Menemukan Islam yang Asli, Mungkinkah?

Tulisan saya di Jurnal Pemikir yang bermotto Telaga Akal Pancuran Budi (Bil. 48, April-Jun 2007) lahir dari kegelisahan tentang apakah agama yang saya anut adalah asli atau bukan? Bolehkah saya mengatakan tentang agama saya seperti dalam iklan, "Ini asli lho?!"?

Mungkin, kalau kita mau membaca artikel bertajuk "Menemukan Islam Tulen: Mengatasi Tradisionaliti dan Modeniti" di dalam Jurnal di atas, kita akan dihadapkan dua pilihan: Tradisional atau Modern? Kesimpulan saya adalah bahwa Islam yang asli atau otentik itu melampaui kategori keduanya.

Tentu saja, paparan tulisan ini lebih kental sisi teoretiknya, meskipun ada beberapa pernyataan yang menuju praksis. Pendek kata, saya sedang mencari basis epistemologi dan metafisik dari doktrin Islam tentang beragama secara otentik.

Lalu, bagaimana gagasan di atas diwujudkan dalam keseharian ? Saya justeru menemukan di dalam pengajian halaqah yang diperjuangkan oleh Mas Hilal, Mas Baim, Mas Maulana dan Mas Supri. Di dalam pengajian ini, kita duduk melingkar untuk membaca dan menelaah al-Qur'an, yang disebut dengan istilah tadabbur. Selain itu, acara ini juga mencatat amaliah kita selama seminggu, seperti menunaikan salat duha, berjamaah shalat lima waktu, berapa lembar al-Qur'an yang didaras, puasa sunnah, dan tahajud. Namun demikian, kita juga membahas isu-isu kontemporer, curhat, dan apakah dalam satu minggu ini kita melakukan olahraga (riyadah). Sebagaimana dikatakan Mas Hilal, pencatatan itu dilakukan bukan untuk gagah-gagahan, tetapi cara mudah untuk mengingatkan agar tetap istiqamah. Ya, untuk menjadi muslim atau muslimah tulen memang bukan perkara gampang, tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Hari ini, jangan menunggu esok!

Malangnya, agak susah untuk bisa melakukan shalat jamaah secara rutin atau ibadah-ibadah lain yang telah disebutkan di atas. Sebenarnya motivasi dan semangat bisa dihadirkan jika kita mau dekat dengan mereka yang terbiasa melakukannya, atawa kita boleh belajar dari pengalaman orang lain melalui bacaan. Barangkali buku yang ditulis oleh seorang sarjana Barat Muslimah Michaela Ozelsel bertajuk 40 Hari Khalwat: Catatan Harian Seorang Psikolog dalam Pengasingan diri Sufistik akan membantu kita untuk melantingkan semangat yang tertimbun dalam diri kita.

Ahmad Sahidah
Sedang membaca buku Ozelsel (Penanda buku ada di Hari ke-6).

Comments

Popular Posts