Posts

Showing posts from January, 2012

Perempuan dan Kutukan Segregasi

Image
Perempuan itu adalah misteri. Ketika kita ingin mengungkapkan dunianya, kita akan menyisakan sesuatu yang tak terungkap. Adakah nubuat Sigmund Freud akan senantiasa menjadi kenyataan ketika tokoh psikoanalisis menyimpulkan bahwa penelitian 30 tahun terhadap sosok perempuan hanya mengukuhkan anggapan 'perempuan itu tak terbaca'.

Nasib Imbuhan Pe-an

Sumber: MajalahTempo, 21 November 2011
Bahasa!

Oleh: Ahmad Sahidah
Kemusnahan bahasa tidak terelakkan disebabkan alasan kesejarahan, demografi atau bahkan serbuan bahasa asing. Yang terakhir kadang dibenarkan untuk menjadikan bahasa tertentu bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman melalui penyerapan kosa kata baru. Belum lagi, ikhtiar penerjemahan ilmu pengetahuan dan istilah teknologi modern memaksa pegiat bahasa untuk mengerutkan dahi dalam memastikan bahasa sasaran, bahasa Indonesia, tidak semakin pupus. Yang merepotkan, penerjemahan bahasa filsafat, yang meskipun susunannya bukan sama sekali baru, tetapi mengandaikan pemahaman tertentu membuat dosen mengambil jalan mudah dengan penyerapan begitu sajathing-in-itselfmenjadi sesuatu-dalam-dirinya.
Gagasan Kant tentangnoumenadi atas tentu masih bisa dipahami dengan menyebut sesuatu-dalam-dirinya. Lalu, bagaimana dengan istilah filsafat yang mengandaikan kata benda yang dibentuk dengan pengimbuhan pe-an yang bermakna proses menjadi? Ka…

Bowling

Image
Untuk pertama kali, saya menginjakkan kaki di lantai Bowling. Andai saja Dr Adrian Budiman mengundang dosen-dosen tamu dari berbagai negara hadir ke C-Mart untuk silaturahim, mungkin sampai detik itu, saya tidak akan melempar bola Bowling. Untungnya, Prof Timothy Murphy, dosen asal Irlandia, yang mengajar hukum di COLGIS, mau menjelaskan sekilas cara memegang bola dan melempar dengan baik, sehingga saya bisa mendapatkan angka 75 dan 93 dalam dua putaran permainan.
Tentu, permainan di atas adalah awal yang baik bagi dosen luar yang mengabdi di UUM untuk selaing mengenal dan membicarakan hal ihwal akademik lebih santai. Setelah bermain, kami pun mengambil tempat di Kopitiam untuk membincangkan kegiatan selanjutnya. Rie Nakamura dari Jepang mengusulkan agar pada masa yang akan datang, para dosen tamu berekreaksi ke Sungai Batu, Kedah, tempat peradaban terawal terbentuk di Semenanjung. Kehadiran Cik Arul, tutor lokal, yang menyelesaikan Master di Cambridge turut membantu kami mengenal leb…

Belajar

Image
Seperti anak seusianya, si kecil belajar mencorat-coret kertas dengan pena. Khayalannya kadang tak bisa dipahami, meskipun ia mencoba menjelaskan coretan dengan kosakata yang terbatas pula. Bayangkan, ia menyebut pena dengan mamami, dan kertas dengan buk. Apa pun, anak-anak kita akan melangkah lebih cepat dari ayunan kaki kita.

Ekonomi Tumbuh, Tapi Terbit Keluh

Image
Ekonomi Republik tak goyah akibat hantaman krisis, tumbuh dan kukuh. Tentu, kita harus tabik pada pemerintah. Tak semestinya kita terus-menerus menempelak mereka yang berkuasa karena tidak memenuhi harapan orang ramai. Hanya saja, kritik kita pada SBY dan jamaah menteri adalah wujud dari kegeraman, mengapa amanah yang diberikan kepada mereka tak sepenuhnya membuat mereka yakin untuk melangkah lebih jauh.

Teknologi dan Manusia

Image
Mungkin dengan alat ini, pekerjaan tukang parkir telah diambil alih. Tapi, kalau hanya beberapa ruang parkir saja, tentu miris apabila seorang tukang parkir menjaga mobil yang diparkir selama seharian dengan bayaran sesuati tarif mobil, yaitu Rp 1000, misalnya. Kita pun sering melihat portal berbayar di sejumlah mal, sehingga jasa mereka juga tak lagi digunakan. Kita memerlukan peluang pekerjaan yang manusiawi, bukan?

Menyumbang Buku SPE

Image
Secara deontologikal, penyumbang buku Sains Pemikiran & Etika (SPE), Mardzelah Makhzin, adalah mahasiswa yang menganuti fahaman etika yang dicadangkan oleh pemikir Jerman, Immanuel Kant, bukan teleologikal, yang digelorakan oleh Jeremy Bentham, ahli falsafah Inggeris. Ia tentu tidak memikirkan keuntungan dengan menyumbangkan buku tersebut kepada Perpustakaan Sultanah Bahiyah, padahal yang bersangkutan boleh menjual buku rujukan tersebut pada adik kelas (junior) dan mendapatkan wang. Dengan menyumbangkan buku, pelajar SPE tersebut berbuat baik bukan atas dasar perolehan markah cemerlang, namun ia menggalakkan orang ramai mencintai pengetahuan dan berbuat baik, meskipun kecil, namun memilik impak yang besar. Hebatnya, ia tak perlu dinamakan di sudut perpustakaan kerana sememangnya kata Nabi Muhammad, jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu.
Adakah Anda telah melakukan?

Tradisi dan Kearifan Lokal

Image
Saya menyukai tanah pekuburan yang berdekatan dengan Masjid Albukhari di atas. Tak ada kesan seram, apalagi tak terawat, sebagaimana umumnya tanah pemakaman yang pernan saya temui. Lalu, mengapa ada larangan memetik bunga-bunga dan mematahkan ranting-ranting? Siapakah yang melarang dan dilarang? Pernah kita berpikir tentang perbedaan kebenaran dan otoritas, pemegang pengetahuan? Mengapa tradisi itu perlu direhabilitasi dan demikian juga otoritas harus dibela? Karena kebenaran itu memerlukan penegak. Kita tak perlu menyuguhkan perdebatan tak berujung pangkal tentang kebenaran substansial dan formal.
Sebagian dari kita mungkin menaburkan kembang di atas kuburan dianggap tradisi yang harus diamalkan untuk menunjukkan kedekatan dengan si mati. Namun, sebagian yang lain menganggap praktik ini bertentangan dengan tradisi Nabi. Jadi, apa sebenarnya kearifan dari adat resam itu? Bukankah tidak ada yang salah dengan larangan tersebut karena dikeluarkan oleh pihak berwenang? Kalau setiap pengun…

Madura Kosmopolitan, Mungkinkah?

Image
Setelah jembaan Suramadu berdiri kokoh, apa yang ada di benak kita? Kemajuan berada di depan mata. Dengan beton penyambung Kamal dan Perak, arus barang dan orang akan jauh lebih deras mengalir dari kota ke seluruh pelosok Pulau Garam. Belum lagi, jauh sebelumnya, seorang taipan pernah mengumbar janji akan membangun pabrik semen setelah jembatan dibangun, meskipun hingga kini wujud pabrik itu masih berupa tanah yang hanya dipatok papan tanda akan dibangun pabrik semen. Sembari menunggu industri berkembang, kita mungkin perlu memikirkan apakah tanah Madura ini akan menyandang predikat kosmopolit pada masa depan?Pastinya, denyut negeri ini terus bergerak. Orang-orang luar semakin mudah untuk mengunjungi Madura, meskipun hanya berhenti di perbatasan jalan masuk, sekadar menikmati jembatan terpanjang di Indonesia. Kehadiran mereka tentu menguntung penjual kelontong di sepanjang jalan di bibir jembatan. Para penjual itu tidak hanya menangguk untung, tetapi pada waktku yang sama menjadi ora…

Menjahit Identitas yang Teroyak

Image
Majalah Suluh, Januari 2012.
Mari menjahahit kembali identitas kita, agar diri ini bisa terbaca, tanpa harus menepuk dada bahwa kita adalah terpilih.

Mengelak Bahaya Identitas Palsu

Image
Koran Kontan, 16/1/12

Penelitian, Pengetahuan dan Tindakan

Image
Saya mengikuti bengkel penelitian. Kegiatan tersebut menyegarkan kembali gairah menerokai sumber, baik bacaan, masyarakat, dan pandangan pakar. Yang pasti, penelitian apa pun mengandaikan tenggat. Tentu saja, peneliti harus membuat batasan, metodologi, tujuan, kepentingan dan akhirnya sistematika agar pekerjaan ini terarah. Pada gilirannya, data perlu ditafsirkan agar informasi itu bisa dipahami dan dibaca oleh khalayak. Proses penjarakan ini tentu menempatkan saya pada ruang yang terpisah dari realitas sesungguhnya, bahkan meskipun saya menggunakan pendekatan etnografi terhadap objek penelitian.
Penelitian tentu tak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kegundahan dan tentu saja harus menimbang kajian sebelumnya, yang biasanya dibahas dalam bahagian kajian literatur. Di sini, kita bisa membandingkan andaian 'hasil' penelitian sendiri dengan milik orang lain. Objek kajian bisa sama, namun pendekatan yang digunakan akan mewarnai cara pembacaan. Adakah pengulangan tak terelakkan? Har…

Musik dan Konsumsi

Image
Saya bersyukur karena dulu saya tak banyak memiliki koleksi musik. Dengan keterbatasan ini, saya terseret pada pendalamnikmatan (intensitas) musik tertentu. Bayangkan, jika orang tua saya memberi banyak uang untuk menambah koleksi kaset, maka saya akan terus menambah benda hanya untuk mengurus jiwa. Saya bisa menikmati lagu dari pengeras suara pesta perkawinan, kumpulan pengajian, atau milik penduduk lokal di seberang sungai, yang sengaja menegakkan bambu yang di ujungnya bertengger TOA.
Kursi dan buku itu sengaja diperlihatkan. Setelah penat memelototi huruf, saya menyepi di sini seraya mendengarkan aneka pilihah musik. Aneh, bukan? Menyunyi di tempat bising? Ya, ruangan di atas adalah sebagian fasilitas Perpustakaan Universitas Sains Malaysia untuk mahasiswa rehat sekaligus memesan lagu pada petugas. Ketika saya mendengarkan lagu Ella, Layar Impian, saya ingat sepupu, Endang (ingat E tidak dibaca e pepet), nama lengkapnya Iskandar. Hingga hari ini, saya belum mengunjungi tempat ser…

Memiliki atau Menikmati

Image
Apa yang ada di benak Anda tentang gambar di atas? Benda, tak lebih? Lalu, di mana makna? Adakah tafsir itu ada di kepala saja? Tak perlu risau. Anda boleh berkhayal apa yang saya ingin maksudkan dengan gambar di atas. Setidaknya, judul itu ingin mengungkap sesuatu, yang apabila diurai, makna bisa menyerimpung dari kenyataan. Hanya saja, saya ingin memberitahu, penggaris (Malaysia pembaris, ruler) saya itu hilang. Padahal, ia adalah barang yang sangat berharga untuk menggaris huruf-huruf penting. Di lain waktu, saya tidak memahami apa maksud kalimat tersebut. Tak puas, saya kadang mewarnai kalimat itu dengan stabilo.

Obat Kangen

Image
Saya menunaikan shalat dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha, tahun ini (hijriyah) di Kedah, tepatnya Masjid Almuttaqin. Ketika orang ramai pulang kampung merayakan hari kemenangan, kami hanya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin melalui telepon genggam. Kangen itu diobati dengan ucapan permaafan di udara, meskipun kami tidak harus menggunakan u-Mobile untuk melangsaikan hutang pertemuan. Alat dan tujuan itu adalah dua hal yang berbeda, namun kadang kita tersasul, menukar tempat masing-masing satu sama lain. Tujuan itu adalah hubungan silaturahim antarkeluarga, alat itu boleh jadi berupa telepon mahal dan kartu sim ini dan itu. Kalau dengan telepon murah, kita bisa menyampaikan (ke)rinduan, mengapa kita harus menggunakan yang mahal? Karena kita berhelah, kita pun ingin tampak gagah.
*Gambar di atas diambil dari sebuah toko kelontong, tak jauh dari rumah.

Wong Solo di Alosetar

Image
Kami pernah singgah di sini dalam perjalanan menuju ke Mergong. Untuk kedua kalinya, saya menikmati ayam penyet Wong Solo. Dulu, bersama-sama kawan dari USM, saya mencuil ayam goreng Pak Puspo di Makassar, tak jauh dari Universitas Muhammadiyah. Pada waktu itu, kami tak memilih jus poligami, sebab isteri tak ngeh dengan nama jenis minuman tersebut. Mungkin, kalau minuman yang diramu dari pelbagai buah itu diberi nama es buah gado-gado, Ibu Nabbiyya tak ragu memesannya. Apa boleh buat?
Tiba-tiba, saya merenung adakah Wong Solo akan berkembang seperti KFC, Pizza Hut dan McDonald di negeri jiran? Mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Adakah Pak Puspo berusaha untuk menyaingi gergasi kedai makan asal negeri Paman Sam dan Italia itu. Saya pun tak tahu. Mengapa barang lokal tak digemari? Karena seperti di Indonesia, warga Malaysia juga keranjingan sesuatu yang berbau luar, dari makanan, pakaian dan mobil. Padahal, kampanye mencintai barangan sendiri sering diiklankan di luar ruang. Apa daya,…

Sudut Kampus

Image
Setiap ruang mempunyai makna. Sudut pandang akan mempengaruhi cara kita menempatkan diri. Dari sini, kita bisa menikmati hidup dan meraih makna. Gambar di atas adalah peringatan, bukan karena tak jauh dari tempat tersebut berdiri sebuah klinik.

Jum'atan, Untuk Apa?

Image
Untuk keempat kalinya, saya menunaikan salat Jum'at di masjdi AlBukhari. Siapa pun akan terpesona dengan bangunan masjid yang dimiliki pengusaha ternama, Syed Muchtar Albukhari. Selain bersih, reka bentuk masjid ini juga menyerlah indah. Uniknya, ia adalah bagian dari satu kawasan yang terdiri dari pelbagai peruntukan, mal (suq), pemakaman, dan universitas internasional. Tadi, saya sempat berjumpa dan bersalaman dengan Prof Dzulkifli Abdul Razak, yang sekarang menjadi rektor Universitas AlBukhari. Padahal dulu, ketika menyelesaikan PhD di Universitas Sains Malaysia, saya tak pernah berbicara dengan Naib Canselor yang berhasil membawa USM pada tingkat akademik yang membanggakan.
Pada hari tersebut, khotib membicarakan etika pendidikan anak. Dengan mengutip hadits yang diriwayatkan Al-Tirmidzi, pengkhotbah menyampaikan pernyataan Nabi bahwa anak-anak itu adalah bunga-bungaan dari surga. Sebagai anugerah dan amanah, anak-anak harus diperkenalkan dengan hal-hal prinsip dalam agama, ya…

Membatasi Asap Rokok

Image
Oleh Ahmad Sahidah PhD

Suara Karya, Jumat, 14 Mei 2010Setelah klausul tentang tembakau pernah menghilang dari Undang-Undang Kesehatan, sekarang kegaduhan beralih pada penolakan sejumlah kalangan terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan (RPP Tembakau). Ditengarai industri merokok berada di balik penolakan ini. Dengan menggunakan petani sebagai tameng, para juru bicara mereka menentang aturan tersebut. Tak hanya itu, perusahaan rokok juga memasang iklan yang bernada membela petani. Tapi, benarkah?Tentu, semua orang telah mafhum tentang bahaya merokok. Merujuk ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan bahwa "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya," siapa pun yang berpikir sehat bisa memahami kalimat tersebut. Asap rokok telah merac…

Pengajian Membebaskan Manusia

Image
Sebelum berangkat ke Pulau Pinang, saya menelepon Mas Hilal untuk memesan kamar penginapan milik Masjid Kampus USM. Lelaki asal Lombok ini pun dengan senang hati membantu agar kami sekeluarga bisa meluruskan kaki dan bermalam dengan lelap. Lalu, di akhir percakapan, saya memberitahu bahwa kami akan hadir dalam pengajian Sabtu pagi, PPI USM.
Setiba di kampus dalam taman, saya mengambil kunci kamar dan Mas Hilal sekaligus meminta saya untuk menyampaikan ceramah dalam pengajian tersebut. Saya pun mengangguk perlahan, meskipun tanpa harus menjadi penceramah, kami akan tetap hadir. Selain jarak tempatnya tak sampai sepeminuman teh (gaya bahasa Bastian Tito, sebagaimana diulas oleh Gus Mushthafa), kami menyukai pengajian ini karena ia adalah ruang pertemuan jiwa, raga dan senyuman.
Saya pun membicarakan topik Agama Membebaskan Manusia, dengan menekankan pada pemerhatian kekuatan umat, yaitu kuat secara fisik, ekonomi, dan politik. Yang terakhir, hakikatnya bukan dalam pengertian sempit, par…

Adakah Maling Buku Budiman?

Image
Ruang Putih Jawa PosSelasa, 1 Januari 2011 │7:28 AMOleh Ahmad Sahidah*Perpustakaan Daerah Kota Malang mengalami nasib sial: buku-bukunya raib digondol oleh pengunjung. Adakah pencuri itu adalah mahasiswa yang menyukai buku, tetapi tak mampu membelinya? Atau ini tak lebih dari keisengan ‘kutu’ buku untuk menunjukkan bahwa kalau buku itu tak dicuri, ia tak akan dibaca, tergeletak di rak, mendebu sia-sia. Apa pun, kenyataan ini tentu memprihatinkan, namun tak harus membuat kita heran karena fenomena pencurian koleksi perpustakaan telah lama terjadi, tak mengenal tempat dan status. Nicholas A. Basbanes, dalam A Gentle Madness (1999) mengungkapkan tentang cerita seru orang yang mengidah penyakit tersebut, yang dikenal dengan biblioklepto. Siapa pun mafhum kota Malang adalah salah satu bandar pelajar yang mempunyai begitu banyak perguruan tinggi. Sebagaimana Yogyakarta, perpustakaan daerah yang ada di Kota Dingin tersebut tentu menyedot kehadiran peminat buku. Tanpa pengawasan yang ketat, p…

Marah Mencerminkan Kelemahan

Image
Kami melewati malam tahun baru di rumah. Sehari sebelumnya, kami masih berada di Pulau Pinang. Perjalanan pulang siang hari dari Pulau Mutiara ke Negeri Jelapang Padi yang menghabiskan waktu dua jam tentu melelahkan. Tak ada kembang api. Tak ada tiupan terompet. Kami hanya meluruskan badan yang penat karena dua hari tiga malam berlibur ke negeri yang dibangun oleh Francis Light, orang jahat dari Inggeris (meskipun sebenarnya sejarah ini telah banyak digugat).
Apa yang tersisa dari perayaan tahun baru? Resolusi yang dilaungkan setengah hati? Atau, kami terperangkap dalam kehendak kerumunan yang merayakan pergantian tahun di keramaian? Pilihan jelas di tangan. Saya sendiri hanya ingin melewati tahun 2012 dengan kelapangan hati dan jiwa. Marah kadang memerangkap saya pada ketidakberdayaan menghadapi kesulawanan peristiwa yang menyergap. Lalu, mengapa resolusi Masehi berbeda dengan Hijrah? Aha, masa itu dalam pengertian Heideggerian berada keterlemparan. Saya tercampak dalam pelbagai ru…