Posts

Showing posts from November, 2010

Mencegah TKI Menjadi Korban

Image
Hakikatnya, semua pihak terkait mengetahui apa yang harus dilakukan untuk melayani buruh migran. Kehendak yang kuat harus tertanam agar suara-suara kepedihan seperti di atas tak terus berdengung, mengusik telinga. Kami pun melakukan apa yang bisa disuarakan dari mereka yang bisu. Kami mengumpulkan cerita-cerita yang terbiar, yang mungkin telah banyak beredar. Semoga!

Agar Terhibur

Image
Karena ada dua vocer, kami pun melaju untuk menikmati hadiah. Kalau tidak, mungkin kami tak perlu makan di KFC (Kentucky Fried Chicken) dan menyesap kopi di Starbuck. Bukan karena menuruti ajakan boikot terhadap perusahaan Amerika yang terkait dengan Israel, namun bagi saya, keduanya mahal. Lagipula, pemilik lisensi KFC di Malaysia adalah Johor Corporation, yang diterajui oleh Ali Hashim, dan produk starbuck juga menjual kopi Sulawesi dan pelayannya sebagian memakai kerudung. Masihkah batas antara kawan dan lawan di dunia normal sejelas di medan perang?
Di hari libur, banyak orang pergi ke mall agar terhibur. Tak salah, namun apa yang dicari? Aha, di sana toko buku yang besar, Borders, perusahaan buku asal Inggeris, yang memberi saya vocer senilai RM 10 untuk menikmati kopi Starbuck. Sesampai di toko buku itu, kami pun berhamburan, memilih rak buku sesuai dengan kesukaan masing-masing. Selalu saja, untuk pertama kali, saya menuju ke rak filsafat, yang hanya terdiri dari satu rak, tak …

Meregang Otot

Image
Bermain bola untuk pertama kalinya setelah Nabiyya lahir mendatangkan sensasi tersendiri. Ya, kemarin kami, mahasiswa dan staf konsulat melakukan pertandingan persahabatan di lapangan sepak bola milik Majlis Perbandaran Pulau Pinang, di belakang rumah sakit Adventist, sepelemparan batu dari kantor konsulat Indonesia. Karena kurang peregangan, otot pegal, meskipun setiap inci dari urat terasa lebih kencang dan nyaman. Belum lagi, saya bisa mereguk udara lebih leluasa dan melempar pandangan lebih jauh.
Sedianya ingin berlari kecil, namun jika mendapatkan umpan, saya pun sekuat tenaga berlari membawa bola dan kembali mengumpan bola pada kawan. Tiba-tiba, otot dan urat terasa ditarik kuat, ada sedikit nyeri di situ. Tak hanya menggunakan kaki, mulut pun tak berhenti bersuara, meminta umpan dan memberi ide agar bola ditendang ke kawan di sayap kiri, atau umpan tarik ke depan gawang. Kadang di tengah permainan tawa pun pecah karena melihat kelucuan, apakan tidak, Pak Usman menggunakan tang…

Karapan Sapi

Image
Apakah Nietzsche akan mengalami goncangan kejiwaan jika dia hidup kembali dan menonton karapan sapi? Dulu, filsuf Jerman itu gila karena tak tega melihat seekor kuda dipukul dengan cemeti oleh sang kusir. Karapan sapi tentu memantik goncangan lebih dahsyat karena hewan itu tidak hanya dicambuk, tetapi juga bokongnya dilukai dengan paku agar berlari kencang. Malah, tak jarang kedua mata sapi itu dibubuh balsem agar makin 'berlari' karena tak kuat menahan pedih. Inikah kebudayaan lokal itu? Lalu, kearifan lokal (local wisdom) seperti apa yang akan diperlihatkan dengan menyiksa binatang?
[Gambar di atas diambil dari AsianGeographic No 75 Issue 6│2010]

Hari Raya dan Makna Kurban

Rabu, 17 November 2010 │Seputar IndonesiaAhmad Sahidah PhD Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universiti Sains MalaysiaShalat dua rakat, takbir, dan penyembelihan korban merupakan kegiatan yang identik dengan perayaan Idul Adha. Media cetak dan elektronik akan memuat gambar ribuan orang berjamaah menunaikan sembahyang dan sejumlah orang kaya menyumbang seekor sapi atau lebih ke tempat ibadah. Gambaran ini selalu hadir di hari suci itu. Betapa damai kita melihat ribuan orang mengagungkan Tuhan dalam suasana syahdu dan khusyu’. Betapa tersentuh kita melihat begitu banyak orang bermurah hati, peduli pada si miskin. Selang beberapa waktu kemudian, penganutnya terperangkap dalam rutinitas, seakan-akan gairah religiositas dan sikap filantrofis itu hilang tak berbekas. Jika umat Muslim bisa meluangkan waktu berjamaah dan kaum kaya tak keberatan menyisihkan uangnya untuk berderma, maka di luar hari raya itu, sepatutnyan mereka juga bisa melakukan hal yang sama. Namun, boleh dikatakan setelah it…

Idul Adha dan Kemandirian Ekonomi

Selasa, 16 November 2010 │Koran TempoAhmad Sahidah PhD, PENELITI PASCADOKTORAL DI UNIVERSITAS SAINS MALAYSIASebagai ibadah, Idul Adha berkait erat dengan salat id dan penyembelihan hewan kurban. Menurut fiqh, ia merupakan puncak dari ibadah haji, yang juga dirayakan oleh umat Muslim seluruh dunia. Ritual penyembelihan kurban merupakan bagian khas yang selalu menarik perhatian. Sebelumnya, pasar sapi dan kambing dadakan bermunculan dan penyembelihan sesudah shalat juga telah mengundang banyak orang untuk datang. Sayangnya, untuk mencukupi kebutuhan daging, Indonesia harus mengimpor sapi dari luar negeri. Pada masa yang sama, kebijakan ini juga merugikan peternak lokal, karena harga jual sapi tak sepadan dengan biaya pakan dan tenaga.Jauh sebelumnya, Yusuf Kalla (Tempo, 30/06/08) menyesalkan bahwa Indonesia harus mengimpor sapi dari luar. Sepatutnya ini tidak perlu terjadi karena sebagai negara agraris, para petani mempunyai banyak kesempatan untuk sekaligus beternak. Oleh karena itu, p…

Buku Orang Ramai

Image
Setiap orang akan memilih bacaan yang sesuai dengan kehendak, kemampuan dan kecenderungan alam pikirannya. Jika kita menemukan buku ini diletakkan di rak sebuah toko yang mengisi ruang pasaraya, TESCO, perusahaan multinasional Yahudi Inggeris itu, maka kita bisa membayangkan apa yang diingikan orang ramai tentang kehidupan. Agama itu hal praktis. Sementara, hanya segelintir yang memikiran masalah keagamaan secara teoritis. Keduanya tak perlu bersitegang, namun pasar menghendaki mereka beradu hujah agar banyak barang jualan yang laku, seperti buku, koran dan CD.
Begitu banyak khalayak membaca doa dan kitab suci agar hidupnya tentram, sementara sedikit orang bergelut dengan teori untuk mencari jawaban mengapa mereka melakukan hal itu. Celakanya, tak jarang masyarakat luas dibuat bingung oleh wacana yang diurai oleh segelintir bahwa jalan mereka perlu disoal ulang. Meskipun khalayak itu tak bersuara, mereka mempunyai pengawal yang berteriak lantang bahwa pemikiran keagamaan itu tidak bo…

Merayakan Kurban 1431 H

Image
Kami bangun lebih awal untuk menyambut hari Idul Adha 1431 H. Ia adalah pengorbanan kecil, melawan kantuk dan mandi di pagi hari. Demikian pula, si kecil dibangunkan dengan membuat kebisingan, melakukan ini itu. Aha, akhirnya Nabiyya bangun. Ketika pagi masih muram, kami melaju ke depan masjid untuk menaiki bus. Tak perlu waktu lama, kami pun berangkat ke Jalan Burma. Di tengah jalan, Pak Nuhung, mahasiswa asal Makassar, memimpin bacaan takbir. Tiba-tiba getaran merambat ke seluruh tubuh.
Sesampai di sana, kantor konsulat masih lengang. Pak Chilman, konsul, menyambut warga dengan riang. Kami masih sempat mengambil gambar sebagai kenangan, sebelum beranjak ke tempat shalat Id akan digelar. Secara bergantian, mereka memimpin bacaan takbir, tahlil dan tahmid. Pada pukul 8.15, shalat Id dilakukan dengan diimami oleh Ustaz Yasir, mahasiswa asal Aceh. Lalu, khutbah tentang pengorbanan mengisi udara pagi yang terang. Setelah usai, para jamaah bersalaman dengan melingkar agar satu sama lain b…

Melepas Anak Panah

Image
Seperti orang tua yang lain, saya membiarkan si kecil untuk mencari dunianya. Gambar yang bertebaran di majalah mencuri perhatian, tak hanya sekali, berulang kali. Acapkali ia menekuri wajah orang-orang. Adakah dia sedang membandingkan watak orang tuanya dan liyan? Mungkin. Wajah tak pernah menipu kita, bukan? Oh ya, setiap kali saya berkata tegas, ia pun berucap ayah, ayah, seraya menuju pada gambar kami yang digantung di tembok, tak jauh dari meja membaca. Ya, gambar itu adalah pengalaman kami berdua menelusuri kebersamaan di Bukit Cameron, Pahang. Di situ, kami tampak sumringah. Mungkin, si kecil ingin menyampaikan kalimat, mbok ya santai, Dab!
Orang tua memang selalu direpotkan tingkah anaknya. Ketika kami merapikan kamar, dengan santai si kecil akan mengacak hingga suasana bilik itu seperti kapal pecah. Sepertinya ia meledek kami, bahwa rumah itu harus meriah, di mana pelbagai benda bertaburan. Malah, dengan tenang, tangan mungilnya menarik apa pun yang digeletakkan di meja. Apa p…
Image
Kadang hidup tak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Niat hati melaju ke kampus, saya tertahan karena langit ambrol. Di bulan November, hujan datang tanpa bisa diramalkan. Saya pun hanya mengail ingatan, apa yang pernah terjadi di sini? Lapangan sepak bola kampus menyeret saya pada pengalaman pertama kali menginjakkan kaki, merasakan keras konblok ketika berlari di pagi hari setelah Subuh, atau sore ketika matahari masih bertengger di atas bukit. Bahkan, saya pernah bermain bola, baik satu lapangan penuh atau hanya separuhnya dengan teman-teman. Di sini, saya pernah duduk di tribun seraya menonton pertandingan bola. Di lain waktu, saya juga bermain tenis di sebelah kiri lapangan. Setiap kali hujan, saya membayangkan lapangan itu basah dan rumput naik, berwarna hijau segar. Mata pun bugar. Adakah hujan itu ingin memberitahu saya bahwa saya telah lama tak singgah ke sini untuk melemaskan otot dan memeras keringat? Pengalaman yang juga tak dilupakan tentu pertandingan final Nike bawa…

Kami Peduli

Image
Hari Sabtu, para mahasiswa dan pekerja asal Indonesia di Pulau Pinang senantiasa duduk bersama, mendengar dan bertanya hal ihwal keagamaan di Masjid Kampus al-Khalid. Secara bergiliran, para ustaz tampil untuk berbagi dengan warga agar batin mereka tak meranggas. Selain mengasup pengetahuan, mereka pun menjalin silaturahim. Di sini, gagasan lain bermunculan, tak melulu tentang bagaimana merawat iman, tetapi juga lebih jauh menyuburkan amal kebajikan. Bahkan, sebagian lain memupuk literasi kesusastraan di sini.
Mengingat negeri dirundung bencana, para mahasiswa mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa, banjir dan letusan Merapi. Mungkin, sumbangan itu tak banyak, namun keprihatinan ini semoga berguna bagi mereka bahwa korban tak sendirian. Bahkan, di akhir acara pengajian, sang ustaz, Bapak Riswan, memimpin doa agar mereka tabah dan siap untuk terus berusaha keluar dari nestapa. Bagi kami di sana, jalan selamat, tema pengajian, adalah perwujudan dari doa-doa kami d…

Mencegah DPR ke Luar Negeri

Oleh Ahmad Sahidah

Suara Karya, Kamis, 4 Nopember 2010
Ketika banyak orang menyoal anggota legislatif yang bertandang ke Yunani, media massa Ibukota melaporkan bahwa DPR sendiri terbelah mengenai peri pentingnya mereka melawat ke negeri seberang untuk melakukan studi banding. Ironis, sebagai kaum terpelajar mereka masih harus bersekolah kembali untuk mengerti etika. Meskipun dengan alasan kesungguhan, logika tentang pengalaman, bukan hanya pengetahuan, ia tetap melawan akal sehat. Hakikatnya, mereka bisa dengan mudah membuka buku Mohammad Hatta, Alam Fikiran Yunani, yang ditulis oleh wakil presiden pertama RI. Meski orang nomor dua di awal kemerdekaan itu tidak pernah melawat ke negeri Dewa itu, namun dia memahami dengan baik filsafat negeri Zeus.
Dengan pemahaman yang utuh ini, Hatta hampir-hampir merupakan cermin yang sempurna dari kearifan yang ingin ditimbulkan dari kedalaman berpikir. Meskipun ia bisa meraup kekayaan dengan cara culas, namun lelaki asal Sumatera Barat ini memilih hi…

Yogya Menyangga Hubungan Serumpun

Image
Kedaulatan Rakyat, 05/11/2010 08:54:23

Pernyataan Dato’ Seri Ahmad Zahid Hamidi, Menteri Pertahanan Malaysia, bahwa negeri jiran itu akan membantu Indonesia tentu melegakan banyak pihak. Meskipun demikian, politikus berdarah Yogyakarta ini tetap menunggu lampu hijau dari Indonesia. Untuk kesekian kalinya, melalui bekas ketua Pemuda UMNO ini, negeri jiran mengulurkan bantuan pada korban bencana alam di sini. Sebenarnya, pemerintah Indonesia juga melakukan hal serupa, meskipun tak sebanyak Malaysia karena bencana di negeri ini tak kunjung henti dan terjadi di banyak negeri.

Tak hanya itu, mahasiswa kedokteran asal Malaysia yang belajar di Universitas Negeri Surakarta dan Universitas Gadjah Mada turut turun ke lapangan untuk menjadi sukarelawan (Utusan, 28/10/10). Berita seperti ini tentu menyerap ke dalam kesadaran warga di sana betapa mereka begitu baik dan rela membantu saudaranya. Tak ayal, kebaikan ini diungkit ketika segelintir demonstran yang membakar bendera Jalur Gemilang di depan…

Memahami Sesat

Image
Kami pergi untuk memahami fenomena ajaran sesat. Sebelumnya, saya ngobrol dengan kawan karib, Ismae Katih, peneliti, tentang sisi sosiologis dari kaum sesat. Ternyata, individu atau kelompok yang dianggap menyimpang itu sepatutnya tidak hanya dilihat dari sisi teologis, tetapi juga sisi lain yang menjelaskan mengapa mereka mengambil jalan yang berbeda. Adakah ini juga petanda bahwa pengawal agama gagal menyapa mereka? Jangan-jangan kita pun turut abai karena tak peduli.
Untuk menambah pengetahuan, kami pun pergi ke kantor agama propinsi, berjumpa salah seorang pegawainya untuk berbagi cerita. Di sana pun, kami mencoba mencari asal-muasal ajaran sesat, tetapi juga bertukar kabar tentang genealogi pemikiran keagamaan di Pulau Pinang dan sekitarnya. Mungkin, ini akan selalu terjadi, kita akan berbincang hal ihwal di luar kewajiban, mencari tahu tentang pertanyaan penelitian. Lalu, setelah informasi di tangan, kami pun pamit dan sempat berfoto di depan kantor. Malah, kami sempat membeli go…

Titik Temu antara Proyek dan Kelestarian

Image
Acara pengukuhan guru besar (profesor) di kampus kali ini menggema jauh. Spanduk telah dibentang jauh hari sebelumnya. 3 November 2010 adalah hari perayaan sebuah prestasi, sebagaimana ini telah dilakukan di Yunani. Dosen arsitektur, Omar Osman, membawa pidato itu dengan judul "Pengurusan Projek dan Kelestarian: Titik Pertemuan". Namun, acara tersebut tak melulu tentang kuliah umum yang dihadiri oleh banyak orang, tetapi juga melalui pameran apa yang telah dilakukan kampus untuk mendekatkan mahasiswa dengan lingkungan agar tak punah.
Ruang pameran di depan gedung pertemuan Dewan Budaya mempelihatkan papan yang berisi hal ihwal apa yang telah dilakukan mahasiswa dalam pelbagai kegiatan, kebudayaan, olahraga dan program penyelamatan alam. Malah, panitia penyelenggara sempat membawa alam buatan di mana air menyembur pelan di sebuah gentong hitam. Gemericik itu beradu dengan suara manusia. Di ujung, sekelompok orang menampilkan persembahan Silat Gayung yang diiringi bebunyian. …

Makan Sate

Image
Semalam saya menikmati kembali sate di warung pinggir jalan. Tetapi, saya datang dengan orang yang berbeda, tak lagi dengan kawan baik, Pak Isyam dan Mas Ayi (lihat gambar). Untuk kesekian kalinya, saya mengasup daging bakar dan sambal kacang. Meski bisa dihitung dengan jari, makan malam di sini memantik banyak ingatan. Sejauh mugkin saya mengajak pengunjung lain untuk berbincang ringan. Di sebelah meja, tampak dua orang sedang menunggu dan dengan senang hati memberikan kami 'ruang' untuk berkongsi.
Pemilik warung pulang kampung untuk menunaikan haji. Anaknya, Mas Ainurrahman, menggantikan bapaknya menjalankan perniagaan. Meski baru memulai, si anak sudah cepat belajar. Namun, ia pun kelabakan karena begitu banyak pelanggan yang menuntut pelayanan segera. Ada banyak yang tercecer, seperti ketimun dan bawang merah yang tak sempat dikupas. Kami pun memaklumi. Toh, sepuluh tusuk sate dan sambal kacang telah mengobati kangen pada aroma daging dibakar. Hanya beberapa kerat bawa…