Posts

Showing posts from September, 2009

Masjid Terapung

Image
Untuk kesekian kalinya, saya mengunjungi tempat ibadah ini, Masjid Terapung Tanjung Bunga. Dulu, saya berkunjung untuk shalat magrib bersama kawan karib, Dr Sufyan dan Dr Fauzi, setelah menyusuri jalan Batu Ferringhi yang terkenal itu. Sama dengan masjid lain, namun keunikannya ia dibangun di bibir pantai, seakan-akan sedang terapung. Kehadirannya untuk melengkapi perumbahan susun di sebelahnya yang diperuntukan untuk korban Tsunami tahun 2004. Seperti tertera di papan peresmian, ia diresmikan oleh Perdana Menteri ke-4, Abdullah Badawi pada tanggal 16 Mei 2007.

Dengan jendela dan pintu di sana-sini, angin laut berhembus. Setelah shalat, saya sempat berdiri di pagar melihat anak-anak bermain bola volley (di sana disebut tampar) di depan rumah susun. Mereka tampak riang. Malah ketika bolanya terbang jauh, jatuh ke laut, serta merta salah seorang dari mereka berlari untuk mengambilnya, tanpa memerhatikan onggokan batu yang dijadikan pagar penahan ombak. Namanya juga anak kecil. Tampak pe…

Ceramah Idul Fitri yang Menghibur

Image
Sang ustaz memulai dengan takbir. Lalu, selanjutnya sejak awal telah mengungkapkan bahwa khotbah hari raya berbeda dengan Jumat. Ia sedikit bebas, tak terikat pakem. Aha, jadilah ceramah idul fitri pada waktu itu dibawakan dengan santai, penuh humor dan yang menakjubkan ditutup dengan doa yang menyayat, diselingi isak tangis, sehingga suasana beku. Sejak awal, Ustaz Maulana Siregar membuka dengan kalimat puitis. Lelucon berhamburan hingga jamaah tak mengantuk. Suara naik turun, kadang menggelegar. Sosok berdarah Batak ini juga mengenal pendengar, sehingga isi khotbah berkisar persoalan tanggungjawab pegawai konsulat dan para pekerja Indonesia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Image
Kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Mungkin, Tuhan memaafkan kekhilafan kami, namun di tangan Anda, kesalahan itu luruh, tak berbekas. Gambar di atas adalah peristiwa biasa, tapi bagi kami istimewa. Inilah untuk pertama kalinya, kami merayakan hari kemenangan. Si kecil masih berusia 6 bulanan. Seperti warga Indonesia yang lain di Negeri Jiran, kami pun bergambar bersama setelah sebelumnya bersalaman, saling memaafkan. Para pegawai konsulat, pekerja migran, mahasiswa menyatu, menikmati kebersamaan. Berbeda dengan tahun yang lalu, hari itu langit cerah, meski agak mendung sebelum shalat Id ditunaikan. Pas jam 8.39, matahari menyembul, melimpahkan sinar ke bumi.

Acara sembahyang idul fitri dimulai dengan sambutan Pak Karnadi Kasan Sarji, yang diikuti Pak Moenir Ari Soenanda, Konsul Jenderal. Kemudian, Pak Arbi, melantunkan ajakan shalat. Tiba-tiba, suasana senyap. Ratusan orang sepertinya terkunci. Hanya takbir sang imam memecah kesunyian. Setelah usai, imam yang juga bertindak s…

Dilarang Tidur dalam Surau

Image
Kadang, rumah Tuhan menjadi tempat mereka untuk melepas lelah, bukan ibadah. Masalahnya, tidur itu bisa berbuah pahala di bulan Ramadhan. Tapi, lagi-lagi, ia tidak boleh dilakukan di surau.

Menjual Yogya pada Negeri Jiran

Image
Sumber: Kedaulatan Rakyat, 27 Agustus 2009
Iklan bertajuk Jalan-jalan ke Yogyakarta hampir setiap hari mengisi celah (slot) acara berita Bulletin Utama TV 3, Malaysia. Malah, kadang juga muncul pada program lain, seperti Wanita Hari Ini. Sebelumnya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjual Jakarta dalam rangka Visit Indonesia 2009, lalu pesona kota Budaya ini hadir dihadapkan penonton Malaysia. Malioboro, Batik Plentungan, Ambarrukmo Plaza, SPA hotel, dan Pasar Beringharjo menjadi situs yang ditawarkan. Bahkan, artis yang menjadi ikon iklan, Adibah Nor, juga turut menjual Borobudur, meski disebut sebagai situs wisata dari Jawa Tengah. Cara cerdik untuk menambah daya tarik.
Tentu, dengan sudut pengambilan gambar yang baik, suasana Yogya begitu hidup, akrab dan nyaman di mata. Saya pun yang pernah lama tinggal di kota Gudeg ini takjub karena kota yang panas jika musim kemarau ini tampak elok dan mempesonakan. Objek yang dipilih, seperti Pasar Beringharjo dengan pelbagai barang jual…

Langkawi dan bebas Pajak

Image
Di sela-sela sosialisasi pemilu 2009 kemarin, saya sempat mengunjungi restoranSinggah Rasa. Terletak di salah satu pusat keramaian Langkawi, ia telah menjadi tempat warga Indonesia mengasup makan. Pak Karno, pemiliknya, adalah pengusaha yang telah puluhan tahun mengumpulkan ringgit di Langkawi, Kedah. Keakraban pemilik warung asal Lamongan ini dengan pengunjung mungkin menjadi salah satu daya tarik dari warung makan ini.

Di sebelah kedai ini, berjejer puluhan toko yang menjual pelbagai barang keperluan yang murah karena bebas pajak. Saya pun membeli coklat dan beberapa barang yang lain. Namun, ternyata, tidak semua barang yang dijual lebih murah dibandingkan dengan Semenanjung. Beberapa item justeru lebih mahal. Dettol yang berukuran kecil lebih mahal sekitar RM 2-3, demikian pula sabun lifebuoy. Namun, yang patut diacungi jempol adalah pemerintah Malaysia yang berhasil menjadikan pulau kecil itu sebagai pusat pelesiran. Dengan fasilitas umum yang baik, siapa pun akan merasa nyaman ber…

Sebuah Jalan Keluar dari Kesalahpahaman

Image
Kontan, 11 September 2009

Ahmad Sahidah

Alumnus Program Doktor Falsafah Universitas Sains Malaysia
Peristiwa sweeping orang Malaysia di Jalan Diponegoro memantik respons Menteri Kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim. Beliau yang berdarah Minangkabau menegaskan bahwa negeri serumpun itu tidak akan melakukan hal yang sama. Untuk kesekian kalinya petinggi negara tetangga berusaha untuk menghindari konflik yang lebih besar. Sebelumnya, para pemimpin elit yang lain, Najib dan Muhyidin, perdana menteri dan wakilnya, juga berharap agar hubungan Indonesia dan Malaysia tidak memburuk akibat ulah segelintir pendemo di depan kedutaan besar Malaysia di jalan Rasuna Said yang membakar bendera Jalur Gemilang dan melempar telur busuk.
Berita menggeparkan di atas dilansir oleh Bernama, Kantor Berita Malaysia, yang dimuat di surat kabar lokal, Utusan, Sinar Harian dan portal Berita Malaysia Kini beserta gambar segelintir warga yang tampak menegakkan spanduk dan yang lain memegang bambu runcing (di sana diseb…

Malam Kebudayaan Indonesia

Image
Sparkling Indonesia akan digelar untuk kedua kalinya pada 2-3 Oktober 2009. Acara malam kebudayaan Persatuan Pelajar Indonesia ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk memperkenalkan wajah Indonesia di kampus. Sebelumnya, acara serupa, Inaweeks turut melakukan hal yang sama. Namun, panitia juga memasukkan acara musik lokal dengan mengundang Bunkface sebagai wujud silaturahmi. Pada Sparkling 1 mereka menampilkan The Times, band lokal yang juga gape bermain musik.

Tentu, perhelatan ini sangat penting di tengah perseteruan kedua negara, Indonesia-Malaysia, memuncak. Kabar terakhir, Khairi Jamaluddin, Ketua Pemuda UMNO, partai terbesar di negeri jiran, berucap, "Don't test our patience" (The Star, 10/9/09). Nada kemarahan ini muncul karena rakyat Indonesia tidak memahami bahwa Orang Malaysia juga sensitif dan marah jika negaranya dicerca. Apatah lagi, bendera kebangsaannya dibakar. Berbeda dengan pemimpin lain, seperti Rais Yatim, yang cenderung tampil kalem dengan mengusul…

Buka Bersama Mahasiswa

Image
Acara bertajuk Majlis Berbuka Puasa Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia digelar di DUP A dan B. Mereka yang duduk di kursi adalah Zulheri, Ahmad, Hilal, Yatno, Andre dan Toni. Sementara yang berdiri di belakang adalah Ismed asal Padang dan Herpandi, Palembang. Dalam acara ini, mahasiswa S1, S2, dan S3 tumplek blek. Kesempatan seperti ini kembali menautkan hubungan kekeluargaan yang telah direnggut oleh rutinitas. Dengan hanya sumbangan RM 5 (Rp 15 ribuan), acara sederhana ini diwujudkan, sebagai mimpi merekatkan kebersamaan.

Silaturahmi di Konsulat

Image
Ramadhan tak hanya menyemai berkah, tetapi silaturahmi melimpah. Gambar di atas adalah mahasiswa dan warga Indonesia yang sedang menanti azan Magrib, pertanda buka puasa. Tak hanya orang dewasa, anak-anak turut meramaikan acara mingguan ini. Suasana ini mengingatkan saya waktu kecil ketika berlarian bermain menunggu bedug ditabuh dimasjid. Kesempatan seperti ini adalah waktu yang baik para pelajar dan pekerja Indonesia menjalin silaturahmi.

Seperti biasa, berbuka di konsulat dimulai dengan mengasup kolak, kurma, bakwan dengan cabe rawit (cili padi), dan aneka makanan ringan yang lain. Lalu, kami bersama-sama menunaikan shalat berjamaah maghrib. Sesudah itu, kami pun menyerbu hidangan yang telah disiapkan, daging, ayam, sayur, krupuk udang, sambel dan yang menyenangkan tempe mendoan. Buah-buahan juga disediakan untuk menyudahi makan berbuka.

Shalat tarawih pun digelar setelah mereka menunaikan shalat Isya. Disusul kemudian dengan ceramah oleh Pak Mohammad Nuh, mahasiswa PhD bidang sejar…

Jalan Tengah 'Membaca' Pesan Tuhan

Dr Ahmad Sahidah
(Pengajar Peradaban Islam dan Asia, KDU College)

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah hari ke-17, peristiwa Nuzul Quran, turunnya kitab suci yang ditujukan bagi kemaslahatan manusia. Peringatan demi peringatan hadir untuk menyucikan kehadiran buku pedoman Muslim tersebut. Khotbah demi khotbah diperdengarkan untuk menyanjungnya sebagai kitab segala zaman. Tak ada seorang Muslim pun yang meragukan hal tersebut. Namun, para sarjana liberal menyoal kemutlakan tafsir terhadap teks (baca: nash) yang diterakan. Sementara pada waktu yang sama, para pembela 'makna' harfiah menggelorakan permusuhan pada pemahaman kontekstual, dengan menyebut gagasan mereka sebagai sesat, bidah, dan tak jarang divonis halal darahnya.

Perseteruan di atas bukan sesuatu yang baru. Para sahabat sendiri kadang berselisih paham tentang makna sebuah ayat. Padahal, mereka merupakan komunitas yang paling dekat dengan kehidupan Nabi dan bahu-membahu dalam mewujudkan sebuah masyarakat kenabian (pro…

Menjernihkan Konflik Serumpun

Image
Oleh: Ahmad Sahidah

Sumber: Jawa Pos, 27 Agustus 2009

DUA tulisan tentang isu pencaplokan tari pendet oleh Dewa Gde Satrya berjudul Klaim Tari Pendet oleh Malaysia (Jawa Pos, 24/8/09) dan Siti R. Susanto berjudul Konflik Klaim Kebudayaan (25/8/09) mengandaikan isu lama tentang keranjingan negara tetangga kita itu mencuri hasil kebudayaan Indonesia. Tentu, kasus tersebut menyeret tuduhan sebelumnya seperti batik, lagu Rasa Sayange, dan reog Ponorogo serta menambah keyakinan khalayak di sini untuk menista saudara serumpunnya sebagai maling.

Benarkah gambaran tersebut? Benarkah negara bekas jajahan Inggris itu mencuri karya Indonesia untuk diakui sebagai miliknya? Di antara sederet karya, yang sering dikemukakan diklaim adalah batik. Padahal, menurut Wan Hasmah, mahasiswi PhD di Universitas Teknologi Mara (UiTM), Malaysia mengakui batik itu berasal dari Indonesia sebagaimana dijelaskan dalam sejarah usul yang dipatrikan di Museum Batik Negara Malaysia.

Lebih jauh, Majapahit sebelumnya…

Sekolah Usai

Image
kwitansi (di sana disebut resit) di atas adalah jaminan pribadi (personal bond) yang dibayarkan ke universitas pertama kali saya mendaftar sebagai mahasiswa. Tak banyak, RM 500 atau sekitar Rp 1, 5 juta. Untuk mengambilnya di kantor keuangan kampus, saya harus melampirkan surat bebas pustaka, surat keterangan kampus kalau diwisuda dan tentu membubuhkan nomor rekening Bank. Ada banyak tanda di kertas yang sudah mulai menguning karena sudah berusia hampir 5 tahun, seperti BCA, USD dan lain-lain. Ia menyimpan cerita panjang.

Sekarang, setelah ijazah di tangan, yang hanya selembar itu, sekolah kehidupan tentu lebih menantang. Ternyata sekolah belum usai. Sekarang, saya berjibaku untuk mendapatkan tanda lulus sebagai manusia. Rapor masih centang perenang. Ndilalah, saya merampungkan sekolah menjelang Ramadhan. Inilah awal untuk menjalani kelas baru, belajar menahan diri, sebuah disiplin yang kadang tak ditemukan dari angka 100 yang diterakan dalam nilai rapor dalam subjek apa pun (baca: gra…