Friday, November 28, 2008

Siapa Melecehkan Agama?

Sumber Suara Merdeka, 28 November 2008

PELECEHAN terhadap agama Islam terus berlangsung di muka bumi ini. Yang terbaru adalah penayangan kartun yang amat melecehkan Nabi Muhammad SAW pada blog apotuak.wordpress. com dan kebohongandariislam .wordpress. com. Pada waktu hampir bersamaan, muncul pula berita mengenai rencana peluncuran produk game Sony, meski akhirnya ditunda.

Peluncuran game komputer PS3 bertajuk Little Big Planet ini ditunda, karena ada kutipan ayat Alquran berikut ini: ”Kullu nafsin dzaiqatul maut" (setiap yang bernyawa pasti mati—Red). Tindakan cepat manajemen Sony tentu patut diapresiasi, karena bisa menghindari respons emosional dari umat Islam.

Apabila ini dianggap keberhasilan umat Islam menjaga agamanya, mungkin kita hanya perlu menganggukkan kepala pelan. Kita tidak perlu terlalu bergairah menyambutnya sebagai kemenangan, karena ternyata banyak pelecehan lain yang kurang diperhatikan justru oleh kaum muslim sendiri teradap ajarannya. Nampaknya sebagian umat Islam telah mengalami pandangan miopik dalam merawat agama.

Jika mau konsisten menjaga Alquran, setiap muslim justru merasa terhina karena nilai-nilai kitab suci ini diinjak-injak sendiri oleh penganutnya, seperti kealpaan menjaga kesejahteraan manusia dan kelestarian alam.

Kemiskinan yang menjerat dan kerusakan alam yang meruyak adalah contoh nyata betapa kita telah mengabaikan perintah Alquran untuk menegakkan etika sosial sebagai pesan utama kitab suci dan tidak merusak alam karena melanggar titah Tuhan.

Salah Kaprah

Pernyataan umum yang kerapkali didengar adalah bahwa kekafiran itu selalu hanya dikaitkan dengan kelompok di luar Islam. Padahal pengertian kafir (kufr) di dalam Alquran mempunyai sejarah semantik yang panjang, yang tidak dapat diringkas hanya melalui pernyataan pendek dan bombastis, apalagi dalam pengertian tunggal seperti di atas.

Kata kafir sebenarnya juga menempalak muslim yang mengabaikan kelestarian alam dan tidak pandai bersyukur. Yang terakhir ini tak hanya diwujudkan pernyataan verbal, misalnya ucapan alhamdulillah, tetapi juga dibarengi dengan peduli terhadap penderitaan orang lain. Jika perusak alam bisa dikategorikan sebagai perbuatan kafir, mengapa muslim gagal mengangkat masalah pembalakan liar sebagai pelecehan terhadap agama?

Mengapa pembela Islam bungkam terhadap pelaku penggundulan hutan yang jelas-jelas telah menginjak kandungan kitab suci yang terang-terang telah diterakan, sementara penyisipan Alquran dalam permainan game dianggap pelecehan dan kita telah merasa lega karena menganggap telah menunaikan misi suci?

Demikian pula, perintah kitab suci yang diulang-ulang agar kesalihan pribadi berjalan seiring dengan kesalihan sosial, ternyata gagal diwujudkan dalam dunia nyata. Para penganutnya lebih mudah melihat ketundukan pada agama dalam bentuk ibadah ritual, misalnya shalat. Sementara kepedulian terhadap nasib manusia sering dikucilkan.

Pernyataan dalam hadits bahwa seseorang muslim yang kekenyangan dan membiarkan tetangga kelaparan maka rahmat Allah akan ditarik, tentu pesan yang juga menegaskan betapa sebenarnya kita luput memerhatikan pesan agama yang penting untuk diutamakan itu.

Hampir semua orang lebih mengedepankan pembelaan simbolik yang abstrak. Celakanya, terkadang para sarjana dan para elitenya juga mendukung, sekadar untuk mendapatkan dukungan politik. Di sinilah perlunya komunitas baru yang tidak lagi terpukau dengan perayaan simbol keagamaan semata-mata. Betapa pun penting simbol itu, namun terkadang isinya gerowong, jika ia semata-mata teriakan tanpa tindakan nyata.

Kesadaran Baru

Sebenarnya kehendak untuk melahirkan sebuah komunitas baru untuk melahirkan masyarakat yang lebih mementingkan pesan agama yang substil telah diyakini banyak orang. Mereka yang peduli terhadap pengutamaan terhadap undang-undang agama sejatinya sedang berikhtiar untuk menjaga kepentingan kemanusiaan, meliputi agama, akal, kehidupan, keturunan, dan harta.

Jadi, seharusnya tugas keagamaan memberi perhatian utama pada pemerataan pendidikan, akses kesehatan dan ekonomi, serta partisipasi publik untuk mengoreksi mereka yang diberi amanah berkuasa.

Kegagalan orang Islam, termasuk yang duduk di lembaga legislatif, untuk mendorong negara melindungi masyarakat korban lumpur di Porong, Sidoarjo, adalah contoh paling nyata dari kesilapan kita dalam memahami agama. Sebab perusak alam —bahkan penyebab kesengsaraan manusia— inilah sebenarnya yang telah melecehkan agama. Hampir-hampir kita bungkam untuk mengaitkan perilaku semacam ini sebagai pelanggaran nilai-nilai religiusitas. Sebuah kealpaan yang telah begitu mendalam menghinggapi umat beragama di Indonesia.

Demikian pula pengabaian terhadap nasib jutaan orang yang terbelit kemiskinan. Para pemimpinnya tak mampu mengelola kekayaan negara, namun diberi penghormatan sebagai ”penjaga agama” dengan mendapat tempat di barisan terdepan dalam setiap perayaan keagamaan, seperti Maulid Nabi dan Nuzulul Quran, bahkan disiarkan langsung di televisi.
Sebenarnya acara ini mempertontonkan kegagalan kita dalam menempatkan sesuatu secara proporsional, yang pernah disebut Nabi Muhammad sebagai ekspresi kezaliman.

Acara kenegaraan yang berbiaya mahal dan dihadiri para pemimpin yang selalu datang dengan mobil mewah itu jelas-jelas menohok kenyataan masyarakat kebanyakan yang hidup miskin dan papa. Tetapi media televisi mengemas perayaan ini sebagai kepedulian terhadap syiar agama, yang pada masa Rasulullah justru tidak pernah dirayakan.

Muhammad dan Umar ibn Khattab sebagai pemimpin membawakan diri sebagai sosok sederhana. Ini seharusnya mempermalukan para elite sekarang yang menjajakan agama ke mana-mana, namun pada masa yang sama melawan sosok yang patut diteladaninya (Rasulullah—Red) . Sejatinya, kegagalan negara melindungi rakyat ini mestinya mendorong kelompok keagamaan untuk menjadi perantara kesejahteraan rakyat, tanpa harus bergantung kepada negara.

Sayangnya, saat ini banyak organisasi keagamaan yang terlalu asyik dengan kasak kusuk politik kekuasaan. Sudah saatnya organisasi seperti ini mengajarkan agama tidak lagi sebagai barang murah yang ”dijual” di atas panggung dan diteriakkan di pinggir jalan. Lalu, kita berada pada komunitas yang mana? (32)

—Ahmad Sahidah, kandidat doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia.

Thursday, November 27, 2008

Mengunjungi Kapitan Keling

Gambar di sebelah adalah sudut yang diambil ketika kami beristirahat sejenak setelah mengunjungi Masjid Kapitan Keling. Sebelumnya bersama rombongan, kami memasuki areal masjid di tengah terik matahari.

Posisi strategis dari masjid yang dibangun pada tahun 1801 oleh Kapitan Keling Cauder Mohudeen, seorang pemimpin Tamil Muslim memungkinkan menjadi pusat perhatian banyak turis (pelancong). Apalagi di sekitarnya, beberapa toko kelontong berjejer, yang menarik banyak perhatian orang untuk berbelanja.

Sesampai di pintu masjid kami disambut oleh pengurus yang berperan sebagai pemandu. Dia menjelaskan sejarah masjid ini, yang ternyata bahan dari pembangunan masjid ini berasal dari India dan Inggeris. Namun demikian, mimbar, tempat imam berdiri memimpin shalat, yang dilekatkan elemen baru berupa hiasan bermotif kotak-kotak adalah unsur baru. Demikian pula, alat penghalang merpati yang diletakkan di bundaran kubah merupakan bantuan dari kepakaran Barat, sehingga kotoran binatang ini tidak mengganggu jemaah. Tidak itu saja, rombongan juga meneguk air mineral yang diberikan oleh pengurus masjid dan diberikan cenderamata berupa gantungan kunci yang bergambar masjid yang kubahnya berwarna hitam ini.

Wednesday, November 26, 2008

Kawan Baru


Sebagai salah satu kegiatan dalam SEAMUS (Southeast Asian Muslims for Freedom and Enligtenment), yang digelar di Ruang Sayang, Shangri-La, para peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berada di Georgetown, Pulau Pinang (lihat http://www.seamusnetwork.net).

Kami berangkat dari hotel jam 8.30 pagi. Menyusuri jalan berkelok dan menurun, saya merasakan sensasi. Namun, tentu saya tidak memikirkan kengerian ini, tapi justeru menikmati kebersamaan. Dengan sendirinya, setiap orang mengelompok sesuai dengan kecenderungan masing-masing. Kadang saya mencoba untuk memasuki setiap kelompok itu dan menyelami apa yang mereka pikirkan tentang banyak hal. Saya mendengar dan mencoba menyerap apa yang terlontar dari teman-teman baru ini.

Bagaimanapun, pengalaman selama tiga hari-empat malam berinteraksi telah merekatkan pertalian batin dan intelektual. Namun demikian, saya melihat betapapun peserta terikat dengan komitmen bersama tentang liberalisme, pluralisme dan relativisme, mereka tidak mempunyai satu kata tentang makna dari kata kunci ini. Sebab, di luar penanda ini, ada yang jauh lebih mampu merekatkan kita, kemanusiaan.

Tuesday, November 25, 2008

Mewaspadai Teror Lain


Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Koran Surya, 21 November 2008

SETELAH pelaku teroris bom Bali, Imam Samudera, Ali Gufron dan Amrozi, mengembuskan napas terakhir di tangan regu penembak, apa yang tersisa di benak kita tentang pelaku teror?
Mungkin kita bergumam pelan, mereka telah menyia-nyiakan hidupnya yang seyogianya bisa digunakan mengubah keterpurukan umat dengan lebih sabar.

Sejatinya, tekad mereka yang bulat untuk lebih bermanfaat dalam menyebarkan kebajikan semestinya dengan cara yang menghargai kehidupan, bukan menghanguskannya. Sudah saatnya, penganut agama menyadari bahwa ajaran agama perlu dikembalikan kepada pangkalnya, menyelamatkan manusia dan lingkungan. Meskipun kelompok perusak ini kecil, namun dampaknya besar bagi keseimbangan kehidupan.

Perlu secara luas ditegaskan bahwa tindakan teror semacam itu bukan jihad dan dengan sendirinya berada di luar ajaran resmi Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menunaikan tugas ini dengan cemerlang.

Lalu, pernahkah kita memikirkan tindakan teror lain menghantui kehidupan kita setiap hari? Meski tidak seheboh teror bom Marriott, Bali dan Kuningan, korban obat terlarang, misalnya, menimpa siapa saja. Korbannya justru lebih banyak dan menyebar, tidak pandang bulu.

Tidak itu saja, keluarga yang bersangkutan mengalami goncangan yang dahsyat. Bukankah ini adalah kejahatan kemanusiaan yang sempurna? Lalu, adakah mobilisasi yang memadai dari pihak terkait dan keprihatinan publik terhadap masalah ini?

Makna Lain Terorisme

Betapapun ragam definisi istilah terorisme ini ditemukan, namun satu hal yang disepakati adalah sasaran korban adalah masyarakat kebanyakan, bukan kombatan. Lalu, bagaimana dengan korban obat terlarang, dampak penggundulan hutan terhadap kehidupan khalayak dan kegagalan negara menyejahterakan rakyatnya yang sama-sama membunuh, meskipun secara perlahan?

Tidakkah ia juga tindakan teror dengan senyap? Belum lagi, tindakan sebuah kelompok keagamaan yang telah secara serampangan membawa bendera agama melakukan tindakan anarkisme, baik secara simbolik maupun fisik yang ada di sekitar kita.

Sebenarnya, kata teror tidak hanya diungkap dalam kaitannya dengan pelaku kekerasan dengan sasaran sarana publik atau masyarakat umum. Ia juga digunakan bagi keadaan masa kini dimana serangan konsumerisme telah meneror masyarakat dengan iming-iming citra yang akan melekat pada penggunanya.

Produk pelangsing tubuh, pemutih kulit, operasi tubuh dan lain-lain juga telah mengantarkan masyarakat pada kematian eksistensinya dan diam-diam ini juga menimpa kaum lelaki.

Terlalu banyak di luar sana mereka yang merasa cemas dengan keadaan tubuhnya, sehingga mereka selalu mengalami kecemasan. Tidakkah ini termasuk dalam pengertian korban teror?
Demikian pula, pengaruh resesi ekonomi dunia akibat kegagalan negara Amerika mengelola ekonominya juga menimpa kehidupan masyarakat Indonesia. Belum lagi dampak krisis moneter yang menggerus daya hidup mereka. Kini, ada ancaman baru yang sedang menganga.

Boleh ditebak, masyarakat kebanyakan akan semakin susah memenuhi kehidupan sehari-hari, seperti memenuhi biaya pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Jelas ini adalah teror nyata yang secara perlahan menghantui hari-hari mereka.

Melawan Teror

Tindakan aparat membekuk pelaku premanisme di beberapa kota besar Tanah Air adalah sebuah tindakan simpatik yang perlu dihargai. Memang, tindakan terorisme mengambil pelbagai bentuk. Bagaimanapun, premanisme telah menjadi momok yang menghalangi masyarakat menikmati hidup dengan nyaman di negerinya sendiri.

Suasana malam yang seharusnya menjadi waktu luang melepas lelah setelah seharian bekerja, menjadi penghalang karena kejahatan sedang mengintip untuk menyergap korban. Mereka inilah yang sering memalak masyarakat kecil dengan alasan sebagai ongkos keamanan.

Kita tentu meminta aparat melakukan tindakan yang sama terhadap penjualan minuman keras yang masih diperjualbelikan secara bebas. Peristiwa tewasnya beberapa pemuda yang teler atau melakukan tindakan kriminal akibat pengaruh alkohol sering kita dengar.

Pemberantasan minuman keras ini, termasuk penyalahgunaan obat terlarang, tidak sulit dilakukan jika aparat melibatkan masyarakat luas untuk memberikan informasi melalui layanan pesan singkat (SMS).

Pihak berwenang harus menyebarkan iklan layanan masyarakat yang meminta masyarakat memberikan informasi tentang penyakit masyarakat ini kepada pihak berwajib secara langsung untuk diambil tindakan.

Dan mungkin yang juga perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh, kemiskinan adalah bentuk teror yang paling akut. Adalah tidak keliru jika Mahatma Gandi, tokoh kemerdekaan India, menyatakan kemiskinan adalah bentuk kekerasan yang paling buruk. Namun media televisi kita belum bersedia menyorot masalah ini sebagai isu secara terus menerus agar kita menemukan rumusan bersama membasmi teror yang jelas-jelas ada di sekeliling kita. Kalau ini dilakukan, dampaknya luar biasa.

Mungkin kemewahan yang selama ini berdiri sombong di tengah masyarakat bertukar penampilan dengan kedermawanan. Uang yang bertaburan untuk iklan politik dialihkan pada pengembangan ekonomi rakyat. Mereka yang sedikit mempunyai uang akan menyumbangkannya untuk amal kebajikan.

Jika ini tidak dilakukan, kita telah turut andil menyebar teror terhadap masyarakat. Lalu, siapakah sebenarnya pelaku teror itu?

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban dan Research Assistant Staff pada Universitas Sains Malaysia

Wednesday, November 19, 2008

Merayakan Ulang Tahun Isteri

Hanya dengan semangkok cendol dan es kacang, semalam kami merayakan ulang tahun di gerai makan Pasar Raya Tesco. Sebelumnya, kami berkeliling dalam pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Setelah lelah berjalan, kami pun mengaso dengan menyeruput minum segar. Saya sangat menyukai rasa khas kacang merah (jawa: Kacang Tholo).

Di sela ngobrol, saya juga menekuri buku Robert Guliani One Hundred Great Essays. Di sini, saya bisa menyelami pemikiran para penulis besar, dari zaman kuno hingga modern. Ya, dari Plato hingga Virginia Woolf, saya menelisik gagasan mereka. Ada getar kuat untuk belajar merangkai kata agar pesannya kuat. Jika pikiran berkerut karena dihadapkan dengan kalimat yang sulit, saya kemudian meneguk es yang ada di meja.

Untuk kedua kalinya, saya membaca buku di kedai ini. Ada kenyamanan karena suasana tentram. Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk isteriku. Semoga berkah!

Tuesday, November 18, 2008

Surau Kami Terang Kembali

Dua hari yang lalu saya terkejut karena pagar surat di flat kami tampak terang. Oh, ternyata, tembok itu telah dicat kembali, warna hijau muda. Jika sebelumnya, pengeras suara itu membuat saya tergerak segera turun ke bawah, sekarang, saya lebih merasa nyaman dengan wajah surau yang tidak redup seperti sebelumnya.

Saya sendiri berusaha sekuat tenaga untuk berjamaah di sini, paling tidak shalat Maghrib. Memang tidak banyak yang melakukannya, tetapi ini tidak menyurutkan niat saya untuk memakmurkan tempat ibadah ini. Selain menciptakan hubungan ketetanggan yang akrab, shalat jamaah merupakan sarana mengenal orang lain. Maklum, flat yang dihuni begitu banyak orang ini tidak memungkinkan penghuninya untuk saling berbagi, tanpa adanya sarana yang bisa mewujudkan tali silaturahmi yang intim. Nah, surau inilah yang mampu menciptakan suasana kebersamaan itu.

Zamri adalah salah seorang pengunjung surau yang rajin. Meskipun masih berusia belasan, dia telah berperan besar merawat rumah ibadah ini, dengan sering mengumandangkan azan. Tentu, ini membantu penghuni flat untuk bergegas turun ke lantai bawah. Lain pula dengan Encik Yusuf yang 'mungkin' telah membuat surau ini kelihatan bersih. Bapak yang masih muda inilah yang sering menyuarakan azan di waktu subuh, sehingga membuat tidur nyeyak saya terhenti.

Monday, November 17, 2008

Pantai Miami di Malaysia

Kemarin, di Minggu pagi yagn cerah, serombongan mahasiswa Indonesia mengunjungi pantai Miami untuk merayakan perpisahan Dr Jamhir dan Keluarga Pak Suwarno. Dengan menaiki bas (bus) sekolah, kami berangkat dari depan masjid kampus dan kemudian menjemput sebagian yang lain di rumah keluarga dalam kampus. Namun, perjalanan ini terhenti, karena sang supir ngambek. Dia tidak mau mengantarkan kami karena jumlah penumpang melebihi kapasitas. Ya, sebelumnya panitia memberitahu bahwa ada 44 orang yang akan menumpang bis, namun ternyata setiap keluarga kadang membawa dua, tiga sampai empat orang anak. Setelah berunding, akhirnya sebagian dari kami menggunakan mobil Pak Allwar, mahasiswa PhD bidang Kimia, menuju lokasi.

Inilah pengalaman pertama saya ke pantai bernama asing ini, Miami Beach. Sesampai di sana, Pak Warno memimpin membakar sate daging sapi, ayam, sosis dan udang. Sementara anak-anak teman kami berenang dan sebagian orang tua mereka mengawasi sambil turut berendam di pinggir pantai. Ternyata makan sate di pinggir pantai mendatangkan sensasi tersendiri. Tidak hanya mengucah daging empuk ini, kami sering kali bercanda menyempurnakan kebersamaan. Tampak pantai yang mempunyai pasir putih ini dijaga dengan baik, demikian pula fasilitas toilet umum yang bersih, menjadikan rekreasi ini ajang pelepasan suntuk.

Acara ini ditambahi dengan perkenalan masing-masing mahasiswa. Aha, ini semacam acara anak-anak yang acapkali meletupkan tawa. Celetukan di sana-sani disahut dengan kata lucu yang lain. Akhirnya, kami pun menyelesaikan acara perkenalan. Sebuah cerita yang kuat di ingatan.

Monday, November 10, 2008

Menggugat Sejarah "Indonesia" Versi Tentara

Sumber: Kompas, 9 Nopember 2008

Ketika penulis buku ini memulai penelitian pada 1996, dia tidak menyadari betapa berpengaruhnya militer Indonesia dalam memproduksi dan membentuk ortodoksi sejarah Orde Baru.


Selain itu, penulis juga menceritakan bagaimana proses yang harus dilalui untuk melakukan penelitian di Indonesia, karena ketika penelitian ini digagas, Indonesia masih di bawah kekuasaan militer Orde Baru.


Perlu tujuh bulan untuk mendapatkan izin. Di halaman prakata, kita akan menemukan cerita betapa rumitnya birokrasi pada masa itu.


Peran Nugroho Notosusanto


Sebenarnya penelitian tentang kiprah militer di Indonesia bukan hal baru. Namun, karya ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap upaya manipulasi militer terhadap sejarah untuk kepentingannya dan yang mungkin agak mengejutkan adalah uraian penulis tentang seorang tokoh di balik propaganda ini, yaitu Nugroho Notosusanto.


Seperti telah diketahui bersama, militer Indonesia selalu mendaku sebagai unik. Ini disebabkan, pertama, rakyat Indonesia yang menciptakan militer di dalam perjuangan kemerdekaan 1945-1949 melawan Belanda dan, kedua, selama perlawanan ini militer mengasumsikan sebagai lapisan kepemimpinan nasional setelah penangkapan pemimpin sipil pada tahun 1948.


Atas dasar dua klaim ini, militer Indonesia dalam waktu lama memperoleh justifikasi untuk memainkan peranan dwifungsi dalam pertahanan dan politik. Pendek kata, legitimasi sejarah telah digunakan oleh militer Indonesia untuk mempertahankan hak-haknya dalam kekuasaan politik dan pengaruhnya di Indonesia.


Lalu bagaimana peranan di atas diwujudkan dan untuk apa ia dipertahankan? Untuk mengetahui hal ini, penulis melakukan survei terhadap beberapa publikasi sejarah resmi (huruf miring dari peresensi) dan tempat-tempat bersejarah seperti buku teks Sejarah Nasional, Museum Sejarah Monumen Nasional, dan Museum Angkatan Bersenjata Satria Mandala, serta satu nama yang sering dia temukan, yaitu Nugroho Notosusanto. Bahkan, nama yang disebut terakhir menempati posisi yang sangat penting dalam rekonstruksi sejarah masa lalu. Tokoh yang pernah menjadi Menteri Pendidikan ini adalah pengarang versi pertama dari kudeta 1965. Peranan sangat penting dalam pembuatan sejarah Orde Baru yang bahkan diperluas ke dalam proyek pembuatan film dan materi sejarah untuk pendidikan militer dan sipil.


Atas pertimbangan posisi sentral Nugroho Notosusanto, penulis mencoba menceritakan bagaimana dan mengapa Nugroho bekerja untuk militer Indonesia di dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata.


Menurut penulis, ia adalah propagandis utama Orde Baru. Atas dasar asumsi ini, beliau berusaha keras untuk menelisik riwayat hidupnya dari sahabat, rekan, dan musuhnya sehingga dimungkinkan perolehan data yang lengkap.


Untuk menjawab posisinya sebagai seorang sejarawan yang menguji motivasi dan kisah kehidupan sejarawan lain (baca Nugroho Notosusanto), penulis menegaskan bahwa ketertarikannya terletak pada usaha untuk menemukan bagaimana sebuah rezim menggunakan sejarah sebagai legitimasi dan bagaimana ia dimanipulasi untuk menyesuaikan dengan kepentingan dari beberapa kelompok yang berbeda.


Lebih jauh, buku ini juga memasukkan analisis terhadap proyek sejarah yang ditujukan pada sipil dan militer, dengan penekanan pada museum dan monumen yang diciptakan oleh militer. Setelah disurvei, ditemukan bahwa museum diorama (model gambar) menarik perhatian imajinasi penulis. Baginya diorama ini adalah teatrikal masa lalu. Bahkan, boleh dikatakan ini adalah ”karya” nyata untuk memahami bagaimana militer merepresentasikan masa lalu.


Pemilihan model sejarah visual ini sengaja dipilih oleh Nugroho Notosusanto karena sebagaimana dia ungkapkan bahwa di dalam sebuah masyarakat seperti Indonesia yang masih berkembang, di mana kebiasaan membaca masih rendah, kami [kepemimpinan militer] memercayai visualisasi sejarah tetap sebagai cara efektif untuk mengungkapkan identitas ABRI (hal 11). Keadaan sekarang tampaknya belum banyak berubah. Masyarakat kita masih lebih bisa menikmati ”sajian” visual, terutama televisi. Untungnya, media elektronik tidak lagi dikekang dalam menyampaikan berita dan laporan.


Merujuk kepada pendapat Barry Schwartz bahwa kajian terhadap representasi masa lalu tidak bisa dikonstruksi secara harfiah, ia dieksploitasi secara selektif, karya sarjana Australia ini berusaha untuk menampilkan seluruh ”sejarah” dan turunannya untuk memosisikan militer sebagai aktor, yang dalam bahasa Asvi Warman Adam, merekayasa peristiwa masa lalu dalam perspektif militerisme.


Lebih jauh dengan mengutip Graeme Turner, penulis menegaskan bahwa representasi di sini adalah sebuah mediasi diskursif yang terjadi antara peristiwa dan kebudayaan yang memberikan sumbangan terhadap konstruksi ideologi nasional. kegunaannya bukan pada sebagai sebuah refleksi atau refraksi masa lalu, tetapi sebagai sebuah konstruksi masa kini. Jadi, penggambaran peristiwa ”G 30 S PKI” telah dijadikan ”alat” untuk mengukuhkan legitimasi rezim.


Militer sepintas telah berhasil menciptakan citra tentang dirinya sebagai tentara rakyat yang berani berkorban, sebagai penjaga semangat kemerdekaan, dan pelindung Pancasila. Namun, tegas penulis, semua ini adalah sebuah representasi yang hipokrit karena dalam kenyataannya militer mempraktikkan kekerasan selama berkuasa (hal 216).


Namun, citra ini terus dibangun, baik di kalangan militer maupun sipil. Sayangnya, meskipun mereka berhasil menumpas ”pembangkang” melalui kekuatan senjata, mereka gagal mengontrol pikiran rakyat Indonesia itu sendiri.


Bias jender


Hal lain yang mungkin memantik kritik adalah representasi sejarah yang bias jender. Penjelasan versi militer tentang perjuangan kemerdekaan cenderung menonjolkan versi maskulin. Hanya pejuang kemerdekaan yang mengangkat senjata yang mendapat tempat dalam sejarah mereka. Sementara sumbangan kaum perempuan dan nonkombatan terpinggirkan. Celakanya, justru citra perempuan muncul dominan pada peran mereka dalam pemberontakan komunis.

Meskipun militer mempunyai kekuasaan yang hampir tak terbatas pada masa itu, tidak berarti sepi dari kritik dan bahkan penolakan dominasi mereka yang menindas. Edward Espinal mencatat bahwa di dalam protes Malari 1974, mahasiswa menuntut pengurangan peran politik militer di dalam pemerintahan dan penghapusan Kopkamtib (Komando Keamanan dan Ketertiban).


Penolakan makin menguat ketika pada tahun 1980 mahasiswa secara simbolik membakar sepatu khas militer di beberapa kampus. Malangnya, kekuatan mahasiswa yang belum meluas, sebagaimana tahun 1988, mudah ditumpas.


Akhirnya, salah satu pesan yang paling jelas dan diketahui umum adalah bahwa kajian terhadap historiografi Orde Baru yang diproduksi militer adalah bahwa ketika satu versi tunggal tentang masa lalu yang diperkenankan, sejarah bisa menjadi bagian dari sistem ideologi otoritarianisme.


Meskipun, kata penulis, pada masa itu ada sebuah representasi yang mungkin bisa menjadi potensi counter terhadap sejarah resmi, yaitu karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Munculnya pluralisme penafsiran ini memberikan tantangan besar bagi Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata, yang memandang dirinya sebagai penafsir resmi masa lalu Indonesia.


Sejatinya, karya ini menambah terang sejarah tentara yang telah berhasil ”mengubah” realitas menjadi cerita untuk mengukuhkan peran dan kekuasaannya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Paling tidak, ia menjadi catatan yang berharga bagi semua anggota TNI sekarang untuk tidak lagi mengulang kesalahannya memasuki wilayah yang bukan otoritasnya.


Selain itu, penulisan sejarah Indonesia tidak lagi dikangkangi oleh kepentingan kekuasaan dan diserahkan kepada pakar sejarah dan disiplin lain yang berkaitan yang mempunyai komitmen untuk menjelaskan masa lalu secara lebih obyektif, seimbang, dan adil. Semoga.


Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Ilmu Humaniora dan Graduate Research Assistant di Universitas Sains Malaysia

Ke Klinik itu Lagi

Pemeriksaan rutin ke klinik pemerintah tidak lagi membingungkan. Segalanya berjalan lancar karena kami sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tempatnya yang agak terpencil tidak menghalangi untuk segera sampai karena kami telah akrab dengan jalan menuju ke bangunan yang terletak di bawah sebuah flat. Sesampai di sana, kami disambut oleh Mak Cik Norma, perawat senior, yang sangat ramat dan mempersilahkan duduk.

Alhamdulillah, berat badan isteri saya naik 3.1/2 Kg. Ini menambah berat badan secara signifikan sebelumnya yang memang harus melebihi 45. Demikian pula HB naik. Tekanan darah masih berkisar angka 100. Selain mendapatkan obat biasa, policasid, vitamin, dia juga mendapat tambahan iron tablets, sebagai penambah darah. Untuk kontrol kandungan ketiga ini hanya memerlukan waktu 10 menitan. Oh ya, sang dokter, En Ahmad, menyarankan untuk memeriksan jenis kelamin janin dengan USG di klinik USM saja. Tambah isteri, dokternya ramah dan sangat membantu, berbeda dengan kesan pertama yang tampak acuh. Mungkin, karena itu pertama kali.

Untuk keduanya kalinya, kami tidak membayar. Ini adalah ganjaran lain, setelah sebelumnya rekening listerik juga tidak, karena di bawah angka RM 20. Negara jiran ini sangat pemurah untuk penduduknya, bahkan kepada kami yang berasal dari luar. Negara kesejahteraan, yang di sana disebut negara kebajikan, telah dipraktikkan, tidak hanya didiskusikan seperti negeri Indonesia yang makmur itu.

Friday, November 07, 2008

Sore yang Bahagia Itu

Sambil membaca Freedom, Modernity and Islam oleh Richard K Khuri, saya mendengarkan lagu Melayu 1990-an, Iklim, yang dibuka dengan lagu hitsnya Suci dalam Debu. Karya ini pernah bertengger di tangga puncak di radio Indonesia. Tiba-tiba, pikiran saya melesat ke kampung, ketika seorang pendengar dengan khusyu' membawakan lagu ini dengan petikan gitar, sebuah pertanda lagu ini benar-benar disukai orang ramai. Salim, sang pelantun, menyuguhkan suara khasnya menemani saya melawan bosan menunggu.

Peristiwa di atas terjadi bukan karena sengaja, tetapi pengisian waktu luang setelah kehendak pulang tidak menjadi kenyataan karena hujan tiba-tiba turun menderas. Saya membuka tirai agar bisa menikmati air yang bertaburan dan sempat melihat tanah bergeliat tertimpa butiran dan tampak riang karena basah menghilangkan gundah. Namun anehnya, awan yang tadi menutup bukit itu tersibak dan seberkas sinar keluar dari balik gumpalan warna hitam di atas sana. Akhirnya, matahari itu terlepas dari bayangan gelap, bersinar terang dan pemandangan ini menyuguhkan romansa, hujan dalam terang.

Membaca buku selalu membawa saya pada pengalaman para penulis yang biasa diterakan di dalam prakata. Betapa hubungan intelektual mereka mengandaikan hubungan kemanusiaa yang intim, yang dibangun tidak hanya di ruang seminar, tetapi juga cafe atau warung kopi. Tentu pertukarang mereka dengan para sarjana yang lain mengkayakan pemikirannya tentang sebuah persoalan, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui karyanya. Demikian pula dengan penulis di atas. Ya, kita bisa mereguk pengalaman liyan untuk membantu melakukan hal yang sama. Paling tidak membacanya, kita telah turut merayakan kedekatan mereka dengan pengetahuan.

Tuesday, November 04, 2008

Mengajak Masyarakat Memilih Pemimpin

Hari minggu yang lalu, saya bersama Dr Jamhir, Pak Sugeng dan Pak Supri menunaikan tugas sebagai panitia pemilu di Pulau Pinang berupa pemasyarakatan pesan agar masyarakat Indonesia yang ada di sana menyukseskan pemilihan umum 2009. Dalam acara sosialisasi ini, panitia menyelenggarakan lomba karaoke untuk memancing para TKI datang. Bertempat di sebuah aula di Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR), acara ini berlangsung sangat meriah karena didatangi banyak warga Indonesia.

Sebelumnya, kami melakukan pengecekan data pemilih di kantor konsulat dan pada jam 1-an akhirnya kami berempat menuju tempat acara di atas. Sebagai bagian program Panitia Pemilu di Luar Negeri, acara ini menyisipkan banyak gambaran tentang pahlawan devisa, yang menemukan oase bisa bertemu dengan saudaranya dan mempunyai panggung untuk mengaktualisasikan dirinya dengan bernyanyi. Bisa ditebak, kebanyakan peserta lomba karaoke membawakan lagu dangdut, seperti SMS, Kucing Garong, Selamat Malam, Hari Berbangkit, dan Buta. Dua terakhir adalah lagu Rhoma Irama. Tingkah polah mereka kadang memantik tawa karena gaya dandanan, ekspresi cuek dan tentu kadang diikuti penari latar dadakan yang menambah sesak panggung. Gelegak mereka terasa dan tentu saja ini baik sebagai katup dari kebosanan dengan rutinitas pekerjaan dan berada di negeri orang. Terus terang, gaya mereka tidak cocok untuk acara sejenis yang dihelat oleh penduduk lokal.

Hal lain yang mungkin dicermati adalah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menghelat acara sosialisasi ini? Tentu mahal. Untuk sewa gedung saja, panitia harus merogoh kocek sekitar RM 8000 (hampir Rp 20 jutaan). Namun atas nama demokrasi, kita telah berkorban untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar. Negara telah menanggung beban baru untuk melahirkan pemimpin yang bisa mengurus negeri ini.