Posts

Showing posts from August, 2009

Menemukan Wakil Rakyat

Image
Secara kebetulan, saya menemukan peristiwa di atas. Seorang wakil rakyat menemui pedagang sambil memberikan t-shirt, penutup mulut dan brosur peringatan wabak flu babi. Hebatnya, pemilu telah usai dan pemilu selanjutnya masih lama, tetapi wakil dari salah satu partai di Pulau Pinang, tempat saya tinggal, turun ke bawah. Saya sempat berbincang dengan pembantunya. Malah, turut mengikuti ketika anggota legislatif keturunan India ini menugaskan stafnya untuk meluluskan permintaan seorang warga yang kebetulan ada di situ mengenai permohonannya pada salah satu departemen yang belum diluluskan.

Sore itu, saya betul-betul menemukan peristiwa yang menyenangkan, tidak hanya bertemu dengan pekerja pasar yang berasal dari satu kampung, namun melihat bagaimana fungsi keterwakilan itu benar-benar berjalan. Sosok seperti ini seharusnya menjadi anutan para anggota DPRD dan DPR di Indonesia yang baru disahkan. Di tangan mereka, masalah rakyat didengar dan dicarikan jalan keluar, seperti saya temukan pa…

Meraup Berkah Puasa

Image
Hari kedua puasa, kami bersama keluarga Pak Cik, tetangga flat, mengunjungi pasar Ramadhan di Pasar Tun Sardon untuk membeli panganan dan lauk-pauk matang. Hanya sekian menit, kami pun sampai di pasar rakyat, sebelumnya setiap hari Rabu juga menjadi tempat pasar malam. Di tengah melihat begitu banyak pilihan, saya dan isteri mendekati lapak penjual ayam bakar. Tak hanya membeli, kami pun beramah tamah dengan penjualnya, dua orang perempuan asal Madura dan Lamongan. Keduanya telah lima tahun bekerja sebagai pembantu pada majikan Melayu.

Lalu, seusai mengelilingi pasar, kami pun beranjak pulang, menuju Bazaar Ramadhan depan kampus Asrama (lihat gambar di atas). Di sana, kami banyak berjumpa dengan mahasiswa asal Indonesia yang juga mencari menu berbuka. Malah, saya sempat ditawari kurma, yang kebetulan digelar oleh penjual dadakan, mahasiswa aktivis kampus. Karena di rumah masih ada, saya pun meminta diri dan berjanji untuk kembali. Tentu pasar dadakan ini menambah suasana sore itu hiruk…

Berbuka Puasa di Konsulat

Image
Tahun yang lalu, mahasiswa dan staf konsulat berbuka puasa dengan duduk di kursi, tetapi sekarang mereka lesehan, duduk di atas tikar plastik. Seperti tampak dalam gambar, Bapak yang berbaju putih adalah Mr Moeniru Ari Soenanda, konsul jenderal, yang didampingi beberapa mahasiswa, Noval, Hamimu, Yatno, Heri, Syukri dan Rizal. Sementara di depannya, Isyam, Pak Wahyu, Pak Kasim, Wahyu dan Faisal, saya tak tahu pasti sebelum Pak Wahyu, berkopiah hitam. Sambil menunggu bedug, tepat azan Magrib, kami bertukar cerita. Sementara di ujung sana, beberapa mahasiswa juga melakukan hal yang sam.a

Ditingkahi rinai hujan, kami akhirnya berbuka dengan menu yang beragam, seperti kue, kurma, kolak dan aneka jenis minuman. Rizal, mahasiswa Teknologi Industri asal Palembang, melantukan azan. Saya pun mengambi kue dan kurma tiga biji dan air jeruk kotak. Tak lama kemudian, kami pun bersiap-siap berjamaah maghrib. Dr Ali Jamhuri, doktor Manajemen asal Malang, menjadi imam Maghrib. Kira-kira 10 menit, semba…

Sebagian Kebersamaan Kami di Sana

Image
Sebagian besar tampak muram karena tim yang didukung kebobolan dan tanpa bisa membalas. Namun, perasaan seperti ini adalah wajar. Agak jarang seseorang merasa gembira menerima kekalahan, dan sangat tidak mungkin berjingkrak kegirangan untuk merayakanya. Di sela kesedihan ini, mungkin ada sesuatu yang menyembul, yang bisa dimunculkan kegembiraan karena telah berhasil bermain dan menyuguhkan pertandingan bagi khalayak.

Di tengah minimnya dana, kerjasama antara mahasiswa telah mampu keluar dari mitos 'tak ada dana, tak ada kegiatan'. Kegiatan sebegini telah menantang siapa pun untuk saling bahu membahu mengatasi keterbatasan. Pekerjaan ditanggung setiap individu yang telah disepakati pada rapat penyusunan panitia, tukang motret, konsumsi, transportasi, perlengkapan, acara dan lain-lain. Mereka pun tak dibayar, malah kaos panitia berwarna hitam yang tertera kata Crew PPI USM CUP IV adalah hasil urunan setiap panitia. Ya, mereka tidak hanya tidak diganjar dengan uang, malah harus m…

Say No to Plastic Bags

Image
Katakan tidak pada tas plastik! Sebuah slogan kampanye yang acapkali ditemukan di pelbagai sudut kampus, warung, toko dan dalam pelbagai kesempatan. Kali ini, pesan ini ditempelkan pada perut Badut dalam sebuah pameran wisuda. Tentu, pesan ini akan dilihat banyak pengunjung luar, selain mahasiswa, yang akan membawa pulang pesan itu hingga ke hati. Ironinya, pesan itu justeru di tulis di plastik. Aneh, bukan?

Kurangi Penggunaan Plastik

Image
Kampanye pengurangan penggunaan plastik pada pameran menyambut wisuda Universitas Sains Malaysia merupakan langkah bijak karena di sekelilingnya adalah gerai yang menjual aneka makanan. Tentu, pembungkus yang digunakan kebanyakan plastik, hanya sedikit yang menggunakan kertas daur ulang. Saya pun tak bisa mengelak menggunakannya ketika membeli panganan.

Berbeda ketika membeli barang keperluan yang tidak berminyak, saya tidak meminta plastik. Minuman yang saya suka acapkali diletakkan begitu saja di keranjang sepeda motor. Penjual kedai terpaksa mengangguk sambil tersenyum ketika saya menolak tawaran plastik dengan bertukas save the planet. Tentu tak arif hanya membeli satu kotak minuman seharga RM 1.20 dan sebuah koran Sinar Harian saya membawa plastik pulang. Selama barang itu bisa digenggam, sebaiknya memang kita tak perlu meminta plastik pembungkus. Mubazir!

Kemarin, malah, kami membawa tas green bag, produk Tesco, agar kami tak membawa banyak plastik ke rumah. Tas ini dibuat dari se…

PPI USM CUP IV

Image
Permainan telah usai. Satu hari sebelum hari kemerdekaan, mahasiswa Indonesia menggelar final PPI USM CUP IV di lapangan stadion Kampus. Sebuah pertunjukan yang menyenangkan!

Hari Keluarga PPI USM

Image
Setelah lomba olahraga antar mahasiswa, kami pun merayakan kebersamaan dengan makan malam dan nyanyian. Sebelumnya, para peserta dipilih untuk menyampaikan pesan. Tak pernah ada keindahan yang secerah malam itu, salah satu larik yang sempat muncul pada acara itu. Di sini, tua muda tumpah ruah. Malah, anak kecil pun turut bermain, mengikuti tingkah orang tuanya. Kadang ada jarak emosional karena faktor usia, tetapi ini pun luruh oleh lagu dan celotehan lucu.

Bertempat di Bistro USM, sebuah gedung bertahun 1938 bekas barak Inggeris, kami pun merenungkan kembali Indonesia. Meski ada gelak tawa, tetapi semua sadar bahwa di tangan anak muda masa depan negeri khatulistiwa itu dipelihara dengan cinta. Rezki dan Inda menyanyi dengan sangat menyentuh, ditambah petikan gitar Ariel dan Andrea, gelap malam semakin sempurna sebagai kebahagiaan. Reiza juga turut menyumbang lagu lucu, dan mereka pun tertawa lepas. Saya yang tua turut melepas tawa, meski tak cukup mengerti, sebab lagu itu bukan Rhoma…

Laskar Pelangi Hebat dalam Filem

Image
Sumber: Berita Harian, 31 Juli 2009
Kejayaan itu dicapai hasil kerjasama erat pengarang novel, pengarah

KETEPATAN memilih masyarakat Melayu di Belitong, Indonesia, dalam Laskar Pelangi oleh pengarangnya, Andrea Hirata, sebagai latar tempat dalam pengkisahan, memberi nilai tambah pada novel terbabit sehingga ia boleh dijadikan sebagai karya sepunya pembaca Melayu di tiga negara berjiran iaitu Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Pendekatan terbabit juga membezakan Laskar Pelangi daripada novel dakwah penuh kontroversi, Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman el-Shirazy yang mengambil Mesir sebagai latar cerita dan plot sehingga menjadi ikutan ramai penulis di negara, tetapi kurang mesra dengan peradaban identiti dunia Melayu.
Kejayaan Laskar Pelangi kekal sebagai teks sastera meskipun selepas diadaptasi ke filem atas kebijaksanaan pengarah filem terbabit, turut diperakukan pada Diskusi Novel Laskar Pelangi di Dewan Seminar A, Universiti Sains Malaysia (USM), Minden, baru-baru ini.

Calon Dokt…

Pelestari Kompang

Image
Inilah wajah pelestari kompang, Encik Haji Zainuddin bin Andika. Dalam seminar membincangkan Kompang: Tradisi dan Transformasi, wawancara dengan pemelihara tradisi ini disisipkan dalam sebuah klip video pendek bagaimana pejuang kemerdekaan Malaya ini tetap memproduksi alat penabuh untuk menghadirkan kompang dalam kehidupan masa kini.