Thursday, June 29, 2006

Islam Liberal

Setelah makan di kantin Kampus, saya ke toko buku. Ketika melihat-lihat di highlight, ada buku terbungkus plastik berjudul Islam Liberal: Tafsiran Agama yang Kian Terpesong. Rasa penasaran membuat saya merogoh kocek untuk memilikinya. Saya berharap buku ini membantu saya lebih jauh memahami kritik pemikir Islam Malaysia terhadap Islam Liberal. Setelah Mufti Perak Datuk Seri Harussani Zakaria mengharamkan Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme, saya ingin mengetahui lebih detil akar pengetahuan kenapa orang Islam di negeri Jiran alergi dengan arus pemikiran liberal. Tidak jarang mereka mengkhawatirkan virus ini menyerang rakyat Melayu, setelah Indonesia mengalami 'kerasukan' hama ini.

Meskipun salah satu pemikir moderat Candra Muzaffar mempertanyakan persepsi Mufti akan pengertian ketiga istilah di atas, namun gaung pemikir cemerlang ini tidak sehebat tokoh ulama dari Perak ini. Ia tenggelam oleh liputan yang memihak terhadap ulama.

Wednesday, June 28, 2006

Semangat yang Membuncah

Dua hari ini, saya sepertinya bisa melakukan apa saja, tanpa mengenal lelah. Bangun lebih awal, main basket, menulis artikel dan tentu saja menonton sepak bola. Semalam, meskipun Tim Samba menang telak 3-0 atas Black Star Ghana, saya melihat kehilangan 'gairah' pemain Brasil untuk menciptakan gol.

Di luar itu, pagi ini, saya membuka walkman untuk mendengarkan radio Sinar FM. Pertama kali terdengar adalah lagu 'yang' mengingatkan sesuatu, namun tidak tahu pasti penyanyi dan judul lagunya. Alunan musik dan liriknya secara langsung menyentuh telinga dan meresap ke batin. Inikah pengalaman puncak yang digambarkan oleh Abraham Maslow itu?

Dengan khusyu' saya menikmati lagu hingga akhir agar diri bisa mencecap keriangan lebih tinggi. Akhirnya rasa penasaran terjawab sudah oleh penyiarnya bahwa lagu tersebut dibawakan oleh Toto dengan judul I want hold you back. Lalu, disusul lagu Siti Nurhaliza yang digubah oleh Melly Goeslow bertajuk Biarlah Rahsia. Sesederhana inikah kebahagiaan? Jawabnya, ya. Kita tak perlu meminta lebih, karena akan merasa 'jenuh' dengan kelimpahan.

Tubuh dan jiwa kita terlalu kecil untuk anugerah yang sangat besar. Menikmati udara sehingga bernafas itu saja belum pernah kita syukuri sebagai anugerah terbesar. Lalu, kita minta apa lagi dari sang Penguasa? Memang, benar manusia selalu ingin yang lain, sebab miliknya telah dianggap barang usang yang tak berharga.

Tuesday, June 27, 2006

Syukur: Sebuah Kata yang Hilang

Kemarin, saya ditelpon oleh Ibu Tineke bahwa beasiswa saya akan ditransfer hari Kamis atau Jum'at. Tiba-tiba, saya merasa 'gembira' yang berbeda. Ada kekuatan untuk membuat saya 'merancang' banyak hal. Terbayang disertasi akan selesai dalam waktu singkat. Lebih dari itu, saya dalam keadaan sehat. Mungkin, semua ini adalah peristiwa biasa, tapi menjadi luar biasa ketika kita mau mensyukuri sebagai karunia, sebab apa yang didapat ini akan bisa hilang.

Beberapa hari yang lalu, kepala saya diserang nyeri. Karena sering, saya menganggapnya biasa. Jika sakit tak tertahankan, saya minum panadol. Di Indonesia, biasanya Paramex. Obat ini ampuh untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di batok kepala. Katanya, parasetamol yang terkandung di dalamnya adalah painkiller sejati. Tapi, waktu itu saya tidak membeli obat dan tidur sebagai jalan keluar. Meskipun, ketika bangun pagi rasa berat di kepala masih tersisa, tapi tidak mengganggu. Teman karib saya, Yusof Othman berbaik hati untuk memijit seluruh tubuh dengan alat 'pemijit tangan'. Akhir-akhir, kami berdua banyak melakukan kegiatan bersama, makan, main bola, basket dan berdiskusi tentang ekonomi. Kebetulan, dia adalah mahasiswa PhD bidang Ekonomi, khususnya perdagangan internasional.

Sekarang, niat untuk segera merampungkan disertasi diawali dengan meminjam buku al-Burhan fi Ulum al-Qur'an oleh Az Zarkasyi, The Event of the Qur'an oleh Kenneth Cragg, The Sublime and Orientalism oleh Mohammad Khalifa dan Hermeneutika al-Qur'an: Mazhab Yogya oleh Sahiron Syamsuddin (editor). Malah, saya mengirim surat elektronik ke Mas Sahiron untuk berbagi pengetahuan dan bahan.

Jika hidup telah terang benderang, maka sekarang komitmen itu tidak hanya di kepala tetapi juga di tangan, kaki, mulut dan seluruh jiwa.

Sunday, June 25, 2006

Enemy at the Gates

Teman Melayu karib saya mengajakke warung pecel lele. Meskipun ia tidak suka pedas, tapi aroma sambal Jawa ini cukup membuat lidahnya ketagihan. Di sana, saya memesan rawon (kuah hitam legam yang dipenuhi daging dan kecambah). Langit tampak hitam, mungkin hujan akan turun.

Jalan kembali pulang mengambil masa agak lama Karena kami menempuh jalan memutar. Di Restu, saya turun ke basement untuk menonton perlawanan Jerman-Swedia. Dominasi Jerman sangat merepotkan barisan belakang negeri Volvo ini. Apalagi salah satu pemainnya dikeluarkan dari lapangan karena mendapatkan akumulasi dua kartu kuning (aneh, namanya Licik, tertulis licic). Sebelum babak pertama usai saya kembali ke kamar.

Malam minggu mungkin perlu lebih banyak 'istirahat' daripada terus menekuri buku. Dengan langkah gontai, saya pergi ke kamar teman, kebetulan di sana ia memutar film Enemy at the gates, sebuah filem cerita perang antara Jerman dan Rusia yang menyisipkan pertaruangan dua jagoan penembak gelap (sniper). Tentu saja, adalah khas film Hollywood memasukkan cerita romantik dalam alur. Jude Law, Ed Harris dan Rachel Weisz bermain baik dan membawakan watak yang meyakinkan untuk memperlihatkan betapa perang telah 'menistakan' manusia pada titik nadir.

Jam 12 lebih, Yusoff mengajak saya menikmati malam. Akhirnya, kami menuju Karaoke Sahabat untuk melepaskan ketegangan dan menaikkan endorfin. Di sana, kami 'request' lagu Aduhai Salehah, Istana Menanti, Beautiful Maria, Tuhan, Selamat Tinggal, Menanti Kejujuran, Widuri, Nafas Cinta, Angin Malam dan Biarlah Bulan Bicara. Lagu-lagu yang saya pesan, semuanya bercerita kenangan, tentu saja, masa yang telah usai. Mungkin nostalgi inilah yang membuat orang melupakan penat hidup hari ini. Sehingga masa lalu perlu dihadirkan untuk mengelabuhi carut-marut kekinian.

Saya memiliah Istana Menanti (oleh Rahim Maroof), Tuhan (Bimbo), Nafas Cinta (Inka Kristi dan Amy Search) dan Menanti Kejujuran (Gong 2000). Empat lagu cukup membuat napas serak karena lagu terakhir memaksa saya berteriak. Sebenarnya lega, tapi tenggorokan kering. Sayang, ketika saya menyanyikan lagu Tuhan, saya merasa suara sember, tak enak di hati dan telinga. Mungkin, Tuhan hadir dalam sebuah ruang yang ironi, campur aduk segala ekspresi, garang, sendu dan cemas. Atau, karena saya belum yakin bahwa sesuai dengan lirik, Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat belum benar-benar merasuk jiwa.

Dengan perasaan ringan, kami meninggalkan tempat Karaoke. Di tengah jalan, anak-anak remaja sedang berjejer di pinggir jalan sambil sekali-kali menggeber mesin motor. Mereka, yang di sini dikenal 'Mat Rempit', sedang menunggu waktu untuk adu kecepatan di jalan raya. Anak muda yang sedang mencari jati diri, tapi sayang mereka harus membuang waktu dan uang untuk aktualisasi yang 'susah' dipahami.

Di kamar teman, sebelum memejamkan mata, saya membaca koran yang memuat wawancara Mufti Perak, Datuk Hairussani, tentang wacana liberalisme dan pluralisme. (Terima kasih Mas Hilal, karena telah memberikan koran ini pada saya).

Saturday, June 24, 2006

Jilbab

Kadang, saya perlu melakukan sesuatu yang beda, agar hidup sepertinya penuh warna. Pagi ini, pukul 7, saya berangkat ke kampus untuk membaca berita dan artikel di surat kabar. Udara segar dan bumi belum terang karena malam masih menyisakan selimutnya.

Hampir satu jam saya menghabiskan waktu di depan komputer. Tubuh menuntut jatah sarapan. Saya bergegas ke warung India di Sungai Dua depan Masjid kampus. Di sana, sebungkus nasi lemak dan kopi membuat perut nyaman. Tapi, setelah kenyang, saya tidak bisa kembali ke kampus karena hujan deras mengguyur bumi. Biasanya tidak lama, namun hari ini langit sepertinya senang bermain air. Ia menumpahkan tetes tak henti-henti. Di tengah dingin menusuk, terbersit untuk merokok.

Sambil menunggu hujan reda, saya menekuri buku Jilbab : Antara Kesalehan, Kesopanan dan Perlawanan tulisan Fadwa el Guindi (Jakarta: Serambi, 2003). Sebagai sebuah kajian, buku ini mencoba melakukan sintesis antara etnografi, sejarah, teks al-Qur'an, Hadits dan tafsir. Lengkap sudah wajah penelitian ini. Ia tidak hanya melihat fenomena jilbab sebagai 'kewajiban normatif' yang diterakan dalam teks, namun juga relasi kuasanya dengan perkembangan dan pergolakan dalam masyarakat Muslim.

Kadang, di tengah pembacaan, saya mencoba untuk mencari bahan bagaimana 'etika' pakaian ini diletakkan dalam kehidupan masyarakat, apakah cukup pada 'etik' atau 'hukum' yang mengakibatkan sangsi, seperti di Iran.

Saya tentu saja memilih yang pertama, tapi menghargai yang kedua pada batas-batas tertentu. Bagaimanapun jilbab tetap berada dalam konteks masyarakat yang menafsirkan. Lalu, bagaimana dengan Anda?

Friday, June 23, 2006

Sang Fenomena

Jam dua belas saya beranjak tidur. Alarm telpon gengam menunjukkan angka 2.45. Ternyata saya terbangun pukul 2.44. Luar biasa. Brazil telah memesona dan menyihir jam tubuh saya. Dengan bergegas, saya mencuci muka dan menuju ke lift untuk menyaksikan pertandingan tim Samba pada putaran pertama melawan Jepang.

Tapi, tv di lantai bawah tidak hidup. Untuk tidak membuang waktu, saya kembali ke kamar untuk mengambil kunci motor dan melaju ke restoran Khaleel. Meskipun terlambat tujuh menit pertandingan, saya tetap merasakan degup jantung lebih keras. Geregetan makin kuat ketika pasukan samurai-biru melesakkan bola ke dalam gawan Dida. Tempik sorai pendukung Jepang membuat saya tak tenang. Namun dalam menit terakhir, Sang Fenomena menyamakan kedudukan lewat sundulan. Selanjutnya, saya menikmati keindahan dan keterampilan pemain Brasil dan mengakhiri pertandingan dengan skor 4-1.

Kemudian, tiba-tiba saya disergap tanya, mengapa saya sangat menyukai tim kuning-biru ini? Jika saya mengatakan karena mereka telah mengantongi juara dunia lima kali dan setiap pemain mempunyai talenta yang luar biasa dalam mengocek bola, semua orang yang menyokong tim besutan Pareira akan mengatakan hal yang sama. Lalu, adalah yang lain yang membaut saya betah duduk di depan layar tanpa mengedipkan mata sedikitpun. Bahkan, ketika menyeruput nescafe, mata saya tidak lepas dari tabung televisi untuk memastikan mengikuti pergerakan bola dari kaki ke kaki yang diperagakan tim Amerika Latin ini.

Mungkin agak kekanak-kanakkan, di papan meja belajar tertempel gambar empat pemain Brasil sebagai penanda bahwa saya penggembar berat mereka. Di tengah otak mencari alasan mengapa saya gandrung mereka, mungkin ini ditepis sejenak bahwa saya masih menanti cemas permainan selanjutnya. Jika Brasil lolos ke final, maka jadual tidur malam saya akan berubah.

Ronaldo yang dulu saya sukai (ketika di Korsel-Japan), sekarang ia telah menunjukkan 'taji'nya setelah lama didera kritik karena tampak malas dan tidak produktif. Masihkah, ia berhak menyandang gelar sang Fenomena? Tentu. Sebab ia telah mengemas 14 Gol, sebuah capaian yang menyamai rekor Gerd Muller, pemain bola Jerman.

Thursday, June 22, 2006

Embodying Gender


Buku ini ingin menjelaskan tubuh dalam sosiologi.

Pertanyaan kunci yang ingin dijawab adalah
o Apa yang dikatakan sosiologi tentang tubuh?
o Apa dampak dari tubuh yang dijelaskan oleh sosiologi?
o Kerangka konseptual apa digunakan untuk membahas tubuh? Bagaimana hal ini berkaitan dengan isu jender dan pengalaman tubuh?
o Bagaimana alat konseptual feminis berdiri di samping analisis sosiologis?

Seperti di dalam pengantarnya, Alexandra Howson menegaskan bahwa di satu sisi, perkembangan sosiologi tentang tubuh diinformasikan oleh komitmen, betapapun khas dan beragamnya ditafsirkan, pada identifikasi konteks, hubungan, praktik dan struktur yang membentuk penubuhan manusia. Di sisi lain, kesarjanaan ini banyak dituduh terlalu abstrak, ia tidak lagi dapat dipertahankan bahwa tubuh itu secara teoretik terbuka.

Lalu, bagaimana tubuh itu diperlakukan? Jawabanya: tergantung pada lokalitas, partikularitas dan audiens. Semuanya berada dalam keragaman tanggapan.

Interpetation: An Essay in the Philosophy of Literary Criticism

Buku ini membuat saya senang alang-kepalang. Ia tidak hanya membantu untuk memetakan pelbagai teori penafsiran tetapi juga melakukan kritik terhadap teori bersangkutan.

Dimulai dari teori penafsiran Hirsch, ahli linguistik Amerika, Juhl melihat teori intensionalisme pengarang sebagai cara membaca sebuah teks. Seperti diungkapkannya:

Verbal meaning is whatever someone has willed to convey by a particular sequence of linguistic signs and which can be conveyed (shared) by means of those linguistic signs. (1980: 17)

Sebagai pembaca kita bisa berbagi dengan makna pengarang karena terdapat kesepatan tanda-tanda linguistik. Tapi, mungkinkah?

Wednesday, June 21, 2006

Globalisasi yang Mencemaskan


Ketika tembok 'negara' runtuh karena teknologi dan batas tak lagi menghalangi manusia saling menyapa. Lalu, kecemasan apakah yang menyergap kita jika dunia layaknya sebuah desa?

Tentu saja, kita mesti menengok kembali sejarah globalisasi. Ini dilakukan untuk tidak terjebak pada penolakan atau penerimaan begitu saja. Mungkin, buku Gillivray bisa membantu kita untuk mengambil sikap terhadap beberapa 'dampak' negatif dari mondialisasi dunia.

Dua Tengkorak Kepala



Dulu, saya pernah membaca novel Motinggo Busye. Tapi, sangat susah memunculkan ingatan judul, alur, plot, karakter dalam benak. Namun, gambaran 'cerita' pornografi yang masih melekat. Memang, dulu ia dikenal sebagai penulis novel berbumbu 'seks'.

Kemarin, saya menemukan kumpulan cerpen penulis produktif ini berjudul Dua Tengkorak Kepala (Yogyakarta: Bentang, 1999). Namun dari semua cerpen, saya sangat gandrung dengan 'Mata' yang menceritakan perjalanan tokoh Sapi'ie dalam menemukan hakikat hidup. Di sini, Busye menjelajahi pelbagai pemikiran sastrawan, filsuf dan sufi. Sebuah cerita yang memberikan 'peta' bagaimana manusia memaknai hidupnya berangkat dari rumusan pemikiran, dari Rene Descartes, Andre Gide, Albert Camus, Hafiz, hingga Jalaluddin Rumi.

Di sini saya kutipkan puisi Rumi:
Bila sebutir zarah
dipindah
dari tempatnya
yang semestinya
Maka alam semesta akan runtuh
dari atap, sampai kaki
fondasi

Puisi di atas telah mencegah sang tokoh untuk melakukan bunuh diri (sebuah pilihan yang sama dengan memilih hidup menurut Albert Camus) karena Tuhan telah menetapkan zarah. Manusia yang telah merubahnya.

Lalu, kenapa sang 'penggoda' eksistensi itu adalah perempuan cantik? Bukankah ini bias gender dalam kreativitas kepenulisan?

Lalu, apakah saya bisa 'menyebut' satu persatu itu dalam kehidupan saya?

Tuesday, June 20, 2006

Titik Temu Islam dan Barat, mungkinkah?

Hari ini, PBNU menyelenggarkan ICIS II untuk menjembatani Islam dan Barat.
Mungkinkan Barat bisa memahami Islam dengan baik? Jika ukurannya adalah perspektif mereka bahwa ada pemisahan agama dan negara? Jika teori yang mereka gunakan adalah pembangunan dan hubungan internasional tidak mempertimbangkan agama sebagai varibel penting untuk analisis politik. Pemisahan agama dan politik mengabaikan fakta bahwa kebanyakan tradisi agama ditegakkan dan dikembangkan dalam konteks sejarah, politik, sosial dan ekonomi. Doktrin dan hukum-hukum mereka dikondisikan oleh konteks-konteks ini (John L Esposito, 'Islam dan Barat: Konsep-Konsep Peradaban, dalam Dialektika Peradaban: Modernisme Politik dan Budaya di Akhir Abd ke-20 (Yogyakarta: Qalam Press, 2003), hlm. 139.
Menurut Esposito, kecenderungan Pasca-Pencerahan untuk mendefinisikan agama sebagai sebuah sistem kepercayaan (terbatas pada kehidupan personal dan pribadi), bukan sebagai sebuah pandangan hidup, sesungguhnya telah menghambat kemampuan kita untuk memahami hakikat dari Islam dan agama-agama dunia yang lain. Secara dangkal, kecenderungan ini telah menggolongkan agama, melakukan kekerasan pada hakikatnya, dan memaksankan konsepsi tradisi agama yang statis, konkret, bukan menyampaikan dinamika batinnya.
Kritik Esposito adalah

Monday, June 19, 2006

Robohnya Surau Kami


Judul novel A A Navis yang saya suka mendengarnya. Bukan saja, ia mengandung makna karena konteksnya luas, tapi juga enak di telinga. Tapi, sayang saya belum membaca novelnya.

Ngomong-ngomong surau, semalam, saya, Hilal, Baim, Tauran, Ardi dan Maulana bermalam di surau flat untuk shalat malam dan sahur bersama . Sebelumnya, kami masih sempat nonton Brasil melawan Australia, yang membuat degup jantung lebih cepat.

Puasa hari ini memang membuat lemas, apalagi hujan mulai siang mengguyur tanah sehingga lapar cukup terasa. Tapi dengan Jendela-Jendela Fira Basuki, saya menemukan jalan keluar untuk mengatasi perut yang kerongcongan.

Terbayang, saya akan makan 'lahap' pada buka nanti, sekarang telah mereguk harumnya.

Sunday, June 18, 2006

Islam in World Culture: Comparative Perspektif


Sebuah bunga rampai tentang wajah Islam di dunia. Tapi, saya membelakkan mata untuk satu artikel khusus yang ditulis oleh Anna Gade dan R Michael Feener berjudul 'Muslim Thought and Practice in Contemporary Indonesia'.

Namun ada beberapa pernyataan yang terasa janggal, yaitu halaman 212: Amin rais, who earned his doctoral degree in the United Stetes, led the Muhammadiya Muslim modernist organization beginning in 1993. Rais was received as a Muslim advocate of social justice and at time garnered significant support in a political coalition with Megawati Sukarnoputri. Previous anti Christian and anti-Chinse remarks and calls for the establishment of an Islamic state by Amien Rais, however, had caused considerable concern among his potential constituent, many Muslim among them.

Tulisan yang sengaja saya cetak tebal adalah kutipan yang 'ngawur'. Pak Amin tidak mengakui adanya negara Islam. Lalu, kenapa pernyataan ini tiba-tiba diambil begitu saja tanpa diteliti lebih dalam? Inikah keteledoran yang disengaja? Mungkin sang penulis yang bisa menjawabnya.

Inilah komentar penerbit atas buku tersebut:

Islamic fundamentalism is a growing political factor in world affairs. This work, based on the most recent scholarship, provides both explanatory essays and ready-reference components. An expert on Middle East history, Davidson explains the Islamic fundamentalist worldview and the actions and aims of those who adhere to it. He also addresses Islamic fundamentalist attitudes toward democracy, violence, and women. Ready-reference components include a timeline of events, biographical profiles of key Islamic fundamentalist leaders, 10 primary documents explaining Islamic fundamentalist views, a glossary of terms, an annotated bibliography, and a selection of photos.

Fundamentalisme Islam: Sebuah Pengantar


Sampul buku ini cukup jelas membekap pembaca pada sebuah penciptaan-citra (image building). Gambar dua tokoh garis keras yang dicap pemimpin ultra-konservatif (dibaca: versi Barat) dipegang oleh perempuan berjilbab hitam. Sebuah sudut yang makin mengukuhkan 'hegemoni' ulama terhadap kehidupan masyarakat: keseragaman adalah mutlak.

Benarkah asumsi di atas? Tidakkah perlu diajukan pandangan kedua? Saya rasa kita perlu lebih jauh mengulas buku ini lebih jernih. Tanpa melakukan ini, kita hanya memperturukan 'prasangka' yang telah lama terpendam di benar kita sendiri.

Lagi-lagi biografi tokoh fundamentalisme Islam menunjukkan bagaimana orang lain melihat 'dinamika' pergerakan Muslim menghadapi tantangan modernitas dan sekuler ( di antaranya Jamaluddin al-Afghani, Hassan al-Banna, Muhammad Husayn Fadlallah, Rasyid al-Ghannoushi, Mohammad Khatami, Ayatollah Sayyid Ruhollah Khomeini, Osama bin Laden, Abbas Madani, Sayyid Quth, Omar Abd al-Rahman, Musa al-Sadr, Ali Syari'ati, Ayatollah Muhammad Kazem Shariatmadari, Hassan Abdallah al-Turabi, Sheikh Muhammad ibn abd al-Wahhab, dan Syakh Ahmad Yasin. Kalaupun, banyak 'kelemahan' (apa ukurannya?), lalu apa yang kita harus lakukan sekarang ini?

Fundamentalisme Agama dan Ekstremisme Politik

Sebuah awal yang menarik:

Men never do evil so completely and cheerfully
As when they do it from religious conviction - Pascal

Buku ini adalah sebuah kumpulan yang merangkum pelbagai tulisan tentang kekerasan yang bisa menyergap manusia atas nama agama dan politik.

Di antara artikel yang membetot perhatian saya adalah tulisan Daphna Canetti-Nisim berjudul 'Two Religious Meaning System, One Political Belief System: Religiosity, Altenative Religiosity and Political Extremism'.

Tampak dari judul bahwa di luar agama formal terdapat agama 'pilihan lain' yang unsur-unsurnya sama dengan agama lembaga (institusionalized religion). Yang pertama berpijak pada ajaran yang 'mapan' dan yang terakhir lebih 'cair'.

Lalu, apa kaitannya dengan politik? Sebuah temuan yang menarik bahwa semakin seseorang bersikap ortodoks dalam kepercayaan agama, maka semakin lemah keterikatannya dengan garis politik-liberal di dalam politik.

Essensi Agama

Pemikiran demokratik tidak mudah menyapa iman-magis religius. Acapkali agama dihilangkan dengan kehadiran demokrasi Barat. Ini berakar dari pandangan tokoh Pencerahan Barat, Seperti Freud dan Marx, yang melihat agama adalah isu tetnang ketidakmatangan (immature) dan kekanak-kanakan (childish), tetapi agama membantu kita untuk menerima penderitaan di dunia dengan janji mendapat ganti di akhirat tanpa perlu mengambil tindakan sosial dan politik.

Mungkin, pernyataan di atas tidak dilihat secara harfiah tanpa menghadirkan konteks yang pekat. Namun demikian, sebagai sebuah kritik, ia perlu mendapat apresiasi. Selain kita juga perlu menengok pandangan pemikiran lain yang lebih simpatik terhadap agama, seperti Allport dan James. Paling tidak, menurut keduanya, agama terbagi dua jenis, instrinsik dan ekstrinsik. Pertama, agama dilihat sebagai tujuan di dalam dirinya. Jenis ini cenderung konservatif dan mengambil posisi ultra-ortodoks. Kedua, agama dipandang sebagai sarana untuk tujuan lain, terutama yang bersifat sosial dan politik dan agama mempunyai implikasi di dalam semua bidang kehidupan.

Lalu, di manakah kita berada?

Wednesday, June 14, 2006

Hikayat Siti Mariah

Buku yang dipinjam kemarin ini selesai dibaca dalam waktu sehari semalam. Bahkan, setelah nonton pertandingan Brasil melawan Kroasia saya meneruskan untuk mengetahui akhir 'hikayat' yang sangat panjang. Ternyata ia berakhir bahagia. Melegakan.

Di luar buku ini, banyak cerita yang diungkap. Ia pernah dilarang Pemerintah. Pengarangnya tidak diketahui riwayatnya. Tentu saja, di tangan Pram, ia 'akan' mudah disebut bermutu.

Lalu, apa yang bisa dipahami dari alur, plot, karakter cerita ini? Nikmati hidup dan mempunyai keyakinan menjalaninya.

Brazil dan Pesona


Tak perlu ditanya kenapa saya sangat gandrung permainan indah Brazil. Hanya perlu tahu bahwa dalam setiap detik mata saya terus memelototi layar kaca untuk menyaksikan permainan tim Samba ini. Mata tak berkedip, jantung berpacu lebih cepat, kadang cemas menyergap. Bahkan, saya berteriak keras karena bola keras melesat tipis dari tiang gawang.

Namun, saya kecewa pada laga pertama mereka di Piala Dunia 2006 Jerman karena harus tertekan dengan kecepatan pasukan Kroasia. Meskipun, saya terhibur tim besutan Pareira ini menang tipis 1-0.

Empat hari lagi, saya masih berharap pemenang lima kali ini akan menunjukkan permainan terbaiknya. Mungkin, Robinho bisa diturunkan sejak peluit pertama pertandingan agar 'daya' dobrak serangan menggigit. Ronaldo tampak kehilangan pesonanya karena 'tidak' rajin dan acapkali kehilangan kontrol.

Kaos tim Mereka benar-benar membuat mata tak beranjak untuk terus 'mengiringi perjalanan menuju Puncak. Viva Brazil!

Tuesday, June 13, 2006

Kearifan Lokal atau Klenik?

Gempa di Yogyakarta membuat miris kita. Lalu, bagaimana mereka menghadapinya untuk menolak ini semua? Menggunakan Janur kuning. Tapi, Buya Syafi'ie menampik praktik semacam ini. Pendidikan dan pencerahan perlu disusupkan agar mencegah 'perbuatan' klenik. (lihat tulisannya berjudul Musibah di http://www.gatra.com/artikel.php?id=95321).

Tanggapan saya:

Janur kuning itu hanya simbol untuk tegar menghadapi musibah, sebagaimana simbol 'Allah' untuk tabah menjalani ujian hidup. Lalu, kenapa mereka memilih janur kuning, tidak Allah, lagi-lagi ini sebuah kemenangan kearifan 'lokal' atas 'global'. Mari, melihat peristiwa ini dari pelbagai perspektif. Mungkin, janur kuning itu perlu dimaknai lebih metaforik, bukan kasat mata. Sebab, orang awam hanya ingin lari dari kenyataan yang pahit.

Friday, June 09, 2006

Dominasi Jawa


Sebuah catatan tentang Perdebatan di PPI Malaysia

Kalau kita mau secara jernih membaca kritik tajam Syahputra, maka harus diakui bahwa tulisan tersebut dibuat dengan sungguh-sungguh dan kepiawaan yang cukup untuk melakukan ‘pemiskinan’ nasionalisme karena menyoal ‘penjajahan’ Jawa terhadap etnik lain, seperti Minang dan Banjar. Bukankah Soeharto telah mempraktikkan ‘cara’ jawa untuk memimpin Indonesia? Tidak hanya dari artikulasi ide, seperti ‘ora pateken’ (ketika dia mengomentari lawan-lawan politiknya untuk mengundurkan diri), ‘mikul dhuwur mindem jero’, dan lain-lain, tetapi juga upaya penyeragamaan ‘struktur’ pemerintahan dengan mengabaikan tradisi lokal.

Tapi, sayang, kebanyakan anggota milis justeru secara emosional menanggapi substansi masalah yang diajukan tokoh yang bermukim di Swedia ini. Kita telah kehilangan nalar kritis untuk menanyakan 1. Kenapa tiba-tiba muncul masalah ini dimilis 2. Latar belakang pengarang 3. Konteks karangan dan hubungan dialektika antara pengarang dengan PPI, Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Oleh karena itu, pertanyaan Mas Hadi agar tokoh anti-Jawa ini memperkenalkan diri adalah usulan yang cemerlang sehingga dari forum ini lahir sebuah dialog yang cerdas tentang hakikat keindonesiaan kita.

Kehadiran tiba-tiba isu ini ke dalam milis boleh jadi melahirkan dugaan yang tidak semestinya jika dikaitkan dengan masalah yang mendera PPI kali ini. Bahkan, ketidaktahuan kita akan identitas pengarang makin mengaburkan kita melihat esensi kritik yang perlu direnungkan lebih dalam dan dipahami secara arif. Celakanya, kita terbawa ‘gaya’ langsung-tembak (straightforward) Syahputra dalam menanggapi masalah. Dan terakhir, konteks karangan ini perlu dihadirkan untuk melengkapi ‘gugatan’ penulis terhadap dominasi Jawa (data lengkap telah ditulis) dalam dunia politik dan militer.

Mungkin, pengungkapan kritik Syahputra menjadi kontra-produktif karena melakukan generalisasi bahwa orang Jawa itu ‘monster’. Coba lihat dengan jernih salah satu tokoh kita ini. Pramodya Ananta Toer, penulis calon Hadiah Nobel, dengan lantang mengkritik feodalisme Jawa karena menghambat kemajuan. Meskipun lahir sebagai orang Jawa (Blora), dia tidak menunjukkan fanatisme terhadap tanah kelahirannya karena beliau mengabdikan pada sebuah nation-state yang bernama Indonesia. Tetapi, apakah ia dihujat banyak orang karena pemikirannya melampaui primordialisme kedaerahan? Tidak. Sebab, sudut pandang keindonesiaannya memungkinkan adanya kritik internal terhadap praktik-praktik yang menghalangi terwujudnya kesetaraan.

Mengacu pada kontrak sosial J.J. Rosseau, setiap warga Indonesia mengandaikan sebuah komunitas yang menjamin keragaman sebagai sebuah keniscayaan. Tapi, sayangnya, ‘kebersamaan’ ini riskan retak. Sebab, seperti Ben Anderson tegaskan, komunitas kita adalah masih dalam ‘tingkat’ bayangan bukan kenyataan. (Baca: Imagined Communities yang ditulis Indonesianis ini). Hal ini dikarenakan keragamaan bangsa kita seperti bentangan dari Tehran sampai Inggeris, betapa majemuknya.

Namun demikian, anasir separatisme gagasan yang menghinggapi sebagian warga Indonesia di Luar negeri tidak perlu dilihat sebagai ‘ancaman’, tetapi sebagai kritik sangat tajam agar kita belajar untuk memberikan kesempatan yang ‘adil’ terhadap pelbagai kelompok di tanah air. Akhiri monopoli kekuasaan pada satu etnik!

Oleh karena itu, moderator tidak perlu gegabah untuk mengeluarkan keanggotaan Syahputra, tetapi meminta beliau untuk ‘mengemas’ kritiknya dalam bingkai ‘yang lebih santun’ dan ‘menghargai’ perbedaan.

Akhirnya, adalah terbuka lebar bagi teman-teman untuk menilai kembali ‘pokok’ pikiran yang telah dituangkan dalam milis ini dari saudara kita sendiri yang sedang berada di negeri Swedia. Tentu saja, saya sendiri masih menunggu ide bernas lain dari beliau.

Mungkin, teman kita yang anti-Jawa ini perlu mengenal lebih dalam tentang keragaman Jawadwipa ini. Misalnya, buku Geertz yang membahas the Religion of Java bisa dijadikan acuan untuk tidak 'pukul rata' memvonis manusia yang ada di dalamnya.

Sapere Aude! [Berani berpikir mandiri]

Ahmad Sahidah
Madura-Jawa
Pelajar USM

Wednesday, June 07, 2006

Islam sebagai teori dan praktik

Sebagai praktik, Islam telah menjadi bagian keseharian sejak kecil. Tapi, secara teoretik, ia muncul secara kritis sejak belajar di perguruan tinggi. Hingga sekarang, saya masih menekuri pelbagai persoalan Islam dan sejarah pemikirannya.

Hari ini, saya meminjam buku (baru diperoleh) yang disunting oleh R. Michael Feener berjudul Islam in The World Cultures: Comparative Perspectives. Dari sekian penulis, hanya satu yang beragama Islam [dilihat dari namanya sih?]. Justeru disinilah sumbangan buku ini bagi kita. Orang luar berbicara Islam. Lalu, apakah pemahaman mereka sama dengan kita sebagai muslim? Di sinilah sebuah dialog perlu dimunculkan agar kita sama-sama melihat masalah secara jernih.