Mengenang Pemikir Pejuang

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Profesor Syed Hussein Alatas adalah segelintir intelektual Asia Tenggara yang dikenal di dunia internasional. Kepergiannya (23/1/07) telah meninggalkan banyak kenangan bagi rakyat Malaysia, terutama kalangan intelektual. Bahkan, Tun Mahatir Mohammad, bekas Perdana Menteri, turut hadir dalam upacara pemakaman, meskipun keduanya pernah berbeda pendapat mengenai hubungan genetik dan kemunduran kaum Melayu pada tahun 1970an. Namun demikian, saya tidak melihat pemerintah memberikan penghormatan yang layak bagi seorang intelektual sekaliber beliau.

Tentu saja, kalangan pegiat dan akademisi di Indonesia seyogyanya turut merasakan kehilangan. Tidak saja karena beliau dilahirkan di Bogor Jawa Barat, tetapi juga sebuah karyanya Sosiologi Korupsi (terjemahan LP3ES, 1982) telah banyak diapresiasi dan mempengaruhi para aktivis pada tahun 1980an tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan. Lebih-lebih, beliau menyatakan mempunyai ikatan spiritual dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir. Selain itu, jurnal Progressive Islam yang dirintis oleh Alatas di Belanda mendapat bantuan keuangan dari Natsir, yang pada masa itu menjadi Perdana Menteri.

Tambahan lagi, kedekatannya dengan sejarah nasionalisme Indonesia telah melahirkan sebuah karya Islam dan Sosialisme. Bagi beliau, terdapat kesesuaian antara ide Islam dan sosialisme, di antaranya sarana produksi penting dimiliki oleh negara, kelas pekerja dan konsumen dilindungi dari eksploitasi, negara menjamin distribusi barang, dan upaya menghapuskan ketidakadilan yang muncul dari sistem kapitalistik. Tak dapat dielakkan, beliau dicap sebagai sosialis, sebuah lebel yang dengan mudah distigmakan kiri.


Karya-karya penting

Dengan komitmennya yang tinggi, tulisan beliau memberikan perhatian pada persoalan agama, pembangunan, peran intelektual, pluralisme, korupsi, ideologi, kapitalisme kolonial dan teori sosial. Sebagian besar karya ini ditulis dalam bahasa Inggeris. Tak pelak lagi, kiprah intelektualnya bisa dikenal di kancah internasional. Prestasi ini tak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan doktornya dalam bidang ilmu sosial dan politik di Belanda serta kegiatan organisasi keislaman di negeri Kincir Angin ini.

Sebagai salah satu perintis penyelidikan sosiologi di Asia Tenggara paling utama, beliau menulis kurang-lebih 14 buku. Mitos Pribumi Malas (The Mith of the Lazy Native, 1977) adalah sebuah kritik terhadap pandangan bias Barat terhadap Timur sebelum Edward Said menulis Orientalism: Western Conception of the Orient (1978). Bahkan dalam bukunya Culture and Imperialism (1993), Said menyebut karya Alatas sebagai ‘startingly original’ dan di dalam buku ini juga Said banyak merujuk kepada pemikirannya.

Buku tersebut di atas berusaha menganalisa asal usul dan fungsi ‘mitos pribumi malas’ dari abad ke-16 hingga ke-20 di Malaysia, Filipina dan Indonesia. Pelekatan sifat tidak beradab ini tidak bisa dilepaskan dari upaya ideologi kapitalisme Barat yang berusaha untuk mencari pembenaran dalam memajukan dan mengadabkan bangsa jajahan. Lebih parah lagi, kolonialis juga memberikan makanan buruk dan opium, dan pemisahan dari lingkungan alamiahnya agar pribumi merada rendah-diri dan tidak cukup sehat untuk menjadi manusia.

Karya lain, Religion and Modernization in Southeast Asia, adalah sebuah karangan yang berusaha mementahkan mitos pribumi malas dan sekaligus mengkritik warisan feodalisme yang menghinggapi masyarakat Melayu. Hang Tuah, pahlawan yang acapkali dijadikan rujukan, bagi Alatas, tidak lebih dari pahlawan Melayu feodal dan berani berbuat apa saja demi kesetiaan, ketaatan dan penghormatan terhadap penguasa. Ironisnya, ia membunuh kawannya sendiri secara tidak jantan karena ingin memenangkan sebuah pertarungan.

Selain buku, beliau juga menulis artikel di pelbagai jurnal internasional yang diterbitkan di Jerman, Perancis, Tokyo, dan Amerika. Sebuah bukti lain tentang kepeduliannya untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak lagi hanya dijadikan sebagai objek kajian, tetapi sekaligus menempatkan metodologi Barat sebagai cara mengkritik bangsanya dan sekaligus mitos yang diciptakan ‘penjajah’. Jelas, di sini, ada upaya sintesis antara pandangan Barat dan Islam agar tidak berada pada posisi diametral. Sebab, selain menggunakan sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, beliau juga menerapkan gagasan sosiologi Ibn Chaldun, yang disebutnya sebagai Bapak Sosiologi Modern, bukan Émile Durkheim.

Satu Perkataan, Satu Perbuatan

Sebagai intelektual, Alatas memberikan pandangannya yang sejalan dengan kondisi Malaysia yang terdiri dari masyarakat multikultur. Pemihakannya terhadap pluralisme tidak hanya di atas kertas, tetapi dalam tindakan nyata. Dalam sebuah berita televisi, penulis melihat beliau menghadiri sebuah acara Hari Raya bersama, meskipun tampak terlihat lamban karena usianya yang uzur.

Keteguhan pendapatnya juga diperlihatkan ketika beliau harus berseberangan dengan saudaranya sendiri, Syed Naquib al-Attas, cendekiawan Muslim ternama, tentang islamisasi pengetahuan, termasuk islamisasi sosiologi. Justeru sikap ini diambil ketika yang terakhir didukung oleh pemerintah melalui Anwar Ibrahim. Sikap ini bisa dipahami karena, meskipun Syed Hussein pernah tertarik dengan gagasan ‘fundamentalisme’ Hassan al-Banna, beliau adalah seorang pemikir sekuler yang memisahkan peran agama dan negara dalam kehidupan masyarakat.

Langkah kontroversi lain yang dilakukan semasa beliau menjadi ‘rektor’ Universitas Malaya adalah kebijakan bahwa prestasi (merit) seharusnya dijadikan ukuran dalam penentuan jabatan struktural di universitas. Hal ini ditunjukkan dengan pengangkatan dekan berkebangsaan India dan China, yang menimbulkan kemarahan orang-orang Melayu. Bahkan, beliau rela berhenti sebagai ‘orang nomor satu’ di Universitas Malaya karena tidak mau tunduk terhadap tekanan.

Tidak hanya bergulat dengan wacana ilmiah, beliau juga sekaligus pegiat praksis dunia politik. Gagasannya diwujudkan dalam sebuah partai politik Pekemas (Partai Keadilan Malaysia). Ia adalah sebuah partai oposisi pertama yang melibatkan pelbagai etnik, agama dan golongan. Bahkan, beliau juga pernah menjadi anggota parlemen mewakili partai ini. Pendek kata, beliau adalah pemikir sekaligus aktivis.

Hebatnya lagi, di usia senja beliau masih menunjukkan kepeduliannya untuk melahirkan sebuah karya tentang kaitan perpustakaan dan tradisi kesarjanaan dalam sejarah dan peradaban manusia. Sayangnya, sebagaimana diungkapkan oleh koleganya, Shaharom TM Sulaiman (Utusan, 29/1/07), beliau merasa kecewa karena tidak mendapatkan kemudahan akses dan hambatan dari perpustakaan. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di sebuah negara yang mencanangkan negara maju pada tahun 2020.

Malangnya, sebagaimana diungkapkan oleh A. B. Shamsul (2005: 31), sumbangan Alatas tidak sepenuhnya diapresiasi oleh para sarjana dari ‘dunia Melayu’ dan Asia Tenggara. Padahal pengakuan banyak intelektual Barat akan orisinalitas karyanya dan tentu saja masih banyak karya seminal beliau yang perlu dikembangkan lebih jauh untuk memantapkan posisi intelektual Asia Tenggara di jagad pemikiran dunia.

Akhirnya, Dari paparan singkat di atas, kita dapat melihat karakteristik dari seorang intelektual sejati ini, yaitu, pertama hubungan yang luas dengan pelbagai kalangan, kedua karyanya ditulis dalam bahasa Inggeris sehingga bisa dinikmati oleh dunia lebih luas, ketiga gairah kesarjanaan yang ditunjukkan dengan tetap berkarya meskipun berusia lanjut dan ‘negara’ yang tidak begitu ramah karena kekritisannya dan keempat berpendirian kokoh sekalipun dihadapkan dengan tembok kekuasaan yang congkak.

Comments

Popular Posts