Posts

Showing posts from July, 2009

Pekerja Tangguh

Image
Mas itu sedang mengecat langit-langit emperan perpustakaan kampus. Ketika saya mengambil gambarnya, pekerja tangguh dari Jawa itu sengaja berpose. Lalu, saya bergegas sambil mengucapkan terima kasih dan dia menukas, terima kasih Pak. Saya tidak ingin mengganggu pekerjaannya, tetapi besok saya ingin menemuinya di sela rehat, mengapa dia bekerja tanpa alat pengaman. Betul-betul, pekerja tangguh, bukan pejantan tangguh, seperti lagu cengeng Ahmad Dani, punggawa Dewa itu.

Puisi tentang Membaca

Image
Mereka berdua membaca puisi. Samar-samar saya menikmati di ujung meja. Sastrawan termasyhur, Prof Mohammad Haji Salleh tak banyak mendendangkan puisi, namun Encik Marzuki melafazkannya cukup panjang. Kebekuan cair dengan suaranya yang naik turun. Saya sendiri berada di meja khas untuk awak media. Bersama Kelvin Chua, wartawan Kong Wah Yit Poh, saya mengurai pernak-pernik dunia literasi, termasuk jurnalisme.

Saya juga memerhatikan teman baru ini karena dengan nada merendah beliau malah tak bersekolah di universitas. Memang bukan keharusan, namun tambahnya, dia tak cukup uang untuk kuliah. Aneh, bukan? Tapi, saya tak bertanya lebih jauh karena itu adalah pilihan. Bukankah belajar itu hanya memerlukan ketekunan membaca, bukan uang?

Teman Baik yang Lain

Image
Foto di atas adalah teman baik saya. Dia sedang memastikan peristiwa yang diurusnya berjalan baik. Ya, memang berhasil. Tentu, saya banyak belajar bagaimana kawan yang bekerja di sebuah bagian penting universitas itu mengelola perhelatan. Selamat kawan, Anda telah menyuburkan tradisi literasi di negeri ini.

Mengasup Sast[e]ra Melayu Nusantara

Image
Hari Minggu sepatutnya berlibur, namun saya malah terdampar di ruangan berudara dingin untuk mendengar para pakar sastera Melayu Nusantara menemukan jawaban tentang apakah kekuasaan itu? Kemarin saya telah mengikuti sesi pertama, yang salah satu disampaikan oleh Prof Mohammad Haji Salleh bahwa konsep kuasa itu perlu didekonstruksi dengan merujuk pada pemikiran hubungan kuasa (power) dan pengetahuan (knowledge) Michel Foucault, filsuf Perancis kesohor itu.

Paparan sastrawan negara itu menggugat konsep absolute monarchy jika hanya dipahami bahwa kekuasaan itu hanya ada pada raja. Ternyata, dalam praktiknya, kekuasaan itu juga menyebar pada pembantunya, seperti bendahara, laksamana, pengarang, guru dan lain-lain. Jadi, raja bukan satu-satunya memerankan pemilik kekuasaan. Malah, ada raja yang hanya ada di atas kertas, seperti Sultan Mahmud, yang tak sempat mengurus negeri karena terlalu asyik dengan hobbinya berburu 'perempuan'. Namun, pada masa yang sama, A Rogayah Hamid mencerit…

Heboh Buku

Image
Peresmian acara tahunan Penerbit Universiti Sains Malaysia, Heboh Buku, kali ini melibatkan pelbagai pihak, perusahaan dan tentu permainan. Cara ini memantik lebih banyak orang ramai berbondong-bondong menengok buku. Tentu, kesediaan Amel, anak teman karib saya, Stenly, ikut lomba mewarnai dalam rangkaian pameran buku ini adalah ikhtiar lain yang patut dihargai karena panitia juga mendorong anak-anak untuk menyukai buku dengan cara melibatkan mereka dalam sebuah kegiatan. Selamat datang generasi baru, generasi buku.

Kawan-Kawan Baik Saya

Image
Mereka adalah penggerak kebudayaan literasi. Kehadirannya pada diskusi novel dan film Laskar Pelangi tentu bukti paling terang benderang. Jauh-jauh dari Kuala Lumpur ke Pulau Pinang, mereka ingin bersua dengan pemakmur dunia baca. Andrea Hirata memang betul-betul mukjizat bagi bangsa. Novelnya dibajak jutaan, namun sang pengkarya tak risau karena dia sendiri telah mengantongi milyaran rupiah. Namun, sekali lagi, saya tetap merogoh kocek sendiri untuk membeli karyanya dan meminta tanda tangannya. Mereka juga melakukan hal yang sama dengan caranya yang khas.

Mas Dodie, menggendong si kecil, adalah calon doktor bidang manajemen yang sempat bertanya pada Andrea kemungkinan menulis tesis PhDnya dalam bahasa prosa. Si Ikal menyambut antusias gagasan ini. Di sebelahnya adalah Mas Adi, wartawan Antara yang ngepos di Kuala Lumpur, jauh-jauh hari melalui facebook telah menerakan di ruang komentar akan datang. Dari coretan beliaulah, kabar acara ini dibaca seantero negeri. Demikian pula, Pak Nasr…

Mengaji di Masjid Kampus

Image
Mengaji di masjid kampus setiap sabtu mungkin adalah oase di tengah rutinitas yang membelenggu mereka. Namun, ia tidak kemudian dijadikan pilihan terakhir, malah utama, sebab di sini eksistensi diuji sepenuh hati.

Menghitung Laba?

Image
Mereka sedang ngapain ya? Oh, mungkin sedang menghitung laba. Untuk kepastiannya, coba tanyakan pada mereka.

Senyum di Sela jaga Stan

Image

Pakar Desain Laskar Pelangi

Image
Nama panggilannya Edho. Inilah yang menciptakan poster, flyer, nametag dan hal ihwal yang berkait dengan desain acara diskusi novel dan film Laskar Pelangi. Anda kenal?

Mereka Itu 'Laskar Pelangi'

Image
Sebagian dari Laskar Pelangi sedang mengayun langkah menuju hari perhelatan. Inilah proses yang juga menyenangkan.

Makan Siang

Image

Panitia Mejeng

Image

Mewujudkan Impian Bersama

Image

Dua Orang Penting Laskar Pelangi

Image
Keduanya adalah sekretaris dan bendahara Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia. Di tangan mereka, roda organisasi berputar normal. Tentu yang lain juga punya peran. Tanpa mengecilkan sumbangsih yang lain, keduanya membuat organisasi tak berjalan terseret-seret.

Menjual Laskar Pelangi

Image
Kita akrab dengan kata membeli dan menjual. Tapi, untuk yang terakhir, setiap orang mungkin tak bisa melakukannya. Tentu, kebersamaan akan memecahkan kebuntuan ini.

Ticket is Available Here

Image
Namanya Ijong. Kehadirannya unik. Saya rasa dia telah mampu memanfaatkan tubuhnya untuk menarik perhatian. Tiket harus terjual, kira-kira begitu tujuannya. Ia juga bisa lahir dari spontanitas. Kreativitas yang lahir dari sebuah ketegangan dan keinginan agar Andrea Hirata menemukan pengalaman baru di kampus bergelar Kampus dalam Taman.

Menjual Laskar Pelangi

Image

Rapat Laskar Pelangi

Image
Hanya sebagian kecil yang bisa menafsirkan gambar ini. Yang lain hanya bisa menebak, dan bahkan seorang ahli teks pun tak mampu mengungkap.

Sebagian Tim Laskar Pelangi

Image

Menafsirkan Gambar, Mungkinkah?

Image

Mendekati Hari H

Image
Mewujudkan sebuah kegiatan memerlukan kebersamaan. Rapat merupakan kegiatan yang tak dapat dielakkan. Namun, suasana pertemuan tidak harus menegangkan. Canda adalah cara paling ampuh menghilangkan ketegangan. Inilah sebagian anggota yang hadir untuk menyelesaikan tugas akhir menjelang perhelatan. Tentu, mereka adalah sebagian dari 21 orang yang tidak bisa diambil dalam satu waktu karena keterbatasan jarak ambil.

Ternyata penyebaran poster yang diagendakan untuk dilakukan malam setelah rapat dibatalkan. Poster tersebut harus distempel oleh pejabat berwenang agar tidak dicopot karena dianggap illegal. Demikian pula, penjualan tiket juga ditunda karena belum diisi nomor untuk penanda dan sekaligus memudahkan penarikan undian. Diharapkan dengan adanya doorprize, diskusi Novel Tetralogi Andrea Hirata akan memantik minat orang ramai dan mengikuti acara hingga usai. Dengan tema "Menemukan Identiti Melayu Melalui Novel Tetralogi Andrea Hirata", program ini akan menjadi salah satu pin…

Memburu Andrea Hirata

Image
Poster ini lahir dari sebuah perjalanan panjang. Ia hadir untuk menyambut Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. Bukan sekedar memeras otak, tetapi juga kesabaran seluruh panitia mewujudkan mimpi ini. Malah, sentuhan akhir untuk poster ini diparipurnakan pada jam 2 pagi, setelah rapat bersama yang dihadiri 19 orang. Namun keakraban kami mampu mencairkan kejenuhan. Semua menebarkan tawa dan canda. Kehadiran Chris, mahasiswa bule, dan Ahmad Sahidah, mahasiswa Melayu, menambah greget rapat dan kemungkinan mudahnya penyebaran informasi.

Poster di atas dibuat oleh Pak Ardiansyah, yang seperti diceritakan hingga jam 2 pagi, karena poster tersebut akan digunakan sebagai latar tiket yang akan dicetak esok harinya. Tidak hanya itu, poster ini juga akan dibuat sebagai latar dari name tag, flyer, dan dekorasi. Tentu, kehadiran Gramedia untuk turut serta dalam acara ini dimungkinkan penyebaran poster lebih luas, karena toko buku yang baru buka di TESCO Seberang Prai ini mau mencetak dala…

Pandangan Luas itu Menyenangkan

Image
Menyesap kopi di sebuah warung adalah peristiwa biasa. Tapi kali ini, saya berada di ketinggian dan melepaskan pandangan ke segala penjuru, salah satu gambar di atas. Bukit itu dipisahkan oleh laut dan seakan menjadi penanda akhir dari jarak saya dengan dunia. Di sela itu, saya membaca koran The Sun, membual ke sana kemari, menekuri pelbagai kelebatan tingkah pengunjung. Sebagian memelototi laptop, yang lain bercengkerama. Tak hanya itu, meskipu warung kopi ini diboikot oleh sekelompok masyarakat, pegawainya ada yang mengenakan jilbab. Sebuah wajah yang sulawan.

Tapi, biarlah kesulawanan itu hadir. Pilihan kita banyak, namun kita tak bebas memilihnya karena keseharian telah ditentukan oleh iklan media. Selera dan gaya mencerminkan kehendak pabrik. Kita telah menerima jadi dan tak perlu berpikir dan hanya merayakannya hingga akhir. Semua tumpang tindih. Jika sebagian teman saya masih berteriak ancaman Barat, yang lain menganggapnya igauan di siang hari. Identitas yang diperjuangkan han…

Mengunjungi Pasar Malam

Image
Foto ini diambil menjelang maghrib. Pengunjung belum berdesakan di pasar malam Sungai Dua. Seperti terlihat dalam gambar, para pedagang kecil itu menggelar lapak di badan jalan. Ada yang berjualan minuman, makanan, sayur, ikan dan banyak lagi. Saya memilih sore karena menghindari kesesakan. Mungkin agak aneh jika saya memberi judul mengunjungi Pasar Malam. Namun, begitulah adanya, meski mereka berkunjung sore hari, pasti menyebutnya pasar malam.

Saya membeli ayam, sayur kacang dan cabe, dan tak lupa pesanan ibunya Nabbiyya, jagung rebus tanpa olesan mentega, lalu pulang. Sesampai di rumah, kami pun bertukar cerita tentang harga kebutuhan yang mahal dibandingkan barang yang sama di Pasaraya Tesco. Apa benar? Ya, masak segenggam cabe dan seuntai kacang panjang RM 4? Di Tesco barang ini tidak akan semahal itu. Saya berhenti sejenak karena memang tak begitu memerhatikan perbandingan semacam ini. Bagi saya, keberpihakan pada pedagang kecil adalah wujud dari kesetiaan pada manusia, itu saja.…

Toko Buku, Warung Kopi dan Pantai

Image
Bagaimana jika tiga hal di atas dinikmati bersama? Jelas, menyenangkan. Saya mereguknya kemarin bersama keluarga dan teman baik saya, namanya Encik Muzammil. Tentu, saya memulai dengan memesan segelas kopi dan menyesapnya perlahan. Setelah kerongkongan basah dan ngobrol ke sana kemari, saya beranjak menengok rak buku filsafat dan ilmu sosial. Sayangnya, buku keagamaan (Islam) tak begitu banyak, sehingga saya tak perlu singgah di rak bagian ini. Hanya melihat, saya kembali ke tempat duduk.

Dari ketinggian warung itu, saya menikmati pemandangan bukit Jerejak dan pantainya yang landai. Sore itu benar-benar mendatangkan riang tak alang-kepalang. Saya hanya perlu menarik napas dan menghadirkan keindahan alam yang tersaji di depan warung kopi. Oh ya, nama toko buku itu tampak jelas di belakang gambar, Borders. Di sini, pihak manejemen menyediakan ruang untuk membaca, sejumlah kursi dan meja diletakkan di tengah-tengah rak. Para pengunjung tampak khusyuk menekuri huruf. Melihat raut mereka, s…

Perjalanan ke Ipoh

Image
Saya selalu menikmati perjalanan di tanah Semenanjung karena jalan tolnya membentang dari ujung Utara-Selatan, Timur dan Barat. Perjalanan dari Pulau Pinang ke Ipoh berjalan mulus, tak diganggu oleh macet, atau terpaksa melewati jalan bukan tol yang diganggu oleh kemacetan karena sebagian arus jalan digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti pasar, pesta kawinan atau peminta sumbangan masjid. Apa boleh buat, semua itu dibenarkan oleh pihak berwenang.

Hari Minggu kemarin, kami bersama Pak Cik, Mak Cik dan anak bungsunya pergi ke Perak untuk mengunjungi puteri sulungnya yang sedang mengandung. Setelah satu jam perjalanan, kami singgah ke tempat rehat yang dikelola oleh manejemen tol. Inilah kelebihan lain yang dimiliki perusahan tol di sana. Gambar di atas diletakkan di tembok warung makan yang berbunyi senyum selalu, bagian kampanye pariwisata.

Melihat gambar ini saya juga tersenyum. Hanya dengan ini, dipaksa atau tidak, tetap akan membuat keadaan menyenangkan. Ia mencairkan kebekuan d…