Hari Sabtu

Pengajian tadi pagi membahas fiqh terapan, yang disebut fiqh praktis oleh pembawa acara. Sang ustaz mengurai dasar-dasar fiqh yang terangkum dalam lima qawaid fiqhiyyah, yaitu al-umur bimaqasidiha, al-musyaqqah tajlibu al-taisir, al-adah al-muhakkamah, al-dararu yuzalu dan al-yaqinu la yuzalu bi al-syakk. Lalu, apa hubungannya dengan gambar di atas. Tidak ada. Catatan itu berkait dengan tema pengajian sebelumnya, tentang totalitas ibadah. Sementara, untuk kali ini, saya tidak membawa kamera, sehingga gambar yang sebelumnya diletakkan di atas. Sayangnya, di tengah pembahasan si kecil merengek, saya pun harus menggendong dan mengajaknya bermain di masjid.

Meskipun tak sepenuhnya mengikuti uraian ustaz Faizal, saya bisa membayangkan kandungan penjelasan karena asas-asas itu adalah pelajaran yang didapat di pondok pesantren Annuqayah dahulu kala. Meski sekarang, saya perlu memberikan kata-kata baru untuk istilah teknis yang diberikan oleh para ahli fiqh. Demikian pula, adalah perlu dibuat perbandingan agar komunikasi berjalan lebih mulus. Kaedah yang dimaksud mungkin bisa disejajarkan dengan axioma Immanuel Kant, filsuf Jerman. Namun, pensejajaran semacam ini riskan menimbulkan masalah karena sebagian mereka tak menyukai filsafat. Apa boleh buat.

Seperti biasa, selepas pengajian, kami pun beranjak ke warung pecel lele, Batu Uban. Selain makan siang, saya juga menyerap kabar dari si empunya. Pak Darmo seringkali bercerita tentang perkembangan politik mutakhir. Pemilik warung ini pun tahu bahwa SBY akan berkunjung ke Kuala Lumpur dalam waktu dekat. Aha, perjumpaan ini seperti buku dengan ruas. Katanya, kedua negara akan berbincang masalah tenaga kerja. Sebuah persoalan yang tak kunjung usai hingga kini. Di sana pula, kami pun berjumpa dengan Pak Zainal bersama karibnya. Hari Sabtu yang menyenangkan, tentu.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode