Thursday, May 31, 2007

Belajar dari Orang Melayu

Membaca buku Ceritalah: Menjajat Asia Tenggara tulisan Karim Raslan, saya sepertinya menemukan suara lain tentang dunia Melayu. Hal yang sama juga bisa ditemukan pada karya The Other Malaysianya Farish A Noor. Bukan saja karya ini mampu mengungkapkan kejujuran dan keterbukaan, tetapi juga kritik yang dibingkai dengan analisis tajam telah mengantarkan pembaca pada pelbagai perspektif melihat ranah kemelayuan dan lebih jauh Asia Tenggara.

Dengar terang benderang, penulis yang sekaligus pengacara ini mengakui akan ketidaksukaannya pada media resmi. Sayang, dia tidak menyebutkan secara verbal. Tetapi, dia menyatakan rasa salutnya terhadap jejaring alternatif seperti malaysiakini.com, agendadaily.com. dan harakahdaily.com.

Sesuai dengan judul di atas, sosok berdarah campuran Wales Inggeris ini piawai dalam mengemas peristiwa biasa menjadi 'cerita' yang cemerlang. Contohnya adalah tulisan bertajuk 'Asia di Eropah dan Eropah di Asia', sebenarnya adalah hasil dari perbincangannya dengan seorang kawannya yang dia kenal di Cambridge dalam waktu senggang. Boleh jadi, ia dilakukan sambil minum kopi di warung. Di dalamnya, kita boleh memahami seperti apakah gerangan Singapura, Indonesia, Thailand dan Malaysia?

Bagi saya, pemahaman terhadap karya ini tidak hanya dibatasi pada yang tertera, tapi juga gambar sang penulis yang ditampilkan di sampul buku. Dia benar-benar mewakili pemikir bebas dan mempunyai pendirian yang kokoh. Sebuah desain yang mencerminkan kepercayaan diri sang pengarang.

Sisi lain yang menarik adalah penggunaan bahasa Melayu yang sangat bagus. Meskipun saya harus bolak-balik membuka kamus Dewan Bahasa dan Pustakauntuk memahami kata jajat, niskala, terkecai, keraian, kedayusan, ranggi, legar, anjal, jelak dan mungkin daftar kata-kata 'asing' terus bertambah setelah saya menyelesaikan pembacaan. Celakanya, teman karib Melayu saya juga merasa asing dengan diksi yang dipilih dalam buku ini. Kata lain yang membuat saya tertawa kecil adalah menggodek-godek, yang setelah dilihat di kamus Dewan diambil dari bahasa Jawa.

Tentu, sebagai sebuah kumpulan tulisan, kita akan dihadapkan dengan beragam tema. Namun demikian, kita bisa menarik benang merah bahwa karya ini dipersembahkan untuk membelek-belek (bahasa Melayu) dunia politik Asia Tenggara. Ternyata, strategi pembacaan tidak hanya melalui menggunakan logika, sekali-kali rasa agar seluruh pesan bisa diserap dalam bentuknya yang lebih substil. Terus terang, membaca buku ini saya sepertinya memasuki labirin karena saking luasnya pengalaman Karim Raslan. Mengikuti jejaknya memerlukan nyali. Apakah Anda siap?

Thursday, May 24, 2007

Rumusan Lokakarya TKI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kompleksitas masalah pekerja Indonesia di Malaysia seperti rendahnya kualitas pendidikan dan keterampilan, memerlukan upaya yang sistematis dalam menyelesaikannya, karena keadaan seperti ini menyebabkan timbulnya perlakuan negatif yang selama ini menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Dalam konteks Malaysia sebagai negara tujuan perlu diupayakan seoptimal mungkin upaya-upaya melalui forum komunikasi yang melibatkan para akademisi, politisi, penguasa eksekitif, serta pengguna dan pekerja yang bermasalah (baik resmi maupun tidak resmi) asal Indonesia yang hidup dan bekerja di Malaysia dengan tujuan menyatukan pandangan, sikap dan tindakan (harmonisasi) untuk menciptakan kenyamanan, bukan hanya dilingkungan kerja tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat di Malaysia.

1.2 Tujuan Penulisan

  • Meningkatkan rasa keperdulian terhadap permasalahan yang terjadi pada masyarakat Indonesia, khususnya pekerja Indonesia di Malaysia

  • Mengumpulkan berbagai informasi dan data tentang pekerja Indonesia bermasalah di Pulau Pinang, Malaysia dan strategi harmonisasinya, termasuk faktor-faktor penyebab dan kompleksitas permasalahannya.

  • Menilai kembali kebijakan-kebijakan yang telah di laksanakan oleh pemerintah Indonesia dan kerajaan Malaysia dalam menagani masalah pekerja Indonesia sebagai bagian dari usaha untuk meningkatkan koordinasi pihak terkait melalui forum perbincangan dalam bentuk Focus Group Discussion.

  • Mengembangkan kerjasama berbagai pihak baik dalam dan luar negeri dalam upaya mensejahterakan rakyat, khususnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

1.3 Metode Penulisan

Dalam rumusan, kami mencoba untuk menggunakan metodologi analisis isi (content analysis) yang Kaedah analisis isi berusaha untuk memahami sejumlah informasi tekstual dan secara sistematik mengidentifikasi unsur-unsurnya, misalnnya kekerapan kata kunci yang sering digunakan dengan menemukan struktur yang lebih penting dari kandungan komunikasinya.

1.4 Sistematika Penulisan

Rumusan ini terdiri dari tiga bab dengan perincian sebagai berikut:

  • Bab pertama menjelaskan latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan

  • Bab kedua menguraikan permasalah pekerja yang meliputi pendahuluan, Kondisi Pekerja Pembantu Rumah Tangga dan Permasalahan Pekerja Indonesia di Malaysia

  • Bab ketiga membahas saran dan rekomendasi yang mengungkapkan kesimpulan, saran dan rekomendasi serta penutup.

BAB II

PERMASALAHAN PEKERJA

2.1 Pendahuluan

Perkembangan ekonomi Malaysia akhir-akhir ini, menunjukkan perkembangan yang progresif. Dengan demikian memerlukan banyak tenaga kerja untuk mendukung pembangunan. Maka untuk memenuhi keperluan tenaga kerja, Malaysia memerlukan pekerja migran supaya pembangunan ekonomi dan sosial dapat dilestarikan untuk mengejar status negara maju menjelang tahun 2020 (Hadi 1998).

Berdasarkan laporan pihak Polis Diraja Malaysia (PDRM), pendatang migran yang tinggal di Malaysia mencapai 2.4 juta orang, termasuk pendatang illegal, keadaan ini bisa mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dari aspek keselamatan, sosial dan ekonomi (Utusan, 22 Agustus 2006). Menurut pihak Imigrasi Malaysia, jumlah pekerja migran yang terdaftar di Malaysia sehingga bulan Mei 2006, sebanyak 1,850,063 orang, diperkirakan 70% adalah warga negara Indonesia (Utusan, 24 Agustus 2006).

Menurut Pillai (1992) sebagian pekerja Indonesia tidak mempunyai keterampilan secara khusus yang disebut sebagai pekerja tidak terampil dan setengah terampil. Khususnya dalam industri konstruksi dianggarkan mencapai 70% berasal dari Indonesia, mereka tergolong sebagai pekerja tidak mahir (unskilled labour) (Pillai 1992; Rudnick 1998).

Pekerja Indonesia yang memasuki pasaran buruh di malaysia kebanyakan pekerja yang tidak memiliki keterampilan secara khusus. Namun karena tuntutan pekerjaan sehingga pekerja Indonesia mengalami peningkatan dari segi keterampilan dalam bidang tertentu. Dengan sendirinya, mereka mempunyai keahlian yang sebenarnya akhirnya bisa dikembangkan di Indonesia.

Khususnya dalam industri konstruksi di Malaysia memerlukan tenaga kerja yang mempunyai keterampilan, karena menghasilkan hasil kerja yang bekualitas dan memuaskan. Namun terjadi fenomena yang berbeda dalam industri konstruksi di Malaysia, di mana tenaga kerja yang diserap tidak sepenuhnya pekerja yang mempunyai keterampilan yang tinggi, tetapi pekerja yang diserap adalah pekerja tidak terampil. Tentunya permasalahan yang akan timbul adalah kualitas kerja yang dihasilkan. Disamping itu juga ini akan membawa kepada implikasi yang lain, seperti besaran gaji, keselamatan kerja, hasil kerja, ketepatan waktu dan aspek lain yang berkaitan.

Keadaan ini belum dapat diatasi sepenuhnya baik oleh pihak pemerintah Malaysia maupun oleh pihak swasta, karena untuk mengurangi penggunaan pekerja migran, terutama pekerja yang tidak terampil tentunya memerlukan investasi yang lebih besar, iaitu untuk menyediakan peralatan-peralatan teknologi tinggi. Namun untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja migran masih terlalu sukar bagi pemain industri konstruksi. Karena biaya yang harus ditanggung terlalu tinggi, tidak seimbang dengan keuntungan yang akan diperolehi.

Suatu langkah yang perlu diambil oleh pemerintah Malaysia adalah mengawasi pengambilan pekerja migran, terutama pekerja yang tidak terampil untuk kepentingan jangka panjang. Pengambilan pekerja migran dalam kuantitas yang besar menjadi penghambat kepada kestabilan negara, terutama dari segi keselamatan dalam negara, ekonomi dan pembangunan sosial. Sebagai langkah untuk mengurangkan ketergantungan kepada pekerja migran, Malaysia harus melangkah ke arah menggunakan teknologi tinggi untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi, tanpa harus berhadapan dengan banyak persoalan pekerja migran (Hadi 1998).

Penerimaan industri konstruksi di Malaysia terhadap pekerja migran tidak mahir telah menyebabkan banyak pekerja migran yang memasuki Malaysia, walaupun tanpa memiliki keterampilan. Pekerja Indonesia memasuki Malaysia dengan tujuan bekerja namun pada masa yang sama pekerja itu tidak mempunyai keterampilan dalam bidang apapun, sehingga tidak banyak sektor industri yang dapat menerima mereka. Antara sektor yang dapat menerima pekerja Indonesia adalah industri konstruksi dan sektor pekerja rumah tangga, karena penduduk lokal tidak banyak yang berminat memasuki bidang tersebut, karena telah banyak diserap oleh sektor produksi dan jasa.

Pekerja Indonesia dalam industri konstruksi dan pembantu rumah tangga bisa dilihat sebagai pekerja tidak mahir, maka oleh itu tidak semua mereka terdaftar dalam data negara pengirim dan negara penerima. Dengan demikian mereka tergolong pekerja dalam sektor informal. Ciri-ciri pekerja sektor informal adalah:

· Pihak-pihak yang terlibat tidak terdaftar secara resmi dalam data pihak pemerintah.

· Pihak-pihak yang terlibat bekerja dalam keadaan berbahaya dan lingkungan yang tidak sehat, seperti tidak ada fasilitas air bersih yang memadai, dan bertempat dikawasan kumuh perkotaan.

· Setiap orang bisa masuk dan keluar dari sektor ekonomi dengan mudah mengikut permintaan pasaran.

Ciri-ciri ini bisa mewakili pekerja dalam industri konstruksi, terutama sekali pekerja migran tidak mahir dan setengah mahir. Di mana dalam industri konstruksi, setiap orang masuk dan keluar dalam industri tersebut tergantung kepada permintaan. Pihak-pihak yang terlibat tidak terdaftar secara resmi dalam data pihak pemerintah. Mereka bekerja diluar jangkauan hukum sehingga tidak didukung dan diurus oleh pihak pemerintah. Pihak-pihak yang terlibat bekerja dalam keadaan berbahaya dan lingkungan kerja yang tidak sehat (Suharto 2003; Hansenne 1991).

2.2 Kondisi Pekerja Pembantu Rumah Tangga

Sebagaimana diungkapkan oleh Dato’ Zulkepley Dahalan, ketua Persatuan Agensi Pembantu Rumah Malaysia, jumlah PRT asal Indonesia berkisar 300 ribuan. Namun demikian, beliau mengatakan bahwa 70 persen dari mereka bekerja di keluarga China. Banyaknya masalah yang mereka alami telah banyak menarik perhatian pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan bahkan organiasi keagamaan.

Kesediaan kedua negara Indonesia (Wakil Presiden Jusuf Kalla) dan Malaysia (Wakil Perdana Mentri Mohammad Najib) untuk membincangkan nasib para pekerja migran perempuan adalah patut mendapat perhatian (28 Maret 2006).

Meskipun, jumlah mereka yang dianiaya kecil, tapi tidak ada pembenaran untuk membiarkan mereka yang tertindas diabaikan. Kealpaan untuk melindungi sebuah profesi yang rentan terhadap perlakuan tidak manusiawi akan melahirkan tindak kekejaman lain yang tersembunyi dan baru tersentak setelah muncul peristiwa penganiayaan berat terhadap mereka.

Sebenarnya, inisiatif untuk membicarakan nasib para pekerja domestik ini telah digagas pada bulan Mei 2004, yaitu setelah kasus penganiayaan Nirmala Bonat oleh majikannya mendapat liputan luas di media massa dan simpati dari pelbagai kalangan. Tentu saja, pertemuan kedua pemimpin ini merupakan angin segar di tengah terombang-ambingnya nasib pekerja domestik Indonesia di negeri jiran yang berjumlah 300 ribu-an.

Ada banyak istilah untuk menyebut profesi satu ini, di antaranya jongos, pesuruh, babu, khadam, dan sahaya. Secara semantik kata ini menunjukkan pada seseorang yang melakukan pekerjaan apa saja yang dinginkan oleh majikannya. Sebuah pekerjaan yang tidak mempunyai ‘cetak-biru’ di dalam dunia kerja.

Tidak susah untuk menemukan keberadaan mereka. Di dalam keseharian, boleh jadi mereka menjadi bagian kehidupan pada umumnya, atau sedang mengasuh anak majikan yang sedang belanja di Mall, ngobrol dengan sejawatnya di bibir pintu pagar rumah, dan yang unik adalah perannya yang khas di dalam sinetron televisi.

Namun nasib mereka tidak semanis di dalam reality show Ari Wibowo mencari pembantu atau opera sabun dalam serial TV The Nanny yang pernah ditayangkan di salah satu tv swasta. Kehadiran mereka nyaris tidak dihargai dengan tidak dimasukkannya di dalam undang-undang ketenagakerjaan.

Christine B N Chin (1988) di dalam In Service and Servitude melakukan kajian menyeluruh tentang pekerja rumah tangga dari Indonesia dan Filipina di Malaysia. Dalam kesimpulannya, berbeda dengan sejawatnya, para pembantu dari Indonesia yang mengais nafkah di luar negeri tidak mendapat perhatian yang selayaknya, sedangkan pekerja dari negeri Pagoda ini didukung oleh pemerintah, NGO dan masyarakatnya sendiri.

Di antara pelanggaran yang dilakukan majikan terhadap hak mereka ialah jam kerja yang lama, tidak ada waktu istirahat, kurungan ilegal, gaji tidak dibayar atau dikurangi, pelecehan fisik dan psikologis, serangan seksual, tidak ada tempat tidur yang layak dan akomodasi yang memadai, tidak diberi makan atau tidak cukup, tidak bisa mempraktikkan agama atau mengganggu praktik agama mereka.

Dalam salah satu laporannya (2004), Human Rights Watch, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berpusat di Amerika, merangkum dengan lengkap persoalan yang membelit para pekerja ini dari sejak perekrutan hingga bekerja di negeri jiran. Ketidakberesan yang muncul di dalam proses pengambilan, pelatihan di tempat penampungan, proses dokumentasi adalah awal dari pelanggaran selanjutnya terhadap hak-hak pekerja.

Berbeda dengan pekerja migran lain, untuk menjadi pembantu rumah tangga, mereka tidak membayar satu sen pun, kecuali melalui agen tenaga kerja tidak resmi. Justeru, kemudahan ini dianggap oleh sebagian pengerah tenaga kerja sebagai pembenaran untuk memoroti mereka dengan memotong gaji empat bulan pertama dan melepaskan tanggung jawab ketika mereka ditimpa masalah.

Dengan pertemuan dua wakil pemerintah, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang tenaga informal (pembantu rumah tangga), yang akan dilakukan Juni akan berdampak positif bagi mereka yang acapkali terpinggirkan. Ironisnya, di Indonesia sendiri, tidak ada aturan untuk melindungi para pembantu rumah tangga ini.

Namun, mengingat centang-perenang pengurusan masalah ini, ada baiknya seluruh unsur dalam masyarakat baik di Indonesia dan di Malaysia memberi perhatian terhadap upaya memartabatkan pembantu di negeri Jiran ini.

Rekomendasi Human Right Watch terhadap kedua negara bisa dijadikan acuan untuk mengatasi masalah yang sudah lama tak ditangani dan upaya mereka semestinya mendapat apresiasi yang baik dari pembuat kebijakan. Sayangnya, kementrian tenaga kerja dan imigrasi serta kementrian dalam negeri Malaysia senantiasa menganggap pekerja NGO musuh yang menggerogoti wewenangnya.

Kedua negara ini segera mewujudkan saran lembaga hak asasi ini untuk membuat undang-undang dalam upaya melindungi para pekerja migran, termasuk pembantu. Selain itu, kementrian yang berwenang juga harus memonitor praktik agen tenaga kerja, menginspeksi tempat kerja dan kondisi tahanan serta menciptakan mekanisme komplain, memberikan dukungan pelayanan serta memperkuat kemampuan NGO untuk membantu mereka, menyebarkan informasi tentang hak-hak pekerja serta kewajiban agen, majikan dan pemerintah.

Namun demikian, sebagus apa pun isi MoU yang telah ditandatangani, ia akan menjadi kertas kosong jika tidak ada pengawasan publik. Ini bisa dilakukan oleh para pekerja sosial dan anggota parlemen di Indonesia serta para mahasiswa Indonesia yang tersebar di seluruh negeri negara serumpun ini. Keengganan pihak kedutaan RI untuk melibatkan para mahasiswa bisa dipahami karena selama ini hubungan keduanya renggang disebabkan sikap a priori masing-masing.

Sebenarnya mahasiswa yang tersebar di negeri jiran ini bisa menjadi ujung tombak mendampingi para pembantu ini mengetahui hak-haknya dan bekerja sama dengan NGO lokal yang mempunyai perhatian pada pendampingan terhadap pekerja perempuan, seperti Tenaganita, MTUC dan Suaram, termasuk organisasi serupa di tanah Air.

2.3 Permasalahan Pekerja Indonesia di Malaysia

Migrasi penduduk sebenarnya adalah dampak dari pembangunan global yang telah meningkatkan tahap pencapaian sosio-ekonomi beberapa negara yang sedang membangun. Pada tahun 1990-an Malaysia telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang baik di antara beberapa negara di Asia Tenggara yang lain, sehingga dapat menarik investasi dari dalam dan luar negeri. Pada waktu yang sama juga negara Jiran ini menghadapi kekurangan tenaga buruh, sehingga memerlukan pekerja migran yang bisa mengisi kekurangan tenaga buruh tersebut. Tenaga buruh lokal lebih banyak memasuki sektor produksi dan jasa, sehingga industri konstruksi dan keperluan penata rumah tangga mengalami kekurangan penawaran, maka pemain industri konstruksi menggunakan tenaga buruh migran.

Industri konstruksi di Malaysia telah memainkan peranan penting dalam pembangunan ekonomi negara, penyediaan fasilitas fisik dan infrastruktur yang bisa menggalakkan pembangunan sosial dan ekonomi. Industri konstruksi adalah industri utama yang harus sejalan dengan industri yang lain, karena akan menjadi penjana kepada perkembangan industri yang lain, terutama dalam pembangunan fisik untuk kepentingan masyarakat.

Salah satu penyelesaiaan kepada penggunaan tenaga manusia yang terlalu banyak adalah melalui peningkatan tahap penggunaan teknologi dalam semua sektor. Kerena dengan banyak menggunakan tenaga manusia, khususnya pekerja migran akan menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi, termasuk keamanan dalam negara. Bagi mengurangi penggunaan tenaga manusia, khususnya pekerja migran tidak mahir dan separuh mahir, pihak peneraju industri konstruksi perlu mengalihkan penggunaan tenaga manusia kepada menggunakan teknologi tinggi. Namun penggunaan teknologi tinggi dalam industri konstruksi akan memerlukan dana yang sangat tinggi, maka dalam jangka waktu singkat kehendak ini sukar untuk terpenuhi (Hadi 1998).

Walaupun demikian, sebenarnya dasar pemerintah Malaysia menetapkan untuk mengambil pekerja migran tidak mahir dan separuh mahir sahaja. Kebijakan ini bertujuan untuk memberi peluang kepada pekerja-pekerja lokal sebelum diserahkan kepada pekerja migran, karena pengambilan pekerja migran tidak bisa meningkatkan produktivitas negara. Namun dalam usaha kearah pemulihan ekonomi negara, keperluan pekerja migran tidak dapat dinafikan, justeru itu dasar semasa pengambilan pekerja migran disesuaikan dengan keperluan yang mendesak, yang sukar di ceburi oleh rakyat tempatan, seperti industri konstruksi dan perkebunan (Jabatan Imigresen Malaysia 2006).

Keperluan terhadap tenaga buruh yang besar dalan industri konstruksi di Malaysia dan pada masa yang sama, adanya pekerja migran dari negara lain yang mencari pekerjaan, seperti Indonesia maka kekurangan tenaga buruh di Malaysia dapat terpenuhi. Industri konstruksi adalah sektor ekonomi yang berkembang pesat, tetapi pada masa yang sama penduduk tempatan tidak banyak yang menceburi sektor ini maka kekosongan ini diisi oleh pekerja migran. Selain karena kekurangan pekerja, ianya juga tidak memerlukan sepenuhnya pekerja yang berketerampilan tinggi (Rudnick 1996; Rashid 2001).

Pekerja Indonesia merupakan kumpulan pekerja migran yang paling banyak bekerja dalam industri konstruksi di Malaysia. Latar belakang sosio-ekonomi mereka adalah kumpulan masyarakat berpendapatan dan berpendidikan rendah atau bekerja pada sektor informal di wilayah asal mereka di Indonesia (Nasution 2001). Sehingga apabila bekerja diluar dari wilayah mereka hanya bisa bekerja dalam sektor-sektor ekonomi yang memerlukan tenaga tanpa ada keterampilan tertentu. Industri konstruksi adalah salah satu sektor yang bisa menerima mereka tanpa ada keterampilan dan tahap pendidikan tertentu.

Pekerja Indonesia datang ke Malaysia dengan tujuan memperolehi pendapatan dalam bentuk pulangan uang, tetapi justeru mereka memperolehi keterampilan dan dalam bidang konstruksi.

Selain itu juga, kedua belah pihak mendapat keuntungan, baik pekerja Indonesia maupun pihak pihak pengembang dan pihak pemerintah Malaysia. Pihak kontraktor (swasta) dan pemerintah tidak perlu mengeluarkan alokasi dana yang besar untuk menyediakan peralatan berteknologi tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Demikian juga dengan pekerja, berpeluang mendapatkan pekerjaan dan pendapatan. Namun ada yang lebih penting dari sekadar mendapat pendapatan, di mana pekerja memperolehi keterampilan dalam bidang konstruksi.

Pihak kontraktor (majikan) memperolehi tenaga kerja yang relatif lebih murah, akan tetapi harus menanggung kos pelatihan, walaupun pelatihan yang dimaksud bukan secara formal, tetapi pelatihan langsung yang diperolehi selama bekerja. Pihak yang kedua adalah pekerja, di mana pekerja memperoleh keterampilan, secara tidak langsung keterampilan yang didapati akan meningkatkan nilai pekerja dari segi status dan juga gaji. Sehingga pekerja yang telah bekerja di sektor industri konstruksi dalam jangka masa tertentu memperoleh keterampilan yang bisa menaikkan nilai mereka. Keterampilan yang diperolehi dari pembelajaran secara tidak langsung ini telah memberikan keuntungan kepada pekerja.

BAB III

SARAN DAN REKOMENDASI

4.1 Usulan kepada negara penghantar

1. Bagi negara penghantar, seharusnya tidak mendorong warga negaranya memasuki negara lain dengan model migrasi pertalian (chain migration), yaitu migrasi melalui sistem persaudaraan, karena akan mengganggu kestabilan negara yang dituju, seperti menimbulkan masalah sosial bagi masyarakat tempat pekerja berada. Selain itu juga membawa dampak yang tidak baik bagi pekerja itu sendiri, negara penerima tidak dapat mendata setiap pekerja yang masuk ke negaranya. Oleh karena itu, pekerja Indonesia terpaksa menjadi pekerja tidak sah dan bekerja secara informal, yang tidak memperoleh keuntungan seperti jaminan sosial, asuransi yang semestinya diperolehi.

2. Negara penghantar harus mengutamakan keterampilan kepada pekerja yang masuk ke negara lain untuk bekerja, sehingga negara penerima tidak perlu menanggung biaya dalam menjalankan latihan-latihan, walaupun latihan yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah latihan secara tidak formal.

3. Industri konstruksi di Malaysia diramalkan akan mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun kedepan. Maka Indonesia sebagai negara yang mempunyai kelebihan tenaga kerja mesti bisa memanfaatkan peluang ini, untuk mengurangi tingkat pengangguran. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah memberikan latihan yang baik kepada calon pekerja yang akan bekerja dalam industri konstruksi di Malaysia. Selain memberi peluang pekerjaan kepada penduduk juga memperolehi pulangan (remittances).

4.2 Usulan kepada negara penerima

Pekerja migran yang bekerja dalam industri konstruksi, semestinya, tidak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasaran bebas (capitalis), karena dengan demikian akan mengurangkan tahap kesejahteraan pekerja. Padahal secara tidak langsung pihak kerajaan Malaysia juga mendapatkan keuntungan dari pekerja migran tersebut. Seandainya diserahkan kepada mekanisme pasar, maka pekerja sukar memperolehi tahap kesejahteraan yang baik.

4.3 Usulan kepada PPI

Tindakan rill dari lokakarya yang telah dilaksanakan adalah memberikan bimbingan kepada pekerja dalam bentuk keterampilan untuk meningkatkan bergaining power, pendidikan untuk meningkatkan pemahaman berkaitan dengan peraturan-peraturan negara tempat mereka bekerja dan kegiatan kerohanian untuk membentengi moral pekerja sehingga tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Dalam rangka melaksanakan ketiga hal di atas maka PPI-USM akan membuka diri untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain seperti KONJEN-RI Penang dan FORKOMMI (Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia)—di Malaysia.

4.4 Penutup

Demikianlah, beberapa pokok pikiran yang bisa disarikan dari lokakarya yang dilaksankan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia pada tanggal 3 Mei 2007 di Hotel Vistana Pulau Pinang Malaysia.

Referensi

Christine B N Chin, In Service and Servitude Foreign Female Workers and Malaysian Modern Project (Whitehouse Station: Columbia University Press, 1988).

Hadi, Abdul Samad. (1998). Tetamu yang tidak pernah diundang: Kemelut pekerja asing tanpa izin di Malaysia. (dlm). Katiman Rostam et. al. (pnyt.). Pembangunan, perbandaran dan alam sekitar, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Hansenne, M. (1991). The dilemma of informal sector, Geneva: International Labour Office.

Pillai, P. (1992). People on the move: an overview of recent immigration and emigration in Malaysia, Kuala Lumpur: Institute of Strategic and International Studies.

Rashid, Abdul, A. A. (2001). Foreign labour in the Malaysian construction industry Available: http://www.lib.usm.my/bpp/New%20Folder/pasing.html. 1/8/06.

Rudnick, Anja. (1996). Foreign labour in Malaysian manufacturing: Bangladeshi workers in the textile industry, Kuala Lumpur: Insan.

Suharto, Edi. (2005). Accommodating the urban informal sector in the public policy process: A case study of street enterprises in Bandung Metropolitan Region (BMR), Indonesia. International Policy Fellow. Dalam Suharto Edi, Analisis Kebijakan Publik, Bandung: Alfabeta.

Utusan Malaysia, 22 Ogos 2006.

Utusan Malaysia, 24 Ogos 2006.

Rumusan Kesimpulan Diskusi Sesi 1 ( Moderator Dr. Wahyudi Kumorotomo)

  1. Penyelesaian masalah TKI di Malaysia hendaknya didasarkan pada semangat kerjasama dari semua pihak di Indonesia dan Malaysia, dengan ”win-win solution” sebagai bangsa serumpuan, satu bahasa dan budaya
  2. Inpres No. 6 tahun 2006 tentang perlindungan TKI perlu didukung oleh pelbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Pastikan PJTKI liar diberantas dan pihak pekerja dan penyalur tenagakerja saling terbuka
  3. Informasi mengenai TKI jangan hanya mengacu kepada media sebab terkadang ia juga memiliki kepentingan. Perumusan kebijakan semestinya dirujuk pada data yang objektif, adil dan bermartabat
  4. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan kembali untuk membatasi pengiriman pembantu rumah tangga (PRT) sebab kelompok ini yang paling banyak menghadapi masalah. Saat ini sektor pekerja ini berjumlah 25.47 % atau 305.808. Dari jumlah ini 30.000 lari dan menjadi TKI illegal.
  5. Pemerintah Indonesia-Malaysia seharusnya menindaklanjuti kebijakan bukan hanya berpegang pada MOU. Salah satu butir penting yang harus segera ditetapka adalah agar pekerja rumah tangga tetap memegang paspornya sendiri

Wednesday, May 23, 2007

Pengantar Rumusan Lokakarya TKI

PENGANTAR

Kami mengucapkan syukur alhamdulillah karena tim perumus telah berhasil mengambil beberapa ide dan gagasan dari sebuah Forum Diskusi yang membincangkan Pekerja Indonesia di Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia di Hotel Vistana 3 Mei 2007 dan dilanjutkan dengan pertemuan tidak resmi di Kafe Minden bersama mahasiswa Indonesia.

Merekam acara ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kegigihan panitia di bawah koordinasi Saudari Forien untuk melibatkan langsung pihak terkait dan organisasi sosial kemasyarakatan dari kedua negara. Memang pernah terbersit ragu di sebagian mahasiswa yang terlibat dalam kelangsungan acara di atas, karena kita sepertinya mengukir di atas air. Tetapi justeru keraguan inilah yang mendorong panitia terus bergerak untuk mewujudkan impiannya agar saudara kita tidak lagi merasa kesepian. Akhirnya, halangan dan rintangan bisa dilalui.

Terus terang, kegiatan ini adalah sangat mahal, untuk itu kami berusaha menebuskannya dengan bersungguh-sungguh membuat sebuah catatan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah, masyarakat dan mahasiswa menghadapi persoalan TKI. Tambahan lagi, Persatuan Pelajar Indonesia USM akan melaksanakan beberapa program yang berkaitan dengan pemberdayaan pekerja Indonesia di Pulau Pinang.

Sesi pertama yang dimoderatori oleh Dr. Wahyudi Kumorotomo ini melibatkan Dr. Ir. Arifien Habibie, MS (ketua Pokja Perlindungan TKI), Perwakilan Imigrasi Malaysia, Prof Madya Dr Arndt Graf (Dosen Jerman di USM), Prof Madya Haji Mohd Haji Mohd Yusoff (Timbalan Dekan Komunikasi), dan Muhammad Iqbal, S. Psi, M.Sos.Sc (Pakar Perburuhan dan Konsultan pada International Organizaton for Migration Jakarta). Pada bagian pertama ini, panitia berusaha untuk memahami masalah TKI dan jalan keluarnya. Lalu, sesi kedua, yang dipandu oleh Ahmad Sahidah, berusaha mendengar langsung pengalaman Datuk Raja Zulkepley Dahalan (Presiden Persatuan Agensi Pembantu Rumah Malaysia), En. Faruk Senan (majikan Melayu), En. Mohd Azmi Abdul Hamid (Presiden Teras Pengupayaan Melayu) Ibu Faridah (pembantu dari Indonesia), Neng Arni dan Suryani (Pekerja Pabrik), dan Ahmad Zaki, Lc (pegiat buruh dan ketua Forkommi Malaysia wilayah Utara).

Di dalam brosur kegiatan, informasi tentang tujuan forum ini sangat jelas yaitu meningkatkan kepedulian kita terhadap pekerja, mengumpulkan data tentang mereka, menilai kembali kebijakan-kebijakan Pemerintah RI, mengembangkan kerjasama antara kedua belah pihak, baik antara pemerintah maupun bukan pemerintah (lembaga swadaya masyarakat). Pendek kata, kami sedang mencoba untuk melihat persoalan buruh Indonesia secara pendekatan simbolik, bukan status quo apalagi konflik.

Kehadiran peserta dari Universit Malaysia dan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia membuat pertemuan ini tidak sekadar upacara, tetapi lebih jauh membongkar 'ketidakbecusan' masyarakat Indonesia sendiri tentang nasib pekerja yang mencari nafkah di negeri Jiran ini. Bahkan perundang-undangan yang berkaitan dengan pekerja dipandang hanya menguntungkan pihak pemerintah kedua negara dan majikan dan tentu menjadi sebuah pertimbangan penting untuk melahirkan sebuah rekomendasi dan akhirnya ke dalam mendorong mahasiswa Indonesia di Universiti Sains Malaysia secara khusus dan seluruh mahasiswa Indonesia di Malaysia secara umum untuk tidak lagi hanya bermain kata-kata tetapi juga mewujudkan gagasan besar itu ke dalam aksi nyata bersama para pekerja.

Tim perumus mencoba untuk mencatat kembali sebuah perhelatan penting bertajuk "Pekerja Indonesia di Malaysia: Strategi Komunikasi dan Harmonisasi". Kami telah memperoleh banyak bahan, baik artikel, presentasi (rekaman), dan perbincangan tidak resmi untuk menghasilkan sebuah rumusan yang menyeluruh. Namun demikian, kami sadar bahwa sumbangan teman-teman Mahasiswa seluruh mahasiswa akan menyegarkan pembacaan kami terhadap masalah yang acapkali menggelayuti para TKI.

Agar tim perumus bisa menghadirkan kembali gagasan besar di atas, kami mengadakan rapat bersama panitia pada tanggal 11 Mei di ruang musyawarah Gedung Persatuan Pelajar USM. Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Wahyudi Kumorotomo dan telah menghasilkan satu komunike.

Akhirnya, tim perumus menyatakan penghargaan terhadap seluruh panelis, peserta dan pihak media yang turut serta menyukseskan perhelatan ini. Tentu saha, dukungan dari Pemerintah Indonesia Jakarta, Kedutaaan Besar Republik Indonesia Malaysia, Konsulat Jenderal Republika Indonesia Pinang, kerajaan Malaysia, PPI Malaysia.

Minden, Malaysia, 19 Mei 2007

Tim Perumus:

Ketua : Ahmad Sahidah
Sekretaris : Alhilal Furqan
Anggota : Wahyudi Kumorotomo, Puji Harto, dan Supriyanto

Saturday, May 19, 2007

Religious Adherence Requires Symbolism and Morality

The_jakarta_post Hari ini saya menerima email dari Raditya, Alumnus PPI Sunway College, bahwa tulisan saya di The Jakarta Post bertajuk 'Religious Adherence require symbolism and morality' (14 Mei 2007) menarik perhatian beliau sebagai pembaca.

Pesan artikel di atas jelas bahwa kita tidak bisa menanggalkan simbol-simbol keagamaan, tetapi sekaligus menjaga pesan moral yang ada di dalamnya. Jika jilbab dianggap sebagai simbol wanita muslimah, maka sekaligus ia juga menampilkan makna yang ada di balik secarik kain itu. Keduanya berjalin kelindan. Adalah tidak elok seseorang menggunakan jilbab, tapi masih menyisakan 'tubuhnya' dinikmati oleh orang lain. Sebab, jilbab itu pada hakikatnya menutup aurat, dengan kata lain kehormatan.

Jika, kita menegaskan bahwa shalat jamaah itu mempunyai keutamaan, maka kita juga akan merawat hubungan sosial di luar masjid karena sebagai muslim kita harus memupuk kebersamaan. Adalah aneh jika seorang hamba rajin berjamaah, tetapi hidupnya menyendiri. Sepertinya, Surga telah ada digenggamannya.

Di luar kabar artikel ini, saya juga ingin berbagi dengan teman-teman bahwa Anda bisa menulis untuk koran The Jakarta Post sesuai dengan disiplin Anda karena saya yakin bahwa teman-teman di sini banyak yang jago dalam bahasa Inggeris.

Wassalam,
Ahmad Sahidah

Untuk bacaan lebih lanjut tentang gagasan di atas bisa dibaca di http://www.thejakar tapost.com/ yesterdaydetail. asp?fileid= 20070514. F05.

atau selengkapnya di bawah ini:

Religious adherence requires symbolism and morality
Opinion and Editorial - May 14, 2007

Ahmad Sahidah, Penang , Malaysia

It is necessary that religious text is related to its context. This statement is actually recurrent of old postulates concerning the close relations between them. The Koranic text, for example although written in Arabic, does not mean Islamic principles should be based on the artificial application of Arabic stuffs, including how to dress in daily life. We shouldn't be confused between the message of the text and the form of its realization.

For Indonesians, it is natural we appreciate the religious related text in the terms of local specifics. We often understand scriptures differently when we find them in different time and space. Logical consequence of this condition springs a different belief and commitment. Each group prefers their own point of view and ignores the others. These insights imply a complex social and cultural communication. On the one hand, human relations stress equality and egalitarian attitudes. While on the other, they impose the narrowness based on subjective revelation interpretations.

According to Louis Dupre in his book Religious Mystery and Rational Reflection: Excursions in the Phenomenology and Philosophy of Religion, the diversity also appears in religious acts. The later does not exist without the symbolical expressions. As a Madurese Muslim, I have performed some rituals in terms of my traditional views. Religious acts themselves illustrate religious experiences that reveal religion does not only relate to thought but also experience.

Edward Schillebeeckx, a Dutch theologian, asked how historical figures, living in a remote culture, initiative a universal experience and even elicit new experience? Especially when fully estranged from the religious culture in which the message was delivered. Although this question is related to Jesus, it is applicable to other figures who declare the message of prophecy and truth.

He expressed two things related to the above question. Firstly, revelation can be received in and through human experience. Experience is an essential part of the concept of revelation. Secondly, the whole experience contains elements of interpretation. The past experience can be directly comprehended by contemporaries, because it presupposes different things. This statement shows us clearly that distortion and bias of religious text occur easily. The fair and pure treatment of the text and experience in themselves would essentially introduce a true apprehension.

The most theoretical and practical norms of scriptural religions (Judaism, Christian and Islam) are derived from what they call a revelation that brings the uniqueness of personal, cultural and socio-political aspects of prophets. This interacts with the prevailing culture and the later colors each cosmology and social moral of religions.

There are at least two responses to the above issues: understanding the revelation through rational inquiry and faith acts. And this is found in the search for the meaning of life. The second is exclusively given in a divine revelation. The two distinguished sides appear simplistic, but in fact reflect a reality of religious thinking existing in society. These two responses cannot be separated and should be complementary. Achievements of textual interpretation inevitably vary either externally or internally. Pluralism is not a jargon for rulers to create societal order or underestimate conflicts in the different religious communities -- religions have an obligation to play their role in endorsing peace, harmony and co-existence.

Unfortunately, a political drive undeniably becomes a trigger for competing in religious symbols in order gain power. The internal religious scholars strongly criticize the use of religion as a bumper or vote-grabber, because of the apparent conflicts on a massive scale. The choice of inclusive views is not just a tactic. Inclusive views are a necessity because of the variety of people and the actualization of religious teachings. Abu Hamid al-Ghazali, Islamic theologian and philosopher, was correct when he said the role of ulema and government was completely different. The first is responsible for planting moral values and the second bears the duty of manifesting the rules in the society. In summation, the ulemas play a moral role not a political role -- and given this, they may also solve tension between groups in a more effective way.

The writer is a PhD candidate of Islamic civilization, University of Science Malaysia, Penang. He just finished writing his dissertation entitled The Relation between God and Man in the Koran: A Study of Toshihiko Izutsu's Semantic Analysis Through A Hermeneutical Approach. He can be reached at ahmadsahidah@gmail.com.

Tuesday, May 15, 2007

Disertasi Sudah Selesai

Kemarin saya mencetak disertasi menggunakan pencetak (printer) Hewlett Packard Laser Jet 1100. Setelah selesai, saya merasa lega karena telah menyelesaikan tugas akhir yang melelahkan. Tidak saja penulisan ini menuntut stamina dan tenaga yang cukup, tetapi juga memaksa otak terus bekerja tanpa henti selama dua tahun 4 bulan 15 hari. Meskipun, saya tidak menjadikan waktu 24 jam berkutat dengan buku yang dijadikan bahasan disertasi. Saya menyisipkan waktu untuk melakukan banyak hal, seperti membaca kajian ilmu-ilmu sosial lain, berolahraga, dan menikmati hobbi, nonton film.

Hari ini 15 Mei 2007, saya menyerahkan seluruh bab disertasi pada Profesor pembimbing. Lega rasanya saya bisa merampungkan karya ini. Namun, saya masih berusaha untuk menambah bahan, memperbaiki susunan bahasa dan kesinambungan gagasan baik antara paragraf, bab dan akhirnya seluruh disertasi mengungkapkan satu pemikiran yang jelas, sistematik dan konklusif.
Pada pertemuan ini, saya juga memberikan foto kopi tulisan saya di Utusan (3/Mei/2007) bertajuk "Keperluan Dicipta untuk Kaut Keuntungan". Paling tidak, beliau tahu bahwa pada tagline terterta Penulis adalah Pembantu Penyelidikan Siswazah di USM. Ya, saya sedang membantu pembimbing melakukan penelitian terhadap manuskrip Arab abad ke-12 yang ditulis oleh Abdullah 'Arif.

Sekarang, saya sedikit boleh santai untuk melemaskan syaraf otak yang diperas selama ini. Meskipun ada pekerjaan lain yang menunggu yaitu menulis di Jurnal Pemikir tentang 50 tahun kemerdekaan Malaysia. Tentu, saya akan memilih tema yang relatif umum, yaitu makna kebebasan dalam perspektif filsafat. Dalam benak, saya telah membayangkan untuk membaca buku Isaiah Berlin, Four Essays on Freedom dan karya-karya filosofis Jean Paul Sartre.

Latar Lagu: Soldier of Fortune Deep Purple.

Thursday, May 10, 2007

Bahagia itu Mudah

Jika kita ditanya apakah kita bahagia? Rasanya susah kita secara spontan menjawabnya, ya! Paling tidak, kita mengernyitkan dahi sejenak untuk mencerna apa itu bahagia? Ketika kita terkuras energi untuk memikirkan jawabannya, sebenarnya kebahagiaan telah menjauh dari kita.

Mudahkan saja! Jawab ya. Karena kita masih diberikan napas untuk hidup dan menjalaninya tanpa diganggu oleh kesakitan. Memang, kaum utilitarian menegaskan kebahagiaan tiadanya rasa sakit dan lebih jauh perolehan kesenangan. Namun, berbeda dengan Sade, yang justeru memperoleh kebahagiaan dari rasa sakit [Silahkan lihat film The Quill. Sebuah nubuat yang mungkin bisa dipertimbangkan dari Sade adalah It has pleased nature to help us achieve happiness only through pain). Tapi, pernahkah kita merasa tenang dan nyaman dengan keadaan sebegini? Ini berpulang pada kita. Sebab, ternyata hidup sekarang telah menuntut banyak dari kita.

Bagi saya, hal yang mendasar dari pengertian di atas adalah bagaimana melakoni hidup ini apa adanya. Bahagia bagi saya adalah ketika, seperti siang ini, saya bisa melangkahkan kaki ke warung makan Zubaidah untuk menyantap makan siang. Sengaja saya mengambil air dingin di IPS untuk minum sehabis makan, sebagai kiat untuk mengurangi konsumsi gula. Menjaga asupan glukosa penting karena ia bisa menyebabkan diabetes. Makan yang semula diniatkan untuk menjaga kesehatan kadang justeru mendatangkan bahaya.

Adalah keasyikan tersendiri mengunyah nasi dengan menikmati video musik India [Menu tambahan Kedai Makan Zubaidah USM]. Mungkin bagi sebagian orang, film India terasa sangat membosankan karena dijejali dengan tarian dan nyanyian. Tak tanggung-tanggung, hampir dalam setiap adegan tertentu, sang tokoh juga mengekspresikan pesan melalui gerakan. Justeru, saya menikmatinya. Selain gerakannya yang dinamik, biasanya setting untuk pengambilan gambar adalah tempat lapang, bisa di pegunungan, pinggir laut, dan di sela-sela bangunan-bangunan kuno.

Setelah kenyang, saya masih duduk sebentar untuk memberikan jeda pada tubuh sebab baru diisi 'minyak'. Lalu beranjak menelusuri lorong-lorong dan keluar di pelataran Fakultas Seni. Pohon pukul lima tampak kukuh dan daun-daun kecilnya berguguran diterpa sinar matahari. Ada pendaran dan satu persatu sepertinya melakukan gerakan ritmik yang menggugah naluri artistik. Semacam ada musik alam yang melantukan harmoni. Damai di hati, damai di jiwa. Jangan tanya, ini masuk akal atau tidak, sebab itu urusan logika. Tidak semuanya harus diukur oleh rasio. Nikmati saja! Maka bahagia akan datang.

Lalu, mengapa saya mau melakukan ini semua? Karena saya ingin menghadirkan kebahagiaan sebagai peristiwa yang ada di hadapan kita, bukan keinginan yang ada di seberang. Rasa riang ini bertambah karena ketika mau mengakhiri tulisan ini saya disuguhkan lagu Love of a Life Time Firehouse. Lagi-lagi, pengalaman tentang lagu ini adalah potongan cerita kebahagiaan yang lain.

Bahkan, ketika saya banyak belajar dari Pak Yatno tentang pelbagai hal, ini juga adalah kebahagiaan. Beliau membuka kisi-kisi hidup makin berwarna. Selalu saja ada tafsir kedua tentang kenyataan. Lalu, jika tafsir saya tentang realitas yang berlapis digabungkan dengan milik orang lain, bukankah inilah kekayaan itu? Sesuatu yang dicari oleh banyak orang? Tapi, saya tidak pasti dengan Anda tentang bagaimana menjadi kaya?
Mungkin fragmen-fragmen ini juga kebahagiaan:
  • Kemarin, saya bangun bagi. Seperti biasa, selepas dari surau, saya menyalakan komputer untuk membaca koran secara on line. Biasanya, kegiatan ini tidak lama karena saya selalu membatasi diri untuk membaca rubrik 'tajuk' (editorial), opini, berita politik dan human interest. Selang beberapa menit kemudian, saya melongok ke luar jendela untuk menikmati hijanya pepohonan. Ups, bukit di atas tampak 'murung' karena masih digelayuti kabut, yang bersemayam dengan tenang. Kalau diperhatikan, ia seperti kapas. Ingin rasanya bisa bermain di sana.
  • Mendapat balasan surat dari ketua penyunting Jurnal Pemikir bahwa penyumbang tulisan tidak dikirimi naskah, tetapi jumlah honorarium (bayaran) ditingkatkan. Oleh karena itu, saya tidak menunda lagi untuk membeli jurnal tersebut seharga RM 25 di kedai mahasiswa. Selain itu, beliau meminta saya untuk menulis kembali berkaitan dengan tema 50 tahun kemerdekan negeri Jiran
  • Semalam saya terbangun di tengah malam. Mungkin, malaikat berbaik hati untuk menyela tidur saya karena saya belum bersembahyang Isya'. Tiba-tiba, hati saya melonjak kegirangan karena hujan turun. Bunyi genteng yang dijatuhi air menentramkan jiwa, sebab degup jantung menyertai iramanya, laksana satu simfoni.
  • Bermain tenis lapangan. Pak Allwar dengan sabar mengajari saya memegang raket yang benar, melakukan service, dan lain-lain. Belum lagi, di lapangan saya bertemu dengan banyak orang, seperti Pak Rahmat, Mas Iwan, Pak Iman, Pak Dodi, Pak Kum, Pak Afrizal, dan tentu Mas Hilal dan Pak Supri. Sebelumnya, saya pernah berlatih tenis pada Pak Mustar, teman Melayu. Karena masih pukul 5, matahari dengan garang menerjang tubuh sehingga keringat meleleh deras dan tenggorokan kering. Ternyata minum air dalam keadaan dahaga adalah satu kenikmatan tiada tara. Sepertinya, saya memberi kehidupan dan tenaga pada tubuh yang meradang karena energinya dikuras dan cairannya dihisap oleh terik.
  • Menonton film the Next di Q-Bay bersama Pak Allwar, Mas Ayi, Mas Dian dan Adik Woelan. Kalo hanya film ini yang membuat saya bahagia, rasanya tidak. Sebab, di kamar saya sering menikmati film (bajakan). Mungkin, karena kebersamaan menjalani detik-detik layar memancarkan gambar adalah kegembiraan yang lain. Ada banyak cerita lucu dan anedot mengalir.
  • Kami, Pak Allwar, Pak Yatno, Pak Zainal sering menghabiskan waktu berbual di kamar. Tak ada tema, semuanya muncul spontan. Justeru di sinilah kekuatannya. Kelucuan hadir karena bapak-bapak ini kaya akan pengalaman. Tak jarang, saya terpingkal-pingkal dan perut terguncang karena melepas tawa.

Jika kebahagiaan adalah sesederhana di atas, maka sejatinya kita akan memungut kebahagiaan setiap hari. Ia dengan sendirinya selalu ada dan bisa diwujudkan. Semuanya bisa dikendalikan oleh otak kita. Peristiwa itu netral, kata Pak Rahmat. Kita yang memberinya makna. Dengan kemauan untuk meletakkannya di dalam pelbagai tafsir, kita tak akan pernah berkubang pada kenestapaan. Percaya!

Lagi-lagi, setiap kali jari ini menari mengetuk huruf-huruf, soundtrack film serial Dawson Creek turut menemani. Tak terelakkan, kegembiraan bertambah-tambah. Dulu, saya sangat mengandrungi film remaja ini. Masih terbayang jelas betapa lugunya si Katie Holmes. Sempat terbersit, saya ingin mengajaknya terbang di awan.

Sunday, May 06, 2007

Tanda Tangan sebagai Tanda Cinta


Sampai hari ini saya berusaha mencintai buku beserta ihwal yang berkaitan dengannya. Dulu, di Yogyakarta, saya meminta pada penjual buku untuk tidak merekatkan sampul plastik dengan selotip. Permintaan ini didasarkan ketakutan saya bahwa jika plastiknya rusak, kulit sampul akan mudah ‘rusak’ jika plastiknya diganti. Saya tidak ingin membuat buku luka.

Bahkan, saya tidak hanya mencintai buku, melainkan juga mengagumi pembuatnya. Adalah tidak aneh jika saya meminta tanda tangan kepada Pak Suyatno ketika beliau memberikan saya sebuah karya bertajuk Menjelajah Demokrasi (Yogyakarta: Liebe Book Press, 2004). Nah, bicara tentang tanda tangan Pengarang, saya mempunyai kisah tersendiri dan untuk mengenalnya lebih jauh bisa dibaca di rubrik buku (di Balik Buku) Jawa Pos hari ini 6 Mei 2007 atau bisa ditelusuri di alamat berikut ini, dan semoga masih bisa diakses. http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=283972.

Tentu saja, pengalaman meminta tanda tangan Dewi RSD adalah ingatan yang terus melekat karena ketika beliau membubuhkan tanda tangan untuk novel Super Nova, saya hanya berjarak bebera cm dan bisa dengan leluasa membaui parfumnya yang mahal dan menyegarkan. Tetapi yang lebih penting adalah kemampuan penyanyi ini mengemas imajinasi dengan bahasa fiksi, meskipun dilengkapi dengan data non-fiksi, tentang pencarian makna hidup.


Ahmad Sahidah
Pemburu Tanda Tangan


Minggu, 06 Mei 2007,

Di Balik Buku - Pengarang dan Karyanya, Antara Azyumardi Azra dan Dewi Lestari

BAGAIMANA hubungan dua istilah dalam tajuk di atas? Jelas erat. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik antara keduanya. Betapa dekatnya sang empu dan buah karyanya, sehingga Pramoedya Ananta Toer menyebut karyanya sebagai anak rohani. Tetapi, apakah sebatas itu? Tentu tidak. Sebuah karya adalah kepanjangan isi pikiran dan ideologi sang penulis. Namun, ketika kita mau memahami sebuah karya, menurut Roland Barthes, pengarang tak lagi hadir. Ia mengatakan bahwa menghadirkan pengarang untuk memahami teks sama saja dengan membatasi teks itu sendiri. Dia menegaskan bahwa seorang pembaca harus memisahkan karya dari pengarangnya untuk membebaskan karya dari tirani penafsiran.

Saya berpendirian tak seekstrem Barthes. Dalam pengalaman selama ini saya melihat keterkaitan erat penulis dan karyanya. Kegagalan memahami sejarah pengarang akan membuka kemungkinan kealpaan dalam memahami isi pemikirannya. Misalnya, Kuswaidi Syafi’ie dengan Pohon Sidrahnya adalah seperti dua sisi mata uang. Pandangan politik, konteks sejarah, agama, etnik, psikologi, dan sifat kepribadian lain berlompatan di dalam puisi-puisi yang diluahkan dalam buku ini.

Hampir bisa dipastikan bahwa larik puisi yang ditulis Kuswaidi menggambarkan sejarah hidup, keyakinan agama, cita rasa Madura (tanah kelahirannya), sosok yang temperamental, dan agak melankolik. Semakin jauh saya mengenal kepribadiannya, semakin dekat saya merasakan kegundahannya dalam karya. Tapi, bagi mereka yang belum mengenal dekat, tampak ada jarak yang menganga "lebar" antara spontanitas yang "arogan" dan diksi puisinya yang cenderung sufistik dan rendah hati? Bagi saya, ia adalah wajah tegar yang banyak memberi inspirasi.Pengalaman lain yang masih menyisakan sejuta tanya adalah ketika saya menemui Azyumardi Azra untuk meminta tanda tangan bukunya The Origins Of Islamic Reformism In Southeast Asia: Networks Of Malay-Indonesian & Middle Eastem "Ulama" In The Seventeenth And Eighteenth Centuries yang merupakan titipan guru besar saya di Malaysia. Tapi apa lacur, meskipun sudah menunggu di pintu masuk kantornya sedari pagi, saya harus menggigit jari karena ketika saya berhasil mencegat di pintu masuk seraya memulai dengan salam dan bertanya, "Pak, boleh minta tanda tangan untuk buku Bapak?", dengan wajah masam, Azra menjawab, "Apa sech!" dan berlalu begitu saja. Seketika itu, pesona pemikiran Azra yang bertebaran di sejumlah karyanya tentang Islam yang ramah, damai, dan menjunjung kemanusiaan menguap karena kekasarannya.

Tapi, saya masih menyisakan kesabaran dengan mengandaikan bahwa sosok yang saya temui adalah diri lain dari seorang yang bernama Azra. Bukankah pada setiap manusia terdapat alter-ego? Atau dalam bahasa psikoanalisis, tidakkah seorang individu boleh jadi mempunyai banyak wajah? Untuk itu, saya tetap mengejar dia ke ruang kantornya, meskipun saya tak bertemu langsung, tetap saya titipkan buku itu pada sekretarisnya untuk memintakan tanda tangan penulis produktif ini. Saya hanya memerlukan orang ini sebagai penulis buku, lain tidak.Berbeda dengan Chandra Muzaffar, pemikir muslim terkemuka negeri jiran, ketika saya meminta tanda tangan untuk bukunya Global Ethic of Global Hegemony. Dengan muka berseri dia menanyakan nama saya dan menuliskan for Ahmad with my best wishes. Tak pelak, saya menemukan garis yang jelas antara apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Kesinambungan ini menambah simpati saya kepada tokoh multidimensi ini.

Oh ya, pengalaman minta tanda tangan buku yang kuat menancap di benak adalah ketika saya menyodorkan Supernova pada penulisnya, Dewi "Dee" Lestari, dalam peluncuran novel tersebut di Lembaga Indonesia Perancis Jogjakarta. Tidak saja personel trio RSD (Rida Sita Dewi) ini menanyakan dengan lembut nama yang harus ditulis pada halaman judul buku, tetapi dia juga menebarkan sebaris senyum dan menguapkan aroma parfum yang membuat semerbak ruangan. Seakan-akan upacara tanda tangan ini melengkapi apa yang disampaikan sebelumnya tentang isi buku yang mencerminkan sosok penulis yang tahu bagaimana memaknai kemanusiaan.

Pemahaman yang Retak
Terus terang, empat peristiwa di atas mengantarkan saya pada pemahaman yang retak bahwa apa yang ditulis seorang pengarang kemungkinan berasal dari sebuah keyakinan, namun kemudian mengalami keterpecahan. Pertama, gagasan itu mewujudkan dalam tindakan. Kedua, ia hanya pengejawantahan dari sisi kognitif saja, belum menjadi sebuah keyakinan yang mampu menggerakkan si pengarang.Ada banyak kemungkinan mengapa gagasan para penulis tidak serta merta mewarnai tindak tanduk mereka. Boleh jadi, sebuah ide senantiasa selalu berada dalam ruang dan waktu yang berjarak dengan kenyataan. Tak jarang ia bersemai dalam ruang sepi. Bahkan, ada seorang pengarang yang mengabdikan sepenuhnya untuk sebuah sistem pengetahuan yangrumit tapi dalam kesehariannya ia menjalani hidup sendirian. Ya, Immanuel Kant yang tak pernah beranjak dari rumah dan taman kota, namun menulis dengan penuh meyakinkan tentang dunia di luar pengalamannya secara langsung. Bahkan, konon dia mampu menggambarkan deru ombak dengan sangat menyentuh, meskipun sebelumnya tak pernah melihat laut.

Cerita pengarang lain yang menunjukkan garis hubungan dengan pemikirannya adalah Nietzsche. Dia memberi perhatian yang utuh terhadap nasib manusia, sehingga dengan tanpa rasa takut mengumumkan Tuhan telah mati. Cinta kepada kemanusiaan ini bahkan ditunjukkan dalam penyebab tragis kegilaannya karena merasa terharu ketika melihat seekor binatang dipecut oleh sang sais kereta tanpa ampun. Jangankan kekejaman pada manusia, bahkan kekerasan pada binatang telah menggerakkan hatinya untuk membelanya sehingga ia hilang kesadaran.Sejatinya, memang mesti ada kesinambungan antara bahasa tulis dan tindakan. Sebab, tulisan adalah pemantapan dari bahasa lisan. Jika bicara menyalahi tindakan biasanya si pelaku dikatakan seorang hipokrit. Jadi, seyogyanya seorang penulis berhati-hati dengan apa yang telah ditorehkan dalam kertas, sebab ia menuntut untuk diwujudkan menjadi sebuah perbuatan nyata. Meminjam bahasa Rendra, perjuangan itu adalah melaksanakan kata-kata.

*) Ahmad Sahidah, mahasiswa PhD Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

[Sumber: Jawa Pos, 6 Mei 2007]