Monday, October 13, 2008

Kaum Kiri di Negara Tetangga

Judul buku: Social Roots of the Malay Left
Penulis: Rustam A SaniPenerbit: SIRD, Kuala Lumpur
Tahun terbit: 2008
Jumlah halaman: ix+ 80 halaman

Mungkin sebenarnya kita tidak banyak mengerti tentang Malaysia karena biasanya yang selalu didengar adalah sebagai negara serumpun. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai satu-satunya negara yang paling banyak menerima tenaga kerja Indonesia. Tentu saja, konflik yang acapkali mendera menutup pintu untuk mengenal cerita lain tentang negeri tetangga ini.

Buku ini adalah wajah lain Malaysia yang selama ini dipersepsikan sebagai negara Islam. Ia sekaligus menjadi saksi bagi ragam respons warganya terhadap perkembangannya sebagai negara-bangsa. Bagaimanapun, gerakan kiri yang selama ini dibekap keberadaannya oleh versi sejarah resmi kembali menemukan momentumnya setelah era keterbukaan karena oposisi mempunyai kekuatan mendesak setelah mendapatkan suara yang cukup signifikan dalam pemilihan umum ke-12.

Akar sosial Kiri Melayu adalah pertanyaan yang ingin diungkaplan oleh intelektual terdepan dan sosiolog ternama Malaysia ini mengandaikan sebuah ikhtiar untuk memahami keberadaan kaum kiri yang dipinggirkan secara makro (pendekatan sosial) dan bukan mikro (pendekatan sejarah) di mana yang terakhir biasanya mengelola pelaku dan peristiwa.

Sebagaimana di Indonesia, dulu raja-raja di tanah Malaya (sekarang semenanjung Malaysia) menerima upeti dari bangsa kolonial. Dari sini, ada ‘kerja sama’ yang saling menguntungkan antara penjajah dan kaum bangsawan. Untuk mendapatkan dukungan dari raja, pemerintah Inggeris mengekalkan partisipasi simbolik penguasa tradisional negara bagian, yaitu sultan, dalam sistem pemerintahan.

Ternyata sistem pemerintahan sekarang, demokrasi parlementer, masih mengekalkan apa yang telah dirintis sejak dulu oleh Inggeris, di mana raja masih menjadi bagian dari pengaturan administratif, meskipun dalam pengertian simbolik. Namun, uniknya institusi raja kadang mempunyai kekuasaan nyata dalam menetapkan pejabat publik, sebagaimana terjadi baru-baru ini dengan pengangkatan menteri besar (gubernur) Trengganu, di mana jago raja mengalahkan sosok yang didukung oleh perdana menteri.

Di tengah kokohnya sistem tradisional yang lebih memberikan kesempatan mobilitas sosial pada kaum bangsawan, pada zaman pra-kemerdekaan pemerintah juga memberikan peluang kepada masyarakat kebanyakan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya gerakan bermatra kiri. Penulis mencoba menghadirkan latar belakang dengan mengangkat reaksi politik Melayu terhadap lingkungan sosial (social milieu) tahun 1930-an.

Ada dua aspek penting periode ini yang perlu diperhatikan, pertama, sistem kesultanan (dengan kata lain sistem politik tradisional Melayu) merupakan sebuah sistem politik yang berfungsi pada masa penggangguan (instrusion) Inggeris dan pendatang non-Melayu. Kedua, Malaya mengalami perkembangan demografis dan masyarakat plural sepenuhnya terbentuk pada tahun 1930-an. Menurut Rustam A Sani, faktor ini adalah penting untuk memahami hakikat perkembangan politik Melayu awal.

Pengaruh 'Indonesia' tentu tidak bisa dilupakan. Dalam kutipan berikut ini ini kita akan menemukan satu titik terang tentang hubungan kedua bangsa ini sejak sebelum kemerdekaan: Then there were other factors that can be cited as manifestation of the existence of the flow of ideas and influences across the Strait of Malacca, e.g. existence of Malay students in Indonesia and the existence of Indonesian immigrants in Malaya (hlm. 58)

Dengan membaca buku ini, kita diajak untuk menerokai kembali pertalian antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1930-an melalui gerakan menuntut kemerdekaan. Malah pada tahun 1920-an, telah banyak orang ‘Indonesia’, yang bergerak dalam matra kiri lari ke tanah Semenanjung – daratan tempat negara bagian utama Malaysia - setelah pemberontakan atau revolusi di Jawa dan Sumatera dipadamkan oleh penjajah Belanda. Di antara tokoh komunis ini adalah Djamaluddin Tamin, Tan Malaka, Budiman, Sutan Djenain, Alimin, dan Mohammad Arif. Tokoh yang pertama mengadakan hubungan dengan pelajar Kolej Pendidikan Sultan Idris (Sultan Idris Training College atau disingkat SITC) di Tanjung Malim, di mana beberapa pemimpin masa depan KMM (Kesatuan Melayu Muda) dilatih untuk menjadi guru sekolah berbahasa Melayu (hlm. 32).

Respons kaum Melayu terhadap kolonialisme boleh dikatakan terbelah pada dua bagian, yaitu kelompok kanan dan kiri. Yang pertama diprakarsai oleh kelas menengah terpelajar Inggeris dan kelas atas, yang ideologinya didasarkan pada premis ‘Malaysia untuk orang Melayu’, sementara yang lain adalah berkecenderungan kiri, yang berkecenderungan ideologi kiri, yang membela tuntutan kebebasan bagi semua orang tertindas di ‘Malaysia’. Kecenderungan dua aliran ini menjadi isu utama pada kampanye dan sesudah pemilu terakhir kemarin.

Penanda utama dari gerakan kiri pada masa sebelum kemerdekaan adalah pendirian yang keras terhadap penentangan kaum penjajah, pan-Indonesianisme dan kepemimpinan serta keanggotaannya tidak direkrut dari elit tradisional aristokrat. Pendek kata, mereka memperjuangkan kemerdekaan yang didasarkan pada konsep Melayu Raya atau kadang dikenal dengan Indonesia Raya.

Sekarang, polarisasi ini masih berlanjut. UMNO (United Malay National Organization) melanjutkan tradisi kanan. Sementara Partai Keadilan Rakyat (PKR) melestarikan tradisi kiri. Seperti ditegaskan penulis buku pakar sosiologi ini bahwa PKR yang diterajui oleh Anwar Ibrahim secara genealogis boleh dikatakan merupakan kelanjutan dari KMM, partai Melayu pertama yang beraliran ‘kiri’.

Membaca karya ini akan membuka ruang bagi sebuah dialog yang lebih inspiratif untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan di antara dua negara tetangga. Sejarah masa lalu jelas-jelas menunjukkan kedekatan dua masyarakat serumpun dalam menghadapi kolonialisme. Sekarang, bagaimanapun keduanya sama-sama menghadapi bentuk kolonialisme baru, yaitu neo liberalisme, yang sama-sama mengcengkeram kemandirian rakyatnya masing-masing. Sekarang rakyat dan elit kedua negara tidak perlu lagi mengurus hal remeh temeh, karena hakikatnya mereka berbagi warisan budaya dan tentu saja begitu banyak keturunan Indonesia yang telah bermastautin di tanah negeri Jiran.

Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban, Universitas Sains Malaysia

No comments: