Seusai baca Yasin dan Tahlil, kami membahas masalah kampung. Rencana bikin selamatan untuk tolak bala diungkap kembali. Selain doa, warga telah memperbaiki jalan masuk RT.
Apa yang menggerakkan kita? Kita bisa sebut banyak pemikir, dari Ghazali, Nietzsche, Schopenhaeur, dan Suryamentaram. Justru saya ingat Pak Syam, penarik becak. Di usia 79 tahun, ia masih mencari nafkah, padahal 8 anaknya minta sang ayah duduk di rumah di umur senja.
Dorongan untuk hidup tenang, nyaman, dan tentram bisa diketengahkan. Kita bisa menemukan cermin di dekat kita. Anda bisa menemukannya bila hendak mencari dengan tulus. Setiap orang pasti akan memilih sesuai dengan pandangan dunianya.
Semisal, saya lihat sosok pengajar Syarh al-Hikam membawakan dirinya dengan bersahaja. Kata-kata dan tindak tanduknya adalah wujud dari pikiran dan perasaannya yang luas dan terbuka, tetapi ia mengambil jalan hidup yang "sempit" dan "tertutup". Sungguh paradoks! Justru, inilah yang harus kita lakukan karena kita tidak bisa menjalani semua bentuk laku. Wajahnya memancarkan kejernihan karena hatinya bersih dari iri dengki, congkak, dan riya'.

No comments:
Post a Comment