Posts

Showing posts from March, 2006

Percakapan

Mendengar yang lain (Zuhören) dan berujar satu sama lain (Ansprechen) merupakan aspek yang penting dalam sebuah percakapan. Hal ini memberikan sebuah keterbukaan yang secara serentak menyebabkan sebuah percakapan baik yang tidak bisa diperkirakan maupun yang menghasilkan. (Robert J. Doztal, 2002, 107)

Kita setiap hari melakukan percakapan untuk menyampaikan maksud. Tak jarang, maksud kita tidak sampai karena pelbagai alasan. Meskipun, sebagian besar pesan sampai berkenaan dengan kebutuhan dasar kita. Lalu, maksud apakah yang belum sampai?

Aturan yang dibuat untuk menjaga kenyamaan satu-sama lain adalah longgar. Kadang, kehidupan berjalan tidak seperti yang tertulis di atas kertas. Jika sebegini, nikmati aja semua agar 'suara bising' itu pun menjadi alunan merdu lagu buluh perindu.

Percakapan itu tidak hanya mengulang-ulang, mesti ada kelanjutan dari sebuah gagasan. Ini akan berjalan dengan baik, jika masing-masing mempunyai pengetahuan yang memadai untuk menguak 'kisi-kisi&…

Dua dunia dalam Satu Jiwa

Kemarin langit mendung, sekali-kali turun rintik hujan. Dingin menusuk tulang. Tapi, hidup terus berjalan. Sekarang, langit cerah dan terik matahari menyapu bumi. Kontras dengan peristiwa kemarin. Kekinian menjadi terasa berbeda karena saya membandingkan dengan kemarin. Semua mempunyai keunikannya sendiri. Hanya jiwa yang menilai bahwa masing-masing menunjukkan 'kondisi' yang menciptakan gambar tak tunggal. Ragam ini membelajarkan diri untuk selalu mengatakan 'ya' pada keadaan apa pun. Tak perlu gundah dan resah, saya akan hidup dalam sejarah yang acapkali tidak dimaksudkan, sebab kenyataan itu objektif.

Pindah Ke Lantai 9

Pagi yang diselimuti mendung, bumi dihinggapi tetesan air dari langit yang muram, kabut di bukit masih betah menelungkup dan tak mau beranjak, suasana yang benar-benar beda dengan hari-hari sebelumnya.

Saya bergegas ke kantin bawah untuk sarapan agar mempunyai tenaga memulai kegiatan yang membosankan. Lalu, ilham muncul untuk segera mengemas barang ke atas, agar dunia baru lahir di ketinggian 200 kaki, dengan pemandangan bukit yang hijau segar. Sedikit demi sedikit, ruang baru yang masih tersisa bau cat dan debu. Ada warna lain yang menyeruak mengisi 'benak'. Mungkin, di atas, saya bisa melihat lebih luas dan juah dibandingkan dengan kamar di lantai satu yang hanya dibekap dalam pemandang parkir dan lalu lalang orang.

Hari pertama, tetangga kamar, mahasiswa Cina yang sedang belajar kaji hayat (biologi) membuka lembaran baru saya. Namanya Jerry. Tampak muda sebagai kandidat Doktor. Orangnya ramah. Mungkin, lain kali, kami bisa bercakap tentang kenyataan dalam ranah ilmu ini.

Selal…

Science, Religion dan Development

Pagi ini, saya berangkat dari kamar, menembus rintik hujan, menuju kantin Harapan: sarapan. Kadang, saya ingin melewati masa ini, karena rutinitas ini menyebalkan. Di sana, saya bersua dengan Pak Supian dan Pak Armyn. Pertemuan yang memunculkan cerita dan tentu saja membuka pagi dengan 'wacana'. Karena spontan, tema yang muncul berlompatan. Tak fokus.

Dengan terburu-buru, saya ingin segera sampai ke ruang seminar Agama, Sains dan Pembangunan, yang akan disampaikan oleh Profesor Dr Azizan Baharuddin dari Universitas Malaya, institusi pendidikan tinggi tertua di negeri Jiran. Setelah presentasi pengantar, Dr Lily mencoba untuk menegaskan wacana pertemuan dan perbedaan tiga entitas ini.

Dalam sesi tanya-jawab, saya memprovokasi dengan mengajukan tesis: bahwa agama dan sains gagal mengawal kemanusiaan. yang pertama telah dijadikan instrumen untuk kekuasasan, baik politik maupun ekonomi, dan yang kedua telah membuat kerusakan lingkungan. Lalu, adakah alternatif lain agar pembangunan …

Masyarakat Berpengetahuan

Menuju Sebuah Masyarakat Berpengetahuan adalah gagasan yang dikatakan Evers berciri, anggotanya mempunyai standar pendidikan tinggi dibandingkan masyarakat lain dan pertumbuhan proporsi angkatan kerjanya yang digunakan sebagai pekerja pengetahuan, industrinya menghasilkan produk dengan inteligensi artifisial terintegrasi, organisasi-organisasinya - swasta, pemerintah dan masyarakat sipil - bertransformasi menjadi organisasi inteligensi, terjadinya peningkatan pengaturan pengetahuan di dalam bentuk keahlian yang digitalisasikan, disimpan di dalam bank data, sistem ahli, rencana pengaturan dan media lain, ada pusat beragam keahlian dan produksi pengetahuan berpusat pada ragam (poly) dan ada kultur produksi pengetahuan dan pemanfaatan pengetahuan epistemik (Evers, 2000).

Lalu, dengan membandingkan Indonesia dan Malaysia, Evers, menemukan angka-angka yang menunjukkan Malaysia berada di depan dibandingkan Indonesia, tentu saja dengan segala implikasinya. Tiba-tiba, apa yang bisa kita lakuka…

Menyesuaikan Hidup dengan Cerita

Kemarin, saya kembali ke perpustakaan untuk meminjam kumpulan cerpen dan puisi tanpa novel, di antaranya Kastil Mati dan Kastil Menderunya Joni Ariadinata, Hijau Kelon dan Puisi 2002 Soetardji Calzoum Bahri, Wisanggeni, Sang Buronan Seno Gumira Ajidarma dan Senja yang Paling Tidak Menarik Areswendo Atmowiloto.

Dengan takjub, saya menelisik huruf-huruf yang tertera di buku Joni, karena isinya adalah masa lalu, yang dulu tak terpikirkan dan mampir di benak. Joni telah merekam dunia yang dekat dengan saya, waktu kos di pinggiran kampus IAIN. Sebagai mahasiswa, saya tidak banyak bergaul dengan para begundal, keluarga miskin dan anak-anak terlantar di sekitar kampus. Kegiatan kami bergerak dari satu wacana ke wacana lain. Sesuatu cerita besar.

Lalu, apakah sekarang saya masih sama? Ya, tak berubah. Bahkan, lebih naif, karena kami banyak menghabiskan waktu di meja makan, kasak kusuk tentang mereka yang harus dilawan karena tak ingin bersama kami lagi, permainan, gosip dan hampir tak ada keing…

Michael Moore, Sang Pendobrak!

Kebiasaan membaca rubrik on line Media Indonesia terus membuka kemungkinan baru. Rubrik resensi membuka 'pilihan' yang beragam, seperti hari ini, Wartarwan Media menulis resensi buku Michael Moore bertajuk Will They Trust Us Again, tentang nasib 'tentara' Amerika di Iraq. Sebuah usaha yang luar biasa untuk memahami 'suasana' batin sebenarnya dari para serdadu yang gagah itu.

Betapa seriusnya, pembuat film dokumenter Fahrenheit 9/11 membuat tulisan yang mengusung tema 'anti-perang' dengan mengungkap 'penolakan' serdadu itu sendiri terhadap perang. Ribuan surat tentara Amerika mengalir ke negerinya untuk memberitahu bahwa perang itu tidak berguna. Tapi, kepongahan telah membungkam 'nurani' mereka dengan dalih pembebasan, penegakan nilai demokrasi dan segepok nilai-nilai lain.

Sementara, kita di sini melihat kesengsaraan korban perang di depan mata [melalui televisi], tapi, tak mampu berkata-kata sebab mereka ternyata ada di kejauhan sana. Gl…

Cerpen dan Novel

Membaca cerpen Korrie Layun Rampan (Wahai, Rawa), Hamsad Rangkuti (Sampah Bulan Desember), Herry Gendut Janarto (Sang Presiden), Pamusuk Eneste (Isabel Blumenkol) dan novelnya Umar Kayam Jalan Menelikung: Para Priyayi 2, saya merasa menelusuri cerita pelbagai keunikan negeri sendiri. Para penulis cerdas ini telah mendedahkan pada saya tentang dunia Keindonesiaan dalam versi narasi kecil, bukan besar.

Memang, tak dapat dielakkan, kebutuhan manusia itu sama aja di seluruh pelosok. Tapi, cara dan gaya memperoleh dan menggunakannya dalam keseharian bersifat khas, tidak sama. Bahkan, mungkin mereka bertentangan satu sama lain.

Kecepatan menyelesaikan bacaan di atas adalah upaya segera mendapatkan makna. Menurut Gadamer (1970, 325) Kita menemukan bahwa makna tidak bisa dipahami dengan sebuah cara arbitrer. Sebagaimana kita juga tidak bisa secara terus-menerus secara salah memahami penggunaan kata tanpa terpengaruh pada makna keseluruhan, sehingga kita tidak bisa menegaskan secara buta makna-d…

Sein and Bewusstein

Long before we understand ourselves in retrospective reflection, we understand ourselves in self-evident ways in the family, society and state in which we live. The focus of subjectivity is a distorting mirror. The self-reflection of the individual is only a flicker in the closed circuits of historical life (Gadamer, Truth and Method, hlm. 245)

kita telah 'mengenal' diri kita dari keluarga, masyarakat bahkan negara. Gagasan-gagasan kita yang merupakan pertimbangan objektif atau keputusan rasional itu sendiri adalah gagasan dari sebuah tradisi tertentu. Apa yang dianggap sebagai determinasi objektif, tak bersyarat tentang sebuah ranah-objek tertentu adalah dibentuk oleh tradisi kita atau, lebih tepatnya, oleh apa yang dianggap tradisi kita sendiri objektif atau tak bersyarat.

Di sini, kita akan menyadari bahwa objektivitas itu sendiri menjadi subjektivitas yang akan bertemu dengan pengalaman orang lain dengan cara yang sama. Sebab, pengalaman ini bersifat universal. Implikasi d…

Documentary in the Digital Age

Image
Hari ini, saya mengembalikan buku pinjaman ke perpustakaan. Karena terlambat, saya harus membayar 60 cent. Seharusnya, saya tidak perlu membayar untuk sesuatu yang tidak perlu, karena keteledoran mengembalikannya tidak tepat waktu. Memang, nilainya tidak besar, tapi itu tidak bisa ditolerir karena acapkali dari pengabaian yang kecil akan merembet ke hal besar yang lebih fatal, bukan? Tapi, itu terobati dengan adanya buku baru di Perolehan Baru berjudul Documentary in the Digital Age oleh Maxine Baker. Pertimbangan pertama agak aneh, sebab saya mencomot buku ini dari tempat display karena ia diterbitkan tahun 2006. Kedua, niat untuk membuat resensi buku ini sangat kuat.

Dengan latar yang miskin tentang film, saya mencoba untuk memahami film, yang dilihat Baker, bahwa film dokumenter yang tidak fiksi adalah minat terbesarnya, yang berbeda dengan film populer, film yang saya sangat suka. Merubah selera tentu saja bukan pekerjaan mudah, karena menabrak kebiasaan yang telah mendarah-daging.…

Musik, Agama dan Politik

Jumat, 17 Mar 2006,

Musik, Agama, dan Politik

Oleh Ahmad Sahidah
Pelarangan musik Barat di Iran oleh Presiden Ahmadinejad yang berpandangan ultrakonservatif menambah panjang daftar kontroversi sepak terjangnya. Sebelumnya, dia menyatakan Israel perlu dihapus dari peta dunia dan sejarah Holacoust, pembunuhan 6 juta orang Yahudi oleh Nazi Eropa pada Perang Dunia Kedua, adalah gombal. Sementara Eropa sekarang tidak memedulikan penindasan Israel terhadap Palestina. Tentu saja, pembangunan reaktor nuklir paling banyak menyedot perhatian kalangan internasional untuk mengikuti perkembangannya.

Meski pernyataan orang nomor satu di Republik Islam Iran itu diserang banyak politisi dan pejabat pemerintahan di Eropa, Amerika, dan Australia, dia bergeming. Dia menganggap pendapatnya sebagai kebebasan berekspresi yang sejatinya harus dijunjung oleh orang Barat yang gandrung akan toleransi terhadap perbedaan.

Namun, instruksi sang presiden agar musik Barat tidak dikumandangkan di sejumlah radio dan te…

Wirkunggesschichte atawa Sejarah Efektif

istilah ini diajukan oleh Gadamer untuk merumuskan sebuah pemahaman yang bergerak bolak-balik antara masa lalu dan masa kini. Tentu saja, ini menabrak asumsi bahwa kita bisa memaham teks masa lalu secara objektif, apa adanya. Masa kini adalah subjektivitas kita yang tak dapat dielakkan. Meskipun, berupaya keras menghadirkan masa lalu, tetapi kejadian lampau itu telah banyak kehilangan, hanya dekonstruksi yang memungkinkan ia hadir kembali.

Musik Keroncong

Pernahkah kita mencoba untuk mengingat kembali kepingan peristiwa kanak-kanak? Tak perlu dilakukan, sebab, ia tiba-tiba sering hadir bersama dengan stimulasi yang ditimbulkan di sekeliling kita.

Seperti pagi ini, saya mendengarkan lagu keroncong. Terbayang samar, saya membayangkan tentang siaran TVRI zaman baheula dan saudara mbah saya yang demen ama musik ngak-ngek-ngok ini. Lagunya lambat, hampir tidak pernah berlari. Penyanyinya memakai kebaya, sanggul dan tampak anggun dengan geraknya yang lamban. Sambil mengetik, lagu ini membantu 'sikap' terburu-buru untuk melakukan semua. Ia telah menjadi interlokutor, agar saya lebih menikmati kerja.

Di siang hari, biasanya lelah menghinggapi tubuh, meskipun otak ingin terus bekerja. Instrumen musik sederhananya mampu menemani raga yang mulai 'berkurang' tenaganya. Pikiran mulai menunaikan tugasnya untuk memilih antara 'makan' dan meneruskan menekuri layar komputer. Tak perlu gundah, makan dulu, nanti semuanya akan terang…

Karnival Restu

Semalam, ada pesta di flat Restu. Bertempat di kantin, acara digelar. Selain sambutan, dua acara hiburan yang cukup membuat malam marak. Tarian kreatif Borneo menampilkan penari-penari energik dengan musik berdetak cepat. Memang tidak semagis tarian Bali, tapi cukup mengundang penonton bertepuk tangan. Disusul kemudian dengan penampilan teman kami Woelan dan Caca, yang membawakan lagu Kris Dayanti dan Misha Oemar. Meskipun sempat terganggu oleh kesalahan teknis, karena musik karaoke tidak bisa dioperasikan, tapi kedua penyanyi teman kami ini tidak down. Keduanya tetap dalam performa yang baik, bahkan tak jarang senyam-senyum di atas panggung sederhana itu.

***

Pagi ini, bumi menyisakan basah, karena hujan semalam. Suasana begini membuat saya betah menikmati 'alam'. Adakah yang lebih nyaman dari ini? Matahari bersinar terang, pohon dan rerumputan tampak segar dan air di kali yang membelah kampus tidak kotor. Ditambah dengan lagu-lagu lembut, saya benar-benar mengalami 'kerian…

Memelihara Diskursus

Saya sangat senang Pak Tahir akhirnya mau 'menghangatkan' diskursus tentang perubahan sosial yang sedang melanda kehidupan organisasi pelajar Indonesia di USM.

Respon Pak Dolok tentu saja menguatkan asumsi bahwa secara batiniah, antarpribadi tidak dihambat oleh sikap a priopri, yang selama ini menghantui relasi pelajar Indonesia.

Bahkan, hal Ini makin membuka lebar 'ruang' silaturrahmi, di satu sisi, dan perdebatan 'akademik' di sisi lain (bukankah yang terakhir memang diandaikan oleh teman-teman yang tergabung di IPSAA?).

Kehadiran organisasi baru serta merta akan menimbulkan 'gejolak' karena mempunyai sejarah dengan organisasi sebelumnya. Mereka yang terlibat di dalam organisasi ini adalah 'sempalan' orang-orang penting di PPI masa doeloe.

Kadang, kita perlu dengan sangat sungguh-sungguh membicarakan masalah ini. Tidak selamanya diam itu emas. Pengetahuan itu lahir dari percakapan dan tulisan.

Komunikasi politik yang berkembang selama ini masih tid…

Hari yang Beda

Saya hanya perlu mengubah sedikit dari kebiasaan, agar tidak merasa dibelenggu 'jam' waktu. Pagi dini hari, dengan sedikit linlung, saya bangun untuk nonton Real Madrid melawan Arsenal. Terus terang, lima pemain Brazil di barisan El Real membuat saya melupakan 'lelap'. Hampir selama 90 menit, mata ini terus memelototi layar tv di ruang bawah flat Restu. Sayangnya, penyerang sekaliber Ronaldo belum menemui keberuntungan menjebol gawang Arsenal. Hasil seri ini menyebabkan klub terkaya Spanyol ini tersingkir.

Tapi, kekalahan bukan sebuah peristiwa yang perlu disesali. Ini hanya permainan, tempat segala ekspresi hadir, histeria, tangis, gembira, atau tak jarang berakhir dengan perkelahian. Lebih baik, drama ini dilihat sebagai pelengkap dari seluruh cerita, yang juga bisa digeser dalam ranah kehidupan sehari-hari. Potongan-potongan peristiwa melengkapi keseluruhan 'kisah'. Jika, ia tidak menyenangkan, lewati saja, dan mencoba untuk menghadirkan cerita lain.

Hari ini,…

Kebahagiaan dalam buku atau dalam realitas?

Image
"Kebahagiaan adalah makna dan tujuan hidup, seluruh cita-cita dan tujuan keberadaan manusia," demikian ujar Aristoteles dalam The Nicomachean Ethics.

Inilah cuplikan dari berita Republika:

Memang, kita semua menyadari bahwa sejatinya hanya satu tujuan dalam hidup ini: menjadi bahagia. Namun, kebahagiaan itu rasanya begitu jauh sehingga sebagian orang merasa tak akan pernah sampai ke sana. Karena meraih kebahagiaan itu sulit maka banyak buku telah ditulis sebagai seikat ilmu dan panduan untuk menghampirinya.

Pada November 2005, Mizan menerbitkan buku Authentic Happiness: Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif karya Martin EP Seligman PhD. Buku ini diberi kata pengantar oleh Jalaluddin Rakhmat.

Untuk membantu kita menemukan kebahagiaan, Martin menawarkan alternatif baru psikologi, yaitu psikologi positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, psikologi positif mengarahkan perhatiannya pada sisi positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga…

Rutinitas itu mengasyikkan atau tidak?

Setelah dua hari berbaring karena deman, saya kembali bugar. Sakit yang membawa 'pikiran' baru untuk menguji kembali 'hidup' yang rutin, banal dan tak ada yang baru. Semua berjalan seperti sekrup mesin dan mengikuti 'alur' begitu saja.

Berada di depan komputer, saya kembali membuka berita on line sejumlah surat kabar Indonesia, mengetik bahan disertasi dan mengisi halaman blog. Tak jarang, saya bekerja melompat-lompat dari satu bidang ke bidang lain, meskipun tidak beranjak dari kursi. Sepertinya, saya menikmati pekerjaan ini. Blog, disertasi, baca koran silih berganti membentuk 'aliran' peristiwa yang memancing otak untuk bekerja, intuisi tertantang, dan hati merasakan kembali pelbagai informasi yang berdesakan memenuhi ruang ingatan.

Aneh, kadang, saya tidak bisa mengingat begitu banyak kabar dari koran, padahal saya telah melewatinya. Mungkinkan, ia tidak berkesan, ataukah ini yang disebut informasi berlebihan? Atau kita perlu memilih yang mana dari se…

Malam Indonesia

Pagelaran budaya antarbangsa di Universiti Sains Malaysia makin menyadarkan kami bahwa di sini semua bertemu untuk menampilkan ragam dan latar belakang, lalu belajar bertenggang rasa.

Selamat untuk teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia yang telah menampilkan 'keindonesiaan' berbingkai lagu berbagai daerah di Indonesia. Sebuah atraksi yang betul-betul mengajak saya kembali bertamasya ke bumi pertiwi: Sumatera, Sunda, Jawa dan Jakarta. Tidak itu saja, tarian dan kumpulan band [arie, toni, fermi, didit, niko] makin membuat penampilan tarian hidup. Terus terang, emosi seakan meledak, karena mereka menyuguhkan 'persembahan' yang riang, cantik dan eye-catching. Agak subjektif memang, tapi siapakah yang bisa mengingkari nurani bahwa saya lebih 'ngeh' dengan sesuatu yang saya kenal, mendarah daging dan bagian napas selama ini? Tidak ada. Sebiji zarahpun.

Seluruh rangkaian lagu diakhiri lagu Coklat Merah Putih, sebuah penutup yang manis tapi juga membuat hati miris: pa…

Buku

Image
Buku yang merubah seseorang, seperti Nietzsche yang menemukan buku di toko loak, Levi Strauss dengan buku Jacobson. Ternyata, buku benar-benar telah merubah secara dramatik kehidupan pembacanya. Bahkan, Strauss menyebut buku itu seperti wahyu. Luar biasa, bukan?

Lalu, pernahkah kita juga mengalami hal sama? Kalau tidak, seberapa seriuskah kita mencoba untuk melakukannya? pertanyaan ini tentu menggoda banyak orang untuk menjawabnya.

Dialektika Peradaban

Image
Buku terjemahan saya yang lain: tentang pertengkaran antarmanusia dalam skala 'lebih luas'.


Penulis : John L. Esposito, Mohammed Arkoun, Mohammed 'Abed Al-Jabri, et.al.
Cetakan : I, Oktober 2002
Jumlah Halaman : 384
Penerbit : Qalam
Harga : Rp 42.000
ISBN : 979-9440-22-X


Dari beragam tinjauan dan sudut pandang, para kontributor Dialektika Peradaban ini membongkar hubungan antara Islam dan Barat yang hingga kini masih menyisakan persoalan-persoalan krusial yang tak kunjung usai. Persoalan-persoalan tersebut tidak semata berkisar pada urusan persinggungan agama, tetapi juga pada perbenturan kepentingan hegemoni ekonomi, dominasi politik, dan ekspansionisme satu budaya terhadap yang lainnya. Karena itulah perlu terus diupayakan dialog-dialog lintas kebudayaan dalam iklim kesetaraan untuk mendialektikakan segala persoalan krusial agar sampai pada sintesis yang lebih berkeadilan bagi kedua pihak. Buku ini mencoba mengungkap bagaimana hubungan dialektis antara Islam dan Barat, yang sel…

Kebenaran dan Metode

Image
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/details.asp?id=65

Debat Kritis tentang Imanensi Fenomenologis

Oleh: Syafruddin Azhar


Judul buku : Kebenaran dan Metode
Judul asli : Truth and Method
Penulis : Hans-Georg Gadamer
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Edisi : 2005
Tebal buku : xxix + 676 hlm

"Bahasa bukanlah konvensionalismenya yang rumit, juga bukan beban praskematisasi yang membebani kita. Tetapi, bahasa adalah kekuatan generatif dan kreatif yang tanpa henti membuat keseluruhan ini mengalir. (Hans-Georg Gadamer, 1975)

TOPIK hermeneutika merupakan fenomena paling menarik bagi para ilmuwan dan teoretikus modern sekarang ini. Istilah ini dalam historisitasnya berasal dari akar kata Yunani hermeneuein (menafsir) dan hermeneia (tafsiran). Dalam mitologi Yunani, istilah ini identik dengan sosok Dewa Hermes yang bertugas menghubungkan pesan dari Dewa Jupiter kepada manusia. Akan tetapi, pesan te…

Jazz

Image
Jika saya hanya berkutat pada apa yang telah dialami, tanpa mencoba untuk berubah, dengan membaca, mendengar dan mendialogkan kemungkinan baru, maka dengan sendirinya saya telah 'mematikan' seluruh eksistensi ini.

Setelah membaca dua buku dan mendengar jazz yang jarang dinikmati, maka dunia seakan mewartakan bahwa hidup saya masih panjang dan perlu untuk menerokai 'ranah' baru agar terbuka 'isi' dunia. Mungkin, citra jazz sebagai musik kelas menengah, eksklusif turut mendorong cita rasa yang terpendam dalam bawah sadar untuk naik ke permukaan dan akhirnya saya menjadi bagian dari kelas itu. Tidak menarik, bukan? Biarlah, toh, saya tidak membawa aksesoris kelas itu, hanya pada rasa, bukan benda. Ups, tunggu dulu, kenapa saya tiba-tiba berbicara kelas, padahal dengan posisi yang sekarang secara sosiologis, saya adalah kelas menengah dan tiba-tiba nyinyir dengan kata ini? Ya, kadang di dalam diri sering bertabrakan antara menjadi 'yang tertindas' dan penind…

Kalimantang

Biasanya saya keluar kamar pukul 9, tapi hari ini 8.30, saya udah melangkah, ingin duduk dan membaca cerpen, tepatnya kumpulan, Budi Iman Santoso di pojok Restu yang menghadap ke bukit hijau dan angin hilir mudik membelai tubuh.
Benar-benar pagi yang menyenangkan. Ingin rasanya, hawa pagi itu berjalan hingga sore, sebab siang di sini adalah panas yang lembab, tak enak untuk kulit. Meskipun, acapkali saya berada di ruangan berhawa dingin karena AC, tapi kulit mengering, berbeda dengan angin pagi dari balik bukit yang menyegarkan, menyelusup di pori-pori hingga ke dalam dan tubuh seperti terangkat melayang. Jam 9, kami pun berangkat ke Kantin Harapan untuk sarapan. Ingat, hindari gorengan! Ah, hidup ternyata perlu memilih. Mau sehat atau tidak? Herannya, dua pilihan ini silih berganti, meskipun yang pertama adalah yang utama.