Memelihara Diskursus

Saya sangat senang Pak Tahir akhirnya mau 'menghangatkan' diskursus tentang perubahan sosial yang sedang melanda kehidupan organisasi pelajar Indonesia di USM.

Respon Pak Dolok tentu saja menguatkan asumsi bahwa secara batiniah, antarpribadi tidak dihambat oleh sikap a priopri, yang selama ini menghantui relasi pelajar Indonesia.

Bahkan, hal Ini makin membuka lebar 'ruang' silaturrahmi, di satu sisi, dan perdebatan 'akademik' di sisi lain (bukankah yang terakhir memang diandaikan oleh teman-teman yang tergabung di IPSAA?).

Kehadiran organisasi baru serta merta akan menimbulkan 'gejolak' karena mempunyai sejarah dengan organisasi sebelumnya. Mereka yang terlibat di dalam organisasi ini adalah 'sempalan' orang-orang penting di PPI masa doeloe.

Kadang, kita perlu dengan sangat sungguh-sungguh membicarakan masalah ini. Tidak selamanya diam itu emas. Pengetahuan itu lahir dari percakapan dan tulisan.

Komunikasi politik yang berkembang selama ini masih tidak bergerak dari 'klaim', yang dengan sendirinya mengebiri wacana menjadi sejumlah pernyataan dogmatik, kaku, rigid dan anti-ilmiah.

Terobosan yang dilakukan IPSSA dengan kegiatan yang 'lebih' memanjakan selera 'akademik' tentu saja adalah keharusan [das sollen], tapi ketika 'ide cemerlang' itu dihadapkan dengan kenyataan centang perenang [das sein], maka dengan sendirinya perlu upaya untuk duduk kembali membicarakan kemungkinan 'aliansi' yang lebih kukuh agar drama ini segera berakhir.

Pak Tahir tentu mafhum bahwa adagium think globally and act locally adalah pijakan yang mesti dipertimbangkan. Peristiwa dunia yang dipaparkan itu adalah pondasi yang dibangun untuk menanggapi perubahan sosial yang lebih besar, namun akan sia-sia jika ia mengabaikan kejadian sekitar kita sendiri.

Sebagai orang yang lebih dewasa, dalam ‘matriks umur', tak salah pelajar tingkat master dan Ph.D mengusung beban berat untuk segera menuntaskan 'kesenjangan' antar pelbagai lapisan. Prestise itu sebenarnya modal sosial yang bisa digunakan untuk menghakis 'jarak' yang memisahkan perbedaan di segala lini, tanpa mengorbankan bahwa keragaman itu adalah keniscayaan. Hentikan otoritarianisme atas nama apa saja! Tak elok bagi kemanusiaan.

Paling tidak, seluruh rangkaian perbincangan ini bisa dijadikan 'titik mula' mengangkat 'tema' perubahan sosial sebagai wacana bersama. Sudut pandangnya akan makin kaya karena multi-disiplin teman-teman anggota PPI dan IPSAA.

Dalam ilmu humaniora, perubahan sosial itu bisa dilihat sebagai kepanjangan dari prinsip 'pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia' [the greatest utility] atau prinsip pemuasaan kesenangan [pleasure principle]. Namun demikian, dua teori ini tidak berjalan jika berkaitan dengan fenomena yang berkaitan dengan ide keadilan dan 'penjatuhan sangsi' [punishment], tentang persahabatan dan cinta, sebab yang terakhir ini mengandung makna di dalam dirinya dan tidak bisa dipahami berdasarkan utilitas dan kesenangan.

Memetakan kasus PPI dan IPSAA dengan teori di atas akan membuat terang-benderang persoalan yang sedang mendera anak bangsa di Negeri Jiran ini. Kalau berpijak pada teori utilitas [merujuk pada ide Marxian] dan teori kesenangan [pada Utilitarianisme Bentham], saya rasa kita mesti menerima IPSAA sebagai elemen yang harus diterima, tetapi jika kehadirannya mengusik banyak orang [PPI], dan tidak melulu berkaitan dengan daya guna, tetapi kasih sayang antar anak bangsa, maka perlu dipikirkan kembali. Taruhannya adalah mengoyak 'batin' dan mewariskan 'disintegrasi' di sini. Oleh karena itu, mari kepalkan tangan dan 'lawan'!

Comments

Popular Posts