Showing posts with label Kelestarian Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Kelestarian Lingkungan. Show all posts

Tuesday, September 09, 2014

Jalan Pintas

Kita acapkali menginjak kehidupan (misalnya, rumput) untuk meraih kehidupan yang lain, jalan pendek ke warung makan. Jalan pintas akan merusak jalan hidup kita.

Apa susahnya sedikit memutar, agar kaki ini tak malas dan larangan tidak menginjak rumput itu dipatuhi. Kalau hal sederhana kita tak tunduk, bagaimana hal besar kita bisa taati.

Maka hidup-hidupilah hidup! Tidak saja kita bisa menghargai kerja orang lain, tetapi juga menyelamatkan anggaran yang dikeluarkan untuk menghijaukan ruang. Masih ingat ketika taman di banyak kota diinjak-injak massa politik dan hiburan? Betapa naif! Mereka membela nilai, tetapi menerabas aturan. Mereka berhibur, tetapi merusak pemandangan kota. Dengan mengelak dari jalan pintas, sejatinya kita telah pantas menjadi manusia yang terbatas. 

Wednesday, July 31, 2013

Mengelola Sampah

Tong sampah ini terletak di bagian depan  rumah sakit KMC, Kedah. Berbeda dengan kebanyakan tempat sampah, siapapun tidak merasa risih dengan keberadaannya. Warna latar hijau dan gambar botol, kertas, kaleng dan buah apel tidak membuat kita jijik.

Dengan pembagian tempat sampah seperti ini, proses daur ulang (kitar semula) tentu akan lebih mudah. Seperti tertera di kiri bawah, selamatkan lingkungan (save the environment), hari ini kita menghadapi masalah sampah yang merusak persekitaran hidup manusia. Terutamanya, sampah plastik telah menyerbu banyak ruang hidup kita.

Dengan perlakuan terhadap sampah secara baik, pandangan kita terhadap bahan-bahan buangan tentu akan berubah. Namun demikian, betapapun tong sampah berada di mana-mana tidak berarti kita menggunakan bahan-bahan mudah buang seenaknya. Konsep penggunaan kembali (reuse) terkait penyelamatan lingkungan layak diperhatikan. Kalau hanya membeli sepotong sabun mandi, kita bisa menggunakan kantong baju sebagai tempat menyimpan, bukan tas plastik yang seringkali disodorkan oleh penjual. Maukah kita?

Monday, February 18, 2013

Menjaga Alam Kita

Adakah gambar ini bercerita sesuatu pada Anda? Ya, roti dan Panadol Soluble sedang tergeletak di sebuah meja. Adakah makna lain? Kita tinggal menempelkan sejuta tafsir.

Saya membelinya di toko kampus. Ketika penjaga mau membungkusnya, saya pun berucap lirih, tak payah Kak. Kita kena menjaga alam sekitar dengan mengurangkan tas plastik. Adakah orang lain juga melakukannya, tukas si kakak? Saya berusaha untuk menyampaikan pesan ramah lingkungan ini pada mahasiswa. Mari bersama-sama menyayangi alam yang sudah tua ini.

Dengan tas di tangan, saya tak memerlukan tas plastik. Sebelum pergi, si kakak berpesan, hati-hati, roti boleh lenyek! Tak, pe! Jawab saya. Kadang langkah-langkah kecil itu mendatangkan kesenangan besar. Tak hanya itu, saya juga berusaha untuk mematikan lampu dan komputer ketika beranjak dari ruangan dosen kampus.  Apakah aksimu untuk keselamatan bumi ini? 

Tuesday, May 29, 2012

Hari Tanpa Tas Plastik


Pasaraya ini memulai hari tanpa tas plastik pada 11 Januari 2012. Namun, pemilik pasar hanya membatasi pada hari Sabtu dan Senin. Tentu, ini adalah langkah awal untuk membiasakan pembeli tidak tergantung pada plastik. 

Lambat-laun, nanti pihak pengelola tidak lagi memberikan plastik sama sekali sehingga masyarakat bisa mengurangi sampah plastik di masa yang akan datang. 

Monday, May 28, 2012

Belajar Memilah

Biasanya tempat sampah tampak kotor. Namun,  tong sampah di atas tampak bersih, artistik dan cerita. Selain itu, ia hadir dengan tiga lubang yang berbeda, yaitu kertas, plastik dan alumunium. Ini berarti kita harus mengubah pandangan tentang sampah. 

Mungkin, kita memerlukan mata pelajaran khusus yang mengurai tentang barangan buangan ini dengan nama mata pelajaran Mengelola Sampah, lalu diikuti kegiatan praktis, sehingga kita tak lagi melahirkan warga yang abai terhadap masalah ini. 

Monday, October 17, 2011

Hak Hidup Rumput


Rumput ini baru saja bernapas lega. Ia memerlukan waktu untuk terus tumbuh dan menutupi tanah yang masih terlihat. Biarkan tanaman itu terus mekar! Hati-hati, jangan sampai kita mengakhiri hidupnya.

Wednesday, June 30, 2010

Mall dan Ruang Publik


Ruang publik merupakan arena interaksi diskursif, tempat pelbagai kelompok berbagi gagasan dan kepentingan untuk kehidupan bersama yang lebih baik. Mall sekarang telah menempati fungsi itu karena pelbagai kegiatan untuk keperluan khalayak juga dihelat di sini, seperti perbincangan tentang kehendak untuk membuat lingkungan lebih ramah lingkungan (sustainable environment). Gambar di atas adalah pelengkap dari sebuah ikhtiar untuk menghijaukan lingkungan di sebuah pasaraya, Pulau Mutiara. Bagaimanapun, masyarakat lah semestinya memelopori perubahan cara berpikir dan bertindak menghadapi pemanasan global yang diakibatkan percepatan teknologi. Jika masyarakat abai, maka kita memerlukan pemerintahan yang kuat yang bisa memaksa warga untuk menaati aturan penjagaan lingkungan.

Singapura berhasil melakukan itu. Indonesia tersengal-sengal mewujudkan masyarakat yang peduli terhadap sampah, misalnya. Demikian pula yang mendesak adalah undang-undang berkaitan dengan pembatasan rokok yang mangkrak hingga kini. Padahal, upaya mengurangi rokok amatlah penting untuk mengelak kerugian yang lebih besar. Malangnya, wakil rakyat memble, hanya bercakap besar, tetapi gagal meloloskan UU ini dengan segera. Untuk itu ruang publik yang memerantarai negara (the state) dan ekonomi perlu dimanfaatkan untuk melahirkan tindakan politik yang menguntungkan orang ramai.

Kedigdayaan perusahaan rokok besar mengangkangi 'ruang publik' dengan iklan telah mengebiri akal sehat banyak orang. Untungnya, mall selamat dari asap. Di pintu masuk, ada tempat untuk mematikan puntung rokok. Meskipun demikian, kita masih menemukan warung kopi mengizinkan perokok untuk mengepulkan asap tanpa batas yang jelas. Padahal tidak semua pengunjung tahan dengan bau asap. Apa lacur, di Republik ini batas pribadi dan publik tumpah tindih.

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...