Bening
Kejernihan adalah mula dari segala
Friday, February 06, 2026
Thursday, February 05, 2026
Fana dan Baka
وأما مع الفناء والبقاء فلا
Pagi ini, Kiai Imdad mengurai kebahagiaan berdasar pada tesis sufisme ini kala membacakan Syarh al-Hikam. Kesempitan (القبض) dan keluasan (البسط) itu subjektif. Keduanya hilang bila kita meniadakan ego (nafs) dan mengekalkan Tuhan (البقاء).
Beliau mengisahkan Bill Gates untuk menguatkan aforisme di atas. Para santri Aliyah, mahasiswa UNUJA, dan dosen bertepekur, jadi bagaimana hidup hendak diukur?
Keluasan seringkali dikaitkan dengan ukuran fisik.dan material. Tidak salah. Tubuh harus berada dalam ruang yang sêlesa dan waktu luang, tidak bergegas. Ruang sempit bikin pengap dan waktu terbatas bikin ngegas, tegang dan tekanan naik.
Wednesday, February 04, 2026
Rapor Akhlak
Tuesday, February 03, 2026
Nisfu Sya'ban
Setelah selesai, Pak As'adi memimpin doa penutup dan mengumumkan bahwa kami memiliki waktu untuk menikmati kudapan dan minuman yang disediakan oleh warga sebelum azan isya.
Betapa menyenangkan kami mengunyah makanan tradisional, seperti kratok (Kata Pak Umar) atau lanun (Kata Pak Sururi), makanan yang terbuat tepung kanji. Tentu ini adalah momen warga untuk bertukar cerita. Setidaknya dengan mendaras kitab suci dan melakukan silaturahmi, mereka merawat hati dan hubungan baik dengan tetangga.
Lalu, mengapa kami melakukan kegiatan di atas? Mungkin The Need for Rootsnya Simone Weil bisa ditimbang. Kita perlu keberakaran agar hidup memiliki makna dan utuh. Sejak kecil, saya mengikuti acara rutin di atas. Mengapa menyenangkan? Karena puasa itu mendatangkan keriangan, seperti bermain di sawah dan sungai karena liburan dan makan lahap karena menunda di kala berbuka.
Akar itu adalah keterikatan kami dengan komunitas, tradisi, budaya, sejarah, dan nilai moral. Para guru mengingatkan bahwa dengan berpuasa, kita merasakan lapar dan dari sini tumbuh kepedulian pada orang lain. Jadi, orang itu menjadi manusia dengan memulakan hidupnya dari tradisi tempat ia tumbuh dan besar.
Monday, February 02, 2026
Semenanjung
Sunday, February 01, 2026
Ngopi
Friday, January 30, 2026
Hari Ke-30 (Kehangatan)
Judul di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik, perhatian, atau ucapan.
Salah seorang teman yang hangat itu adalah Sulthon Firdaus. Ia adalah dosen bahasa Arab yang meraih gelar doktornya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Setiap kali bertemu, wajahnya bersinar terang dan berkata-kata dengan penuh keriangan. Teman lain adalah Hilmy Muhammad, yang kini menjadi angfota Dewan Perwakilan Daerah dari Yogyakarta. Sapaan dreh (bindharah, santri dalam bahasa Madura) diucapkan dengan ketulusan. Kawan dari jiran yang menghadirkan perasaan itu adalah Zainal Abidin Sanusi dan Mohamed Imram Mohamed Taib.
Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, I and Thou (1937) saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani sehari-hari, seperti menyediakan air panas untuk Zumi agar dapat mandi pagi dengan penuh semangat dan merasakan kedekatan dengan tetangga di banyak kegiatan, seperti Sarwaan, Yasinan, dan gotong royong. Tidak hanya itu, Di dalam keluarga ia bisa ditunjukkan kala saya mencuci piring di dapur untuk mengajari Biyya tentang kesetaraan yang menjadi salah satu pencetus kehangatan.
Dulu, saya juga merasakan kehadiran dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi untuk membaca teks agama secara kritis dan relasi antarindividu berpijak pada humanisme, kami sama-sama manusia.
Dari pengalaman, di sini ada relasi I-It dan I Thou seperti diandaikan oleh Buber. Hubungan manusia yang bertumpu pada I-It di mana liyan dipandang sebagai itu (It, benda), akan berhenti pada sekadar pemanfaatan dan pengalaman sebagaimana di era modern yang serba teknokratis dan mekanis, bukan lebih jauh pada I-Thou. Idealnya, satu sama lain saling menyangga untuk menemukan autentisitas, bukan kepalsuan yang acapkali menyandera manusia pada sifat pamer, angkuh, dan nirempati.
Jadi, kebebasan tidak dipahami sebagai pemenuhan kehendak seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh Buber bahwa The free man is he who wills without arbitrary self-will. He believes in reality, that is, he believes in the real solidarity of the real twofold entity I and Thou (hlm. 59). Kebebasan bukanlah untuk melakukan apa pun yang kita inginkan secara egois dan semena-mena. Justru ia adalah kehendak yang terarah pada hubungan, bukan pada pemuasan diri sendiri secara sempit. Pendek kata, orang merdeka mengarahkan kehendaknya dalam kerangka tanggung jawab dan pengakuan terhadap keberadaan orang lain/dunia di luar dirinya.
Wujud dari gagasan di atas adalah keterlibatan kita dengan banyak aktivitas organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Namun, hubungan ketetanggaan melalui kegiataan sukarela seperti gotong royong juga layak mendapatkan perhatian. Sesudah menggelar Yasinan dan Tahlilan di acara Sarwaan, Pak RT 23 mengusulkan pengembangan kelompok masyarakat yang akan mengelola sampah organik dan nonorganik. Bermula dari kumpulan kecil, yakni 9 rumah tangga, ide untuk mengurangi sampah buangan ini bisa realisasikan secara lebih luas dan berdampak
Di
sini, kehangatan lahir dari kesetaraan dan kesalingmengertian untuk memupuk
kebajikan. Tentu, satu sama lain memiliki cara sendiri dalam membawakan diri. Akhirnya,
pertemuan rutin akan menyuburkan hubungan Aku-Kamu yang lebih bermakna seraya
menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Setidaknya, dengan ritual bersama
ini, setiap individu berhenti sejenak dari telepon genggam dan satu sama lain
saling bercakap dengan hangat setelah bermunajat melalui doa dan bacaan. Itulah
mengapa saya tidak membawa Samsung ke tempat pengajian ini.
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ke negeri Temasek, kami menikmati nasi padang. Kala itu, tidak ada poster produk Minang asli. Pertama saya mengudap menu negeri Pagaruyung ...






