Friday, January 23, 2026

Hari ke-23 (Kopi Sachetan)

Selain soda gembira, kami menikmati minuman kopi ini kala kos dulu. Coklat granul? Ah, saya pun tak tahu dari mana dan bagaimana ia dibuat. Itulah awal kami menyesap qahwah dengan tambahan rasa lain. Ayah saya hanya perlu bubuk dan gula untuk merasakan kehangatannya. Itu pun biji itu ditumbuk sendiri oleh ibu.
Sekali-kali. Kata yang hakikatnya hendak menghadirkan ingatan. Apalagi, rokok Djarum eceran bisa dibeli di depan warung kos Sapen, tak jauh dari asrama Putera IAIN. Kala itu, kami berpikir revolusi, kini tidak. Sebelum mati, kami akan menjalani detik demi detik sehari-hari di mana pikiran dan perasaan diuji dengann sengit. Tidak lagi langit, tetapi bumi, tempat kita bertukar cerita apa adanya.
Apa yang dipikirkan tokoh Tempo ini, seperti Bivitri Susanti, Agus Widjojo, Yanuar Nugroho, Arif Maulana, tentang rumah, keluarga, dan tetangga, dan akhirnya manusia dan alam. Saya pun mafhum bila Bivitri menyoal militerisme karena ini terkait dengan kesejahteraan dan kelestarian, bukan?
Pagi ini, saya pulang ke rumah setelah mengantarkan dua anak dan istri ke sekolah. Di kediaman, saya mendengar lagu Radiohead dari The New Radio untuk mengerti Amerika. Lalu, saya memasang telinga Sinar Radio sebab bulan depan kami akan ke Semenanjung. Tetapi, hidup itu lagi-lagi soal detik demi detik membawa diri di rumah, tempat bekerja, dan lingkungan tempat kita bermastautin.
Aha, saya menggali tanah untuk mengubur sisa makanan agar mengurangi beban TPA, mengumpulkan bekas botol air mineral, mematikan semua lampu dan mencabut kabel agar tidak menjadi beban watt, dan mencuci pinggan dan cawan secara manual. Dengan mengisi masa sesederhana ini, saya merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Dalam falsafah, kala berbuat baik, kita akan mendapat bonus, yakni bahagia.
Alahai, Yang Tersayang dari Amelina dan Iwan mengalun. Dangdut itu mendatangkan kesenangan karena ia lahir dari tanah sendiri. Kita tak perlu membayarnya mahal untuk menikmatinya. Sebab jika seseorang menaikkan diri dengan selera tinggi yang dibeli, ia tak paham apa yang dijalani. Kepahaman melahirkan pengetahuan dan tindakan.
Alamak, Aku Hanya Serangga oleh Bumiputera Rockers. Dua kata terakhir ini menarik, karena sebenarnya tidak ada jati diri tunggal. Kala menyebut anak bumi, kita juga anggota dari bumi yang lain. Mengidentifikasi diri dengan satu kumpulan, tak berarti kita mengisolasi diri dari tanda liyan. Betapa naif keaslian dan kemurnian? Ini melayangkan saya ke lantai 10 kamar asrama Tekun USM, kala Azim membawakan lagu-lagu BPR. Bukan begitu Pak Dolok Lubis?
Mengapa lagu Rahmat Hanya Segenggam Setia menggambarkan lirik-lirik lagu kita tentang penderitaan, namun masih tegak di atas nilai. Meskipun ditinggalkan, lelaki itu tidak rela jika kekasihnya disakiti? Secara metafora, kebaikan itu tetap dilakukan, apa pun balasannya. Sebab, kebajikan tertinggi itu berpijak di atas keikhlasan. Klise, bukan?

 

Thursday, January 22, 2026

Hari ke-22 (Belajar Berkisah)

Mendorong anak bercerita dan menulis pengalamannya adalah cara paling jitu untuk memberikan kepercayaan pada generasi alpa untuk mengada. Maklum, mereka seringkali terpapar pada gawai yang membuatnya pasif, menjadi konsumen dari permainana.

Kita hadir untuk mendampinginya agar mereka senantiasa belajar menyusun kata untuk meraih makna. Kita setara. Dengan demikian, mereka berani bersuara. Mereka belajar melihat dunia dari caranya melihat. Ini akan mengajarinya untuk berpikir sendiri. 

Sehari sebelum outing class, Zumi sangat senang alang-kepalang. Ia duduk sederet di bus dengan Ruzbihan dan begitu menikmati perjalanan, yang direkam oleh ibu dari salah seorang temannya. 

Wednesday, January 21, 2026

Hari Ke-21 (Wedang Uwuh)

Tubuh bisa rubuh karena cuaca dan minuman uwuh menjadikannya kukuh. Kita tentu tahu bagaimana badan bekerja, yang disangga dengan stamina karena menjaga pola makan, minum, olah raga, tidur dan kelola tekanan atau stres.
Saya tidak sedang mendisiplikan tubuh sebagaimana kritik Foucaldian yang tunduk pada kekuatan luar. Saya hanya ingin sehat sehingga jiwa ini tidak sekarat. Betapa tak nyaman masuk angin, sehingga saya tak bisa makan angin. Anda?

Mengapa sampah (Jw: uwuh) digunakan untuk sesuatu yang menyenangkan? Minuman yang mencampur pelbagai rempah-rempah, seperti jahe, serai, kayu manis, cengkeh, daun pala atau buah pala, daun cengkeh, dan daun kayu manis, dikatakan bisa meringankan flu, melancarkan peredaran darah, mengatasi sembelit, dan banyak khasiat yang lain.


Tuesday, January 20, 2026

Hari ke-20 (Dale Carnegie)

Buku populer dibaca oleh banyak orang. Malah cetakan versi terjemahan telah mececah angka 17. Untuk menjadi pribadi yang memiliki 3 pesona itu, ia cukup mengasah 5 keterampilan. 

Pada halaman 129, jangan lupa memberi tip bartender atau pramusaji $1 karena mereka hidup dari pemberian ini. Kalau kita yang tinggal di Paiton cukup mengulurkan Rp 1000 -2000 untuk pengatur pertigaan jalan arteri. 

Tentu, kita bisa belajar pada jemaah masjid Raudhatul Ulum, Dusun Kebun. Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk berderma. Mereka meminta buah hati untuk memasukkan uang kertas ke kotak amal.sebekum mengikuti khotbah. 

Ide besar tentang kesejahteraan universal itu bermula dari tindakan di tempat kita bermastautin. Filantropi akhirnya dilihat bukan sekadar amal ikhlas, tetapi kerja cerdas. Seluruh pihak menjadikan ini untuk menjadi tanggung jawab publik.

 

Monday, January 19, 2026

Hari ke-19 (Renungan Isra Mikraj)

Apa yang tersisa dari perayaan hari besar Isra Mikraj? Ia bisa menjadi arena persaingan dan perebutan makna. Di Iran, warga menyebutnya hari Bi'tsah. Tentu, mereka menghadirkan cita rasa berbeda dengan warga di Indonesia dan Malaysia. Namun, kita tak hendak mengulik mozaik ini sebagai titik pembedaan, tetapi pertemuan. 

Kita juga tak berhasrat untuk  memanjangkan debat tentang tafsir ketubuhan atau kejiwaan Nabi kala melesat ke langit, sebab pesan tersirat itu ingin diwujudkan di bumi. Kala kita peduli dgn manusia tanpa batas, itulah risalah yang mau disebar oleh ayah Fatimah. 

Kalimat ya jaddal husaini dalam pujian terucap mengkanalisasi gelegak untuk menerima tragedi sebagai peristiwa masa lalu. Transendensi dan imenensi, sakral dan profan, justru menghalangi pengertian yang utuh tentang sejarah kelam manusia tentang perebutan kekuasaan. 

Hanya dalam diam, keterbatasan kita berusaha mengjangkau keluasan tak bertepi. Budi pekerti yang akan merealisasikan bukti, bahwa menjadi baik itu cukup dalam hidup.

Sunday, January 18, 2026

Anwar dan Kawan

Sempat mengunjungi sahabat lama saya yang juga mantan Perdana Menteri Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar yang saat ini sedang menjalani perawatan medis di Malaysia. Berdoa agar diberikan kesembuhan dan kesehatan yang berkelanjutan, disamping itu dimudahkan segala urusan medisnya. Insya-Allah, tulis Pak Anwar Ibrahim di beranda akun media sosialnya.

Sosok pejuang ini melalui hidup yang rumit, dari sekutu Amerika hingga menjadi musuh sengit, dan malah pernah terlibat dalam perang saudara sebelum akhirnya memasuki gelanggang politik resmi yang rapuh. Ia menjadi bagian dari puluhan tahun sejarah modern Afghanistan, yang kini berada di bawah kekuasaan Taliban.

Ini juga mengingatkan kawan baik saya asal Afganistan yang telah mengantongi kewarganegaraan Amerika. Dulu kami sering bareng di sela-sela mengabdi di Universitas Utara Malaysia. Orang Melayu menyewakan rumahnya untuk tempat tinggalnya di Changlun. Mengapa kawasan Asia Tengah ini bergolak? Karena kuasa besar berebut mainan. Khalas
 

Hari ke-18 (Haul Masyayikh ke-77 Nurul Jadid)

Saya datang 20 menit sebelum acara bermula pukul 8 pagi. Sambil menunggu, saya menikmati hadrah. Inilah seni yang paling akrab dengan masa kecil kami. Apa pun acara, terbang, sebutan rebana di negeri jiran, akan ditabuh. 

Mengapa indah? Ini soal penghayatan dan pengetahuan. Buyut kami, Abdurrahman dan Abdurrahim, penabuh yang legendaris. Kecepatan tangan memukul kulit bundar justru memaksa kami untuk diam, berdiri dengan penuh khidmat. Kediaman di tengah "kebisingan" adalah tantangan.

Berbeda dgn Banjari Basyirun Nabi, ala Ahmad bin Ta'lab jauh lebih sederhana dalam bunyi dan kata. Zaman berubah. Mungkin, di masa depan alat lain muncul, spt aud, gitar bunting, akan mengiringi hadrah kita. Atau, biarkan saja rebana itu hadir dgn dirinya agar keaslian tak terganggu oleh rasa tidak puas manusia yang ingin menambah suara di sana sini. Padahal, kala fana, kata dan bunyi hilang.

Hari ke-23 (Kopi Sachetan)

Selain soda gembira, kami menikmati minuman kopi ini kala kos dulu. Coklat granul? Ah, saya pun tak tahu dari mana dan bagaimana ia dibuat. ...