Tuesday, October 28, 2008

Isu Ajaran Sesat di Malaysia

Saya telah mencatat di jadual kegiatan tentang ceramah mengenai isu-isu ajaran sesat yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sains dan Filsafat Islam kampus. Hari ini, 28 Oktober 2008, saya memenuhi undangan umum ini di ruang Dewan Persidangan Universiti, dekat kantor rektorat. Profesor Zakaria Stapa mengurai beberapa isu penting berkaitan dengan persoalan ajaran yang menyimpang di dalam Islam.

Bentuk ajaran Islam yang dianggap sesat di antaarnya adalah Islam Liberal dengan alasan mendukung sekulerisme, pluralisme, tafsir ulang al-Qur'an melalui hermeneutik dan usulan kitab suci edisi kritis serta feminisme. Tentu, kajian seperti ini cukup berat bagi kebanyakan peserta dari latar belakang bukan kajian keislaman, namun demikian isu-isu lain seperti aqidah, syari'ah dan tasawuf masih bisa dijangkau oleh hadirin dengan dititikberatkan pada sisi praktis.

Justeru, saya tertarik dengan gugatan dua orang peserta yagn telah merasa menjadi korban dari stigma ajaran sesat yagn dilekatkan pada kampung mereka, Kampung Seronok. Padahal, ajaran yang dimaksud, yaitu Kelompok Taslim yang diduga digagas oleh Mohammad Syafi'ie sebenarnya tidak ada, namun mereka telah menerima perlakuan diskriminasi dan hujatan. Usulan mereka agar Profesor Zakaria mengkaji ulang pandangan masyarakat tentu menjadi pelajaran bagi kita bahwa pelekatan sesat pada keyakinan sebuah kelompok bisa melahirkan kejahatan kemanusiaan, yang juga diamini oleh dekan Fakultas Ilmu Keislaman Universitas Kebangsaan Malaysia ini.

Merayakan Ulang Tahun

Jauh hari sebelumnya, kawan baik saya, Pak Stenly mengingatkan bahwa pada hari ini, 28 Oktober, kami diminta untuk turut merayakan ulang tahun anaknya, Amel. Semalam, kami memastikan untuk berangkat dari kampus sekitar jam 12.30-an. Akhirnya, niat itu menjadi kenyataan.

Kami pun menuju ke Pizza Hut untuk mensyukuri karunia ini. Puteri semata wayang Pak Stenly dan Ibu Troy ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Setelah memarkir kendaraan, kami menunggu pesanan sambil bercengkerama. Di tengah kehangatan ini, kami acapkali tergelak mendengar celotehan Amel, karena ada teman sekelasnya yang menyukainya. Aha, sebuah cerita yang lucu. Ups, mungkin pengunjung warung makan ini agak tidak nyaman karena saya merasa kami adalah kelompok yang paling heboh ketika melepaskan tawa.

Meja itu penuh oleh makanan dan minuman, setelah sebelumnya kami menyeruput sup. Ada kesegaran memulai makan siang. Di sela-sela makan pun kami pun masih bertukar cerita dan bahkan sempat bergambar bersama. Sebuah kebersamaan yang mendatangkan tentram. Selamat ulang tahun Amel, semoga selalu sejahtera dan ceria menggengam kehidupan.

Monday, October 27, 2008

Belajar Mendengar


Dalam kuliah umum di kampus yang mengabil tema "Politik Melayu Islam: Kemelut dan Penyelesaian", saya betul-betul belajar menjadi pendengar. Tan Sri Muhyidin Yasin, Menteri Industri dan Perdagangan Antarabangsa memukau para hadirin dengan menyodorkan masalah politik Melayu. Sayangnya, beliau membatasi pada peran UMNO dan mengenyampingkan partai dan kelompok lain. Tentu, politisi dari Johor ini mempunyai hitungan tersendiri.

Memang tidak ada yang baru dari kuliah yang disampaikan, karena isu seperti Melayu tergugat setelah kekalahan Barisan Nasinal pada pemilu ke-12, kontrak sosial, dan dasar ekonomi baru telah banyak dibahas di media. Alih-alih saya mendapatkan banyak ide baru, malah calon orang nomor dua dalam UMNO ini melakukan kampanye dan propaganda. Saya heran mengapa ISDEV Fakultas Ilmu Kemasyarakatan sebagai pihak penyelenggara meloloskan program kuliah semacam ini. Namun, saya merasa lebih tenang ketika dalam sesi pertanyaan ada banyak penanya yang mencoba menggugat keadaan yang dianggap tidak adil, meskipun tampak seorang penanya memprovokasi keadaan dengan menyinggung secara tidak langsung Datuk Seri Anwar Ibrahim sebagai pemimpin tidak layak karena dianggap penerus kaum Nabi Lut. Ada rasa tidak nyaman di kalangan peserta kuliah dengan pertanyaan tendensius ini.

Namun, ini adalah ikhtiar yang patut dihargai karena selama ini perbincangan politik tidak pernah diadakan secara terbuka di kampus. Paling tidak, meskipun memberikan keuntungan pada pihak berkuasa, oposisi bisa menuntut hal yang sama untuk berbicara di universitas agar mahasiswa bisa menyerap banyak perdebatan yang sehat.

Friday, October 24, 2008

Agama, Simbol, dan Tindakan

Suara Merdeka, 24 Oktober 2008
  • Oleh Ahmad Sahidah
DI Indonesia, ajaran Islam berjalin kelindan dengan kepercayaan lokal. Sebab sebelum datangnya agama dari Arab, penduduk di Nusantara telah menganut kepercayaan dan agama tertentu. Tetapi dengan pemanfaatan pesan keagamaan itu, yang juga bercorak esoterik, Islam tidak menemukan kesulitan untuk diterima dan diamalkan oleh penduduk lokal.

Namun, kenyataan itu terkadang dianggap sinkretik, dan para pembaharu berupaya untuk menampilkan kembali agama Islam yang murni. Sementara pada masa yang sama, tindakan religius tidak akan ada tanpa ekspresi-ekspresi simbolik, sebagaimana dikatakan oleh Louis Dupre dalam Religious Mystery and Rational Reflection: Excursions in the Phenomenology and Philosophy of Religion (1998: 7).

Meskipun Schleimacher muda menyatakan ide agama sebagai sebuah perasaan batin murni dan terlepas dari ekspresi simboliknya, namun para fenomenolog menganggap ekspresi lahiriah —seperti doa dan pengorbanan bersama— sebagai aktivitas komunal yang sangat penting bagi tindakan religius. Menurut mereka, tindakan menuju kepada yang transenden (dan tidak bisa diekspresikan secara langsung) mensyaratkan keberadaan sebuah representasi simbolik secara konkret.

Bagi saya, pendapat Schleirmacher lebih cocok pada kalangan orang terpelajar yang mempunyai kemampuan tafakur sehingga mampu menghadirkan Ilahi dalam kesadarannya. Sementara itu, orang kebanyakan masih terpaku pada bentuk ritual simbolik untuk mengikat mereka dalam praktik keagamaan.

Pendek kata, instrumen tersebut tetap diperlukan dalam tindakan komunal. Dengan demikian, mereka yang memahami kerumitan isu esoterik dan eksoterik perlu berhati-hati dalam menggagas tentang tafsir baru terhadap dunia keberagamaan.

Sesat Pikir

Dalam kajian Toshihiko Izutsu, sarjana Jepang dalam kajian Islam, Alquran tidak membuang kepercayaan orang Arab pra-Islam, seperti Tuhan kitab dan akhirat, tetapi memberikan makna baru terhadapnya, baik dalam medan makna maupun perhatian tertinggi (the ultimate concern) dari istilah terkait. Jika sebelumnya kata-kata kunci itu berhubungan dengan hal material, di dalam kitab suci istilah-istilah tersebut melampaui hal ihwal bendawi dan diarahkan kepada kekuasaan Allah. Dengan sendirinya, ia memunculkan pandangan dunia baru.

Karena itu tidak heran, jika pembaharu muslim tidak mengadopsi budaya Arab, seperti berpakaian, untuk mengekspresikan keagamaannya. Namun, malangnya, ketika menolak ekspresi lahir Timur Tengah, kaum reformis lebih nyaman dengan tata berbusana Barat, sementara itu kaum tradisional dengan tradisi ”Jawa”. Celakanya, yang terakhir itu juga merasa nyaman dengan pola ekspresi Barat.

Sekarang, tampak bahwa hal-hal berbau Arab telah diidentikkan dengan kecenderungan eksklusif dan tidak elok, sementara itu simbol budaya Jawa yang sebenarnya warna lain dari India tidak dipersoalkan. Seakan-akan ia adalah self evident sebagai identitas. Mungkin hal itu tidak bisa dilepaskan dari rezim Soeharto yang sebelumnya menyodorkan dunia sanskrit Jawa sebagai ekspresi simbolik dalam hubungan sosial dan politik, dan telah begitu dalam memengaruhi alam bawah sadar masyarakat, termasuk sarjananya.

Implikasi Simbol

Islam berkaitan dengan dimensi spiritual dan sosial adalah postulat lama yang diyakini oleh banyak orang, meskipun dalam matra politik kaum muslim terbelah. Jika Islam keindonesiaan ditafsirkan sebagai perwujudan kebudayaan lokal, seharusnya penampilan kebudayaan dan berpakaiannya mencerminkan penampilan setempat; selain menunjukkan konsistensi, juga menunjukkan kepercayaan diri. Selain itu, hal tersebut memiliki pesan moral bahwa kita harus berdiri di kaki sendiri.

Keengganan kita membawa kebudayaan lokal ke ranah publik karena pencitraan bahwa di dalam acara resmi kita lebih keren menggunakan jas dan dasi. Sebuah sesat pikir yang dianut banyak orang. Celakanya, batik dipinggirkan dan hanya digunakan untuk acara perkawinan, sehingga penggunaan produk lokal itu tidak diapresiasi oleh orang ramai karena tidak dijadikan pakaian sehari-hari, baik dalam acara formal maupu nonformal.

Pada sebuah kesempatan, seorang anggota DPR tanpa malu menggunakan jas dan dasi ketika mengunjungi korban bencana alam, padahal cuaca panas. Sebagai pengusung Islam kebangsaan, apa sebenarnya yang ada di benaknya tentang dunia simbolik dan implikasinya kepada kehidupan lebih luas?

Baju koko, sarung, dan kopiah, telah menjadi ciri khas pakaian muslim yang seharusnya dilihat tidak semata-mata sebagai warisan tradisi, tetapi sekaligus ekspresi lokal yang mengandaikan kepercayaan terhadap kebudayaan sendiri.

Lebih dari itu, masyarakat luas menghargai produk lokal untuk mendorong produktivitas, dan bukannya sikap konsumeristik yang bergantung kepada barang dan merek (jenama) luar. Sayangnya, para pemimpin kita dan anak-anaknya tidak menunjukkan teladan dengan memamerkan mobil produk luar, berbeda dari elite negara tetangga yang menggunakan proton —produk otomotif lokal— dalam acara resmi mereka.

Jika simbol yang ditunjukkan sebagai muslim merupakan karya kreatif bangsa sendiri, maka tindakan-tindakan lain berkaitan dengan selera, preferensi, dan pencitraan, sejauh mungkin mencerminkan identitas sendiri, tanpa kemudian menjadi sosok chauvinistik apatah lagi antimanusia asing (homofobia).

Malahan itu lebih didorong untuk menolong diri dan masyarakatnya, bagaimana menerjemahkan simbol (iman) dan tindakan (amal) yang bisa mengangkat jatidiri sekaligus membantu ekonomi masyarakatnya. Saya yakin, itulah yang menjadikan kita sebagai orang beragama yang sejati. (32)

–– Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban pada Universitas Sains Malaysia.

Saturday, October 18, 2008

Jakarta Gagal sebagai Kota


Detik, Opini Anda, 18 Oktober 2008
Ahmad Sahidah

Bulan Juni yang lalu saya mengunjungi Jakarta untuk mengurus single entry visa di Kedutaan Besar Malaysia dan sekaligus melawat Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba untuk mendapatkan sebuah naskah kuno yang telah berusia 8 abad, Bahr al-Lahut. Karya abad ke-12 ini telah menjadi penanda awal bagi kesarjanaan Nusantara.

Untuk kedua kalinya saya mengurus visa di perwakilan negara tetangga ini dan saya mendapatkan pelayanan yang efisien dan profesional. Tidak ada kesulitan. Demikian pula ketika saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan di atas.

Kerani menyambut dengan ramah dan betul-betul memberikan pelayanan yang baik. Jelas ini melegakan karena selama ini kesan sambil lalu pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugas pelayanan masih sering ditemukan.

Sebenarnya saya mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat lain. Tetapi, mengurungkan niat karena betapa tidak nyaman transportasi umum di Ibu Kota ini. Busway yang menjadi andalan saya untuk menjangkau pelosok Jakarta sudah tak nyaman. Saya harus menunggu hampir 1 jam sambil berdesakan di bibir koridor.

Tak hanya itu. Di dalam bus saya mesti berhimpitan dengan penumpang lain. Stiker yang menempel di badan bus berbunyi jumlah maksimal penumpang 85 orang tidak lebih dari omong kosong.

Dibandingkan Kuala Lumpur


Kadang saya jengkel bercampur gemas ketika anggota DPR melakukan studi banding hingga ke Amerika Latin baru-baru ini. Saya tidak tahu apa yang mereka ingin pelajari di sana.

Bagi saya sebenarnya kita tak perlu jauh-jauh belajar mengurus banyak hal berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di Republik ini. Mereka tidak perlu terbang nun jauh ke negeri seberang. Negara tetangga telah berhasil mengatasi masalah negerinya. Tentu Kuala Lumpur adalah contoh yang paling dekat dan akrab dengan kita.

Kuala Lumpur sebenarnya adalah kota metropolitian yang relatif baru dibandingkan Jakarta sebagai kota besar. Betapa pun banyak gedung-gedung pencakar langit kita masih disuguhkan dengan taman kota dan diperlihatkan banyak pepohonan berjejer di pinggir jalan.

Demikian pula angkutan umum lebih nyaman dan memadai dibandingkan Jakarta yang tak terurus. Belum lagi matahari dengan bebas membakar penghuninya karena jarangnya trotoar yang nyaman untuk dilalui.

Kalau kita membandingkan ruang tunggu angkutan umum di Jakarta dan Malaysia kita betul-betul menemukan suasana yang berbeda. Saya dengan tenang menunggu angkutan umum dengan harga terjangkau tanpa harus khawatir tidak mendapatkan tempat dan berdiri berdesakan.

Ruang tunggu juga tak panas. Sementara di koridor yang sempit dan tak ada AC membuat penumpang tak nyaman. Meski angin berhembus tapi terasa pengap karena satu pohon kelapa yang ada di depan transit Matraman tak cukup untuk menahan hawa panas.

Lebih dari itu busway menggunakan karcis (manual). Sementara Light Rail Transit (LRT) angkutan massal Kuala Lumpur memanfaatkan kartu gesek (mechanical) sehingga kesan yang dimunculkan tampak berbeda secara mencolok. Pada yang terakhir kita dianggap manusia yang dipercayai. Sementara yang pertama diawasi.

Ternyata teknologi kadang bisa memanusiakan kita. Pendek kata, Kuala Lumpur secara perlahan ingin membangun masyarakat tepercaya atau trust society sebagai prasyarat dari masyarakat madani (civil society).

Segera Benahi Ibu Kota


Adalah aneh Ibu Kota yang menampung uang hampir 80% ini tidak bisa menyediakan fasilitas yang nyaman bagi masyarakat dan pengunjungnya. Ironinya setiap hari kita disuguhi dialog, opini, dan rekomendasi di media cetak dan televisi, seminar dan sarasehan bagaimana menciptakan Jakarta lebih baik. Tetapi, pada saat yang sama, kita menemukan Ibu Kota yang semrawut, centang perenang, dan tak ramah bagi pejalan kaki.

Belum lagi Kanal Timur yang sedang dalam penyelesaian. Saya melihat pengerjaannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga mungkin tak akan selesai dalam waktu dekat.

Ini jelas akan mengakibatkan 'hantu' banjir akan menenggelamkan sebagian kawasan. Sebuah ironi yang lain. Bencana ini tentu menghapus seketika kepongahan Jakarta sebagai pusat berkumpulnya orang-orang terpilih dari seluruh negeri.

Kegagalan Jakarta untuk mengubah dirinya seakan menempalak 'wajah' cantik kota metropolitan yang diterakan dalam latar iklan berbagai produk dan film. Ibu Kota ini akhirnya dikapling untuk menjadi pusat orang yang mempunyai uang dengan dibangunnya kota baru di lokasi strategis dan pinggiran yang dilengkapi fasilitas publik lengkap.

Sementara di sebagian besar kawasan kita menyaksikan kekumuhan berserak di mana-mana. Inilah yang membuat saya enggan 'menjual' Jakarta pada teman-teman mahasiswa asing di Malaysia.

Serta merta saya bilang agar mereka datang ke Bali atau Yogyakarta saja, jangan Jakarta! Ternyata hal yang sama juga dirasakan oleh Badrun dan Stenly, mahasiswa Indonesia yang lain, di negeri jiran. Boro-boro wisatawan menikmati pesona Jakarta. Baru saja mereka menginjakkan kaki di pintu keluar bandara internasional mereka akan melihat kesemrawutan.

Dibandingkan dengan terminal udara di Pulau Pinang saja, apalagi Kuala Lumpur, Bandara Soekarno Hatta bukan tempat yang nyaman untuk memulai perjalanan dan pelesiran di Ibu Kota. Kadang saya bergumam betapa naifnya pemerintah menghamburkan uang untuk mencanangkan Visit Indonesia 2008. Sementara sarana pendukung tak mampu menyangganya.

Peter Marcuse (2002:102) menegaskan bahwa kota itu terdiri dari zona bisnis, kekuasaan, industri, dan perumahan di dalam kawasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah kesatuan dengan sejumlah dimensi. Satu sama lain berkaitan dan sebangun. Cabang-cabangnya saling bergantung.

Dari uraian ini Jakarta sebenarnya gagal untuk disebut sebagai kota. Hampir-hampir perumahan bukan merupakan bagian dari cetak biru besar itu. Betapa miris saya melihat banyak warga tinggal di perumahan yang buangan kamar mandi dibuang ke selokan kecil di depan rumah dan menuju sungai. Selain bau dan mengundang nyamuk kenyamanan mereka menikmati waktu senggang terganggu.

Selama seminggu di Jakarta saya merasa tidak nyaman menikmati wajah Jakarta. Jika kemudian saya meriang adalah wajar dan ini tidak dialami ketika saya pernah tinggal di Kuala Lumpur dalam rentang waktu yang sama.

Tapi, saya merasa lebih tidak nyaman mendengar para sarjana dan pemimpin elit di Jakarta bermanis-manis di layar kaca menggagas Indonesia yang permai. Sementara di rumahnya sendiri mereka tidak berdaya mengatasi masalahnya.

Jadi sudah saatnya mereka tak banyak bicara. Segera benahi Jakarta!

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Thursday, October 16, 2008

Merayakan Idul Fitri di Kampus

Jauh hari sebelumnya, teman-teman di pascasarjana merencanakan acara perayaan idul fitri di kampus. Klub kami menggalang dana dari para mahasiswa untuk acara ini, selain sumbangan dari fakultas. Akhirnya, jam 3 sore, para mahasiswa berdatangan ke ruangan acara. Sebelumnya, kami menata kursi dan meletakkan hiasan berupa ketupat yang dibuat dari plastik.

Ardi, presiden klub, membuka pertemuan ini dengan sambutan singkat tentang tujuan acara ini dan sekaligus pemberitahuan acara perdana untuk Kelab Ijazah Tinggi. Disusul kemudian dengan sambutan Prof Madya Sohaimi Abdul Azis sebagai penasehat organisasi mahasiswa. Saya melihat beberapa mahasiswa dari pelbagai negara yang hadir, seperti Arab, Bangladesh, Iran, Thailand dan Indonesia. Di akhir sambutan, Prof Sohaimi mempersilahkan untuk mencicipi hidangan, yang berupa menu ketupat, rendang, ayat, dan beberapa jenis kue lebaran.

Acara makan tidak memerlukan waktu lama, namun kami masih duduk berbincang satu sama lain setelah mengasup hidangan. Segelintir mahasiswa, seperti Mariam dan Mustafa dari Iran serta Jahan dari Bangladesh, mengambil gambar dari pelbagai sudut. Pertama kali acara ini dimulai, saya melihat kecenderungan mahasiswa untuk mengelompok berdasarkan asal negara, namun kemudian karena satu sama lain saling kenal, komunikasi mencair. Malah, saya sendiri mencoba untuk menjadi pendengar dari peserta dengan latar belakang. Memang, saya masih mendengar bahasa Parsi, Arab, Melayu, namun bahasa Inggeris lebih sering didengar karena inilah bahasa satu-satunya yang memungkinkan satu sama lain bertegur sapa.

Wednesday, October 15, 2008

Membaca Cina dari Karya Penghuninya

Setelah penyelenggaran Olimpiade yang sukses, Cina dipandang sebagai kekuatan besar yang patut diperhitungkan. Meskipuin citra ini sempat ternodai oleh kasus yang hingga hari ini menghantui sebagian masyarakat dunia, susu yang tercemar melamin. Tentu bukan latah, jika saya turut memberikan perhatian terhadap negara berjuluk tirai bambu ini.

Kasus terbaru masuknya batik produksi Cina (Gatra, 25 September 2008) juga memantik rasa penasaran saya mengapa negara raksasa ini mampu membuat barang yang lebih murah dari negara asalnya, Indonesia. Nah, untuk itu saya mencoba menelusuri rasa penasaran ini dengan menekuri buku yang ditulis Wang Hui berjudul China's New Order dengan harapan saya lebih mengenal Cina lebih dekat. Pemikir ini merupakan tokoh utama di dalam wacana yang sering disengketakan di Cina mengenai hubungan antara perubahan yang terjadi di Cina pasca-Mao dan kekuatan kapitalisme global.

Mungkin dari bacaan ini, ada percikan gagasan yang bisa diwujudkan pada keseharian saya dan juga merembesi lingkungan terkecil dan mungkin di ujung sana ada juga segelintir yang mau belajar dari keberhasilan Cina mendorong warganya menghasilkan barang, bukan hanya menikmati untuk keperluan konsumtif belaka.

Monday, October 13, 2008

Memeriksakan Generasi

Pagi dingin akibat hujan semalam yang rintik. Namun, ia tidak menghalangi saya beranjak dari tempat tidur. Ritual berjalan seperti biasa. Lalu, saya menyapu lantai untuk membersihkan beberapa helai rambut yang berserakan. Ada perasaan lega melihat lantai bersih. Mencuci piring adalah kegiatan lain yang mendatangkan rasa nyaman. Sepertinya, saya telah belajar membersihkan hati setiap hari. Lalu, saya memasak air dan kemudian duduk menekuri buku Islamic Law in Contemporary Indonesia: Ideas and Institutions oleh R. Michael Feener dan Mark E Cammack.

Kopi panas dan huruf yang berjejer di buku menjadi teman di pagi itu. Namun, karena kami harus pergi ke Klinik Pemerintah di Bukit Jambul, saya bergegas untuk menuntaskan bacaan dan panas minuman. Perjalanan ke pusat layanan kesehatan menyenangkan karena udara segar dengan sinar matahari yang lembut. Kebetulan, di klinik ini pengunjung tidak ramai, sehingga pegawai kesehatan bisa melakukan pemeriksaan, seperti tekanan darah, cek darah, berat badan dan konsultasi ke dokter Ahmad, dalam hitungan menit. Untuk cek yang kedua ini, kami tidak dipungut bayaran. Padahal kalau ke klinik swasta, kami harus merogoh kantong yang cukup besar dengan pelayanan seperti di atas. Malaysia telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada warganya, dan herannya kami adalah warga asing namun juga mendapatkan pelayanan yang luar biasa.

Kami melangkah ringan. Pulang dengan hati riang.

Kaum Kiri di Negara Tetangga

Judul buku: Social Roots of the Malay Left
Penulis: Rustam A SaniPenerbit: SIRD, Kuala Lumpur
Tahun terbit: 2008
Jumlah halaman: ix+ 80 halaman

Mungkin sebenarnya kita tidak banyak mengerti tentang Malaysia karena biasanya yang selalu didengar adalah sebagai negara serumpun. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai satu-satunya negara yang paling banyak menerima tenaga kerja Indonesia. Tentu saja, konflik yang acapkali mendera menutup pintu untuk mengenal cerita lain tentang negeri tetangga ini.

Buku ini adalah wajah lain Malaysia yang selama ini dipersepsikan sebagai negara Islam. Ia sekaligus menjadi saksi bagi ragam respons warganya terhadap perkembangannya sebagai negara-bangsa. Bagaimanapun, gerakan kiri yang selama ini dibekap keberadaannya oleh versi sejarah resmi kembali menemukan momentumnya setelah era keterbukaan karena oposisi mempunyai kekuatan mendesak setelah mendapatkan suara yang cukup signifikan dalam pemilihan umum ke-12.

Akar sosial Kiri Melayu adalah pertanyaan yang ingin diungkaplan oleh intelektual terdepan dan sosiolog ternama Malaysia ini mengandaikan sebuah ikhtiar untuk memahami keberadaan kaum kiri yang dipinggirkan secara makro (pendekatan sosial) dan bukan mikro (pendekatan sejarah) di mana yang terakhir biasanya mengelola pelaku dan peristiwa.

Sebagaimana di Indonesia, dulu raja-raja di tanah Malaya (sekarang semenanjung Malaysia) menerima upeti dari bangsa kolonial. Dari sini, ada ‘kerja sama’ yang saling menguntungkan antara penjajah dan kaum bangsawan. Untuk mendapatkan dukungan dari raja, pemerintah Inggeris mengekalkan partisipasi simbolik penguasa tradisional negara bagian, yaitu sultan, dalam sistem pemerintahan.

Ternyata sistem pemerintahan sekarang, demokrasi parlementer, masih mengekalkan apa yang telah dirintis sejak dulu oleh Inggeris, di mana raja masih menjadi bagian dari pengaturan administratif, meskipun dalam pengertian simbolik. Namun, uniknya institusi raja kadang mempunyai kekuasaan nyata dalam menetapkan pejabat publik, sebagaimana terjadi baru-baru ini dengan pengangkatan menteri besar (gubernur) Trengganu, di mana jago raja mengalahkan sosok yang didukung oleh perdana menteri.

Di tengah kokohnya sistem tradisional yang lebih memberikan kesempatan mobilitas sosial pada kaum bangsawan, pada zaman pra-kemerdekaan pemerintah juga memberikan peluang kepada masyarakat kebanyakan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya gerakan bermatra kiri. Penulis mencoba menghadirkan latar belakang dengan mengangkat reaksi politik Melayu terhadap lingkungan sosial (social milieu) tahun 1930-an.

Ada dua aspek penting periode ini yang perlu diperhatikan, pertama, sistem kesultanan (dengan kata lain sistem politik tradisional Melayu) merupakan sebuah sistem politik yang berfungsi pada masa penggangguan (instrusion) Inggeris dan pendatang non-Melayu. Kedua, Malaya mengalami perkembangan demografis dan masyarakat plural sepenuhnya terbentuk pada tahun 1930-an. Menurut Rustam A Sani, faktor ini adalah penting untuk memahami hakikat perkembangan politik Melayu awal.

Pengaruh 'Indonesia' tentu tidak bisa dilupakan. Dalam kutipan berikut ini ini kita akan menemukan satu titik terang tentang hubungan kedua bangsa ini sejak sebelum kemerdekaan: Then there were other factors that can be cited as manifestation of the existence of the flow of ideas and influences across the Strait of Malacca, e.g. existence of Malay students in Indonesia and the existence of Indonesian immigrants in Malaya (hlm. 58)

Dengan membaca buku ini, kita diajak untuk menerokai kembali pertalian antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1930-an melalui gerakan menuntut kemerdekaan. Malah pada tahun 1920-an, telah banyak orang ‘Indonesia’, yang bergerak dalam matra kiri lari ke tanah Semenanjung – daratan tempat negara bagian utama Malaysia - setelah pemberontakan atau revolusi di Jawa dan Sumatera dipadamkan oleh penjajah Belanda. Di antara tokoh komunis ini adalah Djamaluddin Tamin, Tan Malaka, Budiman, Sutan Djenain, Alimin, dan Mohammad Arif. Tokoh yang pertama mengadakan hubungan dengan pelajar Kolej Pendidikan Sultan Idris (Sultan Idris Training College atau disingkat SITC) di Tanjung Malim, di mana beberapa pemimpin masa depan KMM (Kesatuan Melayu Muda) dilatih untuk menjadi guru sekolah berbahasa Melayu (hlm. 32).

Respons kaum Melayu terhadap kolonialisme boleh dikatakan terbelah pada dua bagian, yaitu kelompok kanan dan kiri. Yang pertama diprakarsai oleh kelas menengah terpelajar Inggeris dan kelas atas, yang ideologinya didasarkan pada premis ‘Malaysia untuk orang Melayu’, sementara yang lain adalah berkecenderungan kiri, yang berkecenderungan ideologi kiri, yang membela tuntutan kebebasan bagi semua orang tertindas di ‘Malaysia’. Kecenderungan dua aliran ini menjadi isu utama pada kampanye dan sesudah pemilu terakhir kemarin.

Penanda utama dari gerakan kiri pada masa sebelum kemerdekaan adalah pendirian yang keras terhadap penentangan kaum penjajah, pan-Indonesianisme dan kepemimpinan serta keanggotaannya tidak direkrut dari elit tradisional aristokrat. Pendek kata, mereka memperjuangkan kemerdekaan yang didasarkan pada konsep Melayu Raya atau kadang dikenal dengan Indonesia Raya.

Sekarang, polarisasi ini masih berlanjut. UMNO (United Malay National Organization) melanjutkan tradisi kanan. Sementara Partai Keadilan Rakyat (PKR) melestarikan tradisi kiri. Seperti ditegaskan penulis buku pakar sosiologi ini bahwa PKR yang diterajui oleh Anwar Ibrahim secara genealogis boleh dikatakan merupakan kelanjutan dari KMM, partai Melayu pertama yang beraliran ‘kiri’.

Membaca karya ini akan membuka ruang bagi sebuah dialog yang lebih inspiratif untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan di antara dua negara tetangga. Sejarah masa lalu jelas-jelas menunjukkan kedekatan dua masyarakat serumpun dalam menghadapi kolonialisme. Sekarang, bagaimanapun keduanya sama-sama menghadapi bentuk kolonialisme baru, yaitu neo liberalisme, yang sama-sama mengcengkeram kemandirian rakyatnya masing-masing. Sekarang rakyat dan elit kedua negara tidak perlu lagi mengurus hal remeh temeh, karena hakikatnya mereka berbagi warisan budaya dan tentu saja begitu banyak keturunan Indonesia yang telah bermastautin di tanah negeri Jiran.

Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban, Universitas Sains Malaysia

Saturday, October 11, 2008

Belajar dari Mendengar dan Melihat

Semalam, kami menonton film Ayat-Ayat Cinta di TV 3. Kebetulan, karena saya sendiri belum pernah melihatnya. Meskipun versi bajakan telah beredar, saya menahan diri untuk tidak menontonnya. Akhirnya, keinginan tertunai setelah televisi swasta Malaysia menayangkannya menyambut hari raya. Sebelumnya, saya telah membaca novelnya, yang dipinjamkan oleh kawan baik saya, Zainal Hakim, mahasiswa PhD bidang kerja sosial dari Bandung.

Pembukaan film di atas menyentak karena diselipkan shalawat yang dibacakan secara khas oleh Kiai Mbeling, Emha Ainun Najib. Selanjutnya, saya menekuri kotak kaca untuk mencocokkan jalan cerita versi layar lebar dengan novel. Agak susah memusatkan perhatian jika saya harus disibukkan untuk menulis. Malah, jeda iklan kadang mengganggu, meskipun sebenarnya memberi kesempatan menulis hal-hal penting berkaitan dengan alur, dialog, tempat, dan karakter. Tambahan lagi, teman karib Melayu saya, Fauzi Hussin, sempat mengirim pesan pendek (sms) berbagi cerita di atas.

Sosok Fahri di film ternyata bukan manusia luar biasa. Ia tidak lebih sebagai mahasiswa yang mempunyai kebaikan, keyakinan dan kepedulian dengan yang lain dan lingkungannya dan tampak cengeng dan emosional ketika harus dijebloskan ke dalam penjara. Malah, sebagai mahasiswa cerdas dan bacaannya yang berat tidak muncul dalam film. Pada awalnya, cerita berjalan datar, namun setelah Aisyah dan Fahri mengikat perkawinan, alur mulai menaik karena konflik bermunculan. Tampak, di sini, setiap orang diuji sejauh mana mereka berhasil menghadapi masalah dan mengatasinya. Ternyata, Aisyah dan kakaknya tidak mencerminkan keteguhan sebagai Muslim ketika bersedia membayar dengan uangnya agar suaminya keluar dari penjara. Lagi-lagi Fahri menempalak dan bersuara keras untuk tidak melakukan penyuapan.

Di tengah sedu sedan tangis dan tarik urat leher, justeru saya lebih banyak larut dalam suara latar yang menyatakan shalawat dan istighfar yang dibawakan segara bergantian oleh Cak Nun dan Ustaz Jefri. Bulu kuduk berdiri dan bergidik dan kadang menahan sebak agar tidak menjadi tangis tidak tertahankan. Adegan shalat jamaah yang melibatkan Mariam, sang mualaf, menaikkan degup jantung karena suara Cak Nun melantukan istighfar membelah keheningan dan suaranya yang khas. Inilah pengambilan gambar yang paling indah menurut saya.

Friday, October 10, 2008

Pagi dan

Bangun pagi selalu membuncahkan semangat menyambut hari. Setelah menjalankan ritual, biasanya saya membuka buku sambil mendengarkan radio. Untuk pagi itu, saya menyetel Red FM yang penyiarnya bercuap-cuap dengan bahasa Inggeris dan menyajikan lagu-lagu popular sebagai menu. Ada banyak lagu yang enak dinikmati, meskipun samar-samar judul dan penyanyinya hinggap di ingatan. Namun, ada beberapa lagu yang melekat di benak, seperti Black and Whitenya Jacko dan Babynya Amy Grant. Kebetulanya dua lagu terakhir saya dengar waktu sekolah di pesantren.

Buku John T Sidel berjudul Riots, Pogroms and Jihad: Religious Violence in Indonesia membuka banyak ingatan lama tentang kekerasan di tanah air. Salah satu informasi yang saya petik untuk artikel saya mengenai Sumpah Pocong adalah efektivitas pengambilan sumpah orang-orang yang dituduh sebagai tukang santet di beberapa daerah Jawa Timur untuk menghindari amuk massa dan jatuhnya korban yang tidak perlu pada tahun 1998-an. Betapa banyak pembunuhan yang dilakukan massa terhadap dukun santet pada era awal Reformasi. Apapun motifnya, sumpah pocong acapkali menjadi katup bagi pelepasan emosi massa.

Setelah beberapa cecapan kopi panas, terang datang. Saya pun menyiapkan diri untuk pergi ke kampus, mencetak laporan penelitian tentang Nur Muhammad, teori penciptaaan dalam tradisi mistisisme Islam. Inilah konsep yang acapkali disalahpahami, atau memang karena ia adalah berkaitan dengan pemikiran yang polisemik dan metaforik.

Thursday, October 09, 2008

Sore bersama Kawan Karib

Setelah sebulan tidak bersua, tadi sore, kawan karib Melayu saya menelepon menanyakan kabar. Lalu, kami pun ngobrol sebentar dan membuat janji untuk menikmati sore di warung India, tidak jauh dari kampus. Teman yang sedang menyelesaikan PhD bidang pendidikan ini akan menjemput saya ke rumah dalam waktu 15 menit.

Saya pun beranjak dari tempat tidur dan bersiap turun ke bawah. Lalu, kami pergi dengan mobil warna peraknya ke warung untuk minum sambil bercerita pengalaman berhari raya. Matahari masih terang dan angin bertiup kencang, mengingatkan masa kecil ketika bermain di lapangan sebelah rumah. Minum kopi es di sore itu menyegarkan tenggorokan, meskipun saya harus menanggung tidak bisa tidur malam ini. Ya, caffein menyandera saya dalam jaga. Lalu, setelah lelah, saya pun tertidur.

Setelah ngobrol ke sana kemari, satu jam kemudian kami pun beranjak dari warung tempat kami selalu merendak percakapan. Kebetulan juga, di sana, saya sempat menyapa teman Arab, Nasser, mahasiswa yang baru menyelesaikan program doktornya dan lawan main bola. Ada kesegaran baru setelah mengurai silaturahmi dengan kawan baik saya ini. Sebelum berpisah, ayah tiga anak ini berjanji akan menghubungi saya lagi untuk menautkan batin dan intelektual kami.

Telepon Teman Baik tentang Kabar Baik

Dalam perjalanan naik motor ke kampus, telepon saya berdering dan serta merta saya meminggir. Di tengah suara bising kendaraan, saya masih dengan jelas mendengar suara Fitri, teman Melayu yang aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia), yang memberitahu tulisan saya yang dimuat di Majalah I (Malaysia) - sebagai inisial dari kata informasi, inovasi, ilmiah, intelek, internasional, islamik. Untuk kesekian kalinya, teman-teman saya memberitahu pemuatan tulisan saya, sesuatu yang menyenangkan.

Selain itu, kawan baik di atas juga akan memberikan majalah tersebut karena saya tidak sempat memilikinya. Ternyata tulisan itu dimuat pada edisi bulan September. Sebelumnya, kawan baik saya dari Aceh mengirimkan sms tentang artikel saya di koran lokal. Tentu, ini membantu saya melacak tulisan-tulisan saya yang berserak, yang kadang luput dari perhatian. Lebih dari itu, tulisan di atas dimuat di koran lokal yang menambah khazanah tulisan dalam bahasa Malaysia.

Dari pengalaman di atas, saya dengan sendirinya telah memelihara silaturahmi dengan teman-teman Malaysia yang mempunyai perhatian pada pemikiran keislaman dan sekaligus bertukar pendapat dalam mengkayakan pengetahuan mengenai pelbagai isu berkaitan dengan dunia Islam. Lebih dari itu, ikhtiar semacam ini akan makin mendekatkan emosi intelektual, yang selama ini kadang berseberangan. Tanpa kehendak untuk mengungkapkan apa yang berkelebat di benak, kita tidak akan pernah memahami liyan. Perbedaan, bagi saya, tidak perlu dipahami penjarakan. Justeru dengan ketidaksamaan ini, saya makin meyakini postulat yang diungkapkan Georg-Hans Gadamer, filsuf Jerman, yang menegaskan bahwa kita benar-benar memahami sesuatu hal, jika kita memahaminya secara berbeda. Akur?

Tuesday, October 07, 2008

Isyarat adalah Tanda

Punggung saya terluka ketika tersangkut terali besi jendela. Saya mengaduh keras. Meskipun tidak koyak, tetapi kulit punggung lecet. Ada darah menetes dan memerahi kaos putih bertuliskan Hiking Bukit Bendera. Hadiah dari konsulat ketika mengikuti pendakian bukit tertinggi Pulau Pinang menyambut hari kemerdekaan. Padahal, sisa sakit sebelumnya, akibat terbentur pipa air masih terasa. Duh, tiba-tiba tebersit, ada apakah gerangan ini? Lamat-lamat ketakutan menyeruak bahwa kejadian ini adalah pertanda buruk. Untung, isteri menghibur, "Udah ah, jangan ngelantur".

Namun sekarang saya masih memikirkan dua kecelakaan ini. Mungkin, saya bisa mengatakan bahwa ketidakcerdasan ruang (intellingence of space) yang membuat saya terbentur benda keras. Seharusnya, seluruh gerak saya mempertimbangkan keadaan sekitar, namun malah saya mengabaikan. Celakanya, saya telah menikmati rumah itu selama tiga bulan, sehingga tata ruangnya telah tertanam di benak, tapi justeru saya tidak akrab dan memerhatikan kemana gerakan ini harus diarahkan.

Tapi, biarlah, mungkin saya harus menyemai makna lain bahwa saya belakangan ini tidak lagi memerhatikan keperluan tubuh: berolahraga. Ya, seharusnya setelah bulan puasa, saya memulai rutinitas kembali, jogging atau kegiatan lain yang membuat badan ini renggang. Aha, ternyata inilah cara tubuh saya menegur tuannya agar tidak alpa bahwa tubuh juga mempunyai hak untuk dipanaskan.

Sunday, October 05, 2008

Mewujudkan Pesan Idul Fitri

4 Oktober 2008
Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia

Ibadah puasa lazimnya digenapi dengan perayaan Idul Fitri, sebagai peristiwa kembali ke fitrah manusia. Sebuah momentum yang menggambarkan hakikat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei). Dalam keadaan seperti ini, manusia siap menerima kebajikan dan kebenaran. Sayangnya, di dalam perjalanan hidupnya, manusia berhadapan dengan banyak godaan dan segera terjerembab dalam kebingungan eksistensial. Dalam keadaan seperti ini, mereka mengakrabi keliaran karena keteraturan tidak lagi dianggap sebagai patokan dan pedoman.

Puasa sejatinya mengajarkan pengamalnya sebagai pembiasaan dan pelaziman untuk menaati hukum alam, bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka tidak lagi leluasa memuaskan nafsu makan dan minum karena tubuh harus diberi kesempatan untuk mencerna. Pesan moral lain dari perbuatan menahan diri ini adalah adanya kemungkinan terciptanya sebuah tindakan komunikatif yang direkomendasikan oleh Jurgen Habermas, filsuf Jerman, di mana dalam sebuah percakapan mensyaratkan peserta menunda idealisme untuk mencapai konsensus minimal.

Ketidakmampuan menahan diri hanya melahirkan kesemrawutan karena ego manusia cenderung berlomba untuk menindas liyan. Contoh paling sederhana adalah keengganan pemakai kendaraan untuk tertib di jalan raya yang sebenarnya buah dari ketidaksabaran. Dengan menunda hasrat dan keinginan individu, hubungan manusia akan lebih sehat karena memberikan peluang anggota masyarakat mengaktualisasikan dirinya.

Selain itu, pengistirahatan tubuh juga memberikan kesempatan pada pemenuhan keperluan manusia yang kerap diabaikan, yaitu spiritual atau batin. Di sinilah orang tidak lagi diperbudak oleh nafsu badaniah yang tidak ada batas, sementara asupan batin tidak pernah aus oleh kebajikan, tafakur dan kesalehan. Dengan keberhasilan menahan makan selama sebulan yang bisa diukur secara kasat mata, maka tantangan lain yang perlu dilakukan individu adalah mengontrol perilaku.

Jalan menuju Tuhan

Sebagaimana dinyatakan dalam Alquran bahwa dengan berpuasa diharapkan kaum Muslim bertakwa. Artinya, keberhasilan puasa diperlihatkan dengan pencapaian takwa, yang berarti mengimani yang ghaib (Tuhan, malaikat, jin), selalu menunaikan shalat, bersikap dermawan, memercayai apa yang telah diturunkan pada nabi sebelumnya serta alam akhirat atau eskatologi (Albaqarah: 3-4).

Dengan demikian, di luar Ramadhan, kaum Muslim meyakini Tuhan sebagai perhatian tertinggi (the ultimate concern). Oleh karena itu, dalam seluruh tindak tanduknya dia akan mewujudkan tindakan yang sejalan dengan kehendak Tuhan, bukan karena kepentingan pribadi semata-mata. Jika sebelumnya sembahyangnya alpa, maka keberterimaan puasa diukur dari keajekan mereka menunaikan shalat. Lebih dari itu, sikap spiritual ini juga diikuti dengan kepedulian sosial, menerima perbedaan dan eksistensi dunia setelah mati. Implikasi dari keteguhan memercayai dan mengamalkan semua di atas mengantarkan seseorang pada keikhlasan menjalani hidup.

Berkaitan dengan dunia eskatologi, Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur'an memberikan tafsir yang berlawanan dengan pemahaman kebanyakan yang menegaskan bahwa akhirat adalah kenikmatan surga dan neraka. Bagi sarjana neomodernis ini, kepercayaan pada akhirat adalah apabila pada satu detik manusia digoncangkan ke dalam kesadaran unik dan tidak pernah terjadi sebelumnya tentang perbuatannya. Gagasan dasar dari akhirat adalah agar manusia tidak larut dengan kepentingan-kepentingan sesaat dan senantiasa melanggar hukum moral.

Takwa, seperti dalam Alhujurat: 13, sekaligus menjadi penanda pengakuan terhadap nilai-nilai humanisme universal karena manusia tidak dilihat dari kedudukan sosial, etnik atau bangsa. Dengan jelas, Alquran menekankan kesetaraan manusia sehingga memungkinkan terciptanya hubungan manusia yang toleran, santun, dan berkeadaban.

Di dalam ayat lain (baca Almaidah: 2) takwa dikaitkan dengan sikap berlaku adil terhadap orang lain, bahkan kepada musuhnya. Ini adalah pernyataan yang terang benderang bahwa puasa itu berkaitan dengan dimensi sosial. Dari pengertian takwa yang luas ini, bisa dikatakan bahwa puasa sebagai kewajiban yang juga pernah diwajibkan kepada umat sebelum Nabi Muhammad berhubungan erat dengan tuntutan terhadap adanya tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Hal lain yang wajib dilakukan Muslim di hari raya adalah mengeluarkan zakat. Di dalam kitab suci, perintah ini adalah untuk menyucikan secara lahir dan batin harta benda pemiliknya. Hal-hal yang berkaitan dengan lahir adalah kejelasan asal-muasal harta yang diperoleh. Zakat adalah penegasan bahwa kekayaan yang dipunyai oleh Muslim bukan didapat dari cara-cara yang tidak baik, apatah lagi dengan zakat kemudian dijadikan pembenaran rezeki yang dikaut dari korupsi, penipuan, dan perampokan.

Secara batin, zakat itu adalah penegasan bahwa pemiliknya merenungi makna kekayaan yang sesungguhnya bahwa harta bukan hanya milik dirinya, tetapi juga milik orang lain yang berhak menerimanya. Perintah zakat harus diberikan pada yang berhak menerima, seperti fakir miskin, amil (pengelola zakat), musafir adalah sebuah andaian bahwa manusia harus mengenal tetangga dan orang yang ada di sekitarnya. Secara eksplisit, ini mengajarkan kita bahwa perubahan itu harus dimulai dari sekitarnya, sebelum melakukan perubahan sosial lebih luas. Jika kesadaran ini dimiliki setiap individu, maka diharapkan timbul riak dan pada setiap titik riak itu akan melahirkan gelombang perubahan.

Perubahan perilakuBerangkat dari uraian di atas, setelah bulan puasa Muslim seharusnya akan mengalami perubahan perilaku terhadap Tuhannya dan manusia. Intensitas kedekatan dengan Ilahi akan makin kuat dan kepedulian terhadap sesama juga bertambah. Bagaimanapun keimanan seseorang juga ditentukan sejauh mana Muslim mencintai sesama saudaranya. Pendek kata, hubungan vertikal dan horizontal berjalan beriringan.Apatah lagi, tradisi bermaaf-maafan telah menyatu dengan perayaan ini. Sebuah kesempatan yang mengajarkan manusia untuk rela hati menerima ''kekurangan' ' dan kesalahan orang lain dan berbesar hati untuk meminta ampunan pada liyan. Kesadaran semacam ini tentu mendorong manusia untuk tidak pongah dan memanjakan ego. Lebih penting lagi, kebiasaan ini dilakukan dengan keluarga, tetangga, dan rekan kerja, sehingga manusia tidak merasa asing dengan kehidupannya yang selama ini terbelenggu dengan rutinitas.

Sayangnya, kehidupan Ramadhan yang disemaraki dengan ibadah malam, seperti tarawih dan tadarus, demikian pula acara televisi berlomba-lomba menayangkan acara dan sinetron keagamaan, tiba-tiba raib satu hari setelah Idul Fitri. Masjid dan surau tiba-tiba sepi dan televisi kembali seperti semula, yaitu menyajikan kehidupan yang memanjakan konsumerisme dan hedonisme. Aura magis bulan suci tidak lagi terasa di mana ayat-ayat suci Tuhan banyak diperdengarkan.

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Tentu setiap individu harus berusaha memindahkan ''aura'' Ramadhan dalam keseharian dengan tetap mengunjungi rumah Tuhan baik secara fisik maupun metaforik dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Yang terakhir ini mengantarkan manusia pada perasaan berkecukupan. Mereka yang tidak pernah memerhatikan sesama hakikatnya adalah individu yang tidak bersyukur karena hidupnya digelayuti kecemasan karena selalu merasa kekurangan dan mengasyiki dunianya sendiri seakan-akan waktu tidak cukup bagi mereka untuk berbagi dengan liyan. Dengan kata lain, orang yang memberi, dengan sendirinya mereka merasa mempunyai lebih. Jadi, suci di sini tidak hanya dialami pada hari raya, tetapi seharusnya merembesi hari-hari sesudahnya.

Ikhtisar
- Puasa mengajarkan kepada pengamalnya tentang penahanan diri, keterbatasan dan pengendalian napsu.
- Keberhasilan puasa mewujud dalam tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan kepedulian sosial.
- Aura Ramadhan harusnya hadir dalam keseharian, diantaranya dengan kesediaan berbagi

Friday, October 03, 2008

Berhari Raya di Negara Orang

Mungkin kata di atas kurang tepat, karena kami merayakan idul fitri di negara yang mempunyai kebudayaan yang sama dalam merayakan lebaran. Tradisi ketupat, oncor dan makanan hidangan tidak jauh berbeda. Tentu, ini bukan hal baru, karena sejak dahulu kita berbagi kebudayaan yang sama. Namun, keduanya memilih jalan lain karena sejarah menghendaki demikian.

Pagi, di hari suci itu, saya bangun subuh dengan perasaan cemas karena hujan tidak berhenti. Sejak semalam, hujan terus tercurah dari langit. Meskipun demikian, saya agak lega karena perjalanan ke tempat shalat tidak akan basah sebab keluarga Pak Sugeng berbaik hati untuk berbagi tumpangan. Tengah gerimis, kami pun membelah pagi menuju Konsulat. Jalan masih sepi.

Di lokasi tempat shalat, kami menemukan segelintir orang. Setelah bersalaman, saya pun mengambil tempat. Tak lama kemudian, Imam shalat, Pak Mohammad Nuh, memimpin membaca takbir. Lambat laun, jamaah berdatangan. Pak Karnadi, staf Konsulat, membacakan rangkain acara shalat Id, yang diawali oleh sambutan oleh Bapak Munir Ari Sunanda, Konsul Jenderal. Kemudian, kami pun menunaikan shalat berjamaah. Tengku Faisal, mahasiswa USM, menyampaikan ceramah Idul Fitri.

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, khotbah idul fitri selesai. Lalu, kami pun saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Disusul kemudian dengan makan ketupat bersama di bawah tenda besar di halaman konsulat. Menu kampung halaman menyempurnakan lebaran. Di sela-sela menghabiskan ketupat, kue dan minuman, saya berjumpa dengan beberapa keluarga mahasiswa. Malah, saya sempat ngobrol dengan Pak Nasrullah, mahasiswa PhD dari Aceh, tentang situasi tanah air.

Dalam perjalan pulang, saya menikmati jalan yang masih lengang. Tiba-tiba, telepon berdering. Pak Stenly dan keluarga, kawan baik saya, mau berkunjung ke rumah. Ada kebahagiaan menyeruak. Ya, mereka adalah tetangga kami di flat yang sangat dekat dan sering berbagi cerita. Anak semata wayangnya, Amel, melengkapi tautan silaturahim di sore itu. Keceriaan berhamburan di tengah canda dan tawa. Adakah kenikmatan yang melebihi suasana seperti ini?