Wednesday, February 27, 2008

Pemilu "Dagelan" Negara Tetangga


Sumber Opini Kompas
Selasa, 26 Februari 2008 02:08 WIB
AHMAD SAHIDAH

Beberapa koran nasional di Indonesia (14/2/2008) memberitakan pembubaran parlemen Malaysia, sekaligus tanda pemilihan umum ke-12 segera digelar.

Isu ini telah lama merebak. Di sana banyak orang meramalkan, baik dalam obrolan santai maupun media alternatif, pemilu akan dipercepat sebagai strategi mencegah kembalinya Anwar Ibrahim ke panggung politik.

Seperti telah bisa ditebak, alasan itu tidak muncul dalam berita utama surat kabar Malaysia, seperti Utusan, Berita Harian, News Strait Times, dan The Star. Abdullah Badawi tidak menyebutkan faktor Anwar, seraya mengatakan, sah-sah saja pemilu dipercepat. Bahkan, yang diangkat ke permukaan adalah pertanyaan wartawan tentang kesukaan perdana menteri ke-5 ini terhadap angka 13 dalam membuat keputusan penting.

Ada dua persoalan dalam pernyataan Abdullah Badawi. Pertama, penentuan pelaksanaan pemilu harus mengikuti persetujuan Raja Agung. Kedua, terkait aturan konstitusi tentang penyelenggaraan pemilu. Bagaimanapun, persetujuan dari istana adalah bersifat simbolik dan telah dikritik karena hanya menambah beban anggaran negara. Yang kedua, seperti sebelumnya, kali ini pelaksanaan pemilu tidak mengikuti aturan konstitusi karena dilaksanakan sebelum 60 hari setelah pembubaran parlemen.

Peta politik

Banyak intelektual, misalnya Chandra Muzaffar (1987) dan Quek Kim (2006), mengakui kepiawaian politik Anwar. Harus diakui, ketua penasihat Partai Keadilan Rakyat (PKR) ini telah mengharu biru politik sejak aktif dalam gerakan mahasiswa. Pengalaman inilah yang membuatnya diperhitungkan dan keterampilannya sebagai orator yang mampu menyedot massa dalam kontestasi perebutan suara.

Namun, jika karena faktor Anwar pemerintah tidak percaya diri untuk menunggu 15 bulan lagi menyelenggarakan pesta demokrasi, keputusan ini patut disayangkan. Mengingat pada tahun 2004 partai koalisi pemerintah berhasil memenangi dua pertiga wakilnya dan merupakan prestasi terbaik sepanjang pemilu Malaysia.

Belum lagi, kegiatan ekonomi yang berjalan stabil meski dibarengi kenaikan berbagai kebutuhan sehari-hari, dan kebijakan pemberdayaan pertanian yang populis, telah menambah kepercayaan masyarakat luas. Pendek kata, dukungan politik rakyat terhadap pemerintah amat kuat.
Mesin politik lain yang tidak kalah ampuh adalah media. Hampir seluruh kekuatan media massa yang mempunyai akses luas ada dalam genggaman pihak berkuasa. Alat ini berhasil mencitrakan kesuksesan pemerintah dalam menunaikan amanat rakyat. Setiap saat kita diperlihatkan peresmian proyek dan pembangunan terkait hajat hidup orang banyak. Sementara berita tentang oposisi dan pihak kritis ditampilkan sebagai kelompok yang mengganggu ketertiban dan menghambat roda ekonomi baik secara naratif maupun visual.

Padahal, dua syarat demokrasi terkait akses media adalah hak para penggiat politik untuk berkompetisi secara sehat merebut dukungan suara dan tersedianya sumber informasi. Namun, karena hampir semua media utama dikuasai pemerintah atau pemilik modal yang dekat dengan kekuasaan, tiap hari khalayak hanya dicekoki berita dari satu pihak.

Demokrasi dan otoritarianisme

Sejatinya penyelenggaraan pemilu sebagai salah satu pilar negara demokrasi tidak sepenuhnya bisa dijadikan ukuran karena pada saat yang sama, ia berkaitan dengan pemberian peluang yang sama kepada kontestan untuk bertanding.

Sejauh pengamatan saya, pilar ini telah diruntuhkan oleh pemerintah. Lebih-lebih tindakan keras yang akan dilakukan terhadap mahasiswa yang terlibat di dalamnya, seperti ancaman pemecatan yang akan dikenakan kepada aktivis yang terlibat deklarasi Partai Mahasiswa Negara (PMN), menambah buram potret demokrasi.

Mengacu kepada Francis Loh Kok Wah (2002: 4) dalam Democracy in Malaysia: Discorse and Practice bahwa demokrasi yang dipraktikkan di negeri jiran tak lebih dari demokrasi prosedural. Maka, banyak sarjana politik menyebutnya quasi-demokrasi (Zakaria, 1988), semi-demokrasi (Case, 1993) dan demokrasi yang dimodifikasi (Crouch, 1993).

Selain itu, untuk mengekalkan dominasi, pemerintah mempertahankan banyak undang-undang yang membatasi kebebasan sipil. Adalah tak berlebihan jika JV Jesudason (1996) menyebut Malaysia sebagai negara eklektik, yang menggabungkan demokrasi formal dan tindakan koersif.

Ahmad Sahidah Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Sunday, February 24, 2008

Merayakan Perbedaan di Panggung

Semalam, saya menikmati persembahan kebudayaan di Dewan Tunku Syed Putera, yang digelar oleh AISEC (untuk keterangan lebih jauh tentang organisasi ini baca http://aisec.org). Sambil menunggu cemas, saya ingin juga menikmati kembali tarian Saman, tetapi sayang ia tidak dipanggungkan. Malah, acara semalam lebih banyak didominasi oleh kebudayaan Cina dan Jepang. Hanya satu penampilan Melayu, Zikir Barat. Apa yang dapat saya petik dari pagelaran itu adalah harmoni dalam keragaman.

24 Seasonal Drum asal Cina yang ditampilkan sebagai pembukaan adalah instrumentalia yang melibatkan banyak orang. Kekompakan mereka menabuh beduk patut diacungi jempol. Sang pemimpin berdiri di tengah barisan depan menuntun para pemain lainnya untuk memukul kulit dengan irama dari rendah hingga tinggi, seakan-akan mereka sedang mendaki ke puncak. Saya pun hanyut terbuai oleh bebunyian ritmik. Mata ini pun juga terbetot oleh kelincahan mereka silih berganti bertukar beduk dan atraksi gerakan tubuh turut menambah elok pemandangan. Uniknya, pemainnya juga ada yang mengenakan jilbab dan ini tak menghalangi mereka untuk tampil energik. Saya merasa digedor-gedor ketika mereka memukul keras sehingga atap gedung seperti bergetar. Adakah tembok itu juga merasakan hal yang sama dengan saya?

Selanjutnya, Song of Ocean adalah tarian yang menggambarkan riak yang tenang menghanyutkan dan ombak ganas yang menggulung. Tubuh lentur penari seakan-akan mengusung peristiwa laut ke atas panggung. Sebuah pertunjukan yang sempurna dalam menyimbolkan peristiwa alam. Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkannya, karena simbol mempunyai kekuatan sendiri. Mereka seperti menyihir saya untuk tak berkedip.

Saya pun pulang dengan hati riang karena memeroleh hiburan yang menyegarkan. Tidak itu saja, ia makin menebalkan keyakinan saya bahwa perbedaan itu tak perlu ditabukan, malah sebaliknya, dirayakan. Di sini, kita akan mereguk keindahan tak terpermanai. Perbedaan tak perlu ditekuk hanya karena kita merasa apa yang menjadi milik kita telah cukup. Menengok milik orang lain justeru akan mengkayakan pengalaman raga dan batin kita dalam menjalani hidup. Tuhan itu tidak hanya ada dalam teks tertulis, tetapi juga di seluruh pelosok ufuk dan diri manusia. Masihkan kita memaksakan bahwa pemahaman kita akan sesuatu sebagai satu-satunya 'kebenaran' dan menampik kebenaran yang lain? Duh, jika begini keadaannya, ini adalah pertanda bahwa kita telah memenjarakan hidup yang fana ini ke dalam kepicikan.

Ahmad Sahidah
Penikmat Seni Panggung

Nota tambahan: ketika saya menggerakkan jemari di atas komputer, instrumentalia Kitaro dengan setia menemani. Jika Agreement menyentak, Caravansari mengoyak.

Wednesday, February 20, 2008

Kawan Melayu Saya

Pertama kali menempati kamar asrama Restu Universiti Sains Malaysia, saya berbagi kamar dengan anak Melayu, namanya Yazid. Dia berasal dari Johor dan mengambil program master bidang kedokteran. Penelitiannya berkaitan dengan penyakit kanker payudara. Anehnya, meskipun seringkali berkutat dengan masalah kesehatan, kawan baik ini menghisap asap rokok putih, bukan kretek.

Terus terang, di antara kami berdua tidak menemui hambatan berarti di dalam berkomunikasi. Ternyata, pernyataan bahwa kita 'serumpun' bukan merupakan kata-kata kosong. Pandangan dunia yang sama membuat kami tidak menemukan halangan dalam menjalani keseharian. Demikian tetangga kamar saya, Pak Rahman, yang mengambil program doktor bidang ilmu manajemen, acapkali bercengkerama dan keluar mencari asupan. Ini jelas-jelas bentuk nyata bahwa kami banyak menyimpan warisan sejarah yang sama, sehingga tak perlu lama untuk saling berbagi.

Dari Pak Rahman, saya memasuki dunia Melayu. Kami berdua sering bemain sepak bola di lapangan Minden dengan anak-anak kampung dari segala tingkatan pendidikan. Memang, tampak aneh jika kami berdua mengocek bola dengan anak SD, tetapi karena kami hanya ingin merenggangkan otot dan mencari kesenangan, perbedaan itu tidak menjadi penghalang.

Meskipun demikian, saya kerap berbeda pandangan dengan Pak Rahman mengenai hubungan dua negara, tetapi kedewasaan ini tidak menjadikannya persoalan besar. Bagaimanapun, kedua bangsa ini tidak akan pernah bisa dipisahkan karena sejarah masa lalu mempertautkan hubungan yang erat antara warganya dan bahkan hingga kini.

Hari-hari terakhir ini pun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kawan karib Melayu, En Fauzi Hussin dan En Zailani Yusoff. Bagi saya, kedua-duanya adalah teman terbaik. Tak jarang, kami saling mengolok-ngolok negara masing-masing, selain juga saling memuji. Tak ada beban untuk saling menjatuhkan, malah saling membangun. Ini bukan basa-basi.

Dalam sebuah kesempatan, ketika ditanya bagaimana kesan saya selama belajar di negri jiran, dengan lugas di sini saya merasa nyaman. Malaysia telah memberikan banyak kebaikan dan saya belum membalas setimpal. Namun terkadang saya melakukan kritik, meskipun itu bukan hal baru, sebab sebenarnya gagasan itu telah diungkapkan oleh para intelektualnya. Mungkin, bagi orang Indonesia di tanah air, informasi itu tak sempat didengarnya.

Selama tiga tahun di sini, sebenarnya saya seharusnya berusaha untuk mencoba menorehkan pengalaman manis itu ke dalam cerita yang lebih panjang, agar kesan selama berada di Malaysia terlihat utuh. Mungkin, ini akan menjadi 'satu ingatan' yang akan terus terpatri di hati, sehingga saya tidak mudah goyang ketika berita yang dimuat di surat kabar Indonesia lebih menyukai sensasi dan emosi sesaat dalam memotret sebuah bangsa yang mempunyai akar yang sama.


Thursday, February 07, 2008

Majalah Baru Islam Populer


Saya mengenal majalah baru Madina yang diterbitkan oleh Paramadina dari tulisan Hamid Basyaib di situs Islam Liberal. Lalu saya mencoba mendapatkan informasi dari mesin pencari google. Syukur, majalah ini telah memuat sebagian isinya dalam situs www.madinamagazine.com, dengan gambar sampul pemain film keagamaan Zazkia Mecca. Saya juga mengamini kalau sampulnya bagus.

Di rubrik wawancara, Hanung Bramantyo menceritakan proses kreatif dalam membuat film Ayat-Ayat Cinta. Setidak-tidaknya, saya makin banyak mendengar latar film ini, karena sampai hari ini saya begitu menikmati salah satu lagu latar, Jalan Cintanya Sherina. Seperti dituturkan pria kelahiran Jogja, dia mendapatkan dana 7 milyar dari Pemilik MD Entertainment untuk memfilmkan novel karya Kang Abik. Kepercayaan ini mendorong dia untuk menghasilkan karya terbaik, meskipun dia harus mempertimbangkan banyak kepentingan antara tugasnya sebagai sutradara yang peduli untuk menyelipkan pesan, sekaligus memperhitungkan sisi komersial film ini.

Dengan ragam tema populer seperti film, musik dan sains, diharapkan majalah ini mengisi kekosongan media yang alpa terhadap isu-isu terkini, tanpa harus kehilangan identitas religiusitasnya. Bagaimanapun, saya masih mempercayai bahwa agama itu tetap memerlukan bentuk, tidak hanya isi. Ia memerlukan bungkus yang menjadi penguat dari isi, agar tidak berlerai berantakan diterpa ketidakpastian. Sebab, penganutnya secara umum adalah orang awam.