Posts

Showing posts from December, 2008

Menjelang Tahun Baru

Jika kita menetapkan momen itu bermakna, maka detik-detik itu bisa jadi menegangkan. Persiapan menyongsongnya pun dipenuhi dengan banyak keinginan, kegiatan dan mungkin seakan-akan waktu tidak cukup dilesakkan dengan pelbagai aktivitas agar kita mempunyai banyak pengalaman untuk dinilai kembali. Pengulangan dan rutinitas perlu dipilah untuk tidak lagi diteruskan, agar hidup tertanggungkan. Kejemuan yang meruyak biasanya hanya mempercepat kematian karena keseharian diselimuti kebosanan.

Pagi, azan subuh dan sembahyang, Saya memulai membuka hari. Dalam gelap, saya berjalan ke warung 24 jam mengambil koran. Di sebelah toko itu, saya mengambil kotak kardus yang telah dibuang, dengan harapan akan diletakkan di bawah kotak surat sebagai tong sampah kertas yang acapkali diselerakkan oleh penghuni flat. Memang, petugas kebersihan sering membersihkannnya, namun hanya sebatas pagi. Menjelang siang hingga malam, kita akan sering menemukan kertas iklan belanja, tawaran pinjaman, kursus yang dimas…

Kehilangan dan Kebaikan

Mungkin karena terburu-buru, saya meninggal anak kunci di kotak surat yang berada lantai bawah flat. Setelah kembali makan malam bersama kawan karib, Zulheri Rani, saya terkejut karena kunci itu raib dari saku celana. Kami pun kalang kabut. Di jok depan mobil pun, benda 'ajaib' itu pun tidak ada. Lalu, saya bergegas ke lantai delapan untuk memastikan apakah rumah kami dalam keadaan baik-baik saja. Ups, pintu terkunci dan namun ada pesan di sebuah kertas tulis putih, sila ambil kunci di rumah nomor sekian.

Duh, degup jantung ini mulai berjalan normal. Saya mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian, tuan rumah, seorang lelaki muda, berkata, nak ambil kunci ya? Saya menukas cepat, ya. Saya mengucapkan terima kasih banyak. Tambahnya, dia telah mengetuk pintu untuk mengembalikan kunci, namun tidak ada suara. Ya, kami mungkin sedang menikmati ketupat di sebuah warung Relau. Meski gugup, sebab saya tidak berbicara banyak untuk menyatakan kegembiran atas kebaikannya. Lalu…

Menyambut Tahu Baru

Kadang saya memerlukan momen untuk membulatkan tekad yang telah tertanam di benak. Menjadi manusia lebih baik adalah keinginan yang selalu menari-nari mengiringi hari. Tahun baru Hijrah adalah salah satu momen itu. Hari ini, saya bangun Subuh agar lebih awal menggenggam waktu. Azan yang dikumandangkan oleh Encik Yusuf membuyarkan kegagapan saya karena terbangun beberapa detik sebelumnya. Dengan air, muka ini serasa diguyur segar. Lalu, bergegas ke bawah, saya mengikuti shalat berjamaah. Tak lama, saya pun beranjak dari surau, sambil mencoba mereguk udara pagi yang masih bersih tidak ditingkahi asap kendaraan. Sisa air di aspal dan bau tanah menyeruak sebab hujan semalam tercurah.

Meneruskan membaca buku Daniel Pipes, In the Path of God, saya kembali menjejak masa lalu Islam berkaitan dengan pola hubungannya dengan liyan, selain relasi internal yang mencemaskan. Karena tiba-tiba kantuk menyerang, saya lalu menjerang air. Kopi dan teh panas untuk Bunda tersedia. Kami pun menikmati pagi …

Menikmati Minggu

Katanya hari libur adalah waktu beristirahat, tapi apa bentuknya? Mungkin, tidak setiap orang mempunyai jawaban yang sama. Apakah harus diam di rumah, tidur seharian atau justeru melakukan kegiatan di rumah yang selama ini terabaikan. Uniknya, ada sebagian yang berekreasi ke luar kota, tempat yang jauh, untuk menangguk keriangan. Bukankah perjalanan jauh melelahkan? Atau memang ia menyegarkan? Sebab, ada yang bilang mereka telah menemukan semangat baru untuk berjibaku dengan hidup rutin.

Kami sendiri memulai hari libur ini dengan bangun pagi dan berolahraga. Dengan gelap masih bergelayut di udara, kami pergi ke lapangan bola kampus. Sesampai tempat lari, saya berjalan menjejaki rumput untuk pemanasan dan Bunda menyusuri jalan berbeton. Lamat-lamat kokok ayam terdengar dari perumahan sebelah trek. Setelah satu putaran, saya pun berlari kecil hingga kemudian kencang agar tubuh panas dan melelehkan keringat. Lima putaran cukup membuat badan saya panas dan tapi tidak basah. Mungkin, dingin…

Sedekah di Surau Itu

Dua hari yang lalu, seseorang telah meletakkan bungkusan plastik di depan pintu surau flat. Ada pelbagai buah-buahan, seperti nangka, pisang dan jeruk. Namun, hingga hari kedua, bungkusan itu masih tergeletak. Memang, ada yang telah mengambil sebagian, namun juga masih tersisa. Semoga hari ketiga ini, bungkusan itu telah kosong agar sang dermawan itu menuai pahala karena memberikan rejekinya untuk orang lain.

Pada masa itu, orang tua berjanggut itu datang lagi. Ya, seperti janjinya, setiap hari Rabu, beliau akan selalu mengunjungi surau. Malah, ada beberapa temannya yang turut meramaikan. Bahkan, setelah sembahyang Isya', salah seorang dari rombongan menyampaikan pentingnya iman dan amal. Saya telah mendengar tema ini setiap kali anggota jamaah tabligh menyampaikan ceramah setelah sembahyang. Dengan meneladani sang Nabi, mereka tidak akan pernah merasa lelah mengajak saudaranya mewujudkan masyarakat yang peduli dengan ibadah. Sebuah ajakan mulia.

Tentu, keteguhan Zakri, seorang pela…

Menumbuhkan Gairah Membaca Huruf

Kehadiran saya pada seminar sastra remaja di kampus membuka banyak ruang memahami kemelut hari ini: ketidakberdayaan orang tua memberi bekal anak muda bacaaan yang mencerahkan. Media elektronik telah menyihir mereka dengan pesona yang dangkal, namun telah terpatri kuat dalam kegiatan sehari-hari remaja.

Kehadiran penulis novel remaja terkenal, seperti Ahadiat Akashah dan Mawar Shafe'ie, melengkapi pertemuan ini dengan protes penulis novel 'pop' yang selama ini dianggap tidak mempunyai bobot ternyata tidak beralasan. Mereka justeru mempunyai tanggungjawab moral bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan pada pembacanya. Tentu, beberapa pembicara lain yang berbicara dari perspektif psikologi dan filsafat turut mengayakan pembahasan bagaimana seharusnya mewujudkan korpus sastra remaja dan tentu menyebarluaskan karya ini kepada khalayak luas.

Tentu, dukungan yang kuat dari orang nomor satu USM, Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak, dalam pidato utama (keynote speech) telah mewarn…

Menemukan Identitas Melayu

Pengertian Melayu sebagai orang yang beragama Islam, mengamalkan adat dan berbahasa Melayu adalah definisi yang acapkali telah diterima. Bagaimanapun, Yusril Ihza Mahendra dalam kuliah umum di Universitas Sains Malaysia (18/12/08) menegaskan bahwa roh Melayu adalah Islam. Lalu, Islam yang mana? Mungkin tidak ada jawaban tunggal terhadap pertanyaan ini, sebab dalam sejarahnya di tanah Melayu telah muncul pelbagai aliran dan pemahaman terhadap keislaman.

Majalah Dewan Budaya, yang saya beli 3 hari yang lalu, menurunkan sebuah tulisan oleh Profesor Awang Sariyan, dosen di Beijing University, yang mencoba memberi jawaban terhadap makna menjadi Melayu (lihat edisi November 2008). Di sini, ketua kajian Melayu di Universitas Beijing ini mengurai asal muasal Melayu sebelum Islam datang. Penegasan, dengan merujuk kepada Prof Naquib al-Attas, bahwa Islam telah memberikan pandangan dunia (weltanschauung) yang khas terhadap identitas Melayu tentu mengubah lanskap pemikiran tentang kemelayuan.

Lalu,…

Makan adalah Mengasup Bahan

Bagi saya, makan adalah persoalan mengasup untuk mendapat energi setelah lelah menjalankan aktivitas. Dengan nasi, tempe dan sayur, saya telah merasa cukup. Apalagi ditambah krupuk dan sambal, makan menjadi sempurna. Lalu, rutinitas ini diparipurnai dengan seteguk air. Jika ada buah, saya merasa telah mengikuti aturan makan yang sehat. Sepertinya, pencernaan saya mendapatkan pasokan yang melancarkan kerjanya.

Lalu, apakah saya menampik makanan yang dilakukan secara seremonial? Maksudnya dimulai dengan penaik selera (appetizer), makanan utama, lalu pencuci mulut (desert). Tidak, sebab ini adalah pengalaman menikmati lezatnya makanan. Meskipun kadang membosankan karena saya menunggu terlalu lama untuk beranjak dari meja makan. Ia adalah penjara yang menyenangkan. Sambil ngobrol ke sana ke mari, saya menikmati udang yang menjadi pembuka. Ditingkahi ketawa dengan kawan yang kebetulan terlibat dalam kegiatan ini, acara makan menjadi tidak menjemukan. Mungkin karena tidak terbiasa, saya kada…

Menyampaikan Kritik dengan Kelakar

Saya telah mengagendakan untuk menghadiri Seri Sejarah Lisan Penerbit USM jauh-jauh hari. Untuk ke-6 Kalinya saya mengikuti kesaksian dari mereka yang pernah terlibat dengan universitas yang berjuluk Kampus dalam Taman. Kali ini Tan Sri Dato Hj Ani bin Arope mengupas hal ihwal USM sebagai ketua lembaga pengarah yang telah dilakoninya sejak 1992/1993. Pengalamannya yang bejibun, dari tingkat lokal hingga internasional menyebabkan tokoh ini melihat persoalan dari perspektif yang kaya.

Pembukaan ceramah yang dibuka dengan anekdot orang Kelantan pergi ke London dan terpaksa tidak menggunakan toilet umum karena tertulis Male. Kata yang terakhir ini dalam dialek Kelantan merupakan penyebutan kata malam, sehingga yang bersangkutan berpikir bahwa toilet tersebut hanya digunakan untuk malam saja. Saya pun tergelak dan mendapatkan suguhan cara bertutur yang merangsang keterlibatan lebih jauh dengan ceramah.

Ternyata, isinya memang menyentak karena menyentuh masalah yang jarang diungkap, yaitu hub…

Menyemai Hubungan Serumpun

Image
Meskipun ruangan Dewan Persidangan Universiti tidak membludak karena liburan, namun partisipasi peserta dari Indonesia dan lokal cukup untuk menghadirkan perbincangan yang menarik tentang hubungan dua serumpun. Semua orang tentu mempunyai kesan berbeda, namun yang lebih penting dari itu adalah kesedian untuk berbagi gagasan dan mau duduk bersama.

Sejatinya kami mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia tidak mempunyai prasangka yang berlebihan karena kami melihat begitu dekat saudara yang dulu disatukan oleh langgam kebudayaan yang sama. Malang tak dapat ditolak, kadang saudara bisa bertengkar hebat, bahkan mungkin bertikam lidah dalam arti verbal.

Namun itu tidak akan terjadi jika kita mengurai masalah dengan jernih dan keingingan untuk mengungkai perselisihan dengan kesadaran sejarah, sosial dan budaya. Identitas, dalam perspektif posmodernisme, adalah mitos. Ia berbeda dengan pandangan pra-modern yang menganggapnya stabil dan pasti. Sementara modernitas melihatnya sebagai sebuah a…

Lika Liku Pencarian

Akhirnya saya memeroleh surat pengantar dari direktur penerbit USM untuk mendapatkan rekaman ceramah bekas orang nomor satu kampus di PTPM. Sebelumnya, sekretarisnya menelepon saya untuk mengambil surat ketika saya sedang melajukan motor dari Perpustakaan Hamzah Sendut 2 menuju Fakultas Ilmu Humaniora. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk segera mengambilnya. Lalu, saya menuju PTPM untuk mengambil rekaman, namun karena petugas yang berkenaan sedang keluar untuk sebuah kegiatan, saya mesti menjadualkan ulang untuk kembali menemuinya.

Sementara, saya tidak bisa menyalin bahan Laporan bekas rektor karena materi tersebut berada di ruang arsip. Namun, saya mencatat nomor panggilan agar mudah merujuknya jika diperlukan, yaitu LG 396 5 A141. Tidak itu saja, saya juga mencatat nomor kutipan ceramah Tan Sri Tuan Hj Hamdan Sheikh Tahir, LA 1236 H 221). Di tengah mencari buku ini saya secara tidak sengaja menemukan buku yang ditulis Hassam Karim bertajuk With the People: The Malaysian Stud…

Mencari Jejak

Pagi ini saya mengunjungi Penerbit USM untuk meminta surat pengantar mengambil rekaman ceramah di PTPM. Ketua bagian yang menangani urusan ini dengan ramah menyambut dan kemudian meminta saya meninggalkan nomor telepon. Ternyata, surat ini harus ditandatangani oleh direktur penerbitan. Insyaallah, sore ini saya bisa mengambilnya.

Lalu, saya juga memeroleh jawaban melalui email dari pihak Kantor Perhubungan Alumni bahwa majalah The Leader sudah habis dan jika berminat untuk mendapatkannya bisa mengkopi di kantor tersebut. Informasi ini tentu membantu saya untuk menghemat waktu karena pencarian data ini bisa ditanyakan melalui email, tanpa harus datang ke tempat yang diinginkan. Namun demikian, untuk pertama kali, saya tentu mengunjunginya untuk mendapatkan respons dan sekaligus mengenal lebih dekat beberapa tempat yang sebelumnya tidak pernah dibaui. Ada aroma kehangatan di tempat baru.

Sekarang, saya akan menjejaki keterangan beberapa gambar yang saya peroleh dari PTPM di perpustakaan H…

Bersama Menulis untuk Pencerahan

Saya kemarin menghadiri rapat dwitahunan Persatuan Karyawan Pulau Pinang, yang menghimpun para penggila dunia tulisan. Latar belakang yang beragam tentu menambah gizi untuk mengayakan pengalaman menulis. Presidennya, Prof Madya Sohaimi Abdul Aziz, menceritakan bagaimana perkumpulan ini bertahan hingga usia ke-5 dengan dipenuhi sejarah keperitannya dan akhirnya mampu menyisakan dana yang cukup besar dalam perhelatan pemilihan kepengurusan yang baru ini.

Kegairahan untuk menyuburkan minat kepenulisan merupakan tujuan (matlamat) dari persatuan ini. Dari sini diharapkan lahir para penulis yang mampu menyuguhkan pencerahan. Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan, seperti penerbitan, lokakarya, seminar, dan jumpa tokoh. Agar kiprah organisasi makin dikenal, pengurus telah melahirkan situs yang beralamat di www.karyawanpn.org [dalam konstruksi] dan sekaligus sebagai pengekalan eksistensi agar bisa mewariskan tradisi literasi. Keikutsertaan mahasiswa dari luar negara, seperti Thailand dan In…

Mendekatkan Saudara Serumpun, Indonesia- Malaysia

Koran Jawa Pos, 13 Desember 2008

Oleh Ahmad Sahidah*

Pertemuan rutin General Border Committee (GBC) Indonesia-Malaysia yang memasuki usia ke-37 mungkin bisa dijadikan titik tolak untuk membincangkan masalah perbatasan Indonesia-Malaysia secara lebih baik. Tentu isu kepemilikan Ambalat akan selalu menjadi batu ganjalan karena merupakan area konflik, mengingat kawasan itu mengandung sumber minyak bumi yang luar biasa. Meski demikian, masalah tersebut telah diserahkan kepada tim teknis kedua negara melalui kementerian luar negeri masing-masing.

Masalah aturan keterlibatan (rules of engagement) militer dalam menjaga perbatasan bahwa jika kedua militer dihadapkan dengan masalah, tidak terjadi bentrokan (clash) merupakan kesepakatan yang cemerlang. Dino Pati Djalal menyebut itu sebagai bentuk kemajuan luar biasa (Jawa Pos, 12/12/08). Ikhtiar untuk mengetatkan perbatasan dalam usaha menghindari tindak kejahatan, seperti penyelundupan dan perdagangan manusia (trafficking), adalah upaya ya…

Mencari Kabar Masa Lalu

Pencarian bahan untuk penulisan biografi berlanjut hari ini. Saya mengikuti saran pihak Ikatan Alumni USM untuk menghubungi perhubungan Alumni di lantai 5 rektorat (canselori). Di sana, saya mendapatkan majalah alumni, The Leader, edisi March, June dan September 2008. Lalu, saya menuju ke penerbit untuk mendapatkan surat pengantar mendapatkan transkripsi sejaraha lisan yang memuat ceraman bekas orang nomor satu kampus.

Namun, staf di penerbitan memberitahu bahwa orang yang bertanggung jawab untuk urusan ini sedang cuti. Namun, saya telah menggenggam nama yang bersangkutan dan hari Senin akan menemuinya untuk mendapatkan surat. Ternyata, pengalaman pencarian ini telah makin mengenalkan saya pada liku-liku kehidupan kampus, yang tidak melulu berkait dengan buku, tetapi juga hal ihwal hubungan manusia dan beragam tindak tanduknya.

Lebih penting lagi, saya tentu lebih memasuki ceruk yang menyimpan kabar masa lalu. Usaha untuk mengungkapkan perjalanan kampus menjadi sebesar sekarang, hakika…

Membaca Kitab Suci dengan Hati

Koran Republika, edisi Jumat, 12 Desember 2008

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia

Alquran adalah Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penganutnya. Ia telah menuntun individu untuk selalu dekat dengan penciptanya melalui apa yang telah difirmankan. Memang kebanyakan tidak memahami kandungannya, tetapi membacanya saja telah mendatangkan pahala sehingga yang bersangkutan merasa tentram. Di kepala mereka tebersit keselamatan akan digenggam dan carut-marut hidup akan terurai.

Tetapi, tidak bagi sarjananya. Mereka bertengkar tentang isinya. Malah, sejak dulu satu generasi setelah Nabi Muhammad, bijak pandai Muslim telah memahami secara berbeda terhadap teks yang sama. Apatah lagi dalam usia ke-14 abad, perselisihan makin meruyak. Ditingkahi lagi dengan keterlibatan sarjana Barat yang makin memperbesar area konflik interpretasi. Tentu yang tidak dapat dilupakan perbedaan apakah Alquran makhluk atau tidak pada zaman Khal…

Mengenal Kampus Lebih Dekat

Image
Jika sebelumnya saya sering mengikuti seri sejarah lisan yang diadakan oleh penerbit USM untuk mengenal lebih dekat kampus, karena menghadirkan kesaksian para pegawai, dari bekas orang nomor satu hingga satuan pengaman (di sana sering disebut guard). Untuk itu, saya meminta tolong teman yang bekerja di penerbit untuk memberitahu jika seri sejarah lisan akan digelar lagi. Malah, beberapa hari yang lalu, Encik Khairul Rahim mememberi tahu bahwa acara ini akan dihelat kembali pada tanggal 19 Desember 2008. Maka, sekarang, saya terlibat langsung dalam mengenal warna lain dengan membantu Dr Suhaimi Abdul Aziz dalam penulisan biografi Naib Canselor (setingkat rektor) Universiti Sains Malaysia.

Hari ini, seperti hari yang lain, saya bekerja untuk melacak bahan-bahan, seperti gambar, karya, dan kesaksian sejawat, berkaitan dengan orang nomor satu di kampus tempat saya belajar. Pencarian ini juga mengantarkan saya pada beberapa tempat yang harus disinggahi. Misalnya, pada hari ini, saya mengunj…

Belajar dari Liyan

Semalam, saya dan Pak Sugeng memenuhi undangan Pak Karnadi, staf KJRI Pulau Pinang, untuk menyambut rombongan Diklatpim pegawai eselon 3 Sumatera Utara. Sebelum memasuki ruang pertemuan, kami bertemu dengan teman-teman mahasiswa lain, Pak Supri, Pak Hamimu dan Mas Didi. Kami pun berangkat bersama melalui pintu belakang agar tidak mengganggu jalannya acara. Di sana, kami duduk di belakang dan mengikuti ceramah konsul jenderal tentang potensi hubungan dua negara, Malaysia dan Indonesia.

Saya mencoba untuk menekuri apa yang disampaikan oleh orang nomor satu KJRI ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia bisa maju bersama bersama tetangganya tentu merupakan pernyataan optimistik di tengah kemelesetan ekonomi. Beliau berharap bahwa Sumatera Utara akan juga menerima limpahan dari kepesatan Negeri Semenanjung Utara, Pulau Pinang. Pendek kata, keduanya harus bahu membahu untuk menyiasati keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis ekonomi negara raksasa, Amerika Serikat.

Lalu, setelah ceramah, para…

Bersama dalam Perbedaan

Image
Di luar perbedaan yang menghalang kita untuk berbagi, sebenarnya ada ruang untuk bersama menikmati kehidupan. Seperti teman-teman saya di perhelatan SEAMUS, mereka memang menggagas pentingnya pencerahan dan kebebasan. Persoalannya, bagaimana kata ini ditafsirkan dan diterjemahkan di dunia nyata?

Saya mengamati sepanjang diskusi dan obrolan ringan, mereka tidak mempunyai satu cara memahaminya. Apatah lagi peserta mempunyai latar belakang yang beragam. Gambar sebelah ini mungkin justeru sudut pandang lain di mana masing-masing tidak lagi dibekap sikap primordialnya. Ada bahasa yang mungkin menyatukan setiap kita, bahasa manusia tentang keindahan, apakah alam, musik dan kehangatan sebagai teman. Toh, akhirnya, masing-masing akan menjalani hidup dengan masyarakatnya.

Saya sendiri, di tengah menanti ujian, mencoba menjadi bagian dari masyarakat yang bermastautin di flat sederhana. Saya berusaha untuk akrab dengan tetangga kiri kanan. Malah, sebuah keluarga di depan rumah kami merupakan temp…

Para Peziarah Surau

Beberapa hari yang lalu, seorang tua, yang mengunjungi surau kami, menyapa di pintu. Beliau tersenyum tulus dan menyatakan bahwa setiap hari Rabu akan datang. Tempat tinggalnya cukup jauh, Sungai Dua, dari surau yang bertempat di Bukit Gambir, namun orang tua itu ingin menyemarakkan rumah ibadah berwarna hijau muda itu.

Beberapa hari sebelumnya, serombongan jamaah Tabligh juga menginap di surau itu selama tiga hari. Mohammad Amin, kepala rombongan, sempat ngobrol dengan saya menjelang Maghrib. Malahan, ada beberapa anak kecil yang turut serta, mungkin karena liburan, orang tuanya mengajaknya turut serta berihlah. Merekah inilah yang acapkali membuat surat kami tak direnggut sepi. Riuh rendah setelah dan sebelum shalat mengusir muram.

Ya, kami berharap bahwa penghuni flat akhirnya terketuk hatinya untuk mendatangi surau, agar ia tidak roboh. Apatah lagi, sekarang keadaannya telah banyak berubah. Warnanya terang dan pintu pagar telah diperbaiki sehingga dengan kokoh menghalang binatang …

Perpisahan di Long Pine

Image
Pada tanggal 23 November kemarin, acara SEAMUS diakhiri dengan malam perpisahan di restoran Long Pine, tepi laut Batu Ferringhi. Gambar di sebelah ini tidak hadir begitu saja. Ia hadir melalui rangkaian perkenalan, diskusi, ngobrol santai dan tentu kehendak untuk menciptakan kehidupan lebih baik.

Betapapun kami mempunyai komitmen yang berbeda tentang kehidupan bersama, namun tidak setiap orang mempunyai cara yang sama mengungkapkan keinginan. Namun perbedaan ini luruh bersama ketika masing-masing menepis ego. Masih banyak kesamaan yang perlu dikedepankan dan memikirkan cara untuk mewujudkan menjadi kenyataan.

Untuk itu, acara serius kadang mencair dengan makan bareng sambil ditemani band musik restoran yang membawakan lagu lembut dan tidak jarang lagu riang. Salah satunya yang saya ingat adalah Sway. Katanya, mereka, pelantun dan pemain organ itu, berasal dari Filipina. Adalah tidak aneh, jika lagu Anak dibawakan dengan sangat merdu dan mengusik rindu. Setelah acara usai, kami pun kemba…

Mengubah Keadaan dengan Kata

Ikhtiar Pak Karnadi, staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia, untuk mengubah keadaan dengan seminar adalah awal mendekatkan seluruh komponen warga Indonesia di Pulau Pinang. Kami, staff KJRI, mahasiswa, dosen, dan tenaga kerja Indonesia berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah pencerahan.

Tanpa kehendak untuk mengumpulkan gagasan apa yang bisa dilakukan, maka keinginan untuk berubah tidak akan terwujud. Bersamaan dengan HUT Korpri, kami menggelar seminar bertajuk Peningakatan Kualitas Manusia untuk Kejayaan Bangsa. Ada lima makalah yang ditampilkan dalam perhelatan ini, yaitu Prof Adirukmi, Pak Supri, Pak Nuh, Pak Karnadi, Pak Sugeng dan saya sendiri. Tindak lanjut dari acara ini adalah menggagas Universitas Terbuka bagi para pekerja Indonesia agar mereka mendapatkan pengalaman baru dan sekaligus jalan keluar dari rutinitas mereka. Lebih dari itu, cara ini adalah membuka potensi menjadi pekerja yang lebih terampil.

Sebagai langkah awal, ini adalah usaha cemerlang karena kami bisa d…