Malam Indonesia

Pagelaran budaya antarbangsa di Universiti Sains Malaysia makin menyadarkan kami bahwa di sini semua bertemu untuk menampilkan ragam dan latar belakang, lalu belajar bertenggang rasa.

Selamat untuk teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia yang telah menampilkan 'keindonesiaan' berbingkai lagu berbagai daerah di Indonesia. Sebuah atraksi yang betul-betul mengajak saya kembali bertamasya ke bumi pertiwi: Sumatera, Sunda, Jawa dan Jakarta. Tidak itu saja, tarian dan kumpulan band [arie, toni, fermi, didit, niko] makin membuat penampilan tarian hidup. Terus terang, emosi seakan meledak, karena mereka menyuguhkan 'persembahan' yang riang, cantik dan eye-catching. Agak subjektif memang, tapi siapakah yang bisa mengingkari nurani bahwa saya lebih 'ngeh' dengan sesuatu yang saya kenal, mendarah daging dan bagian napas selama ini? Tidak ada. Sebiji zarahpun.

Seluruh rangkaian lagu diakhiri lagu Coklat Merah Putih, sebuah penutup yang manis tapi juga membuat hati miris: patriotisme yang diteriakkan lantang melalui lagu cukup untuk menabuh genderang perang.

Lalu perang melawan apa? Perang melawan diri sendiri. Ini tertanggungkan jika kita bersama untuk melawannya, di sini dan sekarang.

Berikutnya, adalah keinginan untuk mengerti budaya liyan, seperti Cina, Arab, Swedia, Selandia Baru, Malaysia, dan Mongolia. Hanya itu. Meskipun semi-kolosal dan aransemen musik menderu, bahkan, mungkin menaikkan adrenalin, tapi mereka tak cukup menyediakan ruang untuk menghilangkan'haus' nostalgi, menimbulkan keharu-biruan, dan memantik gelegak emosi.

Selamat untuk mereka yang telah menghadirkan Indonesia di panggung.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen