Tuesday, September 23, 2014

Salik


Pejalan itu sama dengan filsuf, sendirian, untuk menemukan kebenaran. Kalau berkerumunan, siapa pun akan menjadi bagian dari gerombolan.

Ya, hidup ini adalah sebuah perjalanan. Mahasiswa yang sedang menekuri aspal itu sedang berusaha sedaya upaya untuk meraihnya, setelah melewati tanda-tanda yang berlatar kuning itu.

Hati-hati! Selain tanda menurun, ada tanda seru [!]. Jangan lupa, akhirnya penemu akan mengabarkan pada khalayak. Kalau hidup di menara, siapa pun akan menanggung kesunyian. 

Tuesday, September 09, 2014

Jalan Pintas

Kita acapkali menginjak kehidupan (misalnya, rumput) untuk meraih kehidupan yang lain, jalan pendek ke warung makan. Jalan pintas akan merusak jalan hidup kita.

Apa susahnya sedikit memutar, agar kaki ini tak malas dan larangan tidak menginjak rumput itu dipatuhi. Kalau hal sederhana kita tak tunduk, bagaimana hal besar kita bisa taati.

Maka hidup-hidupilah hidup! Tidak saja kita bisa menghargai kerja orang lain, tetapi juga menyelamatkan anggaran yang dikeluarkan untuk menghijaukan ruang. Masih ingat ketika taman di banyak kota diinjak-injak massa politik dan hiburan? Betapa naif! Mereka membela nilai, tetapi menerabas aturan. Mereka berhibur, tetapi merusak pemandangan kota. Dengan mengelak dari jalan pintas, sejatinya kita telah pantas menjadi manusia yang terbatas. 

Friday, September 05, 2014

TKI dan Kemandirian

Pulang di luar waktu arus utama, seperti mudik sebelum Lebaran, adalah pilihan. Memang, kepulangan ini tak seseronok di hari-hari menjelang Idul Fitri. Ketika banyak kaki perantau beranjak ke kampung halaman, kami memilih berada di negeri jiran.

Namun, makna mudik di mana-mana sama: membuhul ikatan dengan keluarga asal. Ceritanya sama saja. Setiap orang akan mengungkapkan kerinduan dan mencoba mengais memori masa kecil yang tergerus oleh kemajuan pembangunan kampung halaman. Tanda-tanda berupa bangunan, jalan, sawah dan sungai telah banyak berubah.

Lalu, apa yang menjadi salah satu pengalaman mengetuk pikiran? Seperangkat mainan memasak. Puteri saya selalu menagih mainan ini sejak di Sumenep. Meskipun di sana, ia telah mendapatkannya, namun Neneknya membelikannya di pasar Sleman. Saya menyangka buatan Cina, seperti biasa. Namun, cooking set, kata yang sering keluar dari bibir si sulung, dibuat di Indonesia (Made in Indonesia). Mudik kali ini berarti karena kita bisa membuat barang sendiri. Kalau peluang pekerjaan di tanah air tersedia, buruh migran akan berkurang. Bukan begitu?