Seharian dengan Kawan Karib

Kawan karib saya, Encik (Tuan) Zailani, akan kembali pagi ini dari tanah kelahirannya Kelantan. Saya dan kawan-kawan Indonesia memanggilnya Pak Zailani, karena beliau pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Aceh untuk S1 dalam bidang Perbandingan Agama. Malamnya, saya telah mengirim layanan pesan singkat (SMS) kapan kami bisa menjemputnya di bandara. Kebetulan, teman dari negeri Sri ini menitipkan mobilnya seminggu yang lalu.

Baru pagi tadi, dia menelepon untuk tidak dijemput dan memberitahu kira-kira jam 9.30 sampai di flat tempat saya tinggal. Namun, jam 9.30an, dia belum sampai dan terpaksa saya naik lagi ke lantai sembilan untuk memasak mie telor. Belum lagi saya menekan tombol, ayah beranak tiga ini menelepon kalau sampai di bawah. Dengan segera sayamenemuinya untuk sarapan di tempat favoritnya, restoran Kayu. Di sana saya memesan nasi, telor rebus dan es nescafe. Sebelumnya saya telah mengganjal perut dengan roti dan hazelnut.

Seperti biasa, kami selalu asyik berbincang tentang dunia politik dan saya juga menyelipkan masalah kenaikan harga bahan bakar di Indonesia. Sebuah acara pagi yang memanaskan otak setelah perut kenyang. Dari kawan karib Melayu, saya mendapatkan pandangan yang bernas tentang apa yang terjadi dengan negeri Hang Tuah ini setelah pemilu ke-12 yang di luar dugaan banyak orang.

Lalu, saya pun beranjak dan menuju Bayan Lepas untuk menemaninya menyimpan uang di Tabung Haji, sebuah lembaga yang mengurus simpanan warga Malaysia. Dari sini, kami pun menuju ke beberapa tempat, seperti Telekom Malaysia (TM) Point, Takaful Etiqa (Asuransi), Celcom, kantor Kumpulang Wang Simpanan Pekerja (KWSP) dan akhirnya ke Aritzone, agensi perjalanan. Tur yang menarik untuk dicatat dalam pengalaman saya bahwa Malaysia telah mengurus negerinya lebih baik dari tetangganya.

Comments

Popular Posts