Posts

Showing posts from May, 2007

Belajar dari Orang Melayu

Membaca buku Ceritalah: Menjajat Asia Tenggara tulisan Karim Raslan, saya sepertinya menemukan suara lain tentang dunia Melayu. Hal yang sama juga bisa ditemukan pada karya The Other Malaysianya Farish A Noor. Bukan saja karya ini mampu mengungkapkan kejujuran dan keterbukaan, tetapi juga kritik yang dibingkai dengan analisis tajam telah mengantarkan pembaca pada pelbagai perspektif melihat ranah kemelayuan dan lebih jauh Asia Tenggara.

Dengar terang benderang, penulis yang sekaligus pengacara ini mengakui akan ketidaksukaannya pada media resmi. Sayang, dia tidak menyebutkan secara verbal. Tetapi, dia menyatakan rasa salutnya terhadap jejaring alternatif sepertimalaysiakini.com, agendadaily.com. dan harakahdaily.com.

Sesuai dengan judul di atas, sosok berdarah campuran Wales Inggeris ini piawai dalam mengemas peristiwa biasa menjadi 'cerita' yang cemerlang. Contohnya adalah tulisan bertajuk 'Asia di Eropah dan Eropah di Asia', sebenarnya adalah hasil dari perbincangannya…

Rumusan Lokakarya TKI

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Kompleksitas masalah pekerja Indonesia di Malaysia seperti rendahnya kualitas pendidikan dan keterampilan, memerlukan upaya yang sistematis dalam menyelesaikannya, karena keadaan seperti ini menyebabkan timbulnya perlakuan negatif yang selama ini menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dalam konteks Malaysia sebagai negara tujuan perlu diupayakan seoptimal mungkin upaya-upaya melalui forum komunikasi yang melibatkan para akademisi, politisi, penguasa eksekitif, serta pengguna dan pekerja yang bermasalah (baik resmi maupun tidak resmi) asal Indonesia yang hidup dan bekerja di Malaysia dengan tujuan menyatukan pandangan, sikap dan tindakan (harmonisasi) untuk menciptakan kenyamanan, bukan hanya dilingkungan kerja tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat di Malaysia. 1.2Tujuan Penulisan Meningkatkan rasa keperdulian terhadap permasalahan yang terjadi pada masyarakat Indonesia, khususnya pekerja Indonesia di Malaysia Mengumpulkan berbagai informasi dan data te…

Pengantar Rumusan Lokakarya TKI

PENGANTAR

Kami mengucapkan syukur alhamdulillah karena tim perumus telah berhasil mengambil beberapa ide dan gagasan dari sebuah Forum Diskusi yang membincangkan Pekerja Indonesia di Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia di Hotel Vistana 3 Mei 2007 dan dilanjutkan dengan pertemuan tidak resmi di Kafe Minden bersama mahasiswa Indonesia.

Merekam acara ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kegigihan panitia di bawah koordinasi Saudari Forien untuk melibatkan langsung pihak terkait dan organisasi sosial kemasyarakatan dari kedua negara. Memang pernah terbersit ragu di sebagian mahasiswa yang terlibat dalam kelangsungan acara di atas, karena kita sepertinya mengukir di atas air. Tetapi justeru keraguan inilah yang mendorong panitia terus bergerak untuk mewujudkan impiannya agar saudara kita tidak lagi merasa kesepian. Akhirnya, halangan dan rintangan bisa dilalui.

Terus terang, kegiatan ini adalah sangat mahal, untuk itu kami ber…

Religious Adherence Requires Symbolism and Morality

Image
Hari ini saya menerima email dari Raditya, Alumnus PPI Sunway College, bahwa tulisan saya di The Jakarta Post bertajuk 'Religious Adherence require symbolism and morality' (14 Mei 2007) menarik perhatian beliau sebagai pembaca. Pesan artikel di atas jelas bahwa kita tidak bisa menanggalkan simbol-simbol keagamaan, tetapi sekaligus menjaga pesan moral yang ada di dalamnya. Jika jilbab dianggap sebagai simbol wanita muslimah, maka sekaligus ia juga menampilkan makna yang ada di balik secarik kain itu. Keduanya berjalin kelindan. Adalah tidak elok seseorang menggunakan jilbab, tapi masih menyisakan 'tubuhnya' dinikmati oleh orang lain. Sebab, jilbab itu pada hakikatnya menutup aurat, dengan kata lain kehormatan. Jika, kita menegaskan bahwa shalat jamaah itu mempunyai keutamaan, maka kita juga akan merawat hubungan sosial di luar masjid karena sebagai muslim kita harus memupuk kebersamaan. Adalah aneh jika seorang hamba rajin berjamaah, tetapi hidupnya menyendiri. Sepertin…

Disertasi Sudah Selesai

Kemarin saya mencetak disertasi menggunakan pencetak (printer) Hewlett Packard Laser Jet 1100. Setelah selesai, saya merasa lega karena telah menyelesaikan tugas akhir yang melelahkan. Tidak saja penulisan ini menuntut stamina dan tenaga yang cukup, tetapi juga memaksa otak terus bekerja tanpa henti selama dua tahun 4 bulan 15 hari. Meskipun, saya tidak menjadikan waktu 24 jam berkutat dengan buku yang dijadikan bahasan disertasi. Saya menyisipkan waktu untuk melakukan banyak hal, seperti membaca kajian ilmu-ilmu sosial lain, berolahraga, dan menikmati hobbi, nonton film.

Hari ini 15 Mei 2007, saya menyerahkan seluruh bab disertasi pada Profesor pembimbing. Lega rasanya saya bisa merampungkan karya ini. Namun, saya masih berusaha untuk menambah bahan, memperbaiki susunan bahasa dan kesinambungan gagasan baik antara paragraf, bab dan akhirnya seluruh disertasi mengungkapkan satu pemikiran yang jelas, sistematik dan konklusif. Pada pertemuan ini, saya juga memberikan foto kopi tulisan sa…

Bahagia itu Mudah

Jika kita ditanya apakah kita bahagia? Rasanya susah kita secara spontan menjawabnya, ya! Paling tidak, kita mengernyitkan dahi sejenak untuk mencerna apa itu bahagia? Ketika kita terkuras energi untuk memikirkan jawabannya, sebenarnya kebahagiaan telah menjauh dari kita.
Mudahkan saja! Jawab ya. Karena kita masih diberikan napas untuk hidup dan menjalaninya tanpa diganggu oleh kesakitan. Memang, kaum utilitarian menegaskan kebahagiaan tiadanya rasa sakit dan lebih jauh perolehan kesenangan. Namun, berbeda dengan Sade, yang justeru memperoleh kebahagiaan dari rasa sakit [Silahkan lihat film The Quill. Sebuah nubuat yang mungkin bisa dipertimbangkan dari Sade adalah It has pleased nature to help us achieve happiness only through pain). Tapi, pernahkah kita merasa tenang dan nyaman dengan keadaan sebegini? Ini berpulang pada kita. Sebab, ternyata hidup sekarang telah menuntut banyak dari kita.
Bagi saya, hal yang mendasar dari pengertian di atas adalah bagaimana melakoni hidup ini apa a…

Tanda Tangan sebagai Tanda Cinta

Image
Sampai hari ini saya berusaha mencintai buku beserta ihwal yang berkaitan dengannya. Dulu, di Yogyakarta, saya meminta pada penjual buku untuk tidak merekatkan sampul plastik dengan selotip. Permintaan ini didasarkan ketakutan saya bahwa jika plastiknya rusak, kulit sampul akan mudah ‘rusak’ jika plastiknya diganti. Saya tidak ingin membuat buku luka.

Bahkan, saya tidak hanya mencintai buku, melainkan juga mengagumi pembuatnya. Adalah tidak aneh jika saya meminta tanda tangan kepada Pak Suyatno ketika beliau memberikan saya sebuah karya bertajuk Menjelajah Demokrasi (Yogyakarta: Liebe Book Press, 2004). Nah, bicara tentang tanda tangan Pengarang, saya mempunyai kisah tersendiri dan untuk mengenalnya lebih jauh bisa dibaca di rubrik buku (di Balik Buku) Jawa Pos hari ini 6 Mei 2007 atau bisa ditelusuri di alamat berikut ini, dan semoga masih bisa diakses. http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=283972.

Tentu saja, pengalaman meminta tanda tangan Dewi RSD adalah ingatan yan…