Posts

Showing posts from September, 2008

Tetangga Menjelang Hari Raya

Dua hari yang lalu, pintu rumah saya diketok. Isteri pun menyambangi. Oh, ternyata tetangga depan, sebuah keluarga Melayu, mengantarkan kue. Kami gembira, karena bukan hanya dapat panganan, tetapi juga perhatian. Meskipun kami tidak begitu dekat, tetapi mereka baik pada kami. Mungkin karena usia yang berbeda jauh, kami belum menemukan tune untuk memulai sebuah pembicaraan.

Malah, kemarin tetangga lantai bawah, mengantarkan puding ketika kami berbuka. Ya, keluarga Indonesia ini juga menyuguhkan wajah indah dalam menyemai silaturahmi. Ada damai menyeruak. Puding itu tidak habis sekali makan, malah saya menyimpannya di lemari es. Baru semalam, saya menghabiskan seakan-akan saya sedang menghitung kebaikan orang lain agar tidak cepat lenyap di ingatan.

Hidup di sebuah flat yang begitu sangat dekat karena tidak ada penyekat memerlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan salah paham. Meskipun hanya beberapa langkah, kami tidak bisa seenaknya memasuki area pribadi mereka. Pertemuan tidak di s…

Menyelaraskan Dunia Dakwah dan Politik

Sumber Serambinews

Opini


● 27/09/2008 09:03 WIB


[ penulis: Ahmad Sahidah | Topik: Agama]

Dalam hidup bernegara, Muslim terbelah pada dua kelompok, Islam politik dan etik. Keduanya hakikatnya sama-sama ingin mengungkapkan bahwa umat Islam perlu bertindak untuk melakukan perubahan. Yang pertama meyakini bahwa politik boleh dijadikan sarana untuk berdakwah sementara yang terakhir meragukannya karena dikhawatirkan distortif dan dijadikan kendaraan untuk raihan kekuasaan sesaat.

Tentu Kekhawatiran ini bisa dimaklumi karena dalam sejarahnya dakwah telah disalahgunakan oleh banyak pemerintahan zaman Islam dahulu untuk mengukuhkan kekuasaan. Dakwah di dalam sejarahnya telah digunakan untuk menyebarkan klaim tertentu dari pelbagai dinasti, seperti Abbasiyyah dan sekte-sekte Ismailiyyah. Tidak saja para dai dari dinasti berhasil merekrut banyak pengikut, baik bagi doktrin agama maupun afiliasi politik (Dale F Eickelman dan James Piscatori, 1996).

Namun, juga tak bisa disangkal bahwa banyak gerakan I…

Berjalan Kaki

Menjelang jumatan, saya beranjak ke luar dari ruangan kampus untuk menuju parkir. Niat untuk menggunakan motor ke masjid tak menjadi kenyataan, karena saya berjumpa dengan Encik Marzuki, sastrawan dan dosen di kampus, yang sedang berjalan. Kami pun bertukar salam sejenak dan beliau menanyakan "Kapan pulang?" dengan logat Indonesia. Saya jawab, "saya akan merayakakan idul fitri di sini". Lalu, kami pun berpisah.

Tiba-tiba, saya berbelok ke kiri, bukan ke kanan pintu kampus tempat parkir. Saya memilih berjalan ke kaki ke tempat ibadah, meneladani sang penyair di atas yang selalu berjalan kaki ke mana beliau melangkah. Tadi saya sempat menyelami keteduhan raut mukanya dan terbawa dalam perjalanan melintasi gedung, taman dan jalan setapak. Berjalan kaki seakan menjadi lebih nikmat. Saya menyusuri lantai, tanah dan mereguk udara dengan sepenuh hati.

Tak sengaja, saya melihat mendung hitam dan kabut putih di bukit seberang jalan kampus. Ini pertanda hujan. Ya, tiba-tiba h…

Sastera Asing di Buminya Sendiri

Sumber: Majalah Sastera

Ahmad Sahidah*

Di sela menyelesaikan tesis PhD, saya seringkali mengikuti aktiviti sastera yang dianjurkan oleh pusat pengajian tempat saya belajar. Acara sastera yang terakhir saya ikuti di kampus Universiti Sains Malaysia adalah diskusi buku Jelebak Jelebu Corat Coret Anak Kampung karya Dr Rais Yatim dan kedua pelancaran 3 buku terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Debat Kesusasteraan Dunia, Sastera Melayu dan Amerika Latin dan Deklarasi Belantara. Malangnya, kedua-duanya tidak menarik minat pelajar datang untuk berkongsi dengan para pembentang bagaimana menyingkap tabir rahsia dunia kesusasteraan.

Kalaupun ada segelintir pelajar datang, itu kerana mereka harus hadir atas permintaan pensyarahnya dengan menuliskan nama dan nombor kad matrik di daftar hadir. Belum lagi, hampir tak ditemukan pelajar dari pusat pengajian lain, sehingga timbul imej bahawa sastera adalah milik pelajar sastera sahaja. Satu sesat fikir yang jamak dianuti oleh kebanyakan pelajar sekalipun.…

Seri Sejarah Lisan USM ke-6

Untuk seri ke-6, panitia pembuatan sejarah USM (menyambut ulang tahun ke-40) mengundang Haji Romli bin Bakar (bekas pegawai) dan Marimuthu Ramachandran (bekas satuan pengaman) untuk menceritakan pengalaman beliau selama mengabdi di universitas bermotto Universitas dalam Taman ini.

Encik Romli mengungkapkan idealisme mahasiswa pada masa 1970-an yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi terhadap kehidupan masyarakat dan mereka sangat dekat satu sama lain tanpa disekat oleh perbedaan etnik dan agama. Saya melihat rona Encik Romli berbinar ketika mengungkapkan yang terakhir ini. Sebelumnya hal yang sama juga diungkapkan oleh kesaksian Dr Talhah Idris. Mungkin karena jumlah pegawai masih sedikit, Encik Romli, yang dipanggi tuan haji oleh Profesor Mohd Haji Salleh, orang nomor satu di kampus relatif dekat dengan bawahannya.

Sedangkan Encik Marimuthu menggambarkan suasana kritisisme mahasiswa terhadap kekuasaan, sebelum akhirnya diberangus melalui Undang-Undang Universitas dan Kolej, yang d…

Menggugat Sejarah ‘Indonesia’ Versi Tentara

Image
Judul: History in Uniform Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past
Pengarang: Katharine E McGregor
Penerbit: NUS Press Singapore
Cetakan: I, 2007
Teba: xxi+329


Ketika penulis buku ini memulai penelitian pada 1996, dia tidak menyadari betapa berpengaruh militer Indonesia dalam memproduksi dan membentuk ortodoksi sejarah Orde Baru. Selain itu, penulis juga menceritakan bagaimana proses yang harus dilalui untuk melakukan penelitian di Indonesia, karena ketika penelitian ini digagas, Indonesia masih di bawah kekuasaan militer Orde Baru. Perlu tujuh bulan untuk mendapatkan izin. Di halaman prakata, kita akan menemukan cerita betapa rumitnya birokrasi pada masa itu.

Sebenarnya penelitian tentang kiprah militer di Indonesia bukan hal baru. Namun karya ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap upaya manipulasi militer terhadap sejarah untuk kepentingannya dan yang mungkin agak mengejutkan adalah uraian penulis tentang seorang tokoh di balik propaganda ini, yaitu Nugr…

Kartu Lebaran dari Pimred Jurnal

kemarin, kawan baik saya, Numan asal Thailand memberitahu bahwa ada surat untuk saya di kantor TU kampus. Dalam benak terkelebat mungkin cek honorarium dari Dewan Bahasa dan Pustaka. Karena beberapa hari sebelumnya, pihak penerbit Majalah Dewan Sastera ini menelepon saya menanyakan data diri. Ternyata, saya salah. Sebuah kartu ucapan lebaran dengan stempel Kuala Lumpur bertanggal 18 09 2008.

Setelah dibuka, kartu lebaran tersebut ternyata dikirim oleh Latif Yusoff, ketua redaksi Jurnal Pemikir. Saya senang menerimanya karena biasanya ucapan selamat hari Raya sekarang jarang disampaikan dengan surat pos, tetapi dengan pesan layanan singkat (sms) atau email. Ada gurat kebahagiaan membaca kalimat yang tertera di sebelah kanan: Dengan Ingatan Tulus Ikhlas, Maaf Zahir Batin. Lalu dibubuhi tulisan nama dan nomor telepon.

Saya sendiri pernah menelepon beliau untuk menanyakan kiriman artikel untuk jurnal yang diterbitkan oleh kelompok Utusan Karya ini. Selanjutnya, hubungan kami ditautkan melal…

Jakarta adalah Wajah Muram Kita

Image
[sumber gambar: jakartaoldpicture.blogspot.com]

Bulan Juni yang lalu, saya mengunjungi Jakarta untuk mengurus single entry visa di Kedutaan Besar Malaysia dan sekaligus melawat Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba untuk mendapatkan sebuah naskah kuno yang telah berusia 8 abad, Bahr al-Lahut. Karya abad ke-12 ini telah menjadi penanda awal bagi kesarjanaan Nusantara dalam bahasa Indonesia.

Untuk kedua kalinya, saya mengurus visa di perwakilan negara tetangga ini dan saya mendapatkan pelayanan yang efisien dan profesional. Tidak ada kesulitan. Demikian pula, ketika saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan di atas, kerani menyambut dengan ramah dan betul-betul memberikan pelayanan yang baik. Jelas, ini melegakan karena selama ini kesan sambil lalu pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugas pelayanan masih sering ditemukan. Pendek kata, kita juga mempunyai abdi masyarakat yang baik.

Sebenarnya, saya mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat lain, tetapi mengurungk…

Buka Bersama

Beberapa hari sebelumnya, saya ditelepon oleh pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pulau Pinang untuk memberikan ceramah pada Peringatan Nuzulul Qur’an. Saya pun mengiyakan. Semalam, saya telah menunaikan permintaan itu. Dengan didahului pembacaan kitab suci al-Qur’an oleh Mohammad Nuh, mahasiswa PhD bidang Kajian Islam Universitas Sains Malaysia, dan sambutan oleh konsul, Bapak Munir Ari Sunanda, akhirnya diikuti dengan penyampaian siraman rohani selama tidak lebih kurang 15 menit, dengan tajuk “Dengan Nuzulul Qur’an Kita menjadi Muslim Sejati”.

Sebelumnya, kami, masyarakat Indonesia yang tinggal di Pulau Pinang, berbuka bersama di ruang terbuka kantor konsulat dengan kolak, kurma, kue dan es buah. Di tengah menikmati minum, mereka tampak berbinar sambil berbincang. Lalu, kami bersama-sama menunaikan shalat berjamaah Maghrib di aula. Setelah itu, kami makan ragam menu khas Indonesia yang mengundang selera, seperti lalapan, krupuk, dan rendang. Oh ya, kebetulan ada teman Melayu …

Membaca "Lakon" Tu(a)n Mahathir

Politik (Sumber: Surat Kabar KOMPAS)
Jumat, 19 September 2008 | 02:03 WIB

Oleh Ahmad Sahidah

Tun Mahathir Mohamad berniat masuk kembali ke pangkuan UMNO setelah mundur tiga bulan yang lalu. Meskipun demikian, pengesahan kembalinya mantan orang nomor satu ini menunggu persetujuan majelis tertinggi partai, Abdullah Badawi. Celakanya, mantan perdana menteri ini masih menganggap penggantinya sebagai biang kemerosotan partai dan harus diturunkan.

Seperti biasa, Pak Lah mungkin tidak akan bereaksi secara langsung. Pemimpin yang dijuluki ”Mr Clean dan Mr Nice Guy” ini lebih memilih diam dan tidak meladeni manuver mantan bosnya. Kalaupun ada respons, biasanya datang dari orang-orang dekatnya. Kita tunggu saja. Hanya sekali suami Jeanne Abdulah ini membalas kritik mantan bosnya itu. Malah, ketika ditanya wartawan dalam jumpa pers, sang perdana menteri (PM) tidak akan memberi keputusan seorang diri karena ini adalah hak majelis tertinggi UMNO (TV 3, 11/9/2008).

Harus diakui suara Mahathir di sana ti…

Menyoal Formalisasi Syari'ah

Sebelum Pancasila disahkan sebagai dasar negara, kata syari’at telah tertera pada sila pertama. Kalaupun akhirnya kata ini ‘hilang’, tapi semangatnya masih terasa hingga sekarang. Romantisisme mengembalikan tujuh kata terakhir acapkali muncul ke permukaan. Paling tidak, masyarakat Muslim masih terbelah dalam ke dua kelompok: formalis dan substansialis.

Seiring dengan era keterbukaan, kelompok formalis menyuarakan dengan nyaring bahwa syari’ah adalah satu-satunya pilihan. Tetapi, mereka tidak berada dalam satu payung dan mempunyai strategi yang berbeda untuk memperjuangkan hukum Tuhan di bumi. Strategi struktural biasanya diartikulasikan lebih lunak dan untuk sementara mengedepankan isu-isu netral, sementara cara kultural ditunjukkan dengan sosialiasi melalui demonstrasi, ceramah, dan tulisan dengan bahasa yang tak jarang garang.

Secara umum, pengusung substansialis lebih banyak dukungan karena bisa lebih luwes memosisikan dirinya di dalam masyarakat majemuk. Mereka bisa duduk bersam…

Tamu Istimewa

Alhamdulillah, kami tadi pagi mendapat kunjungan tamu istimewa, petugas kesehatan Klinik Bukit Jambul, ke rumah kami di Bukit Gambir. Dengan baju putih, mereka bertiga tampak bercahaya. Kedatangan mereka adalah untuk mengecek kondisi isteri saya. Sebuah pelayanan yang mungkin tidak akan didapat di Indonesia. Ya, sebelumnya kami mengunjungi klinik yang berada di bangunan bawah dari sebuah flat. Meskipun gedungnya tidak mewah, tetapi pelayanannya sangat baik.

Sambil menunggu isteri berkemas, saya menyambut tamu istimewa tersebut di ruang tamu. Dengan riang, mereka menjawab pertanyaan yang saya ajukan berkenaan degnan keadaan isteri yang sering sakit kepala menjelang tengah malam. Ibu yang paling tertua menjawab bahwa itu hal biasa dan memasuki bulan keempat akan hilang dengan sendirinya. Saya pun lega.

Setelah petugas mengecek tekanan darah dan mencatatnya di buku merah, mereka pun pamit. Sambil mengantar mereka ke pintu, kami masih sempat ngobrol. Adakah pelayanan semacam ini dinikmati o…

Menagih Janji Politikus Islam

Image
17 September 2008
Menagih Janji Politikus Islam Oleh Ahmad SahidahKETUA Dewan Syuro Partai Keadilan dan Sejahtera (PKS), Hidayat Nurwahid, mendorong terciptanya koalisi partai politik (parpol) Islam tidak lama setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengeluarkan izin untuk kampanye bagi peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

Hal itu memantik rasa penasaran saya, apakah memang Islam politik itu benar-benar ada atau bayang-bayang dari sebuah kehendak ”tersembunyi” yang lain? Memang, ia selalu muncul dalam sejarah pergerakan Islam, namun kemudian apakah memang kita memerlukan koalisi, dan untuk apa?

Bagaimanapun peristiwa semacam itu dengan sendirinya menimbulkan persoalan relevansi agama dan politik. Kaitan keduanya telah mengharu-biru kehidupan umat Islam zaman modern, zaman saat hubungan antara keduanya kadang ditegaskan dan dinafikan.

Buku Ekspresi Politik Muslim oleh Dale F Eickelman dan James Piscatori adalah salah satu karya yang baik untuk memahami masalah tersebut secara teoretik dan prak…

Islam Liberal Jilid Dua, Mungkinkah?

Ulil Abshar Abdalla di dalam situs Islam Liberal menulis dua artikel penting, yang pertama tentang Ibn Khaldun dan kedua Sayyid Quthb. Hampir-hampir keduanya jarang disebut oleh pemikir Muslim sealirannya dalam mengapresiasi sejarah pemikiran Islam. Tapi, Ulil mencoba untuk mengaktualisasikan dengan strategi pembacaan kritis. Betapapun seperti dikatakannya karena tugas kuliah dan ternyata calon doktor Harvard ini menemukan semangat progresif dari kedua tokoh di atas.

Ibn Khaldun dipuji setinggi langit. Dia dianggap sosok yang tepat yang bisa menjelaskan realitas dari kalangan sarjana Muslim. Demikian pula Sayyid Quthb. Tapi, sayangnya Quthb dikritik karena terbelah antara memilih Islam lunak atau estetik dan Islam formal atau ideologis. Kalau diperhatikan, dengan mengikuti kategori aku estetik dan aku-ideologis, Islam Liberal masih berada pada yang pertama dan memang dalam kenyataannya ia berada pada gerakan individu, bukan massa. Sebenarnya Islam Liberal bisa menjadi massa karena lat…

Klinik Bukit Jambul

Tadi pagi, kami mengunjungi Klinik Sungai Nibong untuk memeriksakan perkembangan kandungan isteri. Sayang, di sana, petugas kesehatannya menyarankan untuk berkunjung ke Klinik Bukit Jambul karena pusat layanan kesehatan dekat Terminal bis ini buka hari Rabu untuk pelayanan ibu dan anak. Kami pun bergegas keluar dari klinik. Sebelumnya, perawat di sana memberikan kami peta dan alamat klinik yang kami harus kunjungi.

Dengan motor, kami pun membelah jalanan. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya kami menemukan tempat yang terletak di bawah bangunan flat blok D Bukit Jambul. Dengan tangkas, petugas pendaftaran melayani isteri. Setelah dicatat, isteri diminta untuk cek darah di laboratorium (di Malaysia disebut makmal) di blok sebelah. Namun, sebelumnya, kami harus membayar RM 15 sebagai besaran bayaran untuk orang asing, sementara orang lokal hanya membayar RM 1. Saya sempat membaca tulisan yang ditempel di tembok yang menyatakan bahwa pelayanan tidak kurang dari 10 menit. Terus terang,…

Agama yang Menentramkan

Membaca kutipan pertama tulisan Leonard Weinberg dan Amy Pendahzur dalam Religious Fundamentalism and Political Extremism (Lodnon: Frank Cass, 2004) yang berbunyi: Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction -Pascal, membuat saya terperanjat. Sebuah pembukaan yang menghentak dari sebuah karya yang mengurai beberapa tema utama, seperti fundamentalisme agama, radikalisme, agama dan politik, aspek-aspek kekerasan agama dan aspek terorisme agama.

Banyak kelompok agama mempunyai visi politik dalam pengertian mimpi mesianik dan apokaliptik tentang negara/dunia. Banyak orang beriman memegang teguh mimpi ini, dan khayalan kegemilangan dan dominasi masa depan berperan sebagai kompensasi dari ketertekanan masa kini. Untuk mewujudkan mimpi ini, mereka membuat rencana aksi politik. ideologi keagamaan menjadi penting di dalam politik ketika ia ditransformasikan dari sebuah sistem kepercayaan agama ke dalam ideologi politik menjadi sebuah gerakan polit…

Kuras-Kuras Kreatif

Image
Kemarin, saya mencomot buku Kuras-Kuras Kreatif yang ditulis sastrawan Azizi Haji Abdullah (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2007). Sebuah catatan perjalanan kepenulisan sebagai pengarang produktif dalam bidang sastra di tanah Melayu. Meskipun tidak mempunyai pengetahuan teori sastra, beliau menulis sebagai pemenuhan rasa. Sesuatu yang kemudian melahirkan sejumlah cerita pendek dan novel.

Ternyata, kegigihan penerima anugerah S.E.A Write Award ini memantik rasa penasaran saya karena putera kelahiran Kedah ini memanggul beban yang amat berat jika tidak bisa menakwilkan peristiwa menjadi sebuah tulisan. Lalu, dengan serta merta, dia pergi dari rumah meninggalkan isteri untuk satu atau dua hari tinggal di hotel menyelesaikan kehendak mengubah kenyataan menjadi fiksi. Malah, dia blusukan tempat pelacuran karena terpengaruh Chairil Anwar bahwa seorang sastrawan mesti bohemian dan menabrak kelaziman. Secara tersirat juga, ada banyak perempuan dalam proses kreatif kepengarangannya sehi…

Membaca Karya Orang Lain

Image
Mungkin membaca buku adalah hal biasa, tetapi membaca karya berjudul Political Islam, World Politics and Europe, menimbulkan kekaguman yang berbeda. Ia ditulis oleh Bassam Tibi, ahli Hubungan Internasional Jerman, dengan tangan, karena seperti diucapkan sendiri dalam pengantar as an old scholar of a different age of writing, I acknowledge that I am fully computer illiterate. Buku berjumlah 311 halaman ini tentu memerlukan ketekunan karena dikerjakan dengan tangan, yang kemudian diketik ulang oleh sekretarisnya, Elizabeth Luft.

Selain itu, buku ini dimulai ditulis ketika sarjana kelahirkan Damaskus, Syiria, ini mengajar di Universitas Islam Negeri Jakarta. Namun kemudian, ia diselesaikan dalam perjalanannya mengajar di pelbagai negara dunia, seperti Eropa, Amerika dan Singapura.

Berbicara politik Islam, penulis prolifik ini menegaskan bahwa Islam bisa mengakomodasi demokrasi berdasarkan reformasi keagamaan yang memerlukan tidak sekedar sebuah penafsiran ulang terhadap kitab suci. Islamis…

Sesederhana Makan Sayur Oseng

kemarin saya memasak sayur oseng, yang merupakan jenis sayur paling mudah dan sering saya hidangkan karena isteri beristirahat dari kegiatan dapur. Bahannya tidak rumit, hanya irisan bawang putih, bawang merah, garam, gula dan potongan kecil kacang panjang. Ditambah goreng tempe dan telor serta krupuk, berbuka puasa kemarin menyisakan kepuasaan tiada tara. Malah, keenakannya mengalahkan pengalaman makan steak di restoran The Ship yang mahal itu.

Jika urusan perut sesederhana ini, apalagi yang dicari dalam hidup? Saya tidak memerlukan wisata kuliner untuk memanjakan lidah, sebab pemenuhan kebutuhan gizi dengan pola makan seperti ini sudah genap. Apalagi, saya menambahkan dengan bubur kacang ijo dan buah semangka sebagi penutup. Dengan demikian, mungkin asupan batin yang masih belum disempurnakan sehingga ada gelisah yang selalul menyeruak?

Puasa kali ini tentu seperti dulu, keberhasilan menahan makan dan minum, yang bisa diukur dengan pasti. Lalu, bagaimana dengan kemenangan mengatasi n…

Buka Bersama

Kawan baik saya, Abdul Halim Dinaa, mahasiswa PhD Kajian Islam asal Thailand, mengirim pesan pendek undangan mengikuti buka puasa bersama di rumah dalam kampus. Saya pun membalas dengan ucapan terima kasih. Sayang, sebelum bedug berbunyi, hujan turun. Kami pun terpaksa menggagalkan rencana untuk menghadiri acara ini. Namun, beberapa menit sebelum magrib, Ismae Katih, menelepon apakah saya akan datang. "Kalau hujan reda, saya datang" jawab saya.

Syukur hujan tak deras, hanya rinai kecil. Kami pun memutuskan untuk menghadir undangan ini. Ups, ternyata di depan rumah Halim telah banyak undangan lain yang siap-siap berbuka. Kami pun bergabung dan tak lama kemudian azan terdengar. Bubur kacang menjadi pembuka buka puasa dan diselingi dengan kurma. Tanpa menunggu lagi, kami pun bersantap makan nasi dengan gule kambing dan sayur. Mereka yang hadir terdiri dari Melayu, Arab, Afrika dan tentu mahasiswa Thailand.

Meskipun hidangan di atas menerbitkan selera, saya tentu membatasi diri ka…

Hujan itu bukan Halangan

Pagi yang cerah membuat langkah kaki terasa ringan. Matahagi pagi menyemburatkan sinar di dedaunan yang hijau segar setelah diterpa hujan semalam. Inilah suasana yang membuat saya merasakan surga hadir di bumi. Namun, ini tidak lama. Setelah saya melangkahkan kaki ke perpustakaan, hujan turun agak deras. Muram dan basah. Tapi, ini adalah keriangan yang lain karena saya akan merasakan bau tanah yang khas karena basah.

Setelah meminjam empat buku untuk bahan bacaan akhir minggu, saya keluar dan duduk sejenak menanti hujan reda di bangku panjang depan perpustakaan. Namun, saya urung untuk berlama-lama menanti hujan reda dengan membaca, karena hari ini saya harus mengantarkan surat pelantikan sebagai asisten peneliti ke RCMO rektorat kampus. Dengan berlari kecil, saya menembus hujan. Sesampai di ruangan komputer, saya mengambil payung untuk pergi ke rektorat. Meskipun tidak besar, penahan hujan ini mampu menghalangi tetesan itu membasahi kepala.

Untuk keempat kalinya, saya menemui pegawai b…

Bazar Ramadhan

Kemarin, kami dan keluarga Pak Stenly ngabuburit ke pasar Ramadhan dekat kampus. Jam 6 sore, kami berangkat dari rumah dengan mobil. Karena jalan kecil tempat pasar itu berada penuh sesak, kami memarkir kendaraan di jalan besar, dekat perhentian bis. Kehadiran Amel, puteri Pak Stenly, membuat kebersamaan ini hidup karena celotehannya kadang lucu.

Berjalan di sepanjang jalan yang kanan kirinya dipenuhi warung makanan membuat sore itu meriah. Belum lagi jalanan sesak karena begitu banyak orang yang ingin membeli makanan atau minuman. Asap arang dan bau ikan dan ayam dipanggang menerbitkan selera. Ketika Pak Stenly membeli air es tebu, penjual kue sempat menyapa isterinya, dari Jawa ya? Serta merta Mbak Troy menukas ya, Jawa Barat. Tiba-tiba di antara kami terasa dekat dan ngobrol meski tak lama.

Saya membeli ikan bakar dan ayam bakar untuk buka puasa. Tidak lupa, saya membeli es cendol untuk melengkapi iftar. Isteri saya membeli buah semangka untuk menghilangkan jeleh. Kami pun beranjak d…

Hari Kedua Ramadhan

Hari pertama telah dilalui tanpa hambatan berarti. Menahan lapar karena berpuasa bukan perjuangan yang menyusahkan, karena saya terbiasa sejak kecil, tepatnya sewaktu masih bersekolah di tingkat dasar. Lingkungan kampung dulu telah membentuk kebiasaan ini. Tak ada yang luar biasa. Semua berjalan mengikuti kehendak sosial. Di luar kewajiban ini, saya menemukan ketentraman dengan suasana sekitar. Sore adalah waktu menghabiskan waktu di depan pasar menunggu bedug ditabuh di menara masjid.Kadang dalam keadaan lapar, saya masih berlarian di sawah untuk merebut layangan putus. Sebuah permainan yang menggairahkan waktu itu. Hanya keriangan yang hadir, bukan kelelahan. Keringat tak menghalangi untuk terus berjibaku mendapatkan layangan, meskipun tak sebanding dengan bahaya yang mungkin menghadang, misalnya jatuh tertusuk sisa akar padi. Pulang dalam keadaan kotor adalah hal biasa. Mandi akan menyegarkan tubuh. Kadang kami beramai-ramai ke sungai, dan tak jarang terminum air sehingga perut kem…