Jazz


Jika saya hanya berkutat pada apa yang telah dialami, tanpa mencoba untuk berubah, dengan membaca, mendengar dan mendialogkan kemungkinan baru, maka dengan sendirinya saya telah 'mematikan' seluruh eksistensi ini.

Setelah membaca dua buku dan mendengar jazz yang jarang dinikmati, maka dunia seakan mewartakan bahwa hidup saya masih panjang dan perlu untuk menerokai 'ranah' baru agar terbuka 'isi' dunia. Mungkin, citra jazz sebagai musik kelas menengah, eksklusif turut mendorong cita rasa yang terpendam dalam bawah sadar untuk naik ke permukaan dan akhirnya saya menjadi bagian dari kelas itu. Tidak menarik, bukan? Biarlah, toh, saya tidak membawa aksesoris kelas itu, hanya pada rasa, bukan benda. Ups, tunggu dulu, kenapa saya tiba-tiba berbicara kelas, padahal dengan posisi yang sekarang secara sosiologis, saya adalah kelas menengah dan tiba-tiba nyinyir dengan kata ini? Ya, kadang di dalam diri sering bertabrakan antara menjadi 'yang tertindas' dan penindas, tanpa pernah ingin berada di satu sisi saja.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen