Sunday, January 30, 2011

Belajar dari Dora

Dalam toko buku itu, kita akan menemukan begitu banyak pilihan rujukan. Tapi, bagi anak kecil, ia hanya mau menikmati sesuatu yang dekat, dikenal dan dipahami. Dora tentu adalah pilihannya. Tidak saja ia bisa mengikuti cerita tokoh tersebut dalam pelbagai judul, Nabbiyya juga memiliki tas bergambar dora, yang dulu dengan bangga memanggulnya.

Friday, January 28, 2011

Anjung Semarak

Tanpa mengabaikan kantin lain di kampus, terutama kantin Anjung Budi yang berpemandangan pantai dan pohon cemara, warung di atas adalah tempat yang menyeronokkan. Namanya pun unik, Anjung Semarak. Ia mungkin diambil dari nama pohon Semarak Api, yang mengeluarkan bunga berwarna merah menyala setelah diterjang hujan. Terletak di sebelah kedai buku, ia menjadi ruang mahasiswa untuk makan dan minum, bercengkerama, bahkan berdiskusi dengan dosen. Ketika saya baru datang, ada beberapa mahasiswa melingkari seorang dosen. Bahkan, di ujung yang lain, saya sempat menyapa seorang profesor yang sedang sendirian menikmati minuman.

Dari atas, pengunjung bisa melemparkan pandangan ke segala penjuru, seperti lalu lalang mahasiswa yang berjalan ke dan dari kampus, bangunan IPS (Institut Pasca Siswazah), Dewan Budaya, DTSP (Dewan Tunku Syed Putra) atau bulatan yang menancapkan tonggak bertulisan salam dalam pelbagai bahasa dunia. Dari sana, mahasiswa hanya perlu melangkah pendek untuk memelototi buku-buku baru dan lama, termasuk membeli koran harian. Ah, betul-betul surga di bumi!

Ia juga tempat yang nyaman untuk menyeruput minuman di waktu senja. Saya sengaja membawa Malam Terakhir Leila S Chudori, yang berisi beberapa cerita pendek. Ditemani air cincau (di kampung saya dikenal cao), buku itu mengalirkan makna ke batin dan gelas itu mengalirkan cairan ke kekerongkongan. Ups, kenapa nomor 13? Adakah itu petanda sial? Mungkin, sebab sehari kemudian, si kecil menumbuk mata saya sehingga perih dan pedih. Hampir semalaman saya menahan beban berat di pelupuk. Malah setelah terlelap dan bangun subuh, mata itu masih tak bisa memandang ringan sekeliling.

Thursday, January 27, 2011

Singapura dan Filsafat



Singapura menawarkan surga untuk melancong, menikmati keteraturan dan kebersihan. Temasek itu juga merupakan surga bagi mereka yang ingin memiliki barang-bareng berjenama (merek). Coba Anda berkunjung ke pusat pertokoan Teluk Marina! Di sana, banyak kedai yang mengusung pelbagai barang luar negeri ternama. Alamak! Di bandara, kedai buku Times juga menjual buku The Great Philosopher. Mungkin filsuf menyukai ketertiban dan kenyamanan, tetapi apakah mereka juga menyukai barang mewah? Selintas, saya melihat gambar jas Martin Heidegger tidak bermerek. Saya tak pasti, mungkin saya nanti perlu bertanya pada Budi F Hardiman, yang pernah menulis buku kecil tentang ahli filsafat yang bergundikkan Hannah Arendt itu.

Sunday, January 23, 2011

Pondok Jawa Timur

Malam sebelumnya, saya telah merencanakan untuk menikmati ayam penyet. Meski hanya melihat gambarnya di papan tanda, yang dipasang di depan Plaza Singapura, saya membayangkan menu makan malam yang lezat keesokan harinya. Ternyata, sambal ayam penyet yang ditambahi dengan tahu-tempe betul-betul memantik selera. Tak hanya itu, pekerjanya yang berasal dari Sunda dan Kalimantan tampak sangat ramah. Demikian pula, pekerja lokal berlaku sama, dekat dengan pelanggan.

Menikmati ayam penyet akan terasa afdol dengan menggunakan tangan. Ini mengingatkan saya pada masa kuliah, di mana hampir setiap malam mengasup makan malam berupa tempe penyet di warung Pak Hasan, tak jauh dari tempat kos dan kampus. Terus terang, saya tak begitu menikmati makanan cepat saji, karena kadang disebut dengan makanan sampah (junk food), kecuali dalam keadaan terdesak dan menukar kupon yang diperoleh secara gratis ketika berurusan dengan bank. Kata pengamat, budaya kita yang santai tak cocok dengan gaya makan di kedai tersebut yang diperuntukkan untuk orang yang tergesa-gesa.

Malam itu, saya tak hanya memenuhi rasa kangen itu, tetapi juga melihat suasana warung yang kental dengan nuansa Jawa Timuran, seperti topeng, batik jarit, dan sate Madura. Pada waktu yang sama, tak jauh dari warung, Just Beer, warung minuman keras, menyajikan musik hidup (music life), seorang penyanyi perempuan berambut pendek pirang dan pemain gitar lelaki. Semua lagu yang dilantungkan berbahasa Inggeris, termasuk Waka Waka oleh Shakira yang membuat malam terasa lebih hangat. Di Negeri Singa, semua tampak serasi, berjalan harmoni.

Friday, January 21, 2011

Temasek

Ini adalah pengalaman perjalanan kedua ke negeri Temasek. Dulu, saya melakoninya dengan teman baik, Mas Tauran, setelah mengikuti kongres Persatuan Pelajar Indonesia di Johor, tepatnya di Universitas Teknologi Malaysia. Jika yang pertama dengan jalan darat, sekarang bersama keluarga saya menempuh dengan jalan udara. Pertama kali, burung besi mau mendarat, saya melepaskan pandangan ke bawah, sekitar lapangan terbang Changi terbentang hamparan rerumputan dan pepohonan yang menghijau, tersusun rapi dan cantik.

Setiba di gedung bandara, kami menuju ke tempat pemesan penginapan. Dengan lincah, Encik Francis mencarikan tempat dan menjalin komunikasi. Sebelum memastikan, beliau sempat bertanya apakah saya pernah menginjakkan kaki ke negeri ini? Ya, ke Little India, dan beliau tersenyum, mungkin membayangkan kelas penginapan yang saya tempati dulu, sebuah losmen. Lalu, dengan ramah dia menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil mencoret peta dengan lingkaran dan menunjukkan penginapan. Kami pun beranjak, dan sempat bertanya pada meja informasi tentang pemesanan taksi, dan dengan agak terkejut, perempuan muda itu menjawab dengan logat bahasa Indonesia, "nggak pakat tiket, langsung antri!"

Kami pun berdiri menunggu taksi yang akan membawa kami ke penginapan. Tak lama kemudian, kami pun dipersilahkan oleh bapak tua, koordinator taksi, sebagaimana tertulis di baju rompi. Sang supir ternyata enak diajak ngobrol. Kami pun bertukar sapa dan cerita. Encik Selamat bin Ismail, tertera di kartu nama di atas dashboard mobil, berbicara banyak tentang keluarga, lingkungan, dan pengalaman naik haji. Malah ketika saya menyebutkan asal dari Madura, serta merta ayah beranak dua ini menimpali, oh, menantu saya berasal dari Boyan (sebutan untuk Bawean, Gresik) di Singapura atau Malaysia. Oh ya, ada pesan terkhir dari beliau yang saya simpan dalam benak, jangan tinggalkan shalat, ketika semua sudah ada di tangan. Terima kasih, Pak Cik.

Sesampai di penginapan, saya mengambil gambar di atas, tembok batu.

Wednesday, January 19, 2011

Perempuan Politik

Ketika hari libur, Ahad, kaum ibu tentu menjadi penjaga keluarga, menikmati masa luang. Namun, mungkin untuk ke sekian kalinya, mereka mengorbankan waktu bersantai dengan anak dan suami, mengikuti perbincangan tokoh wanita UMNO, Aishah Ghani dan Khatijah Sidek di Kepala Batas. Pertemuan ini semacam ini tentu seperti perhimpunan politik yang lain, namun ia bukan acara kampanye yang gegap-gempita, tetapi perenungan.

Begitu banyak dosen mengupas peran dua tokoh di atas untuk menjadi bahan renungan bagi langkah mereka ke depan dalam menekuni dunia politik. Ia tak lagi tentang kemenangan kursi, raihan kekuatan, tetapi lebih jauh apa yang dilakukan dua perempuan luar biasa itu untuk mengangkat harkat kaum ibu. Menariknya, saya sempat berjumpa dengan peserta yang pernah berteman dengan Khatijah Sidek, Ibu Fadilah binti Hasan. Meskipun sudah berumur, beliau masih bersemangat untuk hadir dan mengajak teman-temannya yang lain. Keikhlasan masih terpancar dari wajah tuanya yang jernih. Dalam sesi pertanyaan, dengan lancar beliau bercerita tentang masa kecilnya, di mana perempuan Melayu pada waktu itu tak berani mengucapkan merdeka.

Khatijah Sidek mendobrak kebekuan dengan menjahit kata merdeka di sapu tangan. Ia rela menjadi madu, meskipun tak menyukai poligami, hanya untuk membuatnya leluasa bergerak, membangkitkan semangat kemerdekaan kaumnya. Perjuangannya tentu menjadi teladan, karena ia melawan penjajah tanpa pamrih dan sangat gigih. Meskipun ia pernah duduk sebagai orang nomor satu di Wanita UMNO, ia tak tergiur untuk menumpuk kekayaan. Harta benda yang sempat dihibahkan pada lembaga sosial adalah kursi roda, yang menemani hari-hari terakhirnya.

Monday, January 17, 2011

Melatih Raga

Resimen Mahasiswa (Menwa) kampus sedang bertatih di bawah terik panas matahari. Padahal, ketika pagi yang masih gelap, saya sempat melihat mereka telah berbaris di bawah arahan seorang komando. Tak semua orang bisa melakukannya. Mereka memilih untuk merawat tubuh agar tak mudah loyo di terjang panas dan dingin.

Sang Pencerah

Mereka sedang membahas rencana kegiatan diskusi novel dan penayangan film Sang Pencerah.

Friday, January 14, 2011

Warung Padang

Di kedai bertuliskan International Hotel, warung makan Padang bertapak. Kami sesekali makan siang di sana. Namun pagi itu, ketika gambar itu diambil, saya sedang mengasup sarapan roti canai telur dan segelas es milo bersama kawan baik, Mas Ayi. Masih segar di ingatan, ketika saya, Ibu Irzani, pegawai konsulat, menjamu Pak Putu Wijaya, dramawan terkenal, di warung tersebut, diiringi hujan deras. Pilihan menunya banyak dan mengundang selera.

Tuesday, January 11, 2011

Mengejar si Kulit Bundar

Saya mengambil gambar dari atas menjelang pertandingan persahabatan PPI USM. Tadi sore, saya merumput bersama teman-teman di lapangan sebelah. Meskipun demam masih bersarang, saya melakukan pemanasan agar rasa tak enak enyah. Karena pemain tak cukup, kami meminta dua warga lokal berkebangsaan India untuk bermain. Mereka pun dengan senang hati turun lapangan. Jadilah, permainan berlangsung tanpa wasit dan hakim garis.

Dengan napas tak panjang dan lari tak cepat, saya hanya membayangi pemain lawan dan sekali-kali menerima bola, lalu mengirim ke teman, tak jauh dari saya berdiri. Sekali-kali, saya berlari sekencang mungkin untuk mengejar lawan yang mendapatkan umpan terobosan, hanya untuk menghalang langkahnya. Bagi saya, bola adalah olahraga untuk membuat saya tak bosan berlari di trek, menambah kedekatan dengan banyak orang, dan tentu sekarang memberikan contoh pada si kecil bahwa sukan itu penting.

Sebelumnya, saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman buruh migran asal Indonesia. Mereka sengaja datang untuk merayakan kebersamaan. Mereka bercerita bahwa permainan ini adalah jeda dari rutinitas. Mas Yono, Mas Cholil dan Mas Anton tampak bersemangat mengocek bola. Merek berlari kencang, melesat seperti kijang. Sebelum azan, saya pun beranjak dari lapangan, menepi ke tiang gawang seraya mengambil dan mereguk minuman hingga kerongkongan tak lagi menjerit karena kering. Bola membuat saya haus. Air itu terasa sangat nikmat.

Pasar dan Modal

Saya merindukan pasar itu. Mungkin pengaturan sayur-mayur itu tak serapi di pasaraya, namun saya membauinya sebagai masa lalu di pasar kampung. Ia hadir di tengah kepungan pasaraya besar. Mungkin, harga segenggam kancang panjang lebih mahal dari pasaraya, namun kita tak akan bangkrut hanya karena membayar lebih sebesar RM20 sen. Tapi, sayang, ia berada jauh dari tempat tinggal. Kami ke sana bersama tetangga baik hati, Pak Cik Yusuf dan Mak Cik Sri. Tentu saja, kami juga pergi bersama anak bungsunya, yang sangat dekat dengan si kecil, Nabbiyya.

Berbeda dengan pasaraya, di sana kami bertemu langsung dengan penjual, bukan kasir yang hanya menghitung uang. Ada senyum merekah ketika kami membeli segenggam bawang merah, sebelum harga bumbu dapur ini sekarang merangkak naik. Tak hanya merogoh kantong lebih dalam, kualitasnya juga tak baik, ini karena pengekspor barang ini, India dan China, dilanda bencana alam, sehingga produksi berkurang. Malah, berita koran kemarin, santan kelapa juga naik karena pasokan dari Sumatera makin berkurang setelah Semenanjung itu dihantam Tsunami.

Tuhan, doa kami agar bencana itu tak selalu menyergap kami. Meski kebutuhan sehari-hari melambung tinggi, namun petani tak banyak meraup untung. Pedagang telah mengambil jerih payah mereka untuk mengaut keuntungan. Sebagaimana di Indonesia, harga cabai makin mahal, tapi petani juga tak menangguk untung. Alamak, kenapa pedagang itu merampas hasil keringat orang lain? Lalu, pemerintah ada di mana? Oh, mereka sedang sibuk mengaca diri, berdandan untuk pemilu yang akan datang.

Sunday, January 09, 2011

Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Kebangsaan Malaysia sedang melakukan pemanasan di lapangan bola kampus. Mereka akan berlaga dalam pertandingan persabatan dengan PPI Universitas Sains Malaysia, Konsulat Jenderal, dan Ikatan Pekerja Muslim Indonesia (IPMI). Jauh-jauh dari Bangi, sekitar 5 jam dengan bus, anak muda itu datang, yang juga didukung perusahaan pengiriman barang Mandiri. Melihat persiapan mereka, banyak orang yang meramalkan tim ini akan memenangkan permainan, namun kadang bola bercerita lain, mahasiswa dari UKM itu takluk di babak penyisihan melalui adu penalti karena bermain imbang 1-1 melawan IPMI.

Sementara, PPI USM yang bertanding tanpa beban berhasil menempati posisi pertama dengan mengalahkan IPMI karena kesalahan pemain tim pekerja yang membuahkan tendangan penanti. Tentu, tim konsulat yang dimotori pemain veteran agak kewalahan bermain dalam waktu panjang sehingga banyak memungut bola di gawang sendiri. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Pak Chilman Arisman, Konsul, dalam sambutan Makan Malam dengan para pemain, di Dewan Banquet, bahwa hal itu tak membuat risau karena sudah dijangkakan. Jauh dari sekadar bermain bola, keakraban pegawai pemerintah, mahasiswa dan pekerja adalah cermin ideal tentang hubungan warga yang setara. Di lapangan, kita mencari keunggulan atas dasar kecepatan, ketahanan dan kelihaian.

Mungkin ada pemenang, tetapi tim yang kalah tak perlu menundukkan kepala. Kemenangan sejati hakikatnya keberhasilan melawan diri sendiri. Lagipula, bukankah sebuah pertandingan mengandaikan yang menang dan kalah? Jadi, yang terakhir tak perlu gundah gulana karena ia sejatinya telah berperan dalam menyangga kehidupan. Lagi-lagi, hasil akhir dari permainan kadang tak sejalan dengan ramalan di atas kertas, tak jauh beda dengan hidup, kita tak bisa menjangka ke mana nasib ini mengalir. Tapi, yang jelas, tubuh kita harus sehat, dan itu dengan bermain bola. Lalu, apa hubungannya dengan menggelecek? Ada. Kata tersebut adalah padanan dari dribble. Untuk itu, kita tak perlu menggunakan kata Irfan Bachdim men-dribble bola, meskipun pemain blasteran itu fasih berbahasa Inggeris.


Friday, January 07, 2011

Agama, Pasar dan Rakyat

Tadi, sebelum senja habis diterkam gelap malam, kami, Pak Cik dan Mak Cik pergi ke Pasar Rakyat untuk berbelanja keperluan sehari-hari, seperti sayur dan ikan. Kata Bunda, sayur kankungnya jauh lebih muda dan segar dibandingkan di Pasaraya. Hanya RM1 seikat. Ya, penjual Tionghoa yang ramah itu tak menyebut berat. Sebelumnya, kami membeli tepung kue di warung Bakery Paradise dan si kecil diberi satu bungkus kismis oleh penjualnya. Padahal harga sebungkus manisan buah kering itu RM1.50. Kami pun senang alang-kepalang.

Lalu, apa hubungannya dengan agama? Kerukunan. Di pojok, ada warung daging babi, sementara di pojok lain warung daging ayam halal, terkesan dari nama warung bersangkutan. Semua mendapat tempat dan pelanggan masing-masing. Ketika Mak Cik mendekati seorang penjual tahu dan makanan kukus, orang muda itu mengatakan bahwa otak-otak itu halal, tanpa ditanya. Di atas kepalanya, sebuah papan tergantung yang menerakan tanda tulisan Arab halal. Lalu, ketika beranjak ke warung yang lain, kami terkejut karena sepotong tempe dijual RM1.20, jauh lebih mahal 20 sen dibandingkan di Pasar Malam Gelugor dan penjual sayur keliling.

Di sela-sela berkeliling pasar, saya sempat mengambil gambar di atas. Coba lihat nama pasar yang berada di bawah wewenang MPPP (Majlis Perbandaran Pulau Pinang) itu, keren bukan? Tak hanya pasar, tetapi juga balai rakyat, tempat berkumpul orang kebanyakan. Jauh dari kesan kotor dan kumuh, sebagaimana kebanyakan pasar rakyat, ia masih bertahan di tengah serbuan pasaraya yang dimiliki perusahaan multinasional, seperti TESCO, Giant, dan Jusco. Di dalam perjalanan pulang, saya berujar pada Pak Cik, kalau kita pergi ke pasar, kita telah menyelamatkan banyak periuk orang kebanyakan, namun jika berbelanja di pasaraya, kita menambah pundi-pundi orang-orang kaya. Lalu, Pak Cik menukas, apa boleh buat? Dalam hati, kita bisa banyak berbuat untuk melawan pemilik modal besar itu.

Thursday, January 06, 2011

Menginsankan Universitas

Pidato tahunan Naib Canselor (baca: rektor) kampus mengungkap isu penting, penginsanan universitas. Dengan menyuguhkan banyak data, Dzulkifli A Razak mengungkap persoalan kemanusiaan yang makin hari makin buruk. Adalah aneh jika universitas, tempat orang bijak berkumpul, abai. Untuk itu, ia menyarankan bahwa ciri universitas baru itu bukan lagi kebijaksanaan orang pintar (wisdom of experts), tetapi kebijaksanaan orang ramai (wisdom of crowds). Untuk itu, saya memetik premis terakhir ini di kicauan twitter kemarin, lalu menambahkan jika yang terakhir gagal, maka yang pertama perlu diragukan.

Oleh karena itu, di antara ciri khas 7 Universitas APEX, kemanusiaan menempati posisi tengah, yang menerangi tiga di atas dan di bawah, yaitu 1. Masa Depan 2. Keunikan 3. Kelestarian dan 5. Kesejagadan (universal) 6. Perubahan dan 7. Pengorbanan. Betapa pun kampus menggalakkan penelitian sains, namun hasil pengamatan itu akan dimanfaatkan oleh manusia. Jika kecemerlangan peneliti menghasilkan penemuan, maka ia makin memanusiakan manusia. Oleh karena itu, tugas universitas tidak hanya terbatas pada pemenuhan kehendak industri dan bisnis, tetapi mengangkat manusia dari keterpurukan (dehumanisasi). Pada waktu yang sama, universitas harus mengambil peran untuk turut membangun peradaban global, dengan mempertimbangkan Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan Persatuan Bangsa-Bangsa.

Selama penyampaian pesan tahunan ini, ada banyak kutipan menggugah, di antaranya: Bukan waktunya lagi berpikir, tetapi kita perlu membuat pengurusan keputusan (management decision) dan hal terindah di dunia ini harus dilihat dari hati, seraya memetik Hadits Nabi yang mengulas tentang segumpal daging dalam dada manusia yang menentukan hitam putih hidup mereka. Tentu, dengan mencanangkan keberhasilan pada tahun 2013, Universitas ini akan terus mengorak langkah, yang tidak melulu tentang kejayaan yang bisa dilihat, tetapi juga yang tidak bisa diukur. Akhirnya, acara tahunan ini ditutup dengan penghargaan pada seorang mahasiswa, Kumanan Kandasamy, dan ibunya yang berjuang untuk menata hidupnya, yang sempat dihantam badai. Hebat, mereka masih mampu berdiri di atas panggung dan tentu menjalani hidup dengan tegar.

Tuesday, January 04, 2011

”Perang Baru” Indonesia-Malaysia

Jawa Pos, 22 Desember 2010


Oleh: Ahmad Sahidah

SEHARI sebelum tim Indonesia Malaysia turun lapangan di babak penyisihan piala Suzuki AFF 2010, di koran Kosmo! (1/12/10) terpampang judul besar: Malaysia sedia bedil Indonesia. Saya terkejut. Adakah diam-diam di bawah sadar wartawan Malaysia senantiasa bergolak menghadapi saudara serumpunnya sehingga kosa katanya berbau ”kegeraman”?

Mungkin tidak. Sebab, dalam sepak bola, kita telah banyak menyerap perbendaharaan kata yang terkait dengan perang, seperti taktik, pertahanan, serangan, merebut, menguasai, hingga manuver. Apalagi, setelah kalah telak 1-5, koran yang sama menurunkan berita ternyata Malaysia dibedil. Pengakuan ini tentu menghapus prasangka di atas.

Khairy Jamaluddin, ketua Pemuda UMNO (United Malay National Organization), acap menyuarakan pandangan kritisnya mengenai Indonesia. Kali ini tidak. Di twitter-nya, dia menulis nama stadion nasional dengan Gelora Bung Karno damn scary. Berbeda dengan Malaysia, mereka hanya menyebut Stadium Bukit Jalil, nama yang dilekatkan sesuai dengan tempat lapangan bola dan terkesan tidak gagah. Boleh jadi, di sana tidak ada tokoh yang membuat bulu kuduk berdiri. Tampaknya, kita memang lebih menyukai hal-hal besar, sedangkan orang Malaysia hanya menyebut stadionnya yang lebih bersih dan terawat daripada Gelora Bung Karno hanya dengan nama daerah.

Tentu, pertemuan keduanya di final akan membuat dua warga negaradeg-degan, siapa yang akan menjadi pemenang. Namun, harus diakui, warga Indonesia lebih ekspresif dalam menafsirkan laga dua seteru itu. Tiba-tiba, petinggi negara berharap TKI yang bekerja di Malaysia berbondong-bondong ke Bukit Jalil, memerahkan Stadion Bukit Jalil. Seorang sutradara berkicau di twitter, ayo ganyang Malaysia! Sepertinya, pertandingan ini betul-betul menjadi katup dari kegeramanya kepada tetangganya yang sering dipandang congkak dan pongah. Kalau hanya sebatas itu, siapa pun mafhum. Belum lagi, di tengah lapangan, kita akan sering mendengar sumpah serapah terhadap lawan. Namun, semua harus tunduk pada aturan bersama. Itu hanya permainan.

Persaingan

Mengingat di peringkat dunia FIFA Indonesia berada di atas Malaysia, di atas kertas sepatutnya tim nasional kita bisa menang, apalagi sebelumnya membelasah negeri jiran dengan skor 5-1 pada babak penyisihan. Namun, Malaysia tidak kalah gertak. Ia meramalkan bahwa pertandingan final itu boleh jadi seperti Piala Dunia Afrika Selatan, Juli lalu. Sang juara, Spanyol, sebelumnya bertekuk lutut kepada Swiss. Namun, Negeri Matador itu melenggang ke final dan mengalahkan Belanda dengan skor tipis 1-0. Malah koran Sinar Harian memuat berita bahwa kekuatan dua tim itu adalah 50:50 setelah Tim Harimau tampil meyakinkan mengalahkan Vietnam di babak semifinal.

Namun, jauh dari sekadar menumpukan perhatian pada pertandingan, kita juga harus memeriksa seberapa besar dua negara memberikan ruang untuk warganya bermain bola. Ketika final piala Nike ASEANbawah 15 tahun dihelat di Universitas Sains Malaysia pada Juni 2010, salah seorang official Indonesia memuji lapangan kampus yang terawat dan layak untuk dijadikan ajang pertandingan internasional. Malah, ia juga memuji fasilitas stadium Bukit Jalil lebih terpelihara daripada Gelora Bung Karno.

Jadi, perang dua tim itu hakikatnya mengandaikan persaingan dalam banyak hal, penyediaan fasilitas publik, pengurusan olahraga, dan pengaturan ketertiban penonton. Harus diakui, fasilitas, manejemen, dan kesadaran penggemar sepak bola untuk tertib di sini masih rendah daripada di Malaysia. Namun, pada waktu yang sama, kita perlu bangga karena antusiasme pada si kulit bundar ini mencerminkan Indonesia yang kompak. Bola di Malaysia masih menjadi milik Melayu, bukan Tionghoa dan India, sehingga penonton pun masih berasal dari etnik pribumi. Ia belum menjadi perekat kebangsaan sebagaimana di sini.

Antisipasi

Tentu tanpa diminta petinggi Republik, pekerja kita akan datang ke Bukit Jalil, apalagi pertandingan itu melibatkan tim sepak bola Indonesia. Banyak buruh migran yang memenuhi stadion untuk memberikan dukungan. Penulis sendiri melihat dari dekat gelegak penonton kita di sana dengan berteriak dan mengibarkan bendera Merah Putih. Tidak bisa disangkal, di dada warga kita Garuda telah tertancap kuat, tanpa Anas Urbaningrum harus mengatakan senayankan Bukit Jalil.

Dengan dukungan penyediaan bus oleh Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, tentu para pendukung Timnas Merah Putih akan berdatangan ke Kuala Lumpur. Sayangnya, kepastian tiket bisa diperoleh tiga hari sebelum pluit ditiup dan karcis untuk final tersebut diutamakan untuk warga lokal. Namun, bisa dijamin tanpa disediakan bus, warga kita di sana akan menyemuti Bukit Jalil. Tentu, kapasitas stadion yang hanya memuat sebanyak separoh penonton di Senayan tidak akan memberikan peluang yang besar untuk warga Indonesia. Sebab, animo warga lokal untuk menyokong pasukan (bahasa Malaysia untuk tim) kesayangannya juga besar.

Namun, antisipasi kerusuhan di tempat yang sama antar pendukung Christian Gonzales dan pendukung lokal seperti di Piala Tiger tahun 2005 harus dipikirkan. Tentu, kericuhan akan mudah tersulut mengingat bau kemarahan terhadap negeri bekas jajahan Inggris itu masih menguap. Demikian juga warga negeri jiran tidak berterima terhadap perlakuan Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang dianggap melecehkan kehormatan mereka dan mendapatkan perhatian luas setelah media di sana tidak lagi menutupi masalah seperti itu seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, sejatinya, kita harus melihat sepak bola sebagai ”perang” yang mengedepankan sportivitas dan katup bagi sikap agresif yang merugikan. Apa pun hasilnya, ia seharusnya menjadi cermin dari kehidupan berbangsa yang ingin maju, yaitu penyemaian disiplin, kekompakan, kepatuhan, dan ketahanan. Inilah perang sesungguh-nya. (*)


*) Dr Ahmad Sahidah, peneliti Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia.


Menemukan Melayu di Riau

Riau Pos, 3 Januari 2011

Oleh Ahmad Sahidah

Jauh-jauh hari, Persatuan Karyawan (baca: pengkarya) Pulau Pinang-Malaysia mengagendakan kunjungan ke Riau. Sebagai organisasi dalam bidang penulisan, peserta ingin memburu akar Melayu di Negeri Lancang Kuning.

Meskipun pada awalnya kami ingin mengunjungi banyak tempat yang memungkinkan kembali menengok akar, selain kunjungan wajib ke Universitas Riau dan Riau Pos, warga jiran yang merupakan civitas academica Universitas Sains Malaysia (USM) hanya sempat menyiangi Candi Muara Takus dan Istana Siak Sri Indrapura. Rencana ke Pulau Penyengat untuk mengunjungi makam Raja Ali Haji tak kesampaian karena waktu yang terbatas.

Bagaimanapun, kunjungan intelektual ini dirancang bukan sekadar melancong, apalagi menggenapi agenda tahunan organisasi tersebut, tetapi lebih jauh merangkai kembali masa lalu Melayu dan untuk mengkritik prilaku masa kini dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Tentu isu ini akan makin merekatkan Riau dan Semenanjung Malaysia untuk mewujudkan kerja sama yang lebih luas dalam bidang kesehatan, pendidikan dan gaya hidup. Tiga unsur yang dinilai oleh United Nation of Development Program (UNDP). Apatah lagi dalam kunjungan ke Riau Pos, Wakil Pemimpin Redakri H Yasril menegaskan, tentang kepedulian koran ini pada penghargaan karya kreatif, Anugerah Sagang, yang makin menguatkan titik temu keduanya.

Kerja sama pendidikan perguruan tinggi Riau dan Semenanjung Malaysia sebenarnya telah banyak dilakukan. Untuk itu, kunjungan kami pun tak hanya berhenti membentang makalah, malah ke depan kerja sama kedua perguruan tinggi di atas akan terus dilestarikan, mengingat tak banyak orang Riau yang melanjutkan kuliah tingkat master dan doktor ke wilayah Utara Malaysia dibandingkan ke wilayah Selatan, seperti Kuala Lumpur, Johor, Selangor dan Malaka. Apalagi di Riau, Malaysia memiliki perwakilan konsulat, yang mempunyai konsul muda Encik Zamani yang sangat responsif dalam menyambut rencana kedatangan rombongan. Pendek kata, kerja sama antara perguruan tinggi kedua negara bisa dilakukan lebih teratur dan terukur.

Dua Melayu

Meskipun Riau dan Semenanjung Malaysia berkongsi sejarah pada masa lalu, kemelayuan keduanya pun berjalan tidak satu atap. Berdirinya dua negara merdeka, Indonesia dan Malaysia, telah melahirkan identitas Melayu yang tak lagi bernafas sama.Di sini, Melayu mengandaikan identitas etnik di belahan Sumatera, sementara di Malaysia, ia adalah unit politik yang telah diresmikan di dalam konstitusi menjadi orang Islam, berbahasa Melayu dan beradat-istiadat Melayu.Bagaimanapun, definisi seperti ini dikritik oleh Mahyuddin Al-Mudra, pimpinan Balai Pengkajian dan Pengembangan Dunia Melayu Jogjakarta, sebagai penyangkalan terhadap sejarah panjang Melayu itu sendiri.

Tentu kritik itu tak sepenuhnya bisa dilontarkan untuk melihat wujud Melayu Semenanjung. Di sana, Melayu dengan sendirinya memasukkan berbagai etnik lain, seperti Jawa, Bugis, dan Aceh, yang di tanah asalnya mereka tidak menerima penyematan Melayu untuk jati diri mereka. Apa pun perbedaan pandangan ini tidak bisa dielakkan karena pengertian identitas itu sendiri mengandaikan uraian panjang terkait pengalaman khas dan mengandaikan berbagai sudut pandang, seperti klasik, modern, pascamodern. Meskipun yang terakhir mengatakan identitas itu adalah mitos, namun ia hadir dalam dunia nyata. Paling tidak, ada dengusan nafas yang sama, bahasa dan adat.

Prof Sohaimi Abdul Aziz, memuji bentuk-bentuk bangunan pemerintahan yang mengekalkan ornamen lokal, Lancang Kuning, sebagai penanda dari sebuah ciptaan arsitektur lokal. Guru besar dalam bidang sastra ini tak melihat hal serupa, sehingga dunia Melayu di Semenanjung pelan tapi pasti tak membekas. Saya pun melihat banyak bangunan megah di sana tak lagi setia dengan warisan lokal, seperti KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dan Menara Kembar Petronas. Keduanya hadir sebagai kepanjangan arsitek asing yang memanjakan ruang minimalis dan miskin sentuhan simbol lokal.

Wisata Budaya

Nah, di tengah perbedaan itu, hakikatnya kedua warga serumpun masih mempunyai akar yang sama. Keduanya bisa bertukar tempat tanpa menemui halangan berarti. Salah satu yang paling efektif untuk menyuburkan hubungan itu adalah pelancongan. Harus diakui Malaysia lebih berhasil memajukan pariwisata karena pemerintah dan rakyatnya mempunyai kesadaran yang jauh lebih kuat dibandingkan di sini. Di sana, turis merasa nyaman, karena fasilitas dan penerimaan orang lokal. Andaikata di sini kita juga bersikap sama, tentu banyak turis dari Semenanjung, termasuk sebagian turis mancanegara yang berkunjung ke Semenanjung akan melanjutkan perjalananya ke Riau.

Tahukah Anda bahwa kebanyakan orang Arab yang berkunjung ke Malaysia, baik Jalan Bukit Bintang dan Pantai Batu Ferringhi di Kuala Lumpur, namun mereka terlepas pandang bahwa di Riau memiliki bekas sebuah kerajaan Islam Siak Sri Indrapura yang memancarkan kegemilangan hingga ke Semenanjung? Kalau mereka tahu pendiri kerajaan tersebut berasal dari perantau tanah Arab, mungkin daya tarik Siak akan jauh lebih cemerlang. Ketika kami berkunjung ke sini dan bersembahyang di Masjid Syahabuddin yang permai, kami hanya mendapati turis Arab lokal dari Solo, Jawa Tengah, sedang tetirah di serambi masjid sebelah kiri, sepelemparan batu dari sungai yang mengalir sahdu.

Demikian pula, ketika rombongan mengunjung Candi Muara Takus, sang pemandu Zulkifli menjelaskan, bahwa bangunan tempat ibadah itu didirikan pada abad ke-11. Pengunjung pun tak bisa menyembunyikan decak kagum, ternyata di abad itu, Riau telah membangun peradaban yang agung, di mana pada waktu yang sama Eropa masih berada di dalam era kegelapan. Namun, kegemilangan itu tak memancar kuat karena pemerintah lokal tak membangun penyangga untuk membuat kehadiran candi itu makin menarik. Pos satuan pengaman tampak layu, sampah ditemukan di berbagai sudut candi, warung dibangun seadannya yang tak terintegrasi dengan aura candi yang magis. Malangnya lagi, fasilitas umum, seperti dua kamar mandi terbengkalai, itu pun hanya ada dua dan airnya mengalir malas.

Catatan lain yang mungkin perlu diresapi oleh warga di sini adalah kesiapan untuk memperlakukan turis dengan ramah, termasuk pedagang yang menjual makanan. Pengalaman buruk teman Malaysia, Encik Omar, membayar sepiring nasi, telor, dan segelas es teh sebesar Rp20 ribu tentu perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Padahal kami makan di warung kecil di antara lorong dua bangunan tak jauh dari Aston, tempat kami menginap. Boleh jadi pengalaman buruk ini akan membuat pengunjung dari tanah Semenanjung tak akan menemukan Melayu di sini. Semoga tidak.***

Ahmad Sahidah PhD, Staf Peneliti Pascadoktoral di Universiti Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang, Malaysia

Sunday, January 02, 2011

Sejarah Arab dan Pagi Kedua


Untuk hari kedua di awal tahun 2011, imam dan tukang azan masih sama. Biasanya setelah Subuh saya menekuri komputer atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun kali ini tidak, pergi ke warung India Muslim, Khaleel, di kala gelap masih menyelimuti Bukit Gambir. Padahal angka jarum jam telah menunju 6.30, waktu yang tak lagi gelap di kampung halaman. Anda bisa lihat langit gelap itu, yang ditingkahi lampu jembatan penyeberangan yang memisahkan asrama dengan kampus induk. Udara masih bersih. Hiruk-pikuk kendaraan belum menyeruak. Benar-benar, suasana hari yang menentramkan.

Agar tak bengung, saya membuka buku yang dibawa di rumah. Meskipun judul buku itu berbahasa Inggeris, karya Philip K Hitti itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi. Meskipun terkantuk-kantuk, saya mencoba untuk mengurai satu per satu barisan huruf. Sekali-kali, saya menggarisbawahi kalimat penting dan menarik, bahkan kadang menebalkan kalimat dengan warna pink. Apakan tidak, seorang raja yang berkuasa di Spanyol pada abad pertengahan selama beberapa tahun dan mempunyai gundik berkeluh-kesah hanya menikmati kebahagiaan selama 14 hari dalam hidupnya (lihat hlm. 668). Ada banyak kisah mengiris hati dalam sejarah penguasa Muslim di Andalusia, misalnya, bagaimana seorang ayah tega menghabisi nyawa semua anaknya agar ia tak tergantikan di singgasana kekuasaan. Tragis!

Namun sedahsyat apa pun cerita, saya masih terkantuk-kantuk. Kadang mata terpejam, meskipun mata tak bisa lelap. Di ujung ada dua remaja Tionghoa sedang bercengkerama dengan rokok di tangan. Sayangnya, setelah tembakau habis, mereka membuang begitu saja puntung, padahal sisa itu bisa dibuang di asbak yang berada di meja tak jauh dari tempat mereka duduk. Dari matanya, mereka tampak belum tidur semalaman. Lalu, pagi pun hadir bersama makin banyak pengunjung berdatangan. Saya pun beranjak untuk memesan roti canai dan mengambil nasi lemak untuk dibawa pulang. Sambil membaca koran The Star, saya menghabiskan sisa kopi, lalu membayar di kasir. Sebelum mengambil motor, saya sempat membeli koran Kosmo!, surat kabar yang dianggap tidak cool oleh Hishamuddin Rais, pemilik blog paling banyak dikunjungi di Malaysia, Tukar Tiub, selain Che Det, milik Mahathir Mohammad.

Saturday, January 01, 2011

Mengawali Waktu di Tahun Baru

Seperti diniatkan semalam, ada dua kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai hari pertama di tahun 2011: mengikuti pengajian di Masjid Kampus dan bermain bola di lapangan Minden. Lalu, apa kaitannya dengan gambar di atas? Kebetulan. Setiap kali saya, isteri dan Nabiyya mengikuti kegiatan di atas, kami acapkali melihat upacara ijab kabul pernikahan di dalam rumah Tuhan itu. Sebelumnya, kami melepaskan pandangan sambil lalu.

Namun, di hari pertama tahun baru, saya sengaja datang tepat waktu, 10 pagi untuk pengajian. Seperti biasa, tak seorang pun mahasiswa hadir sesuai pengumuman di milis. Hanya tampak pekerja migran yang sedang belajar membaca al-Qur'an. Lalu, saya pun duduk mengikuti upacara di atas hingga usai. Sang penghulu memimpin acara dengan khidmat. Pengantin lelaki menghapal kalimat, saya terima nikahnya... dengan mas kawin sekian tunai. Lalu disaksikan kerabat, ijab kabul akhirnya berlangsung dengan baik. Wajah lega tampak bertempiaran. Setelah usai, saya pun ke ruangan pengajian, dengan tema Gelombang Dakwah Islam di Nusantara yang dibawakan oleh Pak Dedy AlMasdi, calon doktor di Fakultas Farmasi.

Di sore hari, kami pun pergi lapangan bola. Mendung menggelayut di langit, hujan seakan-akan mengancam. Namun, hanya sedikit muram, butiran air itu tak tumpah. Sesampai di lapangan, saya bergegas, melakukan pemanasan dan bermain bola bersama teman Indonesia dan warga lokal, yang kebanyakan berkebangsaan India. Meskipun tak menggunakan lapangan besar, kami tetap bersemangat mengocek si kulit bundar, seakan-akan melupakan beberapa hari sebelumnya ketika pertandingan final Indonesia-Malaysia mengguncang publik.

Sebelum Maghrib, kami pun beranjak, pulang. Di tengah perjalanan, kami mampir ke warung makan Thailand, Mutiara, untuk makan malam. Saya pun sempat menunaikan shalat berjamaah di surau flat Ivory yang mungil dan bersih itu. Sang imam, mahasiswa Arab, tampak gagah dengan baju hem, jas dan celana. Dengan jiwa tentram dan badah sehat, siapa pun tak perlu lagi memanjangkan angan untuk meraih kebahagiaan, karena di situ kita mengecapi kegembiraan. Lalu, adakah pesta semalam telah membuat Anda melewati hari ini dengan mengaji dan berolahraga? Tidak apa-apa, besok masih ada matahari untuk memenuhi resolusi. Selamat tahun baru 2011, Kawan!