Tuesday, February 27, 2007

Emoh Politik?


Ada sebuah definisi menarik tentang negara (state) dalam buku Managing Politics and Islam in Indonesia oleh Donald J Porter, yaitu ia adalah 'seperangkat organisasi yang diinvestasikan oleh otoritas untuk membuat keputusan mengikat bagi masyarakat dan organisasi, yang secara yuridis terletak di sebuah wilayah khusus dan mengimplementasikan, jika perlu, dengan kekuatan (force). Selain itu, negara terdiri dari lembaga legal-formal dan pejabat resmi (birokrasi, eksekutif, legislatif, polisi, pengadilan dan militer dan intelijen.

Lalu, bagaimana jika pejabat resmi itu lemah, bisa dipastikan keputusan yang seharusnya mengikat, menjadi longgar. Hampir-hampir, di segala lapisan praktik penyimpangan, tapi diterima karena dianggap lumrah. Keadaan kaotik adalah pemandangan biasa.


Monday, February 26, 2007

Yang dicela dan dipuja

Tak semua orang suka film India, tapi tak mungkin kita 'bisa' mengelak bahwa budaya kita adalah turunan Negeri Gangga ini.

Buku bertajuk Socioloty Goes to the Movies mengajak kita untuk memahami fenomena film Bollywood dari kajian sosiologi. Lebih khusus, ia mencoba untuk memahami kemungkinan hubungan antara sinema, kebudayaan dan masyarakat melalui sebuah perbincangan antardisiplin dengan kajian terhadap sinema dari film dan media dan kajian budaya (cultural studies).

Ada sebuah kutipan menarik dari seorang pengarah musik (music director) Kalyanji, "In India life begins and ends with music. For instance, a newborn baby is greeted into the world by songs...there is a song and dance when he weds and dies." (hlm. 47)

Adalah tidak aneh jika kita harus menghela napas sejenak ketika di dalam alur cerita, tiba-tiba disuguhkan sebuah tarian. Sebuah scene yang bisa masuk dalam segala cuaca. Di sini, kita sekaligus bisa memahami bahwa tarian adalah ekspresi segala, dalam sedih dan gembira, bahagia dan sengsara dan tangis dan gembira.

Mereka yang Mesti Bicara

All men are intellectuals, one could therefore say: but not all men have in society the function of intellectuals (Antonio Gramsci, Prinson Notebooks, hlm. 9)

Kutipan di atas menjadi sangat penting. Paling tidak, ia akan menyenangkan semua orang. Intelektual dalam struktur sosial boleh dimasukkan sebagai kelas menengah. Mereka dipandang sebagai kekompok yang 'berkuasa' karena ide-idenya.

The ideas of the ruling class are in every eposth the ruling ideas: i.e. the class which is the ruling material force of society, is at the same time its ruling intellectual force. The class which has the means of material production as its disposal, has control at the same time over the menas of mental production, so that thereby, generally speaking, the ideas of those who lack the menas of mental production are subject to it. The ruling ideas are nothing more than the ideal expression of the dominant materials relationship grasped as ideas...Insofar, therefore, as they (the individuals of the ruling class) rule as a class and determine the extent and ocmpass of an epoch, it is self-evident that they do this in itw whole range, hence among other things rule also as thinkers, as producers of ideas and regulate the production and distributions of ideas of their age. Thus their ideas are the ruling ideas of an epoch. For instance, in an age and in acountry where royal power, aristocracy and bourgeoisie are contending for mastery, the doctrine of the separation of powers proves to be dominant idea and is expressed in an eternal law. (lihat Manheim dalam Ideology and Utopia).

Sunday, February 25, 2007

Debat lewat Milis

Ada adagium dalam ilmu filsafat bahwa pengetahuan itu lahir dari pertanyaan. Berangkat dari asumsi ini saya bertanya:

Saya tidak tahu, sejak kapan ada Lembaga Kajian Pasca Sarjana (Institute of Post Graduate Studies) di Universiti Sains Malaysia? Mungkin, ketika Yusril sekolah di USM, beliau menyelesaikan doktornya di jurusan ini? Padahal kalau ditilik kata postgraduate merujuk kepada jenjang pendidikan, bukan sebuah disiplin atau kajian, apatah lagi jurusan. Uniknya lagi, label sebagai pakar hukum tata negara, tapi lulusan Institute of Post Graduate Studies? Tak pelak, kita tidak perlu menjadi ahli sesuai dengan jurusan yang kita ambil?

Jadi, saya tidak sedang membuat pernyataan. Jelas, tidak ada sepotong kalimatpun yang menyatakan bahwa sang wartawan telah melakukan kesalahan (sebagaimana kesimpulan Pak Syukri) dan apalagi menggugat keabsahan gelar Doktor Pak Yusril (sebagaimana kekhawatiran Mas Faiqun).

Saya juga menyadari sepenuhnya, tulisan yang bercorak features itu dibuat dalam keadaan ‘deadline’ jadi agak susah untuk melakukan apa yang disebut dengan investigative reporting atau jurnalisme sastrawi dalam bahasa Mas Andreas Harsono (lihat majalah Pantau dalam http://www.pantau.or.id/). Dian, sahabat wartawan saya, menyatakan bahwa itu bukan kesalahan fatal.

Hakikatnya, saya sedang menanyakan istilah-istilah kunci yang digunakan di dalam sebuah paragraf yang menimbulkan pertanyaan hermeneutis. Jika, teman-teman milis bersedia menjawab, maka sebenarnya kita sedang melakukan sebuah dialog falsafah.

Persoalanya, kadang kita tidak bisa dilepaskan dari horizon of expectation, di mana masing-masing individu melesakkan ‘harapan’nya sendiri akan makna sebuah teks, sehingga teks (dalam hal ini pertanyaan yang saya ajukan) menjadi ‘liar’. Tapi, saya mafhum karena bahasa itu adalah penyederhanaan dari realitas yang rumit.

Lebih jauh, saya akan mencoba untuk melihat ihwal yang dipersoalan, yaitu IPS atawa Institut Pengajian Siswazah sebagai jawatan yang mengurus administrasi kemasukan (enrollment). Sementara mahasiswa belajar di masing-masing pusat pengajian (School) atau fakulti (Faculty). Jadi, menurut saya, kita tidak belajar di IPS, melainkan di masing-masing jurusan yang berada di bawah pusat pengajian dan fakulti. Menurut salah seorang profesor, Yusril dulu belajar ilmu politik di Pusat Pengajian Ilmu Kemasyarakatan. Tambahnya lagi, dia pintar.

Coba bandingkan jika kalimat beritanya ditulis dengan uraian sebagai berikut: Yusril yang lulusan (atau alumnus, jadi bukan alumni, seperti dikatakan oleh Pak Syukri, sebab yang terakhir ini adalah jamak) PhD dari Ilmu Sosial Kemasyarakatan Universiti Sains Malaysia, menurut saya, adalah informasi yang lebih tegas (dalam bahasa ilmu komunikasi disebut straightforward information).

Sebenarnya, saya menggulirkan wacana ini untuk membandingkan bagaimana mahasiswa USM dan luar USM di Malaysia melihat persoalan di atas secara objektif. Sampai hari ini, pelajar USM tidak ada yang menegaskan sikap. Sementara Ismail S Wekke dari UKM, menyatakan bahwa meskipun beliau ‘dekat’ dengan Bang Yusril, kalau beliau salah ia akan tidak mendukungnya (kalimat dari saya sendiri).

Jika diakhir kalimat saya menyatakan siapakah yang akan menjadi pecundang dan pemenang? Ini adalah pertanyaan perangsang agar teman-teman tergerak memberikan pendapat. Ternyata memang kedua-duanya dimenangkan oleh SBY. Semua bisa tersenyum, meskipun sempat saling ledek. Yusril bilang pada Ruki, “Lu, stroke?” dan yang terakhir menimpali, “Mau adu panco”. Nah, mengenai ledekan ini, terserah teman-teman mau menafsirkan makna di sebalik kata verbal.

Sebelum saya mengakhiri tulisan singkat ini, saya mengutip kata-kata Eric Berne, “Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah.“

Friday, February 23, 2007

Melahirkan Anak yang Riang

Kalau Anda melihat buku ini, pertama yang terlintas adalah dua bocah perempuan yang tertawa lepas (keturunan China dan Afrika Amerika) dan dua orang yang tak begitu jelas, namun menunjukkan bahasa tubuh yang sama, gerakan kegembiraan. sebuah pemandangan yang acapkali kita lihat di sekitar kita. Mungkin, sekilas terbersit di benak bahwa buku ini akan membuat anak-anak menunjukkan keriangan yang sama.

Buku yang bertajuk Raising an Optimistic Child, sebagaimana kata pengarangnya, adalah untuk memberikan alat memahami sebab umum dan abadi dari depresi yang dialami anak. Meskipun karya ini diilhami dari temuan-temuan dalam psikologi, neorobiologi dan genetik, tapi sang penulis tidak menyediakan ruang yang besar untuk menjelaskan bagaimana teori-teori ini bekerja dan melihat dunia anak kecil, melainkan keduanya menitikberatkan pada bagaimana gagasan besar dalam dunia ilmiah itu diterjemahkan menjadi tindakan praktis sehari-hari.

Dengan bahasa yang bisa diakses pembaca secara umum, buku ini mengingatkan kita bahwa anak-anak sekarang terancam oleh perkembangan teknologi yang pesat. Namun demikian, dalam keadaan seperti ini, sebenarnya banyak unsur-unsur yang memungkinkan lahirnya generasi yang optimis dan mengalami kebahagiaan abadi yang otentik, persahabatan sejati dan pemenuhan kebutuhan yang sebagian besar bisa dimulai sejak usia enam tahun. Demikian juga terbuka kemungkinan bagi meruyaknya depresi, kecemasan dan banyak penyakit fisik, dari penyakit jantung hingga kencing manis.

Karya ini menyediakan informasi bagaimana orang tua dari anak kecil menciptakan kondisi yang membantu keberlangsungan optimisme dan mencegah depresi. Memang, bagi orang dewasa tidak terlalu susah untuk menghadapi hilangnya mood, dengan cara merubah cara mereka berpikir tentang sesuatu, namun pendekatan semacam ini tidak berlaku bagi anak kecil. Sejak dilahirkan hingga usia enam tahun, anak kecil justeru meniru bagaimana orang tua mereka berpikir dan mengekspresikan emosi. Otak anak kecil, jelas sang penulis, adalah sebuah alat perekam yang akan menyimpan setiap perilaku interaksi antara orang dewasa dan akhirnya digunakan untuk melakukan hal yang sama ketika dewasa.

Selanjutnya, kita akan diperlihatkan apa yang harus dilakukan terhadap anak kecil kita jika mereka tampak malas-malasan, titik awal depresi. Di sini orang tua seharusnya menilik kembali bagaimana menjadi orang tua yang optimistik. Paling tidak, ada enam faktor yang harus mendapat perhatian, yaitu orang tua mempunyai hubungan yang baik, meluangkan waktu dan penuh perhatian, bersikap empati dan konsisten, nilai-nilai bersama dan akses terhadap lingkungan alamiah yang penuh tantangan.

Selain orang tua melihat ke dalam, mereka juga perlu memahami hal apa yang menyebabkan buah hatinya terserang depresi. Dalam psikiatri, depresi bisa dimulai sejak dalam kandungan apabila sang ibu mengalami ketertekanan ketika sedang hamil. Tanda-tanda depresi anak meliputi perasaan, pikiran, fisik dan prilaku (lebih jauh lihat hlm. 27-28).

Pemicu ketertekanan anak itu sendiri ternyata bersumber dari dunia sekelilingnya, seperti depresi orang tua, pemisahan dari ibu pada masa awal kelahiran, perceraian atau konflik keluarga, kematian atau penyakit dari anggota keluarga, penderaan fisik, kurangnya penghargaan dan dorongan dan seterusnya (hlm. 30-31).

Setelah kita mengenali faktor orang tua, tanda-tanda dan pemicu depresi pada anak kecil, penulis memberikan langkah-langkah praktis untuk mengatasi semua itu, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pasangan normal. Bagian penting ini diletakkan pada bab ke dua.

Menariknya, upaya mengatasi depresi yang tertinggi adalah spirualitas. Ini didasarkan pada beberapa kajian terbaru, di antaranya Pusat Medik Universitas Duke di bawah pengayoman Profesor Harold Koenig, menunjukkan bahwa spiritualitas, dalam segala manifestasinya, berangkali merupakan anti-depresi yang paling ampuh. Tanpa nilai-nilai spiritual, kehidupan kita hampa, tanpa sebuah sistem kepercayaan, kita akan menjadi pecundang.

Lalu, apa kaitannya dengan anak kecil? Ternyata nilai-nilai spiritualitas merupakan sarana untuk mengukuhkan dan memasuki dunia batin yang damai, yang menjadi dasar bagi optimisme bagi orang tua dan sekaligus anaknya. Selain itu, ia juga menguatkan kebersamaan keluarga. Namun, sang penulis mengingatkan bahwa meskipun kebanyakan keluarga mempunyai kebiasaan dan adat, tetapi acapkali bukan ritual sejati. Dengan merujuk kepada pernyataan David Cortesi bahwa sebuah tindakan ritual hanya akan menjadi rutinitas jika tidak disertai kesedaran akan makna simbolik dan emosinya, buku ini menyuarakan hal yang sama dengan prinsip-prinsip keagamaan secara umum untuk tidak memisahkan agama dari ruh dan semangatnya.

Di sini, penulis memberikan pesan yang sebenarnya akrab dengan kita, yaitu meditasi, doa, ibadah, menghadiri tempat suci, menikmati alam sambil berjalan kaki, menjadi sukarelawan untuk kegiatan amal, memelihara binatang dan musik yang akan melonggarkan ketegangan orang tua yang diikuti tarian sang anak.

Meskipun buku ini ditujukan untuk orang tua, namun hakikatnya ia bisa dibaca juga oleh mahasiswa yang bisa menjadi ‘penyampai’ pesan untuk orang tua keponakannya dan tentu saja para pendidik di negeri ini agar tidak mengulang melahirkan generasi yang membuat bangkrut bangsa ini.


Judul Buku : Raising an Optimistic Child
Penjulis : Bob Murrah, Ph.D. dan Alicia Fortinberry
Penerbit : McGraw-Hill
Cetakan : 2006
Tebal : 239 halaman+ Indeks

Ahmad Sahidah Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Thursday, February 22, 2007

Isu Politik selalu menarik, Mengapa?

Iseng-iseng saya memancing respons teman-teman Universiti Sains Malaysia tempat sekolah Yusril dahulu kala.

Inilah petikannya:
Kalau Anda membaca halaman utama Jawa Pos hari ini (baca: kamis, 22/2/07) mengenai "Yusril dekati Kalla", Anda akan menemukan paragraf pertama sebagai berikut:

JAKARTA - Sadar posisinya di kabinet sedang kritis, Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra melakukan berbagai upaya. Salah satunya, kemarin, pakar hukum tata negara lulusan Institute of Post Graduate Studies, Universiti Sains Malaysia, itu melobi Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Saya tidak tahu, sejak kapan ada Lembaga Kajian Pasca Sarjana (Post Graduate Studies) di Universiti Sains Malaysia? Mungkin, ketika Yusril sekolah di USM, beliau menyelesaikan doktornya di jurusan ini? Padahal kalau ditilik kata postgraduate merujuk kepada jenjang pendidikan, bukan sebuah disiplin atau kajian, apatah lagi jurusan. Uniknya lagi, label sebagai pakar hukum tata negara, tapi lulusan Institute of Post Graduate Studies? Tak pelak, kita tidak perlu menjadi ahli sesuai dengan jurusan yang kita ambil?

Terlepas dari ini, mungkin kita perlu mencermati siapa yang akan menjadi pecundang dalam pertarungan dua gajah ini: Taufikurrahman Ruki dari KPK atau Yusril Ihza Mahendra dari Mensetneg? Mungkin, sampul Gatra edisi baru telah menerjemahkan dengan baik perkelahian dua pejabat tinggi ini, Ruki menggunakan tameng bergambar Presiden dan Yusril menggengam 'partainya' Bintang Bulang (sebelumnya Bulan Bintang? Maklum tak lolos electoral threshold).

Kira-kira teman-teman Universiti Sains Malaysia mendukung abang kita nggak ya? Nah, saya sendiri masih tepekur sambil mendengarkan lagu dari Take That yang melankolik dari radio Light and Easy FM?

Ahmad Sahidah
Mahasiswa USM

Wednesday, February 21, 2007

Islam dan Politik

Politik menjadi sangat penting untuk memahami pesan Islam. Untuk itu, ia bisa dijadikan variabel untuk menuntaskan wajah 'muram' teks yang kita pahami.

Hari ini, saya meminjam buku Islam and Politics in the Contemporary World, oleh Beverly Milton-Edwards dan sebagai penyeimbang sekaligus saya mengambil buku Identitas Politik Umat Islam oleh Kuntowijoyo.

Saya tertarik dengan pernyataan Pak Kunto di awal bab XVII (hlm. 219) bahwa dalam politik umat Islam seperti penumpang perahu yang berlayar di laut lepas, tanpa bintang tanpa kompas, tidak tahu tujuan dan tidak tahu cara berlayar. Kadang-kadang umat dibuat bingung sebab panutannya berbuat seenaknya, lupa bahwa di belakangnya ada banyak orang. Karenanya kaidah politik umat harus ditentukan dengan jelas, sehingga umat terbebas dari temperamen pribadi seorang pemimpin. Bahkan, seorang pemimpin harus mengikuti kaidah, bukan sebaliknya, menentukan kaidah.

Selanjutnya, saya akan memosisikan sebagai apa?

Tuesday, February 20, 2007

Sore yang Segar

Jogging adalah kebiasaan yang selalu mendatangkan rasa segar di tubuh. Apalagi, keringat menetes, meski tidak deras. Saya merasa telah membakar lemak yang bersarang di badan. Jalan naik di restu ternyata memerlukan energi lebih. Napas memburu. Nah, dalam keadaan sebegini, saya membayangkan air membantu meredakan ketegangan karena metabolisme bekerja.

Malam ini, saya berencana untuk menyelesaikan bab lima dari disertasi agar besok bisa diserahkan pada pembimbing. Sebenarnya, ia bisa dipresentasikan pada bulan Desember, tetapi karena Bunda datang, saya terpaksa menundanya.

Radio kesayangan, Light and Easy FM selalu riang, membuat kamar selalu renyah. Pelbagai jenis musik silih berganti seakan-akan tidak memberi jeda untuk tidak riang. Angin sore menerobos lewat jendela mengelap tubuh dengan getarannya. Berbeda dengan ruang berhawa dingin karena AC, tak ada kesegeran alami.

Dari atas flat, saya melihat bedeng (tempat penampungan sementara pekerja bangunan) sebelah kampus, baru saja berdiri. Sebuah bangunan darurat yang beratapkan seng. Saya penasaran untuk menjenguknya, menyapa pekerja Indonesia yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Surat Elektronik untuk Kawan

Mas Moko,

Saya tertarik dengan sajian banjir sampeyan. Kebetulan aja, pas saya ke Jakarta, mampir ke saudara yang tinggal di sekitar Rawa Gatel, Semper Jakarta Barat.

Ketika menginap di sana, semalaman, saya harus bertarung dengan nyamuk. Obat anti-nyamuk apa pun (bakar dan semprot) tak mampu menghalanginya bernyanyi dan berpesta.

Katanya, setelah banjir, sampahnya yang tak bergerak udah dihanyutkan. Tapi, saya nggak yakin jika keadaan normal, rawa ini akan dipenuhi lagi segala macam sampah.

Saya bermimpi andaikan ratusan ribu demonstran PKS yang anti-Perang mau melakukan pembersihan, mungkin mereka akan pulang dengan kemenangan. Menentang Amerika, mereka seperti menghantam langit kosong!

Saya tetap menghargai suara partai ini, sebab kerja sosialnya sedikit lebih baik daripada yang lain. Dulu, saya aktif di PAN, dan sekarang non-partisan, meskipun berasal dari sebuah keluarga yang berlatang belakang tradisi NU, Madura lagi.

Kalau mau ke KL, Mas boleh kontak saya.

Terima kasih.
Ahmad Sahidah

Selipan: Lagu Lady oleh George Benson selalu buat saya tentram, damai dan sejuta rasa.

Monday, February 19, 2007

Optimisme di Tengah ketidakpastian

Oleh Ahmad Sahidah

Haruskah kita pesimis menghadapi banyak kejadian yang menyesakkan tidak hanya perasaan terdalam tapi juga akal budi ? Mungkinkah saudara kita masih kuat dihadapkan peristiwa yang acapkali mendekati tubir keputusasaan? Tidakkah semua diri kita terlalu memaksa untuk menerimanya sebagai kenyataan?

Peristiwa yang penuh dengan anomali yang ditunjukkan dan dipraktikkan oleh masyarakat kita sendiri, yang dikatakan di dalam buku dan pidato, mengagungkan nilai-nilai luhur sebagai bangsa yang beradab tidak lebih omong kosong. Bahkan, nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil di buku pelajaran itu telah menguap bersama merebaknya konflik, tindak kejahatan, para pemimpin yang tidak punya hati, dan kejujuran yang tidak menjadi bagian praktik politik bangsa ini. Terlalu banyak daftar paradoks yang nampak di mata kita.

Adalah melelahkan ketika kita mencoba untuk memahami satu demi satu ketidakmasukakalan yang diperlihatkan di televisi, surat kabar, majalah dan selebaran yang mencoba untuk menampilkan wajah kemanusiaan, atas nama apapun, sementara kenyataan selalu bicara lain. Begitu besar simpati yang diberikan bangsa ini pada nasib Palestina dan penolakan kedatangan George W. Bush, sementara di Jakarta sendiri persoalan lingkungan terabaikan, tempat ribuan warga bertempat tinggal. Selokan tergenang yang dipenuhi sampah dan perumahan kumuh yang tak layak huni luput dari perhatian.

Saya tidak bisa membayangkan jika ribuan para demonstran selama ini dikerahkan untuk membersihkan aliran kali Rawa Gatel di Semper Jakarta Barat. Tidak saja, setiap orang akan menutup hidung dan miris melihat ribuan orang tinggal di sepanjang kali ini. Hebatnya lagi, nyamuk tidak mempan lagi dibasmi dengan bahan kimia.

Akar mental bangsa

Tidak dipungkiri bahwa inferioritas bangsa kita di mata asing akibat akumulasi dari pengalaman bawah sadar sebagai bangsa jajahan. Di satu sisi kita menganggap nilai-nilai bangsa dijunjung tinggi, tetapi di sisi lain, justeru kita memanjakan sikap permisif menjadi penyangga bagi hubungan kemanusiaan kita.

Ukuran kemajuan telah menemukan bentuknya pada nilai-nilai artifisial yang menempel pada produk-produk luar, yang bahkan banyak mendapatkan kritik dari negerinya sendiri, karena tidak memperhatikan kesehatan, lingkungan dan masa depan ekologi. Sikap fleksibel bangsa ini terhadap keberlainan (otherness) tidak bisa dijadikan alasan bagi pengambilan nilai-nilai lain begitu saja atas nama modernitas dan kemajuan (progress).

Sikap mimesis bangsa ini bisa dilacak pada pengalaman penjajahan yang sangat lama, sehingga untuk mendongakkan kepala kita tidak punya nyali. Sikap keras dan peryataan kedaulatan atas dirinya tidak lebih untuk konsumsi media dan tetap tak berkutik menghadapi perlakuan meremehkan dari bangsa lain. Sebenarnya, afirmasi terhadap diri bukan berarti penegasian yang lain. Eksistensi yang lain bukan ancaman bagi kita, tidak seperti akar eksistensi Sartre yang mengandaikan bahwa orang lain sebagai neraka, ancaman. Sehingga tindak-tanduknya menjadi kontraproduktif bagi penciptaan komunitas sebagai warga dunia. Perlu juga disadari bahwa kebedaan ini adalah suatu niscaya, yang menurut Gadamer (1975: 405), orang-orang yang dibesarkan di dalam tradisi linguistik dan kultural khusus melihat dunia dengan cara yang berbeda dengan orang yang memiliki tradisi lain.

Namun demikian, Barat tidak tunggal. Emmanuel Levinas, justeru mengkritik Jean Paul Satre, dengan mengatakan bahwa keberadaan kita adalah keselamatan bagi yang lain, bukan predator. Sikap religius ini tidak harus dihadapkan secara diametral dengan pemikiran kebebasan filosofis. Keduanya saling mengukuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia yang terancam oleh ketamakan dan kerakusannya sendiri.

Sejatinya, pertemuan dengan pemikiran dan budaya lain dengan sendirinya mengkayakan pengalaman batin bangsa ini menghadapi keadaan yang tidak bisa dipastikan arahnya. Hanya dengan sikap terbuka dan penerimaan yang lain sebagai bagian entitas yang juga menganggap persoalan bangsa ini sebagai persoalan bersama, bukan malah menjadikan persoalan keruwetan bangsa ini sebagai amunisi untuk menghantam kelompok lain dalam usaha meraih keuntungan sesaat, baik ekonomi ataupun kekuasaan, maka keadaan tidak akan bertambah buruk.

Optimisme yang realistik

Schopenchaeurian merasa pesimis bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Dalam sejarahnya, dunia selalu mengalami keadaan kaotik yang datang silih berganti. Tentu saja, kita tidak bisa menafikan kenyataan ini. Namun, tidak berarti sikap pesimis menjadi cara pandang untuk memahami persoalan dan upaya untuk menyelesaikannya. Optimisme justeru membuat kita bergerak, dinamis dan bergairah dan keadaan sulit ini akan mengantarkan kita pada sikap realistik.

Kita tidak bisa merubah kondisi bangsa ini semudah membalikkan telapak tangan. Kerusakan yang ditimbulkan selam lima puluh tahun perjalanan bangsa ini hampir tak terperikan. Dengan keragaman etnik, agama, bahasa dan kebudayaan, hampir-hampir komunitas yang dibayangkan (imagined community) tentang Indonesia adalah utopia. Justeru, karena common denominator, Pancasila, telah dijadikan pijakan bagi kehidupan berbangsa maka perbedaan itu dilihat sebagai mozaik dan kekayaan dari bangsa ini, bukan faktor pemicu untuk memisahkan diri sebagai negara-bangsa. Disintegrasi hanya akan menambah keruwetan dan keadaan tak terkendali.

Sebenarnya, jika seluruh komponen bangsa ini berhenti sejenak untuk menghadapi krisis ini sebagai persoalan bersama, maka secara perlahan seluruh penghalang bagi terciptanya keadaan yang lebih baik akan diperoleh, meskipun tidak segera. Kita tidak lagi terperangkap pada kebenciaan yang luar biasa, sebab pada hakikat kesalahan itu bisa diperbaiki dan dimaafkan. Bahkan Hannah Arendt menegaskan bahwa keinginan untuk menuju rekonsiliasi adalah dengan memaafkan, seperti yang dia lakukan terhadap Martin Heidegger sebagai think-tank NAZI, namun akhirnya menyadari kesalahannya. Bagi Arendt, manusia itu bisa berubah jika didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Tampaknya, tidak berlebihan jika kita menatap ke depan dan masa lalu dijadikan pijakan untuk membuat keputusan-keputusan yang sinergis bagi perbaikan suprastruktur dan infrastruktur bangsa ini yang centang perenang. Namun demikian, proses hukum harus dijalankan (sama sekali tidak ada impunity). Sebab, dengan polarisasi orientasi politik yang sangat beragam, tidak ada satupun pemimpin bangsa ini yang akan bisa menjalankan roda pemerintahan dengan totalitas. Perolehan suara terbanyak dalam pemilu adalah salah satu syarat untuk menjalankan amanat rakyat, bukan satu-satunya. Sehingga, yang lain merasa bahwa partisipasi mereka dalam mewujudkan masyarakat yang berkeadilan juga menjadi tanggungjawabnya.

Sikap optimistik tidak hanya mengeliminir akibat-akibat yang tidak perlu dalam menyelesaikan banyaknya masalah sosial, tetapi juga memberi ruang bagi jiwa dan pikiran untuk berdamai dengan kondisi kemanusiaan universal yang penuh dengan ketidakajegan, ketidakpastian dan tidak dapat diprediksikan. Sikap tersebut di atas tidak hanya ditunjukkan sebagian dari komponen bangsa ini, tetapi oleh keseluruhan, sehingga seperti riak besar yang membentuk gelombang.

Ahmad Sahidah Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Membaca Alam

Dua hari ini, saya diliputi perasaan senang alang kepalang. Ini karena hujan mau menyapa bumi Minden yang meranggas karena kemarau. Semalam, duduk sendirian di warung nasi saya melihat gerimis berpendaran disorot lampu jalan. Semangkok sup sayur membantu hangatkan badan yang menelusup hingga ke tulang. Hawa dingin tak lagi memerangkap tubuh.

Ingin rasanya, air di langit tumpah ruah agar bumi benar-benar bermandi air kehidupan. Tapi, sayang, di pulau kecil kita bisa menghitung hujan lebat dengan jari, apalagi ia disertai angin kencang dan guruh membelah angkasa. Dari lantai 9, saya melihat pucuk rumput tampak hijau di sela-sela warna coklat sisa panas kemarin. Mata betah melihatnya, setelah terpancang ke layar komputer seharian. Bukit dirimbuni kehijauan, diam tak bergerak. Angin sedang bersembunyi.

Sambil membaca Islam and The Malay-Indonesian Worldnya Peter G Riddell, saya mendengarkan IKLIM teriak-teriak lewat walkman, yang disambungkan ke pengeras suara (speaker). Lagu-lagunya membuat saya nyaman. Mungkin, kenangan dulu berkelebat samar-samar. Apalagi teh panas menambah adrenalin untuk terus asyik dengan dunia kata. Oh ya, walkman saya ini sebenarnya udah rusak. Tapi, kemarin iseng-iseng saya melihatnya kembali (karena membaca di sebuah blog bahwa alat ini udah out of date), wow, tanda reset muncul. Lalu, saya coba dan berhasil. Serta merta saya memutar lagu KLA terbaik.

Bagi saya, membaca buku tidak sekedar keperluaan sekolah, tapi lebih jauh kebutuhan kehidupan. Ia memberikan peta tempat kita menghirup udara. Seperti buku di atas yang menguraikan dua dunia Islam yakni Malaysia dan Indonesia sejak abad ke-17 hingga sekarang. Bagaimana kitab suci dibaca oleh para sarjana dan kaitannya dengan keragaman pembacaannya. Jika, akhirnya mereka mempunyai pelbagai tafsir, ini bukan soal baru. Sejak masa sahabat Nabi, generasi pertama penerus Islam, ragam pembacaan terhadap al-Qur’an telah muncul.

***

Malam ini, langit gelap dan gerimis menghalangi kaki untuk ke warung. Makan nasi diganti dengan mie. Kalau masih belum cukup, saya bisa mengunyah roti agar tidak kelaparan. Dingin kadang membuat kita butuh energi lebih banyak.

Meskipun seharian di kamar, kecuali hanya untuk beli makan di belakang kampus, saya merasa hidup ini lapang. Dengan telepon genggam di tangah, jemari ini bisa menyapa Bunda di Jogja. Di meja, mata ini menjelajah berita tentang nusantara. Malangnya, kota saya dilanda angin puting-beliung yang menghantam rumah-rumah. Walaupun tidak luluh-lantak, tapi ia telah membuat sebagian penghuninya mengungsi.

Rumah saya di Jogja jauh dari jangkauan angin yang sedang marah ini. Saya tak tahu, mengapa kota kami selalu ditimpa bencana? Tuhan, beri kami jawab agar kami tidak menaruh dendam kepadaMu.

Sunday, February 18, 2007

BAB SATU

PENDAHULUAN

1. 1. Pengenalan
Pasti, ada sebuah hubungan antara Tuhan, manusia dan alam. Tiga hubungan ini sangat umum di dalam percakapan sehari-hari. Yang pertama adalah sebagai Pencipta dan dua yang terakhir dikenal sebagai ciptaan dan manifestasi dari wujud ketuhanannya. Tetapi, jika kita memperhatikan di dalam kehidupan yang sesungguhnya, hubungan antara mereka hakikatnya sangat rumit.

Pembahasan tentang hubungan ini dengan sendirinya menimbulkan persoalan apa Tuhan itu sebenarnya. Tidak seorangpun menyangkal bahawa kepercayaan pada Tuhan, biasanya disebut iman di dalam Islam, adalah inti dari agama. Untuk beberapa hal, Toshihiku Izutsu (1914-1993), seorang sarjana Islam Jepun yang banyak memberikan perhatian pada soalan pemikiran Islam dan telah menerjemahkan al-Qur’ān ke dalam bahasa Jepun adalah benar ketika dia mengatakan bahawa masalah berkaitan dengan konsep ini adalah sangat penting, tidak hanya kerana ia berkaitan dengan esensi dan eksistensi Islam, tetapi juga kerana pembahasan ini muncul sebagai permulaan dari pemikiran teologi di antara Muslim awal. Puak pertama kali yang terlibat di dalam arena ini adalah kelompok yang dikenal dengan Khawarij.[1]

Tentu saja, kita boleh membayangkan bahawa perdebatan ini mempunyai dampak penentu bagi kehidupan Muslim, kerana sejak masa lalu sampai sekarang, perpecahan inilah yang menyebabkan mereka terjebak dalam mengkafirkan satu sama lain, baik terhadap sesama Muslim maupun bukan-Muslim. Satu pihak menyalahkan pihak lain kerana tuduhan mempraktikan kesesatan. Demikian juga, satu kelompok dalam Islam menolak kepercayaan Tuhan kelompok agama lain bertentangan dengan milik mereka. Kedua-dua puak sama-sama menunjukkan taksub yang dengan sendirinya mengajukan pendirian yang mutlak.

Di samping hubungan di atas, hubungan manusia dan alam mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan makhluk, baik manusia itu sendiri atau persekitaran dan binatang. Kesedaran terhadap pemeliharan alam sekitar sangat menentukan kualiti mereka. Walau bagaimanapun, manusia mengabaikan susunan alam untuk mengeskploitasi sumber daya yang ada di dalamnya. Akibatnya, ketamakan ini telah menyebabkan kerosakan terhadap keseimbangan manusia dan alam.

Krisis alam sekitar, tegas Seyyed Hossein Nasr, telah menyedarkan manusia untuk mengetahui lebih baik selama zaman ini dan sebuah kesedaran yang lebih besar berkaitan dengan penyimpangan manusia moden dalam kaitannya dengan alam sekitar tempat mereka hidup. Bahkan masalah ini telah mendorong sejumlah besar universiti di Amerika dan Eropa Utara menciptakan kurikulum untuk mengajarkan dan melatih pakar yang mempunyai keprihatinan kepada soalan persekitaran.[2] Dia mengungkapkan dengan terus terang bahawa

To be at peace with the Earth one must be at peace with Heaven. In another word, peace in human society and the preservation of human values are impossible without peace the natural and spiritual orders and respect for the immutable supra-human realities which are the source for all that is called ‘human values’.

Ungkapan ini bererti bahawa hal spiritual harus ditafsirkan kembali kerana pemahaman yang sempit tentang ketundukan pada Tuhan sebagai pelaksanaan terhadap perintahNya yang disampaikan di dalam Kitab Suci dengan mengabaikan implikasi pada kehidupan sehari-hari.
Toshihiku Izutsu, pada kenyataannya, hampir secara eksklusif mengkaji hubungan peribadi antara Tuhan dan manusia dengan menggunakan analisis semantik untuk memahami al-Qur’ān. Dia cuba untuk menelaah istilah-istilah bahasanya secara analitik yang akhirnya sampai pada weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu. Jadi, semantik al-Qur’ān mempertanyakan bagaimana Wujud Tuhan itu dikonstruksi, unsur utama dunia ini, dan bahawa dua hal ini berhubungan dengan teks Kitab Suci.

Hubungan antara Tuhan, sebagaimana ditegaskan Izutsu, adalah bersifat teosentrik yang bererti bahawa Allah adalah fokus tertinggi dari kosa kata al-Qur’ān . Walau bagaimanapun, dalam beberapa hal adalah mungkin untuk menempatkan konsep manusia (insan) ke dalam kutub yang berbeza dengan Tuhan. Kerana di antara semua makhluk, manusia adalah objek yang paling penting di dalam al-Qur’ān yang sama-sama menjadi perhatiannya. Hakikat manusia, termasuk tindakan, psikologi, tugas dan matlamatnya menjadi tema utama sebagaimana juga Tuhan itu sendiri.

Paling tidak, ada empat hubungan utama, iaitu hubungan ontologi, komunikatif, tuan-hamba dan etik. Hubungan semacam ini tidak sederhana dan juga tidak unilateral; tetapi bilateral di dalam erti hubungan timbal-balik. Oleh kerana itu, hubungan khusus antara dua kutub ini secara semantik menyebabkan ketegangan dramatik dan spiritual.

Dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam membahas hubungan Tuhan, alam dan manusia,[3] Izutsu menempati kedudukan yang khas kerana beliau berasal dari sebuah negara yang bukan Islam dan mempunyai tradisi yang berbeza dalam keagamaan, kebudayaan dan pemikiran. Namun begitu, beliau juga melihat hubungan antara tradisi keduanya iaitu pemikiran Islam dan falsafah Timur, di dalam hal penjelasan eksistensi Tuhan, manusia dan alam.

Pemikiran Izutsu boleh dibandingkan dengan Muhammad Iqbal yang cuba untuk mensintesiskan secara harmoni antara Timur dan Barat berkaitan dengan hubungan Tuhan, manusia dan alam.[4] Iqbal telah berhasil melihat titik-titik kesamaan antara pemikiran ahli falsafah Muslim, tokoh sufi dan pemikir Barat, terutama pada kaum idealis dan eksistensialis, percampuran antara pengalaman mistik dan pemikiran rasional, dorongan spiritual dan realisme.[5] Tampaknya, di mata Iqbal, pembezaan esoterik dan eksoterik telah mencair, yang selama ini ditempatkan secara bercanggahan.

Memang, akhirnya perbezaan pemikiran semacam ini tidak dilihat lagi sebagai pertentangan yang sama sekali tidak boleh diperbandingkan, sebab ia muncul dari titik tolak yang berbeza yang sebenarnya terdapat kesamaan dan pandangan subjektif itu lahir dari situasi sejarah dan persekitaran yang khas. Semuanya berusaha untuk meraih kebenaran yang terdapat di dalam dunianya.

1. 2. Pernyataan Masalah
Untuk mentafsirkan teks al-Qur’ān yang telah diwahyukan pada zaman dahulu berkenaan dengan soalan di atas adalah berusaha untuk memahaminya sebagaimana adanya. Namun demikian, adalah sukar untuk melakukan ini. Di dalam sejarah panjang tafsir al-Qur’ān, para pentafsir misalnya menggunakan sejumlah cara yang berbeza. Qutaibah (meninggal 899 H) menggunakan sebuah kaedah filologi murni yang menghasilkan buku Gharib al-Qur’ān (Aspek-Aspek yang Samar di dalam al-Qur’ān) dan Mushkil al-Qur’ān (Aspek-Aspek yang Meragukan di dalam al-Qur’ān) dan Tabari, seorang sarjana keturunan Persia, yang menulis tafsir berjilid-jilid bertajuk Jami al-Bayan fi Tafsir al-Qur’ān mempertemukan seluruh bahan takwil tradisional pada masanya, dan Zamakhsyari (1055-1144) memberikan sebuah tafsir al-Qur’ān yang didasarkan pada pandangan pribadi serta bakatnya, yang memperlihatkan penguasaan bahasanya di dalam sejumlah tulisan gramatis, leksikal dan filologis.[6] Sebagaimana Izutsu, beliau juga menggunakan syair-syair Arab pra-Islam untuk memahami makna kata di dalam al-Qur’ān.

Izutsu yang menggunakan perspektif yang berbeza mencuba untuk menjelaskan beberapa soalan tentang hubungan antara Tuhan, manusia dan alam menunjukkan pada kita cara pemahaman Kitab Suci mempunyai pengaruh yang besar di dalam pencarian hakikat hubungan ini. Lebih jauh, bagi saya ia akan memberi pedoman bagi orang-orang untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan ketuhanan, kemanusiaan dan alam sekitar.

Penulis ini menjelaskan isi al-Qur’ān sebagaimana ia telah diwahyukan dengan menunjukkan tradisi penafsiran tertentu. Tentu saja, implikasi dari ini mempengaruhi pembacaan yang memberikan nuansa makna teks, yang akan menimbulkan pertanyaan apakah kekhasan penafsiran ini dan bagaimana menelaah otentisitas teks.

Hermeneutik memahami kemungkinan terjadinya pemahaman. Ia tidak berkeinginan untuk mengungkapkan kebenaran dari kandungannya. Pemahaman itu tersituasi di dalam kehidupan keduanya. Ia bersifat bias dan prasangka berdasarkan titik tolak peribadi. Namun begitu, cara pemahaman semacam ini tidak bererti kebal dari kritik kerana ia tidak hanya meneliti pandangan teks tetapi juga hubungannya dengan ide dan pengalaman individu.

Disertasi ini berusaha untuk mendapat kekhasan dan kesamaan dari ragam pendekatan terhadap al-Qur’ān yang dia ungkapkan di dalam ide tentang Tuhan, manusia dan alam. Kekhasan dengan sendirinya muncul kerana dia menelaah objek yang telah banyak melahirkan tafsir dan kedua, kerana perbezaan pembentukan pemahaman sehingga penekanannya juga berbeza, tetapi tidak menutup kemungkinan bahawa akhirnya keduanya mengungkapkan hal yang sama dengan cara yang berbeza.

1. 3. Objektif Kajian
Objektif utama dari kajian ini seperti berikut:

1. Memaparkan pemikiran Toshihiko Izutsu yang telah menggunakan pendekatan semantik untuk mengkaji hubungan Tuhan, manusia dan alam dalam al-Qur’ān seperti yang termaktub di dalam pelbagai karyanya

2. Menganalisis kajian Izutsu mengenai hubungan Tuhan, manusia dan alam dalam al-Qur’ān dengan menggunakan pendekatan hermeneutik yang menekankan hubungan dekat antara pengarang, teks dan pembaca.

3. Menemukan kekhasan dan kesamaan kajian Izutsu dengan penafsir Muslim dan pengkaji orientalis dan tempat beliau di dalam sumbangannya terhadap pemahaman al-Qur’ān khususnya dan pemikiran Islam umumnya.

1. 4. Ruang Lingkup dan Pembatasan Kajian
Untuk mencapai tujuan di atas, saya akan merujuk kepada sumber-sumber dalam mengkaji pokok-persoalan yang boleh dibahagi ke dalam dua bahagian, khususnya, sumber yang ditulis sendiri oleh Izutsu. Secara khas, buku yang ditulis untuk menjelaskan hubungan Tuhan, manusia dan alam, seperti bagi Izutsu God and Man in the Qur’an: Semantics of Qur’anic Weltanschauung, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an dan The Concept of Belief in Islamic Theology – A Semantic Analysis of Iman and Islam. Kedua, bahan sekunder tentang isu ini akan digunakan untuk menjelaskan isu yang dipersoalkan dan ketiga sumber-sumber yang berkaitan dengan tema.

Usaha untuk memahami pemikir ini pada hakikatnyat tidak boleh dilepaskan dari alat yang digunakan dalam menguraikan terperinci pemikirannya melalui bahasa. Dengan merujuk kepada pemikiran Betrand Russerl bahawa bahasa mempunyai tiga fungsi iaitu menyampaikan fakta-fakta, mengungkapkan keadaan penutur dan memujuk pembaca.[7] Namun, menurut Paul Feyerabend bahawa sebenarnya bukan fakta-fakta yang kita sampaikan, tetapi fakta-fakta itu yang telah memasuki pengetahuan kita yang telah dipandang di dalam cara tertentu dan oleh kerana itu merupakan suatu pengidealan.[8]
Jadi, pendekatan hermeneutik yang diandaikan di bawah ini tetap berangkat dari anggapan tertentu yang sudah ditetapkan dari awal bahawa memang pandangannya terhadap teks tidak dimaksudkan untuk bermaksud sebagai pandangan yang mutlak, meskipun berkecenderungan untuk syumul, sebab ia melihat sebuah karya dalam kaitannya dengan kehidupan pemikir itu sendiri dan kaitannya dengan pembaca.

1. 5. Kepentingan Kajian
Karya para sarjana yang membahas isu-isu keislaman dari pelbagai perspektif adalah sangat penting untuk memperoleh hasil yang komprehensif. Izutsu tidak lagi tergantung pada pandangan tradisional yang menekankan pada titik tolak deduktif. Disamping itu, sarjana ini menggunakan pendekatan yang khas, yang berbeza dengan penafsiran lain.

Meskipun tema ini adalah usang, sebagaimana disebutkan Izutsu, dia ingin memberikan horizon baru. Tentu saja, dia tidak mengabaikan khazanah pemikiran Islam itu sendiri untuk menjelaskan pandangan dan pendapatnya. Kebaruan tersebut adalah pendekatan yang diilhami oleh beberapa pemikiran Barat yang mempunyai perhatian pada soalan bahasa. Dengan pendekatan yang berbeza, pandangan tentang Tuhan, manusia dan alam juga akan tidak sama dengan pandangan sarjana lain.

Sedangkan dari segi pendekatan, semantik Al-Qur’ān merupakan awal bagi kajian yang berguna terhadap sistem semantik lainnya yang muncul setelah periode al-Qur’ān , seperti teologi (ilmu kalam), fikah, falsafah, tasawuf, tata bahasa, dan retorik. Manakala pendekatan lakuran antara tradisi sufi dengan pemikiran Timur akan membuka cakrawala baru bagi kajian perbandingan antara pelbagai tradisi yang akan makin mengkayakan kajian Islam itu sendiri dan luasnya perspektif yang boleh digunakan untuk melihat kemungkinan penyampaian mesej-mesej Islam yang ramah dengan kepercayaan tertentu di luar tradisinya.

Selain itu, di samping mempunyai sebuah hubungan masa lalu, negara-negara Asia tenggara dan Islam telah menjalin komunikasi dan hubungan yang berkelanjutan dengan Jepun. Sayangnya, ini lebih diarahkan pada sesuatu yang bersifat ekonomi dibandingkan wacana kultural dan intelektual. Sebagaimana dikatakan oleh Eiji Uehiro bahawa televisi, kamera dan kereta Jepun dipuji di seluruh dunia, pemikiran orang Jepun, yang sangat perlu diklarifikasi, belum dijelaskan atau dibuktikan.[9] Di sini, penulisan ini akan difokuskan pada tradisi pemikiran kesarjaan Islam Jepun, yang berbeda dengan dunia Barat dalam memandang warisan keilmuan Islam.

1. 6. Tinjauan Kajian Lalu
Machasin mengatakan bahawa God and Man in the Qur’an Izutsu memberikan sumbangan untuk menafsirkan kembali kitab suci Muslim ini di dalam perspektif lain. Lagipula, menurutnya, wawasan orang luar akan membuka horizon baru atau mengingatkan kembali khazanah pemikiran Islam yang dilupakan. Ini disebabkan pandangan mereka lebih tidak berpihak di dalam menilai fakta sejarah yang terkandung di dalam karya-karya sarjana Muslim. Sementara, bagi Muslim adalah sukar untuk melakukannya. Kebanyakan kaum Sunni tertutup terhadap warisan Mu’tazilah dan Syi’ah demikian pula sebaliknya. Akibatnya, kajian keislaman adalah warisan dari aliran tertentu.[10]

Model penafsiran Izutsu, iaitu kaedah semantik, dikategorikan sebagai tafsir maudu‘i yang berusaha untuk menangkap konsep al-Qur’ān tentang sesuatu yang bersifat khusus seperti keadilan, kebahagian dan kepimpinan. Namun demikian, model ini berbeza dengan pendekatannya yang berusaha untuk memahami weltanschauung al-Qur’ān, atau pandangan dunia al-Qur’ān, dengan kata lain pandangan al-Qur’ān tentang semesta melalui analisis terhadap istilah-istilah kunci, dengan merujuk kepada khazanah sastra Arab klasik – pra-Islam. Lebih jauh, Machasin menyatakan bahawa karya semacam ini telah dilakukan oleh kaum Muslimin, iaitu al-‘Amali, karya Abu ‘Ali al-Qali dan al-Iqd al-Farid oleh Ibn ‘Abd Rabbih. Namun pada zaman moden, mod semacam ini hampir dilupakan.[11] Machasin dengan tegas mengatakan bahawa sumbangannya terhadap pemikiran Islam adalah tulen mengingat pemikir Muslim tidak lagi memperhatikannya.

Fazlur Rahman menulis sebuah ulasan khas[12] terhadap karya ini yang mempertimbangkan tidak hanya kaedah linguistiknya tetapi juga bahan yang dikaji sama-sama penting.[13] Namun demikian, pendekatan yang diandaikan menghasilkan sebuah pemahaman sistem secara keseluruhan kerana Izutsu menjamin bahawa “istilah-istilah kunci menentukan sistem” sebenarnya dilema. Alasannya kerana istilah tersebut tidak boleh difahami dan bahkan ditentukan tanpa sebuah pengetahuan tentang sistem itu sebelumnya.

Di dalam beberapa bahagian, Rahman mengkritik Izutsu yang terlalu bercita-cita tinggi untuk menjelaskan al-Qur’ān atas dasar pencarian “struktur dasar” dan “konsep-kunci” al-Qur’ān . Bagi Rahman, tanpa pendekatan sejarah, kita tidak akan boleh berlaku adil terhadap evolusi konsep, khususnya konsep Allah. Ini juga berakibat pada hubungan Allah dan manusia, yang diandaikan oleh Izutsu terdapat hubungan etik antara keduanya, yang menurut Rahman juga dipengaruhi oleh doktrin Kristian tentang Jesus.[14] Manusia sebagai makhluk boleh menerima wahyu dengan naik menjadi manusia agung (supra-human) agar sejajar dengan Tuhan dan memungkinkan terjadinya komunikasi.

Pemerhati lain, Harry Partin, memberikan sebuah telaah terhadap ketiga buku Izutsu untuk menemukan sisi lain dari karyanya iaitu sejarah agama.[15] Di sisi positif, dia mengingatkan sejarawan agama bahawa perbandingan kata dan konsep di antara tradisi kultural dan beragama yang berbeza adalah bermasalah. Akhirnya, Izutsu menolak sepenuhnya kesahan dari perbandingan. Padahal, sejarawan menegaskan bahawa perbandingan sebagai salah satu kaedah atau operasi yang sah, khususnya perbandingan boleh memperlihatkan sesuatu tentang kondisi manusia sebagai sebuah mod kewujudan di alam semesta ini. Dengan demikian, kritik keras Izutsu paling tidak mempunyai pengaruh pada sejarawan dalam memahami secara serius pernyataan bahawa sebelum membandingkan seseorang harus mengetahui apa yang dia bandingkan, iaitu, harus mengetahuinya di dalam konteks historis, kultural dan religius khusus dan kemudian memahami keunikannya dan, untuk dalam beberapa hal ketakterbandingannya.
Kedua, kajian Izutsu terhadap kosakata al-Qur’ān – khususnya, penggunaan dan transformasi radikal Muhammad di dalam makna sejumlah kata-kata pra-Islam, sekular mahupun religius, menjelaskan pada sejarawan agama “ajaran” al-Qur’ān original. Meskipun, hal ini telah dikenal secara umum dan dari segi teori, namun Izutsu telah mengungkapkan secara terperinci dan sebenarnya menyeluruh sehingga seseorang tidak boleh melupakan atau mengabaikannya.
Partin juga mengkritik Izutsu, kerana analisisnya tidak memadai secara historis. Dengan memetik Montgomerry Watt, dia mengatakan bahawa karya Izutsu bersifat lojik. Ia tidak memberikan sedikit perhatian pada sejarah dalam kaitannya dengan transformasi semantik. Pertama, peranan sejarah di dalam mempengaruhi perubahan makna diabaikan, dan kedua Izutsu tidak menegaskan fakta bahawa surah-surah di dalam al-Qur’ān diturunkan selama masa lebih daripada dua puluh tahun dan beberapa kata yang terdapat di dalam surah-surah awal sangat berbeza maknanya dengan surah-surah terakhir. Dengan kata lain, ada sebuah sejarah semantik di dalam al-Qur’ān itu sendiri.[16] Jelas, pendapat ini makin mengukuhkan kritik Rahman terhadap Izutsu.

Hal yang sama di dalam kajiannya tentang konsep kepercayaan di dalam teologi Islam, Izutsu membahas beberapa istilah dan isu penting yang terpisah dari sejarah Muslim. Misalnya, ketika ia mengkaji iman, yang diawali dengan puak Khawarij, tetapi tidak menjelaskan persekitaran historis dari kemunculan kelompok ini. Lebih lanjut Partin menegaskan bahawa Khawarij, Murji’ah dan sekta serta kelompok lain adalah bercorak politiko-religius. Jadi, seseorang boleh memahami konsepsi tentang iman, kufr, dan lain-lain hanya dalam kaitannya dengan kepentingan dan peristiwa politiko-religius, yang bererti “bersifat historis.”

Kritisisme kedua dari perspektif sejarawan agama adalah bahawa Izutsu tidak memberikan perhatian pada pengalaman keagamaan Muhammad yang menjadi locus dari ungkapan al-Qur’ān . Padahal, awal dari sebuah penelitian itu adalah penyataan, apakah ia berupa bahasa atau tidak. Namun demikian, dengan merujuk pada Joachim Wach dan pemikir lain bahawa ada sebuah kemungkinan untuk memahami hakikat dan kandungan sebuah pengalaman keagamaan dengan pengujian empati, berdasarkan bukti dan sistematik terhadap penyataan-penyataanya. Partin melihat bahawa cara ini sukar dan hasilnya tidak pasti, tetapi sejarawan agama tidak akan menyelesaikan karyanya kecuali dengan melakukan pencarian ini. Ertinya, analisis semantik yang berhati-hati memberikan dasar bagi penyelidikan untuk memahami pengalaman keberagamaan Nabi.

Kemudian, Partin mengajukan pertanyaan tentang pandangan Izutsu mengenai agama Arab pra-Islam. Dia menyangkal eksistensi “agama” pada masa itu. Praktik mereka lebih cenderung pada magik, yang sebahagian besar merupakan adat. Orang-orang Arab dan puak Baduwi sebahagian besar tidak menaruh perhatian pada persoalan agama. Perpaduan kepuakan (‘asabiyah) merupakan sebuah kekuatan yang jauh lebih kukuh daripada agama. Izutsu memperlawankan ketidaktegasan dari konsep etiko-religius pra-Islam dengan ketegasannya di dalam al-Qur’ān dan Islam dan ini menunjukkan bahawa konsep itu benar-benar religius ketika ia tegas, khas dan “logis.” Namun, sejarawan agama dengan pandangan yang lebih komprehensif terhadap agama dan sebuah kesedaran akan ragam pengalaman dan penyataan keagamaan mengakui keberagamaan di antara Arab pra-Islam dibandingkan Izutsu. Dia lebih peka terhadap karakter religius dan makna kepercayaan serta tindakan ritual. Akhirnya, Partin menggunakan bahasa J. Wellahusen bahawa sejarawan agama boleh menemukan kedalaman dari pandangan dunia religius yang mungkin tidak boleh diungkapkan oleh analisis semantik linguistik.[17]

1. 7. Metodologi
Untuk meneliti teks[18] karya di atas, kajian ini menggunakan kaedah analisis hermeneutik, iaitu menyelidiki pemahaman Toshihiko Izutsu terhadap persoalan hubungan Tuhan, manusia dan alam serta kaitannya dengan seluruh karyanya dan analisis konseptual terhadap istilah-istilah yang dia gunakan di dalam karyanya.
Tugas hermeneutik, menurut Josef Bleicher, meliputi dua hal: pertama, penghuraian terhadap kandungan-makna yang tepat terhadap sebuah kata, ayat, teks; kedua, penemuan arahan yang terkandung di dalam bentuk-bentuk simbolik.[19] Ini bererti bahawa terdapat sebuah hubungan yang erat antara pengarang, teks dan pembaca. Heidegger menyebutnya lingkaran hermeneutik.[20] Di dalam lingkaran ini tersembunyi sebuah kemungkinan positif dari jenis pengetahuan paling asal (primordial). Lebih jauh, seseorang yang cuba untuk memahami teks selalu cuba untuk melakukan tindakan projeksi. Ertinya adalah dia memprojeksikan dirinya sebuah makna teks secara keseluruhan segera beberapa makna awal muncul di dalam teks. Lagipula, yang terakhir muncul kerana dia membaca teks dengan harapan khas berkenaan dengan makna tertentu. Pengenalan pra-projeksi ini, yang secara terus-menerus diperbaharui berkenaan dengan apa yang muncul ketika dia memasuki makna, adalah pemahaman apa yang ada di sana.[21] Dengan demikian, untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh harus dijelaskan pemahaman dan makna teks itu.
Memahami adalah menafsirkan, artinya seseorang memahami atau lebih tepat, turut serta di dalam peristiwa di mana yang dipahami ditafsirkan di dalam bahasa. Sebagaimana ditulis oleh Joel Weisheimer,[22] penafsiran memahami ketepatan dan kreativitas vis-à-vis teks. Ini kerana penafsiran adalah pengungkapan-diri (self-wording), dan kata spekulatif serta apa yang dilukiskan (penafsiran dan apa apa yang ditafsirkan) adalah dua hal dan satu sekaligus. Gadamer mengungkapkannya sebagai berikut:

The paradox that is true of all transmitted material, namely of being one and the same and yet of being different, proves that all interpretation to be, in fact, speculative. Hence hermeneutics has see through the dogmatism of a ‘meaning-in-itself’ in just the same way as critical philosophy has seen through the dogmatism of experience. This certainly does not mean that every interpreter sees himself as speculative in his own mind, ie that Hegel is conscious of the dogmatism contained in his own interpretative intention. What is meant, rather, is that all interpretation is speculative as it is actually practiced; quite apart from its methodological self-consciousness. It is this that emerges from the linguistic nature of interpretation. For the interpreting word is the word of the interpreter; it is not the language and the dictionary of the interpreted text. This means that assimilation is no mere repetition of the text that has been handed down, but is a new creation of understanding. If emphasis has been – rightly- placed on the fact that meaning is related to the ‘I’, this means, as far as the hermeneutical experience is concerned, that all meaning of what is handed down to us finds its concretion, in which is understood, in its relation to the understanding ‘I’, and not in the reconstruction of an ‘I’ of the original meaning.[23]

Didasarkan kepada sudut pandangan eksistensial ini, adalah wajar mengatakan bahawa pentafsiran merujuk kepada peribadi, yaitu, manusia itu sendiri, tepatnya saya sendiri. Manusia adalah tujuan utama bagi pemahaman. Jadi, adalah sangat penting untuk mengetahui lebih jauh latar belakang sejarah, termasuk psikologi dan lingkungan sosial. Oleh kerana itu, penafsiran yang sebelumnya membawa sebuah aspek epistemologi, berubah menjadi ontologi.
Selain pemahaman terhadap teks sebagai bahagian dari kerja hermeneutik, makna teks juga perlu diuraikan kerana ia berkaitan dengan apa yang dimaksudkan oleh pengarang.[24] Bagi Hirsch, makna merujuk pada seluruh makna verbal dari keseluruhan teks, yang berbeza dengan signifikansi (significance), di mana yang terakhir ini berkaitan dengan sebuah konteks yang lebih luas, iaitu, pemikiran, area, pokok-pemikiran (subject-matter, atau die sache dalam bahasa Gadamer) yang lebih luas, sistem nilai asing dan sebagainya. Dengan kata lain, signifikansi adalah makna tekstual dalam kaitannya dengan beberapa konteks, bahkan konteks apapun yang mengatasi dirinya.[25] Bagi Gadamer, makna ini boleh dimiliki antara pengarang dan penafsir secara bersama-sama serta merekonstruksi maksud itu tidak hanya berkenaan dengan maksud pengarang tetapi juga pengetahuan tentang pokok-persoalan yang didasarkan pada tradisi linguistik.[26] Namun demikian, Hirsch dan Gadamer berbeza dalam hal penisbatan maksud teks kepada intensionalisme pengarang atau pembaca. Makna teks itu adalah milik bersama dan pandangan bersama tentang pokok persoalan tertentu.[27]
Wittgenstein merumuskan makna dari sebuah kata terbentuk dari penggunaannya – dari keberaturan-keberaturan yang mengatur penyusunan kita terhadap ayat di mana sebuah kata muncul.[28] Namun ide ini, tegas Paul Horwich, terlalu behavioristik dan holistik, tidak upaya untuk menyesuaikan dengan aspek representasional, komposisional, epistemologi dan normatif dari makna.[29] Jadi, makna tidak hanya apa yang ada di balik kata sahaja, tetapi mengandaikan pelbagai unsur yang beragam.
Jika begitu banyak makna maka bolehkah makna berubah?[30] Jawabannya adalah bahawa makna boleh jadi merupakan pemilikan yang boleh berubah dan tidak berubah. Tentu saja, perubahan ini akan mempengaruhi ketulenan penafsiran terhadap teks, karya atau apapun yang ingin dipahami sebagaimana aslinya.
Perubahan ini didasarkan pada kenyataan bahawa untuk mengetahui makna daripada sebuah ungkapan linguistik pada dasarnya, menurut Joseph Margolis, adalah membicarakan sebuah bahasa.[31] Lebih lanjut dia mengatakan bahawa mempelajari bahasa sendiri dan bahasa asing, tidak boleh tidak kita harus upaya menguasai bahasa-bahasa tertentu dan makna dari ungkapan linguistik khas dari posisi yang tidak menguntungkan kerana sama sekali tidak mempunyai keupayaan linguistik. Menurut saya, kalaupun kita mempunyai kemampuan bahasa asing tertentu tetap kita dipengaruhi oleh bahasa asli kita sendiri dalam memberikan makna terhadap kata-kata asing.
Sebagai sebuah cara pentafsiran, hermeneutik memahami teks tidak hanya dari ayat yang tersusun. Ricoeur membuat peralihan dari semantik ke hermeneutik yang cocok dengan rumusan sebuah konsep tentang teks. Dia menegaskan bahawa teks adalah sebuah karya wacana. Ini menunjukkan bahawa sebuah teks adalah sebuah karya yang merupakan susunan total yang tidak boleh disusutkan pada ayat-ayat.[32] Ayat semata-mata tidak memadai untuk menangkap makna. Lagipula, ia tidak sepenuhnya mewakili apa yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
Di sini, paling tidak Ricoeur mengusulkan tiga ciri khas dari gagasan tentang sebuah karya.[33] Pertama, sebuah karya adalah serangkaian yang lebih panjang daripada ayat; ia mengangkat sebuah masalah pemahaman baru, yang berkaitan dengan totalitas yang terbatas dan tertutup yang membentuk karya tertentu. Kedua, karya itu diserahkan dalam sebuah bentuk pengkodifikasian yang diterapkan ke dalam susunannya sendiri dan yang merubah wacana ke dalam sebuah kisah, sajak, esai dan sebagainya. Pengkodifikasian ini dikenal sebagai genre sastra; dengan kata lain, sebuah karya pada dasarnya tunduk pada sebuah genre sastra. Dan ketiga, sebuah karya disusun secara unik yang disamakan dengan seorang individu dan yang disebut gayanya.
Sebuah karya pada hakikatnya adalah sebuah komposisi. Dalam hal ini Ricoeur mengatakan:
Komposisi, yang berkaitan dengan sebuah genre dan gaya individual menjadi ciri dari wacana (discourse) sebagai sebuah karya. Kata “karya” itu juga sebenarnya memperlihatkan hakikat dari produksi dan pekerjaan (labour). Untuk memberi bentuk pada bahan, menghasilkan genre-genre, melahirkan seorang individu bererti begitu banyak cara menjelaskan bahasa sebagaimana membuat dan membentuk bahan. Dengan demikian, wacana menjadi objek dari praxis dan techne.[34]
Atas dasar prinsip ini, kata Ricoeur, terjadi paradoks peristiwa dan makna. Wacana adalah perwujudan dari peristiwa tetapi difahami sebagai makna. Dengan memperkenalkan kategori produksi dan pekerjaan ke dalam dimensi wacana, gagasan tentang karya tampaknya sebagai sebuah perantara praktis antara irasionaliti peristiwa dan rasionaliti makna. Peristiwa adalah stilisasi itu sendiri, tetapi stilisasi ini mempunyai hubungan dialektik dengan sebuah situasi rumit, konkret yang menjelaskan kecenderungan-kecenderung yang bertentangan. Stilisasi terjadi di dalam jantung pengalaman yang telah disusun tetapi mempunyai ciri keterbukaan, kemungkinan dan ketidakpastian. Untuk memahami sebuah karya sebagai peristiwa bererti memahami hubungan antara situasi dan projek di dalam proses penyusunan.[35]
Akhirnya, sebuah konsep tentang subjek wacana menerima taraf baru ketika wacana menjadi sebuah karya. Gagasan tentang gaya (style) memungkinkan sebuah pendekatan baru terhadap persoalan subjek daripada sesebuah karya.[36] Kesimpulan Ricoeur tidak jauh berbeza dengan Gadamer kerana dalam hal tertentu dia selari dengannya.
Sebagaimana dijelaskan Ricoeur tentang peralihan di atas, lebih jauh Gadamer menghuraikan persoalan ini di dalam Philosophical Hermeneutics.[37] Meskipun kedua-dua ahli bahasa ini menjadikan titik tolaknya bentuk linguistik daripada ungkapan di mana pemikiran dirumuskan, yang pertama tampaknya menggambarkan fakta-fakta linguistik luaran, sebagaimana adanya, dan dengan demikian di dalam sebuah cara yang memungkinkan perkembangan sebuah klasifikasi jenis atau prilaku yang berkenaan dengan tanda-tanda ini.[38] Yang terakhir sebaliknya memfokuskan pada sisi dalaman dari penggunaan dunia tanda, atau tepatnya, proses dalaman pembicaraan, yang jika dipandang dari luar, tampak sebagai penggunaan kita terhadap dunia tanda. Namun begitu, keduanya terkadang mentematisasikan di dalam caranya masing-masing keseluruhan hubungannya dengan dunia yang menemukan pengungkapannya di dalam bahasa, dan keduanya melakukan hal ini dengan mengarahkan penyelidikannya di balik kemajemukan bahasa alamiah.[39]
Semantik, secara singkat, menaruh perhatian pada penemuan makna terdekat dengan alat gramatis dan leksikal dari sebuah bahasa,[40] yang tujuannya untuk mengungkapkan kata-kata daripada sesebuah bahasa dan menyatakan maknanya.[41] Bagi Gadamer, ia membawa perhatian kita pada keseluruhan struktural bahasa dan dengan demikian menunjukkan batas-batas ideal palsu dari tanda-tanda atau simbol-simbol yang tidak-samar dan potensi perasmian lojik terhadap bahasa. Di samping itu, ia membuat kita tahu tentang sinonimnya dan, jauh lebih penting, tegas Gadamer, memperlihatkan bahawa sebuah ungkapan-kata individu segera boleh diterjemahkan ke dalam istilah lain atau bertukar dengan ungkapan lain. Dia beralasan bahawa yang terakhir didasarkan pada sesuatu yang melampaui semua kesinoniman.[42] Jadi, pemahaman semantik terhadap teks dengan sendirinya memungkinkan kita untuk memahami teks di dalam bahasa lain. Oleh kerana itu, terjemahan menjadi mungkin.
Namun begitu, terdapat sebuah batas tertentu pada semantik.[43] Memang, ia boleh mendekati semua bahasa alamiah dengan berpedoman pada ide tentang sebuah analisis semantik secara keseluruhan terhadap struktur bahasa secara dalam dan boleh melihat bahasa ini sebagai bentuk di mana bahasa itu tampak demikian. Tetapi untuk melakukan hal ini, tegas Gadamer, ia akan menimbulkan sebuah konflik antara kecenderungan berterusan yang benar-benar penting bagi bahasa, iaitu, menegaskan makna dengan konvensyen.

1. 8. Organisasi Tesis
Kajian ini akan dibagi ke dalam tujuh bab: 1. Pendahuluan 2. Teori Pemahaman Hermeneutik 3. Kajian Mengenai Kitab al-Qur’ān 4. Toshihiko Izutsu dan Pemikirannya 5. Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam menurut Pemahaman Izutsu 6. Perbandingan Kajian Toshihiko Izutsu dengan Penafsir Muslim dan Pengkaji Orientalis tentang Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam dan 7. Penutup.
Di dalam Pendahuluan saya akan memberikan sebuah pengenalan, pernyataan masalah, objektif kajian, ruang lingkup dan batasan kajian serta kepentingan kajian, tinjauan kajian lalu, metodologi dan pengaturan tesis . Di dalam bab 2 akan dijelaskan tentang teori pemahaman hermeneutik yang mencakup dunia teks dan percakapan, hubungan pembaca dan teks, kaitan pembaca dan pengarang serta lingkaran hermeneutik.
Di dalam bab 3, saya akan mengungkapkan kajian mengenai kitab al-Qur’ān meliputi perkembangan tafsir al-Qur’ān , kajian sarjana bukan-Islam, ragam cara penafsiran, dan penafsiran dengan pendekatan baru.
Di dalam bab 4, saya akan membincangkan riwayat hidupnya, karya dan gaya pemikirannya, kondisi pemikiran Islam Jepun dan sumbangan sarjana Islam Jepun terhadap pemikiran Islam. Di dalam bab 5, saya akan menganalisis hubungan Tuhan, manusia dan alam menurut Izutsu. Di sini akan dijelaskan tentang aplikasi semantik di dalam memahami teks al-Qur’ān, pengertian Tuhan, manusia dan alam dalam al-Qur’ān dan hubungan tiga segi antara Tuhan, manusia dan alam dalam al-Qur’ān .
Selanjutnya di dalam bab 6, saya menyelidiki perbandingan kajian Izutsu dengan pentafsir Muslim dan pengkaji orientalis terhadap al-Qur’ān tentang hubungan Tuhan, manusia, persamaan dan perbezaan hasil kajian, kemungkinan penyatuan untuk Kajian Menyeluruh
Bab terakhir disertasi akan berakhir dengan penutup, yang terdiri kesimpulan dan dapatan baru kajian serta saranan untuk penyelidikan lanjut.

Catatan Hujung
[1] Dengan mengutip Ibn Taimiyyah, dia menulis bahawa pertentangan tentang apakah maksud kata ini merupakan perbalahan yang muncul di kalangan Muslim, kerana inilah, komuniti Muslim terbahagi ke dalam pelbagai sekta dan puak, yang berselisih tentang al-Qur’an dan Sunnah serta mulai menyebut kelompok lain “kafir”. Lebih jauh untuk memahami konflik pelbagai sekta ini yang disertai dengan perdebatan teologi, lihat Toshihiko Izutsu, The Concepts of Belief in Islamic Theology: A Semantic Analysis of Iman and Islam (New York: Book for Libraries, 1980), hlm. 1-16. Pentingnya tema ini juga telah melahirkan pelbagai tulisan, seminar dan karya dalam pelbagai disiplin. Di antaranya, sebuah sebuah karya tentang Tuhan dan Manusia di dalam pemikiran Islam adalah Charles Malik (ed.,), God and Man in Contemporary Islamic Thought (Beirut: American University Press, 1972).
[2] Seyyed Hussein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: A Mandala Book, 1968). Meskipun masalah ini telah muncul dalam waktu yang telah lama, tetapi eksploitasi terhadap alam masih berlanjut, khususnya di negara terbelakang dan berkembang. John Browne mencatat bahawa ramai negara telah duduk bersama untuk membicarakan soalan ini di Jepun dan berusaha untuk mencari sebuah tanggapan yang diatur secara internasional terhadap pemanasan global yang dikenal dengan Protocol Kyoto. Walau bagaimanapun, komitmen ini tidak berjalan dengan baik kerana penarikan diri sebahagian mereka menyebabkan perbezaan di dalam perhatian terhadap keberlangsungan iklim bumi. Lihat lebih jauh John Browne “Beyond Kyoto”, di dalam Foreign Affairs, July/August 2004, hlm. 20. Bahkan, Charlie menulis sebuah laporan tentang lubang di lapisan ozon, perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut sebagai akibat dari pembalakan di dalam Geographical, April 2005/volume 77 no. 44, hlm. 36.
[3] Fazlur Rahman menulis subjek ini dalam jurnal Islamic Studies, Vol. VI, 1967 No 3 berjudul “Qur’anic Concept of God, the Universe and Man”. Dengan gerakan gandanya (double movement), dia melihat persoalan hubungan ini tidak hanya apa yang tertera di dalam teks al-Qur’an tetapi juga gerak dinamis hubungan masa lalu dan sekarang. Pendekatan yang diinspirasikan oleh Gadamer ini ingin mengatakan bahawa tafsir terhadap kitab suci ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi masa lalu dan sekaligus masa kini yang saling berkaitan.
[4] Lihat Jamila Khatoon, The Place of God, Man and Universe in the Philosophic System of Iqbal (Karachi: Iqbal Academy Pakistan, 1963).
[5] Ibid., hlm. vii.
[6] Untuk lebih jauh lihat Helmut Gäthe, The Qur’an and its Exegesis: Selected Texts with Classical and Modern Interpretation, terj. Alford T. Welch (London and Henley: Routledge & Kegan Paul, 1976), hlm. 34-35.
[7] Lihat lebih lanjut dalam bab XIV “Language as Expression” dalam An Inquiry into Meaning and Truth (London: George Allen and Unwin Ltd., 1966), 204-205.
[8] Paul Feyerabend, Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: Lowe & Brydone, Ltd., 1975), hlm. 19.
[9] Di dalam Practical Ethics for Our Time (Singapore: Charles E. Tutle Publishing, 1998), hlm. 169. Sebenarnya hubungan Jepun dan dunia Islam telah dimulai sejak Perang Dunia pertama, di mana ia berusaha untuk membentuk Pan Asia dengan kekuatan Islam yang sebahagian besar berada di bawah jajahan Barat termasuk Rusia. Untuk bacaan lebih lanjut tentang hal ini, lihat Selçuk Esenbel “Japan’s Global Claim to Asia and the World of Islam: Transnational Nationalism and World Power, 1900–1945” I dalam The American Historical Review, October, 2004.
[10] Beliau ialah pensyarah Pemikiran Islam di Fakulti Adab Universiti Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Indonesia yang memberikan pengantar untuk terjemahan buku Izutsu ke dalam bahasa Indonesia bertajuk God and Man in the Qur’an: Semantics of Qur’anic Weltanschauung. Machasin, “Kata Pengantar”, di dalam Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, terj. Agus Fachri Hussen (et.al) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. xiii-xvi. Penerbit yang sama juga menerjemahkan dua buku yang lain iaitu The Concept of Belief in Islamic Theology: a Semantical Analysis of Iman and Islam dan Ethico-Religious Concepts in the Qur’an.
[11] Lihat Machasin dalam pengantar hlm. xv.
[12] Beliau menelaah buku ini di dalam Islamic Studies, Jun 1996, vol. v no. 2, Islamic Research Institute, hlm. 221-224.
[13] Berbeza dengan Machasin yang menyatakan bahawa Izutsu lebih menekankan bahawa pendekatan semantiknya dibandingkan materinya.
[14] Fazlur Rahman, op.cit., hlm. 224.
[15] Uraian ini dimuat di dalam jurnal terkenal History of Religions, May 1970, Vol. 9, No. 4. hlm. 359-362.
[16] Ibid., hlm. 360.
[17] Ibid., hlm. 362.
[18] Teks, merujuk pada Paul Ricoeur, adalah wacana apapun yang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Pada awalnya semua tulisan berupa pembicaraan. Lalu apa hubungannya antara teks dan pembicaraan? Kalau di dalam pembicaraan terdapat hubungan antara penutur dan pendengar (interlocutor), maka di dalam pembacaan teks terdapat hubungan yang sama antara pengarang dengan pembaca, tetapi di dalam sifat yang sangat berbeza. Dua yang terakhir tidak terlibat di dalam dialog langsung. Lihat lebih jauh di dalam Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, terj. John B. Thompson (New York: Cambridge University Press and Editions de la Maison des Sciences de’l Homme, 1982), hlm. 145-149.
[19] Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique (London: Routledge & Kegan Paul, 1980), hlm. 11. Dia mengungkapkan di dalam pengantar buku ini bahawa hermeneutik kontemporari dibedakan ke dalam tiga kecenderungan, iaitu teori hermeneutik, falsafah hermeneutik dan hermeneutik kritis. Teori hermeneutik memusatkan pada masalah teori penafsiran am sebagai metodologi bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften, yang meliputi ilmu-ilmu sosial). Analisis ini berusaha untuk mengalami semula atau memikirkan semula apa yang dirasakan dan dipikirkan pengarang secara orisinal, yang diharapkan oleh Betti dapat memperoleh wawasan secara am tentang proses pemahaman am, ertinya kita boleh memindahkan sebuah makna-kompleks yang diciptakan oleh orang lain ke dalam pemahaman kita terhadap dunia kita sendiri. Falsafah hermeneutik, menurut Gadamer, berusaha untuk mencapai persetujuan dengan orang lain tentang dunia bersama kita. Komunikasi ini berupa bentuk dialog yang menghasilkan ‘penggabungan horizon’. Sedangkan hermeneutik kritis, yang diwakili oleh Habermas, mempertimbangkan faktor ekstra-linguistik yang juga membentuk konteks pemikiran dan tindakan.
[20] Dipetik dari John D. Caputo, Radical Hermeneutics: Repetition, Deconstruction, and the Hermeneutic Project (Bloomington and Indiana: Indiana University Press, 1987), hlm. 61.
[21] Lihat Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, terj. Garret Barden and John Cumming (New York: Continuum, 1975), hlm. 236. Dia menyatakan bahawa pemahaman dan penafsiran terhadap teks bukan semata-mata perhatian ilmu pengetahuan, tetapi jelas merupakan bahagian dari pengalaman total manusia akan dunia ini. Secara eksplisit memang Gadamer tidak melihat kaedah sebagai cara memahami realiti, bahkan mengaburkan realiti kerana ia tidak berangkat dari pengalaman individu yang tersituasikan dalam sejarah khas. Penolakan kaedah juga diungkapkan oleh Paul Feyerabend, Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: Lowe & Brydone, Ltd., 1975)
[22] Joel Wisheimer, Philosophical Hermeneutics and Literary Theory (New Haven and London: Yale University Press, 1991), hlm. 119.
[23] Gadamer, op.cit., p. 430.
[24] Seperti dikatakan oleh Karl-Otto Apel bahawa “pemahaman” dan “makna” adalah utama di dalam tradisi filsafat Jerman sejak Schleiermacher, Droysen dan Dilthey serta filsafat analitik dan Wittgenstein. Untuk bacaan lebih jauh lihat Towards a Transformation of Philosophy, terj. Glyn Adey dan David Frisby (London: Routledge & Kegan Paul, 1980), hlm. 1-45.
[25] Lihat E. D. Hirsch, The Aims of Interpretation, Chicago: The University of Chicago Press, 1976), hlm. 2-3.
[26] Dipetik dari Georgia Warnke, op.cit., hlm. 47.
[27] Ibid. Untuk memahami maksud pengarang, maka pembaca harus merekonstruksi situasi kultural, sejarah dan biografi yang berkaitan. Georgia Warnke, Ibid., hlm. 57. Berdasarkan asumsi ini paling tidak kita harus melihat pemikiran Toshihiko Izutsu dalam pelbagai sudut pandangan tidak hanya dari teks yang dihasilkan. Pembacaan ini juga meliputi ketiga hal tersebut di atas, yaitu kebudayaan Jepun (yang dia lebih suka menyebut kebudayaan Timur untuk membedazannya dari tradisi Barat), sejarah pendidikan dan riwayat hidupnya yang berkaitan dengan karya-karyanya.
[28] Dipetik dari Paul Horwich, Meaning (Oxford: Clarendon Press, 1998), hlm. 3. Makna dari usulan tidak hanya tergantung pada bentuk lojiknya tetapi juga objek-objek ekstra-linguistik yang membentuk makna kata. Dipetik dari Apel, op.cit., hlm. 5.
[29] Paul Horwich, Ibid., hlm. 3 Di dalam buku ini, dia lebih mengutamakan makna harfiah, semantik yang diungkapkan secara terpisah dari maksud, kepercayaan atau konteks dari pembicara yang dikenal sebagai orang yang memahami bahasanya.
[30] Pertanyaan ini diajukan dan sekaligus dijawab oleh L. Jonatan Cohen, The Diversity of Meaning (London: Methuen & Co Ltd, 1966), hlm. 1-23. Para filsuf telah membezakan makna yang telah dibeza-bezakan dengan makna referensi, makna harfiah dengan perkaitan kata-kata, makna dari ungkapan manusia, ertinya apa yang secara normal dia ungkapkan dan makna dari apa yang dia ingin sampaikan.
[31] Lihat Joseph Margolis, Knowledge and Existence (New York: Oxford University Press 1973), hlm. 180.
[32] Dipetik dari John B Thompson di dalam pengantarnya untuk Hermeneutics and The Human Sciences Paul Ricoeur (New York: Cambridge University Press and Editions de la Maison des Sciences de’l Homme, 1982), hlm. 13.
[33] Paul Ricoeur, op.cit.,, hlm. 136.
[34] Ibid.
[35] Ibid., hlm. 37.
[36] Ibid.
[37] Buku ini merupakan sebuah kumpulan terjemahan esai yang dipilih dari Kleine Schriftennya Gadamer yang diterjemahkan dan disunting oleh David E. Linge dengan tajuk Philosophical Hermeneutics (Berkeley: University of California Press, 1977), hlm. 82-94.
[38] Sebagaimana ditulis Gadamer, klasifikasi tipe-tipe ini berasal dari sarjana Amerika Charles Morris. Untuk bacaan lebih jauh, Charles Morris, Signs, Language and Behavior (New York: George Braziller, 1955); dan Foundations of a Theory of sign (Chicago: University Of Chicago Press, 1938). Lihat Gadamer, Philosophical Hermeneutics, terj. and ed. oleh David E. Linge (Berkeley: University of California Press, 1977), hlm. 82-83.
[39] Ibid., hlm. 83.
[40] Uriel Weinreich, On Semantics (Pennsylvania: University of Pennsylvania Press, 1980), hlm. 3. Di sini, kita juga boleh merujuk pada ungkapkan Carnap bahawa semantik mengadung teori tentang sesuatu yang biasanya disebut makna dari ungkapan, dan oleh kerana itu kajian inilah yang melahirkan sebuah konstruksi sebuah kamus yang menerjemahkan bahasa objek ke dalam meta-bahasa. Dipetik dari Charles Sayward, “The Received Distinction between Pragmatics, Semantics and Syntax,” di dalam Foundation of Language 11 (1974), hlm. 101.
[41] Ibid., hlm. 14.
[42] Gadamer, op.cit., hlm. 83.
[43] Ibid., hlm. 85.

Saturday, February 17, 2007

Religion, Symbol and Politics

Ahmad Sahidah, Malaysia

It is necessary that religious text relates its context. This statement is actually recurrent of old postulate concerning close relations between them. A hermeneutical process presupposes the text-context relations and such a confidence is called relation of ayat (text) and asbab al-nuzul (context) in religious language.

We often understand it differently and not the same at all when we find it in the different time and space. Logical consequence of this condition springs the different belief and commitment. Each group prefers their point of views and ignores the others. These insights imply the complex social and cultural communication. In one hand, the humanity relations stress the equality and egalitarian attitudes, and the other hand, they impose the narrowness based on subjective revelation interpretations.

The diversity appears in religious acts. The later does not exist without the symbolical expressions. Although the young Schleiermacher advanced the idea of religion as a purely interior feeling, detachable from its symbolic expression, but the phenomenologist considers such external expressions as prayer and sacrifice to be communal activities essential to the religious act. It aims at a transcendent (and hence not directly expressible) telos, it requires a symbolic representation to exist concretely (Louis Dupré, 1998: 7).

Religion consecrates objects in space and time, in order, through them, to transcend the spatial and temporal order itself. Here it seems paradoxical in practice. It draws its symbols from the whole range of the finite: inanimate objects, plants, animals, and humans. The very variety of these representations shows how finite forms fall short adequately representing a transcendent reality. To compensate for this inadequacy, said Dupré, religious symbolization needs the assistance of the word, the most flexible symbol and the one least bound to a single intentional direction. The word alone is able of linking religious intention to expression. The duties of religions, like hymns, sermons, articulate the above ideas, among others.

Religious act itself bears religious experience that reveal that religion does not only relate to thought but also experience. Regarding this issue, Schillebeeckx, Christian theologian, ask the question how can historical figures, living in a remote culture, initiative a universal experience and even elicit new experience a time that has become fully estranged from the religious culture in which the message was delivered? Although this question is asked to Jesus, but it is still applicable to the other figures who declare the message of prophecy and truth.

He expressed two things related to the above question. First, revelation can be received in and through human experience. Experience is an essential part of the concept of revelation. Second, the whole experience contains elements of interpretation. The past experience does not be able directly to be comprehended by contemporaries, because it presupposes the different things. This thesis shows us clearly and simply that the distortion and bias possibilities of religious text occur easily. The fair and pure treatment of the text and experience their self would essentially introduce a true apprehension. This task is not only normative but also affirmative through dialogue, communication and co-working concretely in all areas of life. Enemies of religion are actually injustice, poverty, oppression and exploitation.
***
The most of theoretical and practical norms of scriptural religions (Yudaism, Christian and Islam) derive from what they called as revelation that brings the uniqueness of personal, cultural and socio-political aspects of prophets. It interacted the surrounding culture and the later would color each cosmology and social moral of religions.

There is at least two responds of the above issues: understanding of them through rational inquiry and faith acts. First, it is found in scientific search for the meaning of life and the second, exclusively given in a divine revelation. The two distinguished sides appear simplistic, but reflect a reality of religious thinking existed in society. Two responds cannot ideally separated in contrary but complementary.

Achievements of textual interpretation inevitably vary either externally or internally. The exclusively claim of validity does not only deny social reality of adherent of religions, but refuse inward messages as well which tolerate the diversity. Pluralism is not a jargon only of rulers to create society order and underestimate conflicts in the different religious communities, but religions have an obligation to play their role of endorsing peace, harmony and co-existence.

***

Political domain is undeniably a trigger for competing religious symbols in order gain the power. The internal religious scholars strongly criticize the use of religion as a bumper and vote getter, because the appearing of conflicts in a massive scale, reminding the force of religious to mobilize the floating mass and support for realizing values of religion in society without striving of formalizing of religious principles.

The choice of inclusive views is not only a tactic one because the diversity of people, but also actualization from a religious teaching itself, normatively or historically, as a very core of its message. It is true that al-Ghazali said the role of ulama and government is completely different. The first is responsible for implanting moral values and the second has the duty of making the rules that enables them manifest suitable with their own society.

In sum, their role are more moral than politics. It also solves the tension between many groups more effectively. Does the end of religious code not create the peaceful condition, does it?

The writer is a PhD Candidate of Islamic Civilization, University of Science Malaysia

Kesatuan Umat Islam, Mungkinkah?

Sebuah artikel untuk koran Malaysia:

rencana
Oleh Ahmad Sahidah

Kehadiran setia usaha Forum Dunia untuk Kesatuan Institut Pemikiran Islam Iran, Ayatollah Mohammad Ali Taskhiri, ke Malaysia pada bulan Ogos yang lalu, menunjukkan bahawa kesatuan Umat Islam menemukan mementumnya. Dalam sebuah temu bual dengan wartawan, beliau memberi cadangan bahawa tiga hal yang kena dilakukan iaitu bersatu padu, jangan berpecah; maju jangan jadi mundur dan kembali kepada ajaran Islam.

Ali Taskhiri merasa optimis bahawa keinginan menuju pemahaman Islam yang lebih sempurna dan perpaduan umat sejagat boleh tercapai. Optimisme ini akan terwujud apabila segala-gala unsur masyarakat mengutamakan persamaan yang berjumlah 95 peratus, dan dan tidak menonjolkan 5 peratus perbezaan. Ini bererti bahawa selama ini perselisihan di antara para pemikir Muslim lebih menumpukan pada hal remeh-temeh.

Respons Pelbagai Aliran

Sebenarnya fenomena mazhab – sebagai pemicu perpecahan - adalah fenomena Abad Tengah. Sekarang, para pemikir Islam sudah tidak terkotak ke dalam pelbagai aliran fikah (Malikī, Shafi’ī, Hambalī, Hanafī, dan Ja’farī), tauhid (al-Ash‘arī dan al-Māturidī), tasawuf (al-Ghazālī, Ibn ‘Arabi atau Jalaluddin Rumi), tetapi lebih mengembangkan metodologi (manhaj). Hal ini dilakukan untuk memberi respons kepada soalan kontemporari.

Merujuk kepada tulisan Dr. Abdul Rahman, Pemikiran Islam di Malaysia (1997), sekarang umat Islam terbahagi ke dalam pelbagai kelompok aliran, seperti tradisionalis, ortodoks, konservatif, fundamentalis, idealis, reformis, modenis, progresif, sekular dan liberal. Namun, dari berbagai-bagai aliran ini boleh diikhtisarkan menjadi tiga kelompok besar, iaitu tradisionalisme, modenisme dan reformisme.

Tradisionalisme digunakan dalam pengertian konservatif atau mempertahankan yang lama. Para pendukung puak ini selalunya menentang pembaharuan dan perubahan. Mereka menyatakan bahawa kemunduran Islam kerana mereka menjauhkan diri dari ajaran generasi masa dahulu dan mengikuti ‘godaan setan’ dari Barat. Pandangan semacam ini dianut oleh para ulama sebagai pewaris Nabi. Datuk Seri Harussani, mufti Perak, memegang posisi kunci di dalam aliran ini.

Modenisme melakukan upaya untuk mengadaptasi pemikiran dan kehidupan orang Islam dengan zaman kini. Di sini, menurut Fazlur Rahman, umat Islam melakukan ijtihad dengan mengambil idea dan argumentasi Barat moden, seperti peranan akal dalam agama, demokrasi dan hak-hak wanita. Boleh dikatakan bahawa puak progresif, sekular, dan liberal berakar pada gagasan modenisme. Para intelektual yang mentafsirkan semula teks agama secara kontekstual adalah Chandra Muzaffar, Zainah Anwar, Kassim Ahmad, Kassim Anwar, Faris A Noor dan Akhbar Ali.

Sedangkan reformisme lebih mengutamakan kemurnian ajaran berlandaskan ishlah dan tajdid. Yang pertama merupakan upaya untuk membaiki dan membersihkan Islam dan pemalsuan dan penyelewengan dan yang kedua memperbaharui atau menyegarkan semula fahaman dan komitmen terhadap ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntutan zaman. Antara tokoh yang menyuarakan gerakan ini adalah Dr. Asri bin Zainal Abidin, Prof. Madya Mohammad Kamil dan Prof. Madya Fauzi Deraman.

Namun sayang, para intelektual acapkali mempertajam perbezaan. Ketika saya membaca buku Islam Liberal: Tafsiran Agama yang Kian Terpesong, salah satu penulis dalam buku ini menyatakan bahawa Syi’ah dan Mu’tazilah adalah sesat. Sementara pada saat yang sama sang penulis mengutip pendapat al-Rāghib al-Asfahānī, seorang ulama Syi’ah, berkaitan dengan pengertian jahil (ignorance). Kecelaruan semacam ini justeru menunjukkan bahawa betapa berbahayanya dakwaan sesat pada ‘mazhab’ lain.

Bagaimanapun juga, golongan syi’ah seharusnya dihargai kerana tradisi pemikirannya telah menghidupkan semula pemikiran falsafah Islam. Tokoh-tokoh seperti Ikhwan al-Safa, Mutahhari, Mulla Sadra, dan Hairi Yazdi telah menjadi jembatan bagi keberlangsungan pemikiran kritis dalam Islam. Bahkan di dalam bidang lain, mereka juga telah turut serta memberikan kontribusi terhadap pemikiran Islam, seperti al-Firuzabadi yang menulis Tafsīr ibn ‘Abbas.

Agenda Masa Hadapan

Sebenarnya institusi untuk merapatkan pelbagai aliran umat Islam banyak sangat. Pada peringkat negara, Pertubuhan Negara Islam (OIC) yang dipengerusi oleh PM Datuk Seri Abdullah Badawi, telah memainkan peranan penting untuk mengawal kepentingan negara anggota. OIC boleh menjana kemajuan ekonomi dan sosial bagi tiap-tiap anggota sehingga negara-negara Islam tidak tergantung kepada institusi kewangan Barat, seperti World Bank, International Monetary Fund dan World Trade Organization.

Sementara pada peringkat intelektual, telah ditubuhkan ICIS (International Conference of Islamic Scholars) di bawah setia agung Hashim Muzadi, yang berusaha memberi sumbangan pemikiran bagi terciptanya Islam yang sederhana (moderate) dan terbuka (open-minded). Dalam muktamar kedua di Jakarta yang juga dihadiri oleh Abdullah Badawi, pertubuhan ini tidak hanya membicarakan masalah yang dihadapi umat Islam secara teoretikal, tetapi juga dicari solusi praktikal.

Berdasarkan perkataan al-Mukhafazatu al-Qadim al-Salih wa al-Akhdu bi Jadid al-Aslah, yang bermaksud memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, maka perbezaan antara pelbagai puak di dalam Islam tidak menghalangi sebuah dialog. Apatah lagi, Datuk Seri Harussani di dalam wawancara dengan Berita Harian (18 Juni 2006) mengatakan bahwa para ulama membuka diri untuk melakukan dialog dengan kelompok yang selama ini bertentangan pendapat mengenai masalah keislaman. Atas dasar ini, maka kesatuan umat Islam adalah mungkin diwujudkan. Semoga.

 AHMAD SAHIDAH adalah Pelajar PhD
Kajian Tamadun Islam Universiti Sains Malaysia