Posts

Showing posts from May, 2008

Menjelang Kongres PPI Malaysia

Esok, perhelatan kongres Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia ke-10 akan digelar. Jika tidak ada aral melintang, acara tahunan ini akan dihelat hingga 1 Juni 2008 di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Tepatnya di Aula Abdullah Mohammad Salleh. Menurut Mas Widdy Mubarak, human kongres, acaranya akan dimulai jam 8 pagi. Satu ikhtiar yang bagus untuk menunjukkan semangat, menggelar acara di awal pagi.Saya menaruh minat dengan pergerakan mahasiswa Indonesia di tanah jiran ini. Bahkan, saya pernah menulis makalah untuk sebuah konperensi internasional di Malang yang membahas peran PPI dalam hubungan dua bangsa, Indonesia dan Malaysia. Kebetulan di acara ini saya juga berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang juga turut serta, seperta dari UKM dan UIAM. Di sana, malah saya berjumpa dengan teman adik kelas di Jogja.Dengan pengalaman dua kali mengikuti kongres, saya telah menyelami karakter perhelatan mahasiswa Indonesia di tingkat nasional di sini. Seperti perhelatan yang lain, pemilihan ke…

Seri Sejarah Lisan ke-4

Tadi saya terlambat mengikuti Seri Sejarah Lisan ke-4. Ruangan Dewan Persidangan Universiti (DPU) telah dipenuhi peserta hingga sebagian harus berdiri atau duduk di kursi tambahan. Untungnya, saya kenal salah seorang panitia yang bekerja di penerbit Universitas, Encik Khairurrahim dan dia mengambilkan kursi untuk saya. Saya lebih konsentrasi untuk menulis apa yang disampaikan oleh Tan Sri Dato Seri Musa Mohammad, mantan Naib Canselor (sejajar dengan Rektor).

Di buku kecil itu saya mencoba menyerap apa yang dikisahkan oleh bekas menteri pendidikan ini. Katanya, pengabdiannya selama 13 tahun sebagai rektor adalah bukti bahwa dia diakui kapasitasnya. Keberhasilannya membawa USM dikenal di dunia dan melanjutkan warisan falsafah pendidikan rektor pertama, Hamzah Sendut adalah sumbangan yang lain. Pendekatan antardisiplin (interdiciplinary approach) dalam pendidikan sangat penting, agar tamatan universiti dalam taman ini memahami persoalan lebih holistik adalah rintisan rektor pertama yang s…

Hemat adalah Kata Kunci

Image
Saya sengaja memilih judul di atas untuk membelajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam hal memenuhi keperluan sehari-hari. Tidak harus pelit, tetapi harus menjaga pengeluaran. Tadi saya sempat membaca buku The Rules of Wealth yang menyatakan bahwa jika kita berpikir bahwa uang yang akan membuat bahagia, makan kita tidak akan mendapatkannya. Buku ini saya ambil dari rak pameran dan membawanya ke meja yang kebetulan ada dua teman Indonesia, Tauran - mahasiswa Master dalam bidang ilmu politik dari Malang dan Amien, bidang matematik dari Medan.

Saya bilang bahwa kita perlu makan di Indah Kembara karena di sana murah dan kalau pun mau makan di warung di luar, kita seharusnya pergi ke warung Jawa yang menyediakan menu makanan ala Indonesia, seperti bakso, pecel lele, pecel ayam, sate kambing dan rawon. Malaysia telah cukup kaya untuk kita bantu dengan membeli produknya. Toh, sebenarnya kehadiran mahasiswa Indonesia di sini telah membantu negara tetangga ini menarik 'investasi'. Ap…

Seharian dengan Kawan Karib

Kawan karib saya, Encik (Tuan) Zailani, akan kembali pagi ini dari tanah kelahirannya Kelantan. Saya dan kawan-kawan Indonesia memanggilnya Pak Zailani, karena beliau pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Aceh untuk S1 dalam bidang Perbandingan Agama. Malamnya, saya telah mengirim layanan pesan singkat (SMS) kapan kami bisa menjemputnya di bandara. Kebetulan, teman dari negeri Sri ini menitipkan mobilnya seminggu yang lalu.

Baru pagi tadi, dia menelepon untuk tidak dijemput dan memberitahu kira-kira jam 9.30 sampai di flat tempat saya tinggal. Namun, jam 9.30an, dia belum sampai dan terpaksa saya naik lagi ke lantai sembilan untuk memasak mie telor. Belum lagi saya menekan tombol, ayah beranak tiga ini menelepon kalau sampai di bawah. Dengan segera sayamenemuinya untuk sarapan di tempat favoritnya, restoran Kayu. Di sana saya memesan nasi, telor rebus dan es nescafe. Sebelumnya saya telah mengganjal perut dengan roti dan hazelnut.

Seperti biasa, kami selalu asyik berbinca…

Jangan Pukul Kepala Itu!

Image
Sumber: Jawa Pos, 26 Mei 2008
Oleh Ahmad Sahidah

Maraknya demonstrasi di tanah air sebelum dan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) perlu diperhatikan semua pihak. Tentu saja, selama unjuk rasa itu dikoordinasikan dengan baik, proses dialog akan berjalan baik. Peristiwa kekerasan di Universitas Nasional (Jawa Pos, 24/5/08) adalah bentuk kegagalan sebuah komunikasi.

Kepeloporan mahasiswa dalam menolak kebijakan pemerintah yang dianggap mencederai kaum miskin seharusnya dilihat sebagai alat kontrol alternatif di tengah macetnya saluran resmi, parlemen, yang terbelit oleh mekanisme dan kepentingan pragmatis. Namun, tidak jarang, aksi mereka berakhir dengan kericuhan yang menyebabkan terjadinya kekerasan berupa pemukulan, tendangan, bahkan penganiayaan oleh aparat.

Demo kenaikan harga BBM dulu juga pernah memantik aksi turun ke jalan. Pada masa itu, SBY mengingatkan agar polisi melakukan pengamanan. Dan sebagaimana dikatakan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, demo tersebut din…

Palestina, Kita dan Kemanusiaan

Image
Inilah gambar yang dikirim oleh sahabat Haikal Reza di milis Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia (PPI USM). Miris melihatnya. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Saya mencoba untuk menimpali agar kita bisa menghadirkan perspektif yang lebih utuh tentang drama kemanusiaan paling mengerikan di abad ini. Gambar-gambar ini telah melengkapi khotbah Jum'at kemarin di USM tentang al-Naqba (malapetaka) yang dirayakan oleh orang Palestina yang telah memasuki usia ke-60 tahun. Kalau Anda masih ingat kata tokoh utama dalam film Da Vinci Code bahwa gambar mempunyai ribuan makna, maka kita akan memperolehnya dari gambar seorang anak yang sedang menanti naza ibunya itu. Biarlah makna itu ada di masing-masing kepala.

Semalam, kami, Pak Allwar, Pak Wahyu dan Mas Tauran makan bareng di Tomyan dan sempat muncul pertanyaan apa yang kemudian kita lakukan terhadap nasib bangsa Palestina. Mungkin, hanya doa yang sempat terungkap, sebab kuasa kita masih jauh dibandingkan mereka yang berada…

Menulis di Jurnal adalah Eksistensi Saya

Image
Akhirnya saya mengikuti ceramah akademik bertajuk Publishing in High Impact Factor Journals: How not to get rejected oleh Prof Peter Brimblecombe, dosen Kajian Lingkungan dari Universitas East Anglia Inggeris (tentang dirinya bisa dirujuk pada situsnya di mana dia mengajar http://www.uea.ac.uk/~e490/www.htm). Karena terlamat 5 menitan, saya tak mendapat kursi. Tak apalah berdiri, mungkin pahalanya lebih banyak.

Karena berjubel, banyak peserta yang duduk di antara lorong kursi kelas Dewan Kuliah C Fakultas Ilmu Huma. Uniknya, banyak dosen USM yang ikut serta , dan juga mahasiswa asing, Arab dan Indonesia. Saya melihat beberapa di antaranya seperti Yudhi, Boni, dan Deddy. Tapi, sayangnya Badrun tak keliatan batang hidupnya, padahal sebelumnya kami telah merencanakan untuk menghadiri acara penting ini. Mungkin, dia kecapean setelah pagi sebelumnya begadang nonton pertandingan sepak bola piala Champion antara Manchester United dan Chelsea.

Saya mencatat banyak masukan dari paparan pakar lin…