Tuesday, November 03, 2009

Trek Jogging


Saya tidak lagi menggunakan trek lari (jogging) stadium untuk berolahraga. Selain menghindari kejenuhan, saya menemukan suasana lain di sepanjang jalan di atas. Seorang lelaki tua menyapu jalan dari pasir yang bertaburan, bahkan ketika jam kerja usai. Seorang pekerja perempuan Indonesia yang baru turun dari bis umum, berlari kecil menuju toko bahan bangunan, dan lalu lalang kendaraan yang terburu-buru beranjak pulang.

Dengan menyusuri trotoar, kaki ini berlari kecil untuk membakar lemak yang menimbun di tubuh. Tak jauh dari jalan di atas, jalan menanjak menghadang, yang membuat langkah makin berat. Namun, kaki tetap bergerak, meski melambat. Keringat menetes. Napas beradu cepat. Beberapa menit kemudian, jalan mendatar dijejaki sehingga langkah terasa ringan. Kelegaan menguap dari lubang pori-pori. Tak lama kemudian, jalan menurun, yang justeru tidak membuat nyaman, malah harus menahan tubuh agar tak menggelinding.

Kemarin, saya terpaksa berteduh di bawah pohon nangka karena hujan turun. Dengan menggunakan plastik, saya telah menyimpan telepon genggam agar tak basah. Namun, tak lama kemudian, reda mendera. Sisa butiran hujan hingga di rerumputan dan dedaunan. Meski air merembesi sepatu, saya terus berlari. Matahari pun muncul, memendarkan tetesan air. Sore itu benar-benar indah untuk dinikmati.

1 comment:

Anonymous said...

lucky!!!
masih sempat tu' olahraga, mungkin itu salah satu "bonus" waktu tu' diri sendiri yang diberikan Tuhan pada laki-laki atas nama "kodrat".
olahraga bagiku hanya bisa kusempatkan saat hamil, itupun semata bukan untuk dirisendiri tapi atas nama cinta pada si calon manusia yang hidup dalam tubuhku.
selanjutnya,sebagai perempuan yang hidup dalam budaya patriarkhi, lagi-lagi aku harus memposisikan diri sebagaimana yang diinginkan manusia-manusia lain di sekitarku. Bangun jam 4 pagi;masak,nyiapin teh tu' suami, mandiin anak,nyuapin,trus buru-buru mandi dan siap-siap berangkat kerja, itupun masih dikejar waktu karena kewajiban pada profesi dan negara. ironi memang ketika diri hidup dalam pikiran gender equelity, tapi tubuh tak bisa menghindari hidup dalam budaya dominasi laki-laki, bahkan hal itu diamini oleh sesama perempuan lain;mertua, ipar dell. dan ternyata aku tak sekuat apa yang kupikirkan, akhirnya diri tak berdaya atas itu semua. entahlah.........