Monday, November 28, 2011

Mengisi Hari Pertama


Apa yang harus dilakukan oleh sebuah keluarga di hari libur? Diam di rumah, berpesiar, atau silaturahim adalah pilihan. Kami memilih mengunjungi danau Aman, tak jauh dari rumah. Karena matahari masih naik sepenggalah, tak banyak orang yang mengunjungi tempat bermain dan danau buatan ini. Mereka yang datang bisa dihitung dengan jari. Biasanya, musim liburan, tempat ini dipenuhi hiruk-pikuk dan hilir-mudik pengunjung.

Setelah puas berada di area permainan di atas, kami pun beranjak ke tepi danau. Di sana, kami pun melempar roti ke permukaan air. Ikan-ikan pun berlompatan, berebut, dan melahap pakan dengan lahap. Ini mengingatkan kami pada kebiasaan memberi makan ikan di danau kampus Minden, Pulau Pinang.

Sunday, November 27, 2011

Azam Tahun Baru


Saya seringkali mengambil gambar dari objek yang terpampang di depan mata dalam sebuah perjalanan menuju ke sebuah tempat. Semua gambar itu menjadi bahan untuk perenungan. Nah, menyambut tahun baru ini, saya pun mencari-cari gambar apakah yang cocok dengan azam atau resolusi kali ini? Setelah memeriksa gambar yang disimpan dalam komputer, saya memilih gambar di atas sebagai azam. Tidak berlebihan, bukan?

Bagi saya, amalan hidup sehat itu mudah diucapkan, tetapi susah dilaksanakan. Kegiatan sukan, misalnya, adalah aktivitas fisikal yang dulu sering dilakukan, sekarang terabaikan. Ketika masih tinggal di Pulau Pinang, saya sering bermain bola di lapangan kampus USM. Tak hanya itu, kaki ini juga sering menapaki trek stadion di pagi hari, seraya berharap menikmati kokok ayam. Bahkan, di lain waktu, saya pun berlari menyusuri jalan beraspal untuk menemukan suasana baru. Untuk tetap cergas, saya pun menyiasati dengan berjalan kaki. Di UUM, saya sering mengayunkah langkah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sekali waktu, saya memilih berjalan kaki dari kamar ke kantin, perpustakaan, ruang kuliah dan terjauh adalah varsity mall. Nah, yang terakhir ini memungkinkan saya menikmati jembatan yang di bawahnya sungai mengalir. Belum lagi, lorong panjang yang diatapi bumbung membuat saya bisa bernaung.

Lalu, bagaimana dengan pengelolaan stres? Mungkin, siapa pun hanya perlu menjaga bagaimana kesejahteraan itu bisa dirawat. Tak salah, kita merenungkan apa yang diungkap oleh Rita Manning, filsuf perempuan Amerika, bahwa kesejahteraan kita bergantung pada pemeliharaan hubungan-hubungan kita dan keterkaitan dengan semua jenis komunitas. Bagi saya, ketertekanan itu lahir dari kepongahan kita bahwa semua bisa dilakukan tanpa melibatkan orang lain. Hanya segelintir orang yang sanggup menjalani hidup sendirian. Tapi, bukankah seorang eksistensialis, seperti Muhammad Iqbal, akhirnya harus menanggung kesepian tak terperi?

Thursday, November 24, 2011

Kekuatan Kata

Saya mengambil gambar itu dari tembok kampus. Selain perkataan Nabi, kita juga bisa menemukan kutipan pemikiran dari banyak orang yang terpandang, seperti Lyndon B Johnson yang berujar, "At the desk where I sit, I have learned one great truth, the answer for all national problems - the answer for all the problems of world - come to a single word. That word is "education". Secara tekstual, mungkin kita tak perlu menyulitkan diri dengan menggunakan konteks dekat atau jauh dalam pembacaan kedua pernyataan di atas. Lagi terang dan bersuluh, pernyataan ini sesederhana nasehat orang tua pada anaknya, 'Nak, sabar ya? Meskipun kamu miskin, tetapi pantang untuk berhenti belajar'.

Mengapa kita memerlukan kata-kata itu? Setiap orang mempunyai jawabannya. Namun, nasib kutipan tersebut sepertinya bergaung di ruang kosong. Orang-orang yang melewatinya mungkin tak lagi peduli. Masyarakat kebanyakan bergegas untuk terus memburu nasibnya. Tak jarang, mereka tersandera oleh kekalutan yang membuatnya marah. Boleh jadi, harapan terhadap penyemaian nilai-nilai kemanusiaan melalui pendidikan terhenti di tengah jalan karena kuasa jahat telah menghadangnya. Tentu saja, setiap individu mempunyai halangannya sendiri-sendiri.

Adakah kata-kata itu masih berdaya magis? Tentu, dengan syarat ia hadir dalam konteks. Di tengah aliran informasi mengalir deras, mungkin orang ramai tak lagi bergulat dengan kedalaman kata, sehingga makna tak bisa diraih. Teknologi yang sepatutnya memilah data justeru menghadirkan begitu banyak fakta yang tak terkira. Kata-kata mati rasa. Untuk itu, semua harus menyepi seraya membawa kata-kata lama itu ke dalam refleksi. Biarlah, teknologi menjalankan fungsinya sesedikit mungkin, namun kita tentu saja tak perlu membaca kata-kata di daun lontar. Nah, jika kata-kata itu tak juga mendatangkan makna, itu berarti makna memang tidak ada sepenuhnya di barisan huruf, tetapi juga di kepala. Akhirnya, sejatinya kekuatan kata itu terletak pada diam, setelah mulanya pada kata.

Saturday, November 12, 2011

Menikmati Pagi

Menjelang Subuh, tiba-tiba hujan mencurah deras. Azan terdengar sayup-sayup di sela bunyi air yang tumpah. Tetangga saya, mahasiswa asal Palestina itu, menaiki mobil merahnya ke surau dan memarkir kendaraannya di bawah atap teras. Jarum jam menunjuk angka 6 lebih 3 menitan. Jam tubuh saya jelas-jelas merasakan bahwa badan ini perlu bangun sebelum kesiangan, padahal hari masih gelap. Dengan payung yang gagangnya putus, saya berangkat ke surau. Di sana, biasanya saya berjumpa dengan 4 anak kecil, namun kali mereka tak datang.

Pak Bunyan, dosen asal Indonesia, mengimami sembahyang Subuh. Mr Mushthafa, asal Nigeria, kadang menempati posisi imam. Tuan Haji yang biasanya memimpin sholat memilih menjadi makmum. Rafi senantiasa membacakan iqamah, pertanda sholat segera ditunaikan. Mereka menghidupkan surau itu dengan riang. Ternyata, hujan tak menyurutkan warga perumahan untuk beribadah bersama. Mereka beranjak setelah usai, mengambil tempat di pelbagai sudut untuk berzikir.

Saya pun pulang. Hujan masih turun. Setelah sampai di rumah, saya membuka jendela agar udara pagi menyerbu masuk. Tak lama kemudian, seperti biasa, saya pergi ke warung surat kabar. Dengan koran di tangan, saya melangkah ke warung roti canai. Sambil menikmati berita, artikel dan hiburan, saya masih sempat menikmati berita Astro Awani. Kabar pembubaran parlemen yang sebelumnya berseliweran di media sosial hanya isapan jempol belaka. Kopi panas pagi itu juga mengusir dingin. Begitu banyak jamaah dari Masjid Muttaqin tumpah ruah di warung ini. Mereka berkelompok, bertukar cerita dan sebagian membaca koran. Sekitar 15 menit, saya duduk menikmati pagi. Setelah membayar secangkir kopi dan setangkup roti, saya pun pulang. Gelap telah pergi. Nyanyian burung tekukur menghiasi pagi. Lalu, kenikmatan apa lagi yang kita mau ingkari?

Wednesday, November 09, 2011

Seni

Saya mendapatkan undangan melalui email dari pegawai Muzeum USM untuk menghadiri pameran di atas. Dari jauh, saya membayangkan hasil seni itu hadir dalam kepala.

Amalkan Gaya Hidup Sihat!

Dalam sebuah perjalanan ke Masjid Zahir, gambar di atas diabadikan. Seruan dalam anjuran ini tidak hanya ditemukan di pinggir jalan, tetapi juga di media, baik cetak maupun elektronik. Betapa mudah hidup kita untuk sejahtera, seperti melakukan kegiatan fisik, menghindari alkohol dan rokok, mengasup makanan yang seimbang, dan mengurus tekanan. Masalahnya, pada waktu yang sama, ruang dan waktu kita dipenuhi oleh godaan, yang malah juga dirayakan di televisi dan ruang bersama.

Bagi saya, kebenaran itu bukan sekadar proposisi yang perlu dipaparkan dengan hujah yang meyakinkan, tetapi bagaimana pihak berkuasa, pemerintah dan wakil rakyat, memerhatikan hal di atas. Kebijakan dan pelaksanaan gagasan hidup sehat harus diarusutamakan. Ketika kekuasaan yang digenggam oleh eksekutif dimanfaatkan, maka ruang kita tidak melulu iklan, yang menawarkan kenyamanan, tetapi bukan kesejahteraan. Pada waktu yang sama, kita memerlukan kelompok penekan, yang memaksa legislatif untuk membuat aturan yang merawat kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan organisasi kemasyarakatan yang lain mempunyai peranan yang besar untuk memaksa pengambil dan pelaksana keputusan untuk mendahulukan kepentingan umum.

Monday, November 07, 2011

Lorong

Saya menyukai jalan di atas. Dengan menyisakan ruang, kotak-kotak itu telah memberikan ruang bagi tanah untuk bernapas dan menerima asupan air. Sebagai bagian dari jalan pintas menuju Masjid AlBhukhari dari Suq AlBukhari (Mall), desain lorong ini menjadikan tanah pekuburan itu tampak tak seram. Mungkin, kita tak lagi mempunyai kesan bahwa tempat peristirahatan terakhir manusia itu selalu terlihat suram.

Friday, November 04, 2011

Etika Menyambangi Kuburan

Lihat kiri bawah, etika mengunjungi kuburan itu meliputi larangan: menabur bunga di atas kubur, meletakkan jambangan bunga di atas nisan, menyiramkan air mawar di atas kubur, membaca al-Qur'an secara menunggu hingga khatam di atas kubur, makan dan minum di atas kubur dan bersembang hal duniawi di perkuburan.

Hari ini, saya melewati tanah pekuburan ini. Dengan penataan ruang yang rapi, keasrian rumah terakhir manusia ini tampak menyerlah. Tak ada kesan seram, sebagaimana umumnya makam. Ada banyak pohon Kemboja, yang menambah kesan manis. Belum lagi, lorong setapak yang dibuat kotak-kotak persegi, sehingga menyisakan sisa tanah terdedah. Di banyak tempat, ada pondok, tempat orang ramai melepas lelah, atau sekadar duduk sambil bercengkerama. Tapi, ingat! Di sana, Anda tidak boleh berdiskusi hal ihwal duniawi.

Masalahnya, larangan di atas dimaklumkan pada orang ramai karena praktik tradisional itu tidak ditemukan dalam nas yang sahih. Padahal, ia bisa dikaitkan dengan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi menyukai wewangian. Bagaimanapun, bunga dan air mawar itu bisa menghadirkan keharuman. Demikian pula mengkhatamkan kitab suci mungkin tak ada dalam kitab suci, tetapi membaca al-Qur'an di pondok pekuburan yang asri itu tentu merupakan pengalaman yang mendebarkan.

Memilih

Sambil menunggu kendaraan dipermak oleh tukang bengkel, saya pun meneduhkan diri di pasaraya yang berhawa dingin. Di kursi panjang terbuat dari besi, saya melemparkan tubuh pada kursi keras itu dan mengambil gambar buku berlatar pakaian-pakaian yang ditata rapi dan digantung di rak. Kita tak mesti menghamburkan uang untuk mendapatkan kebahagiaan, melainkan hanya perlu menyiasati bahwa kita berada di tempat yang nyaman, seraya melihat-lihat begitu banyak godaan untuk memiliki aneka ragam baju. Menikmati begitu melimpah pilihan, kita memutuskan untuk merasa cukup dengan sedikit koleksi yang telah dikumpulkan di rumah.

Apabila kita memuaskan hasrat dengan memborong aneka pakaian, kita akan terjebak pada keadaan yang semu. Sampai kapan kepuasan itu terpenuhi jika kita berpikiran bahwa kesenangan itu adalah memanjakan keinginan? Ketika kita berhasil dengan membawa tangan kosong dari pusat perbelanjaan, maka sejatinya kita telah meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa membedakan apa yang kita mau dan perlu. Pada waktu yang sama, kita pun perlu memikirkan kebiasaan kita yang senang berbelanja, mengingat pertumbuhan ekonomi bangsa ini didongkrak oleh konsumsi, bukan konsumsi. Dengan kata lain, kita diam-diam membenarkan tuduhan penjajah bahwa kita adalah pemalas, stereotip yang telah dibantah keras oleh Syed Hussien Alatas dalam Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial.