Saturday, September 29, 2012

Sore dan Sate


Sore sesudah hujan, kepulan asap sate di depan Masjid al-Shahab mengundang selera. Seminggu sebelumnya, kami berhasrat untuk mencoba menikmati sate. Dengan hanya berbekal gerobak, kipas, dan arang kayu si penjual menggelar menu berupa ketupat, timun dan bawang merah. Harga setusuk sate tak mahal. Kami pun duduk menunggu seraya menikmati minuman yang dibeli dari penjual yang lain. Dengan berbagi, mereka bisa mengaut keuntungan. Tak lama kemudian, sepiring sate datang, hinggap di meja. Bau daging terbakar menyengat hidung. Lalu, 15 tusuk berpindah ke perut. Karena mendekati azan Maghrib, kami pun bergegas untuk beranjak pulang sambil membawa sisa sate. Dengan ramah wanita setengah baya, pemilik warung itu, bertanya, "Nak dibungkus ke?" Isteri pun mengangguk.

Setelah makan, pengunjung warung makan bisa berjamaah di sini. Masjid tersebut menyediakan lahan parkir yang luas dan fasilitas lain yang memadai, seperti wifi, ruang pertemuan, toko pakaian dan dobi atau penatu. Mungkin, mereka bisa bersembahyang lebih dahulu baru berkunjung ke kedai makan yang tak hanya menyediakan sate, tetapi juga makanan dan kudapan yang lain. Kehadiran dua tempat yang berbeda, beribadah dan makan, dalam satu kawasan tampak elok. Masjid itu tak menampik kegiatan lain, karena hakikatnya ia hadir agar manusia bisa hidup dengan nyaman.

Sebenarnya saya juga menemukan pemandangan serupa dengan masjid al-Muttaqin, yang paling dekat dengan rumah. Di sekitar masjid, warung makan bertebaran. Bahkan, dalam jarak beberapa meter, terdapat lokasi pasar malam yang selalu disemuti oleh orang ramai setiap hari Kamis sore. Menjelang malam, kita bisa mereguk banyak kesenangan. Namun, siapa pun tahu bahwa makan itu hanya menghabiskan waktu tak lama. Selanjutnya, manusia akan mengasup keperluan batin dalam waktu yang tak terbatas. Marilah bersembahyang, Marilah raih kebahagiaan! 

Monday, September 17, 2012

Salmon


Seingat saya, kami membeli ikan salmon hanya sekali. Isteri saya membelinya untuk si kecil, Mutanabbiyya, agar ia tumbuh dengan baik, itupun hanya beberapa potong. Menurut kabar, gizinya tinggi. Saya sendiri lebih menyukai ikan tongkol, yang banyak dijumpai di pasar malam Tanah Merah, Kedah atau Tun Sardon Pulau Pinang. Selera ini terbit karena sejak kecil  di kampung Masjid, Sumenep, ibu acapkali menyediakan menu ikan yang kami sebut cakalan, baik digoreng maupun dimasak pedas. Saya sangat menikmati daging berwarna coklat dari ikan ini, termasuk telur yang masih menempel di badan, belum sempat ditetaskan.

Lalu, mengapa ikan salmon di atas hinggap di meja pasaraya jauh-jauh dari Seberang? Karena hukum pasar: persediaan dan permintaan. Yang terakhir hadir karena orang ramai ingin mengasup makanan yang sehat dan berkhasiat. Lagipula, ikan yang diimpor dari luar dan berharga mahal menaikkan gengsi dan prestasi. Pendek kata, makan tidak hanya melulu tentang asupan, tetapi juga gaya hidup. Dunia tanpa batas ini telah memorakporandakan peta geografi kita. Uang bisa menggerakkan ikan nun jauh di sana melompat ke meja makan kita. Namun pernahkah kita memikirkan adakah sikap ini membantu nelayan tetangga sebelah kita?

Kita bergegas untuk terus berburu kenikmatan, menemukan kelezatan pada makanan. Apabila anak-anak kita membesar dengan cara hidup kita yang memanjakan selera dengan membeli gizi dari luar, maka hari ini kita telah mengubur harapan orang setempat untuk mengail rezeki dari tanah, laut dan buminya sendiri.  Pada masa yang akan datang, kita telah merasa nyaman menjadi orang lain karena seleranya harus dibeli dari negeri yang jauh.