Sunday, December 30, 2012

Sekilas Langkawi


Mengapa saya memulai tulisan perjalanan ini dengan kisah hari terakhir, bukan gambar feri Bahagia 99 yang mengangkut kami pertama kali menuju Langkawi? Suka-suka. Lihat, betapa bersih tempat ini meskipun ribuan orang dari seluruh penjuru dunia menyemuti di akhir tahun? Jokowi, Gubernur DKI,  harus pergi ke sini untuk belajar mengelola sampah. Semoga!

Tentu, pengalaman yang menyeronokkan adalah pertemuan anak kecil kami, Nabbiyya, dengan temannya di kawasan Cable Car, yang berasal dari Genovia. Alamak! Adakah ini negeri dongeng? Ya, seorang anak perempuan seusia Nabbiyya berasal dari negeri 'Princess' itu. Meskipun kami tak sempat menikmati Kereta Kabel itu, namun saya melihat bahwa betapa kuasa manusia untuk menjadikan bukit itu menjadi tempat yang menarik ribuan orang begitu menyerlah. Bayangkan! begitu banyak orang dari penjuru dunia mendatangi tempat ini hanya ingin menikmati sensasi berada di ketinggian dengan kereta kabel.

Menariknya, di lokasi yang sama, saya melihat rumah makan Arab 'Laila' begitu banyak dikunjungi oleh para pelancong Eropa. Lagu-lagu padang pasir mengoyak bukit. Saya hanya menikmati lagu-lagu ini dan tidak makanannya karena harganya mahal. Anehnya, saya memilih Chicken Cop dan segelas es teh jeruk untuk makan siang di sebelah warung tersebut. Sepertinya, dunia ini tumpang-tindih tak karuan. Masihkan kita berbicara identitas yang kaku di sini? 

Friday, December 28, 2012

Wednesday, December 26, 2012

Hanya Sepinggan


Sebanyak berapapun uang di kantong, kita hanya mengasup sepiring nasi, sedikit lauk dan dua potong buah. Lalu, mengapa kita bertungkus-lumus bekerja menumpuk kekayaan? Karena asupan batin itu tak terbatas. Benarkah demikian? Lalu, apakah sejatinya batin itu? Bahagia itu bukan mempunyai banyak harta tetapi kemampuan menahan laju hasrat. Sepertinya, unsur terakhir ini akan senantiasa membayangi langkah kita. Kalau dibiarkan bermaharalela, kita bisa disandera dan bahkan dipenjara hingga tak terkira.

Setelah makan, kita hanya perlu berhenti  sejenak untuk merenung dengan bermenung atau mencatat dengan pena. Dialog dengan diri-sendiri mengantar kita pada ruang perseteruan raga dan jiwa. Memenangkan jiwa tidak berarti menghukum raga. Semoga.

Saturday, December 22, 2012

Menikmati Hidup Melalui Tanda


Kalau kita bisa memahami tanda-tanda ini dengan baik, kita akan bisa menikmati hidup dengan apik. Tanda larangan merokok bukan sekadar kita tidak merokok di tempat ini, kita juga tidak merokok di muka bumi. Demikian pula, tanda laki/perempuan itu menunjukkan kita harus pintar-pintar memilih tandas (toilet), kalau salah, kita bisa digebuk oleh orang ramai. Penaik (eskalalator) itu membantu kita menginjak jenjang selanjutnya, agar kita tidak selalu berada di lantai pertama. Masihkan kita abai pada tanda? Tentu tanda paling penting adalah Exit, tempat kita keluar dari bangunan. Bayangkan kita berada dalam satu ruang dan tidak tahu jalan keluar! Pengap. Gundah. Putus asa. Mari mencari jalan keluar, bukan mengutuki keadaan. 

Wednesday, December 19, 2012

Sunday, December 16, 2012

Perka(h)winan Cikgu Nabbiyya


Anak saya, Nabbiyya, malu bergambar dengan Miss Linda sehingga hanya Ibunya yang tampak dalam gambar di atas. Ya, kami memanggilnya Miss, bukan Cik. Ia pun mengucapkan thank you for your coming atas kedatangan kami. Maklum Miss Linda adalah pemilik sekolah Vital Years tempat anak kami belajar bahasa Inggeris. Ibu Nabbiyya sempat berfoto bersama untuk mengabadikan ingatan. Meskipun gambar tak terang, tetapi kami membawa cerita dengan riang.

Bunda Nabbiyya mencoba menghadirkan diri secara utuh dengan bergambar di poster sebagai tanda kehadiran. Poster ini dipancang di depan penaik (eskalator) menuju gedung perkahwinan. Masihkah Anda kontroversi foto pra-pernikahan? Kita tak perlu menambah beban pada mereka yang bahagia. Kita harus melihat banyak sisi dari hidup, agar tidak terperangkap pada sisi hitam-putih dari fiqh.

Poster ini tidak hanya berfungsi sebagai tanda petunjuk arah, tetapi juga menunjukkan pada kita bahwa orang tua dan anak-anaknya memilih cara berpakaian dan berpenampilan. Ini pun kita tak perlu risau. Semoga kedua pengantin malam ini mendapatkan berkah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Doa kami ini untuk mereka dan seluruh manusia. Amin.
 Saya pun mengekalkan majlis perka(h)winan dengan gambar yang berlatar mahligai pengantin untuk beristirahat. Nabbiyya menemani, meskipun ia sering berlarian ke sana kemari. Namanya juga anak kecil. Ia tidak bisa duduk diam dan manis di kursi. Tak hanya itu, ia merengek meminta sekotak permin yang dijadikan kenangan oleh keluarga pengantin bagi para tetamu. Bayangkan kalau saya yang melakukannya. Terima kasih Cikgu!

Friday, December 07, 2012

Sisi Lain Perka(h)winan


Ketika memenuhi undangan kawan kampus, saya tentu membayangkan mahligai tempat sepasang pengantin sebagai penanda acara hajatan. Seperti di kampung saya, sebelum acara persadingan bermula, ada pelbagai kegiatan, misalnya tahlilah, diba' dan barzanji. Kumpulan Marhabanan yang berasal dari Bukit Payung membawakan persembahan dengan baik. Setelah usai, tuan rumah berdiri di depan rumah untuk menerima para tamu. Tak lama meletakkan badan di kursi, baru kami sadar bahwa musik yang mengalun itu adalah lagu qasidah lama Nasida Ria, Bismillah. Aha, ini adalah lagu kesenangan Ibu.

Sebelum memasuki tenda perhelatan, Nabbiyya dan ibunya mengabadikan peristiwa ini dengan bergambar di depan poster Selamat Datang. Di pertigaan jalan masuk, gambar serupa juga dipajang sehingga memudahkan tamu untuk menuju tempat undangan. Sebenarnya dalam kartu undangan, peta telah menyediakan informasi yang cukup, namun gambar ini telah menolong kita untuk tidak menghabiskan waktu untuk meraba-raba lokasi.

Makanan berlimpah. Musik pun tumpah ruah. Namun yang menarik, beberapa anak kecil membantu mencuci piring. Betapa kompak kampung ini! Di Jawa, kami mengenal istilah rewang untuk menggambarkan kebersamaan warga kampung dalam membantu tetangga yang sedang menggelar gawe (Orang Madura menyebutnya gebei). Semoga mereka bisa mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.

Monday, December 03, 2012

Nasib Surau Kita

Di sela-sela acara bengkel (workshop) di Panorama Jember, saya keluar sejenak dari hiruk-pikuk akademik dengan menyusuri jalan, mencari surau untuk merasakan kehidupan masyarakat sekitar. Jika di ruang pertemuan kami berbicara ide penglibatan komuniti (community engagement) sebagai bagian dari tugas akademisi, saya melihat kehadiran kita di surau adalah bagian dari wujud gagasan itu.

Di tempah ibadah kecil ini, saya melihat empat orang jamaah yang sudah beranjak sepuh. Tak ada anak muda yang turut berjamaah di surau al-Majid ini. Padahal letak musholla ini berada di perempatan. Di manakah kaum muda itu di kala senja? Berbeda dengan Masjid Jami' Jember yang dipenuhi oleh begitu banyak orang pada Jum'atan sehari sebelumnya. Fungsi masjid dan surau masih tidak berubah, yaitu sebagai tempat beribadah dan nyaris tidak menyentuh kegiatan-kegiatan sosial dan kultural. Mengapa tempat ini harus alah (alergi) dari aktivitas keduniawian?

Boleh jadi, hal ihwal duniawi yang dilarang dibicarakan telah menyebabkan orang ramai enggan membincangkan isu-isu masyarakat. Padahal shalat berjamaah itu adalah perjumpaan orang-orang yang perlu dilihat sebagai arena pertukaran gagasan. Sementara sembahyang tahajud di tengah malam adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Kita seharusnya bisa membedakan keduanya agar pahala sebanyak 27 derajat dari berjamaah tidak hanya sekadar angka-angka, tetapi juga pesan moral bahwa di sini kita harus merumuskan agenda umat, pengentasan kemiskinan, pengarusutamaan gaya hidup sehat, dan penyertaan pendidikan dari semua kalangan masyarakat.