Posts

Showing posts from June, 2009

Menikmati Milik Sendiri

Image
Kalau saya hanya menunjukkan gambar di atas begitu saja, pasti Anda tak bisa menggambarkan seutuhnya peristiwa yang ada di balik sepotong jepretan kamera di atas. Demikian pula, sekuat apa pun saya menerakan latar dari gambar ini, ada kehilangan momen, karena saya menulisnya satu hari setelah peristiwa tersebut. Pasti ada banyak 'tafsir' yang telah bercampur aduk dengan suasana hati ketika goresan ini diterakan.

Belum lagi, ada banyak benda yang ada di selembar kertas itu yang tak sempat ditangkap kamera secara utuh, seperti buku yang ada di meja. Sebagai makluman, buku itu adalah karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: Bentang, 2008). Demikian pula, dua minuman yang tergelak di atas meja yang mungkin susah untuk disebut jenisnya karena warna yang tak begitu jelas. Sekali lagi saya katakan bahwa dua minuman itu adalah kopi yang dicampur hazelnut, yang satu kopi putih dan satunya lagi dicampur coklat.

Lalu, botol kosong itu adalah tempat susu kaleng yang telah habis dite…

Manohara, Perspektif Malaysia

Image

Buah Tangan dari Teman Karib

Image
Saya menyukai kudapan ini. Oleh-oleh yang dibawakan teman dari Bandung sempat juga didinginkan dan ternyata enaknya bertambah-tambah. Untuk memperlama kenikmatan, saya mengasupnya satu biji setiap hari. Kata sang filsuf yang sempat mampir di benak, kenikmatan itu adalah kemampuan menahan diri. Ya, saya belajar untuk tak mengumbar mengasup makanan sekali asup. Ada semacam upacara yang perlu mendahului, pagi-pagi sekali saya telah menyangga perut ini dengan kudapan ini, lalu minum kopi panas.

Saya membiasakan mengisi perut dengan makanan sebelum kopi menghajar lambung. Jika tidak, lambung merasa perih. Hebatnya lagi, pencernaan lancar dengan minuman yang terakhir ini. Meski, kadang tebersit, bahwa saya tak perlu meminumnya tiap hari karena tak baik bagi kesehatan jantung. Kadang, pagi hari, saya hanya minum teh-jahe untuk menghangatkan badan.

Oh ya, kawan baik itu tak hanya memberi kami Legieta di atas, tetapi juga memberikan bumbu pecel, yang terdiri dari bahan utama kacang yang ditelah …

Mewujudkan Ide Itu Mendebarkan

Image
Gambar ini diambil dinihari di sela-sela menemani celotehan si kecil. Meski sederhana, ia menyimpan banyak cerita panjang. Sebuah ikhtiar untuk memakmurkan surau tempat saya tinggal berjalan sesuai rencana, yaitu pertemuan kedua akan diadakan pada hari Jumat, 26 Juni 2009. Salah satu agendanya adalah mewujudkan pengajaran al-Qur'an untuk anak-anak flat. Sebelumnya, kami telah berbincang dan mencoba mencari cara agar program ini berhasil.

Terlintas di benak, pada sore hari, pengeras suara memperdengarkan lagu-lagu rohani untuk anak-anak, seperti di kampung dulu. Belum lagi, riuh-rendah dan tingkah laku mereka yang membuat senang siapa pun yang melihatnya akan menambah keceriaan menjelang senja. Ya, mereka harus mempunyai tempat untuk belajar dengan riang dan surau adalah ruang mereka mewujudkan tempat 'bermain' sambil belajar, atau sebaliknya. Pembelajaran ini diarahkan pada pengembangan kognitif dan psikomotorik mereka, sehingga proses belajar tak membosankan. Kira-kira beg…

Menemukan Semangat pada Pahlawan

Image
Meski gambar tak begitu terang, ia sangat berharga. Kehadiran saya pada hari Kebangkitan bersama warga Indonesia di negeri jiran memantik kenangan. Merayakan hari besar yang dulu disambut dengan riang di kampung, kini hadir kembali. Pada masa itu, kami bisa menonton banyak hiburan dan memanjakan diri dengan merasakan aneka kudapan. Sekali waktu, ada film gratis yang ditonton beramai-ramai di tengah tanah lapang.

Sekarang, hiburan itu adalah melihat tingkah polah pekerja menyambut penyanyi melantunkan lagu. Mereka menemukan oase setelah lelah dibekap rutinitas. Sayangnya, lomba karaoke terbatas pada lagu pop. Mereka tampak kurang antusias. Dangdut tetap pilihan utama. Meskipun demikian, acara berlangsung meriah. Semua larut dalam lagu. Gundah sirna seketika, terpancar dari raut wajah mereka.

Di selang-seling ada petuah dan ceramah. Saya mengisi sebagian mengajak mereka untuk menyelami semangat kebangkitan 100 tahun yang lalu. Bukan dengan berteriak merdeka, tapi dengan tindakan nyata, me…

Mengejar 'Laskar Pelangi'

Image
Setelah rapat panitia "Laskar Pelangi", kami bertiga langsung bekerja, meski senja telah turun. Persiapan yang sedang dibuat adalah pembuatan desain spanduk oleh Mas Hilal, dan surat permohonan pembicara lokal oleh Pak Ardi. Sedang saya mengirim email ke bagian pemasaran Celcom untuk turut mendukung program Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia menghadirkan Andrea Hirata. Sang penulis Edensor ini diminta untuk mengupas proses kreatifnya melahirkan tetralogi Laskar Pelangi.

Kebersamaan mengerjakan kegiatan ini mendatangkan kedekatan lain, yang sebelumnya pertemanan ini tidak disatukan dalam sebuah kerja kelompok. Mereka berdua mengajarkan saya bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, tanpa kening berkerut. Keduanya tenang, mengalir dan menentramkan siapa pun yang berada di dekatnya. Sekali-kali, dalam keheningan, celetukan masing-masing memusnahkan kejenuhan.

Perjalanan masih panjang untuk sampai ke hari pelaksanaan, namun mengingat pekerjaan yang bejib…

Menengok Kampus Favorit

Image
Inilah pintu depan fakultas seni yang menjadi tempat favorit saya melepas lelah. Tak hanya lelah fisik, tetapi juga 'jiwa'. Di dalamnya, saya meraup pelbagai pameran karya seni, dari lukis, tulis dan rupa. Ketika karya Ian Buchanan bertajuk Fatimah Orang Kampung digelar, saya hadir menikmati ulasan beliau dalam menghadirkan sejarah orang kampung dalam bentuk penceritaan yang diselingi banyak gambar. Keterlibatan S.M. Idris, direktur Consumer Associaton of Penang, dalam acara ini menambah greget karena beliau adalah pegiat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Tak hanya itu, di meja tempat kami duduk melingkar tersedia jenis makanan kampung dan sebungkus nasi lemak yang dibungkus daun. Pada masa yang sama, gambar-gambar lukisan Ian juga dipamerkan di tembok ruang diskusi sehingga suasana mencerminkan keadaan kampung, rumah sederhana, hutan belukar, binatang berkeliaran dan keakraban anggota masyarakat. Karya ini seakan-akan mengolok-olok 'kekotaan' yang ternyata m…

Menikmati Pagi

Image
Kemarin saya duduk di kursi terbuat dari besi yang terletak di pinggir jalan sepanjang halaman Fakultas Seni. Inilah salah satu tempat saya mengambil napas segar karena pepohonan memagari dengan teduh kawasan ini. Dengan teh Pokka dingin, saya mencoba mengasup sarapan udara pagi. Tak hanya itu, saya bisa naik tangga menengok pameran karya seni yang digelar oleh fakultas paling ramai dengan aktivitas kesenian di kampus ini. Pada waktu itu, saya menikmati karya lukisan vedic yang menghadirkan ragam simbol.

Di depan tempat saya duduk, Gedung Dewan Budaya berdiri megah dan di depannya ditumbuhi pohon besar sehingga hampir menimpati atap depan pintu masuk. Melihat pohon yang begitu besar, saya menemukan rasa tentram. Memang, kehadirannya mengganggu lanskap dan membuat halamannya selalu rimbun dengan dedaunan, tetapi ini resiko jika bangunan itu tidak tampak gersang dan penghuninya selalu merasa kepanasan jika melalui jalan di depannya. Di gedung ini juga, saya meraup banyak pengetahuan dan…

Kebersihan itu Sebagian Iman

Image
Judul di atas sangat kuat tertanam di benak karena telah diasup sejak kecil. Tak hanya itu, pada waktu itu, saya sering bersirobok dengan kata ini karena sering ditempel di tembok sekolah, tepat di sebelah jadual piket kebersihan kelas. Hal yang sama juga sering ditemukan di kamar mandi masjid atau surau. Nada yang sama juga sering dijumpai di ruang publik, seperti terminal, pasar dan perkantoran, Jagalah Kebersihan! Malah, kata yang terakhir sering diterakan juga di bungkus makanan dalam bentuk ikon, gambar orang yang sedang membuang sampah ke keranjang.

Jika dulu, sampah dibersihkan dengan sapu, sekarang banyak alat yang membantu meringankan manusia untuk menghilangkan kotoran. Gambar di atas menunjukkan dua alat itu tampak akrab. Sapu lidi tetap diperlukan karena alat sapu 'mesin' tak mungkin menyelusup di antara akar belukar pohon yang besar. Ia hanya bisa bertingkah di tanah yang datar. Saya sering menyaksikan kedua alat ini bekerjasama mengenyahkan dedaunan yang rontok ka…

Di sini, Saya Mereguk Udara

Image
Gambar lapangan bola di atas diambil setelah saya mewawancarai kepala unit olahraga kampus. Sudah beberapa bulan, saya tak berlari menyusuri track berwarna merah terbuat dari karet lembut ini. Lebih lama lagi, saya tak mengocek bola bersama teman-teman dari Thailand. Biasanya saya memilih waktu pagi, setelah Subuh agar bisa mendengar kokok ayam dari perumahan sebelah stadion. Lamat-lamat suara binatang berkaki dua hilang dan matahari menyembul di kaki langit, saya pun mengakhiri jogging. Selalu begitu.

Pada hari minggu, saya kadang bersama keluarga berjalan mengelilingi lapangan dan kemudian ke warung terdekat menyeruput minuman panas dan membaca koran, Utusan. Ruangan sastera selala memantik saya untuk mengenal lebih dekat dunia kata. Tentu informasi kesehatan yang menjadi rubrik khusus hari Minggu tak luput dari perhatian. Sekarang, kebiasaan ini tak lagi dilakukan karena si kecil belum bisa diajak serta. Tentu, setelah agak besar, kami akan membawanya mengelilingi track agar ia tak …

Menikmati Gambar di Ketinggian

Image
Saya tidak melewatkan pameran lukisan yang digelar di Suria KLCC, Kuala Lumpur. Suatu kebetulan, sesungguhnya. Ketika berjalan menuju toko buku terbesar di ibu kota Malaysia, Konikuniya, saya melewati Galeri Petronas. Sebagaimana diterakan dalam brosur pameran yang dipersembahkan seniman Malaysia, Eng Tay, yang kini menetap di New York akan membawa pengunjung mengembara ke dalam ruang hati nurani manusia, menyentuh bibit-bibit manis cinta, semangat silaturahmi dan keakraban. Sayang, pengunjung dilarang mengambil 'lukisan' yang menjelaskan tema-teman ini. Namun, membayangkan bunyinya kita tentu sudah merasa tentram.

Tak hanya lukisan, ada goresan kata yang ditempelkan di samping gambar, seperti tentang waktu: Time, to some, may be a scenes of events strung up as if a clothesline, stretching back through history. Lebih jauh, dia berujar: I perceive time as a continuum, movements anwound from a spool memory into new sensations. I strive to create images that are the shape of idea…

Pasaraya atawa Pasar Malam

Image
Sebelumnya kami sering mengunjungi pasar malam untuk membeli kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, ikan, tepung, minyak goreng, bawang, tempe, ayam, dan makanan ringan, seperti jagung rebus. Biasanya kami berangkat sore agar bisa lebih awal mendapatkan barang-barang yang segar. Kebanyakan pedagang adalah orang lokal dan tentu dengan omzet yang tak cukup besar. Kadang, kami berangkat sesudah maghrib untuk menemukan suasana yang berbeda. Ya, malam dengan pendaran lampu neon di keramaian mendatangkan sensasi tersendiri. Tiba-tiba ingatan melenting ke masa kecil ketika mengunjungi pasar malam di kampung.

Namun, akhir-akhir ini kami sering ke Tesco, pasaraya terdekat dari rumah. Di sini, kami dengan mudah menemukan kebutuhan bayi, yang tak mungkin ditemukan di pasar malam, seperti popok, tisu basah dan pampers. Jika pasar malam hanya hadir pada hari-hari dan jam-jam tertentu, pasaraya ini buka jam 8 pagi hingga 11 malam. Tak hanya itu, kami bisa berbelanja kebutuhan tanpa merasa khawatir ke…

Surga Buku di Dunia Komersial

Image
Perjalanan ke Kuala Lumpur dari Pulau Pinang dalam rangka memenuhi tugas wawancara mengantarkan saya ke tempat paling banyak dituju oleh orang, Suria KLCC. Di sini, kita menemukan surga orang yang ingin memuaskan hasrat purba: kepuasan lahiriah. Pelbagai kebutuhan, dari makan hingga hiburan tumplek blek di sini. Segala jenis manusia berseliweran mencoba peruntungan untuk mereguk bahagia. Saya tentu tak perlu bertanya pada setiap orang apakah mereka telah menemukan yang dicari.

Dalam kepala saya berkelebat toko buku: Kunikuniya, sebuah kedai yang dimiliki oleh perusahan Jepang. Di sini saya membebel banyak buku dan hanya membeli tiga buah, Kant and Platypus: Essays on Language and Cognition (Umberto Eco), Republic (Plato) dan Politics (Aristotle). Tentu banyak buku lain yang ingin dimiliki, tapi apa daya buku-buku filsafat terbitan luar itu mahalnya minta ampun. Ternyata buku yang pertama juga dijual di toko buku besar Borders Queens Bay Mall, namun tidak ada potongan harga seperti di K…

Kapan Jakarta Mempunyai Monorail

Image
Kita berdebat tentang banyak hal, tetapi tak berbuat apa pun untuk mewujudkanya, termasuk monorail yang terbengkalai hingga kini. Di Kuala Lumpur, saya menggunakan angkutan publik ini dan merasa bahwa di sana penguasa tak perlu mengumbar kata untuk menawan hati warganya. Anda percaya? Silahkan datang. Di sini, kita menemukan ruang yang bersahabat bagi siapa saja yang ingin merasakan malam. Pejalan kali juga mendapatkan ruang yang cukup untuk memanjakan diri dengan jalan yang lapang, meskipun dipenuhi banyak orang.

Herannya, Jusuf Kalla, calon presiden itu, menjadikan isu monorail alat untuk menyerang Boediono, yang calon wakil presiden itu. Heran! Lalu, apa yang dia kerjakan selama menjadi wakil presiden berkaitan dengan kepentingan khalayak? Seharusnya dia bisa mengurus kepentingan publik secara bersama, bukan menunjuk jari kambing hitam. Malah, Bus way yang diharapkan untuk memberi kenyamanan, nasibnya setali tiga uang. Lama menunggu, berdesakan dan tak nyaman. SBY juga tak menunjuk…