Posts

Showing posts from June, 2006

Islam Liberal

Setelah makan di kantin Kampus, saya ke toko buku. Ketika melihat-lihat di highlight, ada buku terbungkus plastik berjudul Islam Liberal: Tafsiran Agama yang Kian Terpesong. Rasa penasaran membuat saya merogoh kocek untuk memilikinya. Saya berharap buku ini membantu saya lebih jauh memahami kritik pemikir Islam Malaysia terhadap Islam Liberal. Setelah Mufti Perak Datuk Seri Harussani Zakaria mengharamkan Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme, saya ingin mengetahui lebih detil akar pengetahuan kenapa orang Islam di negeri Jiran alergi dengan arus pemikiran liberal. Tidak jarang mereka mengkhawatirkan virus ini menyerang rakyat Melayu, setelah Indonesia mengalami 'kerasukan' hama ini.

Meskipun salah satu pemikir moderat Candra Muzaffar mempertanyakan persepsi Mufti akan pengertian ketiga istilah di atas, namun gaung pemikir cemerlang ini tidak sehebat tokoh ulama dari Perak ini. Ia tenggelam oleh liputan yang memihak terhadap ulama.

Semangat yang Membuncah

Dua hari ini, saya sepertinya bisa melakukan apa saja, tanpa mengenal lelah. Bangun lebih awal, main basket, menulis artikel dan tentu saja menonton sepak bola. Semalam, meskipun Tim Samba menang telak 3-0 atas Black Star Ghana, saya melihat kehilangan 'gairah' pemain Brasil untuk menciptakan gol.

Di luar itu, pagi ini, saya membuka walkman untuk mendengarkan radio Sinar FM. Pertama kali terdengar adalah lagu 'yang' mengingatkan sesuatu, namun tidak tahu pasti penyanyi dan judul lagunya. Alunan musik dan liriknya secara langsung menyentuh telinga dan meresap ke batin. Inikah pengalaman puncak yang digambarkan oleh Abraham Maslow itu?

Dengan khusyu' saya menikmati lagu hingga akhir agar diri bisa mencecap keriangan lebih tinggi. Akhirnya rasa penasaran terjawab sudah oleh penyiarnya bahwa lagu tersebut dibawakan oleh Toto dengan judul I want hold you back. Lalu, disusul lagu Siti Nurhaliza yang digubah oleh Melly Goeslow bertajuk Biarlah Rahsia. Sesederhana inikah keb…

Syukur: Sebuah Kata yang Hilang

Kemarin, saya ditelpon oleh Ibu Tineke bahwa beasiswa saya akan ditransfer hari Kamis atau Jum'at. Tiba-tiba, saya merasa 'gembira' yang berbeda. Ada kekuatan untuk membuat saya 'merancang' banyak hal. Terbayang disertasi akan selesai dalam waktu singkat. Lebih dari itu, saya dalam keadaan sehat. Mungkin, semua ini adalah peristiwa biasa, tapi menjadi luar biasa ketika kita mau mensyukuri sebagai karunia, sebab apa yang didapat ini akan bisa hilang.

Beberapa hari yang lalu, kepala saya diserang nyeri. Karena sering, saya menganggapnya biasa. Jika sakit tak tertahankan, saya minum panadol. Di Indonesia, biasanya Paramex. Obat ini ampuh untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di batok kepala. Katanya, parasetamol yang terkandung di dalamnya adalah painkiller sejati. Tapi, waktu itu saya tidak membeli obat dan tidur sebagai jalan keluar. Meskipun, ketika bangun pagi rasa berat di kepala masih tersisa, tapi tidak mengganggu. Teman karib saya, Yusof Othman berbaik hati untu…

Enemy at the Gates

Image
Teman Melayu karib saya mengajakke warung pecel lele. Meskipun ia tidak suka pedas, tapi aroma sambal Jawa ini cukup membuat lidahnya ketagihan. Di sana, saya memesan rawon (kuah hitam legam yang dipenuhi daging dan kecambah). Langit tampak hitam, mungkin hujan akan turun.

Jalan kembali pulang mengambil masa agak lama Karena kami menempuh jalan memutar. Di Restu, saya turun ke basement untuk menonton perlawanan Jerman-Swedia. Dominasi Jerman sangat merepotkan barisan belakang negeri Volvo ini. Apalagi salah satu pemainnya dikeluarkan dari lapangan karena mendapatkan akumulasi dua kartu kuning (aneh, namanya Licik, tertulis licic). Sebelum babak pertama usai saya kembali ke kamar.

Malam minggu mungkin perlu lebih banyak 'istirahat' daripada terus menekuri buku. Dengan langkah gontai, saya pergi ke kamar teman, kebetulan di sana ia memutar film Enemy at the gates, sebuah filem cerita perang antara Jerman dan Rusia yang menyisipkan pertaruangan dua jagoan penembak gelap (sniper). T…

Jilbab

Image
Kadang, saya perlu melakukan sesuatu yang beda, agar hidup sepertinya penuh warna. Pagi ini, pukul 7, saya berangkat ke kampus untuk membaca berita dan artikel di surat kabar. Udara segar dan bumi belum terang karena malam masih menyisakan selimutnya.

Hampir satu jam saya menghabiskan waktu di depan komputer. Tubuh menuntut jatah sarapan. Saya bergegas ke warung India di Sungai Dua depan Masjid kampus. Di sana, sebungkus nasi lemak dan kopi membuat perut nyaman. Tapi, setelah kenyang, saya tidak bisa kembali ke kampus karena hujan deras mengguyur bumi. Biasanya tidak lama, namun hari ini langit sepertinya senang bermain air. Ia menumpahkan tetes tak henti-henti. Di tengah dingin menusuk, terbersit untuk merokok.

Sambil menunggu hujan reda, saya menekuri buku Jilbab : Antara Kesalehan, Kesopanan dan Perlawanan tulisan Fadwa el Guindi (Jakarta: Serambi, 2003). Sebagai sebuah kajian, buku ini mencoba melakukan sintesis antara etnografi, sejarah, teks al-Qur'an, Hadits dan tafsir. Lengk…

Sang Fenomena

Jam dua belas saya beranjak tidur. Alarm telpon gengam menunjukkan angka 2.45. Ternyata saya terbangun pukul 2.44. Luar biasa. Brazil telah memesona dan menyihir jam tubuh saya. Dengan bergegas, saya mencuci muka dan menuju ke lift untuk menyaksikan pertandingan tim Samba pada putaran pertama melawan Jepang.

Tapi, tv di lantai bawah tidak hidup. Untuk tidak membuang waktu, saya kembali ke kamar untuk mengambil kunci motor dan melaju ke restoran Khaleel. Meskipun terlambat tujuh menit pertandingan, saya tetap merasakan degup jantung lebih keras. Geregetan makin kuat ketika pasukan samurai-biru melesakkan bola ke dalam gawan Dida. Tempik sorai pendukung Jepang membuat saya tak tenang. Namun dalam menit terakhir, Sang Fenomena menyamakan kedudukan lewat sundulan. Selanjutnya, saya menikmati keindahan dan keterampilan pemain Brasil dan mengakhiri pertandingan dengan skor 4-1.

Kemudian, tiba-tiba saya disergap tanya, mengapa saya sangat menyukai tim kuning-biru ini? Jika saya mengatakan kare…

Embodying Gender

Image
Buku ini ingin menjelaskan tubuh dalam sosiologi.

Pertanyaan kunci yang ingin dijawab adalah
o Apa yang dikatakan sosiologi tentang tubuh?
o Apa dampak dari tubuh yang dijelaskan oleh sosiologi?
o Kerangka konseptual apa digunakan untuk membahas tubuh? Bagaimana hal ini berkaitan dengan isu jender dan pengalaman tubuh?
o Bagaimana alat konseptual feminis berdiri di samping analisis sosiologis?

Seperti di dalam pengantarnya, Alexandra Howson menegaskan bahwa di satu sisi, perkembangan sosiologi tentang tubuh diinformasikan oleh komitmen, betapapun khas dan beragamnya ditafsirkan, pada identifikasi konteks, hubungan, praktik dan struktur yang membentuk penubuhan manusia. Di sisi lain, kesarjanaan ini banyak dituduh terlalu abstrak, ia tidak lagi dapat dipertahankan bahwa tubuh itu secara teoretik terbuka.

Lalu, bagaimana tubuh itu diperlakukan? Jawabanya: tergantung pada lokalitas, partikularitas dan audiens. Semuanya berada dalam keragaman tanggapan.

Interpetation: An Essay in the Philosophy of Literary Criticism

Buku ini membuat saya senang alang-kepalang. Ia tidak hanya membantu untuk memetakan pelbagai teori penafsiran tetapi juga melakukan kritik terhadap teori bersangkutan.

Dimulai dari teori penafsiran Hirsch, ahli linguistik Amerika, Juhl melihat teori intensionalisme pengarang sebagai cara membaca sebuah teks. Seperti diungkapkannya:

Verbal meaning is whatever someone has willed to convey by a particular sequence of linguistic signs and which can be conveyed (shared) by means of those linguistic signs. (1980: 17)

Sebagai pembaca kita bisa berbagi dengan makna pengarang karena terdapat kesepatan tanda-tanda linguistik. Tapi, mungkinkah?

Globalisasi yang Mencemaskan

Image
Ketika tembok 'negara' runtuh karena teknologi dan batas tak lagi menghalangi manusia saling menyapa. Lalu, kecemasan apakah yang menyergap kita jika dunia layaknya sebuah desa?

Tentu saja, kita mesti menengok kembali sejarah globalisasi. Ini dilakukan untuk tidak terjebak pada penolakan atau penerimaan begitu saja. Mungkin, buku Gillivray bisa membantu kita untuk mengambil sikap terhadap beberapa 'dampak' negatif dari mondialisasi dunia.

Dua Tengkorak Kepala

Image
Dulu, saya pernah membaca novel Motinggo Busye. Tapi, sangat susah memunculkan ingatan judul, alur, plot, karakter dalam benak. Namun, gambaran 'cerita' pornografi yang masih melekat. Memang, dulu ia dikenal sebagai penulis novel berbumbu 'seks'.

Kemarin, saya menemukan kumpulan cerpen penulis produktif ini berjudul Dua Tengkorak Kepala (Yogyakarta: Bentang, 1999). Namun dari semua cerpen, saya sangat gandrung dengan 'Mata' yang menceritakan perjalanan tokoh Sapi'ie dalam menemukan hakikat hidup. Di sini, Busye menjelajahi pelbagai pemikiran sastrawan, filsuf dan sufi. Sebuah cerita yang memberikan 'peta' bagaimana manusia memaknai hidupnya berangkat dari rumusan pemikiran, dari Rene Descartes, Andre Gide, Albert Camus, Hafiz, hingga Jalaluddin Rumi.

Di sini saya kutipkan puisi Rumi:
Bila sebutir zarah
dipindah
dari tempatnya
yang semestinya
Maka alam semesta akan runtuh
dari atap, sampai kaki
fondasi

Puisi di atas telah mencegah sang tokoh untuk melakukan b…

Titik Temu Islam dan Barat, mungkinkah?

Hari ini, PBNU menyelenggarkan ICIS II untuk menjembatani Islam dan Barat. Mungkinkan Barat bisa memahami Islam dengan baik? Jika ukurannya adalah perspektif mereka bahwa ada pemisahan agama dan negara? Jika teori yang mereka gunakan adalah pembangunan dan hubungan internasional tidak mempertimbangkan agama sebagai varibel penting untuk analisis politik. Pemisahan agama dan politik mengabaikan fakta bahwa kebanyakan tradisi agama ditegakkan dan dikembangkan dalam konteks sejarah, politik, sosial dan ekonomi. Doktrin dan hukum-hukum mereka dikondisikan oleh konteks-konteks ini (John L Esposito, 'Islam dan Barat: Konsep-Konsep Peradaban, dalam Dialektika Peradaban: Modernisme Politik dan Budaya di Akhir Abd ke-20 (Yogyakarta: Qalam Press, 2003), hlm. 139. Menurut Esposito, kecenderungan Pasca-Pencerahan untuk mendefinisikan agama sebagai sebuah sistem kepercayaan (terbatas pada kehidupan personal dan pribadi), bukan sebagai sebuah pandangan hidup, sesungguhnya telah menghambat kemam…

Robohnya Surau Kami

Image
Judul novel A A Navis yang saya suka mendengarnya. Bukan saja, ia mengandung makna karena konteksnya luas, tapi juga enak di telinga. Tapi, sayang saya belum membaca novelnya.

Ngomong-ngomong surau, semalam, saya, Hilal, Baim, Tauran, Ardi dan Maulana bermalam di surau flat untuk shalat malam dan sahur bersama . Sebelumnya, kami masih sempat nonton Brasil melawan Australia, yang membuat degup jantung lebih cepat.

Puasa hari ini memang membuat lemas, apalagi hujan mulai siang mengguyur tanah sehingga lapar cukup terasa. Tapi dengan Jendela-Jendela Fira Basuki, saya menemukan jalan keluar untuk mengatasi perut yang kerongcongan.

Terbayang, saya akan makan 'lahap' pada buka nanti, sekarang telah mereguk harumnya.

Islam in World Culture: Comparative Perspektif

Image
Sebuah bunga rampai tentang wajah Islam di dunia. Tapi, saya membelakkan mata untuk satu artikel khusus yang ditulis oleh Anna Gade dan R Michael Feener berjudul 'Muslim Thought and Practice in Contemporary Indonesia'.

Namun ada beberapa pernyataan yang terasa janggal, yaitu halaman 212: Amin rais, who earned his doctoral degree in the United Stetes, led the Muhammadiya Muslim modernist organization beginning in 1993. Rais was received as a Muslim advocate of social justice and at time garnered significant support in a political coalition with Megawati Sukarnoputri. Previous anti Christian and anti-Chinse remarks and calls for the establishment of an Islamic state by Amien Rais, however, had caused considerable concern among his potential constituent, many Muslim among them.

Tulisan yang sengaja saya cetak tebal adalah kutipan yang 'ngawur'. Pak Amin tidak mengakui adanya negara Islam. Lalu, kenapa pernyataan ini tiba-tiba diambil begitu saja tanpa diteliti lebih dalam? …

Fundamentalisme Islam: Sebuah Pengantar

Image
Sampul buku ini cukup jelas membekap pembaca pada sebuah penciptaan-citra (image building). Gambar dua tokoh garis keras yang dicap pemimpin ultra-konservatif (dibaca: versi Barat) dipegang oleh perempuan berjilbab hitam. Sebuah sudut yang makin mengukuhkan 'hegemoni' ulama terhadap kehidupan masyarakat: keseragaman adalah mutlak.

Benarkah asumsi di atas? Tidakkah perlu diajukan pandangan kedua? Saya rasa kita perlu lebih jauh mengulas buku ini lebih jernih. Tanpa melakukan ini, kita hanya memperturukan 'prasangka' yang telah lama terpendam di benar kita sendiri.

Lagi-lagi biografi tokoh fundamentalisme Islam menunjukkan bagaimana orang lain melihat 'dinamika' pergerakan Muslim menghadapi tantangan modernitas dan sekuler ( di antaranya Jamaluddin al-Afghani, Hassan al-Banna, Muhammad Husayn Fadlallah, Rasyid al-Ghannoushi, Mohammad Khatami, Ayatollah Sayyid Ruhollah Khomeini, Osama bin Laden, Abbas Madani, Sayyid Quth, Omar Abd al-Rahman, Musa al-Sadr, Ali Syari&…

Fundamentalisme Agama dan Ekstremisme Politik

Image
Sebuah awal yang menarik:

Men never do evil so completely and cheerfully
As when they do it from religious conviction - Pascal

Buku ini adalah sebuah kumpulan yang merangkum pelbagai tulisan tentang kekerasan yang bisa menyergap manusia atas nama agama dan politik.

Di antara artikel yang membetot perhatian saya adalah tulisan Daphna Canetti-Nisim berjudul 'Two Religious Meaning System, One Political Belief System: Religiosity, Altenative Religiosity and Political Extremism'.

Tampak dari judul bahwa di luar agama formal terdapat agama 'pilihan lain' yang unsur-unsurnya sama dengan agama lembaga (institusionalized religion). Yang pertama berpijak pada ajaran yang 'mapan' dan yang terakhir lebih 'cair'.

Lalu, apa kaitannya dengan politik? Sebuah temuan yang menarik bahwa semakin seseorang bersikap ortodoks dalam kepercayaan agama, maka semakin lemah keterikatannya dengan garis politik-liberal di dalam politik.

Essensi Agama

Pemikiran demokratik tidak mudah menyap…

Hikayat Siti Mariah

Buku yang dipinjam kemarin ini selesai dibaca dalam waktu sehari semalam. Bahkan, setelah nonton pertandingan Brasil melawan Kroasia saya meneruskan untuk mengetahui akhir 'hikayat' yang sangat panjang. Ternyata ia berakhir bahagia. Melegakan.

Di luar buku ini, banyak cerita yang diungkap. Ia pernah dilarang Pemerintah. Pengarangnya tidak diketahui riwayatnya. Tentu saja, di tangan Pram, ia 'akan' mudah disebut bermutu.

Lalu, apa yang bisa dipahami dari alur, plot, karakter cerita ini? Nikmati hidup dan mempunyai keyakinan menjalaninya.

Brazil dan Pesona

Image
Tak perlu ditanya kenapa saya sangat gandrung permainan indah Brazil. Hanya perlu tahu bahwa dalam setiap detik mata saya terus memelototi layar kaca untuk menyaksikan permainan tim Samba ini. Mata tak berkedip, jantung berpacu lebih cepat, kadang cemas menyergap. Bahkan, saya berteriak keras karena bola keras melesat tipis dari tiang gawang.

Namun, saya kecewa pada laga pertama mereka di Piala Dunia 2006 Jerman karena harus tertekan dengan kecepatan pasukan Kroasia. Meskipun, saya terhibur tim besutan Pareira ini menang tipis 1-0.

Empat hari lagi, saya masih berharap pemenang lima kali ini akan menunjukkan permainan terbaiknya. Mungkin, Robinho bisa diturunkan sejak peluit pertama pertandingan agar 'daya' dobrak serangan menggigit. Ronaldo tampak kehilangan pesonanya karena 'tidak' rajin dan acapkali kehilangan kontrol.

Kaos tim Mereka benar-benar membuat mata tak beranjak untuk terus 'mengiringi perjalanan menuju Puncak. Viva Brazil!

Kearifan Lokal atau Klenik?

Gempa di Yogyakarta membuat miris kita. Lalu, bagaimana mereka menghadapinya untuk menolak ini semua? Menggunakan Janur kuning. Tapi, Buya Syafi'ie menampik praktik semacam ini. Pendidikan dan pencerahan perlu disusupkan agar mencegah 'perbuatan' klenik. (lihat tulisannya berjudul Musibah di http://www.gatra.com/artikel.php?id=95321).

Tanggapan saya:

Janur kuning itu hanya simbol untuk tegar menghadapi musibah, sebagaimana simbol 'Allah' untuk tabah menjalani ujian hidup. Lalu, kenapa mereka memilih janur kuning, tidak Allah, lagi-lagi ini sebuah kemenangan kearifan 'lokal' atas 'global'. Mari, melihat peristiwa ini dari pelbagai perspektif. Mungkin, janur kuning itu perlu dimaknai lebih metaforik, bukan kasat mata. Sebab, orang awam hanya ingin lari dari kenyataan yang pahit.

Dominasi Jawa

Image
Sebuah catatan tentang Perdebatan di PPI Malaysia

Kalau kita mau secara jernih membaca kritik tajam Syahputra, maka harus diakui bahwa tulisan tersebut dibuat dengan sungguh-sungguh dan kepiawaan yang cukup untuk melakukan ‘pemiskinan’ nasionalisme karena menyoal ‘penjajahan’ Jawa terhadap etnik lain, seperti Minang dan Banjar. Bukankah Soeharto telah mempraktikkan ‘cara’ jawa untuk memimpin Indonesia? Tidak hanya dari artikulasi ide, seperti ‘ora pateken’ (ketika dia mengomentari lawan-lawan politiknya untuk mengundurkan diri), ‘mikul dhuwur mindem jero’, dan lain-lain, tetapi juga upaya penyeragamaan ‘struktur’ pemerintahan dengan mengabaikan tradisi lokal.

Tapi, sayang, kebanyakan anggota milis justeru secara emosional menanggapi substansi masalah yang diajukan tokoh yang bermukim di Swedia ini. Kita telah kehilangan nalar kritis untuk menanyakan 1. Kenapa tiba-tiba muncul masalah ini dimilis 2. Latar belakang pengarang 3. Konteks karangan dan hubungan dialektika antara pengarang den…

Islam sebagai teori dan praktik

Sebagai praktik, Islam telah menjadi bagian keseharian sejak kecil. Tapi, secara teoretik, ia muncul secara kritis sejak belajar di perguruan tinggi. Hingga sekarang, saya masih menekuri pelbagai persoalan Islam dan sejarah pemikirannya.

Hari ini, saya meminjam buku (baru diperoleh) yang disunting oleh R. Michael Feener berjudul Islam in The World Cultures: Comparative Perspectives. Dari sekian penulis, hanya satu yang beragama Islam [dilihat dari namanya sih?]. Justeru disinilah sumbangan buku ini bagi kita. Orang luar berbicara Islam. Lalu, apakah pemahaman mereka sama dengan kita sebagai muslim? Di sinilah sebuah dialog perlu dimunculkan agar kita sama-sama melihat masalah secara jernih.