Tuesday, April 24, 2012

Pagi dan Warna Jingga


Pemandangan pagi ini semakin menyerlah, setelah tubuh ini berpeluh karena berlari di sekitar Kampus Politeknik Syed Sirajuddin, Arau, Perlis. 

Wednesday, April 18, 2012

Janji Pemerintah


Visi Misi Pemerintah yang berkuasa di Sumenep, tempat kelahiran saya. Sebagaimana janji yang lain, mererka harus menunaikannya dengan baik. Sebagai warga, kami tentu tidak hanya memberikan suara dalam pesta lima tahunan, tetapi juga menyoal adakah anggaran belanja daerah telah betul-betul digunakan untuk menyejahterakan masyarakat? Lembaga Swadaya Masyarakat tentu menjadi corong dari suara orang ramai, yang tidak mempunyai waktu untuk memastikan peruntukan itu tidak menguap.

Thursday, April 12, 2012

Tuesday, April 10, 2012

Teh Botol dan Sumanto

Dulu sempat beredar lelucon yang seakan-akan memparodikan iklan Teh Botol dengan cogan kata Apa pun makanannya, minumnya Teh Botol dengan gambar si penjagal dan pemakan daging manusia, Sumanto, sebagai model iklan. Apakah kelakar seperti ini menguntungkan bagi perusahaan tersebut, saya pun tak tahu. Anda, bagaimana?

Sunday, April 08, 2012

Demonstrasi dan Kemacetan


Saya sempat terjebak kemacetan di Surabaya akibat penunjukrasa menutup jalan A Yani Surabaya. Tak terelakkan, jalan-jalan lain disesaki karena pengendara mencari jalan lain. Apakah saya harus marah? Sementara kemacetan terjadi setiap hari di negeri ini? Hanya saja, saya meminta mereka tidak melakukan pengrusakan. Fasilitas umum itu dibangun dari pajak. Hakikatnya mereka turut memiliki dan harus merawatnya.

Sang supir harus mencari jalan tikus agar saya bisa segera sampai ke penginapan setelah seharian berada di luar kota. Untungnya, mahasiswa segera mengakhiri pendudukan jalan yang padat itu. Tak lupa, saya takzim pada polisi yang tidak tergerak untuk memaksa mahasiswa hengkang dari jalan beraspal. Peristiwa kekerasan aparat terhadap mahasiswa dan orang ramai di Gambir, Jakarta, tidak berlaku di kota Buaya ini.

Semua pihak harus kembali pulang ke rumah. Keluarga sudah menunggu. Perbedaan perjuangan dan kesetiaan pada tugas tidak harus memecah Republik ini menjadi arena perang sesama anak bangsa. Alamak! Saya sepertinya tukang khotbah. Saya hanya perlu menyuarakan bahwa saya bersabar dalam kemacetan. Namun, saya tentu sangat kagum pada warga Jakarta yang setiap hari didera oleh kesesakan lalu lintas. Menurut saya, hanya janji calon gubernur yang bisa mengurai benang-kusut ini.

*Gambar @Sham

Thursday, April 05, 2012

Pasar Malam

Buah dan sayuran di atas digelar di lapak pasar malam Kedah. Kami begitu menikmati karena kami merasa dekat dengan penjual, berbeda dengan pasaraya, di mana kita tidak tahu siapa pemiliknya. Mungkin kita tahu pemilik Giant, Carrefour atau yang lain, namun tentu mereka tak akan duduk di meja kasir (juru uang), bukan? Anda sendiri bagaimana? Apakah kepuasaan ini hanya semu mengingat kami dibesarkan dalam suasana saling bersua muka dalam banyak kegiatan dulu? Pasar tidak hanya tempat kami bertukar uang dan barang, tetapi juga cerita.

Ibu dan bapak kami tak hanya membeli barang, tetapi juga bertanya kabar. Mungkin, hal ini tidak akan berlaku di mal atau pasaraya. Di sana, segala sesuatunya telah ditetapkan melalui tulisan yang ditempel di tembok atau barang. Seseorang hanya perlu menentukan barang yang ingin dimiliki, setelah itu pergi. Percakapan tak lagi berjalan wajar, karena semua tergesa-gesa. Penjual berharap pembelinya segera pergi agar pembeli lain datang. Demikian pula, pembeli ingin segera pergi karena penjualnya tampak seperti patung, dingin dan angkuh.

Di pasar malam, isteri saya masih sempat bercakap-cakap dengan Mak Cik. Kebetulan Mak Cik yang menjaga warung juga berjualan di pasar malam tak jak jauh dari rumah kami. Serta-merta isteri saya bertanya, Mak Cik juga berjualan di Tanah Merah ya? Dengan wajah riang, dia pun menyahut, "Ya, saya juga buka lapak di sana." Bukankah, kita harus bertukar sapa dalam hidup ini?

Tuesday, April 03, 2012

Mulia Bangsa, Tinggi Bahasa


Mengikuti seminar ini, saya memeriksa kembali bahasa yang saya gunakan. Sebelum mengkritik orang lain, saya tentu perlu melihat kembali tulisan saya yang pernah dimuat di
blog, surat kabar dan majalah. Aha, di sana saya menemukan banyak ketidaktaatasasan. Anda bagaimana? Mungkin kita pernah melakukan kesalahan serupa, namun tak menghalang kita untuk terus berusaha agar bahasa ini dirawat dengan sepenuh hati.

Seperti dijelaskan oleh Tan Sri Dzulkifli Razak, ketinggian bahasa Melayu bisa dilihat pada pengertian kata budi, yang tidak bisa sepenuhnya dialihbahasakan kepada kosa kata bahasa lain. Meskipun Georg-Hans Gadamer menegasakan dalam karya Kebenaran dan Metode bahwa terjemahan itu mungkin, tapi sebuah kata tertentu tetap mengandaikan pandangan hidup yang khas dari pemakainya. Bagaimanapun, kata budi mengandaikan makna dasar dan relasional, di mana yang terakhir mengandaikan makna yang telah berkelindan dengan banyak ideologi kebudayaan besar dunia. Apalagi jika kata ini dikaitkan dengan kata lain, seperti bicara, pekerti dan bahasa, maka kata majemuk tersebut mengandaikan falsafah hidup dari pemakainya.

Lalu, mengapa kita banyak menemukan orang ramai tak lagi menghargai bahasa kebangsaannya? Apakah betul mereka telah mengkhianati jati dirinya? Dua persoalan tersebut sempat mengemuka dalam acara seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh Persatuan Karyawan bersama Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia, 24 Maret 2012 di Dewan Kuliah A. Tentu, kita tak perlu menuding jari, sebab usaha untuk memartabatkan bahasa itu adalah kehendak bersama untuk memelihara jiwa kita bersama. Hanya saja, apabila pengkhianat itu masih memaksakan kehendaknya untuk menomorduakan bahasa kebangsaan, semua harus berdiri untuk menempelak kebebalannya.