Sudut Penglihatan


Kampus banyak menyediakan tempat seperti ini. Mereka tinggal memilih, namun juga memikirkan tanda, seperti larangan menggunakan sepatu di lantai pondok tempat pengunjung berteduh dan menikmati pemandangan. Dari sini dengan mudah kita menjangkau kantin, bank, kantor pos dan toko yang menjual keperluan sehari-hari. Tak jauh dari gedung Pusat Seni dan Budaya ini, kita bisa mengayunkan langkah kaki ke masjid. Tempat-tempat ini menyediakan sudut untuk memanjakan mata kita menikmati alam. Seperti kata Willard Spiegelman, dalam Seven Pleasures: Essays on Ordinary Happines, melihat itu adalan anugerah yang mendatangkan kebahagian.

Setiap tempat itu mempunyai waktu. Lagi-lagi kita menyesuaikan untuk mendapatkan keriangan. Dari Anjung Siswa ini, saya meluruskan kaki karena bersendirian seraya menikmati koran The Malay Mail. Dengan pena di tangan saya kadang menggarisbawahi kata-kata penting yang dimuat di surat kabar. Permenungan bisa meluap di sini karena siapa pun akan merasa tidak dikerangkeng oleh tembok tebal dan dielus oleh angin alam. Namun, kita pun tahu kita perlu mengakhiri keasyikan sebab sang bayu bisa mendatangkan masuk angin.

Untuk itu, tubuh ini perlu kehangatan dengan menyesap kopi dan mengganjal perut dengan beberapa potong ba(h)ulu buatan  Pak Hj Ibrahim. Dengan bungkus plastik yang ciamik dan catatan kandungan yang lengkap, seperti tepung, telur, gula, minyak sayur, perasa buah, soda dan garam,  ia telah menjadi bagian dari kehendak pasar bahwa bungkus itu membantu menaikkan permintaan. Tak hanya itu, selain informasi kandungan, kita juga bisa membaca fakta nutrisi, tenaga 207kcal, protein 0,8g, karbohidrat 15.5g dan lemak 0.02g.

Dari sini pula, saya bisa menikmati angin berhembus lembut. Sementara di depan meja dan kursi ini, hamparan rumput dan pepohonan yang hijau serta aliran air sungai menyeret khayalan ke peristiwa masa lalu di kampung halaman, silih berganti antara permainan, sekolah dan pertemanan. Mungkin berlebihan kalau kita menyebutnya ini pesta, tetapi semua pasti berakhir. Saya akan beranjak. Lamat-lamat, lagu Rhoma Irama bertajuk Pesta Pasti Berakhir mengalun dengan pembukaan cabikan gitar.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode