal ini.

Agar Ramadan lebih terasa, saya datang ke perpustakaan (Hamzah Sendut 1 USM) untuk membuka pengalaman orang lain tentang memberikan makna terhadap masa yang penuh berkah ini.

1. Buku Renungan-Renungan Sufistik (Terbitan Mizan) oleh Kang Jalaluddin Rahmat membantu saya menafsirkan kembali rutinitas tahunan ini. Dengan ketajaman penanya, beliau merungkai semula pem…