Sepagi ini hujan

Semalam, saya menyangka hujan akan turun. Meskipun ada bulan bertengger di langit, tetapi di sebelah ujung langit yang lain awan berarak gelap. Ya, dalam perjalanan ke pasar malam Tun Sardun, kami menyusuri malam dengan motor butut dengan hasrat berbelanja kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, lauk dan tentu saja menjadi acara ini sebagai rekreasi murah.

Nyatanya, hingga tengah malam kami tak mendengar bunyi tetesan menimpa kanopi lantai bawah, seperti biasa jika hujan datang. Justeru, saya menemukan hujan di pagi hari ketika bersama kawan karib saya menyesap teh tarik di kantin. Tanpa didahului oleh irisan kecil, tiba-tiba air tercurah lebat. Kami pun tetap kembali ke flat mahasiswa dengan penutup koran bekas di kepala. Di depan International house, saya berjumpa dengan teman kampus, Kazem Youssefi, mahasiswa PhD dari Iran, yang berniat pergi ke kantor imigrasi yang berada di sebelah Bank CIMB. Setelah berbincang sebentar dengan kawan yang sedang menulis disertasi tentang puisi Hafiz Iran, kami pun naik ke lantai 2 untuk berkumpul merenda hari.

Tak lama berbincang di kamar En Zailani, kami pun menuju restoran Istimewa untuk minum menjelang siang sambil menunggu toko fotokopi buka. Hujan makin deras dan kami masing-masing memesan minum. Saya sendiri memilih kopi panas, ya dingin perlu dilawan dengan asupan panas. Di sini, diskusi pun digelar, dari isu seminar tentang Direktur MAS, Dato Sri Idris Jala, hingga tantangan bahasa Melayu menghadapi globalisasi, sekaligus kaitannya dengan kebijakan pemerintah mewajibkan penggunaan bahasa Inggeris dalam pelajaran ilmu alam dan matematik di sekolah dasar hingga menengah.

Memang tidak hanya ngobrol hal serius, kami bertukar cerita keseharian juga. Makin lama, saya sendiri begitu dalam menemukan alam Melayu Malaysia karena selama ini kawan karib saya adalah teman-teman Melayu, bukan dari Indonesia. Saya banyak menghabsikan waktu senggang di warung bersama En Zailani, yang memberikan banyak cara melihat persoalan kemalaysiaan. Kami selalu menjaga untuk mengurai masalah secara objektif, tanpa menjadi partisan ketika membicarakan persoalan sosial, politik dan sedikit ekonomi.

Di kamar kawan baik ini, saya melihat tumpukan buku terjemahan kitab Ihya Ulumuddin yang diterbitkan oleh Menara Kudus 1980. Saya sempat menengok kembali kitab yang pernah saya kaji di pondok pesantren dan menekuri sebuah ulasan bahwa suci itu sebagian dari iman. Suci atau thuhur di sini tidak hanya bersih dari kotoran (hadats), tetapi sekaligus dari dosa. Sebuah penjelasan yang utuh bagaimana kita memahami suci dalam pengertian yang tidak melulu formal.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen