Wednesday, December 25, 2013

Pasar Tradisional

Semalam kami telah membicarakan untuk berlibur ke pasar Jitra. Dalam satu Minggu ini, kami telah mengunjunginya sebanyak dua kali. Pada awalnya, si kecil tidak begitu suka, karena berbeda dengan pasaraya, di sini ia tidak bisa bermain bowling dan aneka permainan yang lain. Lucunya, meskipun tanpa coin, ia bergerak ke sana ke mari merasai beranekaragam hiburan.

Perlahan tapi pasti, ia pun menikmati suasana pasar. Seperti terlihat pada gambar sebelah kiri, Nabbiyya juga menyentuh buah jeruk, sebagaimana ibunya yang sedang memilih satu persatu buah kesukaannya. Namun, di lapak sayur-mayur harga sawi RM 5/Kg, jauh lebih mahal daripada Pasaraya Yawata, RM 3,5. Namun, si ibu tetap membelinya. Mengapa ini bisa terjadi?

Di sana, kami tidak hanya membeli sayur, tetapi juga tempe pada seorang kakak langganan kami dan tulang sapi pada pakcik yang baik hati. Kami kemudian berlalu setelah puas mengelilingi pasar. Sayangnya, tak jauh dari pasar ini, pasaraya TESCO akan dibangun. Papan nama telah dipancang dan pembangunan sedang berjalan. Kami menunggu cemas, adakah pasar ini akan berwajah muram?


Saturday, December 14, 2013

Minyak Goreng dan Racun

Di sela menunggu isteri menebus obat di apotik rumah sakit KMC, saya membaca sekilas berita utama koran Kosmo! Alamak, minyak goreng yang dipakai hingga lebih dari tiga kali akan menjadi racun pada tubuh manusia. Tentu, ini bukan kabar baru. Namun, pemaparan isu ini penting, agar tak menjadikan hidup kita genting.

Menurut saya, sepatutnya penggunaan minyak dibatasi untuk dua kali saja, atau maksimal tiga kali, agar racun itu tidak meresap pada tubuh anggota keluarga. Hanya saja, apakah ibu rumah tangga rela membuang minyak bekas? Mengingat Indonesia dan Malaysia sebagai pengeluar terbesar dunia minyak goreng, tentu warganya tak perlu merogoh kantong hingga dalam untuk hanya mendapatkan seliter minyak.

Lalu, mengapa kabar ini penting? Karena ia terkait dengan kesehatan manusia. Apatah lagi, tujuan Syariah itu hakikatnya menjaga tubuh manusia agar tidak sakit. Semestinya fiqh terkait makanan perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Agama sepatutnya hadir dalam keseharian manusia yang paling nyata. Dalam politik, ia hanya dijadikan alat oleh segelintir untuk berkuasa.