Posts

Showing posts from April, 2009

Menemukan Identitas Anak Saya

Image
Anak pertama saya lahir dari rumah sakit bersalin pemerintah pada tanggal 16 April 2009, jam 03.12 PM. Sebagai warga negara asing, kami harus membayar lebih mahal daripada orang lokal, meskipun demikian biaya operasi di negeri jiran jauh lebih murah dibandingkan dengan Indonesia.

Atas saran rumah sakit, saya diminta untuk mendaftarkan anak kepada Jabatan Pendafataran Negara. Gambar di sebelah adalah kantor catatan sipil yang mengurus pembuatan kartu tanda penduduk dan akte kelahiran. Untuk sampai ke tempat ini, saya harus bolak-balik karena sering salah jalan dan terbabas. Hikmahnya saya justeru lebih banyak mengenal lingkungan, panorama dan tempat yang sebelumnya tak pernah dikunjungi.

Di sana, saya hanya memerlukan waktu singkat dan pihak catatan sipil tidak meminta biaya. Motto Amanah, Cekap dan Mesra yang diterakan di papan nama, betul-betul sikap para pegawainya, bukan hanya sekedar papan nama. Mereka bekerja dengan cepat, tepat dan ramah. Kelelahan yang mendera sirna. Ada buncah k…

Nestapa Pemilu di Luar Negeri

Kedaulatan Rakyat, 25/04/2009 09:37:03 Sebagai salah seorang panitia pemutakhiran data pemilih (PPDP) Luar Negeri, Malaysia, saya mengalami secara langsung betapa susahnya mendaftar calon pemilih yang tersebar luas di negeri orang. Bayangkan untuk wilayah Konsulat Jenderal RI Penang, kami harus mengumpulkan data pemilih di tiga negara bagian (Penang, Kedah dan Perlis). Belum lagi, keterlambatan KPU menggelontorkan dana sehingga membuat kerja petugas lapangan melempen.
Atas inisiatif pihak konsulat, panitia tetap memulai kerja dan berusaha sekuat mungkin untuk mengumpulkan data. Malah, untuk menambah tenaga, KPPSLN (Kelompok Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri), melibatkan pekerja melebihi yang disetujui Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan membagi gaji setengah daripada yang seharusnya.
Jika kemudian banyak warga Indonesia tidak terdaftar adalah wajar. Namun ini tentu bukan alasan yang bisa diterima karena para anggota panitia dibayar untuk bekerja. Tetapi, mungkinkah 15 anggota PPDP bis…

Menyambut Kelahiran Puteri Pertama 2

Image
Inilah papan nama yang berada di pintu masuk rumah sakit tempat Nabiyya lahir. Meskipun sebelumnya saya sering melewati rumah bersalin ini, namun ketika saya berangkat sendirian dengan motor, saya harus memeluh keringat karena tak mudah menemukannya. Saya acapkali salah jalan karena jalan di sekitar hospital bersalin ini kebanyakan satu arah.

Namun setelah beberapa kali, saya tidak hanya menghapalnya dengan baik, malah saya bisa menelusuri jalan tikus untuk sampai ke sini. Secara normal, saya berangkat jam 11-an agar bisa menemui Ibunya Nabiyya pada jam bezuk siang hari, 12.30-2.00. Lalu, saya makan siang di kantin rumah sakit dan menunggu di surau untuk menjenguk isteri pada jam 4.30-7.30. Tetapi, saya juga pernah pulang larut malam atau berangkat di pagi buta sesudah subuh untuk mengantarkan barang keperluan mereka berdua. Dalam perjalanan seperti ini, saya betul-betul menikmati suasana karena jalanan lengang. Lebih-lebih di pagi buta, udara segar merasuk ke paru-paru dengan nyaman…

Menyambut Kelahiran Puteri Pertama

Image
Penantian panjang berakhir. Puteri pertama kami telah lahir pada tanggal 16 April 2009, jam 3.12 melalui bedah caesarian. Pertama kali melihat si kecil, saya merasa kegembiraan yang luar biasa. Cemas, khawatir dan selaksa gundah bertukar riang, serta merta. Ibunya masih lemas karena pengaruh bius masih mendekam di tubuhnya. Namun, sinar matanya bersirobok dengan saya dengan berbinar, menandakan kebahagiaan.

Kami harus menunggu empat hari sejak masuk ke rumah sakit untuk menyambut Nabiyya, panggilan untuk Mutanabbiyya Wasatiyya. Proses induksi sebanyak tiga kali tidak mampu mendorong pembukaan. Akhirnya, doktor menyarankan kami untuk caesarian. Dengan harap cemas, kami menerima keputusan ini. Proses bedah tidak memerlukan waktu lama, kira-kira 1 jam. Tak lama setelah lahir, saya memberi tahu semua eyangnya yang ada di Madura, Yogyakarta dan Semarang. Mereka turut merasakan kegembiraan.

Tentu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada doktor, perawat dan seluruh staf Rumah Sakit Pulau P…

Memilih Wakil Rakyat

Image
Jauh-jauh hari saya telah membulatkan niat untuk memilih pada pemilihan umum. Namun pada hari H, saya merasa cemas karena hujan turun sejak pagi. Tentu, panitia pemilu akan merasa lebih masgul karena pemilih yang telah terdaftar enggan untuk memenuhi haknya akibat terhalang oleh hujan. Coba lihat gambar di sebelah, gambar yang diambil di lokasi pencontrengan, wisma konsulat RI, tampak buram karena langit mendung dan hujan turun sejak pagi.

Kami sengaja berangkat ke lokasi agak siang agar tidak perlu antri lama. Di perjalanan, kami dihibur oleh nyanyian Opick dan selalu saja pada lagu Astaghfirullah, ingatan suasana subuh di kampung hinggap di kepala. Sesampai di wisma, saya langsung menuju meja pendaftaran dan hanya memerlukan beberapa menit selesai. Hanya saya seorang yang menunaikan hak memilih pada waktu itu. Dari tiga ratusan nama di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 2, saya menempati nomor ke 67, padahal hari telah menjelang tengah hari. Di sana, saya sempat mendengar Pak Moenir, kon…

Oposisi Malaysia Kian Tak Terbendung

Image
Saya menyambut gembira pernyataan Najib Tun Razak bahwa media harus memberitakan secara adil dan bertanggungjawab hal ihwal masyarakat. Sebelumnya perdana menteri ke-6 tersebut telah membuat kejutan dengan melepaskan tahanan ISA (Internal Security Act) dan menarik pembredelan dua koran oposisi, Harakah dan Suara Keadilan.

Namun langkah Najib belum menggoyahkan hati rakyat untuk mendukung pemerintahan baru. Tulisan di Jawa Pos (9 April 2009) berjudul "Oposisi Malaysia Kian Tak Terbendung" mencoba membaca mengapa perubahan itu tidak mendatangkan sambutan khalayak. Mungkin keterbukaan yang sedang dicanangkan pihak berkuasa belum diwujudkan secara nyata, sehingga itu dianggap janji yang belum ditunaikan.

Di tengah kerisauan terhadap pemerintah dan oposisi yang belum berubah, saya menemukan kegembiraan lain dengan hadirnya koran baru Sinar Harian yang telah mempraktikkan etika jurnalisme yang selama ini diabaikan oleh kebanyakan media. Meskipun saya tidak meninggalkan koran-kora…

Belajar Politik dari Negara Tetangga

Image
Tulisan ini (Kontan, 6 April 2009) mencoba untuk menengok bagaimana andaian sistem dua partai di Malaysia berhasil menempatkan pemerintah dan oposisi memperjuangkan ideologi dan programnya di tengah khalayak. Di Indonesia, gagasan seperti muncul tenggelam dan lalu hilang. Yang acapkali terdengar, mereka akan membentuk koalisi setelah pemilihan legislatif. Hiruk-pikuk elit partai bertandang hanya menimbulkan kelucuan.

Adalah tidak aneh, jika masing-masing partai mengklaim keberhasilan pembangunan, seperti swasembada beras. Andaikan mereka bergabung sejak awal dan berusaha untuk merumuskan kesefahaman (bahasa Malaysia untuk understanding), maka kerjasama itu mungkin bisa dirintis jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga ada kejelasan peran.

Jika keadaan seperti terus berlangsung, kita sebenarnya sedang menunggu pemerintahan yang gamang menjalankan amanahnya karena sang tuan lebih banyak menghabiskan waktu membagi kue untuk memperoleh mufakat dan oposisi kadang tak tahu harus berbuat apa karena…

Merawat Bumi dengan Hati

Image
Ini adalah poster yang ditempel di gedung pertemuan terbesar kampus, DTSP (Dewan Tuanku Syed Putera). Sebuah petanda untuk mengajak warga memenuhi ajakan WWF (World Wildlife Fund) untuk memadamkan lampu selama satu jam, terhitung dari 9-10 malam, 28 Maret 2009. Poster ini juga dipasang di beberapa tempat untuk merayakan malam 'kegelapan'.

Pada malam itu, kami turut mematikan lampu. Dalam keadaan gelap dan cenderung hening, kami justeru lebih banyak menghabiskan waktu bercakap-cakap tanpa diganggu bunyi lain, seperti televisi, radio atau komputer. Pintu depan rumah dibiarkan terbuka agar kami bisa berbagi dan ternyata tetangga baik kami juga turut memadamkan lampu. Tanpa benda-benda elektronik itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Tak ada yang kurang.

Tentu keprihatinan ini tidak hanya berhenti mengurangi penggunaan listrik, tetapi juga kemampuan mengelola air, sampah dan plastik. Kesadaran untuk menjaga bumi yang telah berusia lanjut ini tentu menguras perhatian, namun di sini…

Menemukan Riang di Danau Kampus

Image
Gambar ini diambil sekitar jam 10 pagi, ketika sisa basah hujan semalaman masih terasa. Malah sebelum menjejaki tepian danau dalam kampus itu, saya akan menuai senang sebab airnya naik setelah diguyur air dari langit. Hanya berbekal remahan roti, kami bercanda dengan ikan-ikan. Mereka berlompatan merebut remahan roti.

Warna hitam di tepi kiri bawah, segerombolan ikan yang sedang menanti lemparan roti memancing gairah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di hari minggu. Saya juga heran mengapa danau ini tak pernah membuat bosan. Mungkin, di sana kami juga acapkali menemukan orang lain melakukan hal yang sama. Belum lagi, tak jarang satu keluarga mengayuh kebersamaan dengan memberi makan ikan. Di sana wajah-wajah selalu hadir dalam keadaan tak bermuram durja.

Bagi kami, danau kampus itu oase dari kepenatan. Dulu, saya sering melewati lorong di pinggirnya agar bisa meraup angin semilir dan nyanyian burung. Perjalanan dari perpustakaan ke asrama tak lagi menjadi beban. Tapi, setelah ada mo…

Menafsirkan Kembali undamentalisme

Duta Masyarakat, 1 April 2009

OLEH : AHMAD SAHIDAH, Research Assistant Staff dan kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia

Gagasan di atas diilhami oleh hermeneutika Georg-Hans Gadamer ketika merehabilitasi prasangka (vorurteil) yang dituduh oleh Pencerahan sebagai tembok besar yang menghalangi pemahaman yang terbebaskan dari dogma. Bagaimanapun, prasangka adalah keniscayaan dalam sebuah penafsiran dan namun demikian harus beranjak kepada proses selanjutnya, yaitu kemungkinan terkondisinya pemahaman yang melibatkan eksistensi penafsir dan sejarah masa lalu.

Wacana fundamentalisme, meskipun bukan baru, selalu menyeruak ke permukaan bersama semakin menguatnya organisasi keagamaan partikelir di tanah air. Mereka menuntut penegakan nilai-nilai keagamaan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lazimnya, sebagian sarjana mengaitkan gerakan ini sebagai kepanjangan dari cita-cita pemikir keagamaan yang acapkali dilabeli fundamentalis, sebut saja Sayyid Qutb, Hasa…