Posts

Showing posts from October, 2008

Isu Ajaran Sesat di Malaysia

Saya telah mencatat di jadual kegiatan tentang ceramah mengenai isu-isu ajaran sesat yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sains dan Filsafat Islam kampus. Hari ini, 28 Oktober 2008, saya memenuhi undangan umum ini di ruang Dewan Persidangan Universiti, dekat kantor rektorat. Profesor Zakaria Stapa mengurai beberapa isu penting berkaitan dengan persoalan ajaran yang menyimpang di dalam Islam.

Bentuk ajaran Islam yang dianggap sesat di antaarnya adalah Islam Liberal dengan alasan mendukung sekulerisme, pluralisme, tafsir ulang al-Qur'an melalui hermeneutik dan usulan kitab suci edisi kritis serta feminisme. Tentu, kajian seperti ini cukup berat bagi kebanyakan peserta dari latar belakang bukan kajian keislaman, namun demikian isu-isu lain seperti aqidah, syari'ah dan tasawuf masih bisa dijangkau oleh hadirin dengan dititikberatkan pada sisi praktis.

Justeru, saya tertarik dengan gugatan dua orang peserta yagn telah merasa menjadi korban dari stigma ajaran sesat yagn dilekatkan …

Merayakan Ulang Tahun

Jauh hari sebelumnya, kawan baik saya, Pak Stenly mengingatkan bahwa pada hari ini, 28 Oktober, kami diminta untuk turut merayakan ulang tahun anaknya, Amel. Semalam, kami memastikan untuk berangkat dari kampus sekitar jam 12.30-an. Akhirnya, niat itu menjadi kenyataan.

Kami pun menuju ke Pizza Hut untuk mensyukuri karunia ini. Puteri semata wayang Pak Stenly dan Ibu Troy ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Setelah memarkir kendaraan, kami menunggu pesanan sambil bercengkerama. Di tengah kehangatan ini, kami acapkali tergelak mendengar celotehan Amel, karena ada teman sekelasnya yang menyukainya. Aha, sebuah cerita yang lucu. Ups, mungkin pengunjung warung makan ini agak tidak nyaman karena saya merasa kami adalah kelompok yang paling heboh ketika melepaskan tawa.

Meja itu penuh oleh makanan dan minuman, setelah sebelumnya kami menyeruput sup. Ada kesegaran memulai makan siang. Di sela-sela makan pun kami pun masih bertukar cerita dan bahkan sempat bergambar bersama. Sebuah k…

Belajar Mendengar

Image
Dalam kuliah umum di kampus yang mengabil tema "Politik Melayu Islam: Kemelut dan Penyelesaian", saya betul-betul belajar menjadi pendengar. Tan Sri Muhyidin Yasin, Menteri Industri dan Perdagangan Antarabangsa memukau para hadirin dengan menyodorkan masalah politik Melayu. Sayangnya, beliau membatasi pada peran UMNO dan mengenyampingkan partai dan kelompok lain. Tentu, politisi dari Johor ini mempunyai hitungan tersendiri.

Memang tidak ada yang baru dari kuliah yang disampaikan, karena isu seperti Melayu tergugat setelah kekalahan Barisan Nasinal pada pemilu ke-12, kontrak sosial, dan dasar ekonomi baru telah banyak dibahas di media. Alih-alih saya mendapatkan banyak ide baru, malah calon orang nomor dua dalam UMNO ini melakukan kampanye dan propaganda. Saya heran mengapa ISDEV Fakultas Ilmu Kemasyarakatan sebagai pihak penyelenggara meloloskan program kuliah semacam ini. Namun, saya merasa lebih tenang ketika dalam sesi pertanyaan ada banyak penanya yang mencoba menggugat …

Agama, Simbol, dan Tindakan

Suara Merdeka, 24 Oktober 2008
Oleh Ahmad SahidahDI Indonesia, ajaran Islam berjalin kelindan dengan kepercayaan lokal. Sebab sebelum datangnya agama dari Arab, penduduk di Nusantara telah menganut kepercayaan dan agama tertentu. Tetapi dengan pemanfaatan pesan keagamaan itu, yang juga bercorak esoterik, Islam tidak menemukan kesulitan untuk diterima dan diamalkan oleh penduduk lokal.

Namun, kenyataan itu terkadang dianggap sinkretik, dan para pembaharu berupaya untuk menampilkan kembali agama Islam yang murni. Sementara pada masa yang sama, tindakan religius tidak akan ada tanpa ekspresi-ekspresi simbolik, sebagaimana dikatakan oleh Louis Dupre dalam Religious Mystery and Rational Reflection: Excursions in the Phenomenology and Philosophy of Religion (1998: 7).

Meskipun Schleimacher muda menyatakan ide agama sebagai sebuah perasaan batin murni dan terlepas dari ekspresi simboliknya, namun para fenomenolog menganggap ekspresi lahiriah —seperti doa dan pengorbanan bersama— sebagai aktivit…

Jakarta Gagal sebagai Kota

Image
Detik, Opini Anda, 18 Oktober 2008
Ahmad Sahidah

Bulan Juni yang lalu saya mengunjungi Jakarta untuk mengurus single entry visa di Kedutaan Besar Malaysia dan sekaligus melawat Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba untuk mendapatkan sebuah naskah kuno yang telah berusia 8 abad, Bahr al-Lahut. Karya abad ke-12 ini telah menjadi penanda awal bagi kesarjanaan Nusantara.

Untuk kedua kalinya saya mengurus visa di perwakilan negara tetangga ini dan saya mendapatkan pelayanan yang efisien dan profesional. Tidak ada kesulitan. Demikian pula ketika saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan di atas.

Kerani menyambut dengan ramah dan betul-betul memberikan pelayanan yang baik. Jelas ini melegakan karena selama ini kesan sambil lalu pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugas pelayanan masih sering ditemukan.

Sebenarnya saya mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat lain. Tetapi, mengurungkan niat karena betapa tidak nyaman transportasi umum di Ibu Kota ini. Busway yang menjad…

Merayakan Idul Fitri di Kampus

Jauh hari sebelumnya, teman-teman di pascasarjana merencanakan acara perayaan idul fitri di kampus. Klub kami menggalang dana dari para mahasiswa untuk acara ini, selain sumbangan dari fakultas. Akhirnya, jam 3 sore, para mahasiswa berdatangan ke ruangan acara. Sebelumnya, kami menata kursi dan meletakkan hiasan berupa ketupat yang dibuat dari plastik.

Ardi, presiden klub, membuka pertemuan ini dengan sambutan singkat tentang tujuan acara ini dan sekaligus pemberitahuan acara perdana untuk Kelab Ijazah Tinggi. Disusul kemudian dengan sambutan Prof Madya Sohaimi Abdul Azis sebagai penasehat organisasi mahasiswa. Saya melihat beberapa mahasiswa dari pelbagai negara yang hadir, seperti Arab, Bangladesh, Iran, Thailand dan Indonesia. Di akhir sambutan, Prof Sohaimi mempersilahkan untuk mencicipi hidangan, yang berupa menu ketupat, rendang, ayat, dan beberapa jenis kue lebaran.

Acara makan tidak memerlukan waktu lama, namun kami masih duduk berbincang satu sama lain setelah mengasup hidangan…

Membaca Cina dari Karya Penghuninya

Setelah penyelenggaran Olimpiade yang sukses, Cina dipandang sebagai kekuatan besar yang patut diperhitungkan. Meskipuin citra ini sempat ternodai oleh kasus yang hingga hari ini menghantui sebagian masyarakat dunia, susu yang tercemar melamin. Tentu bukan latah, jika saya turut memberikan perhatian terhadap negara berjuluk tirai bambu ini.

Kasus terbaru masuknya batik produksi Cina (Gatra, 25 September 2008) juga memantik rasa penasaran saya mengapa negara raksasa ini mampu membuat barang yang lebih murah dari negara asalnya, Indonesia. Nah, untuk itu saya mencoba menelusuri rasa penasaran ini dengan menekuri buku yang ditulis Wang Hui berjudul China's New Order dengan harapan saya lebih mengenal Cina lebih dekat. Pemikir ini merupakan tokoh utama di dalam wacana yang sering disengketakan di Cina mengenai hubungan antara perubahan yang terjadi di Cina pasca-Mao dan kekuatan kapitalisme global.

Mungkin dari bacaan ini, ada percikan gagasan yang bisa diwujudkan pada keseharian saya d…

Memeriksakan Generasi

Pagi dingin akibat hujan semalam yang rintik. Namun, ia tidak menghalangi saya beranjak dari tempat tidur. Ritual berjalan seperti biasa. Lalu, saya menyapu lantai untuk membersihkan beberapa helai rambut yang berserakan. Ada perasaan lega melihat lantai bersih. Mencuci piring adalah kegiatan lain yang mendatangkan rasa nyaman. Sepertinya, saya telah belajar membersihkan hati setiap hari. Lalu, saya memasak air dan kemudian duduk menekuri buku Islamic Law in Contemporary Indonesia: Ideas and Institutions oleh R. Michael Feener dan Mark E Cammack.

Kopi panas dan huruf yang berjejer di buku menjadi teman di pagi itu. Namun, karena kami harus pergi ke Klinik Pemerintah di Bukit Jambul, saya bergegas untuk menuntaskan bacaan dan panas minuman. Perjalanan ke pusat layanan kesehatan menyenangkan karena udara segar dengan sinar matahari yang lembut. Kebetulan, di klinik ini pengunjung tidak ramai, sehingga pegawai kesehatan bisa melakukan pemeriksaan, seperti tekanan darah, cek darah, berat …

Kaum Kiri di Negara Tetangga

Image
Judul buku: Social Roots of the Malay LeftPenulis: Rustam A SaniPenerbit: SIRD, Kuala Lumpur Tahun terbit: 2008 Jumlah halaman: ix+ 80 halaman

Mungkin sebenarnya kita tidak banyak mengerti tentang Malaysia karena biasanya yang selalu didengar adalah sebagai negara serumpun. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai satu-satunya negara yang paling banyak menerima tenaga kerja Indonesia. Tentu saja, konflik yang acapkali mendera menutup pintu untuk mengenal cerita lain tentang negeri tetangga ini.

Buku ini adalah wajah lain Malaysia yang selama ini dipersepsikan sebagai negara Islam. Ia sekaligus menjadi saksi bagi ragam respons warganya terhadap perkembangannya sebagai negara-bangsa. Bagaimanapun, gerakan kiri yang selama ini dibekap keberadaannya oleh versi sejarah resmi kembali menemukan momentumnya setelah era keterbukaan karena oposisi mempunyai kekuatan mendesak setelah mendapatkan suara yang cukup signifikan dalam pemilihan umum ke-12.

Akar sosial Kiri Melayu adalah pertanyaan yang ing…

Belajar dari Mendengar dan Melihat

Semalam, kami menonton film Ayat-Ayat Cinta di TV 3. Kebetulan, karena saya sendiri belum pernah melihatnya. Meskipun versi bajakan telah beredar, saya menahan diri untuk tidak menontonnya. Akhirnya, keinginan tertunai setelah televisi swasta Malaysia menayangkannya menyambut hari raya. Sebelumnya, saya telah membaca novelnya, yang dipinjamkan oleh kawan baik saya, Zainal Hakim, mahasiswa PhD bidang kerja sosial dari Bandung.

Pembukaan film di atas menyentak karena diselipkan shalawat yang dibacakan secara khas oleh Kiai Mbeling, Emha Ainun Najib. Selanjutnya, saya menekuri kotak kaca untuk mencocokkan jalan cerita versi layar lebar dengan novel. Agak susah memusatkan perhatian jika saya harus disibukkan untuk menulis. Malah, jeda iklan kadang mengganggu, meskipun sebenarnya memberi kesempatan menulis hal-hal penting berkaitan dengan alur, dialog, tempat, dan karakter. Tambahan lagi, teman karib Melayu saya, Fauzi Hussin, sempat mengirim pesan pendek (sms) berbagi cerita di atas.

Sosok …

Pagi dan

Bangun pagi selalu membuncahkan semangat menyambut hari. Setelah menjalankan ritual, biasanya saya membuka buku sambil mendengarkan radio. Untuk pagi itu, saya menyetel Red FM yang penyiarnya bercuap-cuap dengan bahasa Inggeris dan menyajikan lagu-lagu popular sebagai menu. Ada banyak lagu yang enak dinikmati, meskipun samar-samar judul dan penyanyinya hinggap di ingatan. Namun, ada beberapa lagu yang melekat di benak, seperti Black and Whitenya Jacko dan Babynya Amy Grant. Kebetulanya dua lagu terakhir saya dengar waktu sekolah di pesantren.

Buku John T Sidel berjudul Riots, Pogroms and Jihad: Religious Violence in Indonesia membuka banyak ingatan lama tentang kekerasan di tanah air. Salah satu informasi yang saya petik untuk artikel saya mengenai Sumpah Pocong adalah efektivitas pengambilan sumpah orang-orang yang dituduh sebagai tukang santet di beberapa daerah Jawa Timur untuk menghindari amuk massa dan jatuhnya korban yang tidak perlu pada tahun 1998-an. Betapa banyak pembunuhan y…

Sore bersama Kawan Karib

Setelah sebulan tidak bersua, tadi sore, kawan karib Melayu saya menelepon menanyakan kabar. Lalu, kami pun ngobrol sebentar dan membuat janji untuk menikmati sore di warung India, tidak jauh dari kampus. Teman yang sedang menyelesaikan PhD bidang pendidikan ini akan menjemput saya ke rumah dalam waktu 15 menit.

Saya pun beranjak dari tempat tidur dan bersiap turun ke bawah. Lalu, kami pergi dengan mobil warna peraknya ke warung untuk minum sambil bercerita pengalaman berhari raya. Matahari masih terang dan angin bertiup kencang, mengingatkan masa kecil ketika bermain di lapangan sebelah rumah. Minum kopi es di sore itu menyegarkan tenggorokan, meskipun saya harus menanggung tidak bisa tidur malam ini. Ya, caffein menyandera saya dalam jaga. Lalu, setelah lelah, saya pun tertidur.

Setelah ngobrol ke sana kemari, satu jam kemudian kami pun beranjak dari warung tempat kami selalu merendak percakapan. Kebetulan juga, di sana, saya sempat menyapa teman Arab, Nasser, mahasiswa yang baru meny…

Telepon Teman Baik tentang Kabar Baik

Image
Dalam perjalanan naik motor ke kampus, telepon saya berdering dan serta merta saya meminggir. Di tengah suara bising kendaraan, saya masih dengan jelas mendengar suara Fitri, teman Melayu yang aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia), yang memberitahu tulisan saya yang dimuat di Majalah I (Malaysia) - sebagai inisial dari kata informasi, inovasi, ilmiah, intelek, internasional, islamik. Untuk kesekian kalinya, teman-teman saya memberitahu pemuatan tulisan saya, sesuatu yang menyenangkan.

Selain itu, kawan baik di atas juga akan memberikan majalah tersebut karena saya tidak sempat memilikinya. Ternyata tulisan itu dimuat pada edisi bulan September. Sebelumnya, kawan baik saya dari Aceh mengirimkan sms tentang artikel saya di koran lokal. Tentu, ini membantu saya melacak tulisan-tulisan saya yang berserak, yang kadang luput dari perhatian. Lebih dari itu, tulisan di atas dimuat di koran lokal yang menambah khazanah tulisan dalam bahasa Malaysia.

Dari pengalaman di atas, saya denga…

Isyarat adalah Tanda

Punggung saya terluka ketika tersangkut terali besi jendela. Saya mengaduh keras. Meskipun tidak koyak, tetapi kulit punggung lecet. Ada darah menetes dan memerahi kaos putih bertuliskan Hiking Bukit Bendera. Hadiah dari konsulat ketika mengikuti pendakian bukit tertinggi Pulau Pinang menyambut hari kemerdekaan. Padahal, sisa sakit sebelumnya, akibat terbentur pipa air masih terasa. Duh, tiba-tiba tebersit, ada apakah gerangan ini? Lamat-lamat ketakutan menyeruak bahwa kejadian ini adalah pertanda buruk. Untung, isteri menghibur, "Udah ah, jangan ngelantur".

Namun sekarang saya masih memikirkan dua kecelakaan ini. Mungkin, saya bisa mengatakan bahwa ketidakcerdasan ruang (intellingence of space) yang membuat saya terbentur benda keras. Seharusnya, seluruh gerak saya mempertimbangkan keadaan sekitar, namun malah saya mengabaikan. Celakanya, saya telah menikmati rumah itu selama tiga bulan, sehingga tata ruangnya telah tertanam di benak, tapi justeru saya tidak akrab dan memerh…

Mewujudkan Pesan Idul Fitri

Image
4 Oktober 2008
Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia

Ibadah puasa lazimnya digenapi dengan perayaan Idul Fitri, sebagai peristiwa kembali ke fitrah manusia. Sebuah momentum yang menggambarkan hakikat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei). Dalam keadaan seperti ini, manusia siap menerima kebajikan dan kebenaran. Sayangnya, di dalam perjalanan hidupnya, manusia berhadapan dengan banyak godaan dan segera terjerembab dalam kebingungan eksistensial. Dalam keadaan seperti ini, mereka mengakrabi keliaran karena keteraturan tidak lagi dianggap sebagai patokan dan pedoman.

Puasa sejatinya mengajarkan pengamalnya sebagai pembiasaan dan pelaziman untuk menaati hukum alam, bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka tidak lagi leluasa memuaskan nafsu makan dan minum karena tubuh harus diberi kesempatan untuk mencerna. Pesan moral lain dari perbuatan menahan diri ini adalah adanya kemungkinan terciptanya sebuah tindakan …

Berhari Raya di Negara Orang

Mungkin kata di atas kurang tepat, karena kami merayakan idul fitri di negara yang mempunyai kebudayaan yang sama dalam merayakan lebaran. Tradisi ketupat, oncor dan makanan hidangan tidak jauh berbeda. Tentu, ini bukan hal baru, karena sejak dahulu kita berbagi kebudayaan yang sama. Namun, keduanya memilih jalan lain karena sejarah menghendaki demikian.

Pagi, di hari suci itu, saya bangun subuh dengan perasaan cemas karena hujan tidak berhenti. Sejak semalam, hujan terus tercurah dari langit. Meskipun demikian, saya agak lega karena perjalanan ke tempat shalat tidak akan basah sebab keluarga Pak Sugeng berbaik hati untuk berbagi tumpangan. Tengah gerimis, kami pun membelah pagi menuju Konsulat. Jalan masih sepi.

Di lokasi tempat shalat, kami menemukan segelintir orang. Setelah bersalaman, saya pun mengambil tempat. Tak lama kemudian, Imam shalat, Pak Mohammad Nuh, memimpin membaca takbir. Lambat laun, jamaah berdatangan. Pak Karnadi, staf Konsulat, membacakan rangkain acara shalat Id,…