Monday, January 26, 2026

Hari ke-26 (Polemik Sains)


Meskipun gebukan drum Main Hati Andra and the Backbone tidak selembut aransemen Akal Imitasi terhadap lagu yang dibuat ulang, pagi ini saya menikmatinya melalui radio Suara Surabaya. 

Sambil mendengar siaran, saya membaca PASTI oleh Goenawan Mohamad yang terdapat dalam buku Polemik Sains: Sebuah Diskursus Pemikiran. Buku ini dibeli oleh Biyya di pameran buku Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS menyambut Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Tulisan pendek penganggit Catatan Pinggir ini tetap memaksa saya mengerutkan kening karena ia mengerangkeng kutipan awal dari Popper bahwa tujuan pengetahuan adalah kebenaran, bukan kepastian. Bagaimana kita hendak memahami petikan singkat ini? Seingat saya, Mas Achmad Maulani telah membaca tuntas penulis Inggris-Austria tersebut. 

Membaca kemudian menjadi bergiat dengan melompat ke sana ke mari, mengingat masa lalu dan mengandaikan masa depan dan bersisiduduk pas mendaras dengan kepahaman yang mudah retak. Tragedi Covid-19 hendak mengabarkan bahwa manusia akan terus belajar karena mereka tidak akan pernah menggengam kepastian. 

Lalu, apa yang hendak didapat dengan kepastian yang paling mudah dalam keseharian? Saya memasak air hingga menggigah agar dapat menyeduh kopi. Kehangatan menjalar ke raga lalu ke jiwa. Apakah saya perlu mengukur kepastiannya dalam skala 1-10? Apakah saya perlu mengalir saja? Kehangatan itu ternyata dirasakan setelah dipikirkan. 

Pikiran tentu berpijak pada pengetahuan dan pengalaman. Bila tensi naik, saya mengingat kembali pesan dokter. Setiap tubuh mengenal dirinya. Saran untuk berjalan 30 menit 5 kali seminggu dilakukan dan di sini saya mendapatkan pengalaman pagi yang memantik renungan.

Setiap kali memutari kampung, di ujung menjelang jalan raya terdapat kuburan yang berdekatan dengan rumah dan toko.  Di pagi buta saya melihat seorang remaja yang bermain telepon dengan membiarkan pintu terbuka yang menghala ke banyak batu nisan. Sebegitu dekat tetapi ia tidak takut. Kematian itu pasti, tetapi pocong itu tidak.

Kini, ketakutan itu tidak pada pocong, tetapi pada kecemasan yang dipicu oleh kekhawatiran tidak sama dengan orang lain atau tidak bsia menikmati apa yang ditunjukkan liyan. Media telah mendikte selera atau kemauan khalayak.

No comments:

Hari ke-26 (Polemik Sains)

Meskipun gebukan drum Main Hati Andra and the Backbone tidak selembut aransemen Akal Imitasi terhadap lagu yang dibuat ulang, pagi ini saya ...