Wednesday, March 19, 2008

Transisi Demokrasi Damai Negeri Jiran


Sumber Media Indonesia [18 Maret 2008]

Ditulis oleh : Ahmad Sahidah, Graduate Research Assistant dan Kandidat Doktor Ilmu Humaniora, Universitas Sains Malaysia

'Kemenangan' koalisi oposisi Barisan Alternatif yang terdiri dari tiga komponen utama, Partai Keadilan Rakyat (PKR), Democratic Action Party (DAP), dan Partai Islam se-Malaysia (PAS) sempat memunculkan isu terulangnya kerusuhan etnik 1969. Namun, permintaan Abdullah Badawi dan Anwar Ibrahim yang disiarkan di radio untuk meminta tiap pengikutnya menahan diri dan tidak merayakan kemenangan di jalanan berhasil membuat keadaan tenang. Tidak ada gejolak dan insiden yang memicu kekerasan.

Pernyataan pertama Badawi bahwa kemenangan oposisi di beberapa negeri bagian menunjukkan demokrasi telah bekerja adalah sebuah pernyataan simpatik. Ya, rakyat telah menunjukkan kearifannya untuk tidak lagi memercayai Barisan Nasional yang telah memegang kekuasaan selama 50 tahun lebih. Meskipun, sebagian besar masih memberikan suara mereka untuk BN. Sebagian pengamat politik menilai suara konstituen hanya ingin menguji apakah pihak oposisi mampu mencatat sejarah lebih manis.

Tentu, masyarakat di sana harus menunggu selama lima tahun apakah Tan Sri Khalid Ibrahim dari PKR yang menjadi menteri besar (setingkat gubernur) di Selangor, Lim Guan dari DAP di Pulau Pinang, Azizan Abdul Razak dari PAS di Kedah dan Perak yang masih dirundingkan pihak oposisi berhasil memenuhi aspirasi konstituen lebih baik atau tidak. Memang, mereka telah menyatakan janji dua hari setelah kemenangan diraih (The Sun, 10/3/08). Namun, tindakan lebih kuat pengaruhnya jika dibandingkan dengan ucapan (action speaks lauder).

Dominasi Berlebihan

Memerhatikan proses pemilihan sejak awal, tampak bahwa komisi pemilihan umum (di sana disebut Suruhanjaya Pilihanraya) telah bekerja keras untuk memungkinkan pesta demokrasi berjalan mulus. Meskipun sebelumnya sempat diwarnai kecaman karena membatalkan penggunaan tinta bagi mereka yang telah mencoblos atas dasar alasan keamanan. Demikian juga, tidak ada laporan tentang kecurangan yang sebelumnya diancam oleh oposisi dengan aksi turun jalan jika partai berkuasa berlaku curang.

Sayangnya, kesempatan partai oposisi untuk mendapatkan perlakuan yang adil untuk memanfaatkan media televisi dan cetak diabaikan. Bahkan televisi RTM 1 dan RTM 2 sebagai stasiun milik publik tak luput dari cengkeraman Barisan Nasional (BN). Belum lagi TV dan radio swasta yang sama sekali menghalangi akses oposisi untuk melakukan kampanye. Yang terakhir ini hanya berkampanye melalui ceramah umum, surat kabar yang terbatas, dan internet.

Jika kemudian rakyat memprotes ketidakadilan itu, mungkin benar apa yang diungkapkan tokoh oposisi gaek PAS, Nik Aziz Nik Mat, bahwa rakyat mulai muak dengan prilaku rakus pemerintah yang berkuasa. Mereka tidak sedikit pun mempertimbangkan perasaan rakyat. Tepat apa yang dikatakan Mukhris Mahathir, anggota DPR dari UMNO, sekarang pemerintahlah yang harus mendengar rakyatnya (The Sun, 11/3/08).

'Kekalahan' BN paling tidak telah memungkinkan televisi memberikan ruang pada suara kritis dari para pakar politik yang sebelumnya digunakan untuk melegitimasi mereka. Analisis ahli politik pascapemilu mendapatkan liputan luas sehingga secara tidak langsung membuka borok BN. Beberapa surat kabar yang sebelumnya memuji-muji pemerintah berusaha untuk menelanjangi kekeliruan yang selama ini telah dilakukan. Bahkan kritik keras Mahathir yang sebelumnya tidak pernah diliput secara luas di dua koran utama, utusan dan berita harian, sekarang diturunkan secara utuh.

Persaingan yang seimbang

Bagaimanapun, dengan kemenangan oposisi di negeri bagian yang merupakan urat nadi kepada perekonomian Malaysia merupakan pukulan telak terhadap Barisan Nasional. Diharapkan, keadaan ini akan menyadarkan pihak berkuasa untuk mengkaji ulang kebijakan yang menganggap dirinya bisa melakukan semuanya tanpa kritik.

Tekanan kuat terhadap universitas sebagai rumah kaum terpelajar harus dihilangkan. Walau bagaimanapun, sebagian faktor kekalahan UMNO-BN adalah sikap kritis kaum terpelajar ini dan tentu saja protes masyarakat atas kegagalan pemerintah menunaikan janjinya untuk perbaikan ekonomi, pemberantasan korupsi, dan keamanan.

Tentu saja, masa dua hari adalah cukup bagi BN untuk menyadari kekeliruannya. Analisis yang telah diberikan oleh para pakar lebih dari cukup untuk mengakui kelemahannya. Ini pun telah dibuktikan dengan pengakuan dari elite dan malah ini menjadi pemantik semangat untuk tetap memimpin Malaysia. Lebih jauh, BN-UMNO akan membentuk badan independen untuk meneliti secara lebih mendalam kekalahan terbesarnya dalam sejarah.

Demikian pula, oposisi harus berusaha untuk menunjukkan kemampuannya mewujudkan janji-janjinya dalam kampanye yaitu menciptakan kehidupan yang lebih berpihak kepada rakyat. Tentu, Tan Sri Khalid Ibrahim dari PKR tidak akan menemui kesulitan karena mempunyai pengalaman di dalam bidang administrasi dan manajemen kepemerintahan. Meskipun, ini juga bukan jaminan karena bagaimanapun pemerintah pusat mempunyai andil besar dalam menggelontorkan anggaran.

Perubahan komposisi politik di tingkat nasional adalah penyebab perimbangan kekuatan yang akan memberikan peluang yang sama untuk berlomba-lomba menyejahterakan rakyat. Tetapi, melihat hampir seluruh media berada di tengah pemerintah dan kroninya, tampak ada ketimpangan yang besar. Jika Barisan Nasional tidak mengontrol media dengan bijak, antipati konstituen akan bertambah besar.

Apalagi lagi, kecenderungan pemberitaan satu pihak yang tidak menyediakan ruang bagi sebuah dialog akan menutup pintu bagi partisipasi masyarakat lebih luas. Demikian pula, kampus tidak lagi dihalangi untuk memberikan akses yang sama terhadap semua kelompok. Koran oposisi harus diberikan kesempatan mengisi rak perpustakaan yang selama ini hanya diisi oleh media propemerintah.

Namun, kedua media harus memerhatikan etika jurnalisme yang lebih bertanggung jawab. Kalau diperhatikan secara cermat, kita akan tersenyum geli karena keduanya tidak menampilkan fungsi jurnalisme yang tidak berpihak. Koran tak lebih dari ajang propaganda partai masing-masing. Tidak ada analisis yang mendalam dari para pakar politik yang kompeten sehingga pembaca bisa menilai secara objektif. Demikian pula para akademisi yang mempunyai kepakaran ekonomi tidak diberikan keleluasaan untuk membahas secara kritis kebijakan pemerintah.

Dari kenyataan di atas, sekarang bola ada di tangan pemerintah. Apakah kehendak rakyat untuk menikmati demokrasi akan dipenuhi atau diabaikan? Jika seluruh media masih dijadikan panggung depan (front stage) sebagaimana dramaturginya Erving Goffman dan panggung belakang disembunyikan, itu akan menjadi petaka lebih besar. Sikap kritis masyarakat di sana sebenarnya merupakan cermin keberhasilan pemerintahan UMNO dalam bidang pendidikan dan penyediaan teknologi internet. Mereka tidak bisa dibungkam hanya dengan pencitraan yang dipaksakan dalam bahasa gambar karikatif di media.

Akhirnya, benar apa yang dikatakan Wong Chin Huat, analis politik Universitas Monash Malaysia bahwa pemilu bisa mengubah tiga hal yaitu perwakilan, pemerintah, dan kebijakan. Sekarang ketiga-tiganya hampir dibagi rata antara koalisi yang berkuasa dan oposisi. Maka, sebenarnya yang diuntungkan adalah rakyat karena sekarang menjadi rebutan keduanya untuk dilayani dengan tulus.

Sunday, March 16, 2008

Wajah Baru Jurnalisme Malaysia

Assalamu'alaikum,

Semalam, beberapa teman Indonesia berkumpul di kamar. Ada enam kepala yang menyesaki ruangan yang tak seberapa besar, namun justeru tak membuat kami sumpek. Kami bertukar cerita dan yang tak jarang juga menyelipkan percakapan tentang hiruk pikuk perpolitikan Malaysia. Terus terang, saya menemukan banyak 'amunisi' dari pandangan mereka untuk memahami lebih baik dan menyeluruh berkaitan dengan pernak-pernik dunia politik di sini. Apalagi di kamar tersedia koran alternatif, seperti Harakah, Suara Keadilan, dan Siasah sehingga kami bisa mendapatkan informasi yang seimbang. Bagaimanapun, saya menemukan perkembangan baru di dalam pemberitaan surat kabar arus utama, seperti Utusan, Berita Harian, The Star, dan New Strait Times.

Semalam, saya juga menonton TV 3 yang menyiarkan bincang politik pasca pemilu di Universiti Malaysia yang menghadirkan Dr Syed Hussin, Setiausaha (sekretaris) Parti Keadilan Rakyat. Mungkin, ini adalah sebuah perkembangan menarik ketika pihak oposisi mendapatkan ruang di universitas. Sayangnya, saya belum melihat Anwar Ibrahim tampil di televisi untuk dimintai pandangannya bagaimana Malaysia akan diurus. Janji manis politiknya tentang penurunan harga minyak, sekolah dan air gratis tentu merupakan tema yang menantang untuk dibedah.

Nah, tulisan di bawah ini adalah salah satu pandangan saya betapa Malaysia telah berada di jalan yang benar menuju negara maju pada tahun 2020.

Ahmad Sahidah
Pemerhati Politik

WACANA [Suara Merdeka]

15 Maret 2008
Wajah Baru Jurnalisme Malaysia

Oleh Ahmad Sahidah

SEPEKAN setelah pemilihan umum (pemilu) digelar, suhu politik negeri jiran ini masih panas. Kedua kubu yang berseteru, yaitu Barisan Nasional (BN) dan Barisan Alternatif (BA), masih berada dalam posisi saling bersaing merebut simpati. Meski keduanya sama-sama mempunyai komposisi tiga etnis penting (China, India, dan Melayu), BN tidak mengalami hambatan ideologis. Barisan Nasional merupakan sebuah koalisi yang terdiri atas United Malays National Organization (UMNO), Malaysian Chinese Assocation (MCA), dan Malaysia Indian Congress (MIC). Sedangkan BA dihadapkan pada perbedaan ideologi antara PAS (Partai Islam Se-Malaysia) yang relijius dan DAP (Democratic Action Party) yang sekular. Namun, karena pertimbangan pragmatis, keduanya bisa bekerja sama.

Seluruh surat kabar di Malaysia menyediakan ruang yang besar terhadap perbincangan politik. Jika sebelumnya koran utama seperti Utusan, Berita Harian, The Star, dan New Straits Time hanya menjadi kepanjangan suara pemerintah dan kroninya tanpa kritik, sekarang mereka ramai-ramai memuat berita dan opini yang menyerang Barisan Nasional.

Wacana surat kabar dan televisi telah bertambah, tidak lagi hanya hitam-putih. Ini bisa dilihat di koran Utusan (11/3/08) yang memuat sebuah opini yang berisi kritik keras terhadap Barisan Nasional. Tanpa tedeng aling-aling, Ahmad Hassan (mantan direktur Pusat Bahasa dan duta Malaysia UNESCO) mengatakan UMNO tidak mempunyai kepekaan moral dan budaya dalam memilih calon yang akan bersaing dalam bursa pemilihan legislatif. Banyak di antaranya yang tidak terpelajar, egois, dan terlibat korupsi.

Bahkan dalam artikel ini, Hassan memuji Nik Aziz Nik Mat (politisi gaek dari PAS) karena dianggap pemimpin yang matang dan visioner. Menteri Besar Kelantan ini menegaskan, semua yang bersaing dalam pemilu adalah bersaudara. Setelah pemilu, semua anak bangsa harus melupakan perbedaan dan siapapun harus membantu rakyat tanpa harus mempertimbangkan asal muasal. Ini merupakan pengakuan tulus yang tak mungkin dimuat di media utama.

Tidak itu saja, televisi pemerintah dan swasta yang semula hanya menyediakan ruang bagi koalisi penguasa untuk bermanis-manis, sekarang juga mengundang para pakar politik untuk mengupas kelemahan UMNO-BN. Sebelum hari pencoblosan, UMNO digambarkan sebagai partai kaum Melayu yang kompak di bawah PM Abdullah Badawi, tetapi dalam kenyataannya rapuh. Banyak pengurus yang menggembosi suara partainya karena dijegal untuk maju menjadi calon legislatif.

Membebaskan Media

Kalau sebelumnya pemerintah menguasai media dan membatasi akses oposisi, sekarang harus dipertimbangkan fungsi jurnalisme yang terbuka dan transparan. Penguasaan secara berlebihan mengakibatkan masyarakat muak. Karena itu, Tan Sio Choo, peneliti di Universiti Sains Malaysia, menegaskan BN telah melakukan sensor berlebihan terhadap media cetak sehingga membuatnya sakit.

Dia membuat perumpamaan, ‘’Jika anjing penjaga dipaksa untuk tidak menyalak pada pengacau, bagaimana seorang pemilik rumah akan mengetahui seseorang memasuki kandang dan mencuri ayam yang ada di dalamnya?’’. Tampaknya kritik ini mendorong BN untuk lebih terbuka terhadap suara kritis dan mengakui keberhasilan pembangkang dalam meruntuhkan dominasinya yang telah berusia setengah abad lebih.

Saya melihat BN masih setengah hati, mengingat kebiasaan koalisi berkuasa ini menggunakan media untuk menaikkan citra serta menghantam lawan (politiknya) tanpa ampun masih muncul dengan cara-cara yang lebih halus. Sementara media oposisi juga melakukan hal yang sama. Tetapi sejauh ini kode etik jurnalistik belum sepenuhnya diterapkan berkaitan dengan cross check dan pemberitaan yang seimbang. Begitu pula analisis yang diberikan para ahli masih berkutat pada pandangan hitam-putih dan partisan. Sementara pandangan jernih yang mengedepankan uraian logis, ilmiah, dan universal terpinggirkan.

Sebenarnya praktik otorianisme yang berjalan selama ini telah banyak dikritik para akademisi, meski terbatas pada buku teks. Kho Boo Teik, Francis Loh, dan Mohammad Yusoff adalah sedikit sarjana yang mengambil posisi netral dalam menilai pertarungan politik di Malaysia, meski terkadang yang disebut terakhir ini sering dikutip pernyataannya yang menguntungkan pemerintah.

Demikian pula sikap kritis mahasiswa semakin tumbuh, seiring meluasnya akses mereka terhadap internet yang menjadi lahan subur pemikiran alternatif. Pemerintah tak mampu bersikap keras dengan menyetop penyebaran informasi di dunia maya, sehingga masyarakat luas bisa mendapatkan menu lain dalam memenuhi rasa ingin mereka tahu terhadap isu-isu penting. Ya, dunia nyata telah tunduk pada dunia maya.

Media Alternatif

Salah satu faktor yang menjungkalkan kekuasaan BN di beberapa negeri bagian adalah suara kaum muda terpelajar. Kelompok ini relatif mandiri dalam menyerap informasi. Bagi mereka, berita televisi dan surat kabar yang memihak tentu bukan pilihan menarik. Meski ada sedikit media yang mencoba untuk menyuguhkan pendapat yang seimbang, seperti The Sun, Aliran, dan buletin yang diterbitkan oleh beberapa LSM. Mereka telah menghukum BN-UMNO dengan tidak memilih pada pemilu ke-12, seraya berharap kemunculan suasana baru.

Isu-isu yang dianggap sensitif oleh media utama dikupas lebih berhati-hati oleh media alternatif. Tentu saja hanya kalangan terpelajar yang bisa mengakses informasi di atas. Tapi jumlah mereka yang relatif besar memperbesar dukungan terhadap pihak yang dianiayai oleh pemerintah secara politik.

Kini, sudah saatnya media tidak lagi menjadi corong satu pihak tanpa memberi ruang bagi sebuah perbincangan yang adil dan terbuka. Penyensoran terhadap isu-isu penting hanya akan melahirkan hiperbolisasi terhadap persoalan yang diributkan. Inilah momentum bagi media untuk membuka diri bagi terciptanya komunikasi yang efektif dan tidak berat sebelah. Sekarang media telah memulai langkah baru dan harus selalu merawatnya, agar tak kembali layu. (32)—

--Ahmad Sahidah, graduate research assistant dan kandidat doktor Ilmu Humaniora, Universiti Sains Malaysia.

Wednesday, March 12, 2008

Berkah "Kemenangan" Oposisi

Sumber: Seputar Indonesia [11/3/08]

Selasa, 11/03/2008
Berita utama surat kabar Tanah Air hampir seluruhnya memberitakan ”kemenangan” partai oposisi, Barisan Alternatif, yang terdiri atas komponen utama Partai Keadilan Rakyat (PKR), Democratic Action Party (DAP), dan Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Mereka juga memberikan perhatian yang istimewa kepada Anwar Ibrahim. Tampak secara tersirat surat kabar kita menyambut baik kekalahan Barisan Nasional (BN) di dalam pemilihan umum ke-12 ini. Sementara koran utama di negeri tetangga hanya menyisakan sedikit ruang bagi tokoh oposisi yang pernah memegang jabatan wakil perdana menteri itu.

Halaman utama memberikan keistimewaan kepada Abdullah Badawi dan persiapan pelantikan sebagai perdana menteri (PM) oleh Raja Agung. Namun,The Sun(10/3/08) di halaman tengah memuat pernyataan Mahathir Mohammad bahwa Abdullah Badawi harus bertanggung jawab atas kekalahan BN dan oleh karena itu mesti segera mundur agar memberikan jalan kepada Muhammad Najib untuk menggantikannya.

Mahathir, Anwar, dan Badawi

Desakan mundur dari Mahathir secara moril memperburuk posisi Badawi. Namun,hari Senin pagi,Pak Lah –panggilan akrab Abdullah Badawi– tetap dilantik setelah sebelumnya menyatakan tidak akan mundur.

Kritik keras Mahathir tentu saja menambah beban Pak Lah makin berat. Meski demikian, seperti biasa, Pak Lah tidak meladeni bekas mentornya itu.Lebih-lebih anak Mahathir, Mukhris Mahathir, yang memenangi pemilihan di daerah pemilihan Jerlun Kedah turut meminta Pak Lah mundur (Harakah Daily, 10/3/08). Sebuah tohokan yang tak pernah terungkap sebelumnya. Bibit perpecahan di tubuh United Malays National Organization (UMNO) mulai bertunas.

Tentu saja, kehadiran Anwar Ibrahim dalam panggung politik layak mendapat perhatian.Meskipun Mahathir menyatakan bahwa bekas anak buahnya ini masih relevan, dia tidak akan menjadi PM.

Lain halnya dengan prediksi Shamsul Amri Baharuddin, analis politik Universiti Kebangsaan Malaysia. Menurutnya, Anwar bisa menjadi PM dalam 10 tahun yang akan datang. Dengan sigap Anwar pun menegaskan dalam jumpa pers yang banyak dihadiri agensi berita luar negeri bahwa dia akan mengorganisasi oposisi di parlemen. Sebuah isyarat bahwa bekas aktivis mahasiswa itu akan menjadi ikon bagi gerakan perlawanan terhadap dominasi BN.

Demokrasi Mulai Mekar

Jika pada hari pertama setelah pemilu belum muncul analisis mengapa BN mengalami kekalahan terburuk dalam sejarahnya, hari kedua surat kabar utama, Utusan, Berita Harian, New Strait Time, dan The Star,menurunkan beberapa analisis tentang suara protes rakyat terhadap partai koalisi yang berkuasa, yaitu UMNO, Malaysian Chinese Association (MCA), dan Malaysian Indian Congress (MIC).

Banyak analis yang mengemukakan bahwa mayoritas diam (silent majority) sedang menunjukkan taringnya dengan mengalihkan dukungannya kepada partai oposisi. Mereka merasa muak dengan provokasi BN yang keterlaluan di media cetak dan televisi tentang kelemahan oposisi.

Sikap jumawa ini justru mendatangkan tanggapan antipati, bukan simpati. Belum lagi proyek serbamega yang dilancarkan secara gencar seperti pembangunan ekonomi koridor utara, Sabah, dan koridor selatan tak menyentuh langsung kehidupan mereka.Harga barang tetap naik,kejahatan meruyak,dan korupsi juga merebak.Bahkan,beberapa hari menjelang pemilu, para elite BN secara kompak menyuarakan hal yang sama,keburukan Anwar Ibrahim.

Ternyata, pihak oposisi telah membaca masalah ini dengan baik. Mereka berhasil mengangkat isu negara kesejahteraan (welfare state) untuk memberikan warna yang berbeda dalam mengurus negara. Jika akhirnya mereka memperoleh kursi yang cukup meyakinkan, sekarang justru mereka memulai babak persaingan baru dalam merebut hati pemilih pada masa yang akan datang.

Sekarang partai oposisi telah mengambil ancang-ancang untuk menunjukkan kesungguhannya dalam menawan hati rakyat.Tan Sri Khaled Ibrahim, Menteri Besar Selangor (setingkat gubernur) dari PKR telah menyatakan bahwa dia akan mengevaluasi kerja pemerintah dalam 100 hari (The Sun,10/3/08).Demikian juga Lim Guan Eng, Sekretaris Jenderal DAP.

Dia menyatakan bahwa pemerintah akan menerapkan kebijakan yang ramah investor untuk mempertahankan Pulau Pinang sebagai pusat industri. Tentu ini bisa dipahami karena pulau yang dikenal dengan sebutan Mutiara ini menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Tampaknya oposisi tidak latah merayakan kemenangan. Mereka justru menjadikan awal kemenangan ini sebagai permulaan untuk mencitrakan diri sebagai partai berkuasa yang langsung bekerja. Bisa jadi, ini untuk menepis kritik BN selama ini bahwa oposisi tidak akan bisa mengurus ekonomi seperti yang telah dilakukan BN selama 50 tahun.

Keseimbangan Baru

Televisi dan surat kabar telah memberikan porsi pemberitaan untuk oposisi (di sana disebut pembangkang) meskipun kadang tidak digambarkan sebagaimana BN divisualisasikan dan dinarasikan.Namun,paling tidak ini akan membuka ruang bagi masyarakat menerima informasi yang seimbang.Jika BN masih memonopoli pemberitaan di TV dan surat kabar utama, koalisi yang memerintah sekarang ini justru mengulangi kesalahan yang sama.

Bahkan, di kampus yang sebelumnya relatif sepi dari perbincangan politik, di depan perpustakaan saya mendengar anak S-1 telah berani bersuara dan berbicara politik. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa kemenangan oposisi akan memungkinkan kontrol (fungsi checks balances) berjalan. Dengan riang mereka berceloteh tentang tingkah polah pemimpin politik.

Seakan-akan belenggu secara perlahan mulai terlepas. Peristiwa 8 Maret telah memantik keberanian bersuara setelah selama ini dibekap atas nama stabilitas. Pendapat pakar politik telah dikutip apa adanya.Tidak sepertinya sebelumnya di mana analisis mereka diedit untuk menegaskan seakan-akan mendukung pemerintah.

Padahal, orang yang sama juga dikutip oleh media lawan yang memberikan angin pada oposisi.Saya sendiri mendengar langsung dari salah seorang dosen politik yang diwawancarai TV bahwa pernyataannya telah disunting secara serampangan.Pesan utama digunting tanpa ampun. Nah, sekarang masanya bagi BN untuk mengakhiri dominasi secara berlebihan.

Kemenangan oposisi seharusnya mendorong pemerintah untuk tidak lagi mengangkangi kebebasan rakyat. Tentu dengan suara yang tidak mencapai 2/3 akan membuat parlemen dari BN akan kesulitan memaksakan kehendaknya karena berhadapan dengan banyak tantangan Barisan Alternatif.

Di sinilah kontestasi benar-benar diuji oleh akal sehat dan pertimbangan kepentingan rakyat.Negara tetangga kita ini benar-benar telah memasuki era baru sebelum menjadi negara maju pada tahun 2020.(*)

Ahmad Sahidah Graduate Research Assistant dan Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Monday, March 10, 2008

Kemenangan Badawi dan Gugatan Oposisi


Senin, 10 Mar 2008 (Jawa Pos)

Oleh Ahmad Sahidah

Kemenangan Barisan Nasional (BN) pada pemihan umum ke-12 telah diprediksikan sebelumnya. Mesin politik, media, dan uang yang lebih kuat menempatkan UMNO, MCA, dan MIC di atas seteru politiknya, PKR, PAS, serta DAP dalam Barisan Alternatif (BA). Namun, ramalan bahwa BA akan memperoleh suara signifikan juga terbukti. BA sekarang mengantongi modal untuk menggugat dominasi BN di parlemen.

Lalu, setelah kemenangan BN itu, apa yang bisa dilakukan kaum Melayu di tengah makin menguatnya tuntutan kesetaraan kaum Tionghoa dan India? Mungkinkah Malaysia sebagai "bangsa" bisa diwujudkan setelah ketiga etnik tersebut berhasil membangun koalisi, sedangkan di barisan seterunya juga bergabung komposisi yang sama?

Memang, di kalangan elite, kita akan mudah melihat kekompakan para pemimpinnya. Tapi, di akar rumput, ada tembok tebal yang menghalangi mereka untuk berbaur. Perbedaan ketiga kelompok tersebut sangat mencolok karena berkaitan dengan ras, agama, bahasa, serta budaya.

Syafi’i Ma’arif, mantan ketua umum Muhammadiyah, pernah menulis di harian Republika (14/7/07) bahwa di tengah keberhasilan kehidupan ekonomi Malaysia, apakah sebagai bangsa mereka juga berjaya? Pertanyaan retorik yang diajukan sebagai ucapan selamat kemerdekaan ke-50 untuk negeri tetangga.

Secara politik, hubungan pragmatis antaretnik, Melayu, Tionghoa, dan India, berjalan baik. Kekompakan koalisi BN yang memerintah sejak awal kemerdekaan mampu menempatkan negeri jiran itu diperhitungkan sebagai negara yang melaju pesat. Kemajuan industri di bidang pariwisata, perminyakan, elektronik, dan perkebunan patut ditiru negara lain.

Tapi, apakah keberhasilan itu akan melahirkan integrasi etnik dalam kehidupan sosial? Persoalan tersebut telah dipikirkan para sarjana sejak sebelum kemerdekaan. Institut Integriti Malaysia merupakan salah satu lembaga yang dibangun untuk mewujudkan warga negara yang mempunyai integritas, daya tahan, dan penghayatan terhadap nilai-nilai universal. Demikian pula, Latihan Khidmat Negara yang menyerupai wajib militer merupakan ikhtiar untuk mengintegrasikan berbagai kaum dalam kesadaran berbangsa dan bernegara.

Dunia Baru

Jika kegagalan Barisan Nasional dianggap tsunami bagi partai berkuasa, tidak demikian bagi rakyat Malaysia. Mungkin benar apa yang dikatakan Shamsul Amri Baharuddin dalam wawancara televisi TV3 sebelum pemilu bahwa Abdullah Badawi telah membuka keterbukaan dan harus menanggung risiko dengan makin beraninya kelompok oposisi berteriak.

Namun, Badawi telah berada di jalan yang benar. Sebab, kata analis politik Universiti Kebangsaan Malaysia itu, sudah waktunya pemerintah membuka keran kebebasan. Jika tidak, ia akan berbahaya karena kelompok penentang akan makin tak terkendali.

Bagi saya, hasil pemilu kali ini bisa dikatakan menjadi kemenangan Abdullah Badawi pribadi yang telah membuka pintu demokrasi, sekaligus kemenangan rakyat yang telah membalikkan kepongahan koalisi berkuasa dengan tidak menyisakan sedikit pun media cetak dan massa bagi partai lawan. Jelas-jelas, rakyat tak lagi bisa dicekoki kisah keberhasilan BN tanpa memberikan tempat yang adil bagi oposisi, yang juga sebagai warga Malaysia yang sah.

Dengan kemenangan meyakinkan oposisi di sejumlah negara bagian, peta politik negeri tetangga akan berubah. Setidaknya, itu dimulai dengan perubahan drastis pemberitaan surat kabar yang dikuasai pemerintah dan kroninya. Mereka memberikan ruang yang lebih besar untuk oposisi dan memuat pengakuan akan kekalahannya. Demikian pula, televisi turut merayakan kemenangan oposisi, meski dengan jatah penayangan yang terbatas.

Dengan terlepasnya empat negara bagian kepada pihak oposisi, komposisi politik akan berubah total. Dua negeri bagian, Selangor dan Penang, merupakan pusat ekonomi yang menyangga pertumbuhan negeri jiran tersebut. Keduanya telah dikuasai pembangkang, yang tentu akan memaksa partai berkuasa nanti untuk berbagi kue pembangunan. Sementara Kedah dan Perak mencerminkan representasi suara Melayu dan Tionghoa.

Namun, kendali tetap berada di tangan Melayu. Bahkan, Anwar Ibrahim pun tidak bisa seenaknya mewujudkan ide progresifnya tanpa memedulikan konstituen Melayu yang masih ingin mengekalkan statusnya sebagai pemilik Malaysia, sebagaimana telah dimaktubkan dalam konstitusi dan dasar negara.

Jauh dari hiruk-pikuk hasil pemilu, sebenarnya kaum Melayu menghadapi dilema besar. Keistimewaan yang disandang mereka sejak kemerdekaan senantiasa digugat puak lain sejalan dengan makin terbukanya kebebasan.

Sementara di sisi lain, Melayu muslim masih mengandaikan bahwa negara Islam merupakan alternatif untuk membangun negara yang lebih sejahtera, adil, dan aman. Tak disangkal, politik identitas telah mengakar dan menghambat integrasi sejati. Itulah tantangan yang perlu mendapatkan perhatian seluruh unsur masyarakat pada masa mendatang.

Akhirnya, di tengah kekalahan memalukan BN, sebenarnya ini adalah berkah tersembunyi bagi Malaysia. Sebagai negara yang mencanangkan diri sebagai negara maju pada 2020, negara tetangga itu telah memulai sebuah langkah tepat dengan "lahirnya" perimbangan kekuasaan.

Diharapkan, secara perlahan, kekangan berekspresi dan berorganisasi akan dilonggarkan. Tak ada lagi penguasaan media yang berlebihan, sehingga kontrol dari publik bisa dilakukan dan manipulasi oleh elite makin tergerus. Selamat datang Malaysia baru!

Ahmad Sahidah, Graduate Research Assistant dan kandidat doktor ilmu humaniora Universitas Sains Malaysia

Kepingan Peristiwa Minggu

Pagi ini, saya merasakan semangat membuncah setelah tulisan saya yang dikirim ke Jawa Pos satu hari sebelumnya dimuat. Asal muasal karangan bertajuk "Kemenangan Badawi dan Gugatan Oposisi" adalah reaksi spontan setelah mendengar kemenangan oposisi, Barisan Alternatif, di beberapa negeri Bagian, seperti Pulau Pinang, Kedah, Perak dan Selangor. Radio Era FM mengulang-ulang berita ini dalam siaran pagi.

Lalu, saya berusaha mengumpulkan pelbagai informasi yang berserak di kepala dan memburu berita di koran lokal, Utusan dan media Partai Islam se-Malaysia, Harakah Daily. Dari kedua sumber ini, adalah cukup untuk menulis sebuah artikel. Dengan sebelumnya sarapan mie telor dan ditambahi teh panas, pagi itu saya mulai mengetik menyusun paragraf. Ya, sekali duduk opini itu pun selesai.

Di hari Minggu itu sebenarnya banyak peristiwa yang mungkin tak lebih dari pengulangan. Kebiasaan membawa seember pakaian ke mesin cuci lantai bawah dan lalu meninggalkannya untuk menunainkan shalat Subuh berjamaah adalah semacam ritual. Saya tidak pasti apakah pakaian itu cukup leluasa diputar oleh mesin karena hampir memenuhi seluruh ruang kosongnya. Detergen dan air mungkin hanya membasahi tanpa mempunyai ruang gerak yang memadai untuk menggilasnya.

Sehabis shalat, saya beranjak ke bawah untuk mengisi ulang botol besar dengan air di kantin. Hanya dengan RM 1, saya telah mendapatkan hampir 5 liter air. Harga yang cukup murah dibandingkan membeli air mineral yang dikemas oleh pabrik. Di sela-sela menunggu air penuh, saya merasakan udara pagi itu menyegarkan. Suasana masih sepi. Saya merasa bisa mereguk habis udara yang berkeliaran bebas itu.

Kemudian saya kembali ke ruang mesin cuci untuk mengambil cucian. Kedua tangan ini menenteng dua beban, satu ember yang penuh pakaian dan satunya botol berisi air. Setelah di lantai sembilan, saya meletakkan ember itu di pintu masuk dan memulai memasak mie telur. Ups, di telepon genggam tertera misscalled. Setelah dicek, Pak Isyam memanggil untuk main tenis. Namun di hari itu saya tidak turut serta Pak Zainal dan Pak Isyam bermain tenis di stadion.

Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya selalu menantikan kolom-kolom cerdas beberapa surat kabar Indonesia, seperti Asal-Usul, Seni (KOMPAS), Buku (Jawa Pos), Budaya (Seputar Indonesia), Sastera dan Pustaka (Republika) dan secara sambil lalu berselancar di media dunia maya, seperti Detik, Gatra, Tempointeraktif, dan beberapa koran lokal.

Duh, sinar matahari mulai menerpa pepohonan. Saya beranjak dari kursi untuk menyidai baju di tali jemuran yang saya buat sendiri di balkon. Meskipun saya harus melompati tembok pagar, saya merasa puas karena baju basah itu akan diterkam panas. Berbeda dengan jemuran yang dibuat oleh pihak asrama yang tak disapa panas.

Sambil menunggu pakaian kering, saya kembali menekuni opini yang telah menemukan draft kasar. Kadang jemari ini mengalir mengikuti derasnya ide, namun tak jarang mengkeret karena berdesakannya gagasan. Tetapi, saya harus memilih, mana yang lebih utama untuk ditulis. Akhirnya satu opini selesai.

Jam 1, saya pergi ke bilik Pak Isyam untuk mendengarkan secara langsung perkembangan politik Malaysia dari televisi. Berita TV 1 memberikan liputan hasil pemilu, namun stasiun milik pemerintah ini belum memberikan porsi yang lebih banyak untuk partai oposisi. Sambil menikmati siaran, Pak Isyam menyuguhkan kacang dan kudapan kue berwijen. Saya merasakan pihak stasiun penyiaran tidak siap menampilkan hasil pemilu ke-12 karena pembangkang atau oposisi berhasil merebut beberapa negeri bagian secara meyakinkan.

Lalu, jam 1.30, saya kembali ke kamar untuk siap-siap ke surau menunaikan shalat zuhur. Di sana, untuk ke sekian kalinya saya berada di belakang imam yang berasal dari Indonesia. Dari wajahnya yang teduh, beliau sepertinya telah menemukan hidupnya, sementara saya masih harus melawan pelbagai paradoks yang acapkali muncul di kepala tentang makna hidup.

Kembali dari surau, saya mengambil jemuran. Ada beberapa yang belum kering, namun saya tetap mengambilnya agar tidak 'buram' karena terpanggang matahari. Di kamar, saya merancang untuk melakukan banyak hal, di antaranya mencetak opini di bilik Karel, mereparasi printer dan memotong 'celana' yang kepanjangan di kedai jahit.

Meski terik, saya tetap melaju dengan motor ke Sungai Dua. Sayang, Mind Maker tidak menerima reparasi printer. Namun, saya sempat bertanya ke penjaganya harga printer Canon 1880, dia jawab RM 168. Setelah menyatakan terima kasih, saya keluar dan kembali 'mengayuh' sepeda motor Suzuki cooled ke Bukit Jambul untuk membeli printer baru. Ternyata di sana, harganya lebih murah RM 150. Sekalian saya mengantarkan celana untuk dipermak.

Wednesday, March 05, 2008

Melayu Islam Klasik dan Manifestasi Kontemporari

Semalam saya secara tak sengaja membuka majalah al-Islam, satu kelompok dengan berita harian Utusan, edisi Desember 2007 di kamar teman karib. Ternyata ada tulisan saya yang bertajuk "Melayu Islam Klasik dan Manifestasi Kontemporari" di dalamnya. Padahal saya sudah tidak berharap karena telah lama dikirimkan. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ipho yang telah mengoleksi majalah tersebut di atas.

Sejatinya karangan ini ingin memulai sebuah penelitian tentang manuskrip abad ke-12 yang ditengarai ditulis oleh Abdullah 'Arif, seorang pendakwah dari tanah Serambi Mekkah Aceh. Agak susah memang memperoleh konteks dari kitab ini. Tetapi dengan keterbatasan bahan (meskipun sekarang saya telah memperoleh 7 versi manuskrip dari Universitas Leiden), saya hanya bisa berharap dari kajian intertekstual. Apa yang menarik dari kitab ini? Saya menemukan satu tema penting, kebahagiaan. Lalu, bagaimana memperolehnya? Anda bisa membacanya di bawah ini. Kalaupun Anda tidak puas maka tugas bersama untuk melengkapinya.

Wassalam,

Ahmad Sahidah
Penikmat Manuskrip Kuno

Sumber: Majalah al-Islam, Disember 2007/Zulhijjah 1428, hlm. 52-53

UMUM

Oleh: Ahmad Sahidah

Melayu Islam Klasik
dan Manifestasi Kontemporari

Di dalam sejarah kemasukan Islam ke tanah Melayu, kita mendapati beberapa pandangan yang berbeza. Secara umum, ada dua pendapat, yang pertama menegaskan abad ke-7 M. dan sebahagian besar sarjana Barat mengatakan pada abad ke-13 M. Kedua-dua pandangan ini mempunyai hujah masing-masing.

Bukti artefak, kuburan, atau istana dan karya intelektual yang masih boleh kita dapati menunjukkan warisan yang penting untuk mengenali semula sejarah Islam sejak mula lagi. Tentu sahaja semua warisan yang berbentuk ‘bangunan’ dan benda-benda nyata mudah dilihat dan difahamkan pada generasi sekarang.

Namun, sekarang kita perlu memahami pesanan di sebalik benda-benda konkrit tersebut. Tidak boleh tidak, pembaca harus membuka semula karya sarjana Muslim pada masa itu. Memandangkan pendapat Hawash Abdullah dalam Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara (1980) bahawa pendakwah pertama di Asia Tenggara yang pertama kali mengarang sebuah karya adalah Abdullah Arif. Karya yang bertajuk Bahr al-Lahut (Laut Ketuhanan) ini adalah bercorak tasawuf.

Bahr al-Lahut

Mohd. Saghir Abdullah mempastikan bahawa kitab di atas adalah karya Islam tertua di tanah Melayu (1991:2). Mengikut tahun meninggalnya penulis kitab ini, iaitu 1177 Masihi, boleh dikatakan bahawa karya ini lebih awal daripada manuskrip Aqaid al-Nasafi pada abad ke-16. Namun, sampai sekarang, Bahr al-Lahut belum dikaji secara mendalam sebagaimana Naquib al-Attas melakukannya ke atas kitab al-Nasafi.

Meskipun demikian, kedua-dua kitab ini sama-sama memperkatakan soalan tasawuf. Walau bagaimanapun, kitab yang pertama sangat ketara dipengaruhi oleh ajaran Syi’ah dan falsafah Yunani, terutamanya mengenai ajaran nur Muhammad. Ajaran ini mengandungi satu pemahaman bahawa Allah pertama kali menciptakan nur (cahaya) Muhammad dan dari cahaya ini lahirlah makhluk yang lain, seperti singgahsana (‘arsh), langit, bumi, kerusi, dan benda-benda lain. Sementara pengaruh Aristotle adalah pada kenyataan pengarang bahawa jawhar atau substance itu adalah alam besar. Di sini, sarjana falsafah ini memanggilnya ousÄ«a, atau sesuatu yang tidak boleh dibahagi lagi.

Perbahasan Mahayudin H Yahaya terhadap kitab di atas hanya sebatas terjemahan tanpa berusaha lebih jauh membincangkan kandungannya sebagaimana Naquib membahas manuskrip al-Nafais secara panjang lebar, merangkumi sejarah, asal-usul, dan akhirnya kejanggalan (peculiarities) terjemahan Melayu ke atas teks Arab. Demikian juga, perbincangan tentang karya ini juga secara singkat dibahas di dalam beberapa karya Mohd. Saghir tentang naskhah Islam Melayu awal.

Manakala ikhtiar Prof Madya Zailan Moris, pensyarah yang pakar falsafah Islam dan perbandingan agama di Universiti Sains Malaysia, untuk menyelidik Bahr al-Lahut adalah sangat penting. Apatah lagi, beliau cuba menerokai aspek metafizikal dan falsafah dari kandungan ini. Dengan demikian, kita boleh mengetahui bagaimana Islam pertama kali disampaikan kepada rakyat Nusantara sehingga boleh diterima oleh masyarakat tempatan yang sebelumnya telah menganuti ajaran agama tertentu.

Saya sendiri juga telah mendapati foto kopi manuskrip yang diperolehi dari Perpustakaan Negara bernomor MS 1414 (U) h. 451-456; 9 baris; 24.4x16.5 sm. Malangnya, karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa melayu secara underlinear [terjemahan digantungkan di bawah teks asal] dan didapati banyak kesalahan baris, penulisan kosa kata dan gramatikal sehingga boleh memesongkan makna sebenar dari maksud pengarang.

Kesalahan penulisan semula daripada manuskrip lama adalah sesuatu yang umum terjadi. Misalnya, Tuq al-Hamamah (Untaian Kalung Merpati) karya Ibn Hazm (994-1064M), telah disunting oleh seorang orientalis Rusia, Betrov dan Krachkovisky. Selain memberi shakal (baris) dan indeks nama tokoh kedua-dua sarjana ini juga memberikan pengantar sebanyak 38 muka surat. Karya penyuntingan ini mendapatkan pujian daripada Brockelman dan Goldziher tokoh orientalis terkemuka dari Jerman, namun kedua-duanya merevisi beberapa kesalahan yang ada di dalamnya.

Lalu, bagaimana memahami pemikiran tasawuf yang merupakan ajaran yang pertama kali diterima oleh masyarakat Melayu pada zaman kontemporari? Tentu sahaja, kita tidak boleh meneruskan ‘mesej’ ahli sufi ini kepada orang ramai sebagaimana ‘adanya’. Perlu penapisan agar orang awam tidak mudah terperangkap ke dalam ajaran yang mengelirukan dan bahkan menyesatkan. Sebuah karya Dr Asri Zainul Abidin Menilai Tarikat dan Kesufian dengan Syari’at Allah (2004) boleh dijadikan rujukan untuk mengenali dan memahami lebih jauh bagaimana tasawuf dan syariat sebenarnya tidak bercanggah.

Dalam Bahr al-Lahut, pengarang menegaskan bahawa dengan memahami kitab ini, pembaca akan mencapai kebahagiaan. Bukankah ini adalah sesuatu yang dicari-cari oleh manusia di dalam sepanjang hidupnya? Lalu, apa pesanan agar kita boleh meraih kebahagiaan? Pertama, akidah harus dipegangi secara kukuh. Kedua, menunaikan sembahyang secara khusyu’ dan berpuasa sama ada wajip dan sunat. Dan ketiga, seorang Muslim harus memiliki pengetahuan, karena sebagaimana dinyatakan dalam Hadith yang dipetik oleh pengarang bahawa barang siapa yang bertafakkur satu saat lebih baik daripada beribadah selama seribu tahun. Pendek kata, dengan akidah yang kukuh, ibadah dan kecintaan pada ilmu adalah kunci agar manusia berbahagia. Di sini tidak ada sama sekali kenyataan bahawa harta atau kedudukan boleh membuat orang ramai berbahagia.

Cabaran Masa Kini

Dato’ Harussani Zakaria, Mufti Negeri Perak, mengetengahkan satu idea dalam forum Minggu Kemanusiaan (19 Julai 2007) di Universiti Sains Malaysia bahawa cabaran budaya popular dalam Pembangunan Insan kena diberi perhatian secara sungguh-sungguh oleh mereka yang berkhidmat di dunia pendidikan dan pengajaran. Salah satu cabaran yang didepani oleh remaja sekarang adalah kecenderungan perilaku hedonistik, yang akhirnya menjeremuskan mereka ke dalam sikap serba boleh melakukan apa sahaja (permissive).

Sebenarnya sikap tidak prihatin ini berpunca dari semakin kuatnya media, sama ada televisyen mahupun radio, berlumba-lumba menawarkan barangan dan gaya hidup yang berasaskan kepada pemuasaan kebendaan dan imej moden berpaksi pada kecantikan dan kekacakan zahir. Hedonisme ini tidak hanya menjangkiti remaja, tetapi sekali gus orang dewasa. Bahkan, ramai pensyarah juga menunjukkan hidup mewah. Satu contoh yang tidak mencerminkan pemikiran kritis dan keberpihakannya kepada hidup sederhana.

Oleh itu, Dato’ Harussani mencadangkan agar asas pendidikan berdasar kepada rukun Islam dan rukun Iman. Namun demikian, pelajar tidak hanya diwajipkan menghafal, tetapi benar-benar boleh mengamalkan pesanan di sebalik kedua-dua rukun ini, yaitu meyakini Allah dengan sepenuh hati dan Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir. Dengan demikian, mereka tidak akan tunduk pada kuasa yang lain. Demikian pula, sembahyang, zakat dan puasa adalah amalan yang harus ditanamkan tidak hanya sebagai tanggung jawab peribadi tetapi sebuah kewajipan yang mempunyai impak sosial, seperti prihatin terhadap orang miskin papa dan tertindas.

Shalat berjamaah perlu ditekankan agar hubungan sesama Muslim semakin erat dan di sini tumbuh solidariti dan kebersamaan. Zakat adalah alat yang paling efektif agar tercetus sikap dermawan dan puasa adalah ibadah yang diuar-uarkan untuk dilakukan agar manusia belajar menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu, menghindari sikap rakus, tamak dan loba .

Tetapi yang lebih penting daripada kesemuanya ini, adalah teladan yang harus ditunjukkan oleh para ustaz, ulama, cikgu, pensyarah dan pemimpin, iaitu kesederhanaan atau tidak bermewah-mewah. Inilah sebenarnya manifestasi daripada inti ajaran tasawuf atau kesufian. Gaya hidup sederhana ini juga boleh menghindari kecemburuan sosial dan merebaknya sikap konsumtif masyarakat yang merupakan fenomena yang secara perlahan menghakis keteguhan iman mendepani godaan duniawi.

Jadi, dengan kembali kepada prinsip dan ajaran tasawuf sebagai ajaran yang pertama kali diterima oleh kaum Muslim tanah Melayu maka sebenarnya kita telah memelihara dan merawat akar daripada jati diri Muslim. Walau bagaimanapun, keterbukaan pemikiran tasawuf terhadap pemikiran Barat menunjukkan sikap Muslim tidak taksub, sebab kebaikan boleh ada di mana-mana (ubiquitious) dan hadir di mana-mana (omnipresence). Di dalam sistem masyarakat yang bergantung pada contoh atasan, elit dan pemimpin, maka mereka yang diberi amanah wajip menjadi contoh atau model bagi orang ramai. Adakah teladan seperti ini sekarang?

* Penulis ialah Mahasiswa PhD bidang Tamadun Islam Universiti Sains Malaysia

Monday, March 03, 2008

Malaysia, Islam dan Sejarah Sulabtern

Rencana untuk menulis sebuah esai tentang kesarjanaan Muslim telah mendorong saya untuk menerokai lebih jauh tentang pemikiran Islam di negeri Jiran ini. Bagaimanapun harus diakui tokoh sentral Syed Naquib al-Attas menempatkan Malaysia sebagai pusat pemikiran keislaman dunia. Karya-karya beliau telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia. Bahkan, dalam perjumpaan beliau, penulis Prolegomena ini menyatakan bahwa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah jarangnya pemikir Muslim kita diapresiasi di luar negara, apalagi Asia Tengah.

Namun, apakah para sarjananya sekarang hanya menyodorkan Naquib yang telah beranjak tua? Buku terakhir beliau bertajuk Pandangan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Ilmu (Malaysia: Penerbit USM, 2007) sebenarnya merupakan pengulangan pemikiran beliau yang berserak di dalam berbagai buku sebelumnya. Boleh dikatakan jika kita ingin memahami diskursus kesarjanaan Muslim Malaysia cukup merujuk kepada karya setebal 76 halaman ini. Lalu, jika kita ingin membaca lebih jauh dua karya fenomenal tentang pandangan dunia Islam bisa ditelusuri di dalam dua karyanya Prolegomena dan Islam and Secularism. Tentu saja, karya Wan Mohd Nor Wan Daud The Educational Philosophy and Practice of Syed Naquib al-Attas: An Exposition of Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998) merupakan sebuah penjelasan yang lengkap tentang latar belakang pemikiran pendiri ISTAC ini (International Institute of Islamic Thought and Civilization).

Di luar pemikiran Islam arus utama di atas, ada sebagian pemikir Muslim yang berada di seberang Naquib yang menolak Barat. Kehadiran mereka acapkali dianggap duri dalam daging di Malaysia. Tak jarang, mereka juga disebut golongan Islam liberal yang menggoyahkan sendi-sendi keislaman Melayu karena menggugat kembali prinsip-prinsip yang sudah mapan. Menurut sayap progresif ini, Islam tidak hanya dibekap di dalam perdebatan hitam putih, melainkan perlu dibawa ke dalam diskursus yang lebih luas. Pandangan semacam ini bisa dilihat dalam The Other Malaysia: Writing on Malaysia's Subaltern Historynya Farish A Noor (Kuala Lumpur: Silverfishbooks, 2002).

Di dalam karya Farish, kita akan menemukan ragam tema yang berkaitan dengan kehidupan Malaysia secara menyeluruh dan sudut pandang yang lebih berani berhadapan dengan keyakinan sarjana Muslim arus utama. Ia memang tidak membicarakan secara khusus tema-tema Islam seperti dilakukan oleh Naquib, tetapi buku tersebut ingin melihat Malaysia dari beragam perspektif, sejarah masa lalau, tokoh subaltern, partai oposisi, dan etika publik.

Dengan menggeser perdebatan wacana Islam ke arena lebih luas, kita akan menemukan kekayaan pandangan para sarjananya tentang dinamika intelektual yang mengharu biru di tengah khalayak. Memang, tak terelakkan pandangan Farish A Noor banyak mendapatkan perlawanan dari segala penjuru karena dianggap sebagai ide yang menyesatkan. Tampak, dua kubu ini terus mewarnai hiruk pikuk perkelahian pemaknaan hingga kini.