Mencabut Akar Terorisme

Pikiran Rakyat, 11 Maret 2010

Oleh Ahmad Sahidah

Polisi berhasil menembak mati teroris. Selayaknya, keberhasilan ini patut mendapatkan penghargaan. Apatah Dulmatin, gembong yang paling dicari yang meregang nyawa ditembus peluru. Ia tidak hanya diburu pemerintah Indonesia, tetapi juga Australia dan Filipina. Namun, bagi sosok seperti Dulmatin, kematian dianggap bukan jalan akhir yang nestapa, tetapi awal untuk mereguk kenikmatan abadi, surga. Jika banyak orang mengelak dari kematian, para teroris itu menyambut riang.

Satu demi satu pelaku kekerasan mati berkalang tanah. Namun, tak ada jaminan, penebar teror itu musnah, karena jaringan teror ini tidak mengandaikan satu hierarki tunggal, tetapi dalam bentuk sel. Satu kelompok dengan yang lain mungkin tidak saling kenal, tetapi pada titik tertentu, salah satu pentolan dari kelompok itu menjalin hubungan. Jauh dari itu, persemaian dan penyebaran anggota baru telah menyusup hingga ke orang biasa yang mungkin salah satu dari tetangga kita. Tiba-tiba, sosok teroris itu bisa berwujud pelbagai rupa, dari petani biasa, orang berada, mahasiswa, hingga dosen.

Gus Martin dalam ”Understanding Terrorism: Challenges, Perspectives and Issues” (2010) menegaskan, satu hal penting untuk memahami kajian terorisme, ia merupakan kajian tentang perilaku manusia. Kajian ini juga berkait dengan penelitian tentang interaksi manusia yang mudah berubah pendirian. Untuk itu, memahami terorisme dengan sendirinya memeriksa kembali peristiwa, ide, motivasi, teori, dan sejarah yang menyebabkan tindak kekerasan teror. Semua ini tidak bisa dipisahkan dan pada waktu yang sama mengandaikan pendekatan pelbagai disiplin, seperti ilmu politik, pemerintahan, administrasi keadilan, sosiologi, sejarah, dan filsafat.

Teori psikologis

Menurut Martha Crenshaw (2007), ada penjelasan berkait dengan perilaku, tingkat individu, dan kelompok. Yang pertama, melihat keputusan keterlibatan dalam kekerasan politik acapkali merupakah buah dari peristiwa penting di dalam kehidupan seseorang yang menimbulkan perasaan antisosial. Sering kali motivasi melakukan kekerasan berasal dari ketidakpuasan pribadi dengan hidup dan prestasinya. Pada saat yang sama, pelaku teror memproyeksikan motivasi antisosialnya pada yang lain, sebagai pembenaran terhadap perbuatannya. Pada tingkat kelompok, motivasi psikologis merupakan intensitas dinamik kelompok di antara para teroris. Mereka menuntut kebulatan suara, dan tidak toleran terhadap pembangkangan. Intensitas pergaulan ini telah mengekalkan rasionalisasi terhadap tindakan kekerasan. Oleh karena itu, pelaku tidak bisa dianggap tidak sehat dan gila. Bahkan, dalam penelitian empiris tidak ditemukan psikopat dalam kelompok ini.

Bagaimanapun, teori tersebut dengan sendirinya memandang peran ”masyarakat” dalam membiakkan teroris. Coba lihat pada pelaku kekerasan atas nama Islam. Jika mereka sadar bahwa orang awam dan fasilitas umum tidak boleh dijadikan sasaran pengeboman dan pengrusakan yang merupakan praktik Nabi dalam perang, maka jelas-jelas tindak tanduk mereka melawan agamanya. Untuk itu, mengendus kehidupan pribadi pelaku adalah keniscayaan untuk mengenal lebih dekat apa sesungguhnya yang mendorong mereka menganut teologi kematian. Sayangnya, para pentolan teroris tewas sehingga dalih mereka tak sempat direkam.

Demikian pula, kehidupan yang tidak ramah pada seseorang telah memicu tindakannya untuk lari dari kebanyakan. Jika orang seperti ini menemukan tempat berteduh yang tepat, mungkin ia akan menemukan makna hidupnya. Namun jika tangan-tangan jahat merangkul pencarian identitasnya, maka pelampiasan semangat muda itu akan menjadi prahara. Lagi-lagi, masyarakat turut menyumbang lahirnya terorisme. Dengan demikian, usaha apa pun untuk memberantas kelompok itu akan berakhir sia-sia, jika kehidupan masyarakat umum yang dianggap normal sebenarnya penjara. Perasaan tertekan adalah lahan subur kekerasan, apa pun motivasinya.

Jalan keluar

Satu hal yang perlu dicermati, tindakan kekerasan itu merupakan cara ”yang lemah” untuk melawan ”yang kuat”. Dengan aksi kekerasan ini, mereka ingin keluar dari ketertindasan dan menghibur diri telah memperoleh kehormatan. Jika yang kuat cenderung dituntut awas dalam setiap waktu, yang lemah hanya memerlukan beberapa menit untuk melakukan kekerasan. Ini terjadi karena kadang yang kuat ”lelah”, sementara yang lemah setiap detik napasnya adalah perjuangan.

Karena pemicu terorisme itu rumit, semua pihak turut memikul tanggung jawab bagaimana menciptakan kehidupan lebih nyaman bagi masyarakat. Jika ruang publik makin sempit sehingga tidak ada ruang bagi orang kebanyakan untuk mengaktualisasikan dirinya, maka tidak menutup kemungkinan segelintir dari mereka mencari jawaban dari rasa frustasi pada kelompok-kelompok ekstrem. Memang, alasan ekonomi bukan alasan tunggal, tetapi ketertekanan yang bermuara dari persoalan biaya hidup juga bisa mendorong orang untuk segera mengakhiri ”hidupnya” dengan cara yang dianggap lebih rasional.

Sayangnya, agen sosial dominan, seperti presiden, menteri, dan anggota legislatif, tidak berupaya menciptakan hidup masyarakat nyaman. Sepatutnya, kue pembangunan itu diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, dan yang diberikan amanah mengambil secukupnya serta wajar. Kalau pun hak rakyat belum dipenuhi, mereka yang memikul tanggung jawab seharusnya tidak mempertontonkan kemewahan. Jika mereka hidup sederhana, rakyat juga merasa telah terbela. Dengan demikian, maukah mereka berubah? Jika tidak, saya rasa sebagian jalan keluar itu tertutup rapat.***

Penulis, Postdoctoral Research Fellow pada Universitas Sains Malaysia.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode