Posts

Showing posts from November, 2008

Siapa Melecehkan Agama?

Sumber Suara Merdeka, 28 November 2008

PELECEHAN terhadap agama Islam terus berlangsung di muka bumi ini. Yang terbaru adalah penayangan kartun yang amat melecehkan Nabi Muhammad SAW pada blog apotuak.wordpress. com dan kebohongandariislam .wordpress. com. Pada waktu hampir bersamaan, muncul pula berita mengenai rencana peluncuran produk game Sony, meski akhirnya ditunda.

Peluncuran game komputer PS3 bertajuk Little Big Planet ini ditunda, karena ada kutipan ayat Alquran berikut ini: ”Kullu nafsin dzaiqatul maut" (setiap yang bernyawa pasti mati—Red). Tindakan cepat manajemen Sony tentu patut diapresiasi, karena bisa menghindari respons emosional dari umat Islam.

Apabila ini dianggap keberhasilan umat Islam menjaga agamanya, mungkin kita hanya perlu menganggukkan kepala pelan. Kita tidak perlu terlalu bergairah menyambutnya sebagai kemenangan, karena ternyata banyak pelecehan lain yang kurang diperhatikan justru oleh kaum muslim sendiri teradap ajarannya. Nampaknya sebagian umat Isl…

Mengunjungi Kapitan Keling

Image
Gambar di sebelah adalah sudut yang diambil ketika kami beristirahat sejenak setelah mengunjungi Masjid Kapitan Keling. Sebelumnya bersama rombongan, kami memasuki areal masjid di tengah terik matahari.

Posisi strategis dari masjid yang dibangun pada tahun 1801 oleh Kapitan Keling Cauder Mohudeen, seorang pemimpin Tamil Muslim memungkinkan menjadi pusat perhatian banyak turis (pelancong). Apalagi di sekitarnya, beberapa toko kelontong berjejer, yang menarik banyak perhatian orang untuk berbelanja.

Sesampai di pintu masjid kami disambut oleh pengurus yang berperan sebagai pemandu. Dia menjelaskan sejarah masjid ini, yang ternyata bahan dari pembangunan masjid ini berasal dari India dan Inggeris. Namun demikian, mimbar, tempat imam berdiri memimpin shalat, yang dilekatkan elemen baru berupa hiasan bermotif kotak-kotak adalah unsur baru. Demikian pula, alat penghalang merpati yang diletakkan di bundaran kubah merupakan bantuan dari kepakaran Barat, sehingga kotoran binatang ini tidak mengg…

Kawan Baru

Image
Sebagai salah satu kegiatan dalam SEAMUS (Southeast Asian Muslims for Freedom and Enligtenment), yang digelar di Ruang Sayang, Shangri-La, para peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berada di Georgetown, Pulau Pinang (lihat http://www.seamusnetwork.net).

Kami berangkat dari hotel jam 8.30 pagi. Menyusuri jalan berkelok dan menurun, saya merasakan sensasi. Namun, tentu saya tidak memikirkan kengerian ini, tapi justeru menikmati kebersamaan. Dengan sendirinya, setiap orang mengelompok sesuai dengan kecenderungan masing-masing. Kadang saya mencoba untuk memasuki setiap kelompok itu dan menyelami apa yang mereka pikirkan tentang banyak hal. Saya mendengar dan mencoba menyerap apa yang terlontar dari teman-teman baru ini.

Bagaimanapun, pengalaman selama tiga hari-empat malam berinteraksi telah merekatkan pertalian batin dan intelektual. Namun demikian, saya melihat betapapun peserta terikat dengan komitmen bersama tentang liberalisme, pluralisme dan relativisme, mer…

Mewaspadai Teror Lain

Image
Koran Surya, 21 November 2008

SETELAH pelaku teroris bom Bali, Imam Samudera, Ali Gufron dan Amrozi, mengembuskan napas terakhir di tangan regu penembak, apa yang tersisa di benak kita tentang pelaku teror?
Mungkin kita bergumam pelan, mereka telah menyia-nyiakan hidupnya yang seyogianya bisa digunakan mengubah keterpurukan umat dengan lebih sabar.

Sejatinya, tekad mereka yang bulat untuk lebih bermanfaat dalam menyebarkan kebajikan semestinya dengan cara yang menghargai kehidupan, bukan menghanguskannya. Sudah saatnya, penganut agama menyadari bahwa ajaran agama perlu dikembalikan kepada pangkalnya, menyelamatkan manusia dan lingkungan. Meskipun kelompok perusak ini kecil, namun dampaknya besar bagi keseimbangan kehidupan.

Perlu secara luas ditegaskan bahwa tindakan teror semacam itu bukan jihad dan dengan sendirinya berada di luar ajaran resmi Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menunaikan tugas ini dengan cemerlang.

Lalu, pernahkah kita memikirkan tindakan teror lain mengh…

Merayakan Ulang Tahun Isteri

Hanya dengan semangkok cendol dan es kacang, semalam kami merayakan ulang tahun di gerai makan Pasar Raya Tesco. Sebelumnya, kami berkeliling dalam pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Setelah lelah berjalan, kami pun mengaso dengan menyeruput minum segar. Saya sangat menyukai rasa khas kacang merah (jawa: Kacang Tholo).

Di sela ngobrol, saya juga menekuri buku Robert Guliani One Hundred Great Essays. Di sini, saya bisa menyelami pemikiran para penulis besar, dari zaman kuno hingga modern. Ya, dari Plato hingga Virginia Woolf, saya menelisik gagasan mereka. Ada getar kuat untuk belajar merangkai kata agar pesannya kuat. Jika pikiran berkerut karena dihadapkan dengan kalimat yang sulit, saya kemudian meneguk es yang ada di meja.

Untuk kedua kalinya, saya membaca buku di kedai ini. Ada kenyamanan karena suasana tentram. Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk isteriku. Semoga berkah!

Surau Kami Terang Kembali

Dua hari yang lalu saya terkejut karena pagar surat di flat kami tampak terang. Oh, ternyata, tembok itu telah dicat kembali, warna hijau muda. Jika sebelumnya, pengeras suara itu membuat saya tergerak segera turun ke bawah, sekarang, saya lebih merasa nyaman dengan wajah surau yang tidak redup seperti sebelumnya.

Saya sendiri berusaha sekuat tenaga untuk berjamaah di sini, paling tidak shalat Maghrib. Memang tidak banyak yang melakukannya, tetapi ini tidak menyurutkan niat saya untuk memakmurkan tempat ibadah ini. Selain menciptakan hubungan ketetanggan yang akrab, shalat jamaah merupakan sarana mengenal orang lain. Maklum, flat yang dihuni begitu banyak orang ini tidak memungkinkan penghuninya untuk saling berbagi, tanpa adanya sarana yang bisa mewujudkan tali silaturahmi yang intim. Nah, surau inilah yang mampu menciptakan suasana kebersamaan itu.

Zamri adalah salah seorang pengunjung surau yang rajin. Meskipun masih berusia belasan, dia telah berperan besar merawat rumah ibadah ini,…

Pantai Miami di Malaysia

Kemarin, di Minggu pagi yagn cerah, serombongan mahasiswa Indonesia mengunjungi pantai Miami untuk merayakan perpisahan Dr Jamhir dan Keluarga Pak Suwarno. Dengan menaiki bas (bus) sekolah, kami berangkat dari depan masjid kampus dan kemudian menjemput sebagian yang lain di rumah keluarga dalam kampus. Namun, perjalanan ini terhenti, karena sang supir ngambek. Dia tidak mau mengantarkan kami karena jumlah penumpang melebihi kapasitas. Ya, sebelumnya panitia memberitahu bahwa ada 44 orang yang akan menumpang bis, namun ternyata setiap keluarga kadang membawa dua, tiga sampai empat orang anak. Setelah berunding, akhirnya sebagian dari kami menggunakan mobil Pak Allwar, mahasiswa PhD bidang Kimia, menuju lokasi.

Inilah pengalaman pertama saya ke pantai bernama asing ini, Miami Beach. Sesampai di sana, Pak Warno memimpin membakar sate daging sapi, ayam, sosis dan udang. Sementara anak-anak teman kami berenang dan sebagian orang tua mereka mengawasi sambil turut berendam di pinggir pantai.…

Menggugat Sejarah "Indonesia" Versi Tentara

Image
Sumber: Kompas, 9 Nopember 2008

Ketika penulis buku ini memulai penelitian pada 1996, dia tidak menyadari betapa berpengaruhnya militer Indonesia dalam memproduksi dan membentuk ortodoksi sejarah Orde Baru.
Selain itu, penulis juga menceritakan bagaimana proses yang harus dilalui untuk melakukan penelitian di Indonesia, karena ketika penelitian ini digagas, Indonesia masih di bawah kekuasaan militer Orde Baru.
Perlu tujuh bulan untuk mendapatkan izin. Di halaman prakata, kita akan menemukan cerita betapa rumitnya birokrasi pada masa itu.
Peran Nugroho Notosusanto
Sebenarnya penelitian tentang kiprah militer di Indonesia bukan hal baru. Namun, karya ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap upaya manipulasi militer terhadap sejarah untuk kepentingannya dan yang mungkin agak mengejutkan adalah uraian penulis tentang seorang tokoh di balik propaganda ini, yaitu Nugroho Notosusanto.
Seperti telah diketahui bersama, militer Indonesia selalu mendaku sebagai unik. Ini disebabkan, pert…

Ke Klinik itu Lagi

Pemeriksaan rutin ke klinik pemerintah tidak lagi membingungkan. Segalanya berjalan lancar karena kami sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tempatnya yang agak terpencil tidak menghalangi untuk segera sampai karena kami telah akrab dengan jalan menuju ke bangunan yang terletak di bawah sebuah flat. Sesampai di sana, kami disambut oleh Mak Cik Norma, perawat senior, yang sangat ramat dan mempersilahkan duduk.

Alhamdulillah, berat badan isteri saya naik 3.1/2 Kg. Ini menambah berat badan secara signifikan sebelumnya yang memang harus melebihi 45. Demikian pula HB naik. Tekanan darah masih berkisar angka 100. Selain mendapatkan obat biasa, policasid, vitamin, dia juga mendapat tambahan iron tablets, sebagai penambah darah. Untuk kontrol kandungan ketiga ini hanya memerlukan waktu 10 menitan. Oh ya, sang dokter, En Ahmad, menyarankan untuk memeriksan jenis kelamin janin dengan USG di klinik USM saja. Tambah isteri, dokternya ramah dan sangat membantu, berbeda dengan kesan pertama yang tamp…

Sore yang Bahagia Itu

Sambil membaca Freedom, Modernity and Islam oleh Richard K Khuri, saya mendengarkan lagu Melayu 1990-an, Iklim, yang dibuka dengan lagu hitsnya Suci dalam Debu. Karya ini pernah bertengger di tangga puncak di radio Indonesia. Tiba-tiba, pikiran saya melesat ke kampung, ketika seorang pendengar dengan khusyu' membawakan lagu ini dengan petikan gitar, sebuah pertanda lagu ini benar-benar disukai orang ramai. Salim, sang pelantun, menyuguhkan suara khasnya menemani saya melawan bosan menunggu.

Peristiwa di atas terjadi bukan karena sengaja, tetapi pengisian waktu luang setelah kehendak pulang tidak menjadi kenyataan karena hujan tiba-tiba turun menderas. Saya membuka tirai agar bisa menikmati air yang bertaburan dan sempat melihat tanah bergeliat tertimpa butiran dan tampak riang karena basah menghilangkan gundah. Namun anehnya, awan yang tadi menutup bukit itu tersibak dan seberkas sinar keluar dari balik gumpalan warna hitam di atas sana. Akhirnya, matahari itu terlepas dari bayanga…

Mengajak Masyarakat Memilih Pemimpin

Hari minggu yang lalu, saya bersama Dr Jamhir, Pak Sugeng dan Pak Supri menunaikan tugas sebagai panitia pemilu di Pulau Pinang berupa pemasyarakatan pesan agar masyarakat Indonesia yang ada di sana menyukseskan pemilihan umum 2009. Dalam acara sosialisasi ini, panitia menyelenggarakan lomba karaoke untuk memancing para TKI datang. Bertempat di sebuah aula di Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR), acara ini berlangsung sangat meriah karena didatangi banyak warga Indonesia.

Sebelumnya, kami melakukan pengecekan data pemilih di kantor konsulat dan pada jam 1-an akhirnya kami berempat menuju tempat acara di atas. Sebagai bagian program Panitia Pemilu di Luar Negeri, acara ini menyisipkan banyak gambaran tentang pahlawan devisa, yang menemukan oase bisa bertemu dengan saudaranya dan mempunyai panggung untuk mengaktualisasikan dirinya dengan bernyanyi. Bisa ditebak, kebanyakan peserta lomba karaoke membawakan lagu dangdut, seperti SMS, Kucing Garong, Selamat Malam, Hari Berbangkit, dan Buta. D…