Hari yang Beda

Saya hanya perlu mengubah sedikit dari kebiasaan, agar tidak merasa dibelenggu 'jam' waktu. Pagi dini hari, dengan sedikit linlung, saya bangun untuk nonton Real Madrid melawan Arsenal. Terus terang, lima pemain Brazil di barisan El Real membuat saya melupakan 'lelap'. Hampir selama 90 menit, mata ini terus memelototi layar tv di ruang bawah flat Restu. Sayangnya, penyerang sekaliber Ronaldo belum menemui keberuntungan menjebol gawang Arsenal. Hasil seri ini menyebabkan klub terkaya Spanyol ini tersingkir.

Tapi, kekalahan bukan sebuah peristiwa yang perlu disesali. Ini hanya permainan, tempat segala ekspresi hadir, histeria, tangis, gembira, atau tak jarang berakhir dengan perkelahian. Lebih baik, drama ini dilihat sebagai pelengkap dari seluruh cerita, yang juga bisa digeser dalam ranah kehidupan sehari-hari. Potongan-potongan peristiwa melengkapi keseluruhan 'kisah'. Jika, ia tidak menyenangkan, lewati saja, dan mencoba untuk menghadirkan cerita lain.

Hari ini, saya sarapan agak telat. Tapi, justeru pengalaman ini mendatangkan 'kebaruan'. Apalagi, di kantin Harapan channel Astro menayangkan Ke Jalan Lain 2, sinetron Indonesia. Sepertinya, gambar di layar kaca itu menarik ingatan ke kampung halaman. Sesuatu yang jarang terpampang di depan mata, ada seruak tentram. Mungkin, ini adalah pemenuhan kerinduan.

Kebetulan, saya bersua dengan teman Indonesia. Sebelumnya, kami hanya bertegur salam. Tak lebih. Tetapi, hari itu, dia berbicara banyak. Saya mendengar dengan seksama. Bukankah, ketika kita mendengar sebenarnya banyak belajar? Ya, betul. Saya telah menemukan sesuatu yang lain, yang menghakis 'prasangka' [dalam pengertian Gadamerian] tentang orang ini.

Apakah pertemuan ini telah mengungkap semua? Tidak. Sebab, kata selesai mengandung konsekuensi 'mandeg'. Kita akan terus bergerak dengan 'syarat' pemahaman lain yang mendasar tentang 'isi' sebuah percakapan.

Kembali ke ruang kampus, tempat saya duduk berselancar di dunia maya adalah keasyikan tersendiri. Meskipun, bosan juga dihadapkan dengan berita yang tumpah tindih, semua tumplek blek di satu tempat. Tragedi, perayaan, kejahatan dimuat untuk menjelaskan peristiwa dunia. Benar, bahwa sejarah adalah pengulangan.

Kita hanya mengisi 'bagian' dari narasi besar sejarah, apa pun wujudnya.

Comments

Popular Posts