Sunday, May 31, 2009

Penghibur Jalanan


Penyanyi jalanan ini acapkali menghibur pejalan kaki sepanjang Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Wajahnya selalu riang, seperti tak mengenal gundah. Biasanya dia diiringi begitu banyak pemain alat musik yang agak aneh. Lagunya kadang akrab di telinga dan yang lain belum mendengarnya. Kehadirannya menggantikan dingin malam dengan kehangatan. Untuk kedua kalinya, saya melihat mereka mempersembahkan musik alternatif.

Penikmat yang hadir bisa menyumbang dan membeli CD musik mereka.

Friday, May 22, 2009

Teks Agama itu Milik Umat

Republika, Jum'at, 22 Mei 2009


Pernyataan Menteri Agama, Maftuh Basuni, bahwa Ulama harus mengawal teks keagamaan tentu perlu diamini (Republika, 25/3/09). Mereka adalah pemilik otoritas, yang di dalam hermeneutik keberadaannya diakui dalam menjelaskan kandungan teks keagamaan. Demikian pula tradisi keagamaan secara terus menerus hidup karena kegigihan ulama sejak dulu mengajarkannya di tengah-tengah masyarakat. Dua kata kunci, otoritas dan tradisi adalah istilah teknis yang disodorkan oleh Georg Hans-Gadamer, filsuf terkemuka Jerman. Meskipun keduanya telah digunakan oleh Romantisisme dan dikritik oleh pencerahan, namun penulis Truth and Method ini merehabilitasinya. Keduanya penting untuk menemukan kebenaran sebuah pengetahuan, termasuk teks agama.


Profesor saya, Dr Zailan Moris, memberikan perumpamaan mengenai otoritas. Jika seorang ‘pasien’ ingin memastikan keadaan penyakitnya, ia harus menemui dokter karena ia mempunyai otoritas menjelaskan diagnosa yang dibuatnya. Demikian pula, umat harus merujuk kepada ulama, karena di pundaknya otoritas diembannya dalam menerang hal ihwal keagamaan. Tentu pernyataan ini boleh dipahami karena seperti dokter, ulama mempunyai keahlian berkait dengan ilmu-ilmu keagamaan untuk mentafsirkan teks.


Demikian pula, pemikiran apapun berada di dalam tradisi tertentu dalam menjelaskan dirinya. Adalah tidak heran jika Nasr Hamid Abu Zayd, sarjana Mesir, betapapun dianggap liberal, tetap menggunakan karya ulama generasi awal, seperti al-Itqan al-Suyuthi untuk mengkritik teks keagamaan, dalam hal ini al-Qur’an. Seperti dijelaskan dalam Tekstualitas al-Qur’an: Kritik terhadap Ulumul Qur’an (2003: 3), ilmu-ilmu al-Qur’an itu dibaca ulang dengan pembacaan baru dan serius. Misalnya, beliau membahasakan pentingnya asbab al-nuzul dengan bahasa baru, hubungan dialektik antara teks dan realitas.


Tanggung Jawab Bersama


Pernyataan Arkoun di atas menegaskan bahwa tugas mengawal teks tidak hanya menjadi monopoli ulama, namun setiap individu kreatif, seperti pemikir, penulis, seniman, sarjana, politisi dan pelaku ekonomi. Mereka harus melakukannya secara bersama agar pesan keagamaan tak hanya diringkus di ruang dan waktu tertentu, seperti khotbah, pengajian dan majelis taklim.


Seniman berhak untuk menyuguhkan teks agama dalam kiprah keseniannya. Ekspresi keagamaan di sini disampaikan secara dramatik dengan menggunakan sarana estetik, seperti teater, arsitektur, kaligrafi, dan karya seni lain. Simbol-simbol Islam diubah ke dalam bentuk perlambangan yang bisa dinikmati khalayak sebagai warisan budaya. Ini dapat dilihat respons masyarakat luas pada tahun 1980-an pada persembahan Lautan Jilbabnya Emha Ainun Najib, kiai mbeling itu.


Demikian pula politisi mempunyai tugas yang maha berat karena ia dianggap mewakili suara masyarakat. Mereka memanggul beban yang sangat penting karena kedekatannya dengan orang ramai. Di sini, kiprah mereka tidak hanya ditunjukkan menjelang pemilihan umum, tetapi juga selama mereka menjadi wakil di parlemen. Teks agama diterjemahkan dengan pembelaan terhadap kepentingan publik melalui perjuangan pengesahan undang-undang dan menyelesaikan masalah yang dihadapi khalayak. Keterlibatan para kiai dalam politik tidak dengan sendirinya merupakan jaminan bahwa mereka mampu menerjemahkan teks agama ke dalam tugas legislatifnya.


Tentu yang paling penting adalah bagaimana ekonom Muslim mengurai pesan ekonomi dalam kitab suci ke dalam kegiatan praktis. Ia tidak hanya sebatas pendirian Bank Islam, dan Asuransi (Takaful) tetapi juga mendorong produktivitas umat agar tidak menjadi kelompok konsumtif. Dengan demikian, kiprah para ahli ekonomi yang bergiat dalam organisasi keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, diharapkan membuat terobosan baru untuk memandirikan amal usaha anggotanya. Dulu ketika Dawan Rahardjo berkhidmat di Muhammadiyah, saya sempat berharap bahwa kegiatan ekonomi di persyarikatan ini akan tumbuh subur. Sayangnya, malah beliau hengkang.


Tantangan Ulama


Seperti ditegaskan oleh Mark Sedgwick dalam Islam and Muslims: A Guide to Diverse Experience in a Modern World (2006: 37) bahwa persoalan yang mendera umat sejak paruh kedua abad ke-sembilanbelas ulama telah kehilangan otoritas sebelumnya dan penafsiran lama Islam secara umum digantikan oleh pemahaman mandiri oleh kelas menengah baru dan terdidik. Malah, kehadiran Muslim intelektual yang terdidik dalam sains modern juga mengambil tempat yang penting.

Peranan ulama telah berbagi dengan pihak lain yang sebelumnya tidak dikenal sebagai penanggungjawab ‘pengawalan’ teks, meminjam istilah Maftuh Basuni. Jika demikian, merujuk pada Arkoun, hakikatnya tugas menafsirkan teks itu tidak lagi dikuasai oleh ulama, melainkan merupakan tugas bersama karena teks itu harus diterjemahkan di dalam pelbagai medium. Contohnya sumbangan Habiburrahman el-Syirazi dengan novel Ayat-Ayat Cinta dan Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya yang mampu mentafsirkan teks keagamaan ke dalam bentuk cerita fiksi.


Kehadiran novel ini tentu membantu penyampaian pesan keagamaan secara lebih luas dan mampu menggerakkan model dakwah melalui literasi. Meskipun ini bukan hal baru, karena Ibn Tufayl telah menulis Hayy Ibn Yaqzan untuk menggunakan sarana yang bukan konvensional seperti kitab fiqh, tauhid dan hadits yang diajarkan secara klasikal atau majlis taklim. Melalui novel, penulis sedang menyampaikan teks keagamaan dalam bentuk kisah yang sebenarnya juga ditunjukkan kitab suci. Meskipun al-Qur’an bukan buku cerita seperti lazimnya, ia banyak menggunakan kisah-kisah masa lalu (asatir al-awwalin) untuk menggugah kesadaran manusia terhadap makna hidup.


Akhirnya, teks keagamaa itu tidak lagi diringkus ke dalam sebuah kuasa tunggal. Ia seharusnya bisa hadir di mana-mana dengan daya ungkap yang beragam. Tentu ulama mempunyai tanggungjawab untuk mempertimbangkan otentisitasnya, tanpa harus terjebak pada kejumawaan menjadi sang hakim yang mengetukkan palu dengan mengabaikan kearifan. Lebih dari itu sejauh mana ulama menempatkan diri sebagai bagian tim dinamis bersama komponen lain, seperti seniman. Ikthiar MUI (Majelis Ulama Indonesia) memberikan penghargaan terhadap kerja kesenian patut dihargai dan perlu dikembangkan untuk menjadikan umat pemilik teks dengan pelbagai daya ungkap.


Ahmad Sahidah, Staf Asisten Peneliti dan Kandidat PhD Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia


Thursday, May 21, 2009

Menikmati Bukit Bintang


Dua hari di Kuala Lumpur untuk sebuah urusan penting dan melelahkan perlu jeda. Untuk keduanya kalinya, saya menekuri sepanjang jalan Bukit Bintang. Sebuah tempat publik paling ramai di Kuala Lumpur ini membuat malam hidup, tak mati ditelan gelap malam. Tampak, tujuan wisata ini diurus dengan baik. Jalanan dan trotoar yang bersih, fasilitas lengkap, seperti tempat penukaran uang, toko keperluan sehari-hari, dan hotel. Untuk yang terakhir, saya juga menginap di tempat yang sama, sebuah penginapan yang berada di sebelah Ritz Carlton (ingat di sebelahnya).

Di perempatan gambar di atas, kita bisa memuaskan dahaga pengetahuan tentang tingkah laku manusia yang sedang gundah mencari tahu 'kesenangan'. Ya, para turis itu sedang mengepakkah sayapnya, mencari hiburan. Saya pun ke sana ingin menghilangkan penat setelah seharian berjibaku dengan tugas. Mungkin yang menarik dari lalu lalang mereka, begitu banyak orang Arab yang memenuhi ruas jalan. Mereka tampil dengan baju khasnya, purdah. Namun, lelakinya berbaju lebih santai, t-shirt, celana pendek, sesuatu yang kontras dengan kaum perempuannya. Kasihan, perempuan Arab yang harus menanggung adat lama tanpa bisa menyesuaikan dengan gaya berpakaian baru seperti dinikmati suaminya. Kehadiran turis Timur Tengah begitu kuat terasa dan bahkan sebuah cafe, Lecka-Lecka, menyetel kuat lagu Arab, seakan-akan warung kopi negeri padang pasir itu dipindah ke Kuala Lumpur.

Tak hanya seliweran orang, beberapa orang menyuguhkan hiburan jalanan, baik musik atau pertunjukan tunggal, seperti manusia emas dan perak. Dua yang terakhir adalah seorang manusia yang melumuri dirinya dengan warna emas dan perak, lalui berdiri dan duduk dengan aksi yang khas. Yang pertama banyak menunjukkan pola dan yang kedua lebih hening karena diam tak melakukan apa-apa. Yang sama, keduanya mendapatkan uang dari sedekah pengunjung yang mengambil gambar. Sebuah malam yang menyenangkan.

Saturday, May 16, 2009

Makan Pecel di Warung Jawa


Dua orang ini adalah kawan baik, satu dari Bandung dan yang sebelahnya berasal dari Trengganu Malaysia. Siang itu, kami makan siang di sebuah warung Jawa yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Universitas Sains Malaysia dan juga disukai oleh orang lokal. Malah, saya pernah mengalami keterkejutan karena pada satu waktu pengunjung warung makan ini adalah warga Malaysia, termasuk keturunan Tionghoa, tak satu pun kursi itu diduduki oleh teman-teman dari Indonesia.

Di sana, kami berbincang banyak hal, dari politik hingga budaya. Tentu, obrolan seperti ini bersifat spontan. Tidak jarang dalam percakapan timbul kelucuan. Mungkin dalam keadaan santai seperti ini kita mudah memahami orang lain karena mereka tak lagi dikerangkeng formalitas, serba santai. Celetukan kadang membuat lebih mudah pendengar memahami orang lain dan ini acapkali keluar dalam kesempatan duduk semeja mengasup makanan. Hal-hal yang tidak disampaikan di ruang resmi bisa nyelonong begitu saja. Sementara teman Melayu saya lebih memilih diam jika berkait dengan politik.

Pada waktu itu, saya juga pergi bersama Pak Stenly dan Mas Donny, asal Aceh, yang sebelumnya telah berjanji makan bareng. Hal lain yang menarik dari kunjungan ini adalah kedekatan kami dengan pemilik warung, Pak Darmo. Bagi kami, beliau adalah gudang informasi. Mungkin, sebagai orang yang banyak menerima kedatangan pelbagai latarbelakang pengunjung, beliau menyerap banyak percakapan sehingga sering menghadirkan sesuatu yang baru. Tadi, malah, dengan serta merta lelaki asal Lamongan ini menyatakan pendapatnya bahwa wanita tidak perlu menjadi orang nomor satu di Republik kita itu. Menarik, bukan? Atas informasi ini, Pak Stenly menukas apakah di Jawa keberterimaan pada pemimpin perempuan masih rendah? Aha, ini memerlukan survei. Anda mau membantu?

Surau Kami Itu


Rencana mengadakan belajar al-Qur'an di surau menemukan titik terang. Dua hari yang lalu, sesudah jamaah Isya, pengurus inti (di sana disebut ahli jawatankuasa) meminta saya untuk memastikan kesediaan mengajar anak-anak flat belajar mengeja huruf dan membaca ayat kitab suci. Pada waktu yang sama, kawan baik saya, Dedi, juga bersedia untuk menjadi pembimbing anak-anak.

Semalam, segelintir calon murid turut hadir berjamaah. Mungkin, dengan pengajian itu, teman-teman mereka yang lain akan sering nongol di surau. Terus terang, kehadiran mereka membuat kami bahagia. Kepolosan mereka membuat surau itu tak suram. Sebelum, jamaah Maghrib, saya sempat menyalami, syuaib, yang dua abangnya tidak hadir karena ada pekerjaan rumah. Iman, anak tetangga kami, salah satu di antara mereka yang acapkali berjamaah.

Subuh tadi, anggota jamaah tak sampai satu baris penuh. Tentu ini bukan sesuatu yang aneh, karena sejak dulu memang udah seperti ini. Seharusnya hari Sabtu dan Minggu, surau ramai karena dua hari itu adalah libur. Suara azan melalui pengeras suara itu ternyata tak mampu mengetuk hati mereka turun ke bawah. Satu pengalaman yang acapkali menyelip di antara suasana subuh adalah kicauan burung. Malah, kadang di tengah sembahyang, sayup-sayup suara jernih itu menyelusup di sela-sela jendela. Jika burung-burung telah bangun sepagi itu, mengapa tidak manusia?

Thursday, May 14, 2009

Ruang Tunggu dan Kawan


Saya sedang berbincang dengan kawan-kawan, Pak Stenly, Pak Badrun, Mas Donni, dan Encik Sheikh sebelum menjalani sidang ujian PhD di ruangan Abdus Salam Institut Pengajian Siswazah kampus. Mereka sengaja datang untuk menemani saya menghadapi ujian disertasi. Tiga kawan terakhir tidak tampak dalam gambar di atas. Namun, cerita tentang mereka akan menyusul. Ada pengalaman yang lain yang perlu diketengahkan agar semua bisa meraih riang.

Sebelum memasuki ruang ujian, kami menunggu di ruang tunggu ini, yang di dalamnya tersedia televisi yang menghubungkan dengan bilik ujian sehingga mereka yang berminat mengikuti sidang bisa leluasa menikmati pertunjukan melalui layar kaca. Di sini, seperti kata Bordieuau, filsuf Perancis, seseorang diuji sejauh mana ia berhak menyandang sarjana dengan menunjukkan keterampilan mengolah kata secara tulisan dan lisan.

Tentu, ketegangan muncul tenggelam dan sedikit berkurang dengan canda dan tawa. Kebaikan teman-teman mengurangi rasa tertekan karena saya akan dicecar pertanyaan oleh penguji. Bergambar bersama dengan teman-teman juga cara lain menghindari tekanan. Kadang tebersit di benak, saya hanya perlu melewati ini dan semuanya akan selesai. Toh, sebelumnya, saya telah melalui proses penulisan disertasi yang cukup panjang dan melelahkan. Peran pembimbingan tentu sangat penting karena banyak membantu memoles karya itu menjadi terbaca oleh orang lain. Meskipun, tanggungjawab sepenuhnya berada di tangan saya.

Tentu ujian satu hal besar, namun persahabatan dengan Pak Stenly juga sesuatu yang menerujakan. Minat saya pada filsafat seperti menemukan jalan, kehadiran interlukutor, mitra dialog, yang merupakan sebuah keniscayaan dalam merungkai isu filsafat. Kebetulan calon doktor ini menulis pemikiran John Locke, yang dianggap sebagai salah seorang filsuf paling cemerlang. Namun, kebersamaan kami tidak melulu bertukar pendapat, tetapi juga keseharian. Kebetulan juga, keluarganya juga dekat dan terutama si kecil, Amel, menambah kedekatan kami. Adakah yang lebih indah dari anugerah ini?

Tuesday, May 12, 2009

Hadiah dari Mereka


Gambar di atas adalah plastik untuk menyimpan hadiah yang diberikan oleh Rumah Sakit Bersalin. Di dalamnya, ada sabun, sampo, dan keperluan bayi yang lain. Buah tangan ini diberikan oleh perawat menjelang kami pulang ke rumah. Tentu, kami senang dengan pemberian mereka. Meski berbau promosi, tapi cara mereka menyentuh hati kami. Saya tahu dari merek kalau barang hadiah ini berkualitas baik dan tentu saja mahal.

Setelah kembali ke rumah, para sahabat juga melakukan hal yang sama. Keperluan bayi menggunung dan kami tidak yakin ia bisa digunakan hingga habis, dari baju, bedak, botol, tisu basah, sabun, dan sampo. Malah, sikat pembersih botol berlebih. Ia masih terbungkus dalam plastiknya. Demikian juga barang itu mungkin tak akan habis dan bernasib kadaluarsa. Sebagian yang membawa sekeranjang buah, sehingga kulkas kami penuh, hanya sedikit celah yang kosong.

Menariknya, produk keperluan bayi ternyata beragam, ada produk lokal dan luar. Tentu yang terakhir lebih mahal, tetapi apakah lebih baik? Mungkin, saya harus bertanya pada teman-teman saya yang tahu hal ini. Anda bisa membantu?

Monday, May 11, 2009

Cerita Ringan si Kecil


Can we explain a Beethoven sonata? (Ludwig Witgensteen, 1989)


Jika anak saya sebelumnya diperdengarkan Rhoma Irama, sekarang si kecil itu terdedah pada lagu yang harus didengarkan (siapa yang bilang?) musik klasik, seperti Mozart dan Beethoven. Ya, ikhtiar terakhir adalah sebentuk pengiyaan terhadap saran banyak orang dan informasi yang saya pernah sempat baca sebelumnya. Malah tak hanya itu, saya mengumpulkan beragam lagu untuk menjadi teman ‘kecuekannya’ terhadap perhatian dan keadaan sekitar. Lagu qasidah, Esri Mukaromah, bertajuk Ya Mismis diharapakan akan menjadi awal untuk mengenal neneknya yang berada di pulau Garam jauh nun di sana. Aha, Galang Rambu Anarkinya Iwan Fals seakan-akan mewakili kehendak saya untuk menciptakan lagu yang sama, di mana si kecil lahir setelah (bukan sebelum) pemilu dan harapan agar segera meninju matahari. Rasanya benar kata kawan baik saya, Pak Supriyanto, bahwa menjadi orang tua untuk pertama kalinya mendorong kuat untuk melakukan apa saja untuk kebaikan anaknya. Apakah memang begitu?


Kehadirannya telah memorakporandakan jam tubuh saya. Ia bisa ‘menangis keras’ tanpa mengenal waktu, pagi buta, tengah malam, atau siang. Jika sedan lelap, dengan langkah terhuyung saya beranjak dari tempat tidur. Ibunya praktis tak bisa bergerak lincah karena bekas jahitannya menghalangi untuk bergerak leluasa. Menariknya, saya pun menikmati suasana malam buta yang hanya ditingkai rengekan bayi. Kadang, saya harus menambah minuman susu formula, sebab si kecil masih ingin mengasup minuman. Tangisan itu mendatangkan keriangan, seakan musik lain yang menentramkan. Apatah lagi, suara itu menyebabkan paru-parunya kuat, sehingga meski nyaring terdengar tak merisaukan. Alhamdulillah, sekarang air susu ibunya lancar. Susu bubuk itu tak lagi disukai. Ya, benar-benar ASI eksklusif. Melihatnya mengasup ASI setelah dimandikan ibu atau Mak Cik, saya berbinar bahagia, sebab si kecil telah menemukan hidupnya yang sempurna.


Dalam keadaan sebegini, saya ternyata mempunyai tenaga berlebihan, karena bisa melakukan apa saja dalam rentang waktu 24 jam. Dari menggendong bayi, memberinya susu, menjemurnya di pagi hari, mencuci popok dan bajunya, saya menemukan keriangan. Lelah itu tiba-tiba raib bersama senyuman yang kadang muncul tanpa sebab. Ya, si kecil seringkali tersenyum sebagai respons meskipun saya tidak bisa memastikan ekspresi apakah yang menggerakkannya menyunggingkan sebuah senyuman. Di tengan keriangan ini, saya juga mengalami masa cemas karena perawat merekomendasikan untuk diperiksa ke klinik terdekat. Lebih gundah lagi jika saya harus membawanya ke ICU (Intensive Care Unit) karena dokter klinik angkat tangan. Untung hanya dua kali, sehingga saya tidak harus sport jantung setiap kali harus membawa si kecil ke rumah sakit.


Setelah ditelisik, hikmah saran perawat agar dirujuk ke dokter, saya bisa mengenal lebih dekat apa yang harus dilakukan terhadap si kecil. Di rumah sakit, saya bisa mengambil brosur sebanyak mungkin tentang perawatan bayi, baik secara fisik maupun psikis. Tentu, saya juga melengkapi dengan bacaan di surat kabar, yang kebetulan memuat hal ihwal bayi. Demikian pula, nasehat dari orang tua bagaimana mengurus bayi. Lebih dari itu, saya mendapatkan jawaban langsung dari sang otoritas, dokter. Haruskah terbekap ragu?

Sunday, May 10, 2009

Surau Kami setelah Pertemuan

Sudah memasuki minggu ke-3 setelah pembentukan pengurus baru (di sana disebut ahli jawatan kuasa), surau kami mengalami sedikit perubahan. Zakri, sekretaris, lebih kerap mengumandangkan azan, sehingga tak hanya terdengar di waktu Maghrib, Isya dan Subuh. Meskipun belum banyak yang hadir, namun gagasan untuk memakmurkan surau kami menggembirakan jamaah. Apatah lagi, Departemen Agama setempat bersedia untuk menggelontorkan bantuan dana untuk pengembangan fisik telah memantik pengurus baru untuk mengancang melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan yang akan datang.

Ya, sejak tahuan 2003, kepengurusan surat flat kami mandek. Perlu 6 tahun untuk hidup kembali dan ternyata pengurus masih menyisakan saldo. Bendahara lama ditunjuk kembali untuk mengisi posisi pengurus keuangan. Saya sendiri bersedia hanya sebagai anggota biasa, karena satu-satunya warga asing yang turut menjadi bagian pengurus. Musyawarah pada waktu itu berjalan lancar dan masing-masing lebih mengedepankan pertimbangan kebersamaan. Meski sebelumnya saya mendengar salah seorang warga keberatan, namun pembentukan pengurus tetap berlangsung.

Saya juga mengusulkan untuk menghidupkan surau dengan penyelenggaraan pengajian al-Qur'an untuk anak-anak. Ternyata sesepuh surau itu menyambut baik dan akan membawa usulan ini pada musyawarah ke-dua, pada tanggal 24 Juni. Tentu dengan sosialisasi lebih awal, pengurus surau akan lebih siap untuk mendata anak-anak yang akan diminta turut serta dalam kegiatan ini. Diharapkan dengan aktivitas ini, surau itu tak lagi lengang di waktu sore dan anak-anak warga flat akan menemukan dunianya yang tak lagi melulu terbekap di rumah memelototi film kartun.

Menunggu Berita, Meraih Makna


Saya merasa menemukan berita lebih berimbang pada koran ini, Sinar Harian dibandingkan koran-koran yang diterbitkan oleh pro-pemerintah atau oposisi. Prinsip etika jurnalisme paling dasar, mengetengahkan ke dua belah pihak (berseteru), dipraktikkan melalui pemuatan artikel, berita dan kutipan blog dari pelbagai sumber. Demikian pula komentar pembaca yang dikirimkan melalui pesan pendek (sms) mencerminkan berbagai kalangan. Karena itu, saya menyempatkan diri untuk selalu membeli koran yang diterbitkan oleh perusahaan berbeda Karangkraf ini agar bisa mengikuti perkembangan terbaru dunia politik, agama dan budaya Malaysia.

Tidak hanya itu, sebagai media yang menahbiskan dirinya sebagai koran komunitas, ia telah menjadi ruang bagi pelbagai masyarakat untuk menyatakan dirinya. Di sini, kita menemukan pelbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, dari olahraga hingga kebajikan sosial. Sebuah gotong royong membersihkan kampung atau masjid, misalnya, tidak terlewat untuk menjadi berita. Tentu yang paling seru, aktivitas para politisi yang menampilkan dirinya dalam kegiatan masyarakat atau sedang menyambangi konstituennya diberitakan secara adil dan diberikan ruang pada ke dua kelompok politik, Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat.

Berbeda dengan media yang dimiliki oleh dua musuh bebuyutan di atas yang selalu menurunkan berita tendensius dan berbau propaganda tanpa henti. Akal sehat tiba-tiba berhenti. Perbincangan melulu berkait dengan bagaimana memojokkan lawan tanpa ampun. Tentu, dalam keadaan seperti ini, pendidikan politik akan macet karena sumber informasi tidak didasarkan pada etika jurnalisme, transparansi, berimbang dan bertanggungjawab. Berita diturunkan tidak secara verbatim, apa adanya, melainkan pada tataran tafsir. Kalaupun disiarkan secara langsung, namun hanya dijadikan titik mula untuk mengkritik seteru. Apatah lagi mau mengembangkan jurnalisme sastera yang mengandaikan sebuah penyajian berita investigatif dan enak dibaca. Saya tidak tahu sampai kapan media pemerintah dan oposisi yang menyuguhkan bacaan yang enak dan perlu, mengutip moto majalah Tempo, akan lahir. Menunggu Godot? Wallahu a'lam.

Thursday, May 07, 2009

Merawat Tradisi


Gambar di atas adalah sebagian upacara potong rambut. Tradisi Nabi yang telah dipelihara pelbagai generasi. Demikian pula sebelumnya, saya harus membawa sekantong plastik ari-ari yang diletakkan di bawah kotak bayi. Malam itu, saya harus membawanya ke rumah dan membersihkannya hingga tak berwarna merah, karena darah. Ternyata perlu waktu lama karena darah itu seakan-akan terus mengalir. Aha, saya kemudian meletakkan di wadah yang terbuat dari plastik berlubang, sehingga saya hanya perlu membuka kran dan air mengalir deras. Dalam benak, manusia ternyata mempunyai semacam kepompong sebelum lahir ke dunia.

Keesokan harinya, saya membawanya ke kampus. Lalu, atas jasa baik Pak Supri, teman Indonesia yang sedang mengambil ilmu komputer, ari-ari itu ditanam di belakang rumahnya, keluarga mahasiswa Asing 'Aman Damai'. Alhamdulillah, cangkul kecil itu mampu menggali cukup dalam sehingga 'bagian' dari si kecil itu bisa dikebumikan dengan baik. Lalu, saya memasukkan asam dan garam agar baunya tidak mengundang binatang malam. Kemudian, di atas gundukan tanah itu diletakkan sebongkah batu, semacam tanda, nisan, atau penghalang agar binatang liar yang acapkali berkeliaran di sana tidak menghidu bau sesuatu.

Jauh hari sebelumnya, saya telah membeli secarik kain kafan putih sebagai pemenuhan banyak petuah agar ari-ari itu diperlakukan sebagaimana layaknya manusia. Tentu saja saya tidak menerangi dengan lampu sebagaimana di kampung, karena ia ditanam di belakang rumah seorang kawan. Demikian juga, saya tidak mungkin mengebumikannya di depan rumah, seperti dulu ari-ari saya disemayamkan, karena kami tinggal di sebuah flat. Hingga hari ini, saya tak pernah menyambangi uri (sebutan jiran kami untuk ari-ari) dan saya berharap ia telah menyatu dengan bumi. Damai bersama kebaikan teman-teman yang senantiasa bertanya kabar tentang puteri kami dan sebentuk doa yang mereka berikan. Mungkin kebajikan mereka yang menggantikan cahaya lampu yang biasanya dipasang di atas sebuah tutup yang dibuat dari tanah liat dan berlubang di sana-sini agar pelita yang ditaruh di dalamnya tidak mati kekurangan udara.

Tuesday, May 05, 2009

Bermain Bola



Ini peristiwa biasa, seperti kebanyakan orang melakukannya. Namun, bagi saya, ia sesuatu yang baru. Pertandingan persahabatan antara mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Sains Malaysia. Saya didapuk sebagai pemain untuk tim pascasarjana. Beberapa hari sebelumnya, tim 'tua' ini telah bersuara di milis untuk menentukan posisi.

Pada hari pelaksanaan, saya berangkat dengan Iman, anak tetangga jiran flat. Sayangnya, meskipun semangat membaja, saya tidak bisa turun lapangan. Demam semalam masih mengendap dengan senang. Saya hanya menonton dari kejauhan. Meskipun saya bisa memaksa diri untuk bermain mengocek bola, panas sore itu tentu akan menguras tenaga dan menyengat kepala yang sebelumnya diserang pening. Agar bisa bertahan lama, saya meneguk air yang disediakan panitia. Anehnya, segar tak kunjung datang. Meski, Didi, koordianator acara ini, menelepon dari lapangan agar saya menggantikan pemain lain, saya tak kunjung beranjak.

Sebelum usai, saya dan Iman pulang. Saya tetap merasa kegembiraan. Teman-teman Indonesia yang belajar di seberang berpayah-payah datang untuk meramaikan acara itu. Tentu, teman-teman S1 tampak paling siap dengan kostim dan latihan yang rutin. Mereka juga menunjukkan kekompakan yang luar biasa. Selain tepat waktu, mereka juga turut membantu kepanitiaan kecil agar main bareng ini berjalan sukses. Foto di atas diambil oleh Mahda, mahasiswa S1 yang sekarang sedang pulang liburan dan bercerita ingin memborong bacaan di toko buku Medan.

Rumah Kami Retak

Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Sains Malaysia goyah. Ia menuju 'retak', menunggu terbelah. Tentu pertanda buruk bagi sebuah organisasi yang dihuni tak begitu banyak anggota. Tapi, apa boleh buat, para pejuang itu memilih untuk berumah berbeda, milis resmi dan perjuangan. Dalam sebuah pertemuan kelompok yang terakhir, pengurus PPI diminta untuk memenuhi tuntutan anggota yang tidak rela milis sebelumnya ditutup. Alasannya pemberangusan sejarah, penghilangan jaringan (networking) dan ketidakpekaan terhadap perasaan ratusan penghuni yang ada di dalamnya, baik masih berstatus mahasiswa ataupun alumni.

Gambar ini adalah momen musyawarah tahunan. Saya bertanggung jawab sebagai panitia pengarah (steerring committee). Sejak awal, saya telah menghidu bau persaingan untuk merebut orang nomor satu. Meski tidak sepanas acara mahasiswa di Indonesia, dengan melempar kursi atau beradu mengencangkan urat, namun pembahasan tata tertib berjalan alot, namun tak jarang diselingi kelucuan. Konflik bertunas. Setiap calon merapal doa dan menghitung peta dukungan suara. Akhirnya, pemenangnya adalah mahasiswa S1. Acara usai.

Tak lama setelah kepengurusan terbentuk, mahasiswa dikejutkan dengan keputusan pengurus untuk menutup milis dan digantikan dengan rumah baru. Di sini, perselisihan menyeruak. Tak hanya di dunia maya, di dunia nyata mereka beradu argumentasi untuk mempertahankan yang lama dan menyodorkan rumah baru. Saya sendiri mengelak untuk terlibat secara langsung. Sekarang, bola liar makin membesar. Keduanya telah memilih jalan berbeda. Lalu, kapankah ini berakhir? Menunggu waktu.

Saturday, May 02, 2009

Inilah Perpustakaan Kampus Itu


Inilah perpustakaan tempat saya belajar. Di dalamnya ada 1 juta lebih koleksi buku pelbagai disiplin. Tak hanya itu, ada fasilitas lain, seperti koleksi CD film, kuliah dan lain-lain. Malah, di sebelah tempat penyewaan film, ada ruang mendengarkan musik. Dulu, saya sering menyambanginya setelah penat membaca buku. Di lantai bawah, ada ruang khas untuk majalah, baik luar maupun dalam negeri. Tak hanya itu, televisi berukuran besar menyala, menyiarkan saluran pengetahuan. Di sini, pengunjung juga bisa membaca koran lokal, seperti Utusan, The Star, The Sun, Berita Harian, New Straits Time dan koran berbahasa Tionghoa dan Tamil.

Di rak bagian filsafat, saya tersentak karena koleksi bukunya bejibun. Saya belum sempat membaca semuanya. Malah, saya mendapatkan buku asli terjemahan Truth and Methodnya Gadamer di sini. Sebelumnya, saya hanya mendapatkan buku magnum opus penggagas falsafah hermeneutik ini dalam bentuk fotokopian. Mungkin setelah selesai ujian doktor, 8 Mei, saya akan menekuri buku-buku yang terbengkalai itu. Ini terjadi disebabkan di kampus saya tidak mempunyai jurusan atau fakultas filsafat sehingga buku-buku warisan Yunani itu tidak sempat terjamah oleh mahasiswa.

Di depannya, ada kursi panjang yang menjadi tempat mengasyikkan karena di sini kita bisa bertemu banyak orang, yang bahkan tempat saya mengenal banyak mahasiswa Indonesia dan bertemu dengan teman-teman lain yang berasal dari banyak negara. Letaknya yang berada di tengah kampus membuatnya menjadi tempat lalu lalang mahasiswa. Inilah tempat yang banyak mendapat kunjungan mahasiswa, selain kantin dan masjid. Apakah ini juga petanda bahwa keperluan manusia itu adalah makan, membaca dan beribadah?