Monday, November 26, 2012

Menikmati Perjalanan

Bus ini mengantar kami ke Jember. Ada banyak cerita sebelum kendaraan berbadan besar ini menjejaki tanah daerah seribu pesantren ini. Di terminal Juanda, bus bernomor N 7277 D ini menyabut kami dengan riang. Setelah tiga jam kami berada di dalam badan pesawat, tiba giliran kami merasakan jalan darat. Tak sama dengan pengangkut pertama, kami merasakan bus ini  jauh lebih nyaman karena masing-masing lebih lebih leluasa bercanda dan bertukar cerita. Bayangkan kalau suasana bising penumpang ini berlaku di burung besi!

Dengan hanya berdua belas, kami diseret oleh bus ini  dengan ringan, tak terseok-seok, apalagi jalanan tak disemuti oleh pelbagai jenis kendaraan. Meskipun kami baru pertama kali bertemu di LCCT KLIA, namun kimia pertemanan cepat menyemburat. Para pengajar perguruan tinggi dari banyak universitas Malaysia akan mengikuti bengkel (workshop) kepemimpinan yang digelar oleh Universitas Jember dan Akademi Kepimpinan Pengajian tinggi KPT Malaysia. Sebenarnya senyum telah memecah sejak kami memulai percakapan pertama kali. Namun, bus bertanda bintang ini seakan-akan menjadi panggung setiap orang untuk berkelakar sehingga gelak-tawa berderai.

Ternyata percakapan yang disertai tawa itu menguras tenaga. Kami pun mengasup makan di Rumah Makan Gempol Asri. Di sini, kami juga menunaikan sembahyang berjamaah yang diimami oleh Dr Jamal, dosen Pendidikan Universitas Kebangsaan. Hebatnya, surau di sini bersih dan terawat. Air melimpah. Usai beribadah, kami pun menyantap pelbagai jenis makanan yang telah dipesan. Ternyata banyak kawan-kawan yang menyukai Teh Botol Sosro. Saya pun sangat menikmatinya karena lidah ini telah merasakan pahit dan manis teh ini sejak belajar di Pondok Annuqayah. 

Wednesday, November 14, 2012

Memahami Gambar


Sebuah tangan memegang kepala Barack Hussein Obama. Apa yang ada di benak kita tentang perang? Kita boleh berbincang semalaman, namun satu hal yang pasti tentang perang bahwa ia adalah kejahatan yang sempurna. 

Monday, November 12, 2012

Sudut Penglihatan


Kampus banyak menyediakan tempat seperti ini. Mereka tinggal memilih, namun juga memikirkan tanda, seperti larangan menggunakan sepatu di lantai pondok tempat pengunjung berteduh dan menikmati pemandangan. Dari sini dengan mudah kita menjangkau kantin, bank, kantor pos dan toko yang menjual keperluan sehari-hari. Tak jauh dari gedung Pusat Seni dan Budaya ini, kita bisa mengayunkan langkah kaki ke masjid. Tempat-tempat ini menyediakan sudut untuk memanjakan mata kita menikmati alam. Seperti kata Willard Spiegelman, dalam Seven Pleasures: Essays on Ordinary Happines, melihat itu adalan anugerah yang mendatangkan kebahagian.

Setiap tempat itu mempunyai waktu. Lagi-lagi kita menyesuaikan untuk mendapatkan keriangan. Dari Anjung Siswa ini, saya meluruskan kaki karena bersendirian seraya menikmati koran The Malay Mail. Dengan pena di tangan saya kadang menggarisbawahi kata-kata penting yang dimuat di surat kabar. Permenungan bisa meluap di sini karena siapa pun akan merasa tidak dikerangkeng oleh tembok tebal dan dielus oleh angin alam. Namun, kita pun tahu kita perlu mengakhiri keasyikan sebab sang bayu bisa mendatangkan masuk angin.

Untuk itu, tubuh ini perlu kehangatan dengan menyesap kopi dan mengganjal perut dengan beberapa potong ba(h)ulu buatan  Pak Hj Ibrahim. Dengan bungkus plastik yang ciamik dan catatan kandungan yang lengkap, seperti tepung, telur, gula, minyak sayur, perasa buah, soda dan garam,  ia telah menjadi bagian dari kehendak pasar bahwa bungkus itu membantu menaikkan permintaan. Tak hanya itu, selain informasi kandungan, kita juga bisa membaca fakta nutrisi, tenaga 207kcal, protein 0,8g, karbohidrat 15.5g dan lemak 0.02g.

Dari sini pula, saya bisa menikmati angin berhembus lembut. Sementara di depan meja dan kursi ini, hamparan rumput dan pepohonan yang hijau serta aliran air sungai menyeret khayalan ke peristiwa masa lalu di kampung halaman, silih berganti antara permainan, sekolah dan pertemanan. Mungkin berlebihan kalau kita menyebutnya ini pesta, tetapi semua pasti berakhir. Saya akan beranjak. Lamat-lamat, lagu Rhoma Irama bertajuk Pesta Pasti Berakhir mengalun dengan pembukaan cabikan gitar.

Sunday, November 11, 2012

Kompang dan Perkawinan


Kami berangkat satu jam sebelum penganting datang. Setelah mengasup makanan yang lezat, kami pun duduk diam menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi dengan bantuan karaoke. Selain lagu-lagu Melayu lama, tiba-tiba suara berat Broery Pesolima yang menyanyikan Widuri memecah hiruk-pikuk. Lalu tak lama, nyanyian Ayat-Ayat Cinta yang dipopulerkan oleh Rossa memenuhi ruangan. Sebelum jam 2, pukulan kompang mengejutkan para tamu undangan, sebagai pertanda pengantin telah datang. Bacaan shalawat itu begitu menggetarkan.

Sabrina dan Nasir pun melangkah masuk. Tetabuhan dipukul bertalu-talu. Cahaya kamera menyerbu wajah keduanya. Wajah-wajah tamu mengembang riang. Anak-anak kecil pun menyemuti iring-iringan. Setelah keduanya duduk di pelaminan, acara dilanjutkan dengan acara merenjis oleh kedua orang tua raja dan ratu sehari ini. Kami merasakan khidmat acara yang dihelat di Markas Angkatan Darat Malaysia, yang terletak di atas bukit tak jauh dari Lapangan Terbang Interasional Bayan Lepas Pulau Pinang.

Mungkin banyak cerita dari acara ini, namun saya justeru memerhatikan dari dekat bagaimana Prof Sohaimi Abdul Aziz menyelipkan kumpulan Kompang atau Rebana dalam menyerikan pesta perkawinan anak puterinya sulungnya. Para remaja berbaju dan bersongkok hitam sedang bersiap-siap untuk memainkan kembali rebana dengan lantunan pujian pada Nabi. Bagaimanapun, tradisi itu akan abadi apabila ia hadir dalam banyak kegiatan warganya. Namun demikian, sebagai acara untuk banyak tamu undangan yang berlatarbelakang berbeda, panitia pun menghadirkan lagu Love Just Ain't Enough oleh Patty Smith. Aha! lagu ini pun tak asing bagi saya karena pada tahun 1990-an ia begitu akrab di telinga orang ramai. Saya pun latah ikut-ikutan menyukainya. Alamak! Ternyata lagu ini juga enak. 

Monday, November 05, 2012

Kedai Makan

Di sebuah warung tak jauh dari rumah, kami menikmati sore. Si kecil tak bisa dicegah untuk beraksi. Untungnya, belum ada pelanggan yang lain. Saya memesan tape (tapai) ketan. Sementara, setelah lelah, anak kecil berkaos hijau ini mengasup bubur ayam. Di Kedah tak banyak warung yang menyediakan tempat lesehan. Kebanyakan warung makan meletakkan kursi meja di pelbagai sudut.

Seperti anak kecil sebayanya, ia tidak bisa duduk diam dengan tenang. Hanya sepersekian detik sampai, ia telah menyusuri setiap sudut warung. Atraksi di atas meja tentu di luar dugaan. Namun, kami pun memintanya tak berlama-lama, sebab meja itu tidak sesuai dengan berat tubuhnya. Apalagi dengan hentakan keras, lama-lama meja bisa ambrol.

Dunia setiap orang tak sama, namun kehendaknya tak jauh berbeda, menemukan riang. Setiap manusia sedang berburu kegembiraan. Bagi kami, kedai makan yang menyediakan minuman dan makanan ringan ini telah menyediakannya. Sambil berselonjor, kami merasa tubuh lebih santai. Di sebelah warung ini, warung makanan Thailand berdiri kokoh, tempat kami kadang-kadang memenuhi makan malam. Lalu, mengapa kita harus menguras kantong hanya untuk makan di tempat yang mahal, sementara rasa nyaman itu hakikatnya adalah tanggapan perasaan dan gagasan kita tentang sesuatu? Bayangkan, di Korea Selatan, ada anekdot bahwa di sana tak jarang orang berhemat  dengan makan mie instan seharga 2000 Won ( Rp 18 ribuan) agar bisa menikmati secawan kopi Starbucks 6000 Won (Rp 51 ribuan) sebagai cara  untuk  memenuhi gaya hidupnya.