Posts

Showing posts from January, 2011

Belajar dari Dora

Image
Dalam toko buku itu, kita akan menemukan begitu banyak pilihan rujukan. Tapi, bagi anak kecil, ia hanya mau menikmati sesuatu yang dekat, dikenal dan dipahami. Dora tentu adalah pilihannya. Tidak saja ia bisa mengikuti cerita tokoh tersebut dalam pelbagai judul, Nabbiyya juga memiliki tas bergambar dora, yang dulu dengan bangga memanggulnya.

Anjung Semarak

Image
Tanpa mengabaikan kantin lain di kampus, terutama kantin Anjung Budi yang berpemandangan pantai dan pohon cemara, warung di atas adalah tempat yang menyeronokkan. Namanya pun unik, Anjung Semarak. Ia mungkin diambil dari nama pohon Semarak Api, yang mengeluarkan bunga berwarna merah menyala setelah diterjang hujan. Terletak di sebelah kedai buku, ia menjadi ruang mahasiswa untuk makan dan minum, bercengkerama, bahkan berdiskusi dengan dosen. Ketika saya baru datang, ada beberapa mahasiswa melingkari seorang dosen. Bahkan, di ujung yang lain, saya sempat menyapa seorang profesor yang sedang sendirian menikmati minuman.
Dari atas, pengunjung bisa melemparkan pandangan ke segala penjuru, seperti lalu lalang mahasiswa yang berjalan ke dan dari kampus, bangunan IPS (Institut Pasca Siswazah), Dewan Budaya, DTSP (Dewan Tunku Syed Putra) atau bulatan yang menancapkan tonggak bertulisan salam dalam pelbagai bahasa dunia. Dari sana, mahasiswa hanya perlu melangkah pendek untuk memelototi buku-bu…

Singapura dan Filsafat

Image
Singapura menawarkan surga untuk melancong, menikmati keteraturan dan kebersihan. Temasek itu juga merupakan surga bagi mereka yang ingin memiliki barang-bareng berjenama (merek). Coba Anda berkunjung ke pusat pertokoan Teluk Marina! Di sana, banyak kedai yang mengusung pelbagai barang luar negeri ternama. Alamak! Di bandara, kedai buku Times juga menjual buku The Great Philosopher. Mungkin filsuf menyukai ketertiban dan kenyamanan, tetapi apakah mereka juga menyukai barang mewah? Selintas, saya melihat gambar jas Martin Heidegger tidak bermerek. Saya tak pasti, mungkin saya nanti perlu bertanya pada Budi F Hardiman, yang pernah menulis buku kecil tentang ahli filsafat yang bergundikkan Hannah Arendt itu.

Pondok Jawa Timur

Image
Malam sebelumnya, saya telah merencanakan untuk menikmati ayam penyet. Meski hanya melihat gambarnya di papan tanda, yang dipasang di depan Plaza Singapura, saya membayangkan menu makan malam yang lezat keesokan harinya. Ternyata, sambal ayam penyet yang ditambahi dengan tahu-tempe betul-betul memantik selera. Tak hanya itu, pekerjanya yang berasal dari Sunda dan Kalimantan tampak sangat ramah. Demikian pula, pekerja lokal berlaku sama, dekat dengan pelanggan.
Menikmati ayam penyet akan terasa afdol dengan menggunakan tangan. Ini mengingatkan saya pada masa kuliah, di mana hampir setiap malam mengasup makan malam berupa tempe penyet di warung Pak Hasan, tak jauh dari tempat kos dan kampus. Terus terang, saya tak begitu menikmati makanan cepat saji, karena kadang disebut dengan makanan sampah (junk food), kecuali dalam keadaan terdesak dan menukar kupon yang diperoleh secara gratis ketika berurusan dengan bank. Kata pengamat, budaya kita yang santai tak cocok dengan gaya makan di kedai…

Temasek

Image
Ini adalah pengalaman perjalanan kedua ke negeri Temasek. Dulu, saya melakoninya dengan teman baik, Mas Tauran, setelah mengikuti kongres Persatuan Pelajar Indonesia di Johor, tepatnya di Universitas Teknologi Malaysia. Jika yang pertama dengan jalan darat, sekarang bersama keluarga saya menempuh dengan jalan udara. Pertama kali, burung besi mau mendarat, saya melepaskan pandangan ke bawah, sekitar lapangan terbang Changi terbentang hamparan rerumputan dan pepohonan yang menghijau, tersusun rapi dan cantik.
Setiba di gedung bandara, kami menuju ke tempat pemesan penginapan. Dengan lincah, Encik Francis mencarikan tempat dan menjalin komunikasi. Sebelum memastikan, beliau sempat bertanya apakah saya pernah menginjakkan kaki ke negeri ini? Ya, ke Little India, dan beliau tersenyum, mungkin membayangkan kelas penginapan yang saya tempati dulu, sebuah losmen. Lalu, dengan ramah dia menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil mencoret peta dengan lingkaran dan menunjukkan penginapan. Kami pu…

Perempuan Politik

Image
Ketika hari libur, Ahad, kaum ibu tentu menjadi penjaga keluarga, menikmati masa luang. Namun, mungkin untuk ke sekian kalinya, mereka mengorbankan waktu bersantai dengan anak dan suami, mengikuti perbincangan tokoh wanita UMNO, Aishah Ghani dan Khatijah Sidek di Kepala Batas. Pertemuan ini semacam ini tentu seperti perhimpunan politik yang lain, namun ia bukan acara kampanye yang gegap-gempita, tetapi perenungan.
Begitu banyak dosen mengupas peran dua tokoh di atas untuk menjadi bahan renungan bagi langkah mereka ke depan dalam menekuni dunia politik. Ia tak lagi tentang kemenangan kursi, raihan kekuatan, tetapi lebih jauh apa yang dilakukan dua perempuan luar biasa itu untuk mengangkat harkat kaum ibu. Menariknya, saya sempat berjumpa dengan peserta yang pernah berteman dengan Khatijah Sidek, Ibu Fadilah binti Hasan. Meskipun sudah berumur, beliau masih bersemangat untuk hadir dan mengajak teman-temannya yang lain. Keikhlasan masih terpancar dari wajah tuanya yang jernih. Dalam ses…

Melatih Raga

Image
Resimen Mahasiswa (Menwa) kampus sedang bertatih di bawah terik panas matahari. Padahal, ketika pagi yang masih gelap, saya sempat melihat mereka telah berbaris di bawah arahan seorang komando. Tak semua orang bisa melakukannya. Mereka memilih untuk merawat tubuh agar tak mudah loyo di terjang panas dan dingin.

Sang Pencerah

Image
Mereka sedang membahas rencana kegiatan diskusi novel dan penayangan film Sang Pencerah.

Warung Padang

Image
Di kedai bertuliskan International Hotel, warung makan Padang bertapak. Kami sesekali makan siang di sana. Namun pagi itu, ketika gambar itu diambil, saya sedang mengasup sarapan roti canai telur dan segelas es milo bersama kawan baik, Mas Ayi. Masih segar di ingatan, ketika saya, Ibu Irzani, pegawai konsulat, menjamu Pak Putu Wijaya, dramawan terkenal, di warung tersebut, diiringi hujan deras. Pilihan menunya banyak dan mengundang selera.

Mengejar si Kulit Bundar

Image
Saya mengambil gambar dari atas menjelang pertandingan persahabatan PPI USM. Tadi sore, saya merumput bersama teman-teman di lapangan sebelah. Meskipun demam masih bersarang, saya melakukan pemanasan agar rasa tak enak enyah. Karena pemain tak cukup, kami meminta dua warga lokal berkebangsaan India untuk bermain. Mereka pun dengan senang hati turun lapangan. Jadilah, permainan berlangsung tanpa wasit dan hakim garis.
Dengan napas tak panjang dan lari tak cepat, saya hanya membayangi pemain lawan dan sekali-kali menerima bola, lalu mengirim ke teman, tak jauh dari saya berdiri. Sekali-kali, saya berlari sekencang mungkin untuk mengejar lawan yang mendapatkan umpan terobosan, hanya untuk menghalang langkahnya. Bagi saya, bola adalah olahraga untuk membuat saya tak bosan berlari di trek, menambah kedekatan dengan banyak orang, dan tentu sekarang memberikan contoh pada si kecil bahwa sukan itu penting.
Sebelumnya, saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman buruh migran asal Indonesia. …

Pasar dan Modal

Image
Saya merindukan pasar itu. Mungkin pengaturan sayur-mayur itu tak serapi di pasaraya, namun saya membauinya sebagai masa lalu di pasar kampung. Ia hadir di tengah kepungan pasaraya besar. Mungkin, harga segenggam kancang panjang lebih mahal dari pasaraya, namun kita tak akan bangkrut hanya karena membayar lebih sebesar RM20 sen. Tapi, sayang, ia berada jauh dari tempat tinggal. Kami ke sana bersama tetangga baik hati, Pak Cik Yusuf dan Mak Cik Sri. Tentu saja, kami juga pergi bersama anak bungsunya, yang sangat dekat dengan si kecil, Nabbiyya.
Berbeda dengan pasaraya, di sana kami bertemu langsung dengan penjual, bukan kasir yang hanya menghitung uang. Ada senyum merekah ketika kami membeli segenggam bawang merah, sebelum harga bumbu dapur ini sekarang merangkak naik. Tak hanya merogoh kantong lebih dalam, kualitasnya juga tak baik, ini karena pengekspor barang ini, India dan China, dilanda bencana alam, sehingga produksi berkurang. Malah, berita koran kemarin, santan kelapa juga naik…
Image
Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Kebangsaan Malaysia sedang melakukan pemanasan di lapangan bola kampus. Mereka akan berlaga dalam pertandingan persabatan dengan PPI Universitas Sains Malaysia, Konsulat Jenderal, dan Ikatan Pekerja Muslim Indonesia (IPMI). Jauh-jauh dari Bangi, sekitar 5 jam dengan bus, anak muda itu datang, yang juga didukung perusahaan pengiriman barang Mandiri. Melihat persiapan mereka, banyak orang yang meramalkan tim ini akan memenangkan permainan, namun kadang bola bercerita lain, mahasiswa dari UKM itu takluk di babak penyisihan melalui adu penalti karena bermain imbang 1-1 melawan IPMI.
Sementara, PPI USM yang bertanding tanpa beban berhasil menempati posisi pertama dengan mengalahkan IPMI karena kesalahan pemain tim pekerja yang membuahkan tendangan penanti. Tentu, tim konsulat yang dimotori pemain veteran agak kewalahan bermain dalam waktu panjang sehingga banyak memungut bola di gawang sendiri. Namun, seperti …

Agama, Pasar dan Rakyat

Image
Tadi, sebelum senja habis diterkam gelap malam, kami, Pak Cik dan Mak Cik pergi ke Pasar Rakyat untuk berbelanja keperluan sehari-hari, seperti sayur dan ikan. Kata Bunda, sayur kankungnya jauh lebih muda dan segar dibandingkan di Pasaraya. Hanya RM1 seikat. Ya, penjual Tionghoa yang ramah itu tak menyebut berat. Sebelumnya, kami membeli tepung kue di warung Bakery Paradise dan si kecil diberi satu bungkus kismis oleh penjualnya. Padahal harga sebungkus manisan buah kering itu RM1.50. Kami pun senang alang-kepalang.
Lalu, apa hubungannya dengan agama? Kerukunan. Di pojok, ada warung daging babi, sementara di pojok lain warung daging ayam halal, terkesan dari nama warung bersangkutan. Semua mendapat tempat dan pelanggan masing-masing. Ketika Mak Cik mendekati seorang penjual tahu dan makanan kukus, orang muda itu mengatakan bahwa otak-otak itu halal, tanpa ditanya. Di atas kepalanya, sebuah papan tergantung yang menerakan tanda tulisan Arab halal. Lalu, ketika beranjak ke warung yang l…

Menginsankan Universitas

Image
Pidato tahunan Naib Canselor (baca: rektor) kampus mengungkap isu penting, penginsanan universitas. Dengan menyuguhkan banyak data, Dzulkifli A Razak mengungkap persoalan kemanusiaan yang makin hari makin buruk. Adalah aneh jika universitas, tempat orang bijak berkumpul, abai. Untuk itu, ia menyarankan bahwa ciri universitas baru itu bukan lagi kebijaksanaan orang pintar (wisdom of experts), tetapi kebijaksanaan orang ramai (wisdom of crowds). Untuk itu, saya memetik premis terakhir ini di kicauan twitter kemarin, lalu menambahkan jika yang terakhir gagal, maka yang pertama perlu diragukan.
Oleh karena itu, di antara ciri khas 7 Universitas APEX, kemanusiaan menempati posisi tengah, yang menerangi tiga di atas dan di bawah, yaitu 1. Masa Depan 2. Keunikan 3. Kelestarian dan 5. Kesejagadan (universal) 6. Perubahan dan 7. Pengorbanan. Betapa pun kampus menggalakkan penelitian sains, namun hasil pengamatan itu akan dimanfaatkan oleh manusia. Jika kecemerlangan peneliti menghasilkan penem…

”Perang Baru” Indonesia-Malaysia

Jawa Pos, 22 Desember 2010
Oleh: Ahmad Sahidah

SEHARI sebelum tim Indonesia Malaysia turun lapangan di babak penyisihan piala Suzuki AFF 2010, di koran Kosmo! (1/12/10) terpampang judul besar: Malaysia sedia bedil Indonesia. Saya terkejut. Adakah diam-diam di bawah sadar wartawan Malaysia senantiasa bergolak menghadapi saudara serumpunnya sehingga kosa katanya berbau ”kegeraman”? Mungkin tidak. Sebab, dalam sepak bola, kita telah banyak menyerap perbendaharaan kata yang terkait dengan perang, seperti taktik, pertahanan, serangan, merebut, menguasai, hingga manuver. Apalagi, setelah kalah telak 1-5, koran yang sama menurunkan berita ternyata Malaysia dibedil. Pengakuan ini tentu menghapus prasangka di atas. Khairy Jamaluddin, ketua Pemuda UMNO (United Malay National Organization), acap menyuarakan pandangan kritisnya mengenai Indonesia. Kali ini tidak. Di twitter-nya, dia menulis nama stadion nasional dengan Gelora Bung Karno damn scary. Berbeda dengan Malaysia, mereka hanya menyebut …

Menemukan Melayu di Riau

Riau Pos, 3 Januari 2011Oleh Ahmad Sahidah Jauh-jauh hari, Persatuan Karyawan (baca: pengkarya) Pulau Pinang-Malaysia mengagendakan kunjungan ke Riau. Sebagai organisasi dalam bidang penulisan, peserta ingin memburu akar Melayu di Negeri Lancang Kuning.Meskipun pada awalnya kami ingin mengunjungi banyak tempat yang memungkinkan kembali menengok akar, selain kunjungan wajib ke Universitas Riau dan Riau Pos, warga jiran yang merupakan civitas academica Universitas Sains Malaysia (USM) hanya sempat menyiangi Candi Muara Takus dan Istana Siak Sri Indrapura. Rencana ke Pulau Penyengat untuk mengunjungi makam Raja Ali Haji tak kesampaian karena waktu yang terbatas.Bagaimanapun, kunjungan intelektual ini dirancang bukan sekadar melancong, apalagi menggenapi agenda tahunan organisasi tersebut, tetapi lebih jauh merangkai kembali masa lalu Melayu dan untuk mengkritik prilaku masa kini dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Tentu isu ini akan makin merekatkan Riau dan Semenanjung Malaysia…

Sejarah Arab dan Pagi Kedua

Image
Untuk hari kedua di awal tahun 2011, imam dan tukang azan masih sama. Biasanya setelah Subuh saya menekuri komputer atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun kali ini tidak, pergi ke warung India Muslim, Khaleel, di kala gelap masih menyelimuti Bukit Gambir. Padahal angka jarum jam telah menunju 6.30, waktu yang tak lagi gelap di kampung halaman. Anda bisa lihat langit gelap itu, yang ditingkahi lampu jembatan penyeberangan yang memisahkan asrama dengan kampus induk. Udara masih bersih. Hiruk-pikuk kendaraan belum menyeruak. Benar-benar, suasana hari yang menentramkan.
Agar tak bengung, saya membuka buku yang dibawa di rumah. Meskipun judul buku itu berbahasa Inggeris, karya Philip K Hitti itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi. Meskipun terkantuk-kantuk, saya mencoba untuk mengurai satu per satu barisan huruf. Sekali-kali, saya menggarisbawahi kalimat penting dan menarik, bahkan kadang menebalkan kalimat dengan warna pink. Apakan tidak, seorang r…

Mengawali Waktu di Tahun Baru

Image
Seperti diniatkan semalam, ada dua kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai hari pertama di tahun 2011: mengikuti pengajian di Masjid Kampus dan bermain bola di lapangan Minden. Lalu, apa kaitannya dengan gambar di atas? Kebetulan. Setiap kali saya, isteri dan Nabiyya mengikuti kegiatan di atas, kami acapkali melihat upacara ijab kabul pernikahan di dalam rumah Tuhan itu. Sebelumnya, kami melepaskan pandangan sambil lalu.

Namun, di hari pertama tahun baru, saya sengaja datang tepat waktu, 10 pagi untuk pengajian. Seperti biasa, tak seorang pun mahasiswa hadir sesuai pengumuman di milis. Hanya tampak pekerja migran yang sedang belajar membaca al-Qur'an. Lalu, saya pun duduk mengikuti upacara di atas hingga usai. Sang penghulu memimpin acara dengan khidmat. Pengantin lelaki menghapal kalimat, saya terima nikahnya... dengan mas kawin sekian tunai. Lalu disaksikan kerabat, ijab kabul akhirnya berlangsung dengan baik. Wajah lega tampak bertempiaran. Setelah usai, saya pun ke ruangan …