Posts

Showing posts from June, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [23]

Image
Kami tak memaksa dua anak ini untuk membaca, tetapi menciptakan dunianya dengan pilihan yang memungkinkan akrab dengan bacaan. Justeru, sekolah Biyya yang menyebabkan muridk UUM IS ini menggemari buku. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam setiap minggu, yaitu mencatat karakter, konflik, dan pengarang buku yang diberikan oleh guru.

Sementara, Zumi belum bisa fokus menikmati karena ia melihat buku sebagai mainan. Menariknya, toko ini menyediakan rak untuk buku untuk anak. Salah satu buku yang berisi cerita berupa mobil-mobilan menarik perhatiannya. Hanya saja, alih-alih mendaras, si adik membunyikan mulutnya seperti suara mobil ketika menjalankan buku di lantai.

Berbeda dengan mainan, ia belum memaksa untuk dibelikan, sementara sang kakak selalu bertanya adakah buku ini mahal? Saya tidak mengecilkan hatinya dengan menjawab, jika senang, ia bisa memilikinya. Namun kalau harganya mahal, kita perlu menyimpan uang untuk membelinya nanti.


Ramadan di Bukit Kachi [22]

Image
Kami telah merencanakan untuk pergi ke mal Aman Central untuk terakhir kali di bulan Ramadan. Sesampai di sana, ibu Biyya segera menuju ke Ayam Penyet untuk memesan meja dan makanan. Alamak! Satu jam sebelum berbuka, meja telah tertulis telah dipesan. Lalu, kami pun memutuskan tempat lain dengan menyisir warung makan di sekitarnya. Ternyata, Kenny Rogers, McD, KFC, Jhonny's, dll telah dipesan. Itulah mengapa kami tidak memboikot waralaba asing, karena dalam keadaan darurat mereka bisa menjadi tempat berlindung dari kelaparan.

Lalu, kami pun bergegas ke lantai 4, tempat medan selera, sebutan food court bagi warga Semenanjung. Ternyata, ada meja kosong di kedai steak yang bertema perahu. Setelah duduk, kami memeriksa menu. Aduhai! Satu porsi seharga RM 18. Setelah berpikir keras, kami pun beranjak. Aha, ternyata medan selera di lantai 3. Alhamdulillah, banyak gerai makanan lokal di sana. Untungnya, ada deretan meja kosong yang menyisakan kursi. Ternyata pada deretan ini, Pak Fauzan…

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Image
Gambar ini diambil oleh isteri ketika saya tertidur. Sebelumnya, saya bangun lebih awal, jam 12-an. Biasanya kami bangun jam 4 untuk bersahur. Tak pelak, selama menunggu imsak, saya melakukan banyak hal, seperti mendengar radio daring, membaca buku, mencuci piring, dan menyapu lantai.

Setelah berjamaah Subuh di masjid, saya segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus sambil menunggu Biyya bersedia ke sekolah. Di tengah menanti, saya membaca Existensialism oleh Thomas R Flynn (2006). Pada halaman 2, ada dua bentuk filsafat: ilmiah dan moral. Yang pertama lebih besifat kognitif dan teoretis, dan kedua pembentukan-diri dan praktis. Model terakhir ini memerlukan disiplin diri tertentu, seperangkat praktik atas diri seperti perhatian pada diet, kontrol perkataan, dan meditasi reguler. Socrates mengamalkannya dengan cara hidup terentu, alih-alih mencapai kejelasan hujah tertentu seperti dilakukan oleh Aristoteles.

Karena kantuk menyerang, saya menyandarkan kepala pada tembok denga…

Ramadan di Bukit Kachi [20]

Image
Sambil menunggu ibunya, kedua anak ini bermain di area ini. Sebelumnya kami mampir ke pasar malam untuk berbelanja tempe dan sayuran. Di sini, kami membeli lampin dan susu yang tidak ditemukan di pasar.

Saya lihat mengapa anak-anak menyukai pasaraya atau mal? Karena di sana mereka bisa bermain dan bergerak secara lebih leluasa. Si kakak membeli kartu SNAP untuk bermain dengan kami nanti, sementara si adik tak meminta dibelikan mainan seperti biasanya. Kami sengaja memberikan kesempatan untuk berada di sini agak lama, baru setelah puas ia diajak keluar secara bergegas. Berhasil!

Hanya saja, setelah sampai di kasir Zumi menyebut egg dengan intonasi yang khas, telur yang berisi mainan dan coklat (Tolly joy). Ia akan memastikan barang ini dibayar lebih dahulu, khawatir dikembalikan ke tempat semula. Sejatinya kami berpikir keras bagaimana mereka tak selalu meminta sesuatu sehingga berlatih untuk tidak ingin memiliki apa yang dilihat.

Ramadan di Bukit Kachi [19]

Image
Tiga anak ini memilih duduk di depan kami karena kursi masih kosong. Setelah duduk, saya bertanya pada anak yang sebelah kanan, sudah jilid Iqra berapa? Jawabnya lugas, 5. Mereka tak henti-henti bersenda gurau sambil menunggu azan Magrib.

Sebelumnya saya telah mencatat beberapa poin penting dari sambutan rektor, pro-canselor, dan da'i. Orang nomor satu di kampus menyampaikan tentang prestasi yang telah dicapai oleh universiti, pembangunan asrama untuk anak yatim yang akan dihuni oleh 8 anak dengan pembiayaan sekolah dan kebutuhan sehari-hari.Tidak hanya itu, mereka akan mendapatkan kursus tambahan seusai sekolah. Tambahan lagi, penggalangan dana abadi (wakaf, endowment) akan digalakkan untuk membantu mahasiswa yang memerlukan. Sementara, pro-canselor mengingatkan bahwa puasa semestinya mempunyai nilai tambah, bukan sekadar menahan diri dari lapar dan harus. Pesan ceramah agama yang saya catat adalah hadits Nabi tentang dua nikmat yang acapkali dilupakan, yaitu kesehatan (al-shihh…

Ramadan di Bukit Kachi [18]

Image
Puasa tahun ini merupakan tantangan tersendiri bagi Biyya. Betapapun bersarapan sebelum pergi ke sekolah, namun ia mesti menahan diri untuk tidak makan tengah hari seperti pada hari biasa di sekolah. Apalagi, pada minggu kedua kakak Zumi harus mengikuti ujian.

Mata pelajaran yang sering membuatnya mengerutkan kepala adalah matematika. Tak pelak, si ibu turun tangan untuk membantu memahami ilmu pasti ini. Tak hanya itu, biyya juga mengambil kelas tambahan seusai kelas pada gurunya. Namun, untuk ilmu sosial, ia relatif bisa memahami dengan baik. Seperti tampak pada gambar, kakak Zumi sedang membaca kembali bahan-bahan yang harus dipahami sebelum ujian.

Kami selalu menghiburnya bahwa belajar memerlukan kesabaran. Meskipun tak sepenuhnya mendapatkan nilai bagus untuk matematika, tapi ia bisa menjawab sebagian soalan. Semoga pengalaman belajar ini ditulis oleh Biyya dalam buku hariannya.

Ramadan di Bukit Kachi [17]

Image
Hingga hari ke-17, saya belum merasakan dadih (susu kedelai) yang dicampur dengan gula aren. Untuk ketiga kalinya saya mencarinya di setiap tenda penjual minuman. Di sela berjalan, saya sempat mengambil gambar seperti tampak di gambar sebelah, sate Jawa. Di sini, saya bertemu dengan Zul, mahasiswa UUM.

Hanya beberapa menit lagi, waktu berbuka akan tiba. Pengunjung bazar tak lagi ramai. Sebagian penjual mengemas jualan. Warung makan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu detik-detik azan Magrib.

Seperti biasa, Zumi harus dibelikan mainan agar bisa duduk tenang. Berbeda dengan hari kemarin, si kecil tak lahap. Malah, ia meremas-remas nasi dan telur yang telah disediakan oleh pelayan warung. Beruntung, ia selalu minta untuk mencuci tangan yang berminyak. Kebiasaan akan membentuk karakter anak. Lalu, anak berusia tiga tahun ini bermain mobil-mobilan seraya memonyongkan mulut meniru bunyi mesin. Berbeda dengan kakaknya yang menikmati makannya karena lapar. Si sulung kadang tampak …

Ramadhan di Bukit Kachi [16]

Image
Biyya protes ketika saya mengajak Zumi ke sini pada hari Jum'at, "You are not fair", padahal sebelumnya saya berjanji untuk mengajaknya ke kantor. Akhirnya, keesokan harinya, saya memenuhi keinginannya. Di sana, ia membuka Oh My English, sinetron kesukaannya, sementara saya menyelesaikan mendaras buku Move Fast and Break Things oleh Jonanthan Taplin.

Namun ketika mencari seri Road to Jogja, si sulung tak menemukannya di You tube. Ia hanya menonton trailer dan teaser. Saya berjanji untuk mencarikannya dalam bentuk DVD nanti ketika mudik. Setidaknya, ia bisa mengisi waktu luang menunggu berbuka, meskipun tak sepenuhnya berpuasa karena jadual sahur dimulai pada pukul 7-an dan berbuka waktu Maghrib serta mengudap roti di waktu sore dalam perjalanan pulang sekolah. Dua minggu yang lalu, neneknya di Madura meminta untuk tak memaksa cucunya berpuasa penuh melalui percakapan telepon.

Nah, di sela-sela percakapan dalam perjalanan pulang dari kantor, saya bercerita tentang tujuan…

Ramadhan di Bukit Kachi [15]

Image
Kami terpaksa ke pasaraya ini karena susu Zumi akan habis. Sebenarnya, supermarket terdekat, yang berlokasi di Changlun, menyediakan merek yang bisa diasup oleh si kecil, namun untuk langkah 3 kosong. Tak pelak, kami harus menempuh perjalanan 40 menit ke Jitra. Sejatinya, kami juga merencanakan untuk membelikan Biyya sepatu berwarna hitam sebagai alas ke sekolah dan piyama untuk kegiatan bermalam di sekolah.

Sambil menunggu berbuka, sementara si ibu membeli susu, saya duduk di kursi warung makan sambil mengawasi keduanya. Dengan riang, si sulung mendorong mainan itu dan si adik dengan gembira menikmatinya. Tak hanya kereta, mereka juga menghampiri semua alat permainan tanpa harus merogoh kocek untuk ditukar dengan koin agar bisa merasakan sensasi gerakan dan bunyi.

Setelah puas, keduanya kembali ke meja makan. 15 menit sebelum Magrib, si ibu menyuapi Zumi nasi ayam. Alhamdulillah, dengan lahap anak yang berulang tahun 11 Juni tersebut mencerna setiap suapan dengan penuh semangat. Per…

Ramadan di Bukit Kachi [14]

Image
Di hari Jum'at, kami ingin tinggal di rumah saja. Tapi, saya terpaksa pergi ke kota untuk membeli obat flu dan multivitamin untuk kakak di apotik. Dengan mengajak Zumi, saya mengajaknya ke tukang cukur dan sekaligus berharap si kecil mau bercukur. Untuk ke sekian kalinya, ia pun menolak. Hanya sekali ia bersedia untuk duduk manis di kursi yang saya duduki ini.

Tukang cukurnya berasal dari India. Di sini, saya menikmati percakapan mereka dan lagu-lagu Tamil. Kebetulan saya juga berjumpa dengan Dr Isyam, kawan sefakultas yang juga memangkas rambut. Hanya perlu 3-5 menit, rambut saya sudah tampak rapi. Lalu, saya menyodor satu lembar 10 ringgit dan menerima kembalian 3 ringgit.

Kepala terasa ringan. Dengan berambut pendek, saya tampak tidak awutan-awutan. Yang tersisa, kapan si kecil mau dirapikan rambutnya. Sang ibu melakukannya dengan gunting dengan penuh perjuangan. Kami sedang merencankan untuk membeli gunting mesin seperti yang dimiliki oleh kedai cukur ini.

Ramadan di Bukit Kachi [13]

Image
Anak ini belum berpuasa. Ia hanya tahu bermain dan bermain. Sekali waktu meniru apa yang dilakukan oleh orang yang terdekat. Agar ibu dan kakaknya leluasa berbelanja kebutuhan sehari-hari, saya mengajaknya ke arena permainan. Untuk ke sekian kalinya, saya tak memasukkan koin dan ia pun tak memintanya agar alat permainan ini bekerja.

Setelah puas mencoba, ia pun akan bertanya ibunya, mama, mama. Selain di sini, ia suka melihat-lihat aneka mobil-mobilan dan robot-robotan. Sebelum diajak, ia meminta untuk dibelikan. Kali ini, ia tak melakukannya. Tapi, ketika kami berada di kasir, ia minta mainan telur, yang ada coklat dan kejutan mainan.

Kami terpaksa meluluskan keinginannya karena jika tak dipenuhi, ia akan bikin ulah di warung makan. Alhamdulillah, untuk ketiga kalinya, kami berbuka di Kak Sah. Menunya hampir selalu sama. Inilah kesempatan kakak bicara, kami pun menimpali. Si sulung tak sabar untuk segera mudik. Ketika menyebut pramugari, ia berhenti sejenak lalu bertanya bahasa Ingg…

Ramadhan di Bukit Kachi [12]

Image
Buku ini dibeli untuk dibaca dalam perjalanan mudik lebaran. Meskipun Biyya pernah bilang tak sabar untuk segera membacanya, namun ia menahan diri. Ketika memegang The Little Brown Bear di toko Populer mal Aman Central, murid UUM IS sempat bertanya, "Is it expensive or not, Ayah?", saya menukas, "No, it is affordable for us."

Dengan menahan diri, ia belajar untuk mengontrol diri. Ketahanan ini penting tidak hanya untuk Biyya, tetapi juga semua anggota keluarga. Ini mengingatkan saya pada Marsmallow test, di mana Walter Mischel menguji daya tahan anak dengan percobaan memberikan manisan yang putih dan empuk. Jika bisa menahan diri pada tawaran pertama, mereka akan mendapatkan lebih banyak.

Kebetulan, di bulan puasa, kata kunci menahan diri (imsak) menempati posisi penting dalam pengertian harfiah dan istilah dari shiyam. Jika kita bisa menunda, maka kita telah belajar untuk menerima keadaan apapun yang terjadi dalam hidup. Ketahanan diri (resilience) mungkin mudah …

Ramadan di Bukit Kachi [11]

Image
Setiap kali menjemput Biyya, saya selalu mengitari kawasan sekolah. Selain melihat keriangan anak-anak berlarian dan berteriak, saya juga memerhatikan prakarya dan poster yang ditempel di dinding. Seperti tampak gambar di sebelah, di depan pintu kelas 2, ada beberapa gambar sastrawan yang mewarnai kesusasteraan dunia, seperti Emily Dickinson, Christine Rosseti, dan Edgar Allan Poe.

Anak-anak diperkenalkan pada khazanah dunia untuk meluaskan cakrawala dan pada waktu yang sama merespons isu terkini dalam bahasa mereka. Di bawah poster, ada banyak coretan para murid tentang puasa. Dengan kewajiban ini, mereka mengatakannya sebagai jalan untuk menghormati Tuhan dan peduli terhadap orang miskin.

Sejauh apapun membaca dan berkelana, mereka akan memahami dunia yang dijalani. Tak hanya hari puisi dunia yang dirayakan, hari bumi turut diberi perhatian dengan menyelenggarakan pentas dan kegiatan peduli pada lingkungan. Ada benang merah antara ide dan tindakan. Sememangnya, pendidikan berada pa…

Ramadan di Bukit Kachi [10]

Image
Mengikuti Rancangan Strategik UUM yang disampaikan oleh IPQ, saya duduk selama hampir 1 jam setengah. Setelah mengambil gambar, saya menyimak pendedahan bagian kualitas universtas tentang apa yang harus dicapai oleh pengajar terkait pengajaran, penulisan dan pengabdian.

Setelah itu, saya mengikuti rapat penyelasan kualitas fakultas, terkait pengumpulan dokumen dosen. Di sela-sela perbincangan, kami bertukar pandangan yang serius dan kelakar. Di balik kertas-kertas rancangan pengajaran, daftar hadir, soal ujian dan jawaban, ada banyak keinginan yang bisa diurai, yaitu pemeriksaan kembali apa yang telah dilakukan oleh staf pengajar.

Pada sore hari, saya menjemput Biyya di sekolah. Kegiatan rutin ini selalu mendatangkan pengalaman-pengalaman baru. Tidak hanya dinding sekolah yang dihiasi oleh pelbagai prakarya, seperti nama-nama penyair Barat, tetapi juga tingkah murid yang mengandaikan dunia tersendiri. Setiap kali sampai di depan kelas, kawan-kawannya berteriak, ayah Biyya! Secara oto…

Ramadhan di Bukit Kachi [9]

Image
Pada pagi hari saya merayau-rayau di sekitar kampus. Selain mengantar kertas jawaban ujian mata kuliah Filsafat dan Etika ke rektorat saya mampir ke perpustakaan. Hujan rintik. Saya berjalan menyusuri lorong beratap seng. Dengan memilih menggunakan kaki, saya menerapkan apa yang selalu dikatakan di kelas bahwa adalah zalim jika kita tak memanfaatkan anugerah Tuhan berupa dua penyangga tubuh. Apalagi, seeloknya setiap orang berjalan 8000 langkah setiap hari agar sehat dan cergas.

Pada sore hari, kami pergi ke pasar Ramadan untuk menikmati suasana dan membeli kue untuk berbuka, seperti klepon, karipap, dan lupis. Kami memanjakan kaki dan mata melihat pelbagai aneka makanan dan kudapan. Sebelumnya, ibu Biyya telah menelepon Kak Sah, pemilik warung masakan Kelantan, sekaligus memesan meja agar nanti kami bisa berbuka di sana. Begitu banyak makanan, betapa selera seakan ingin melahap semua.

Pada malam harinya, setelah tarawih saya membeli obat Hurix's sirup di toko asrama. Tenggorokan…

Ramadhan di Bukit Kachi [8]

Image
Di hari libur, saya mengajak Zumi ke kampus. Ia senang alang-kepalang ketika melihat begitu banyak mainan mobil-mobilannya di kamar kerja. Saya sengaja menyimpannya sebab di rumah barang yang sama juga ada, sehingga mainannya bisa diselamatkan. Maklum, ada banyak suku cadang atau badan mobil retak, rusak, dan lepas.

Tak perlu waktu lama, ruangan berantakan karena mainan itu bertebaran di mana-mana, seperti pojok, bawah meja dan karpet. Lalu, saya memutar serial Upin-Upin agar ia bisa menonton dan duduk tenang, sementara saya bisa menyimpan kembali mainannya dengan harapan nanti adik Biyya ini belajar menempatkan barang di tempat yang telah disediakan. Mobil pemadam kebakaran yang tampak dalam gambar adalah salah satu korban imajinasi, yakni mobil bisa terbang dan meluncurkan deras ke lantai. Ban depan tanggal sehari setelah dibeli. Saya memindahkan ban belakang ke depan. Di mana saya bisa mendapatkan roda pengganti?

Kue oat yang disiapkan ibunya dihabiskan di sela asyik dengan mainan…

Ramadhan di Bukit Kachi [7]

Image
Setelah memasuki seminggu puasa, tubuh bekerja seperti mesin saja, kapan kosong dan terisi. Namun tetap saja angin penyegar udara menusuk tubuh bila badan terpapar dalam waktu lama. Hari ini, saya mengawasi ujian Filsafat Moral dan Etika. Batuk yang menyerang semalam masih bertahan di badan. 
Di tengah menemani mahasiswa menjawab soal, saya sempat memerhatikan ketua pengawas yang sedang mendaras buku Adolf Hitler, Mein Kamft. Wajahnya tenang berjanggung panjang. Benak tiba-tiba merenung tentang paradoks. Dengan Inggeris yang fasih, beliau mengumumkan ujian akan segera berakhir dan meminta mahasiswa tidak lagi menulis. Setelah usai, saya pun berkata bahwa bukunya menarik. Ia pun membalas bahwa kita perlu membaca ide-ide besar di luar sikap kita terhadap bersangkutan. 
Di sore hari, saya dan keluarga memenuhi undangan pengurus Persatuan Pelajar Indonesia UUM. Seperti tampak dalam gambar, Bapak Irwan, konsul, dan Ibu Isana, pelaksana fungsi Sosial Budaya, ditemani Pak Syafii, dosen tamu…

Ramadhan di Bukit Kachi [6]

Image
Hampir segenap seminggu, saya baru berjumpa secara kebetulan dengan ustaz di pagar masjid. Ia pun bertanya, "Balik kampung?", Saya menukas, "Ya, kami akan mudik". Saya melihat aura yang tenang dan ramah dari staf Pusat Islam ini.

Untuk hari itu, saya melakukan aktivitas seperti biasa, mengantarkan Biyya ke sekolah dan lalu ke kampus. Sepanjang perjalanan, kami bicara banyak hal. Sekali waktu, ketika kakak Zumi ini asyik dengan pikirannya, saya memerhatikan pagi yang lengang karena warung di tepi jalan tutup. Selalu saja sinar matahari pagi yang menimpa bukit itu mendatangkan ketakjuban.

Seperti direncanakan malam sebelumnya, kami ingin berbuka di Mal Aman Central. Seperti tampak dalam gambar, saya dan Zumi sempat berfoto bersama di miniatur masjid yang sengaja direka untuk menyambut Ramadan. Ada pohon kurma, yang tampak seperti asli, padahal terbuat dari plastik. Pelantang suara memutar instrumentalia padang Pasir dengan suara biola yang dominan, tak lama kemudian…

Ramadhan di Bukit [5]

Image
Setiap berjalan ke surau untuk bersembahyang Subuh, saya berusaha untuk menikmati setiap langkah kaki dengan mereguk udara segar dan merasakan alam dan seluruh isinya. Sekali waktu di simpang tiga, bau bunga menyeruak begitu saja. Bulu roma berdiri, saya merinding. Lalu, rasio menyergah bahwa ini fenomena alam. Gila, tubuh ternyata juga digerakkan oleh rasa. Di waktu lain, gemericik air terdengar lebih keras dari biasanya. Tak jarang, saya sengaja berdiri di bawah pohon yang ditinggali oleh burung. Eh, ternyata pengicau ini diam setelah tahu ada orang di bawahnya.

Sejatinya apa yang dilakukan atas, saya juga sering lakonin di luar Ramadhan, termasuk membaca surat kabar dan buku. Kebetulan, koran Sinar Harian edisi 31 Mei 2017 memuat tulisan tentang lingkungan yang dikaitkan dengan iman. Kepercayaan itu nyata dengan kepedulian pada alam sekitar, sesuatu yang jarang dibela dengan mati-matian dibandingkan dengan isu kafir, murtad, dan syariah formal. Andaikata, iman itu bisa hadir di ma…