Merawat Bumi dengan Hati

Jurnal Nasional, Kamis, 6 Mei 2010

Ahmad Sahidah

Fellow Peneliti Pascadoktoral pada Universiti Sains Malaysia


Bukan sesuatu yang aneh jika ribuan orang menyertai acara Fun Bike di pelbagai kesempatan. Kegiatan yang bermanfaat untuk mendorong orang mencintai bumi ini layak untuk dikembangkan. Tentu, ia tidak hanya tertumpu pada upacara yang dihadiri oleh pejabat publik, tetapi pada waktu yang sama masyarakat telah menunjukkan kesungguhannya untuk peduli terhadap isu lingkungan. Penyertaan khalayak pada kegiatan semacam ini paling tidak berhasil menggabungkan olahraga dan rekreasi yang sehat. Hal serupa sebenarnya telah banyak di lakukan, namun pembiasaan pemberitaan kegiatan tersebut akan membekas lebih dalam di benak masyarakat.


Namun, jauh dari sekadar seremonial belaka, semua pihak sejatinya menjadikan acara bersepeda sebagai alternatif dari moda transportasi yang tidak ramah lingkungan. Ditandai perubahan iklim yang tak menentu, setiap individu harus memikirkan nasib bumi yang semakin uzur. Harus diakui, penggunaan bahan bakar turut menyumbang pada pemanasan global. Untuk keluar dari kemelut ini, para pakar berusaha mencari sumber energi yang ramah lingkungan. Bahan bakar dari bahan tetumbuhan telah dirintis untuk menggerakkan mesin hibrid yang tak mengumbar karbon dioksida. Namun, kepedulian semacam ini tak dianut orang ramai jika sistem pendidikan tidak menempatkan isu ini sebagai subjek pelajaran khusus.


Apalagi, kesadaran lingkungan selama ini belum merembes pada kesadaran religius. Keduanya masih ditempatkan pada dua kutub yang berbeda. Yang pertama, berkait dengan hubungan manusia dengan alam, dan yang terakhir pertautan batin insan dengan Tuhan. Padahal, hubungan ketiganya mengandaikan piramida di mana Tuhan berada di posisi puncak. Sejatinya, relasi antara ketiga nama itu harus saling terkait. Sayangnya, kesalehan masih dikerangkeng dengan pengertian sempit, sesering individu mengunjungi rumah ibadah dan berteriak di jalan membela Tuhan.


Merujuk Tradisi


Sejatinya nilai-nilai agama mempunyai daya paksa yang kuat untuk menggerakkan seseorang melakukan sesuatu. Di dalam Islam, misalnya, betapa gemuruhnya shalat Jumat yang dihadiri ribuan umat. Mereka datang untuk menunaikan kewajiban. Tak hanya satu jam, bahkan lebih. Tak ayal, kesadaran religius identik dengan ibadah semacam ini. Lambat laun, agama hanya terbatas pada ruang sempit, masjid. Padahal waktu yang sama, ibadah mengandaikan pengertian yang lebih luas. Namun, tak banyak dakwah yang melihat betapa terjadinya krisis bumi yang diakibatkan kegagalan manusia berdamai dengan langit.


Padahal, tradisi Nabi berkait dengan lingkungan tidak kurang banyaknya. Bahkan dalam keadaan berperang, kombatan tidak boleh merusak lingkungan, bahkan rumah ibadah. Demikian pula, pentingnya menghidupkan tanah yang mati sebagai bagian dari praktik yang digalakkan dalam agama. dengan kata lain, contoh-contoh ini ingin mengajarkan manusia untuk tidak memperlakukan alam sekehendak hatinya. Atau dalam bahasa Mazhab Frankfurt, akal instrumental subjektif, yang lebih menggelorakan kepentingan pribadi, jangan dimenangkan atas akal objektif, yang lebih mementingkan kepentingan bersama.


Apalagi, kedudukan bumi ini menempati ayat lain selain al-Qur'an. Bumi adalah kitab suci lain yang perlu di baca dan dipahami. Jika kaum Muslim begitu tinggi penghargaannya pada al-Qur'an, mengapa pada waktu yang sama ia mengabaikan ayat-ayat Alam? Tidakkah kegagalan ini telah menyebabkan bumi diperlakukan semena-mena? Lalu, mengapa protes tak dilayangkan jika ayat Tuhan yang satu ini dirusak oleh penghuninya? Seyyed Hossen Nasr dalam An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (1968) mengutip seorang tokoh sufi ‘Azīz al-Nasafī, dalam Kashf al-Haqāiq, yang membandingkan Alam dengan al-Qur'an di mana masing-masing genus di dalam Alam sejalan dengan surah al-Qur'an, masing-masing spesies adalah sebuah ayat dan masing-masing hal khusus adalah sebuah huruf. Lalu, masihkan kita menyangkal kedudukan bumi yang suci?


Penanaman Nilai


Kata Bildung, dalam bahasa Jerman, mengandaikan pendidikan, namun tidak sama dengan education. Ia juga meliputi sebuah proses pembentukan spiritual dan merujuk pada pembentukan batin yang bisa dicapai ketika perkembangan kecerdasan anak didik berkait dengan hal ihwal spiritual yang ada di dalam masyarakatnya. Nah, spritualitas yang didengungkan di sekolah sepatutnya mengandaikan hubungan manusia dengan alam. Apatah lagi, hukum fiqh yang meskipun acapkali dilihat berseberangan dengan mistisisme dibuat atas pertimbangan keselamatan dan kesejahteraan manusia, yang di dalamnya bumi dengan sendirinya harus dilestarikan.


Saya merasa miris bersirobok dengan tindak tanduk remaja yang abai. Di depan sebuah sekolah menengah di Jakarta, saya terpegun karena betapa mudahnya seorang siswa membuang bungkus makanan di jalan, tak jauh dari sekolahnya. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat dia meraup pengetahuan dan kearifan. Jika prilaku keseharian tak mencerminkan nilai-nilai pembelajaran, bukan ini tantangan terbesar bagi segenap pihak untuk memeriksa kembali pengetahuan yang diasupkan pada peserta didik?


Sekolah seharusnya menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai sejagad berkait dengan hubungan antara manusia dan alam, bukan hanya dengan Tuhan. Bagaimanapun, kepentingan merawat bumi adalah mendesak dan idealnya ditanggung semua kelompok. Sebenarnya, sebagian lembaga pendidikan telah berupaya untuk melakukan hal semacam ini, seperti pengelolaan sampah produktif oleh siswa-siswi Madrasalah Aliyah 3 Annuqayah, namun kebanyakan sekolah lebih heboh dengan hiruk pikuk ujian nasional, seakan-akan hidup matinya negeri ini hanya bisa diselamatkan dengan angka lulus di rapor.


Bahkan, beberapa pesantren telah memberikan teladan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan bumi tempat mereka hidup. K H Tsabit Khazin, dari Pesantren Annuqayah Sumenep, diganjar Kalpataru dari Presiden tahun 1981 karena keberhasilannya dalam menggalakkan penanaman pohon. Sebelumnya, banyak orang dan lembaga yang juga telah mendapatkan penghargaan serupa. Sebuah peristiwa yang sepatutnya menempati berita halaman utama di media. Namun, banyak orang yang menganggap prestasi itu masih tetap dianggap ranah sekuler, yang tak bernilai ibadah. Oleh karena itu, pengarustamaan kesadaran lingkungan sebagai kesadaran religius sekaligus menjadi tugas setiap orang, terutama mereka yang mendaku pengawal keagamaan. Apalagi, agama itu mengurus hati. Jika ‘segumpal daging' ini terpatri sebuah keyakinan, maka selangkah lagi berbuah tindakan

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode