Thursday, August 28, 2025

Sarapan


 Seusai mengikuti pengajian kitab Syarh al-Hikam di musala Riyadhushshalihin, saya menikmati sayur pari dan mendoan. 

Tadi, Pak Kiai mengulas tentang istikamah. Kata orang bijak kebiasaan rutin itu adalah wajah kita sebenarnya. Panggung adalah pentas kita memoles diri agar tampak gah. Beranda media sosial adalah ruang pamer kita, tak pelak, kata dan foto dipilih yang terbaik. 

Untuk itu, mari sisakan diri agar tak semua tumpah ke sini. Algoritma tak dapat membaca kita. Kita hanya berbagi cerita musik, bacaan, dan pengalaman untuk merasa cukup dgn apa yang kita lalui, bukan menunjukkan apa yang bisa lakukan, dan orang lain tidak. 

Bila saya menikmati Dream On Aerosmith, maka Mas Apoy mendengar nyanyian lain sbg pilihan. Kita tak harus sama, tapi usah saling mengusik. Kami berdua merayakan kebedaan, bahkan dalam banyak hal, tetapi merasakan kedekatan karena pondasi pemikirannya adalah kearifan.

Tuesday, August 26, 2025

Bank Mini

Bank mini adalah wujud praktik dari program studi Perbankan Syariah Universitas Nurul Jadid. Di sini, mahasiswa menguji teori yang diajarkan di kelas.

Sebagai dosen Filsafat Keuangan, saya dan mahasiswa membahas banyak isu berkait uang. Benarkah ia bikin manusia bahagia? Tentu, sebelum menemukan jawabannya, mereka menabung terlebih dahulu di bank tersebut.

Lukman adalah mahasiswa semester akhir PS. Nanti, ia akan melanjutkan S2 di bidang yang sama. Ada banyak banyak pilihan, baik perguruan tinggi umum maupun agama, yang dikelola oleh pondok pesantren. 

Monday, August 25, 2025

Keluarga dan Filsafat


Kumpulan kolom Falsafah Harian akan diterbitkan. Salah satu tulisan berjudul "Kedewasaan" mengetengahkan percakapan keluarga.


Tatkala saya, Biyya, dan Zumi berada di depan televisi, berita pembakaran kitab suci memantik pertanyaan si bungsu. Apa yang terjadi? Oh, itu Salwan Momika, orang Iraq berkewarganegaraan Swedia, hendak membakar Alqur’an. Karena sang adik masih belum sepenuhnya memahami, saya menimpali, orang itu membakar Tartila. Baru, ia paham dan menukas “not nice”. Tentu, kami sebagai orang tua tidak mengipasi agar si anak meluapkan amarah.

Salah satu kunci dalam melihat dan menjalani hidup adalah kemampuan menahan diri (imsak), yang kita peroleh dari puasa. Malah, dalam "cathedral thinking", kita mesti membelajarkan generasi baru untuk menjaga alam dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Kesadaran beragama semestinya mendorong pemeluknya untuk memelihara hubungan Tuhan, manusia, dan Alam secara harmonis.

Sunday, August 24, 2025

Menyoal

Apa yang kita suka dari Barat? Kehendak untuk mengkritik dirinya. Buku Foley dan Chomsky memang berbicara isu yang berbeda, tetapi sama-sama menyoal masyarakatnya. 

Apa yang dianggap mimpi Amrik, dikritik. Apa yang dilakukan Paman Sam, kebablasan. Dengan dasar inilah, kita belajar. Jangan-jangan patung Liberty itu memang gerowong! 

Apa AS akan runtuh? Sejarah menunjukkan bahwa peradaban dunia yang megah pada zamannya, kini rebah. Kalau Indonesia? Masa 2030? Tidak.

Thursday, August 21, 2025

Rumah

Rumah ini adalah tempat kami tumbuh besar. Ibu saya mewarisi dari kakek. Ada beberapa rumah tetangga di sampingnya dengan desain yang hampir sama. Kala itu, kami tak perlu pagar. 

Dulu, ada kursi di sebelah kiri yang dibeli ibu dari kota. Pagi-pagi sekali, ia membangunkan kami bahwa kursinya sudah datang. Dengan warna merah menyala, kehadirannya terasa. Sesederhana itu kegembiraan kala itu. 

Pada 1986, bapak membeli televisi yang memakai accu. Demam Piala Dunia melanda. Sepupu saya menyebut dirinya Mario Kempes, pamain asal Argentina. Di halaman ini, kami juga sering bermain di malam hari ketika bulan purnama menyinari kampung. Kini, rumah ini telah dipugar. Kakak perempuan saya membangun sebuah kediaman baru. 

Monday, August 18, 2025

Jalan Kaki

Kami berjalan kaki mengeliling kampung dalam rangka merayakan kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Warga RT 23, khususnya perumahan Griya Permain, beramai-ramai datang ke lapangan kampung untuk memulai kegiatan rutin tahunan. 

Setelah bersenama, kami pun berjalan menyusuri sawah, perumahan, dan pertokoan. Alangkah seronok, saya bisa berbincang dengan Pak Pur. Dari sini, saya tahu bahwa dunia itu sempit dan luas. 

Di jalan ini, saya melihat petani yang sedang menjemur tembakau di sisi kiri dan kanan jalan. Tentu, kami berharap hujan tidak turun, karena ia akan merusak daun emas ini. 

Setiap peserta membawakan dirinya masing-masing, namun bertemu kembali di lapangan untuk mendapatkan cabutan bertuah (doorprize). 

Kebedaan

Sepagi ini, Habbaytak Fairuz melantun. Kopi panas bikin mata menyala. Mengapa nyanyian ini bermakna? Intro musik dijadikan pembuka azan di sebuah radio. 

Dari sini, kita pun bisa merasakan kedekatan dengan Kekristenan. Bila jauh, kita sering terjebak pada prasangka. Hakikatnya bukan beda, tetapi kita sering bermasalah dengan orang lain, bahkan sesama golongan sendiri. 

Tak pelak, banyak orang tak bahagia, sebab kuesioner isian hubungan kita dengan "the others" dalam The Oxford Happiness Questionaire tak kukuh.

Hidup ini hakikatnya soal relasi "I, others, dan things". Saya sendiri meyakini Tuhan berada di luar kategori. Anda?

 

Sarapan

 Seusai mengikuti pengajian kitab Syarh al-Hikam di musala Riyadhushshalihin, saya menikmati sayur pari dan mendoan.  Tadi, Pak Kiai mengula...