Wednesday, December 31, 2008

Menjelang Tahun Baru

Jika kita menetapkan momen itu bermakna, maka detik-detik itu bisa jadi menegangkan. Persiapan menyongsongnya pun dipenuhi dengan banyak keinginan, kegiatan dan mungkin seakan-akan waktu tidak cukup dilesakkan dengan pelbagai aktivitas agar kita mempunyai banyak pengalaman untuk dinilai kembali. Pengulangan dan rutinitas perlu dipilah untuk tidak lagi diteruskan, agar hidup tertanggungkan. Kejemuan yang meruyak biasanya hanya mempercepat kematian karena keseharian diselimuti kebosanan.

Pagi, azan subuh dan sembahyang, Saya memulai membuka hari. Dalam gelap, saya berjalan ke warung 24 jam mengambil koran. Di sebelah toko itu, saya mengambil kotak kardus yang telah dibuang, dengan harapan akan diletakkan di bawah kotak surat sebagai tong sampah kertas yang acapkali diselerakkan oleh penghuni flat. Memang, petugas kebersihan sering membersihkannnya, namun hanya sebatas pagi. Menjelang siang hingga malam, kita akan sering menemukan kertas iklan belanja, tawaran pinjaman, kursus yang dimasukkan ke kotak surat itu mulai memenuhi lantai, tak elok dilihat.

Hari ini, saya mencoba membuka mata lebar-lebar apa yang bisa dinikmati untuk mempelbagaikan pengetahuan. Aha, kebetulan saya melewati Fakultas Seni, tanpa ragu saya memasukinya untuk menikmati pameran lukisan solo Syed Bakar Syed Salim yang mengambil tema Imagine Peace. Meskipun miskin pengetahuan tentang lukisan, saya mencoba mencatat beberapa judul dari karyanya, seperti Whirling Water at Lubok, Pool of Pleasure, Mixed Feelings, Blink Blue, Breath of Montain, 1 s/d 4, Palestinians Crisis dan Life's like that. Pada gambar terakhir yang dibuat hitam putih tampak suasana alam yang ditingkahi orang berbaris teratur. Mungkin, pesannya bahwa seyogianya hidup ini mengandaikan keteraturan, jangan menyerobot milik orang lain. Kadang saya memeras otak agar bisa mengaitkan judul-judul itu dengan gambaran visual, namun masih gagap. Lidah kelu dan jemari pun sekarang masih menerka kemana saya harus menautkan kata itu dengan coretan arcylic di atas kanvas.

Tuesday, December 30, 2008

Kehilangan dan Kebaikan

Mungkin karena terburu-buru, saya meninggal anak kunci di kotak surat yang berada lantai bawah flat. Setelah kembali makan malam bersama kawan karib, Zulheri Rani, saya terkejut karena kunci itu raib dari saku celana. Kami pun kalang kabut. Di jok depan mobil pun, benda 'ajaib' itu pun tidak ada. Lalu, saya bergegas ke lantai delapan untuk memastikan apakah rumah kami dalam keadaan baik-baik saja. Ups, pintu terkunci dan namun ada pesan di sebuah kertas tulis putih, sila ambil kunci di rumah nomor sekian.

Duh, degup jantung ini mulai berjalan normal. Saya mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian, tuan rumah, seorang lelaki muda, berkata, nak ambil kunci ya? Saya menukas cepat, ya. Saya mengucapkan terima kasih banyak. Tambahnya, dia telah mengetuk pintu untuk mengembalikan kunci, namun tidak ada suara. Ya, kami mungkin sedang menikmati ketupat di sebuah warung Relau. Meski gugup, sebab saya tidak berbicara banyak untuk menyatakan kegembiran atas kebaikannya. Lalu, kembali ke rumah untuk beristirahat setelah makan malam bersama Bunda dan Mas Ayi.

Kami pun bertiga ngobrol santai tentang pelbagai isu. Namun, di hati, saya masih menyisakan pertanyaan bagaimana membalas kebaikan keluarga tersebut. Sebenarnya, saya juga mengalami hal yang sama, ketika tiba-tiba menemukan kunci motor saya telah digantung di papan pengumuman depan lift. Ya, ada seseorang yang berbaik hati mengembalikan kunci yang mungkin tertinggal di motor atau jatuh di jalan. Inilah pengalaman yang telah menambatkan hati ini dengan flat tempat kami tinggal. Ia telah menjadi rumah yang menentramkan karena satu sama lain menjaga dan menebar kebaikan.

Pelajaran lain adalah saya telah banyak melakukan keteledoran. Ini disebakan kehendak menyelesaikan banyak hal dengan tergesa-gesa. Tidak tenang. Adakah ini pertanda awal tahun baru yang buruk? Saya rasa tidak. Sebab, saya justeru memulai dengan anugerah, dibantu orang lain dan tentu saya ingin melakukan hal yang sama.

Monday, December 29, 2008

Menyambut Tahu Baru

Kadang saya memerlukan momen untuk membulatkan tekad yang telah tertanam di benak. Menjadi manusia lebih baik adalah keinginan yang selalu menari-nari mengiringi hari. Tahun baru Hijrah adalah salah satu momen itu. Hari ini, saya bangun Subuh agar lebih awal menggenggam waktu. Azan yang dikumandangkan oleh Encik Yusuf membuyarkan kegagapan saya karena terbangun beberapa detik sebelumnya. Dengan air, muka ini serasa diguyur segar. Lalu, bergegas ke bawah, saya mengikuti shalat berjamaah. Tak lama, saya pun beranjak dari surau, sambil mencoba mereguk udara pagi yang masih bersih tidak ditingkahi asap kendaraan. Sisa air di aspal dan bau tanah menyeruak sebab hujan semalam tercurah.

Meneruskan membaca buku Daniel Pipes, In the Path of God, saya kembali menjejak masa lalu Islam berkaitan dengan pola hubungannya dengan liyan, selain relasi internal yang mencemaskan. Karena tiba-tiba kantuk menyerang, saya lalu menjerang air. Kopi dan teh panas untuk Bunda tersedia. Kami pun menikmati pagi dengan seteguk minuman panas yang kemudian hangat. Kemudian dilanjutkan dengan membacakan jurnal Mingguan Moments and Milestones Pregnancy Journal : A Week-by-Week Companion oleh Jennifer Leigh Youngs and Bettie B. Youngs, yagn memasuki minggu ke-26. Kata buku ini, sang janin telah mengembangkan sistem pendengaran dan penglihatan.

Acara selanjutnya, kami pun memasak nasi goreng bersama. Saya menumbuk garam, cabe, kemiri, bawang merah dan Bunda menggoreng krupuk. Selanjutnya, Bunda menggoreng daging ayam yang telah diiris kecil, lalu bumbu dan daging itu disatukan dengan nasi di wajan. Hanya perlu waktu beberapa menit, hidangan nasi goreng itu telah siap disantap. Benar-benar sarapan pagi yang menyenangkan. Hujan yang masih setia menemani pagi menambah makan kami bersemangat. Ada banyak kehangatan dalam momen seperti ini.

Sunday, December 28, 2008

Menikmati Minggu

Katanya hari libur adalah waktu beristirahat, tapi apa bentuknya? Mungkin, tidak setiap orang mempunyai jawaban yang sama. Apakah harus diam di rumah, tidur seharian atau justeru melakukan kegiatan di rumah yang selama ini terabaikan. Uniknya, ada sebagian yang berekreasi ke luar kota, tempat yang jauh, untuk menangguk keriangan. Bukankah perjalanan jauh melelahkan? Atau memang ia menyegarkan? Sebab, ada yang bilang mereka telah menemukan semangat baru untuk berjibaku dengan hidup rutin.

Kami sendiri memulai hari libur ini dengan bangun pagi dan berolahraga. Dengan gelap masih bergelayut di udara, kami pergi ke lapangan bola kampus. Sesampai tempat lari, saya berjalan menjejaki rumput untuk pemanasan dan Bunda menyusuri jalan berbeton. Lamat-lamat kokok ayam terdengar dari perumahan sebelah trek. Setelah satu putaran, saya pun berlari kecil hingga kemudian kencang agar tubuh panas dan melelehkan keringat. Lima putaran cukup membuat badan saya panas dan tapi tidak basah. Mungkin, dingin pagi menghalangi cairan itu keluar. Namun, saya merasakan langkah dan tubuh ini ringan. Ada rasa nyaman berpendaran.

Lalu, kami berjalan keluar dari trek dan menuju tempat parkir motor. Matahari masih tampak tidak jauh dari batas ufuk. Seperti rencana sebelum berangkat, kami akhirnya mengaso di warung Mamak (sebutan khas India Muslim) sambil minum kopi. Malah, saya juga membeli koran Minggu Berita Harian untuk mengasup informasi terkini. Kami berbagi koran dan masing-masing menekuri berita. Tulisan Johan Jaafar tentang warna baru Malaysia cukup menggelitik karena mengurai pernak pernik perubahan di tahun 2008 dan bahkan juga menyentuh peristiwa yang melanda dunia.

Tidak lama kemudian, kami pun beranjak. Pulang dengan riang. Betul-betul libur yang menyenangkan, mudah dan murah.

Friday, December 26, 2008

Sedekah di Surau Itu

Dua hari yang lalu, seseorang telah meletakkan bungkusan plastik di depan pintu surau flat. Ada pelbagai buah-buahan, seperti nangka, pisang dan jeruk. Namun, hingga hari kedua, bungkusan itu masih tergeletak. Memang, ada yang telah mengambil sebagian, namun juga masih tersisa. Semoga hari ketiga ini, bungkusan itu telah kosong agar sang dermawan itu menuai pahala karena memberikan rejekinya untuk orang lain.

Pada masa itu, orang tua berjanggut itu datang lagi. Ya, seperti janjinya, setiap hari Rabu, beliau akan selalu mengunjungi surau. Malah, ada beberapa temannya yang turut meramaikan. Bahkan, setelah sembahyang Isya', salah seorang dari rombongan menyampaikan pentingnya iman dan amal. Saya telah mendengar tema ini setiap kali anggota jamaah tabligh menyampaikan ceramah setelah sembahyang. Dengan meneladani sang Nabi, mereka tidak akan pernah merasa lelah mengajak saudaranya mewujudkan masyarakat yang peduli dengan ibadah. Sebuah ajakan mulia.

Tentu, keteguhan Zakri, seorang pelajar sekoleh menengah, yang selalu mengumandangkan azan, demikian pula Encik Yusuf, juga merupakan sedekah kebaikan yang membuat penghuni flat tergerak untuk turun menghadiri shalat jamaah. Tidak hanya mereka berdua, kadang Nuruddin, warga flat dari Nigeria, dan Na'im, dari Pakistan, acapkali melakukan hal yang sama.

Ternyata, dari cerita di atas ini, saya memerhatikan ada banyak cara berbagi dengan orang lain. Yang pertama, mereka yang menyumbangkan hartanya untuk kebajikan dan yang kedua, mereka yang berbagi pengetahuan tentang kebaikan. Lalu, kita ada di mana?

Thursday, December 25, 2008

Menumbuhkan Gairah Membaca Huruf

Kehadiran saya pada seminar sastra remaja di kampus membuka banyak ruang memahami kemelut hari ini: ketidakberdayaan orang tua memberi bekal anak muda bacaaan yang mencerahkan. Media elektronik telah menyihir mereka dengan pesona yang dangkal, namun telah terpatri kuat dalam kegiatan sehari-hari remaja.

Kehadiran penulis novel remaja terkenal, seperti Ahadiat Akashah dan Mawar Shafe'ie, melengkapi pertemuan ini dengan protes penulis novel 'pop' yang selama ini dianggap tidak mempunyai bobot ternyata tidak beralasan. Mereka justeru mempunyai tanggungjawab moral bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan pada pembacanya. Tentu, beberapa pembicara lain yang berbicara dari perspektif psikologi dan filsafat turut mengayakan pembahasan bagaimana seharusnya mewujudkan korpus sastra remaja dan tentu menyebarluaskan karya ini kepada khalayak luas.

Tentu, dukungan yang kuat dari orang nomor satu USM, Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak, dalam pidato utama (keynote speech) telah mewarnai perbicangan menjana korpus dan membinca khalayak sastra selama dua hari, 23-24 Desember 2008 di Dewan Budaya. Informasi yang kaya tentang masalah kerusakan lingkungan, krisis identitas, dan kemiskinan diharapkan menjadi data dalam penulisan novel, sehingga remaja bisa mengenal isu lebih luas, tidak hanya melulu cinta.

Tuesday, December 23, 2008

Menemukan Identitas Melayu

Pengertian Melayu sebagai orang yang beragama Islam, mengamalkan adat dan berbahasa Melayu adalah definisi yang acapkali telah diterima. Bagaimanapun, Yusril Ihza Mahendra dalam kuliah umum di Universitas Sains Malaysia (18/12/08) menegaskan bahwa roh Melayu adalah Islam. Lalu, Islam yang mana? Mungkin tidak ada jawaban tunggal terhadap pertanyaan ini, sebab dalam sejarahnya di tanah Melayu telah muncul pelbagai aliran dan pemahaman terhadap keislaman.

Majalah Dewan Budaya, yang saya beli 3 hari yang lalu, menurunkan sebuah tulisan oleh Profesor Awang Sariyan, dosen di Beijing University, yang mencoba memberi jawaban terhadap makna menjadi Melayu (lihat edisi November 2008). Di sini, ketua kajian Melayu di Universitas Beijing ini mengurai asal muasal Melayu sebelum Islam datang. Penegasan, dengan merujuk kepada Prof Naquib al-Attas, bahwa Islam telah memberikan pandangan dunia (weltanschauung) yang khas terhadap identitas Melayu tentu mengubah lanskap pemikiran tentang kemelayuan.

Lalu, bagaimana identitas Melayu di era postmodern yang mengandaikan bahwa identitas itu merupakan mitos? Mungkin kita perlu membuka kembali pengertian identitas (Sheldon Stryker dan Peter Burker, 2000: 284) yang secara relatif digunakan pada tiga pemahaman berbeda, yaitu hakikatnya mengacu pada kebudayaan sebuah masyarakat, yang kadang tidak dibedakan antara identitas dan etnik. Yang lain merujuk pada identifikasi umum dengan sebuah kategori kolektivitas atau sosial. Di dalam teori identitas sosial (Tajfel 1982) ia menciptakan sebuah kebudayaan yang sama di antara partisipan. Lalu, ia mengandaikan sebuah kedirian yang mengandung makna-makna yang melekat pada seseorang dalam membawakan pelbagai peran yang dimainkan di dalam masyarakat yang sangat majemuk.

Michele Lamont (2002) mencoba untuk menyuguhkan posisi di antara primordial-esensialis (modern) dan kontruktivis (pascamodern), bahwa identitas itu dibentuk dan sekaligus diikat oleh kebudayaan yang diakses oleh seseorang dan konteks struktur tempat dia hidup. Mungkin posisi ini bisa dijadikan pijak bagaimana identitas itu dipahami dan dijadikan 'alat' sementara untuk mewujudkan komunikasi efektif antara sesama.

Dengan demikian, pengertian identitas hakikatnya menuntun seeorang pada khazanah yang sangat kaya. Dengan demikian ia tidak semudah membalikkan tangan disematkan pada seseorang. Namun, di dalam kenyataan sehari-hari, identitas mudah diucapkan dan dilekatkan pada diri seseorang dengan segala konsekuensi terhadap pengertian diri (self) dan masyarakat (society). Kehendak untuk memartabatkan sebuah identitas tentu merupakan kebutuhan dasar dalam memosisikan diri dalam pergaulan. Meskipun, kadang identitas itu juga berkait dengan peran yang memungkinkan menyapa identitas lain. Konflik yang acapkali mendera tentu bisa dilacak pada kepentingan, dengan segala pengertiannya.

Monday, December 22, 2008

Makan adalah Mengasup Bahan

Bagi saya, makan adalah persoalan mengasup untuk mendapat energi setelah lelah menjalankan aktivitas. Dengan nasi, tempe dan sayur, saya telah merasa cukup. Apalagi ditambah krupuk dan sambal, makan menjadi sempurna. Lalu, rutinitas ini diparipurnai dengan seteguk air. Jika ada buah, saya merasa telah mengikuti aturan makan yang sehat. Sepertinya, pencernaan saya mendapatkan pasokan yang melancarkan kerjanya.

Lalu, apakah saya menampik makanan yang dilakukan secara seremonial? Maksudnya dimulai dengan penaik selera (appetizer), makanan utama, lalu pencuci mulut (desert). Tidak, sebab ini adalah pengalaman menikmati lezatnya makanan. Meskipun kadang membosankan karena saya menunggu terlalu lama untuk beranjak dari meja makan. Ia adalah penjara yang menyenangkan. Sambil ngobrol ke sana ke mari, saya menikmati udang yang menjadi pembuka. Ditingkahi ketawa dengan kawan yang kebetulan terlibat dalam kegiatan ini, acara makan menjadi tidak menjemukan. Mungkin karena tidak terbiasa, saya kadang merasakan perut ini sesak.

Sejauh mungkin saya selalu mengincar ikan dan sayur karena dua menu ini, katanya, baik untuk kesehatan. Memang tidak mudah, sebab aneka makanan daging lebih mengundang selera. Tapi, inilah hidup. Jika kita memilih, kita harus bersedia menerima akibatnya. Pendek kata, kitalah yang menentukan sehat dan tidaknya tubuh ini.

Friday, December 19, 2008

Menyampaikan Kritik dengan Kelakar

Saya telah mengagendakan untuk menghadiri Seri Sejarah Lisan Penerbit USM jauh-jauh hari. Untuk ke-6 Kalinya saya mengikuti kesaksian dari mereka yang pernah terlibat dengan universitas yang berjuluk Kampus dalam Taman. Kali ini Tan Sri Dato Hj Ani bin Arope mengupas hal ihwal USM sebagai ketua lembaga pengarah yang telah dilakoninya sejak 1992/1993. Pengalamannya yang bejibun, dari tingkat lokal hingga internasional menyebabkan tokoh ini melihat persoalan dari perspektif yang kaya.

Pembukaan ceramah yang dibuka dengan anekdot orang Kelantan pergi ke London dan terpaksa tidak menggunakan toilet umum karena tertulis Male. Kata yang terakhir ini dalam dialek Kelantan merupakan penyebutan kata malam, sehingga yang bersangkutan berpikir bahwa toilet tersebut hanya digunakan untuk malam saja. Saya pun tergelak dan mendapatkan suguhan cara bertutur yang merangsang keterlibatan lebih jauh dengan ceramah.

Ternyata, isinya memang menyentak karena menyentuh masalah yang jarang diungkap, yaitu hubungan antara etnik di kampus, dan tentu sebagai cermin dari keadaan sosial lebih luas. Namun demikian, kritik internal itu saya lihat sebagai bentuk kecintaan beliau untuk meletakkan pondasi yang kokoh bagaimana kampus menjadi peneraju hubungan yang harmoni dan tentu ini harus diletakkan dalam sikap terbuka dan saling menjaga. Memang tidak dapat dielakkan bahwa budaya 'sate' yang beliau jelaskan menyebabkan pengurusan banyak hal terhambat karena ada sekelompok orang yang selalu mencucuk dan mengipasi keadaan.

Bagi saya, ini adalah siri yang menampilkan warna lain karena beliau menyatakan bahwa keterbukaan itu pernah dialami semasa bersekolah dan kuliah. Pendek kata, perubahan itu sebenarnya mempunyai rujukan internal yang mungkin perlu diwujudkan kembali untuk meraih kemajuan. Tahniah, Tan Sri, saya menemukan kedamaian dalam acara itu.

Thursday, December 18, 2008

Menyemai Hubungan Serumpun


Meskipun ruangan Dewan Persidangan Universiti tidak membludak karena liburan, namun partisipasi peserta dari Indonesia dan lokal cukup untuk menghadirkan perbincangan yang menarik tentang hubungan dua serumpun. Semua orang tentu mempunyai kesan berbeda, namun yang lebih penting dari itu adalah kesedian untuk berbagi gagasan dan mau duduk bersama.

Sejatinya kami mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia tidak mempunyai prasangka yang berlebihan karena kami melihat begitu dekat saudara yang dulu disatukan oleh langgam kebudayaan yang sama. Malang tak dapat ditolak, kadang saudara bisa bertengkar hebat, bahkan mungkin bertikam lidah dalam arti verbal.

Namun itu tidak akan terjadi jika kita mengurai masalah dengan jernih dan keingingan untuk mengungkai perselisihan dengan kesadaran sejarah, sosial dan budaya. Identitas, dalam perspektif posmodernisme, adalah mitos. Ia berbeda dengan pandangan pra-modern yang menganggapnya stabil dan pasti. Sementara modernitas melihatnya sebagai sebuah atribut budaya yang dikonstruksi, bukan given. Di sinilah, kita akan memilih ke mana identitas itu dilekatkan.

Wednesday, December 17, 2008

Lika Liku Pencarian

Akhirnya saya memeroleh surat pengantar dari direktur penerbit USM untuk mendapatkan rekaman ceramah bekas orang nomor satu kampus di PTPM. Sebelumnya, sekretarisnya menelepon saya untuk mengambil surat ketika saya sedang melajukan motor dari Perpustakaan Hamzah Sendut 2 menuju Fakultas Ilmu Humaniora. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk segera mengambilnya. Lalu, saya menuju PTPM untuk mengambil rekaman, namun karena petugas yang berkenaan sedang keluar untuk sebuah kegiatan, saya mesti menjadualkan ulang untuk kembali menemuinya.

Sementara, saya tidak bisa menyalin bahan Laporan bekas rektor karena materi tersebut berada di ruang arsip. Namun, saya mencatat nomor panggilan agar mudah merujuknya jika diperlukan, yaitu LG 396 5 A141. Tidak itu saja, saya juga mencatat nomor kutipan ceramah Tan Sri Tuan Hj Hamdan Sheikh Tahir, LA 1236 H 221). Di tengah mencari buku ini saya secara tidak sengaja menemukan buku yang ditulis Hassam Karim bertajuk With the People: The Malaysian Student Movement 1967-1974. Sebuah kesaksian yang merekam aksi turun jalan mahasiswa pada awal-awal berdirinya universitas publik Malaysia. Gambar-gambar hitam putih yang memotret unjuk rasa mahasiswa seakan menjadi saksi bisu betapa dulu mahasiswa memainkan peranan penting sebagai agen perubahan sosial.

Demikian pula, buku Machi Sato (LA 1238), Dilemmas of Public University Reform in Malaysia, membantu saya mengenal lebih dekat sejarah perkembangan universitas negeri yang sekarang telah banyak mengalami kemajuan yang pesat. Tentu, semua ini akan menjadi penanda bahwa kelahiran perguruan tinggi mengalami dinamika yang tinggi, dengan segala persoalan yang membuatnya lintang pukang menyambut tantangan.

Tuesday, December 16, 2008

Mencari Jejak

Pagi ini saya mengunjungi Penerbit USM untuk meminta surat pengantar mengambil rekaman ceramah di PTPM. Ketua bagian yang menangani urusan ini dengan ramah menyambut dan kemudian meminta saya meninggalkan nomor telepon. Ternyata, surat ini harus ditandatangani oleh direktur penerbitan. Insyaallah, sore ini saya bisa mengambilnya.

Lalu, saya juga memeroleh jawaban melalui email dari pihak Kantor Perhubungan Alumni bahwa majalah The Leader sudah habis dan jika berminat untuk mendapatkannya bisa mengkopi di kantor tersebut. Informasi ini tentu membantu saya untuk menghemat waktu karena pencarian data ini bisa ditanyakan melalui email, tanpa harus datang ke tempat yang diinginkan. Namun demikian, untuk pertama kali, saya tentu mengunjunginya untuk mendapatkan respons dan sekaligus mengenal lebih dekat beberapa tempat yang sebelumnya tidak pernah dibaui. Ada aroma kehangatan di tempat baru.

Sekarang, saya akan menjejaki keterangan beberapa gambar yang saya peroleh dari PTPM di perpustakaan Hamzah Sendut 2. Ada banyak gambar yang tidak bisa diketahui asal-usul dan latar belakangnya, sehingga pelihat tidak bisa mengenal gambar tersebut sama sekali. Ternyata, mencari kabar masa lalu harus melalui jalan berliku. Tidak terelakkan, ada yang tertinggal, sehingga menyusun masa lalu dengan sempurna merupakan utopia. Tapi, persoalannya bukan di sini. Kita yang sedang merekonstruksi sejarah menyadari bahwa kekinian turut mewarnai tafsir terhadap peristiwa lampau. Ada hubungan timbal balik. Bukankah ini akan membuat kita merasa memiliki masa lalu?

Monday, December 15, 2008

Bersama Menulis untuk Pencerahan

Saya kemarin menghadiri rapat dwitahunan Persatuan Karyawan Pulau Pinang, yang menghimpun para penggila dunia tulisan. Latar belakang yang beragam tentu menambah gizi untuk mengayakan pengalaman menulis. Presidennya, Prof Madya Sohaimi Abdul Aziz, menceritakan bagaimana perkumpulan ini bertahan hingga usia ke-5 dengan dipenuhi sejarah keperitannya dan akhirnya mampu menyisakan dana yang cukup besar dalam perhelatan pemilihan kepengurusan yang baru ini.

Kegairahan untuk menyuburkan minat kepenulisan merupakan tujuan (matlamat) dari persatuan ini. Dari sini diharapkan lahir para penulis yang mampu menyuguhkan pencerahan. Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan, seperti penerbitan, lokakarya, seminar, dan jumpa tokoh. Agar kiprah organisasi makin dikenal, pengurus telah melahirkan situs yang beralamat di www.karyawanpn.org [dalam konstruksi] dan sekaligus sebagai pengekalan eksistensi agar bisa mewariskan tradisi literasi. Keikutsertaan mahasiswa dari luar negara, seperti Thailand dan Indonesia, merupakan ikhtiar kerjasama serantau untuk memajukan kegiatan kepengarangan.

Sebelum aktif di organisasi ini, saya sebenarnya telah mengikuti beberapa kegiatan yang telah dihelat oleh kumpulan penulis kreatif ini, misalnya Seminar Pramoedya Ananta Toer dan Seminar Latif Mohidin, seorang seniman. Di sinilah, sebenarnya universitas yang acapkali menjadi tuan rumah untuk beberapa kegiatan telah turut mewarnai kampus yang bertema taman ini dengan gelegak sastra, sehingga keindahan itu bisa terungkap nyata.

Saturday, December 13, 2008

Mendekatkan Saudara Serumpun, Indonesia- Malaysia

Koran Jawa Pos, 13 Desember 2008

Oleh Ahmad Sahidah*

Pertemuan rutin General Border Committee (GBC) Indonesia-Malaysia yang memasuki usia ke-37 mungkin bisa dijadikan titik tolak untuk membincangkan masalah perbatasan Indonesia-Malaysia secara lebih baik. Tentu isu kepemilikan Ambalat akan selalu menjadi batu ganjalan karena merupakan area konflik, mengingat kawasan itu mengandung sumber minyak bumi yang luar biasa. Meski demikian, masalah tersebut telah diserahkan kepada tim teknis kedua negara melalui kementerian luar negeri masing-masing.

Masalah aturan keterlibatan (rules of engagement) militer dalam menjaga perbatasan bahwa jika kedua militer dihadapkan dengan masalah, tidak terjadi bentrokan (clash) merupakan kesepakatan yang cemerlang. Dino Pati Djalal menyebut itu sebagai bentuk kemajuan luar biasa (Jawa Pos, 12/12/08). Ikhtiar untuk mengetatkan perbatasan dalam usaha menghindari tindak kejahatan, seperti penyelundupan dan perdagangan manusia (trafficking), adalah upaya yang perlu mendapatkan perhatian karena praktik semacam itu masih leluasa. Inilah praktik yang tidak hanya merugikan negara, tetapi juga merupakan kejahatan kemanusiaan yang mesti dicegah.

Peran Media

Pada hari yang sama (12/12/08), Utusan dan Jawa Pos memuat foto pertemuan Badawi dan SBY dan berita yang sama-sama memberikan harapan untuk mewujudkan hubungan kedua negara bertambah erat dan mampu menyelesaikan masalah yang acapkali mendera. Mungkin senyum dua orang nomor satu itu secara lahir bisa dijadikan pertanda ke arah kemajuan hubungan persahabatan. Di sini, betapa peran media sangat diperhitungkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan media, dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia memang tidak seterang negara tetangganya dalam memberitakan sikapnya terhadap beberapa masalah, seperti perbatasan, hak cipta, dan tenaga kerja. Ketika media di Indonesia meributkan reog Panorogo yang dijadikan ikon pariwisata Malaysia, secara relatif warga Malaysia tidak mengetahuinya. Sementara itu, televisi di sini (Indonesia) mencuatkan isu tersebut sehingga menimbulkan respons kemarahan yang meluas di kalangan khalayak. Tentu, pemberitaan semacam itu makin menimbun rasa jengkel masyarakat di sini terhadap negara tetangga.

Demikian pula ketika kasus Ceriyati, pembantu yang bergantungan di bangunan kondominium karena melarikan dari kekejaman majikannya, mencuat ke permukaan, media Malaysia justru menampilkan sikap keprihatinan pejabat terkait di sana dengan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Di sini, media memublikasikan para pegiat LSM yang menyoroti ketidakbecusan negara tetangga melindungi warga negara Indonesia. Oleh karena itu, harus ada jalan lain untuk mengurai benang kusut semacam ini agar kedua belah pihak menemukan cara ungkap yang memberikan jalan keluar, bukan malah membuat kemarahan berkobar.

Hubungan Masyarakat

Kalau kita perhatikan di beberapa media, ada banyak ketidakpercayaan antara masyarakat dua negara. Jika ditelisik, banyak komentar di media Malaysia, seperti KOSMO! dan Metro, yang memuat rasa kesal warga setempat karena Kuala Lumpur seperti Jakarta saja. Malah tidak itu saja, pedagang kecil sering menyatakan kejengkelannya karena ternyata banyak warga negara Indonesia yang menjadi pedagang kaki lima. Belum lagi, perilaku para TKI yang berkelakuan seenaknya. Misalnya, bergerombol dengan pakaian ala rocker dan berambut panjang, ternyata, dipandang tidak elok oleh orang lokal, meskipun di Jakarta itu mungkin hal biasa.

Demikian pula, kita akan banyak menemukan komentar miring pembaca media di sini terhadap Malaysia dengan menyebutnya sebagai bangsa yang suka mengakui hasil kebudayaan Indonesia sebagai miliknya, seperti batik. Padahal, sebagaimana ditulis oleh Borhan Abu Samah (Utusan, 10/12/08), motif keduanya berbeda. Mungkin,Anda bisa membandingkan batik yang dipakai Abdullah Badawi dan SBY pada pertemuan di atas sehingga dengan sendirinya bisa dibedakan corak batik antara keduanya. Tentu, saya serta-merta bisa merasakannya karena saya sering mengamatinya dari dekat. Meski demikian, harus diakui pakaian resmi Malaysia itu diilhami oleh batik Indonesia.

Untuk itu, upaya menghilangkan duri yang menghalangi hubungan dua negara tidak hanya melibatkan pemimpin elite formal, tetapi juga masyarakat luas. Peran Eminent Persons Groups (EPG), kelompok di luar hubungan antara pemerintah, yang dipimpin Try Soetrisno (bekas wakil presiden) dan Musa Hitam (bekas wakil perdana menteri) tentu merupakan jalan keluar dari hubungan formal yang kadang terkendala birokrasi. Maka, kelompok yang digawangi oleh banyak pakar dan tokoh masyarakat itu diharapkan lebih menunjukkan taring dalam merapatkan hubungan masyarakat dua negara tersebut.

Untungnya, perguruan tinggi masing-masing negara juga telah memberikan sumbangan penting bagi upaya menghilangkan prasangka yang selalu menghantui hubungan dua kakak-beradik itu. Malah, Universitas Sains Malaysia, tempat saya belajar, akan menggelar kuliah umum bertajuk Hubungan Bangsa Dua Serumpun: Realiti Masa Kini dan Cabaran (baca: Tantangan) Masa Depan yang akan disampaikan oleh alumnusnya, Profesor Yusril Ihza Mahendra, pada 18 Desember 2008.

Mungkin, kabar putusan pengadilan Malaysia (27/11/08) terhadap Yim Pek Ha, majikan Nirmala Bonat, dengan hukuman 18 tahun karena melakukan tindakan kekerasan bisa menjadi penanda yang baik. Bagaimanapun, warga Indonesia telah mendapatkan keadilan dan itu akan menambah keyakinan kita bahwa warga Indonesia yang lain akan menerima perlakuan sama. Peristiwa tersebut sejatinya membuat warga dua negara makin bersemangat untuk memupuk rasa saling memercayai dalam mewujudkan hubungan yang tulus dan tidak lagi terperangkap sikap saling menafikan. Semoga. (*)

*Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Departemen Peradaban Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Friday, December 12, 2008

Mencari Kabar Masa Lalu

Pencarian bahan untuk penulisan biografi berlanjut hari ini. Saya mengikuti saran pihak Ikatan Alumni USM untuk menghubungi perhubungan Alumni di lantai 5 rektorat (canselori). Di sana, saya mendapatkan majalah alumni, The Leader, edisi March, June dan September 2008. Lalu, saya menuju ke penerbit untuk mendapatkan surat pengantar mendapatkan transkripsi sejaraha lisan yang memuat ceraman bekas orang nomor satu kampus.

Namun, staf di penerbitan memberitahu bahwa orang yang bertanggung jawab untuk urusan ini sedang cuti. Namun, saya telah menggenggam nama yang bersangkutan dan hari Senin akan menemuinya untuk mendapatkan surat. Ternyata, pengalaman pencarian ini telah makin mengenalkan saya pada liku-liku kehidupan kampus, yang tidak melulu berkait dengan buku, tetapi juga hal ihwal hubungan manusia dan beragam tindak tanduknya.

Lebih penting lagi, saya tentu lebih memasuki ceruk yang menyimpan kabar masa lalu. Usaha untuk mengungkapkan perjalanan kampus menjadi sebesar sekarang, hakikatnya sebuah ikhtiar untuk lebih melahirkan manusia yang cemerlang di masa depan. Mungkin benar apa kata Paulo Freire: The Future isn't something hidden in a corner. The future is something we build in the present (diambil dari Mohammed Imran, ed. Islam, Religion and Progress: Critical Perspectives (Singapore: The Reading Group, 2006), hlm. 9.

Membaca Kitab Suci dengan Hati

Koran Republika, edisi Jumat, 12 Desember 2008

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia

Alquran adalah Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penganutnya. Ia telah menuntun individu untuk selalu dekat dengan penciptanya melalui apa yang telah difirmankan. Memang kebanyakan tidak memahami kandungannya, tetapi membacanya saja telah mendatangkan pahala sehingga yang bersangkutan merasa tentram. Di kepala mereka tebersit keselamatan akan digenggam dan carut-marut hidup akan terurai.

Tetapi, tidak bagi sarjananya. Mereka bertengkar tentang isinya. Malah, sejak dulu satu generasi setelah Nabi Muhammad, bijak pandai Muslim telah memahami secara berbeda terhadap teks yang sama. Apatah lagi dalam usia ke-14 abad, perselisihan makin meruyak. Ditingkahi lagi dengan keterlibatan sarjana Barat yang makin memperbesar area konflik interpretasi. Tentu yang tidak dapat dilupakan perbedaan apakah Alquran makhluk atau tidak pada zaman Khalifah al-Ma'mun telah menentukan mati dan hidupnya seseorang.

Sementara pada masa yang sama sarjana Muslim juga terbelah perhatian terhadap Kitab Suci ini. Ada yang menonjolkan kedalaman Alquran dari sisi ilmu pengetahuan, sementara yang lain menumpukan pada makna spiritual. Mereka mengasyiki apa yang telah menjadi spesialisasinya dan mencoba mencari pembenaran keyakinannya atau malah ada yang mendapatkan ilham dari kalam Tuhan melahirkan teori baru. Tuhan telah membuka hal ihwal dunia.

Pembacaan dengan hati
Pembacaan dengan hati, mengapa? Padahal, hati sebagai terjemahan dari kata qalb sering berubah-ubah? Meski demikian, hati di sini adalah terjemahan lain dari fu'ad. Memang dalam tradisi ilmu Alquran, penafsiran dibagi ke dalam naqli (riwayat), aqli (akal budi), dan isyarat (spiritual). Mungkin hati lebih dekat dengan yang terakhir. Tentu, hati tidak kemudian dipisahkan dari dua yang pertama karena suasana batin itu juga berkaitan dengan keadaan lahir dan rasio kita.

Tartil atau membaca Alquran sesuai dengan aturan hakikatnya sebagian dari mendekati Alquran. Ia adalah cukup bagi awam, tetapi kaum terpelajar menempalak sebagai igauan. Tentu, perspektif masing-masing tidak bisa dijadikan ukuran menilai yang lain. Justru Georg Hans Gadamer menegaskan bahwa ketika seorang memahami berbeda sesuatu yang sama maka mereka telah benar-benar memahami, bisa dijadikan pijakan untuk kita tidak lagi mengusik orang lain. Malahan, masing-masing memberikan apresiasi dan dukungan sebab siapa tahu keduanya bisa bertukar tempat atau malah saling menguatkan.

Pembacaan Kitab Suci ini tidak semata-mata pelarian dari ketidakmengertian. Ia adalah ayat Tuhan yang seperti ditegaskan oleh Allah merupakan sebagian tanda-tanda kebesarannya yang ada pada diri manusia dan di cakrawala. Meringkus kekuasaan Tuhan pada Kitab Suci, kita telah sewenang-wenang mengerdilkan kemahaluasannya.

Mengatakan bahwa jalan menuju Tuhan bisa dengan akal budi, seperti diyakini filsuf Muslim, Ibn Tufayl, dalam karya cemerlangnya Hayy Ibn Yaqzan, tidak perlu dipaksakan bagi Muslim yang enggan berfilsafat. Jelas-jelas yang terakhir ini jika dilakukan adalah sebuah kepongahan.

Pembacaan Kitab Suci dengan hati tidak serta-merta menepikan logika, tetapi justru ia mengatasi ketidakmampuan akal budi meraup pesonanya serta-merta. Bukankah filsuf juga mengakui keterbatasan akal budi? Apatah lagi Kitab Suci memang juga berkaitan dengan cita rasa estetik sehingga perasaan manusia yang bisa menghampirinya.

Membaca begitu saja tentu berbeda dengan mengkaji yang kadang menuntut pelaku meragukannya. Ini saja telah menghentikan kekhusyukan. Membaca dengan hati hakikatnya ingin menghadirkan pesan utama Alquran, yaitu membebaskan manusia dari penindasan. Tentu, ia akan mengambil beberapa bentuk sebagaimana diterakan dalam Alquran.

Dengan pembacaan berulang-ulang pesan itu akan terus tertanam. Keteraturan membacanya justru makin menguatkan pembacanya untuk menjadikan pesan itu sebagai bagian dari falsafah hidupnya. Pembaca seakan-akan memahat pesan ini secara terus-menerus sehingga ia tertancap dalam di hati. Tentu, kesungguhan ini akan menggerakkan pembaca untuk mewujudkan pesan itu dalam kenyataan. Tindakan adalah akibat wajar dari sebuah keyakinan.

Pesan utama
Jadi, pembacaan apa pun tentang Kitab Suci mesti bermuara pada pesan utama itu meskipun untuk menggapainya dengan pelbagai pendekatan. Muaranya akhirnya juga ke hati. Saya sendiri tidak menampik tradisi luar untuk mengupas kedalamannya sebab ternyata Toshihiko Izutsu, sarjana Kajian Islam Jepang, berhasil mengungkap maknanya melalui pendekatan semantik Barat. Malah, hasil kajiannya menunjukkan kesamaan kesimpulan dengan para penafsir Muslim ortodoks mengenai hubungan Tuhan dan manusia (lihat dalam God and Man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung).

Sekali lagi, setelah kita menimang-nimang Kitab Suci dengan perlbagai cara, akhirnya hati kita yang akan menuntunnya, ke mana perintah Tuhan itu dimaksudkan. Hati telah menjadi penentu motif, kehendak, dan kepentingan membaca Alquran. Semua ragam itu justru membenarkan kenyataan manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dengan perbedaan latar belakang. Penghormatan terhadap keragaman justru mengukuhkan pesan Nabi sendiri bahwa Alquran mempunyai empat makna, yaitu harfiah (zahir), metaforis (batin), moral (had), dan analogis (muttala').

Mungkin cerita ini adalah penutup dari tulisan dan sekaligus mengantarkan kita pada sebuah pilihan. Teman tetangga kamar saya, Ilyas, dari Aljazair, bercerita bahwa dulu ia menyukai musik, tetapi sekarang dia meninggalkannya karena musik yang terindah adalah Alquran. Berbeda dengan kawan karib lain saya, Pak Sugeng, yang selalu memutar bacaan Alquran bersamaan dengan mesin mobilnya dihidupkan.

Dalam sepanjang jalan, saya dengan sendirinya mendengar alunan Kitab Suci. Saya perhatikan dari kedua teman tersebut, perilakunya yang tenang dan tindak tanduknya yang menenteramkan. Mungkin mereka berdua menyodorkan hatinya ketika menikmati Kitab Suci, sementara saya sendiri masih bergulat dengan teks dan berharap cemas ke mana akhirnya pencarian makna itu berakhir. Lalu, Anda berada di kelompok mana?

Thursday, December 11, 2008

Mengenal Kampus Lebih Dekat


Jika sebelumnya saya sering mengikuti seri sejarah lisan yang diadakan oleh penerbit USM untuk mengenal lebih dekat kampus, karena menghadirkan kesaksian para pegawai, dari bekas orang nomor satu hingga satuan pengaman (di sana sering disebut guard). Untuk itu, saya meminta tolong teman yang bekerja di penerbit untuk memberitahu jika seri sejarah lisan akan digelar lagi. Malah, beberapa hari yang lalu, Encik Khairul Rahim mememberi tahu bahwa acara ini akan dihelat kembali pada tanggal 19 Desember 2008. Maka, sekarang, saya terlibat langsung dalam mengenal warna lain dengan membantu Dr Suhaimi Abdul Aziz dalam penulisan biografi Naib Canselor (setingkat rektor) Universiti Sains Malaysia.

Hari ini, seperti hari yang lain, saya bekerja untuk melacak bahan-bahan, seperti gambar, karya, dan kesaksian sejawat, berkaitan dengan orang nomor satu di kampus tempat saya belajar. Pencarian ini juga mengantarkan saya pada beberapa tempat yang harus disinggahi. Misalnya, pada hari ini, saya mengunjungi kantor rektor menemui penolong pendaftar, pegawai alumni dan PTPM (Pusat Teknologi dan Pengajaran Multimedia). Saya sengaja berjalan kaki untuk merasakan lorong, jalan, dan suasana kampus. Inilah perjalanan yang membuat saya merasakan kehadiran kampus secara lebih utuh.

Lebih dari itu, kadang saya tidak mendapatkan bahan dari tempat yang saya kunjungi, namun dari pegawainya saya memeroleh informasi yang penting dalam memburu bahan. Pengalaman semacam ini tentu di luar kebiasaan saya dalam menekuri bacaan. Ternyata, komunikasi dengan manusia dan alam mendatangkan sensasi tersendiri.

Wednesday, December 10, 2008

Belajar dari Liyan

Semalam, saya dan Pak Sugeng memenuhi undangan Pak Karnadi, staf KJRI Pulau Pinang, untuk menyambut rombongan Diklatpim pegawai eselon 3 Sumatera Utara. Sebelum memasuki ruang pertemuan, kami bertemu dengan teman-teman mahasiswa lain, Pak Supri, Pak Hamimu dan Mas Didi. Kami pun berangkat bersama melalui pintu belakang agar tidak mengganggu jalannya acara. Di sana, kami duduk di belakang dan mengikuti ceramah konsul jenderal tentang potensi hubungan dua negara, Malaysia dan Indonesia.

Saya mencoba untuk menekuri apa yang disampaikan oleh orang nomor satu KJRI ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia bisa maju bersama bersama tetangganya tentu merupakan pernyataan optimistik di tengah kemelesetan ekonomi. Beliau berharap bahwa Sumatera Utara akan juga menerima limpahan dari kepesatan Negeri Semenanjung Utara, Pulau Pinang. Pendek kata, keduanya harus bahu membahu untuk menyiasati keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis ekonomi negara raksasa, Amerika Serikat.

Lalu, setelah ceramah, para tamu dan staf KJRI bertukar cenderamata. Acara dialog tidak diadakan karena harus makan malam. Di sela kami mengasup, mahasiswa dan para pegawai yang mengikuti observasi ke Malaysia ngobrol ringan, membandingkan keadaan Medan dan Georgetown. Sebuah upaya ini makin mengukuhkan kehendak untuk menjadikan negeri khatulistiwa bertambah baik. Salah seorang peserta mengabari bahwa mereka hari ini akan mengunjungi Kantor Departemen Kesehatan Alor Setar, negara bagianKedah, untuk melakukan studi bandingan pelayanan kesehatan. Semoga berhasil, Pak!

Tuesday, December 09, 2008

Bersama dalam Perbedaan


Di luar perbedaan yang menghalang kita untuk berbagi, sebenarnya ada ruang untuk bersama menikmati kehidupan. Seperti teman-teman saya di perhelatan SEAMUS, mereka memang menggagas pentingnya pencerahan dan kebebasan. Persoalannya, bagaimana kata ini ditafsirkan dan diterjemahkan di dunia nyata?

Saya mengamati sepanjang diskusi dan obrolan ringan, mereka tidak mempunyai satu cara memahaminya. Apatah lagi peserta mempunyai latar belakang yang beragam. Gambar sebelah ini mungkin justeru sudut pandang lain di mana masing-masing tidak lagi dibekap sikap primordialnya. Ada bahasa yang mungkin menyatukan setiap kita, bahasa manusia tentang keindahan, apakah alam, musik dan kehangatan sebagai teman. Toh, akhirnya, masing-masing akan menjalani hidup dengan masyarakatnya.

Saya sendiri, di tengah menanti ujian, mencoba menjadi bagian dari masyarakat yang bermastautin di flat sederhana. Saya berusaha untuk akrab dengan tetangga kiri kanan. Malah, sebuah keluarga di depan rumah kami merupakan tempat yang saya menemukan keakraban. Pak Cik Yusuf telah menggedor banyak pikiran saya tentang hubungan ide generasi tua dan muda. Demikian pula isterinya selalu menyambut saya dan isteri dengan hangat. Anaknya yang masih kecil, Iman, menambah semangat saya karena ketekunannya mengunjungi surau. kebetulan, saya sedang berusaha agar rumah Tuhan ini menjadi nadi bagi kehidupan flat kami. Perjumpaan di sana tentu mengikis keberjarakan yang selalu menghantui penghuni flat. Inilah alasan mengapa kita harus mencari jalan keluar dari keterasingan semacam ini.

Saturday, December 06, 2008

Para Peziarah Surau

Beberapa hari yang lalu, seorang tua, yang mengunjungi surau kami, menyapa di pintu. Beliau tersenyum tulus dan menyatakan bahwa setiap hari Rabu akan datang. Tempat tinggalnya cukup jauh, Sungai Dua, dari surau yang bertempat di Bukit Gambir, namun orang tua itu ingin menyemarakkan rumah ibadah berwarna hijau muda itu.

Beberapa hari sebelumnya, serombongan jamaah Tabligh juga menginap di surau itu selama tiga hari. Mohammad Amin, kepala rombongan, sempat ngobrol dengan saya menjelang Maghrib. Malahan, ada beberapa anak kecil yang turut serta, mungkin karena liburan, orang tuanya mengajaknya turut serta berihlah. Merekah inilah yang acapkali membuat surat kami tak direnggut sepi. Riuh rendah setelah dan sebelum shalat mengusir muram.

Ya, kami berharap bahwa penghuni flat akhirnya terketuk hatinya untuk mendatangi surau, agar ia tidak roboh. Apatah lagi, sekarang keadaannya telah banyak berubah. Warnanya terang dan pintu pagar telah diperbaiki sehingga dengan kokoh menghalang binatang liar mengganggu ketentramannya. Namun, pesona itu akan pudar jika penghuni rumah susun ini tidak mau merawatnya.

Tuesday, December 02, 2008

Perpisahan di Long Pine


Pada tanggal 23 November kemarin, acara SEAMUS diakhiri dengan malam perpisahan di restoran Long Pine, tepi laut Batu Ferringhi. Gambar di sebelah ini tidak hadir begitu saja. Ia hadir melalui rangkaian perkenalan, diskusi, ngobrol santai dan tentu kehendak untuk menciptakan kehidupan lebih baik.

Betapapun kami mempunyai komitmen yang berbeda tentang kehidupan bersama, namun tidak setiap orang mempunyai cara yang sama mengungkapkan keinginan. Namun perbedaan ini luruh bersama ketika masing-masing menepis ego. Masih banyak kesamaan yang perlu dikedepankan dan memikirkan cara untuk mewujudkan menjadi kenyataan.

Untuk itu, acara serius kadang mencair dengan makan bareng sambil ditemani band musik restoran yang membawakan lagu lembut dan tidak jarang lagu riang. Salah satunya yang saya ingat adalah Sway. Katanya, mereka, pelantun dan pemain organ itu, berasal dari Filipina. Adalah tidak aneh, jika lagu Anak dibawakan dengan sangat merdu dan mengusik rindu. Setelah acara usai, kami pun kembali ke komunitas masing-masing dan menekuri rutinitas, yang tentu dengan semangat dan keinginan baru. Selalu begitu.

Monday, December 01, 2008

Mengubah Keadaan dengan Kata

Ikhtiar Pak Karnadi, staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia, untuk mengubah keadaan dengan seminar adalah awal mendekatkan seluruh komponen warga Indonesia di Pulau Pinang. Kami, staff KJRI, mahasiswa, dosen, dan tenaga kerja Indonesia berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah pencerahan.

Tanpa kehendak untuk mengumpulkan gagasan apa yang bisa dilakukan, maka keinginan untuk berubah tidak akan terwujud. Bersamaan dengan HUT Korpri, kami menggelar seminar bertajuk Peningakatan Kualitas Manusia untuk Kejayaan Bangsa. Ada lima makalah yang ditampilkan dalam perhelatan ini, yaitu Prof Adirukmi, Pak Supri, Pak Nuh, Pak Karnadi, Pak Sugeng dan saya sendiri. Tindak lanjut dari acara ini adalah menggagas Universitas Terbuka bagi para pekerja Indonesia agar mereka mendapatkan pengalaman baru dan sekaligus jalan keluar dari rutinitas mereka. Lebih dari itu, cara ini adalah membuka potensi menjadi pekerja yang lebih terampil.

Sebagai langkah awal, ini adalah usaha cemerlang karena kami bisa duduk bersama untuk belajar. Selain itu, tentu para pekerja mendapatkan peluang untuk menyampaikan impiannya mengubah kehidupan mereka lebih baik. Kesediaan Prof Madya Adirukmi, koordinator PERMAI untuk Pendidikan, untuk memberikan kursus yang diperlukan pada masa yang akan datang tentu memberikan kesempatan emas bagi TKI untuk tidak terkungkung dengan kebiasaan selama ini.